Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

Thursday, November 8, 2012

Menaklukkan Maut

Data Buku:

Judul asli : Beat The Reaper
Penulis : Josh Bazell
Penerbit : Esensi
Bahasa : Indonesia
Halaman : 348

ISBN 13 : 9789790991460
Rating : 4 out of 5 stars
“It's a weird curse, when you think about it. We're built for thought, and civilization, more than any other creature we've found. And all we really want to be is killers. ” 
-Peter Brown-
Kisah dibuka dengan narasi dr. Peter Brown, seorang residen maha sibuk di Manhattan Hospital, New York. Meski kesehariannya penuh dengan jam kerja yang padat, namun Peter tak keberatan. Baginya pekerjaan ini adalah pelarian sekaligus penebusan dosa masa lalunya. Sebuah masa yang tak mau dia tengok lagi.

Namun masa lalu memang bisa seperti hantu yang selalu membayang dan mengejar.
Di suatu hari, Peter bertemu kembali dengan Squilante yang adalah pasien penderita kanker lambung yang ganas. Squilante yang akan dioperasi meminta kepada Peter untuk menyelamatkan nyawanya sambil mengancam bila dia meninggal, dia akan membocorkan keberadaan Peter pada organisasi lamanya.

Dengan alur maju mundur, Peter lalu bercerita tentang masa lalunya sedari kecil. Demi membayar satu dendam di masa lalu, Peter bergabung dengan kelompok mafia untuk menjadi hitman. Di sana dia menemukan keluarga kedua sekaligus penuntasan dendam.

Semua berubah saat Peter bertemu Magdalena. Gadis itu membuat Peter ingin berubah menjadi orang yang lebih baik dan meninggalkan kelompok mafia. Tentu ini bukan hal yang mudah. Ada harga sangat mahal yang harus dibayar Peter agar bisa keluar. Dan kini, Squilante malah mengancam ketenangan dan kestabilan hidupnya.

Maka dimulailah satu hari sangat sibuk dalam hidup Peter. Satu hari yang berisi usahanya menyelamatkan Squilante sambil tetap bertugas seperti biasa merawat pasien-pasien lain dan harus mengindari kelompok Mafia yang sudah mengendus keberadaannya.
“Ah, youth. It's like heroin you've smoked instead of snorted. Gone so fast you can't believe you still have to pay for it.”
-Peter Brown-
 Satu hari?
Yup...setting waktu kisah ini (tentu saja tidak termasuk bagian flashback) memang hanya berlangsung satu hari. Satu point ini sudah membuat saya memberikan 1 bintang untuk novel ini.

Bintang kedua untuk karakter Peter Brown yang sinis, arogan, nyeleneh tapi baik hati dan perhatian pada pasien-pasiennya. Meskipun jadi hitman mafia, dia selalu melihat latar belakang korban. Hanya mereka yang pantas dibunuhlah yang akan dihabisinya. Tentu, Anda bisa berargumen bahwa itu hanyalah usaha meringankan beban nurani Peter. Emang benar. Peter sendiri mengakuinya kok.

Yang saya suka juga, penulis tidak setengah-setengah dalam menggambarkan karakter Peter.
 Untuk menciptakan kesan seolah cerita ini benar-benar ditulis oleh Peter, penulis menambahkan banyak footnote yang berisi komentar sinis Peter tentang berbagai hal, mulai dari sistem pelayanan kesehatan US yang payah samapai ke sejarah kamp konsentrasi Nazi.
Saya tahu beberapa pembaca menganggap footnote ini menyebalkan. Tapi saya malah suka membacanya. Bagi saya, footnote ini menghidupkan karakter sinis Peter sekaligus kecerdasannya. Menarik membaca komentar Peter yang sering out-of-the-box itu.

Di akhir buku juga ada glossary yang berisi berbagai penjelasan medis ato kondisi-kondisi umum di US. Lagi, beberapa pembaca menganggapnya mengganggu. Untuk saya yang paham sebagian besar istilah medis di buku ini, saya tak merasa terganggu dengan glossary itu. Justru menambah pengetahuan saya, terutama pada obat-obat yang tak umum dipakai di sini.

Bintang ketiga disematkan pada plot, twist dan pace cepat cerita ini.
Awalnya memang lambat, terutama ketika Peter berlama-lama di kisaha masa kecilnya. Namun pace cerita akan meningkat jauh setelah peter bertemu Magdalena. And since that, I can't put this book down.

Twist yang muncul merupakan kejutan yang menyenangkan. Mulai dari twist tentang musuh sebenarnya Peter (yang dia kira sudah meninggal) hingga twist tentang kenyataan masa lalu keluarga Peter. Masa lalu yang membuatnya menyemai dendam dan memulai seluruh kisah ini. Membaca bagian ini, saya jadi teringat quote terkenal Mahatma Gandhi : "An eye for an eye will make the whole world blind".
Indeed, Mr Gandhi. Indeed. Just look at Peter's life for example.

Tapi dari semua itu, gak ada yang mengalahkan KLIMAKSnya yang seru. Saat itu Peter terpojok menghadapi musuhnya tanpa sebuah senjata pun. Dan untuk pertahanan diri, dia pun menggunakan t...WHOOPSY...saya gak bisa cerita dong.
Apa serunya kalo saya ceritain? Musti dibaca sendiri ini mah.
Saya cuma mau bilang kalo senjata yang dipake sama Peter itu nekat, sinting, sadis tapi sekaligus brilian dan mengejutkan.

Bintang keempat dianugerahkan pada terjemahannya yang enak dibaca dan covernya yang cantik. Cover minimalis bernuansa hitam putih itu pastilah menarik minat saya jika melihatnya di toko buku. Soalnya pria berjas putih di cover itu (tampak) ganteng sih. Hehehe... :p

Sayang saya gak bisa naikkin bintang lagi. Abis saya berasa endingnya kurang panjang sih.
Iya, saya ngerti kalo penulis memang akan menulis lanjutan buku ini. Jadi...saya akan tunggu kelanjutan buku ini dan lihat apakah buku keduanya akan lebih bagus daripada yang pertama. Meanwhile, thanks buat Esensi yang sudah menerjemahkan dengan sangat baik.

PS:
Seorang teman membicarakn tentang sistem health care US yang disorot habis-habisan di buku ini. Terkesan parah banget memang. Disitu digambarkan betapa acuhnya tenaga kesehatan di rumah sakit tempat Peter bekerja. Juga bagaimana para dokter spesialis senior ogah melayani pasien kelas 3 dan lebih fokus mengejar materi.

Saya gak tahu apakah memang seperti itu kondisi pelayanan kesehatan di US. Tapi saya bersyukur bahwa di Indonesia tidaklah separah itu. Masih banyak dokter spesialis senior dan profesor yang tahu sangat perhatian pada pasien-pasien mereka dari kelas mana pun. Sayang figur seperti mereka justru jarang disorot.

Kembali ke sistem health care-nya US, saya punya teman yang berkarir di Boston. Dan menurut dia, kondisi di tempat kerjanya tidak sama dengan yang digambarkan di buku ini. Apa itu artinya kondisi pelayanan kesehatan di Boston dan New York berbeda? Entahlah.

Tapi penulisnya sendiri sudah menegaskan bahwa karya ini hanyalah fiksi, dan semua informasi di buku ini terutama yang menyangkut dunia medis, tidak semestinya dipercaya.
Karenanya, saya memilih untuk menganggap bahwa US health care system yang ditunjukkan di buku ini hanyalah fiksi semata.

*hey...khusnudzon boleh dong*

“When God is truly angry, He will not send vengeful angels.
He will send Magdalena.
Then take her away.”

Wednesday, October 31, 2012

The Late Mattia Pascal

Data Buku
Judul Asli : Il Fu Mattia Pascal
Penulis : Luigi Pirandello
Publisher : New York Review Books
Tahun Terbit : 2004 (First Published 1904)
Bahasa : Inggris
Rating : 4 stars out of 5
"Because we can’t understand life, if we don’t explain death in some way. The motive, the direction of our actions, the thread to lead us out of the maze, dear Signor Meis, the light must come from beyond, from death." (Page 122)

Seandainya kamu diberi kesempatan kedua untuk menjalani hidup dari awal, akankah kamu bersedia?
Tidak?
Well...gimana kalo gini : Seandainya kamu terikat dalam pernikahan tanpa cinta, punya mertua yang rese, dan berada dalam kondisi nyaris bangkrut. Lalu saat pulang dari bermain judi di Monte Carlo, kamu liat pengumuman di koran telah ditemukan sebuah jenazah yang dikira adalah dirimu. Di kantongmu penuh uang hasil kemenangan judi.
Tidakkah kamu berpikir untuk kabur aja dengan uang di tangan? Pergi ke tempat yang jauh dan membangun hidup yang baru?
Saya sih mungkin kepikiran gitu. Nggak tahu juga sih, secara saya belum pernah mengalami kondisi di atas, tapi running away memang tampak pilihan yang lebih mudah sih.

Yang pasti, itulah yang dilakukan Mattia Pascal. Sewaktu mengetahui kalo dia sudah dianggap meninggal, Mattia malah kegirangan dan merasa (akhirnya) dia mendapat kebebasan. Setelah membuat identitas palsu, dengan serunya dia berkeliling Eropa, lalu memutuskan menetap di Roma. Di sana dia berkenalan dengan banyak orang baru dan bahkan jatuh cinta lagi. Mattia begitu cinta pada gadis barunya sampai dia berpikir untuk membeli rumah di Roma dan mulai menetap.

Masalahnya, dia adalah pria dengan identitas palsu. Dia gak punya surat resmi yang dibutuhkan untuk membeli rumah. Dia bahkan gak bisa membuka tabungan di bank, apalagi membuka bisnis yang bisa dibanggakan kepada keluarga kekasihnya. Dan segera Mattia menyadari kalo kebebasan yang selama ini didapatnya hanyalah kebebasan semu.

Lalu apa yang sebaiknya Mattia lakukan? Bertahankah? Atau memalsukan kematian (lagi) dan mulai hidup baru (lagi)? Atau malah kembali ke kehidupan lama?
Kalo dia memalsukan kematian lagi, kapan masalahnya selesai?
Kalo dia mau kembali ke kehidupan lama, emangnya segampang itu buat balik? Keluarganya sudah move on dengan kepergian dia. He can't just pick where he left off. So...what to do now?

Saya sudah membaca beberapa karya Pirandello dan sepertinya topik tentang eksistensi diri adalah topik favorit beliau.
Di novelnya ini, Pirandello gak menegaskan pilihan mana yang sebaiknya diambil. Dia hanya menunjukkan konsekuensi setiap pilihan tersebut dan membiarkan pembaca yang menilai apakah pilihan tersebut tepat.

Mengenai novel ini, walopun tokoh Mattia Pascal itu sebenarnya ngeselin dan terkesan tidak bertanggung jawab, tapi saya bisa bersimpati sama dia. As I said, can't blame him for the decision. Sometimes in the past (reeeeeeeaaaallllllyyyyy really sometimes), I wish to move to another galaxy and start everything from the scratch.
Jelas saya gak bisa melakukan itu. Yang bisa saya lakukan hanyalah menyelesaikan ato berkompromi dengan apapun kondisi saat ini. Tapi toh saya gak bisa menghilangkan pertanyaan macam "apa-jadinya-kalo-gw-bisa-pindah-planet-lain-ya".
Melalui Mattia, Pirandello menjawab pertanyaan saya. Pirandello melihat konsekuensi dari berganti identitas yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Dan sejak membaca buku ini, saya  menghapus keinginan konyol itu. I prefer to stay in this kind of life. Untuk satu alasan ini aja, saya sudah merasa suka sama Mattia Pascal. Belum lagi ditambah dengan dark humour dan sinisme Mattia Pascal yang diselipkan Pirandello di berbagai bagian buku ini.
The country air would certainly do my wife good. Perhaps some of the trees would lose their leaves at the sight of her, and the birds will fall silent; I only hope that the spring doesn’t go dry. (page 70)
Pirandello juga mengungkit soal absolute freedom di buku ini. 
Seperti yang kita tahu, sudah lama ada perdebatan apakah absolute freedom itu benaran ada ato nggak. Bahkan definisi absolute freedom pun masih diperdebatkan. 
Beberapa beranggapan bahwa absolute freedom itu sama dengan fundamental freedom yang ada di pidato Presiden Roosevelt, yaitu "freedom from fear, freedom from want, freedom of speech, dan freedom to worship". 

Beberapa berpegang pada pendapat yang sangat populer tentang absolute freedom yang ini: "the ability or freedom to make a choice and act on it completely detached from the input, control or otherwise influence of external forces such as society, people etc".
 Tentu saja kalo anda beranggapan absolute freedom adalah seperti definisi di atas, then it is unattainable.

 Mereka yang romantis dan optimis mengamini pendapat Stephen Covey yang ini mengenai absolute freedom : “Our ultimate freedom is the right and power to decide how anybody or anything outside ourselves will affect us.” 

Saya tidak akan memulai diskusi mengenai absolute freedom di sini, pun memaparkan pendapat saya tentang itu. But for sure, The Late of Mattia Pascal is Luigi Pirandello's opinion to absolute freedom.
What's his opinion?
Ah...that's something you have to find out by yourself :)

"But at a certain point we realize that all life is stupidity; so tell me yourself what it means never to have done anything foolish. At the very least it means you have never lived."
(page 105) 
Biografi Singkat Penulis:



 

Luigi Pirandello (1867-1936) lahir di Girgenti, Sicilia. Dari tahun 1897 sampai 1922, dia bekerja sebagai professor aesthetics & stylistics di Real Istituto di Magistere Femminile, Roma. Dibandingkan novel-novelnya, Pirandello lebih terkenal karena skrip theater (plays) yang ditulisnya.

The Late Mattia Pascal bukanlah novel pertamanya. Tapi novel itulah yang membuka gerbang kesuksesannya. Novel ini ditulis dalam masa tersulit hidup Pirandello, ketika ayahnya bangkrut dan menghabiskan seluruh dana simpanan Pirandello (termasuk mas kawin milik istrinya). Kondisi ini menyebabkan sang istri terkena depresi berat dan mengharuskan Pirandello kerja double job demi menutupi hutang.
Sambil menjaga sang istri di malam hari, Pirandello mulai menulis novel The Late Mattia Pascal yang mengandung beberapa unsur kisah hidupnya. Banyak yang berpendapat bahwa novel ini mengandung elemen autobiografi yang telah dimodifikasi secara fantastis. Di novel ini jugalah pertama kalinya Pirandello membahas tentang identitas dan eksistensi seseorang.

Tema seperti ini juga muncul dalam Vestire gli ignudi (1923) [To Clothe the Naked] yang bercerita tentang seorang wanita yang berusaha mendapat tempat di masyarakat dengan menciptakan berbagai identitas palsu dengan status sosial yang tinggi serta apa yang terjadi ketika kebohongannya terbongkar.
Lalu di Enrico IV (1922) [Henry IV] tentang seorang pria yang kehilangan ingatan dan berpikir dia adalah si Raja Henry IV yang terkenal itu, dan pada akhirnya membuat sang tokoh bingung apakah dia karakter fiksi atau nyata.
 Dan jangan lupakan salah satu karya fenomenal Pirandello : Sei personaggi in cerca d'autore (1921) [Six Characters in Search of An Author] yang dipuji sekaligus dikritik tajam ketika pertama kali dipentaskan. Berkisah tentang 6 karakter dari sebuah cerita yang hidup dan datang mengganggu  sebuah pementasan. Keenam karakter ini ngotot mencari penulis kisah mereka karena mereka berpikir bahwa kisah mereka seharusnya belum tamat. Penonton berpikir kisah ini terlalu absurd dan membingungkan ketika pertama dipentaskan hingga terjadi kerusuhan dari penonton yang tak puas kala itu (putri Pirandello sampai harus melarikan diri lewat pintu darurat supaya gak diserang). Tapi toh, kisah ini juga menuai sukses di tahun-tahun berikutnya dan diakui sebagai bukti kejeniusan Pirandello.

 Tahun 1934, Pirandello mendapatkan Nobel Prize di bidang Literature dengan alasan : "bold and brilliant renovation of the drama and the stage".




Thursday, October 18, 2012

The Boy Who Sneaks in my Bedroom Window

Data Buku :

Judul : The Boy Who Sneaks in my Bedroom Window
Penulis : Kirsty Moseley
Published : April 2012
ISBN13 : 2940033206711
Bahasa : Inggris
Format : ebook

Amber dan Jake punya ayah yang abusive. Suatu malam, saat Amber menangis di tempat tidurnya setelah dipukuli sang ayah, datang seorang bocah lelaki yang menenangkan tangisnya dan menemaninya tidur sampai pagi. Bocah itu adalah Liam, tetangga sebelah rumah juga sahabat Jake.
Cerita maju 8 tahun kemudian.
Orang tua Amber telah berpisah setelah si ayah mencoba memperkosa Amber (untunglah bisa digagalkan oleh Jake dan Liam). Kejadian itu meninggalkan trauma pada Amber. Dia tak nyaman dengan sentuhan bahkan dari teman ceweknya sekali pun. Anehnya, trauma ini tak berlaku pada ibu, Jake dan Liam.
Bahkan, selama 8 tahun ini dia selalu tidur bersama Liam (tidur beneran lho). Singkatnya Amber sama Liam jadian.
Dan dimulailah hubungan mereka yang manis itu.
Konflik utama muncul ketika ayah Amber kembali dan ingin mengganggunya lagi.

Saya pengen banget kasih bintang yang lebih tinggi untuk buku ini. Swear, pengen banget. Tapi setiap saya bisa memaafkan satu kekurangannya, maka muncul lagi segebung kekacrutan di buku ini yang bikin saya #tepokjidat.

Ayo kita bahas! (btw ini bakal panjang banget lho, FYI aja sih).

1. Judul
Dimulai dari judulnya yang panjang buanget itu. Okelah...judul panjang sih gak papa. Masih ada buku lain yang judulnya lebih panjang (eh iya kan ya?). Buat saya sih, masalahnya ada di arti judul itu sendiri. Dari judul itu aja, pembaca udah tahu ceritanya bakal tentang apa. (Q: Tentang cowo yang nyusup lewat jendela kan? A: MENURUT NGANA?). Udah saingan sama koran erotis deh dari segi "kejelasan" ceritanya.
Kayak gini contohnya :
Image and video hosting by TinyPic

Ato ini :
Image and video hosting by TinyPic

Got what I mean?

Ini penulis dan editornya kehabisan ide ato emang males nyari judul yang lebih keren? Coba belajar bikin judul sama novel The Fault In Our Stars ato Extremely Loud & Inredibly Close.

2. Cover
Tapi judul aneh termaafkan karena covernya yang cuantek itu. Saya paling suka cover dengan nuansa hujan. Adanya siluet "love" di jendela basah itu semakin menambah suasana sendu dan romantis.
Sayang, saya malah merasa ketipu sama tuh cover. Kirain bakal bersetting di musim hujan gitu. Ini mah boro-boro musim hujan, sekadar gerimis numpang lewat aja gak ada.
Boro-boro gerimis numpang lewat, adegan langit mendung juga gak nongol biar cuma sekali. 
Boro-boro langit mendung, bahkan...oh oke...you get my point already.

3. Gaya penulisan
Gaya penulisan, diksi, ato apapun lah itu namanya, buat saya sih mentaaahh banget. Ya emang gak semua buku kudu pake bahasa puitis nan berbunga-bunga. Saya pun kurang demen sama bahasa puitis kecuali emang ceritanya mendukung. Berhubung ini novel remaja, gaya bahasa casual pun cukuplah. Tapi mbok ya jangan se-"polos" itu juga.
Semua hal dijelaskan dan diceritain sama penulisnya. Apa dia meragukan level intelejensia pembacanya?
Rasanya kayak baca diary curhat anak SMA. Curiga jangan-jangan si penulis minjem diary anak SMA beneran, trus dipoles dikit, kasi karakter yang bikin melting, ending dramatis, trus jadi deh 1 draft novel.

Saya juga gak suka dengan "kekreatifan" penulis dalam memilih kata ato mendeskripsikan sesuatu. Tampaknya bagi Moseley, deskripsi seksi serta cakepnya seseorang itu hanya bisa diliat dari how-hot-her/his-piece of ass-is.
-"Hey, Ambs, did you ride in with hot piece of ass one and two again today?”
_"Apparently, I just want to tap your very fine ass,” he said
Okay, total count of ass-word is 91 in this book. I don't need to quote all of it.

Geez...what's with ass and the author?
Does she has some fetish with ass? Ya gapapa, haknya dia kok itu. Tapi gak usah juga ngajak pembacanya ikut-ikutan sama fetish dia ya.
See...I love hot asses too. Winnie The Pooh's ass is a winner there. Followed closely with Channing Tatum's. But you don't see mee talk about it the whole time.
Oh wait! I just did!
But at least I'm talkin only in this part of the review, not in all the books like Moseley did. *meh! Lame excuse, I know*

Image and video hosting by TinyPic
See how hot his ass?

Image and video hosting by TinyPic
So nice even when he's little *kok jadi creepy ya?*

Okay...moving on.

Kata lain yang ganggu karena sering dipake adalah "purred".
“Hi, Liam,” she purred in her sexy voice.
“I missed you last night,” he purred.
He purred. She purred. They purred. Why...why everyone in this book has to "purred"? Why can't they speak normally?

Lalu Moseley juga gak kreatif dalam hal membuat variasi penggunaan kata "smile".
bHe smiled his flirty smile at me.
He smiled that sexy little smile at me.
Why he has to smile like that all the time? Why can't Moseley write another kind of smile? We know already that Liam James is sexy and flirty. The author need not to tell us again about it on every chance that she got.

4. Ide Cerita

Ide cerita sebenarnya bagus sih. Si Amber-nya dianiaya oleh ayahnya sendiri, hampir diperkosa pula hingga membuat dia gak suka dengan "sentuhan" apalagi kalo "sentuhan"nya bersifat intim. A traumatic heroine, a ruined one. That's good and kinda new. Rata-rata cerita roman (harlequin sih) kan yang "ruined" itu male lead-nya.

Lalu si Amber ini punya guardian angel, yang sabar, cinta mati dan selalu berpendapat Amber adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Wow!
Waktu akhirnya Amber dan Liam jadian, saya berharap lebih pada buku ini. Tampaknya buku ini menjanjikan cerita yang seru karena saya jadi tertarik mengetahui bagaimana Liam bisa "menyembuhkan" trauma Amber.

Sayang, saya kembali kecewa. Karena terapi Liam adalah : "making out". Lots and lots of making out, ampe si Amber jadi terbiasa. Ya gapapa juga sih making out sering-sering. Toh mereka emang masih remaja, di saat horny eh hormon lagi tinggi-tingginya.
Kecewanya sih di bagian "yah-kok-making-out-doang-sih". Kirain bakal ada terapi khusus apa gitu, ke psikolog ato psikiater kek, shock therapy kek, hypnotherapy kek ato apalah.

Trus bagian "menuju puncak"nya juga kok ya gitu amat dan gitu doang ya :|.
Maksud saya, hampir setengah buku dihabiskan dengan baca gimana serunya Liam dan Amber making out, tapi pas adegan puncak (when it's finally happened) kok yah lewat gitu aja. Yaaa...saya juga gak ngarep adegan detail sih (emangnya ini EA?), tapi mbok ya jangan juga adegan puncaknya cuma ditulis dalam 1 kalimat dong ah. Rasanya kayak sebel waktu mangga yang udah dirawat dari masih kecil, tau-tau pas udah matang dan siap petik, eh malah diembat sama tukang bakso langganan (Iyeee...ini curhat. Hiks...manggakuuuuu T_T).

Ato kayak lagi seru-serunya "nujes", tahu-tahu musti interuptus karena ada panggilan darurat dari RS (Hey...it's true story!).
Kenapa saya bisa tahu?
 Coz it happened to one of my "bos".
Ceritanya waktu saya nelpon untuk ngelaporin pasien dan baru bilang : "Selamat malam, dok. Dari IGD RS X. Ada pasien.."
tau-tau langsung dipotong beliau dengan nada keras : "APAAN SIH? COITUS INTERRUPTUS NIH!!!"
Saya : engg...#kemudianhening.
*I really didn't know what to say. What should I say cobaaa? Apa saya harus pura-pura gak dengar? Ato jawab dengan nada kalem : "Oh maaf mengganggu, dok. Sila dilanjut. Nanti saya telpon lagi kalo udah beres ya." Ato nanya sambil cengengesan : "Hehehe...lagi sibuk ya, dok?" Yang manaaaaa??? O_o*
Untung sebelum saya sempat galau, sang "bos" berdeham dan melanjutkan dengan nada berwibawa : "Jadi kenapa tadi pasiennya?"
Yah...menuju puncak yang gagal, indeed.

Lalu plot cerita buku ini juga ketebak banget. Jadi ceritanya ntar tuh bokapnya Amber balik ke kota mereka dan mengancam ketenangan hidup Amber dan Jake lagi, bahkan ampe bikin Liam berurusan sama polisi. Dan Amber pun kepikiran bikin jebakan buat menolong Liam dan mengusir si bokap selamanya. Masalahnya, jebakan yang dia pake itu kacangan dan cemen banget. Saya malah heran, kok si bokap gak curiga acan-acan sih? Ini si bokap yang kelewat polos ato saya yang kebanyakan nonton sinetron kacangan?

Saya juga gak suka sama ending untuk si bokap. They let him free? Iya, saya bisa ngerti klo mereka gak mau terlibat lagi sama si bokap. But can't they at least do something when they're adult, like send him to police? They let a child molester free so that he could molest and even rape another kid someday.


My thought:   



iya, saya tahu kok si bokap dipenjara. Tapi karena kasus yg berbeda. Di US itu, hukuman untuk pelaku child molester/rapist lebih keras daripada hukuman penipuan. Apalagi hukuman dari segi sosial. It can be said that once you're being labeled as a child molester/rapist, then your social life is doomed


5. Karakter

Dan mungkin inilah faktor yang paling bikin eneg sekaligus paling sweet dari buku ini.

Mari kita mulai dari karakter pendukung yaitu rekan-rekan sekolah Liam, Amber dan Jake.
Dikisahkan Liam dan Jake ini popular banget. Semua cewek pengen "get in their pants" dan semua cowok pengen temenan sama kedua orang ini.
Errr....asa gimana gitu ya. Not real.
Tapi okelah soal itunya.
Yang ngenganggu sih betapa horny-nya cewek-cewek SMA itu. Iya, saya emang bilang umur segitu wajar kalo BT (nope..bukan BT yg artinya bad temper itu). Tapi kan gak juga ya setiap cewek di sekolah (kecuali Amber tentunya) sodor-sodorin dadanya ke Liam ato grepe "aset pribadi"nya Jake.
“You need to have a word with your friend, seriously, she just grabbed my dick!”

She wrapped her dirty little arms round my boyfriend’s waist, looking at him with her come to bed eyes.
Itu sekolah apaan sih? Sekolah khusus yang isinya slutty and skank gitu? (Hey...Amber yang bilang cewek-cewek itu skank, bukan saya).

Oke...settingnya emang di US, yang budayanya beda sama Indo. Tapi bahkan di US sekalipun, gak semua siswinya semurah itu kok.

Lalu kita bahas karakter pendamping utama : Jake.
Saya suka sih sama Jake, perannya sebagai kakak yang overprotective ke Amber tuh mengharukan. Dia selalu siap menolong si adik kapan pun, bahkan ampe rela pasang badan demi Amber. He really is the best brother in the (book) world.
Cuma yah belakangan kok peran dia kebanyakan menggeplak kepala temannya yang mulai flirting ke adiknya sambil teriak : "Dude, little sister!".
Naon coba maksudnya sih?
But still, I like him. He made this book bear-able for me. He had one moment of weakness which made me want to pukpuk him that time. Hiks...bahkan ksatria terbaik pun berhak untuk berdarah.

Mengenai 2 karakter utama : Liam James dan Amber Walker.

Oke, Liam itu emang sempurna : ganteng, hot ass (penting banget ini disebut ulang), setia, cerdas, responsible, ah sebut semualah pasti Liam punya.
He did many sweet things too. Lihat bagaimana dia bisa menenangkan Amber dan menghapus mimpi buruknya dengan memeluk Amber sepanjang malam selama 8 tahun. Nice!
Ato gimana dia gak bisa tidur nyenyak kalo gak bareng Amber. Romantic!
Ato waktu dia beneran ngecek ke seluruh penjuru kamar Amber untuk mastiin gak ada zombie di kamar itu. Wow...so caring! (or so stupid, you choose).

Tapi saking sempurnanya jadi kerasa kalo ini fiksi abis. Saya bisa tahan sama Liam di bab awal, tapi setelah jadian dengan Amber, dia berubah jadi cowok yang setiap omongannya selalu bikin melting, tapi juga amat sangat cheesy.
Coba baca kutipan ini :
“Don’t remind me about my former life without you, Angel. I’ll have nightmares,”
===> Aww...bikin klepek klepek deh.
“I’ve been crazy about you since the first time I saw you, Angel. All this time it’s only ever been you.”
===> Liam, you know that is too cheesy, don't you?
“What if I said I didn’t believe in having sex before marriage?” I asked. 
“Then I’d say how about we get married as soon as you’re old enough. Eighteen is the legal age, right?” he replied.

===> Ugh...too much sweet is bad for your health. I don't know about Amber, but I kinda have a tootache here just by reading all your words, Liam dude.
“The first time I saw you I thought you were an Angel straight from heaven. You were so beautiful that you took my breath away. You still do, every day.”
===> Gubraks! Did I just say toothache? No...scratch that. I think it's a diabetes. Chewing all these overloaded sweetness must have some effect to blood glucose. Should have a blood check soon.
“Angel, you couldn’t possibly be any hotter, trust me. That would be illegal,”
===> Forget that blood check! No time for that. Better prepare for an insulin, just in case. Where do I put it?
I didn’t want to leave Amber even before we got together, but I don’t even think I’d survive it now that I finally had her.
===> Okay...Where's that darn insulin?
“She was the only thing I needed. If everything else went away tomorrow, the big house, all the cars, the money, I wouldn't care. As long as I still got to hold her every night, I would still be the luckiest guy in the world.”
===> No use for insulin now. Mana oksigen? Oksigeeennnn!! Sekalian bawain ventilator dan defib deh. Sapa tahu butuh! #yakali

Yeah ladies & gentlemen, here I present you Liam James. He beats Willy Wonka in sweet departments (and we know Wonka has all kind of sweets in the world). But need no worry! I've prepared everything in case you're intoxicated by his sweetness. (Trivia: how many times I used the word sweet?)
Oh...and please allow me to remind you that he's just 18.

Yah sebenarnya sih gak ada yang salah dengan kelakuan Liam. Seandainya si Liam 10-15 tahun lebih tua aja, dengan sikap kayak gitu, dia bisa jadi gentleman sejati. Tapi semua omongan permen itu, sewaktu remaja, rasanya jadi lebay abitch.

Sekarang ayo kita beralih ke Amber.
Sebenarnya saya pengen banget bersimpati lebih banyak ke cewek ini. Masa kecilnya pasti sulit deh. Untunglah Amber gak trauma berkepanjangan. Tapi masalahnya, saya sulit bersimpati sama dia.
Amber tuh annoying dan childish pula.

Lalu katanya dia gak nyaman dengan sentuhan, tapi toh dia bisa betah belajar dance yang pastinya full body touch. Katanya trauma sama hal-hal yang berbau seksual, but she's okay waking up to a guy's boner for 8 years.

Trus si Amber ini bebal ato apa sih? Waktu Liam "nembak", dia yang langsung suudzon gitu. Please deh, ber! Itu si Liam dari awal buku juga udah kasi kode kalo dia suka sama loe. Y U NO GET THE CLUE?

Dan ugh...semua ketakutannya bahwa Liam bakal gak kuat selibat itu annoying. Kalo baca dari curhatnya Amber, kamu bakal mikir si Amber ini niat bikin Liam selibat selama berbulan-bulan bahkan ampe tahunan. Eh ternyata cuma seminggu aja dong.
AIS! (ini versi Indonesianya dari WTF ya).

Tapi yang paling ganggu adalah nggak konsistennya karakter si Amber. Di awal, dia bilang gerah ngeliat kelakuan horde of skanks yang nempel mulu ke Liam dan Jake. Lalu kenapa belakangan dia juga ikutan jadi skank?
I purposefully swayed my ass, trying to look sexy; it must have worked because three boys from my history class whistled at me and made a comment about my sexy booty. I rolled my eyes. Boys!
What? Kurang slutty?
Gimana dengan kelakuan Amber yang masukin duit dengan tangannya (literally) ke dalam celana Liam?
Oke...Liam emang pacarnya. Terserah Amber mo diapain juga, dicemek-cemek ampe semek juga boleh (taela bahasa guweee). Tapi ya nggak perlu dilakukan di tempat umum dan depan siswa satu sekolah dong!
Seriously Liam & Amber, stop all that PDAs. It's corny and cheesy.

Buku ini memang punya beberapa kelebihan yang menyenangkan kala dibaca.
Bahkan hal yang dianggap absurd dan gak real oleh pembaca lain pun masih bisa saya tolerir. Seperti fakta orang yang pacaran dari SMA dan langgeng seterusnya. Banyak kok yang kayak gitu. Om dan tante saya pacaran dari masih SMP malah, awet ampe sekarang.
Juga betapa seriusnya Amber dan Jake dan adegan-adegan lebay mereka. Yaaa namanya juga masih umur segitu. Emang kelakuannya masih lebay dan gombal lah. Waktu yang membuktikan apakah segala kegombalan itu tulus ato nggak.

Sayangnya, semua toleransi yang saya berikan, gak bisa menutup fakta akan segepok kekacrutan yang menyertai.
Dan saya sempat bingung kasi rating.
I'd give Liam James & Jake Walker 4 or 5 stars out of 5.
But this book isn't solely about them. And I rate a book, not them.
Saya gak bisa bilang suka sama buku ini. Jadi 3 bintang jelas gak memadai.
Dua bintang yang artinya it-was-okay menurut standar goodreads? Clearly, I'm not okay with the ending.
Jadi ayo kita berdamai di 1,5 bintang saja, sebagai penghargaan untuk covernya.

Sunday, October 7, 2012

Kala Kali

Judul : Kala Kali
Penulis : Valiant Budi &Windy Ariestanty
Penerbit : Gagas Media
Edisi :Soft Cover
ISBN : 9797805816
ISBN-13 : 9789797805814
Bahasa : Indonesia
Rating : 3 bintang dari 5

Selama ini, saya gak pernah tertarik beli Gagas Duet. Karena (menurut info), Gagas Duet tuh bukannya 2 penulis berkolaborasi bikin 1 cerita yang sama. Tapi masing-masing penulis membuat 1 cerita dan kedua cerita itu tidak berhubungan.
Lha? Buat apa bikin duet kalo gitu? Kebayang deh, pasti ceritanya bakal pendek, mirip cerpen tapi panjangan dikiiit (ini ambigu banget sih bahasanya XD). Intinya: gak minat beli.

Tapi niat teguh itu pun goyah saat tahu Vabyo terlibat dalam proyek duet. Mau gak beli, kok ya penasaran pengen baca. Lagian udah tanggung koleksi buku yang bersangkutan. Akhirnya nekat deh ikut beli. (PS : Ini kenapa preludenya panjang ya?)

Sewaktu pertama liat bukunya, ada dialog gini sama diri sendiri : "Yiha...beneran keren nih cover. Sekeren di gambar." #MenurutNgana
Tapi kegirangan itu langsung menguap begitu sadar covernya dipakein lidah ato elemen tambahan ato apalah itu yang bikin jadi susah disampul. Asli repot buanget nyampulin itu buku.

Okeh...mari masuk ke isi buku.
"Hidup mah dinikmatin ajah. Banyak-banyak berbuat baik, jadi pas mati juga insya Allah dalam keadaan baik. Lagian, kalo hidup malah fokus mikirin mati terus, bisa jadi yang mati duluan malah orang-orang di sekitar kita, kan? Jadi mending perhatiin mereka yang sayang kamu." -Ramalan Dari Desa Emas-

Kisah pertama berjudul Ramalan Dari Desa Emas buah karya Vabyo, berkisah tentang Keni Arladi yang akan berusia 18 tahun. Keni ini tipe anti mainstream rupanya. Jadi bukannya ngerayain ultah bareng temannya ato keluarganya, ato bikin video trus unggah di youtube, ato apalah pokoknya, Keni memilih 'tuk menyepi di Desa Sawarna.

Awalnya rencana itu tampak mulus, sampai Keni bertemu bocah jago ramal yang (pastinya) meramalkan dia akan meninggal sebelum usianya 18 tahun. Keni sih berusaha untuk cuek, tapi setelah melihat betapa kesialan (dibarengi maut) selalu mengintai pasca diramal, dia pun terpengaruh. Dan dimulailah usaha pelarian diri Keni yang rada mirip Final Destination. Tentu semua itu diceritakan dari sudut pandang Keni yang cuek, rada sinis dan tengil.

Ceritanya enak dibaca sebenernya, mengalir dan pace-nya cepat. Endingnya juga seru dan gak ketebak.
Biar pun karakter Keni cuek gitu, tapi gak nyebelin untuk dibaca karena Vabyo membalutnya dengan humor kenes-namun-kadang-garing ala Vabyo.

Bagian mengganggu dari cerita ini adalah gaya bahasanya yang setipe banget dengan gaya bahasa Kedai 1001 Mimpi (yang juga berarti gaya bahasa Vabyo di twitter dan blog). Rasanya seperti Vabyo sendiri yang bercerita dan bukannya Keni.
Ada pikiran gini selama membaca :
"Oh si Vabyo sekarang jiper sendiri gegara dia kesasar di hutan. Eh? Apa? Siapa yang kesasar? Oh Keni toh, bukan Vabyo. Ah tapi masa sih? Vabyo itu mah. Liat dong gaya bahasanya yang berima, itu kan gaya Vabyo."
"Hah? Apa katanya? Keni cewek? Ah now I'm sure you're lying."


Iya...saya gagal membayangkan Keni sebagai cewek. Gaya bahasa, berpikir, dan sebagainya si Keni tidak membuat saya nangkep aura ceweknya.
Apa karena si Keni tomboy? Atau lebih tepatnya : apa begini gaya pikir remaja cewek tomboy 18 tahun jaman sekarang? Mungkin. Toh saya memang gak tahu apa-apa tentang itu.

Ato memang Vabyo yang gak mampu menciptakan karakter cewek dan mendalaminya?
Bukan ah. Di Bintang Bunting dia berhasil. Di Joker sekalipun, karakter Aulia masih berasa girly-nya (walopun rada nyaru).
Apa karena gaya penulisan Vabyo sudah berubah? Ada jeda 4 tahun antara Bintang Bunting dan novel ini, dan sangat wajar kalo gaya penulisan seseorang berubah.
Yah mungkin saja.

Tapi ini bikin saya jadi penasaran buat baca karya Vabyo selanjutnya. Jadiii...ayo kita tunggu MENUJUH \(^o^)/.
PS : Saya udah PO tuh buku lho (iyaaa...emang ini pamer kok ;p)

Sementara itu, 3 bintang untuk Ramalan Desa Emas-nya Vabyo.
"Hidup tak tertebak. Seperti permainan gundu dan dadu. Terkadang, aku takut itu... Bahkan ketika kita merasa segala sesuatu telah ada di genggaman, kondisi bisa berbalik." -Bukan Cerita Cinta-
Di bagian ke-2 ada "Bukan Cerita Cinta" dari Windy Ariestanty.
Bertutur tentang seorang Bumi yang editor, yang memandang hidup secara filosofis juga persahabatannya dengan Akshara, seorang penulis impulsif dan sedang jatuh cinta dengan Bima.

Bumi yakin kalo Akshara tidak sungguhan mencintai Bima. Sementara Akshara berkeras sebaliknya. Hingga dibuatlah taruhan yang berpuncak pada ulang tahun Akshara. Pada hari H akan dilihat, apakah Akshara masih bersama dengan Bima. Sebaliknya, Akshara ingin Bumi datang ke ulang tahunnya bersama pacar baru.
Kehadiran teman Akshara yang bernama Koma seperti datang tepat pada waktunya. Perempuan tanda baca itu berhasil memikat Bumi dengan tawanya.
Lalu kisah pun mengalir dari penuturan Bumi tentang Akshara, tentang Koma. Pendapat Bumi tentang mereka berdua, tentang filosofi cinta dan diskusi-diskusi kaya makna antara ketiga tokoh tersebut.

Kebalikan dengan cerita Vabyo yang pace-nya cepat, cerita milik Windy ini justru terasa lamban. Sangaaaaatttt lamban.
Inti cerita sebenarnya sependek yang saya jabarkan di atas, tapi Windy memperpanjang cerita dengan berbagai penuturan yang gak penting.
Kadang-kadang pengarang sering mengajak pembacanya muter-muter nggak keruan hanya karena si penulis kepingin aja memasukkan jalinan peristiwa atau dialog yang kalau ditanya kenapa dia melakukannya, jawabannya adalah, "Because I like it."
source
Saya menangkap kesan yang sama dari cerita ini, semacam : "Nih biar loe nangkep cinta itu kayak apa, gw ceritain tentang Elizabeth Barrett Browning. Nih Anna Karenina. Masih kurang? Ini nih sekalian kisah si Cupid & Psyche. Oh iya, gw bahas Daido juga deh."
Apa Windhy kehabisan ide mo dibawa kemana ini cerita hingga dimasukkan lah bagian ini? Nggak mungkin rasanya ah.

Selama membaca semua filler itu, saya nanya sendiri : "Ini buku konfliknya apa sih? Klimaksnya dimana?"
Dan sampe akhir, saya gagal nemu klimaksnya. Semua datar, flat.
Okeh, saya nangkap kok adegan mana yang dimaksudkan jadi klimaks, tapi buat saya itu pun sama datarnya dengan adegan sebelum dan setelah itu.

Dan saya juga merasa gak sreg dengan tokoh-tokohnya. Karakterisasi mereka kurang kuat untuk saya. Cuma Komang yang menarik dengan bubbly personality-nya.
Akshara? Datar.
Bumi? Sama datarnya.
Bima? Datar juga (ya walo si Bima emang jarang muncul sih).

Terus, klo di cerita Vabyo saya gagal membayangkan Keni sebagai wanita, di "Bukan Cerita Cinta" saya susah membayangkan Bumi sebagai pria. Susah namun bukan berarti gak bisa.
Ada saat tertentu sisi pria Bumi kelihatan. Tapi most of the time, saya dapat kesan yang sama dengan Farah : si Bumi ini cewek androgyny yang naksir sama si Akshara. X))

Untunglah, cerita Windy ketolong dengan untaian kalimat yang puitis dan penuh makna. Membaca cerita Windy memang gak bisa skimming supaya dapat meresapi makna kalimatnya. Dan sungguh, gaya bahasa inilah yang bikin saya bertahan menyelesaikan Kala Kali. Walo pun dengan rasa jenuh dan sakit kepala yang kerap datang setelah baca 4-5 lembar. (hehehe).
Yap, saya menikmati dibikin sakit kepala sama Windy. Rada masokis emang XP (ps : mudah-mudahan gak ada anggota 50United yang baca ini)

Saya belum pernah baca satu pun karya Windy (kecuali The Journeys) walo udah menimbun ketiga bukunya di rak saya . Saya tahu, dari review rekan-rekan, Life's Traveller punya gaya bahasa yang puitis dan filosofis juga. Dan kemungkinan, bisa bikin saya dapat sakit kepala yang nikmat lagi. (halah!)

Tapi saya kok malah jadi penasaran sama Shit Happens ya. Pengen tahu aja apa memang Windy selalu menulis dengan gaya seperti ini, meskipun dalam novel remaja.
Hmmm...*menatap Shit Happens yang masih terbungkus rapi selama sekian tahun*
Yeah! Let's take a look later. \(^o^)/ (ps : much later I mean)

Dan saya juga gagal paham dengan tagline : Hanya waktu yang tak pernah terlambat.
Bisa gak sih Gagas berhenti bikin tagline dan-atau blurb yang emang puitis, keren tapi menyesatkan dan maknanya gak masuk ke cerita?

Kesimpulannya: 2 bintang untuk Bukan Cerita Cinta dan 3 bintang untuk Ramalan Dari Desa Emas.
Totalnya 2,5 bintang. Dibulatkan 3 bintang untuk covernya.


PS : Yang ini sih unek-unek saya untuk Mbak Windy. Gak penting-penting amat untuk dibaca oleh yang lain, but I hope someday Windy would read this. Buat yang lain, better read it only if you can stand my lebayness (apa pun arti kata itu) XD

    

   

    SEKADAR CURHAT:   

   

   

   Pada salah satu scene di Bukan Cerita Cinta, ada bagian Akshara sakit dan berkata : "Kata dokter, aku sakit gejala typhus (ato tifoid?)."

Well, there's no such thing as "gejala thypus". Gak akan ada dokter yang kasi diagnosa "gejala typhus", setidaknya untuk dokter jaman sekarang.

Para dosen dan juga bos saya bisa murka kalo tahu bahwa kami (para GP unyu ini) kasi diagnosa gejala typhus.
Alasannya?
Karena pemberian kata "gejala" di penyakit ini menimbulkan reaksi yang "aneh" pada pasien.

1. Yang mendapat kesan kalo typhoid itu sakit ringan saja (padahal jelas salah)
Mereka di golongan ini akan cuek dengan bahaya typhoid. Rata-rata pada mikir : "Ah gejalanya aja cuma gini. Demam dan mual doang. Cemen lah. Istirahat di rumah beberapa hari juga beres. Penyakit aslinya juga gak berat-berat amat dong."

Atau yang ke-2, malah jadi menganggap serius "gejala-typhus"nya. Pasien yang di golongan ini akan mengonsumsi antibiotik (yang sebenarnya tidak perlu) atau kapsul cacing tanah (yang lebih tidak perlu lagi dan bisa bahaya).
Kenapa gak perlu? Karena sebagian besar kasus "gejala typhus" itu sebenarnya infeksi virus yang lebih ke self limiting diseases.

Saya gak tahu sejak kapan dan siapa yang pertama kali menciptakan salah kaprah macam gejala typhus ini. Salah satu dosen saya berteori, mungkin penyebabnya dari kalangan dokter sendiri di jaman dahulu kala. Saat ilmu kedokteran belum semaju sekarang, pemeriksaan laboratorium masih terbatas dan penyakit typhoid masih jadi momok. Sehingga semua orang yang punya keluhan mirip-mirip typhoid langsung dianggap "gejala typhus" dan diperlakukan sama seperti pasien typhoid.

Jelas ini salah kaprah yang harus diluruskan. Dosen yang sama juga bilang : "Generasi kalian ini emang korban dari generasi saya. Sudah terlalu banyak salah kaprah yang dibikin sama angkatan saya. Gejala typhus ini salah satunya. Salah duanya ya tentang antibiotik. Tapi tugas kalian buat meluruskan. Demi generasi di bawah kalian nanti dan demi kalian juga."

So...yep, we're trying. I'm trying. Dan jelas nggak gampang meluruskan kesalahpahaman yang sudah berkembang lama. Tentu saja kami mengandalkan bantuan pihak-pihak lain seperti penyuluhan, media-media, dan termasuk juga buku. Pokoknya apa pun yang bisa menjangkau masyarakat luas.
Dan karenanya menyebalkan ketika salah satu sarana yang bisa mendidik seperti novel malah bantu menyebarkan kesalahan ini.

Saya ngerti Windy bukan orang medis. Dan sebenarnya gak papa juga kalo dia mo nulis "gejala typhus" di ceritanya. Yang mengganggu adalah bagian "Kata dokter..." di kalimat itu, yang seolah menegaskan dokter mengakui ada penyakit seperti itu.
So next time, be more careful, mbak :)

Fyuh...curhat yang panjang cuma karena dua kata "gejala typhus" doang ya. Mana berasa lebay pula (iyaaa...saya juga tahu kok kesannya lebay banget). Ya maka itu saya hide ;p
   

   

   

Sunday, September 23, 2012

Twivortiare

Data Buku :
Judul : Twivortiare

Penulis : Ika Natassa
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2012
ISBN 13 : 9789792286748

Sinopsis :
“Commitment is a funny thing, you know? It’s almost like getting a tattoo. You think and you think and you think and you think before you get one. And once you get one, it sticks to you hard and deep.”

Do busy bankers tweet? Yes, they do. Empat tahun setelah Divortiare, Alexandra membuka kembali hidupnya kepada publik melalui akun Twitter-nya @alexandrarheaw. Lembar demi lembar buku ini adalah hasil “mengintip” kehidupannya sehari-hari, pemikirannya yang witty dan sangat jujur, spontan, chaotic, dan terkadang menusuk, yang akhirnya akan bisa menjawab pertanyaan: “Dapatkah kita mencintai dan membenci seseorang sedemikian rupa pada saat bersamaan?”

Twivortiare adalah kisah klasik tentang cinta dan luka, terangkai dalam tweets, mentions, dan DM yang lahir lewat ujung-ujung jemari karakter-karakternya.


Review : 

Saya itu orang yang ndak pernah peduli sama autographed version dari buku. Bahkan termasuk CD dari penyanyi favorit juga.

Tanda tangan yang saya pedulikan hanyalah tanda tangan di dokumen-dokumen penting saya ato tanda tangan pemain bola favorit saya (aaaa....Zanettiiiiii).
Karenanya tiap kali ada pre-order buku apapun yang bertanda tangan penulisnya, saya gak pernah tertarik ikutan soalnya saya nunggu buku itu terbit dulu dan ngeliat reaksi pembacanya gimana. Bahkan walo penulisnya udah saya kenal dan bisa menebak bukunya kayak apa (seperti Kedai 1001 Mimpi-nya Vabyo misalnya).

So...kalo ampe saya bersedia ikutan pre order buku ini kemarin, bukan tanda tangannya yang menarik minat saya. Tapi karena saya penasaran (pake banget) dengan kelanjutan Alexandra dan Beno.


Siapa sih Alexandra dan Beno itu?
Mereka adalah tokoh dari novel Ika Natassa sebelumnya yang berjudul Divortiare. Di Divortiare dikisahkan kalo Alexandra dan Beno sudah bercerai. Masing-masing melanjutkan hidup dan mengejar karir dimana Beno adalah dokter bedah thoraks sukses dan Alexandra adalah bankir yang karirnya sedang menanjak. Mereka juga (ato minimal Alexandra karena Divortiare bercerita dari sudut pandangnya) berusaha move on dan mencari cinta yang baru. Divortiare ditutup dengan kisah yang "gantung" antara Alexandra dan Beno. Pembaca disuruh menebak sendiri apakah mereka kembali bersama ato tidak.

Sewaktu mengetahui kalo Ika Natassa membuat akun twitter untuk tokoh rekaannya (Alexandra), saya belum tertarik untuk follow. Baru setelah mendengar kabar kalau rangkaian tweetnya akan dibukukan, saya jadi penasaran bagaimana kelanjutan pasangan itu. Kenapa baru belakangan saya penasaran? Karena sebelumnya saya pikir, twitternya Alexandra itu masih bercerita seputar hidupnya pasca perceraian dan gak nyebut-nyebut Beno. Begitu tahu kalo ternyata hidup Alexandra saat ini melibatkan Beno, jelas saya tertarik dong. Saya kan gemes sama karakter pak dokter yang lempeng banget itu. 

Apalagi saya dapat info kalo buku ini akan bercerita tetap dalam format twitter. Jadi rasanya seperti baca timeline yang panjang. Dan per-tweet hanya dibatasi 160 karakter. Waaa...menarik dan bikin penasaran.

Kesan setelah baca?

Yah bagus sih. Not bad at all Banyak yang bisa kita pelajari dari hubungan Beno-Alex. Tentang usaha untuk mengerti satu sama lain, bahwa pernikahan itu berarti "start to feel for two people." Juga kalo cewe itu mesti bisa mandiri secara finasial (setuju banget ini).

Saya juga belajar tentang perasaan Alexandra yang bersuamikan dokter sibuk banget. Dia sempat merasa di-nomor duaka-kan dibanding pekerjaan suaminya. Jadi kepikir, apa gitu ya perasaan ibu dan tante-tante saya yang bersuamikan dokter?
Tapi sepertinya mereka gak kapok tuh punya suami dokter, soalnya mereka meng-encourage anak masing-masing buat nikah sama dokter juga. Ugh...pada gak tau aja dalem-nya dunia kedokteran itu kayak apa. #Eaaaaa #TetepCurcol

Rada kesal sih sama karakter Alexandra yang kadang too demanding dan childish. Masak gak ngerti juga kalo Beno sayang dia? Saya yang cuma tau kelakuan si Beno lewat tweet-tweet dia aja bisa ngeliat kok, masak dia gak nyadar sih?
Tapi bagusnya, Alexandra udah jauh lebih dewasa dibanding Alexandra di Divortiare.

Dan si Beno-nya juga eugh...keras kepala banget sih.
Etapi berhubung karakter saya lebih dekat ke karakter Beno, dan posisi kami cenderung sama (jadi pihak yang lebih lempeng), somehow bisa ngerti dia. #JanganCurcolLagiDehWi

Dan melalui interaksi kedua tokoh utamanya ini lah, Twivortiare mengajarkan bahwa cinta aja gak cukup untuk membentuk pernikahan, we have to work on it. Dan perbedaan yang ada itu bukan untuk dijadikan sama, tapi untuk dikompromikan.

Ada satu yang nyepet saya di buku ini sebenarnya. Scene waktu Alexandra ngeluh sakit kepala dan Beno cuma menyarankan minum aspirin. Dan si Alex sebel, menurut dia kalo cuma butuh aspirin mah dia gak bakal ngeluh ke Beno. Yang dia butuhkan tuh perhatian dan soothing word dari Beno.
Dan uhm...saya jadi kesepet :">
I mean, saya juga gitu. Kalo ada yang ngeluh sakit ke saya, naluri saya adalah melakukan anamnesis seperti umumnya dokter ke pasien untuk kemudian kasi saran obat yang cocok menurut saya. Dan ini saya lakukan pada siapa pun, dari teman biasa sampe orang dekat macam keluarga dan si "dia".

Dia pernah protes sih. Dia bilang, "Wi...diperhatiin dong. Lagi sakit nih."
Dan saya dengan bingungnya bilang : "Kan udah. Udah dikasi obat, udah dikompres, udah diambilin makan sama minum, udah diselimutin. Istirahat aja sekarang, nunggu obatnya bereaksi."
Membaca kesebalan Alexandra, saya jadi mikir, mungkin maksudnya waktu itu si dia pengen dimanjain ya? Dikelonin dan dipuk-puk gitu? Yeeee.....bilang dong :|

Tapi satu yang gak disadari Alexandra (dan mungkin orang lain), dokter itu (ato paling enggak saya) emang refleksnya gitu kalo ketemu orang sakit. Yang pertama saya pikirkan adalah apa yang bisa saya lakukan untuk memperingan sakitnya. Dan yaaahhh...the easiest way ya to suggest some medicine.
Lagian gak mungkin juga pasien saya kelonin ato saya puk-puk kan? Paling bisa ya ber-empati. Empati yang juga saya terapkan ke orang-orang dekat saya.
Saya suka lupa kalo orang dekat itu gak bisa dimasukkan dalam kategori yang sama dengan "pasien". Bahwa selain empati, saya juga boleh bersimpati sama mereka.

So thanks to Ika Natassa dan Twivortiare yang udah ingetin satu fakta yang sebenernya saya udah tau, tapi suka dilupakan :">

Pertanyaannya, kenapa buku yang begitu banyak memberi pelajaran seperti ini, dengan format unik pula  tetap saya kasi rating 4 bintang?

Jawabnya karena saya jenuh dengan banyaknya bahasa inggris yang bertebaran di buku ini.
Udah bukan banyak lagi, overdosis malah. Bisa lho sampe 2-3 lembar full bahasa inggris.
Yaaa....saya sih masih ngerti aja, tapi jadi kepikir : "Untuk jadi pembacanya Ika Natassa itu kudu bisa bahasa inggris ya? Apa syarat seperti itu udah termaktub somewhere entah dimana?"
Dan bertanya juga, pemasaran buku ini sejauh apa ya?
Saya yakin jumlah masyarakat Indonesia yang ngerti bahasa inggris lebih sedikit dibandingkan yang bisa. Warga di kota-kota di Pulau Jawa dan kota-kota besar lainnya emang banyak yang fasih berbahasa inggris, tapi mereka yang di ujung Kalimantan sana? Yang di Ambon dan sekitarnya?

Dengan overdosis-nya bahasa inggris di sini, saya sih gak yakin buku ini bisa dimengerti mereka-mereka yang di pelosok Indonesia sana.
Dan menurut saya sih sayang kalo karya yang sarat nilai positif tapi disajikan dengan ringan seperti Twivortiare ini gak bisa dinikmati mereka disana.

Jadi....kalo lain kali menulis buku, bisakah menuliskan buku yang menggunakan bahasa Indonesia secara utuh dari awal ampe akhir, mbak Ika Natassa?
Karena saya perhatikan, semua buku anda begitu kuyup dengan bahasa inggris. Apakah karena kesulitan menemukan bahasa indonesia yang tepat untuk mewakili apa yang anda maksudkan?
Padahal saya yakin untuk setiap frase yang ada di bahasa inggris, ada padanan yang tepat di versi indonesianya.
Come on, mbak. I know you can do that. I dare you! :) 



"The simplest things in life are what make us happy eventually. A warm and comfy home, being loved, and knowing that somebody can't live without you."  (p. 193)

Monday, September 17, 2012

Mencoba Sukses

Data Buku:

Judul : Mencoba Sukses
Penulis : Adhitya Mulya
Penerbit : Gagas Media
Tahun Terbit : 2012
ISBN : 9797805131
Rating : 2 stars out of 5


Let me tell you a story...
Untuk beberapa orang yang sudah kenal saya di luar GR, mungkin udah eneg baca cerita ini lagi X). But I still wanna tell it anyway :p.

Settingnya beberapa tahun yang lalu, saat Adhitya Mulya baru saja mengeluarkan novel pertamanya : Jomblo.
Kala itu, saya menulis review yang yah...gitu deh, sesuai kebiasaan saya lah kalo nge-review. Dan gak tau gimana, Adhitya tau tentang review itu. Dia cuma bilang : "Makasih udah sediain waktu buat baca dan review" ato something yang seperti itu.

Dan sejak itu, saya respect sama Adhitya.
Ada banyak penulis lokal yang saya sukai, sebagian besar saya hormati. Namun hanya beberapa yang saya support secara loyal dengan membeli bukunya, sekacrut apa pun buku tersebut. Dan Adhitya termasuk yang "beberapa" itu.

Sewaktu buku Mencoba Sukses ini baru terbit, saya gak buru-buru membelinya walopun emang udah diniatkan. Saya mo liat dulu reaksi pembacanya gimana. Reaksi ini saya pantau dari timeline twitternya Adhitya (iyaa...emang oksimoron kok). Dan salutnya, Adhitya meng-RT beragam reaksi tentang bukunya, baik yang puas mau pun nggak.

Menurut saya wajar kok kalo penulis hanya meng-RT komentar-komentar bagus tentang bukunya. Kan itu cara promosi mereka. Buat saya, sudah cukup kalo mereka tetap menanggapi baik segala komentar negatif yang ditujukan. Tapi meng-RT segala komen buruk yang masuk menunjukkan kebesaran hati selain juga kedewasaan.

And so...itulah alasan kenapa gak ada review kacrut kali ini walopun buku ini punya beberapa unsur kacrut :s.
(PS : Hanjiiisss...ini kenapa komen tentang penulisnya aja panjang gini?)

Novel ini bercerita tentang seikat pocong-banci-tampil yang kepengen banget bisa eksis di dunia entertainment. Bersama teman barunya, Babi Ngepet, Pocong pun berusaha menapak jalan menuju kesuksesan. Demi kesuksesan yang diidamkan, Pocong sampai berguru pada Kuntilanak, hantu tersukses di bidang entertainment, dan Suster Ngesot, salah satu hantu gagal. Pocong juga harus menghadapi persaingan sesama hantu dan pengkhianatan dari teman hantu lainnya (terdengar sangat dramatis).

Ide dasar novel ini lumayan baru sih sebenarnya. Jarang ada novel lokal yang menjadikan hantu sebagai tokoh utamanya dan bergenre komedi.
Sewaktu membaca kata pengantarnya pun, saya sudah nyengir lebar. Sayang, itulah satu-satunya saat saya bisa nyengir saat membaca buku ini.

Bab pertama yang ada di blurb novel ini sebenarnya memang lucu. Tapi saya sudah membaca bagian ini 2x sebelumnya (pertama di blognya Adhitya, kedua di Kumcer Empat Musim Cinta). Sehingga saat saya membacanya untuk yang ketiga kalinya di novel ini, yang terasa adalah bosan. Pake banget.

Humor yang ada dalam novel ini masih humor khas Adhitya yang tajam dan menyentil. Sayangnya, kali ini saya merasa terlalu banyak hal yang ingin disentil Adhitya dalam novel setipis ini. Bayangkan, dalam novel setebal 192 halaman, Adhitya menyindir tentang Facebook yang sudah mirip Tanah Abang, hobi jiplak sineas Indonesia, percobaan iseng remaja karang taruna dengan oplos minuman yang berakibat ketemu sama dewa maut, sampai ke trend sinetron masa kini yang bisa mencakup ratusan episode. Bahkan Adhitya masih sempat menyentil tentang betapa vitalnya keindahan fisik dalam dunia entertainment.

Apakah lucu? Yah awalnya sih sedikit lucu. Baca kenyinyiran orang kan emang (biasanya) lucu. Tapi setelah 100an halaman lebih, yang kerasa adalah "ugh-it's-enough".
See...nyinyir is fun, seru, lucu. But try to overdo it, and it becomes gengges (ganggu).

Lagipula topik yang disentil Adhitya berasa random. Maksud saya, pada intinya ini tentang dunia entertainment kan? Kenapa kudu bawa-bawa FB dan minuman oplosan ya?
Oke...saya ngerti Adhitya bermaksud menyelipkan pesan moral di buku ini. Apalagi novel ini diniatkan untuk kedua putranya, sebagai cara mendidik agar mereka gak takut sama segala demit dan menganggapnya hiburan (bener gak ya?).

Tapi Kang Adhit, kenapa gak fokus ke itu aja? Kenapa mesti nyentuh topik-topik lain di luar itu?
Rasanya jadi "too overwhelming" aja.
Dan pesan-pesan moral yang niatnya diselipkan dalam novel ini, karena udah kebanyakan malah bikin males. Ada semacam perasaan "yea-yea-yea...enough-about-it-will-you".

Gimana dengan humornya? Entahlah...mungkin sense of humour saya yang lagi drop, ato mungkin emang gak satu selera (etapi biasanya selera saya cocok lho sama novelnya Adhitya), ato mungkin jugaaa karena saya udah senep baca semua sentilan itu. Yang pasti, sepanjang baca novel ini, saya selalu kepikir : "Wait...tadi itu mestinya lucu ya? Gw mestinya ketawa?". And laugh never feel that rempong before.

Tapi Adhitya Mulya (dan istrinya Ninit Yunita) tetap salah dua novelis favorit saya, yang akan selalu saya tunggu kemunculan buku-buku berikutnya. So keep on writing, kang. Dan semoga buku Mencoba Sukses-nya beneran sukses.

Saturday, September 1, 2012

Kitchen

Judul asli :  キッチン Kicchin
Penulis : Banana Yoshimoto
Tahun Terbit : 2009
ISBN13 : 9789799101730
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Rating : 4 out of 5 stars


Kitchen bercerita dari sudut pandang Mikage yang baru saja kehilangan neneknya.

"Aku tak bisa tidur di tempat lain selain dapur."

Mikage Sakurai sebatang kara sejak neneknya meningal. dapur menjadi satu-satunya tempat dimana ia dikelilingi panci bekas pakai dan sisa ceceran sayur, serta ditemani sepetak langit malam berbintang di jendela.
Namun dapur keluarga Tanabe yang membuatnya jatuh cinta. Di sana selama satu musim panas ia bergulat dengan acar, udon, soba, dan tempura. Di sana pula ia temukan apa yang tak pernah dimilikinya: keluarga, bersama Yuichi Tanabe yang dingin dan Eriko Tanabe yang mempesona--perempuan transeksual yang sejatinya ayah kandung Yuichi.
Ketika Eriko meninggal, Mikage dan Yuichi menjauh dan saling terasing dalam kesedihan. Apa yang harus mereka lakukan untuk bangkit dari dukacita dan menyadari ada cinta di antara mereka?

"Sejujurnya aku ingin sekali berhenti berjalan, berhenti melanjutkan hidup. Walaupun esok, lusa, dan minggu depan pasti akan datang, tak pernah kukira hidup ini ternyata begitu berat."
-Mikage Sakurai-

Kekuatan Kitchen menurut saya terletak di karakter tokoh-tokohnya yang bisa menarik simpati.
Mikage adalah sosok yang selalu berusaha optimis walau sebenarnya dia melewati waktu yang sulit. Mikage berusaha mengatasi kehilangannya dengan memfokuskan diri pada hal kecil sementara berusaha mencari jawaban atas unanswered questions-nya. Pertanyaan seperti "Kenapa semua orang yang dekat dengannya meninggal? Bagaimana dia bertahan bila sendirian??.

Yuichi adalah sosok pendiam, yang jarang mengungkapkan perasaannya. Menarik mengikuti perkembangan chemistry Mikage dan Yuichi yang awalnya awkward hingga menjadi dekat. Dan Mikage lah satu-satunya orang yang mengerti perasaan tak terkatakan Yuichi.

Lalu ada Eriko, sosok waria sekaligus satu-satunya sosok orang tua yang dimiliki Yuichi dan Mikage. Buat saya, Eriko lah sosok yang paling menarik. Dia terlihat ceria, tapi mungkin dia-lah yang mempunyai luka terdalam. Karena pasti luka sebesar itu yang membuat seseorang mau berganti identitasnya.

"Untung dan sial adalah hal biasa, tapi mempercayakan diri kepada peruntungan semacam itu adalah sikap manja."
-Mikage Sakurai-

Oya...saya membaca buku ini sebagai bagian dari proyek baca bareng BBI. Temanya adalah '1001 books you have to read before die'. Dan dari 1001 buku itu, saya memilih Kitchen dengan alasan simpel bahwa saya suka judulnya.

Ketika sedang terluka atau sakit hati, tiap orang mempunyai terapi sendiri untuk menyembuhkannya.
Ada orang yang ketika dirundung masalah akan menenggelamkan diri dalan minuman beralkohol. Ada yang memilih menutup diri dari dunia dan menangis. Beberapa memilih pergi travelling. Dan beberapa memilih shopping atau berpesta.

Terapi saya adalah makanan
Saya memilih berpaling kepada makanan yang membuat saya nyaman (my comfort food).
Ketika ayah meninggal 8 tahun yang lalu, saya menenggelamkan diri di dapur, sibuk memasak makanan favorit beliau. Saat saya menyantap makanan favorit itulah, saatnya saya grieving dan mengenang beliau. Melalui cara itu, saya memulihkan diri. Ketika seorang yang sangat saya sayangi pergi tiga tahun lalu, dapur kembali menjadi tempat pelarian saya.

Terkadang, ada beberapa hal yang tak bisa kita kontrol dalam hidup ini. Kita tak bisa mengontrol siapa yang masuk dalam hidup pun tak mampu mencegah mereka meninggalkan kita. Kita juga terkadang harus rela kehilangan jejak dari orang yang kita pedulikan.
Di dapur, hal seperti itu tak akan terjadi. Kita selalu tahu dimana letak panci A, wajan B atau sodet C. Kita juga yang berkuasa menentukan perangkat mana yang menghuni dapur kita dan mana yang sudah bisa dipensiunkan.

"Bagaimanapun, aku ingin terus merasa bahwa suatu saat aku pasti akan mati. Jika tidak demikian, aku tidak merasa hidup. Karena itulah aku menjalani kehidupan seperti ini."
-Mikage Sakurai-

Dalam hidup, kadang kita tak tahu apa yang salah, dimana semua bermula, dan bagaimana memperbaiki masalah tersebut.
Saat memasak, kalo ada rasa masakan yang gak beres, kita tahu apa yang salah dan bagaimana memperbaikinya. Tambah garam, kecilkan suhu api, atau buang lagi saja dan masak ulang yang baru X), semuanya terserah kita.

Fakta itulah yang saya suka dari dapur dan kegiatan memasaknya. Karena untuk sesaat itu, saya memegang kontrol penuh dalam hidup saya. Walau hanya diwujudkan dengan keadaan sesimpel memasak.

Ketika pertama tahu bahwa Mikage punya ketertarikan khusus pada dapur, saya kira dia akan memiliki alasan yang kurang lebih sama dengan saya (haisss....GR pisan). Ternyata saya salah. Mikage punya alasannya sendiri.
Apa alasan Mikage?
Well...itu sesuatu yang harus anda ketahui dengan baca sendiri.

"Sekarang aku bisa dengan mudah mengucapkannya; dunia ini ada bukan hanya untukku. Karena itu, rasio pertemuan dengan kejadian-kejadian buruk tetap tidak berubah. Bukan aku yang memutuskan. Jadi, sebaiknya tetaplah bersikap ceria."
-Eriko Tanabe-

Kitchen sebenarnya terdiri dari 2 cerita.
Cerita kedua berjudul Moonlight Shadow yang juga membahas tentang kehilangan and how to cope with that.
Yah menurut saya sih Moonlight Shadow sama bagusnya dengan Kitchen, walau saya masih lebih suka Kitchen karena merasa akrab dengan tokoh Mikage (haiss...personal sekali alasanmu, wi).

Mengenai terjemahannya, uhm...ada banyak sekali kata-kata yang puitis dalam bahasa jepang, yang akan sulit diterjemahkan dalam bahasa inggris atau pun Indonesia. Karena itu bahasa terjemahan di buku ini memang terasa kurang "halus".

Juga ada beberapa 'frasa' yang terlewatkan. Misalnya saja tentang bulan. Di awal cerita, saat Mikage menuju rumah Yuichi untuk tinggal bersama, dia melihat ada bulan baru. Di pertengahan cerita, ada bulan separuh. Dan saat mendekati akhir, Mikage menyadari bahwa bulan sudah hampir penuh.
Perubahan fase bulan ini secara tak langsung menggambarkan perubahan fase Mikage juga.
Tapi dalam versi terjemahan, bagian tentang bulan ini hanya sebagai latar. Sementara versi asli, bagian ini ditulis dengan puitis (eh puitis versi saya sih) sehingga kita sadar bahwa bulan bukan hanya penghias cerita.

"Semakin aku dewasa, akan semakin banyak peristiwa terjadi. Aku akan terjerembab lagi dan lagi. Berkali - kali aku akan menderita, berkali - kali pula aku akan bangkit. Aku tidak akan akan kalah. Aku tidak akan menyerah."
-Mikage Sakurai-

Aduh...susah menjelaskannya. Tapi menurut saya, versi terjemahan bahasa Indonesia ini pun sudah cukup baik. Yoshimoto wrote it in a beautifully sad and sadly beautifull way and I think the translator succeeded to give the same aura. So it should be enough.

Mengenai apakah buku ini layak masuk list 1001 buku yang harus dibaca sebelum meninggal, hmmm...saya gak tahu deh >.< . Maksud saya, iya sih bukunya bagus banget. Favorit saya malah. Tapi apa bener buku ini harus dibaca sebelum meninggal?
Mungkin iya. Supaya kita punya gambaran bagaimana kira-kira menghadapi hidup saat orang terdekat harus 'pergi'. Karena hidup sejatinya adalah serangkaian pertemuan dan perpisahan bukan? :)

Sunday, August 19, 2012

The Missing Piece

Data Buku :
Judul : The Missing Piece
Penulis : Shel Silverstein
Hardcover, 112 pages
Published : April 14th 1976 by HarperCollins
ISBN : 0060256710  
ISBN13: 9780060256715

Warning : Contain Huge Spoiler

Sebelumnya maaf ya, review ini emang kudu spoiler. Karena saya gak menemukan cara untuk bercerita tentang buku ini tanpa memberi spoiler. Dan berhubung buku ini emang ceritanya dikit, maka yah...bercerita sedikit tentang buku ini pun sudah jadi spoiler.

Saya ini penggemar berat buku anak, jauh sebelum saya suka genre lain. Terutama children books yang ditulis dengan unik dan witty.
Buku anak yang saya maksud di sini tuh bukan yang karangan Enid Blyton ato Astrid Lindgren ato Roald Dahl (walau pun saya juga suka karya mereka sih). Tapi lebih ke buku anak yang buat anak TK - kelas 1 SD. Jadi emang tipe novel grafis.
Dan yang paling saya suka adalah buku anak yang ditulis dengan unik dan witty.

Dari semua penulis buku semacam itu, Shel Silverstein adalah favorit saya (yaaa selain Dr. Seuss sih). Kata-katanya indah, puitis tapi gampang dicerna, artworknya simpel dan gak ngeribetin. Lalu makna dibalik ceritanya itu bagus-bagus.

Nah salah satu karya dia yang paling saya suka itu duologi Missing Piece ini.

Buku pertama yang judulnya "The Missing Piece" menceritakan tentang sebuah lingkaran yang kehilangan satu "piece" dari dirinya. Kehilangan satu "piece" aja ternyata berpengaruh, karena dia gak bisa menggelinding dengan lancar. Maka dimulailah perjalanan sang lingkaran untuk menemukan bagian yang hilang.

Perjalanan itu gak mudah. Dia bertemu dengan "piece" yang kekecilan, berikutnya malah yang kebesaran. Pernah juga dia bertemu dengan "piece" yang pas, tapi karena gak dipegang dengan kuat eh terlepas lah "piece" itu. Dan si lingkaran pun terus mencari. Sambil mencari, dia menikmati petualangannya; bermain dengan lebah, becanda dengan bunga, bernyanyi, sampai ngerasain jatuh ke lubang.

Hingga suatu hari, dia bertemu dengan "missing piece"nya.
Awalnya si lingkaran bahagia, dia merasa hidupnya utuh. Tapi belakangan dia sadar, karena bisa menggelinding dengan lebih cepat, dia gak punya waktu untuk menikmati alam sekitarnya. Dia juga gak bisa bernyanyi karena mulutnya ketutupan si "missing piece" ini.

Jadi akhirnya dia memutuskan untuk melepaskan satu "piece" itu dan kembali menikmati dunianya.

Ketika pertama membaca buku ini, saya sempat gak puas.
Jiwa idealis saya protes : "Ih...kan dia udah dapat yang dia cari. Kok masih gak puas aja?"
Apalagi kalo mau dipikirkan, si lingkaran itu bisa dianalogikan dalam hidup. Kita merasa hidup ini kurang lengkap, makanya kita mencari "missing piece" kita, our "significant other".
Tapi ternyata, setelah ketemu, malah merasa seperti kehilangan kebebasan. Apa penulisnya mau mengajarkan bahwa lebih baik hidup sendiri tanpa orang lain?
Nilai macam apa yang mau diajarkan ke anak-anak?

Tapi ternyata kalo anak membaca buku itu memang sebaiknya didampingi orang tua ya. Karena membacanya sekarang, saat saya sudah mengerti, saya mendapat persepsi yang beda. >.<
Buku ini memang bercerita tentang hubungan manusia.
Contohnya waktu lingkaran menemukan "piece" yang cocok, tapi karena gak dipegang erat, "piece" itu pun terlepas. Kadang kita juga gitu kan? Kita menemukan orang yang (mestinya) cocok, tapi karena gak kita jaga ya lepas gitu aja.
Lalu saat lingkaran menemukan "piece" yang cocok, dia malah merasa jadi terlalu terikat, kehilangan identitas, dan terbebani. 
Menurut saya, Silverstein ingin memberi tahu bahwa terkadang hubungan yang kita pikir akan sempurna, tidak selalu berjalan sesuai perkiraan. Dan mungkin, kebahagiaan justru terletak dalam perjalanan kita mencari si "The One" itu.

Dan endingnya?
I love the ending.
Menurut saya, keputusan si lingkaran untuk melepas si "piece" dan kembali menikmati harinya seperti semula, itu sangat tepat.
Kalau sesuatu yang kita khayalkan ternyata tidak sesempurna impian, maka jangan takut untuk melepasnya. Lebih baik hidup dalam kebahagiaan walau pun tidak sempurna, daripada berkeras mempertahankan khayalan semu padahal tertekan.
Endingnya juga realistis menurut saya.
Banyak orang yang mengejar impiannya dengan menggebu-gebu, tapi pada akhirnya menyerah. Entah karena dia sudah mencoba terlalu sering dan selalu gagal ato karena putus asa.

But you know what's the best part of this book in my opinion?
It's because Silverstein used an open ending. He didn't write what the circle were thinking. He only drew what the circle did (letting go the piece and back to chasing butterfly). He let the readers interprete its gesture. He let us decide whether the circle really gave the piece up or it just put the piece there for a while and later gonna take it back.
Me, in my opinion, I choose to believe that the circle didn't give up his dream. It only paused it for a while to have fun. :)

Such an inspiring book. I give it 4,5 stars. Why 4,5 instead of 5 stars?
Because it's hard for kids to understand it.

Btw sayangnya saya gak nemu downloadan buku ini (padahal dulu ada lho, saya sempat punya versi downloadnya di laptop lama).
Tapi saya nemu link youtube-nya. Dan disitu pun udah lengkap.
Saya benar-benar menyarankan untuk nonton youtube-nya. Apalagi background song-nya itu Kiss The Rain dari Yiruma (pianis favorit saya). Lagu itu pas banget menggambarkan perjalanan si lingkaran.
Mungkin aja anda gak suka bukunya, tapi saya yakin deh anda bakal suka lagunya :)

So...go watch it



Ato kalo mo nonton langsung di youtube, bisa : click here

Monday, August 6, 2012

Mendadak Dangdut

Data Buku:
Judul : Mendadak Dangdut
Penulis : Ninit Yunita
Penerbit : Gagas Media
Tahun Terbit : 2007
ISBN : 9797800407 
Iyaaa....saya emang kurang kerjaan kok ampe baca "novel" ini.
Jadi...masalah buat loe? Hah? Hah?? Hah???
#eaaaa #BaruMulaiUdahNgajakRibut #DikepretLightSaber X)

Sebenernya saya males sih bikin review untuk "novel" ini. Gak tega aja liat ratingnya yang udah tiarap di goodreads. Entahlah gimana rating penjualannnya di luar sana.
Tapi gak tahan juga untuk gak protesss dan berunek-unek ria. So yah...mari kita bikin curhat singkat aja.

Ceritanya tentang Petris (di film diperankan Titi Kamal), penyanyi pop terkenal generasi MTV yang egois dan mengganggap orang lain bego. Dia punya manajer Yulia (dimainkan oleh Kinaryosih), kakaknya sendiri yang kalem dan sabar banget menghadapi keangkuhan adiknya.

Suatu malam, Petris dan Yulia kena razia narkoba di jalan. Di mobil mereka ada Gerry, pacar Yulia yang bawa tas berisi heroin 5kg. Gerry berhasil kabur, dan gantinya kedua cewek kinyis itulah yang ditangkap polisi.

Berhubung takut dihukum mati, kedua cewe itu kabur lewat toilet.
Okay...ceritanya emang absurd. Jadi gak usah mikir kenapa juga polisi bisa sebegitu bego ampe tersangka narkoba bisa kabur lewat toilet. Percayalah, masih banyak yang lebih perlu dipertanyakan ketimbang perkara jendela toilet itu.

Lanjut...
Mereka berdua menemukan tempat sembunyi ideal di sebuah kampung yang ada orkes organ tunggal dangdutnya. Orkes yang dipimpin oleh Rizal something (lupa nama lengkapnya) lagi kebingungan karena penyanyi utama mereka hengkang. Dan dengan jeniusnya, Yulia menyarankan Petris untuk mengisi posisi tersebut, biar mereka bisa ngumpet lamaan. Yang lebih jenius lagi, Petris setuju walo ngedumel.

Dan mulailah petualangan Petris dan Yulia di kampung tersebut. Petualangan yang nantinya mengubah hidup dan sifat keduanya.

Sebenernya bakat kacrut "novel" ini sudah terlihat dari covernya yang norak itu kok.
Apa? Cover itu disesuaikan dengan poster filmnya?
Ya kalo gitu poster filmnya juga norak ;p.
Hah? Karena judulnya ada kata dangdut makanya dibikin kesan norak?

Kalo gitu sih sayang banget ya. Karena lagu semacam Keong Racun, Cinta Satu Malam dan Anggur Merah itu adalah sebuah masterpiece yang kelasnya jauh di atas buku ini. Bahkan lagu dangdut mestinya diangkat sebagai identitas bangsa Indonesia.

Om saya yang asli orang India itu demen banget sama lagu yang syairnya gini : "Maaf dariku bukan untuk kau ulang. Sabar di dada batasnya sudah hilang. Kau bilang sahabatmu hanya teman biasa. Di bawah meja kakimu mena..." *Eh kok jadi keterusan nyanyi sih?*

Ya maap, refleks tiap denger lagu ini rasanya langsung pengen kariyoki (buat loe yang gak gaul, that means karaoke :p).
Dan saking demennya, si Om ini menitahkan saya untuk bikin terjemahan lagu itu dalam bahasa inggris. Kalo perlu dalam bahasa Hindi dan Tamil sekalian :/.

Masih perlu bukti dangdut itu oke?

How about this? Teman saya, Chiaki, yang asli Jepang ngefans banget dengan Rhoma Irama. Oh ya...selera temen saya itu emang hardcore. Gak tanggung-tanggung, Rhoma lho favoritnya! *kagum beneran*

Dan seakan ngefans aja belum cukup, Chiaki ini keukeuh sekali mengumpulkan semua album dan video klip lengkap milik Pak Haji Berbulu Dada Aduhai itu.
Digeretnya saya menyusuri satu persatu lapak penjual mp3 dan vcd/dvd bajakan di Glodok. Dan berhubung dia gak bisa bahasa indonesia, maka saya lah yang ketiban tugas buat nanya : "Koh/Ci, punya albumnya Rhoma Irama? Ato dvd karaokenya mungkin?"

Chiaki sama sekali gak peduli kalo saya tengsin sebenernya nanya kayak gitu. Dia bahkan gak ngerti waktu saya kasi tau bahwa ketahuan beli anything yang menyangkut Rhoma Irama berpotensi besar menghancurkan image saya.

"But why, wi? This guy is a pure genius. All his songs are so beautifull yet sad. Make me wannna hug him. If he's in front of me right now, I'm gonna kneel and worship him."

Sumpah...saya speechless.
Sepanjang umur saya, belum pernah saya dengar ada pemujaan sedemikian tinggi terhadap Rhoma Irama. Heck...saya bahkan belum pernah dengar Beatles dipuja setinggi itu.
Sekaligus malu juga. Dengan keberadaan band sekeren Luna Sea dan L'arc en ciel di negaranya, Chiaki malah memberi pujian setinggi itu kepada Sang Satria Bergitar. Ah betapa saya telah meremehkan sang raja dangdut itu. :')

"And don't you see his face? That's the face of a royal you know. His beard? So great. Even his hairy chest is so artistic. This guy seriously is a God's gift to your country."

Okeh...ampe disitu saya batal terharu.
Saya langsung kepengen seret Chiaki ke psikiater terdekat. Pasti ada baut yang kendor di otak dia.
Ato virus yang setiap hari dipacarinya di laboratorium itu udah merusak otak brilyannya. (Btw Chiaki adalah peneliti bidang Virologi yang dikirim ke Jakarta demi tugas penelitian).

Belum puas di Glodok, Chiaki maksa geret saya ke Jl. Surabaya karena ada penjual di Glodok yang menyarankan ke sana.
Agak heran sih saya. Jl. Surabaya itu kan tempat jual barang antik ya. Emang si Bang Haji udah segitu antiknya ampe layak masuk sana?

Etapi ternyata beneran ada dong!
Entah kesambet apa, ada satu penjual di sana yang jualin cd dan kaset Rhoma Irama. Bahkan ampe ada piringan hitamnya! (Jujur saya baru tahu ada piringan hitamnya Rhoma)
Dan Chiaki begitu bahagia sewaktu melihat koleksi idolanya bertengger manis di rak berdebu. Hampir dipeluknya si abang penjual sambil nangis terharu (emang lebay teman gw satu itu).

Dan melihat tawa Chiaki, saya membatalkan niat untuk berkunjung ke psikiater. Biarlah baut otaknya kendor. Biarlah otaknya mulai atrofi digerogoti virus. Yang penting dia bahagia dan punya impresi bagus tentang Indonesia. Dan semua itu karena dangdut. Bukaaannn....bukan karena Rhoma. Tapi karena dangdut. #InDenialMode

Sejak itu, saya respect banget sama dangdut. Dan berpikir mestinya dangdut dijadikan identitas bangsa. Dikemas dalam tampilan yang lebih artistik dan diubah imagenya supaya gak kampungan, pasti dangdut bisa bersaing dengan jazz untuk diputer di hotel berbintang. *Dan sepertinya saya ketularan lebay deh*.

Jadi buat saya sih, sayang banget ya kalo ada novelist ato filmmaker yang terjebak dalam stereotipe lama dan malah turut men-downgrade musik dangdut. Padahal mereka lah yang mampu menjangkau khayalak ramai dan mengubah paham kadaluwarsa itu.

Sungguh, saya prihatin.

Photobucket

*misuh misuh*
Lho?
Kenapa ya orang ini yang nongol? Mestinya kan Pak Presiden. Tapi yaaa...saya turut prihatin sih ngeliat rambutnya disitu.

Okeh Lanjut...
Sebaiknya saya gak berpanjang-panjang bahas cover (segini gak panjang, wi?) karena seorang penulis pernah bilang kalo mo review itu bahas hal teknis, jangan non teknis semacam cover.

Jadi mari kita bahas isi cerita...

Point kacrut nomor 2 adalah saat Yulia dan Petris memutuskan kabur dari polisi.
Ide untuk kabur dari polisi mungkin saja dimiliki semua orang yang tertangkap. Tapi hanya tawanan perang, tahanan politik atau penjahat profesional lah yang berani mengeksekusi rencana tersebut. Pastinya bukan cewek kinyis nan unyu macam Petris dan Yulia. Emangnya dipikir Polri belum belajar teknik ngejar buronan?

Kalo saya dan jutaan orang normal lain yang terjebak dalam situasi itu (amit-amit sih), saya lebih milih menghubungi pengacara sekaliber Elsa Syarief ato Hotman Paris. Kalo mereka bisa bikin Tommy kena hukuman ringan dan Cut Tari aman dari penjara padahal videp bokepnya beredar luas, maka semestinya saya yang "cuma" kebetulan ditemukan bersama heroin 5kg bisa dengan gampang dibebaskan.

Poin ketiga yang membuat cerita ini makin kacrut adalah ide jenius untuk bersembunyi dari kejaran polisi dengan cara...jadi penyanyi dangut! Yang bakal tampil depan puluhan bahkan ratusan penonton! :S
Dia mungkin mau nerapin strategi art of war-nya Tsun Zu ya. Strategi yang bilang : "tempat berbahaya adalah tempat paling aman."
Jadi kalo kapan-kapan Anda perlu menghindari sorotan polisi, cobalah muncul di bawah spotlight panggung yang lain. (Nyambungnya dimana? Mbuh...saya juga bingung :p)
Kenapa gak sekalian aja si Petris itu disuruh muncul jadi peserta di KDI? Ato jadi peserta Masterchef Indo gitu. Sama aja kan? Dua-duanya jauh banget dari genre MTV Pop.

Poin kacrut berikutnya adalah pemikiran bahwa masyarakat penggemar dangdut gak mengenali wajah salah satu artis ngetop.
Oke...di halaman 44, tokoh Yulia memang sudah memberi argumen dengan bilang : “Nggak semua orang di Indonesia nonton MTV”.

Dan itu emang benar.
Tapi hampir semua orang Indonesia nonton infotainment (yang frekuensi penayangan per harinya bahkan melebihi jumlah sholat wajib) atau baca tabloid gosip (Nova kek, Bintang kek, Lampu Merah kek, Enny Arrow kek...eh salah. Ya pokoknya itu lah. Koran - koran kuning itu).

Dan jadinya aneh aja kalo gak ada satu pun warga yang bisa mengenali seorang penyanyi ngetop ada di antara mereka. Saya yakin banget, di dunia nyata kalo Luna Maya ato Sophia Latjuba diceburin diantara fans dangdut, mereka pasti masih ngeh juga dengan keberadaan makhluk langka itu.

Fakta bahwa Petris bisa aman ngumpet selama berminggu-minggui menunjukkan bahwa kampung itu miskin dari tayangan infotainment dan juga tabloid gosip. Bahkan tabloid pun mungkin cuma dicetak terbatas ya. Soalnya setelah Petris borong semua tabloid di sebuah lapak, persembunyiannya aman sentosa.

Heu? Ini settingnya dimana sih? Mestinya masih di kampung yang dekat sama Jakarta kan? Yang pastinya ada banyak penjual tabloid?
Miris bacanya.
Miris pada logika penulisnya yang kok ya segitu ngesotnya gitu lhooooo...

Ide cerita sih sebenernya bagus. Tentang seorang yang bertransformasi jadi dewasa setelah keluar dari zona nyamannya. Juga tentang 2 saudara yang kembali menemukan arti sebenarnya dari kata "saudara". Sayang, set up yang dibangun terlalu absurd dan kacrut sehingga pesan moralnya terabaikan.

Kenapa gak bikin set up yang lain?
Misalnya Yulia taruhan kalo Petris gak bakal kuat hidup susah dan demi membuktikan itu salah, Petris nekat pergi ke tempat terpencil di ujung Indonesia sana, yang gak ada listrik apalagi tabloid gosip.

Ato bisa juga, pesawat yang ditumpangi Petris & Yulia jatuh dan mereka terdampar di sebuah pulau asing yang hobi penduduknya adalah dengerin dangdut. Dan demi bisa diterima di komunitas itu, Petris kudu rela jadi penyanyi dangdut.
Ide di atas absurd? Basi? Emang iya. Tapi seenggaknya lebih bisa dipercaya sih.

Ini perjumpaan kedua saya dengan buku kacrutnya Ninit, yang mana keduanya adalah adaptasi skenario.
Waktu di Heart sih saya masih berusaha cari pembelaan dengan bilang ide cerita yang kendor bukan salah dia karena cuma adaptasi dari skenario. Di sini saya udah kehabisan ide mo bilang apa.

Well saya sih masih berpikiran bukan salah Ninit kalo ceritanya kacrut. Ide ceritanya emang udah kendor, bahkan lebih kendor dari kolornya Donal Bebek.
(Percayalah, Donal Bebek itu awalnya pake kolor. Tapi karena kendor banget, jadi lebih sering keliatan gak pake) *sengaja banget dijelasin* =)

Kesalahan Ninit tetap karena dia khilaf nerima job ini.
Dan balik lagi ke pertanyaan saya di review sebelumnya : "Kenapa sih Ninit mau nerima job adaptasi film ke buku kayak gini?"

Saya baca di sini sih karena Ninit merasa tertantang.  Buat dia, menulis "novel" adaptasi memiliki tingkat kesulitan dan keasyikan sendiri yang berbeda dengan menuliskan karya asli.
Yaaa kalo emang gitu, pilih dong naskah yang lebih berbobot. Soegija ato Lewat Djam Malam misalnya. Jangan yang kancut begini!

Baidewei...nyadar gak kalo saya ngasi tanda kutip tiap mengacu ke "novel" ini?
Yap...itu karena saya gak rela mengakui "novel" ini sebagai novel. Buku ini gak bisa dibilang novel. Ini hanyalah usaha sekelompok orang tertentu yang berusaha mengeruk duit dengan menginjak logika berpikir masyarakat Indonesia. (aih syedap pisan bahasa eyke).
Orang-orang yang melupakan tujuan dibentuknya negara ini yang telah dimaktubkan para founding fathers kita dalam pembukaan UUD '45 yang salah satunya adalah "mencerdaskan kehidupan bangsa". (Euh...makin lebay deh saya O_o)

Yah mungkin bisa saja "novel" ini dianggap sebagai novel. Tapi itu artinya, saya kudu mengakui upil itu makanan. Bisa aja toh dimakan? Kalo dimakan sekwintal, mungkin malah bikin kenyang.
But the question is, how desperate are we to eat that kind of thing?
How desperate are we to accept this kind of "novel" as a novel?
Don't we have something more decent to eat?
Don't we have a better work to be called as novel?
And...
How desperate am I actually to make this review? #lah
(Udeh...gak usah dijawab yang terakhir. Itu pertanyaan retoris). #LahSiapeJugaNyangMauJawabWoi

Udahan ah curhat pendeknya. (pendek versi jepang, wi?)
Saya mo balik ke PR dari Om tercinta dulu yaitu nerjemahin lagu Vetty Vera yang berjudul 5 Menit Lagi dalam bahasa Inggris, Hindi dan Tamil kalo bisa.

Salam Dangdut!

"5 Menit lagiii...ah...ah...ah...
5 menit lagiiii....
Dia mau datang menjemputkuuuu...."



PS : Oiya...kenapa ya Si Om gak pernah nyuruh saya nerjemahin sontrek film ini ke dalam bahasa inggris?
Pan enak...eyke bisa cela dia secara halus.
"Miss, come dangdutan with abang yuk."
"Ih...sonofabitch you."
Aih kerennyaaaa...
Ada yang mo bantu nyetanin lagu ini ke Om saya? Makasi lho sebelumnya.