Showing posts with label Classic. Show all posts
Showing posts with label Classic. Show all posts

Thursday, November 29, 2012

Macbeth

MacbethMacbeth by William Shakespeare

My rating: 5 of 5 stars


WARNING : Review ini mengandung slight spoiler. Tapi menurut saya, classic seperti ini, apalagi punya Shakespeare, sudah bukan rahasia lagi endingnya gimana

Di antara petir dan kilat yang bersambaran, 3 penyihir membuat janji untuk bertemu lagi dan kali ini mereka akan bertemu dengan Macbeth.

Di tempat lain, seorang prajurit yang terluka melaporkan kepada Raja Duncan dari Scotlandia bahwa sang Jenderal Macbeth - Thane of Glamis- dan Banquo baru saja mengalahkan pasukan Norwegia & Irlandia yang dipimpin oleh pengkhianat Macdonwald.

Pada scene berikutnya, Macbeth dan Banquo (rekannya) sedang berjalan sambil mendiskusikan kemenangan mereka di medan perang. Dan muncullah 3 penyihir yang berniat meramal mereka. Untuk Macbeth, ramalannya adalah dia akan menjadi Thane of Cawdor dan kemudian jadi Raja. Sementara Banquo diramalkan bahwa keturunannya akan menjadi raja meskipun dia sendiri tidak.

Di saat Macbeth dan Banquo merenungkan ramalan ini, ketiga penyihir itu menghilang dan datanglah Thane lain (Ross) yang mengabarkan bahwa Macbeth diberi gelar Thane of Cawdor, menggantikan Thane sebelumnya yang dihukum karena berkhianat. Dan dengan itu 1 ramalan telah terpenuhi.

Macbeth lalu menceritakan ramalan tiga peyihir pada istrinya. Lady Macbeth yang ambisius itu "memaksa" suaminya untuk membunuh Raja Duncan.
Dan bujukannya berhasil!
Macbeth & Lady Macbeth membuat mabuk penjaga Raja, kemudian menusuk Raja hingga mati.

Macbeth yang terpukul sehabis membunuh Raja merasa tidak sanggup meneruskan rencana. Lady Macbeth pun mengambil alih dan meletakkan belati berdarah tersebut ke tangan si penjaga yang tertidur karena mabuk.

Esok paginya, Lennox (seorang bangsawan) dan Macduff, Thane of Fife, tiba di istana. Macbeth mengantar mereka untuk menemui raja dan menemukan tubuhnya terbujur kaku. Berpura-pura marah, Macbeth lalu membunuh penjaga dan menuduhnya sebagai pembunuh raja.

Kedua putra raja, Malcolm dan Donalbain, melarikan diri ke Inggris dan Irlandia. Mereka takut pembunuh Raja akan mengincar nyawa mereka juga. Kosongnya tampuk kekuasaan membuat Macbeth meng-claim posisi Raja (gelar Thane of Cawdor milik Macbeth memang gelar bangsawan tertinggi). Dan dengan itu, ramalan kedua pun tergenapi.

Banquo yang melihat ini sadar kebenaran ramalan tersebut. Dia pun ingat bahwa keturunannya lah yang akan mewarisi tahta. Macbeth juga tak lupa akan ramalan tentang Banquo tersebut. Maka Macbeth pun menyusun rencana untuk membunuh Banquo dan putranya, Fleance, yang berencana melarikan diri ke negara lain.

Banquo memang terbunuh, namun Fleance selamat. Hal ini membuat Macbeth makin cemas. Maka dia pun mengunjungi ketiga penyihir untuk diramal lagi. Ketiga penyihir memanggil "penampakan" yang kemudian memberikan ramalannya :

- Penampakan 1 : Macbeth! Macbeth! Macbeth! beware Macduff; Beware the thane of Fife
- Penampakan 2 : Be bloody, bold, and resolute; laugh to scorn The power of man, for none of woman born Shall harm Macbeth.
- Penampakan 3 : Macbeth shall never vanquish'd be until Great Birnam wood to high Dunsinane hill Shall come against him.

Macbeth juga bertanya tentang keturunan Banquo dan para penyihir itu menunjukkan serangkaian image wajah para raja yang mirip Banquo. Macbeth pun sadar bahwa keturunan Banquo memang akan menjadi raja, namun bukan di Scotlandia.

Macbeth pun menjadi tenang. Soalnya pria mana sih yang tidak dilahirkan oleh wanita? ? Dan bagaimana mungkin Hutan Great Birnam bisa bergerak? Ini kan bukan dunia Lord Of The Rings.
Satu-satunya yang perlu dia lakukan hanyalah memusnahkan Macduff dan keturunannya (which he did). Yah kecuali untuk Macduff yang saat itu sedang berada di Inggris.

Dan Macbeth pun melanjutkan tiraninya di Scotlandia sementara Lady Macbeth justru terkena depresi hebat dan merasa bersalah atas dosa-dosanya.

Lalu...bagaimana nasib Macbeth? Akankah ramalan para penyihir menjadi kenyataan walau pun ramalan itu terdengar mustahil bisa terwujud?
You have to find out by yourself :)

Saya senang memilih Macbeth sebagai plays pertama yang saya baca dalam rangkaian event "Let's Read Plays"-nya Mbak Fanda.
Kenapa?
Karena saya langsung mendapat kisah yang begitu seru dan bikin penasaran.

Sepanjang membaca, saya penasaran dengan ramalan ketiga penyihir tersebut. Saya penasaran mengetahui bagaimana Shakespeare bisa menciptakan "pria-yang-tidak-dilahirkan-dari-wanita" dan memindahkan sebuah hutan ke Dunsinane Hill?
Ato kalo Shakespeare tidak melakukan itu, bagaimana penyelesaian yang dilakukannya? Asli...saya penasaran banget.
Dan untunglah, Shakespeare memberi penyelesaian yang memuaskan bagi saya. Memuaskan dan gak ketebak :).

Menyorot karakter, ada 2 karakter yang menarik perhatian saya.

Yang pertama tentu saja Lady Macbeth. Wanita pada jaman itu adalah sosok yang penurut pada suami. Tapi Lady Macbeth justru sebaliknya. Ambisi besar dan "tantangannya" pada Macbeth lah (dengan menantang harga diri suaminya sebagai pria) yang membuat Macbeth terdorong untuk membunuh Raja.

Lady Macbeth bahkan cukup tegar untuk melanjutkan pembunuhan di saat Macbeth tak sanggup. Namun anehnya, Lady Macbeth juga lah yang pertama merasa depresi dan bersalah atas semua kejahatan yang dilakukannya. Rasa bersalahnya begitu besar hingga menyeretnya dalam kegilaan dan mengakhiri hidupnya.
Karakter Lady Macbeth yang kontradiktif ini salah satu yang membuat saya tertarik membaca terus.

Karakter kedua adalah tiga penyihir. Yang bikin saya tertarik sama karakter ini sih karena gak pernah ada penjelasan latar belakang dan tujuan mereka. Rasanya saya melihat lirik lagu Letto yang "Kau datang dan pergi oh begitu saja" diinterpretasikan dengan baik oleh mereka.

Dan ramalan tiga penyihir ini bikin saya jadi bertanya :
- Apakah mereka menceritakan masa depan? Ato mereka lah penentu masa depan?
- Apakah sudah takdir Macbeth akan membunuh Duncan atau Macbeth membunuh Duncan justru karena mendengar ramalan tersebut?
- Dan apakah tiga penyihir memang hanya karakter tambahan ato justru merekalah mastermind kisah Macbeth?

Such interesting questions for me,but there's no way to find the exact answer.



Wednesday, October 31, 2012

The Late Mattia Pascal

Data Buku
Judul Asli : Il Fu Mattia Pascal
Penulis : Luigi Pirandello
Publisher : New York Review Books
Tahun Terbit : 2004 (First Published 1904)
Bahasa : Inggris
Rating : 4 stars out of 5
"Because we can’t understand life, if we don’t explain death in some way. The motive, the direction of our actions, the thread to lead us out of the maze, dear Signor Meis, the light must come from beyond, from death." (Page 122)

Seandainya kamu diberi kesempatan kedua untuk menjalani hidup dari awal, akankah kamu bersedia?
Tidak?
Well...gimana kalo gini : Seandainya kamu terikat dalam pernikahan tanpa cinta, punya mertua yang rese, dan berada dalam kondisi nyaris bangkrut. Lalu saat pulang dari bermain judi di Monte Carlo, kamu liat pengumuman di koran telah ditemukan sebuah jenazah yang dikira adalah dirimu. Di kantongmu penuh uang hasil kemenangan judi.
Tidakkah kamu berpikir untuk kabur aja dengan uang di tangan? Pergi ke tempat yang jauh dan membangun hidup yang baru?
Saya sih mungkin kepikiran gitu. Nggak tahu juga sih, secara saya belum pernah mengalami kondisi di atas, tapi running away memang tampak pilihan yang lebih mudah sih.

Yang pasti, itulah yang dilakukan Mattia Pascal. Sewaktu mengetahui kalo dia sudah dianggap meninggal, Mattia malah kegirangan dan merasa (akhirnya) dia mendapat kebebasan. Setelah membuat identitas palsu, dengan serunya dia berkeliling Eropa, lalu memutuskan menetap di Roma. Di sana dia berkenalan dengan banyak orang baru dan bahkan jatuh cinta lagi. Mattia begitu cinta pada gadis barunya sampai dia berpikir untuk membeli rumah di Roma dan mulai menetap.

Masalahnya, dia adalah pria dengan identitas palsu. Dia gak punya surat resmi yang dibutuhkan untuk membeli rumah. Dia bahkan gak bisa membuka tabungan di bank, apalagi membuka bisnis yang bisa dibanggakan kepada keluarga kekasihnya. Dan segera Mattia menyadari kalo kebebasan yang selama ini didapatnya hanyalah kebebasan semu.

Lalu apa yang sebaiknya Mattia lakukan? Bertahankah? Atau memalsukan kematian (lagi) dan mulai hidup baru (lagi)? Atau malah kembali ke kehidupan lama?
Kalo dia memalsukan kematian lagi, kapan masalahnya selesai?
Kalo dia mau kembali ke kehidupan lama, emangnya segampang itu buat balik? Keluarganya sudah move on dengan kepergian dia. He can't just pick where he left off. So...what to do now?

Saya sudah membaca beberapa karya Pirandello dan sepertinya topik tentang eksistensi diri adalah topik favorit beliau.
Di novelnya ini, Pirandello gak menegaskan pilihan mana yang sebaiknya diambil. Dia hanya menunjukkan konsekuensi setiap pilihan tersebut dan membiarkan pembaca yang menilai apakah pilihan tersebut tepat.

Mengenai novel ini, walopun tokoh Mattia Pascal itu sebenarnya ngeselin dan terkesan tidak bertanggung jawab, tapi saya bisa bersimpati sama dia. As I said, can't blame him for the decision. Sometimes in the past (reeeeeeeaaaallllllyyyyy really sometimes), I wish to move to another galaxy and start everything from the scratch.
Jelas saya gak bisa melakukan itu. Yang bisa saya lakukan hanyalah menyelesaikan ato berkompromi dengan apapun kondisi saat ini. Tapi toh saya gak bisa menghilangkan pertanyaan macam "apa-jadinya-kalo-gw-bisa-pindah-planet-lain-ya".
Melalui Mattia, Pirandello menjawab pertanyaan saya. Pirandello melihat konsekuensi dari berganti identitas yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Dan sejak membaca buku ini, saya  menghapus keinginan konyol itu. I prefer to stay in this kind of life. Untuk satu alasan ini aja, saya sudah merasa suka sama Mattia Pascal. Belum lagi ditambah dengan dark humour dan sinisme Mattia Pascal yang diselipkan Pirandello di berbagai bagian buku ini.
The country air would certainly do my wife good. Perhaps some of the trees would lose their leaves at the sight of her, and the birds will fall silent; I only hope that the spring doesn’t go dry. (page 70)
Pirandello juga mengungkit soal absolute freedom di buku ini. 
Seperti yang kita tahu, sudah lama ada perdebatan apakah absolute freedom itu benaran ada ato nggak. Bahkan definisi absolute freedom pun masih diperdebatkan. 
Beberapa beranggapan bahwa absolute freedom itu sama dengan fundamental freedom yang ada di pidato Presiden Roosevelt, yaitu "freedom from fear, freedom from want, freedom of speech, dan freedom to worship". 

Beberapa berpegang pada pendapat yang sangat populer tentang absolute freedom yang ini: "the ability or freedom to make a choice and act on it completely detached from the input, control or otherwise influence of external forces such as society, people etc".
 Tentu saja kalo anda beranggapan absolute freedom adalah seperti definisi di atas, then it is unattainable.

 Mereka yang romantis dan optimis mengamini pendapat Stephen Covey yang ini mengenai absolute freedom : “Our ultimate freedom is the right and power to decide how anybody or anything outside ourselves will affect us.” 

Saya tidak akan memulai diskusi mengenai absolute freedom di sini, pun memaparkan pendapat saya tentang itu. But for sure, The Late of Mattia Pascal is Luigi Pirandello's opinion to absolute freedom.
What's his opinion?
Ah...that's something you have to find out by yourself :)

"But at a certain point we realize that all life is stupidity; so tell me yourself what it means never to have done anything foolish. At the very least it means you have never lived."
(page 105) 
Biografi Singkat Penulis:



 

Luigi Pirandello (1867-1936) lahir di Girgenti, Sicilia. Dari tahun 1897 sampai 1922, dia bekerja sebagai professor aesthetics & stylistics di Real Istituto di Magistere Femminile, Roma. Dibandingkan novel-novelnya, Pirandello lebih terkenal karena skrip theater (plays) yang ditulisnya.

The Late Mattia Pascal bukanlah novel pertamanya. Tapi novel itulah yang membuka gerbang kesuksesannya. Novel ini ditulis dalam masa tersulit hidup Pirandello, ketika ayahnya bangkrut dan menghabiskan seluruh dana simpanan Pirandello (termasuk mas kawin milik istrinya). Kondisi ini menyebabkan sang istri terkena depresi berat dan mengharuskan Pirandello kerja double job demi menutupi hutang.
Sambil menjaga sang istri di malam hari, Pirandello mulai menulis novel The Late Mattia Pascal yang mengandung beberapa unsur kisah hidupnya. Banyak yang berpendapat bahwa novel ini mengandung elemen autobiografi yang telah dimodifikasi secara fantastis. Di novel ini jugalah pertama kalinya Pirandello membahas tentang identitas dan eksistensi seseorang.

Tema seperti ini juga muncul dalam Vestire gli ignudi (1923) [To Clothe the Naked] yang bercerita tentang seorang wanita yang berusaha mendapat tempat di masyarakat dengan menciptakan berbagai identitas palsu dengan status sosial yang tinggi serta apa yang terjadi ketika kebohongannya terbongkar.
Lalu di Enrico IV (1922) [Henry IV] tentang seorang pria yang kehilangan ingatan dan berpikir dia adalah si Raja Henry IV yang terkenal itu, dan pada akhirnya membuat sang tokoh bingung apakah dia karakter fiksi atau nyata.
 Dan jangan lupakan salah satu karya fenomenal Pirandello : Sei personaggi in cerca d'autore (1921) [Six Characters in Search of An Author] yang dipuji sekaligus dikritik tajam ketika pertama kali dipentaskan. Berkisah tentang 6 karakter dari sebuah cerita yang hidup dan datang mengganggu  sebuah pementasan. Keenam karakter ini ngotot mencari penulis kisah mereka karena mereka berpikir bahwa kisah mereka seharusnya belum tamat. Penonton berpikir kisah ini terlalu absurd dan membingungkan ketika pertama dipentaskan hingga terjadi kerusuhan dari penonton yang tak puas kala itu (putri Pirandello sampai harus melarikan diri lewat pintu darurat supaya gak diserang). Tapi toh, kisah ini juga menuai sukses di tahun-tahun berikutnya dan diakui sebagai bukti kejeniusan Pirandello.

 Tahun 1934, Pirandello mendapatkan Nobel Prize di bidang Literature dengan alasan : "bold and brilliant renovation of the drama and the stage".




Saturday, September 1, 2012

Kitchen

Judul asli :  キッチン Kicchin
Penulis : Banana Yoshimoto
Tahun Terbit : 2009
ISBN13 : 9789799101730
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Rating : 4 out of 5 stars


Kitchen bercerita dari sudut pandang Mikage yang baru saja kehilangan neneknya.

"Aku tak bisa tidur di tempat lain selain dapur."

Mikage Sakurai sebatang kara sejak neneknya meningal. dapur menjadi satu-satunya tempat dimana ia dikelilingi panci bekas pakai dan sisa ceceran sayur, serta ditemani sepetak langit malam berbintang di jendela.
Namun dapur keluarga Tanabe yang membuatnya jatuh cinta. Di sana selama satu musim panas ia bergulat dengan acar, udon, soba, dan tempura. Di sana pula ia temukan apa yang tak pernah dimilikinya: keluarga, bersama Yuichi Tanabe yang dingin dan Eriko Tanabe yang mempesona--perempuan transeksual yang sejatinya ayah kandung Yuichi.
Ketika Eriko meninggal, Mikage dan Yuichi menjauh dan saling terasing dalam kesedihan. Apa yang harus mereka lakukan untuk bangkit dari dukacita dan menyadari ada cinta di antara mereka?

"Sejujurnya aku ingin sekali berhenti berjalan, berhenti melanjutkan hidup. Walaupun esok, lusa, dan minggu depan pasti akan datang, tak pernah kukira hidup ini ternyata begitu berat."
-Mikage Sakurai-

Kekuatan Kitchen menurut saya terletak di karakter tokoh-tokohnya yang bisa menarik simpati.
Mikage adalah sosok yang selalu berusaha optimis walau sebenarnya dia melewati waktu yang sulit. Mikage berusaha mengatasi kehilangannya dengan memfokuskan diri pada hal kecil sementara berusaha mencari jawaban atas unanswered questions-nya. Pertanyaan seperti "Kenapa semua orang yang dekat dengannya meninggal? Bagaimana dia bertahan bila sendirian??.

Yuichi adalah sosok pendiam, yang jarang mengungkapkan perasaannya. Menarik mengikuti perkembangan chemistry Mikage dan Yuichi yang awalnya awkward hingga menjadi dekat. Dan Mikage lah satu-satunya orang yang mengerti perasaan tak terkatakan Yuichi.

Lalu ada Eriko, sosok waria sekaligus satu-satunya sosok orang tua yang dimiliki Yuichi dan Mikage. Buat saya, Eriko lah sosok yang paling menarik. Dia terlihat ceria, tapi mungkin dia-lah yang mempunyai luka terdalam. Karena pasti luka sebesar itu yang membuat seseorang mau berganti identitasnya.

"Untung dan sial adalah hal biasa, tapi mempercayakan diri kepada peruntungan semacam itu adalah sikap manja."
-Mikage Sakurai-

Oya...saya membaca buku ini sebagai bagian dari proyek baca bareng BBI. Temanya adalah '1001 books you have to read before die'. Dan dari 1001 buku itu, saya memilih Kitchen dengan alasan simpel bahwa saya suka judulnya.

Ketika sedang terluka atau sakit hati, tiap orang mempunyai terapi sendiri untuk menyembuhkannya.
Ada orang yang ketika dirundung masalah akan menenggelamkan diri dalan minuman beralkohol. Ada yang memilih menutup diri dari dunia dan menangis. Beberapa memilih pergi travelling. Dan beberapa memilih shopping atau berpesta.

Terapi saya adalah makanan
Saya memilih berpaling kepada makanan yang membuat saya nyaman (my comfort food).
Ketika ayah meninggal 8 tahun yang lalu, saya menenggelamkan diri di dapur, sibuk memasak makanan favorit beliau. Saat saya menyantap makanan favorit itulah, saatnya saya grieving dan mengenang beliau. Melalui cara itu, saya memulihkan diri. Ketika seorang yang sangat saya sayangi pergi tiga tahun lalu, dapur kembali menjadi tempat pelarian saya.

Terkadang, ada beberapa hal yang tak bisa kita kontrol dalam hidup ini. Kita tak bisa mengontrol siapa yang masuk dalam hidup pun tak mampu mencegah mereka meninggalkan kita. Kita juga terkadang harus rela kehilangan jejak dari orang yang kita pedulikan.
Di dapur, hal seperti itu tak akan terjadi. Kita selalu tahu dimana letak panci A, wajan B atau sodet C. Kita juga yang berkuasa menentukan perangkat mana yang menghuni dapur kita dan mana yang sudah bisa dipensiunkan.

"Bagaimanapun, aku ingin terus merasa bahwa suatu saat aku pasti akan mati. Jika tidak demikian, aku tidak merasa hidup. Karena itulah aku menjalani kehidupan seperti ini."
-Mikage Sakurai-

Dalam hidup, kadang kita tak tahu apa yang salah, dimana semua bermula, dan bagaimana memperbaiki masalah tersebut.
Saat memasak, kalo ada rasa masakan yang gak beres, kita tahu apa yang salah dan bagaimana memperbaikinya. Tambah garam, kecilkan suhu api, atau buang lagi saja dan masak ulang yang baru X), semuanya terserah kita.

Fakta itulah yang saya suka dari dapur dan kegiatan memasaknya. Karena untuk sesaat itu, saya memegang kontrol penuh dalam hidup saya. Walau hanya diwujudkan dengan keadaan sesimpel memasak.

Ketika pertama tahu bahwa Mikage punya ketertarikan khusus pada dapur, saya kira dia akan memiliki alasan yang kurang lebih sama dengan saya (haisss....GR pisan). Ternyata saya salah. Mikage punya alasannya sendiri.
Apa alasan Mikage?
Well...itu sesuatu yang harus anda ketahui dengan baca sendiri.

"Sekarang aku bisa dengan mudah mengucapkannya; dunia ini ada bukan hanya untukku. Karena itu, rasio pertemuan dengan kejadian-kejadian buruk tetap tidak berubah. Bukan aku yang memutuskan. Jadi, sebaiknya tetaplah bersikap ceria."
-Eriko Tanabe-

Kitchen sebenarnya terdiri dari 2 cerita.
Cerita kedua berjudul Moonlight Shadow yang juga membahas tentang kehilangan and how to cope with that.
Yah menurut saya sih Moonlight Shadow sama bagusnya dengan Kitchen, walau saya masih lebih suka Kitchen karena merasa akrab dengan tokoh Mikage (haiss...personal sekali alasanmu, wi).

Mengenai terjemahannya, uhm...ada banyak sekali kata-kata yang puitis dalam bahasa jepang, yang akan sulit diterjemahkan dalam bahasa inggris atau pun Indonesia. Karena itu bahasa terjemahan di buku ini memang terasa kurang "halus".

Juga ada beberapa 'frasa' yang terlewatkan. Misalnya saja tentang bulan. Di awal cerita, saat Mikage menuju rumah Yuichi untuk tinggal bersama, dia melihat ada bulan baru. Di pertengahan cerita, ada bulan separuh. Dan saat mendekati akhir, Mikage menyadari bahwa bulan sudah hampir penuh.
Perubahan fase bulan ini secara tak langsung menggambarkan perubahan fase Mikage juga.
Tapi dalam versi terjemahan, bagian tentang bulan ini hanya sebagai latar. Sementara versi asli, bagian ini ditulis dengan puitis (eh puitis versi saya sih) sehingga kita sadar bahwa bulan bukan hanya penghias cerita.

"Semakin aku dewasa, akan semakin banyak peristiwa terjadi. Aku akan terjerembab lagi dan lagi. Berkali - kali aku akan menderita, berkali - kali pula aku akan bangkit. Aku tidak akan akan kalah. Aku tidak akan menyerah."
-Mikage Sakurai-

Aduh...susah menjelaskannya. Tapi menurut saya, versi terjemahan bahasa Indonesia ini pun sudah cukup baik. Yoshimoto wrote it in a beautifully sad and sadly beautifull way and I think the translator succeeded to give the same aura. So it should be enough.

Mengenai apakah buku ini layak masuk list 1001 buku yang harus dibaca sebelum meninggal, hmmm...saya gak tahu deh >.< . Maksud saya, iya sih bukunya bagus banget. Favorit saya malah. Tapi apa bener buku ini harus dibaca sebelum meninggal?
Mungkin iya. Supaya kita punya gambaran bagaimana kira-kira menghadapi hidup saat orang terdekat harus 'pergi'. Karena hidup sejatinya adalah serangkaian pertemuan dan perpisahan bukan? :)