Showing posts with label ebook. Show all posts
Showing posts with label ebook. Show all posts

Saturday, February 2, 2013

The Rocker That Holds Me

Data Buku :
Judul : The Rocker That Holds Me
Penulis : Terri Anne Browning
Format : Kindle ebook
Rating : 3,5 out of 5 stars

Emmie dibesarkan di trailer park bersama ibu yang abuser. Sewaktu kecil, kalo dia butuh melarikan diri dari sang ibu (biasanya setiap habis dipukuli), Em akan lari ke trailer milik keluarganya Nik atau Jesse atau Shane dan Drake. Keempat rocker remaja yang berusia 10 tahun lebih tua ini telah menjadi pelindung Em sejak dia berusia 5 tahun.

Ketika Em berumur 16 tahun, ibunya meninggal. Saat itu Nik, Jesse, Shane dan Drake telah membentuk sebuah grup rock sukses bernama Demon's Wings.
Em pun diajak oleh keempat kakak angkatnya untuk ikut serta dalam tur keliling dunia mereka.

Lima tahun telah berlalu. Demon's Wings makin akrab dan femes. Emmie telah menjadi semacam manajer bagi band itu : mempersiapkan semua kebutuhan mereka, mengatur jadwal wawancara bahkan berurusan dengan para one-night-stand yang sering ngarep jadi many-nights-stand (istilah apa sih ini?).Anggota Demon's Wings sudah menganggap Emmie seperti adik mereka dan Emmie menganggap mereka kakak-nya. Kecuali untuk 1 orang.

Yep...ada 1 anggota yang diam-diam dicintai Emmie. Namun dia memilih untuk menyembunyikan perasaannya.
Hingga suatu saat Emmie sakit lumayan berat, yang memaksanya harus ke dokter. Dan sewaktu dokter memberi tahu penyebab sakitnya, Emmie sadar dia gak punya waktu lama untuk terus menyembunyikan perasaannya.

Buku ini tipis banget, cuma 99 halaman (masih bisa disebut novel gak ya?) dan ceritanya pun simpel banget, jadi saya sendiri surprise karena saya bisa suka sama buku ini. Apalagi karena sampe sekarang, mood saya masih untuk bacaan yang angsty.

Tapi saya suka dengan kerapihan jalinan cerita yang dirangkai penulisnya. Konfliknya ringan, tapi gak kacangan. Klimaks pun dibuka pada waktu yang pas.

Sejak baca sinopsisnya, saya sudah penasaran si Emmie sakit apa. Dan sepanjang baca, saya gak bisa yakin 100% sampai saat penulis mengungkapkannya.
Kayak gini pikiran saya sepanjang baca : "Ow...Emmie sakit A nih. Etapi kan cerita ini semestinya berakhir bahagia. Jadi gak mungkin ah. Apa Emmie sakit B? Tapi kok gak ada hint ke arah situ?"
Yep...buku ini memang diceritakan dari sudut pandang Emmie. Jadi si Emmie bebas nentuin mana yang mau dia ceritain, mana yang enggak. I enjoyed it though.

Tapi yang paling saya suka tuh : chemistry-nya.
Chemistry antara Emmie dan member Demon's Wings itu so sweet banget. Keliatan banget kalo mereka benar-benar sayang dan memperlakukan Emmie layaknya adik kandung.
Saya juga suka hubungan persahabatan anggota Demon's Wings  yang berasa akrab.

Namun sisi chemistry ini juga yang "kinda off" for me.
Maksudnya gini, Emmie itu akrab dengan Shane dan Drake, apalagi dengan Jesse. Terlihat jelas hubungan Emmie dengan Jesse lebih akrab dibandingkan hubungan Emmie dengan yang lain. Mereka udah seperti adik-kakak ato malah soulmate. It's undestandable if they fall for each other.

Tapi justru Nik-lah yang jadi love interest-nya Emmie, padahal chemistry mereka sebagai couple tuh kurang berasa. Daripada Nik, saya sih lebih milih Jesse jadi lead male-nya.Tapi yah...itu emang selera saya aja sih.
Masalahnya buku ini emang terlalu singkat untuk si penulis bisa explore lebih dalam chemistry yang lebih believable buat Nik dan Emmie, jadinya berasa kayak diburu-buru.

But overall sih saya sukaaaa.
Berharap banget ada kelanjutan novel ini, yang menceritakan nasib anggota band yang lain. I want more Jesse please.
And oh this book is a nice hello bye the way, Ms. Browning. :)

PS : Thanks buat temen tersayang yang niat beliin ebooknya.You do adore these rockers a lot eh? ;)

Saturday, January 12, 2013

The Unwanted Wife

Data Buku 
Judul : The Unwanted Wife
Penulis : Natasha Anders
Tahun Terbit : September 2012
Bahasa : Inggris
Format : ebook

Kisah bermula di ranjang ketika sepasang suami istri (Sandro dan Theresa) baru selesai bercinta. Si Sandro ini punya kebiasaan mengucapkan "Give me a son, Theresa" setiap kali mereka selesai berhubungan.
Sounds romantic? Sama sekali enggak.
Menurut Theresa, Sandro menganggapnya hanya sebagai mesin pencetak anak dan dia sudah muak. Jadi dia meminta cerai kepada Sandro.

Sandro memang memperlakukan Theresa dengan dingin. Semuanya karena dia dendam pada ayah Theresa. Pernikahannya dengan Theresa terjadi karena sebuah perjanjian bisnis. Ayah Sandro yang sekarat sangat menginginkan sebuah kebun anggur yang dimiliki ayah Theresa. Dan berapa banyak pun Sandro bersedia membayar, ayah Theresa tidak mau melepasnya. Syarat dari ayah Theresa hanya satu : Sandro menikahi Theresa dan memberi seorang putra kepada Theresa. Setelah putra itu lahir, Sandro bebas menceraikan Theresa.
Karena itu, sejak awal menikah fokus Sandro hanyalah sesegera mungkin mendapatkan seorang putra. Dia acuh pada Theresa karena dia berpikir Theresa ikut dalam rencana licik ayahnya.

Belakangan Sandro baru sadar 2 hal :
1. Theresa gak tahu apa-apa tentang perjanjian yang dipaksakan ayahnya
2. Sandro sebenarnya mencintai istrinya
Sayang kesadaran itu datang terlambat karena sekarang Theresa berkeras ingin bercerai dengannya.

Awalnya Sandro masih bisa tenang. Dia tahu perceraian itu gak akan terjadi selama mereka belum punya anak. Hingga Theresa mengabarkan bahwa dia sedang hamil. And suddenly, Sandro knows the feeling of having a ticking time bomb. He has to do eveything to win her back while praying that it's not too late.
“And then when you told me you were pregnant, suddenly it felt like there was a ticking time bomb in the house. I didn’t have all the time in the world to make you love me again; I had only a few short months." -Alessandro-
Saya lagi mood membaca sesuatu yang angsty dan heart broken waktu teman saya merekomendasikan buku ini. Sekali lihat sinopsisnya dan tahu ini Harlequin, saya langsung males bacanya. Saya pikir buku ini gak beda jauh dengan Harlequin lainnya yang dramatis, menye tapi konfliknya cetek. In short, I thought it was a light and fluffy read.
(Hey don't get me wrong. I do love Harlequin. I just wasn't in the mood).
 Dan ternyata saya salah sekaligus bener.
Iya, emang bener buku ini dramatis, menye, tapi sama sekali gak fluffy. Dan gak terlalu ringan pula.
Konfliknya juga ada di perbatasan antara cetek dan enggak #halah.

Maksudnya, yaaa emang sih bisa dianggap cetek karena konflik tuh "cuma" seputar usaha sang suami untuk merebut kembali hati sang istri. Gak ada urusan rebutan warisan apalagi ampe rebutan nyawa dan tahta #SituKiraSinetron?
Tapi sejak kapan sih urusan hati dan perasaan bisa dianggap remeh apalagi cetek? #WhyDoISoundSoContradictive?
Si Bella Swan itu emang keliatan cemen banget waktu nangis ngeringkel kehilangan Edward di New Moon (kenapa jadi nyinggung ini sih?), tapi patah hati adalah suatu hal serius yang harus diperhatikan. Pernah dengar suatu penyakit jantung yang disebut Broken Heart Syndrome kan? Kalo belum, googling deh. Nanti tahu kalo patah hati tuh bisa fatal akibatnya. Dan karenanya kita gak boleh ngeremehin siapa pun yang patah hati. Dan juga karenanya, saya bisa maklum kalo ada orang yang berbuat apa saja demi mencegah hatinya hancur (sebenarnya saya gak setuju sama istilah patah hati itu. Secara teknis, hati gak bisa patah, bisanya hancur #ApaSihWi). Termasuk juga Sandro di buku ini. Sah-sah aja kalo dia mau menghabiskan 216 halaman untuk mendapatkan kembali cinta istrinya. Daripada dia kena Broken Heart Syndrome nantinya. #DoISoundLebay?
Therefore I can't say that the conflict is light  though I can't say it's a heavy one too.

Lalu kenapa rating saya mentok di tiga setengah bintang?

Setengah bintang saya potong karena geregetan sama karakter ceweknya. Yaaa ngerti sih kalo dia sakit hati dan trauma sama kelakuan suaminya. Jadi ketika sang suami bersikap baik dan berusaha memperbaiki kesalahannya, she always second-guesses his actions. But isn't she too much? Awalnya saya suka sama Theresa. Di awal dia berani nentang suami dan bapaknya setelah selama ini ditindas. Wow...a kickass heroine who knows what she wants. Kewl!
Sayang belakangan karakter dia jadi setipe dengan Harlequin sejenis yang plin plan dan bawaannya curigaaaa mulu. Rasa curiga yang bersumber dari rasa tidak-percaya-dirinya. Pfftt...I have enough of this type of character.

Setengah bintang lagi saya potong karena di bagian pertengahan terasa draggy ceritanya. Konfliknya berasa dipanjang-panjangin. Si Theresa kelamaan gantungin perasaan Sandro. Okeh...9 bulan untuk Theresa gantungin Sandro emang belum selama usia pernikahan mereka di mana Sandro PHP-in Theresa, tapi kan setting buku ini gak mulai dari awal pernikahan mereka. Jadi saya gak tahu gimana suasananya dulu dan sulit bersimpati dengan kelakuan Theresa sekarang.

Setengah bintang lagi dipotong deskripsinya yang diulang-ulang mulu. Entah berapa kali saya baca kalo Sandro itu tall, dark, brooding dan Theresa itu red hair, green eyes, bla bla bla.Geezz...we got it already. No need to keep telling us about it.
“Why should I forgive you and love you again? Why should I open up my heart to a man who would probably crush it in the palms of his hands?”
“You probably shouldn’t,” he smiled bitterly. “But I wish you would.”
“I can’t.” 
Reading one more that kind of conversation, make me wanna shout : "Stop this drama, will you?"

Tapi saya harus memberi point yang tinggi pada Sandro. Dia contoh yang cocok untuk karakter a redeemable hero
Ngebaca buku ini di awal, kesan yang ditangkap dari Sandro adalah he's a jerk, an ass. Tapi dia berkembang jadi karakter yang oh-make-my-heart-melt. Penulis jarang mengambil cerita dari sudut pandang Sandro, tapi toh pembaca bisa dapat kesan kalo Sandro beneran serius menyesal dan niat berubah. Satu kalimat ini sudah cukup menggambarkan perubahan karakter Sandro.
"I started praying for a girl because I knew a girl would buy me more time. A girl would keep you with me longer; it would also prove to you, once and for al that your father’s ridiculous contract meant nothing to me anymore. That I wanted our marriage to last forever - Alesandro-
Another point just because this is an angsty read, just like what I'm looking for. Yaa...emang sih gak segitu tear-jerker dan heart-wrenching seperti yang saya mau, gak bisa juga bikin saya sedepresi waktu baca The Fault In Our Stars . Tapi sebagai pembuka, lumayan lah buku ini.

It's a good debut novel, Ms. Natasha Anders. Keep it coming.


PS : Review pertama untuk 2013 Books In English Reading Challenge. Yeaayy

Wednesday, December 19, 2012

Always You

Judul : Always You
Penulis : Kirsty Moseley
Genre : Young Adult
Rating : 1 of 5 stars


Tiap abis kasi 1/2 - 2 star review ke sebuah buku, saya jadi penasaran pengen baca buku lain karya pengarang tersebut. Pengen tahu aja buku berbintang rendah itu apa karena saya beneran gak satu selera dengan pengarangnya ato cuma kebetulan buku itu aja yang saya gak suka.

Begitu juga dengan Kirsty Moseley ini. Buku pertamanya yang saya baca kurang memuaskan, tapi saya bisa melihat ada potensi di sana. Maka dengan semangatnya saya mulailah membaca buku ini, dan ternyata...

Okeh...sebelum saya mulai ngoceh gak jelas, mending saya kasi tau dulu ceritanya kayak gimana. Some spoilers here, so beware.

Riley & Clay sudah bersahabat dari kecil. Clay yang playboy tapi guanteng abis itu sebenarnya naksir Riley dari dulu, tapi si RIley gak nyadar. Semua berubah setelah Riley liburan sebulan dan gak ketemu Clay sama sekali. Saat itu dia mulai merasakan perubahan perasaannya pada Clay.

Awalnya Riley denial dengan perasaannya ini, bahkan waktu mereka udah making out sekali pun. Sampe akhirnya Clay mengakui kalo dia udah cinta Riley dari dulu. Thus dimulailah hubungan mereka.
Apa konfliknya?

Konfliknya ada pada Blake, mantan senior Clay di klub football dulu. Blake & Clay dulunya bersaing di tim football, dan sekarang mereka bersaing memperebutkan hati Riley. Ketika Riley memilih CLay, Blake pun gak rela. Dia berubah jadi stalker bahkan sampe ke titik dia nekat menculik Riley.

Udah segitu aja ah sinopsisnya. Males kasi cerita lebih panjang #eh

Kesan setelah baca buku ini? Hampir sama dengan kesan setelah baca The Boy Who Sneaks in my Bedroom Window, kecuali bagian judulnya itu.

Sama kayak di The Boy Who Sneaks in my Bedroom Window (TBWSimBW), covernya masih keren. Dan kali ini lebih jelas lah maknanya apa.

Tapi sama kayak di TBWSimBW juga, kalimat-kalimatnya terlalu cheesy. Kalo di buku sebelumnya, kata "hot ass" paling sering muncul, dibuku ini 3 kata "i-love-you" lah yang paling mendominasi. Serius, mulai bab 8, 3 kata itu bisa ditemukan minimal 1 di TIAP HALAMAN! Saying i-love-you is nice and sweet, but overdo it and you'll look like a freak.

Kalimat cheesy nan gombal lain gak perlu lah saya tulis di sini. Cukuplah dipahami bahwa kalo di TBWSimBW saya khawatir kena diabetes, di buku ini saya malah mual banget saking udah kebanyakannya disuguhin yang manis tapi garing.

Oh dan jangam lupakan grammar mistakes yang udah ada di buku sebelumnya dan ada juga di sini.
Saya bukan native english (iyaaa...ngakuuu....english saya kacrut abis), tapi bahkan dengan kadar kacrut saya pun saya merasa terganggu dengan grammar mistakes di buku ini.

Ceritanya pun....gak realistis.
Idenya sih lumayan, tentang 2 sahabat yang kemudian saling jatuh cinta. Oh...I know that kind of story very well. Tapi apa Riley dan Clay beneran sahabat? Entahlah. Kadang susah dibedain apa mereka beneran sahabat ato bestfriends with benefit.

Contohnya :
- di buku ini gak perlu lagi sneak through window, karena orang tua Riley dengan pengertiannya mengijinkan Clay nginap di kamar Riley sejak mereka kecil.
Okeh...saya juga punya sahabat cowok dari SD, dan udah gak terhitung berapa kali kami nginap bareng.
Tapi sejak kami kelas 5 SD pun, kami udah gak diizinkan tidur sekamar, apalagi seranjang kecuali mendesak.

- bestfriends tapi hobinya bikin hickey dengan alasan "marking teritorry"? That's weird.

- bestfriend tapi pelukannya sampe rada digendong dan kaki melingkari pinggang cowok? Really weird.

- bestfriend tapi making out to the point of dry hump? Jeez...what's wrong with you two?

- ada adegan Riley, Clay dan teman-teman mereka weekend getaway ke Vegas dan bokapnya Riley dengan santainya kasi US$ 100 dengan pesan dihabiskan di casino. Serius? Ngasi USD 1000 ke anak 17 tahun cuma buat dihabiskan di meja judi? Ditambah Clay dengan kebetulannya memenangkan USD 170.000 di mesin blackjack. Whaaatttt??? Bahkan penjudi senior juga belum tentu seberuntung itu. Beginner's luck? Maybe....but just too much.

- Spoiler nih ya : nanti Riley dan Clay nikah di Vegas. Dan bukannya freaking out besoknya, keduanya malah girang dan berpikir untuk serius membangun rumah tangga. Termasuk ampe nyari apartemen sendiri and bla bla bla. Heu??? 17-18 tahun???
Again...saya tahu itu mungkin.
Tapi...too much.

Masih banyak daftar keanehan yang sulit diterima otak saya yang cetek ini, tapi sudahlah. Lagi gak mood ngoceh panjang (segini gak panjang, wi?)

Sebenernya ada beberapa scene yang "kena" di buku ini, contohnya waktu Riley berusaha meyakinkan Clay bahwa dia menerima Clay apa adanya sekali pun dia lumpuh nanti (ups...spoilerkah ini?). Sayang, bukannya fokus di scene bagus semacam itu, Moseley malah memilih berfokus di adegan making out yang bertaburan di buku ini. Is this some kind of a soft porn?

Ada 1 hal yang bisa saya sukai dari buku ini, yaitu character developmentnya. Riley yang ada di halaman awal dengan Riley di bab terakhir sungguh pribadi yang jauh berbeda. Kedewasaan dan ketangguhannya terasa.
Untuk Clay sih gak terasa perubahan signifikan. Tapi emang sebanyak apa sih karakter yang dari awal diplot manusia sempurna bisa berkembang lagi?

Lalu sekarang, apakah saya tertarik membaca buku Moseley yang lain?
Hmm...gak tahu kalo nanti berubah ya, tapi untuk sekarang sih rasanya cukup 2 ini sajalah.

Tuesday, December 4, 2012

Weird Things Customers Say In Bookstores

Judul : Weird Things Customers Say In Bookstores
Penulis : Jen Campbell
Tahun Terbit : 2012
Bahasa : Inggris
Format : ebook
Rating : 5 of 5 stars

Muahahaha....Finished this in just one sitting, and I had a really good time of laughing my ass off.

One of the perks of having a job that requires you meeting lots of people is you'll realize there's many different people out there. There are hilarious people, weird, funny, funnily weird, nice, etc.

From this book, now I know there is customer...


- that's naive and funny:

CUSTOMER (holding up a Jamie Oliver cookbook) : Would you mind if I photocopied this recipe?
BOOKSELLER : Yes, I would.

- that likes Shakespeare though he/she has no idea who he is :

CUSTOMER: Excuse me, do you have any signed copies of Shakespeare plays?
BOOKSELLER : Er . . . do you mean signed by the people who performed the play?
CUSTOMER : No, I mean signed by William Shakespeare.
BOOKSELLER : . . .

- that truly believe in superstitious :

BOOKSELLER: OK, so with postage that brings your total to £13.05. One second and I’ll get the card machine.
CUSTOMER : No. No, absolutely not. I demand that you charge me £12.99. I wil not pay for anything that starts with thirteen. You’re trying to give me bad luck. Now, change it, or I will go to a bookshop which doesn’t want me to fall down a hole and die. OK?

- that's so into Dark Arts 'till he/she's gonna look for the street that-doesn't-exist

CUSTOMER: Do you have any books on the dark arts?
BOOKSELLER : . . . No.
CUSTOMER : Do you have any idea where I could find some?
BOOKSELLER : Why don’t you try Knockturn Alley?
CUSTOMER : Where’s that?
BOOKSELLER : Oh, the centre of London.
CUSTOMER : Thanks, I’ll keep my eyes peeled for it.

- that wanna try to cook sperm

CUSTOMER : Hi, do you have that sperm cookbook?
BOOKSELLER : No, we don’t.
CUSTOMER : That’s a shame; I really wanted to try it. Have you tried it?
BOOKSELLER : I have not.
(PS : Dear Customer, if you find one later, would you please lend me the book? Just wanna see it)

- that's thinking there's no harm in trying

CUSTOMER : Do you have security cameras in here?
BOOKSELLER : Yes.
CUSTOMER : Oh. (customer slides a book out from inside his jacket and places it back on the shelf)

-that's taking the saying if-there's-no-rattan-roots-can- be-used (is there a saying like this in english?) too far

CUSTOMER : Do you have a copy of Jane Eyre?
BOOKSELLER : Actualy, I just sold that this morning, sorry!
CUSTOMER : Oh. Have you read it?
BOOKSELLER : Yes, it’s one of my favourite books.
CUSTOMER : Oh, great (sits down beside bookseller). Could you tell me all about it? I have to write an essay on it by tomorrow.

- that for some unknown reason wanna read a book typed by monkeys

CUSTOMER : You know how they say that if you gave a thousand monkeys typewriters, then they’d eventually churn out really good writing?
BOOKSELLER : . . . yes.
CUSTOMER : Well, do you have any books by those monkeys?
BOOKSELLER : . . .

- that also an author who just wanna sell his book

MAN : Hi, I’ve just self-published my art book. My friends tell me that I’m set to be the new Van Gogh. How many copies of my book would you like to pre-order?
BOOKSELLER : You know, Van Gogh was never appreciated in his lifetime.
MAN : . . .

- that wishes Robin Hood isn't a thief

CUSTOMER : Do you have any Robin Hood stories where he doesn’t steal from the rich? My husband’s called Robin and I’d like to buy him a copy for his birthday, but he’s a banker, so ...

- that's imaginative

CUSTOMER : Doesn’t it bother you, being surrounded by books all day? I think I’d be paranoid they were all going to jump off the shelves and kill me.
BOOKSELLER : . . .

- that really loves his wife and just wanna give her best birthday present ever

CUSTOMER : Do you have any books signed by Margaret Atwood?
BOOKSELLER : We have many Margaret Atwood books, but I’m afraid we don’t have any signed by Margaret Atwood, no.
CUSTOMER : I’m looking for a birthday present of my wife. I know she’d really love a signed copy. You couldn’t fake a signature could you?

- that love his/her daughter

CUSTOMER : You know that film : Coraline?
BOOKSELLER : Yes, indeed.
CUSTOMER : My daughter loves it. Are they going to make it into a book?

- that's asking what seems like the most-difficult-question ever

CUSTOMER (holding up a copy of Ulysses) : Why is this book so long? Isn’t it supposed to be set in one day only? How can this many pages of things happen to one person in one day? I mean, I get up, have breakfast, go to work, come home... sometimes I might go out for a drink, and that’s it! And, I mean, that doesn’t fill a book, does it?

- that loves a book based on actor who plays the movie adaptation

WOMAN : Hi, where are your copies of Breaking Dawn? I can’t see any on the shelf.
BOOKSELLER : Sorry, I think we’ve sold out of the Twilight books; we’re waiting on more.
WOMAN : What?
BOOKSELLER : We should have some more in tomorrow.
WOMAN : But I need a copy now. I finished the third one last night.
BOOKSELLER : I’m sorry, I can’t help you.
WOMAN : No, you don’t understand, I’ve taken the whole day off work to read it.
BOOKSELLER : Erm . . .
WOMAN : I NEED TO KNOW WHAT HAPPENS! NOW!
BOOKSELLER : Erm . . .
WOMAN : Can you call your wholesaler and see if they can deliver this afternoon?
BOOKSELLER : They only—
WOMAN : And then I can wait here for them.
BOOKSELLER : I’m sorry, they only deliver in the morning.
WOMAN : BUT WHAT AM I SUPPOSED TO DO NOW?
BOOKSELLER : . . . we have many other books.WOMAN (sniffs) : Do any of those have Robert Pattinson in them?

- that's realistic

CUSTOMER : These books are really stupid, aren’t they?
BOOKSELLER : Which ones?
CUSTOMER : You know, the ones where animals like cats and mice are best friends.
BOOKSELLER : I suppose they’re not very realistic, but then that’s fiction.
CUSTOMER : They’re more than unrealistic; they’re really stupid.
BOOKSELLER : Well, writers use that kind of thing to teach kids about accepting people different to themselves, you know?
CUSTOMER : Yeah, well, books shouldn’t pretend that different people get on like that and that everything is ‘la de da’ and wonderful, should they? Kids should learn that life’s a bitch, and the sooner the better.

- that's creative

BOOKSELLER : Can I help at all?
CUSTOMER : Yes, where’s your fiction section?
BOOKSELLER : It starts over on the far wall . Are you looking for anything in particular?
CUSTOMER : Yes, any books by Stefan Browning.
BOOKSELLER : I’m not familiar with him, what kind of books has he written?
CUSTOMER : I don’t know if he’s written any. You see, my name’s Stefan Browning, and I always like to go into bookshops to see if anyone with my name has written a book.
BOOKSELLER : . . . right.
CUSTOMER : Because then I can buy it, you see, and carry it around with me and tell everyone that I’ve had a novel published. Then everyone will think I’m really cool, don’t you think?
BOOKSELLER: . . .

- that's reeeaaallllyyy really creative

CUSTOMER : It’s amazing, isn’t it, how little we really know about writers’ lives? Especially the old ones.
BOOKSELLER : I guess the lives of writers have changed a lot.
CUSTOMER : Yes. And don’t forget about those women who used to write under male names.
BOOKSELLER : Yes, like George Eliot.
CUSTOMER : I always thought Charles Dickens was probably a woman.
BOOKSELLER : . . . I’m pretty sure Charles Dickens was a man.
CUSTOMER : But who’s to say?
BOOKSELLER : Well, he was pretty prominent in society; lots of people saw him.
CUSTOMER : But maybe that was all a show – maybe that was her brother, whilst Charlene was at home, writing.
BOOKSELLER : . . .

- that thinks Bronte has some future prediction about vampire

CUSTOMER : Do you have a copy of Bella Swan’s favourite book? You know, from Twilight?
(Bookseller sighs and pulls a copy of Wuthering Heights off the shelf)
CUSTOMER : Do you have the one with the cover that looks like Twilight?
BOOKSELLER : No. This is an antiquarian bookshop, so this is an old edition of the book.
CUSTOMER : But it’s still the one with that girl Cathy and the dangerous guy, right?
BOOKSELLER : Yes, it’s still the story by Emily Bronte.
CUSTOMER : Right. Do you think they’ll make it into a film?
BOOKSELLER : They’ve made several films of it. The one where Ralph Fiennes plays Heathcliff is very good.
CUSTOMER : What? Voldemort plays Heathcliff?
BOOKSELLER : Well. . .
CUSTOMER : But that’s Edward’s role.
BOOKSELLER : Wuthering Heights was written well before both Harry Potter and Twilight.
CUSTOMER : Yeah, but Voldemort killed Cedric, who’s played by Robert Pattinson, and now Voldemort’s playing Edward’s role in Wuthering Heights, because Edward’s character is Heathcliff. I think that Emily Bronte’s trying to say something about vampires.
BOOKSELLER : . . . that’s £8.
CUSTOMER : For what?
BOOKSELLER : For the book.
CUSTOMER : Oh, no, it’s OK, I’m going to go and try and find the Voldemort DVD version.

Oke...the list could go on and on and on..I could quote them all and put it here just to show you which one I think was funny (all of them are!). In fact, I think I just quoted almost half of the book X)

But...though I laughed hard while I was reading it, I can't help feeling a bit sad too. Neil Gaiman said this on the book cover : "So Funny, So Sad". And yeah, he's right.

I'm sad cause I realize there are many people out there who completely clueless about books.

And for that, I think the world (lebay dikit) has to thank Meyer.
Because of Twilight, many teenagers now curious about Wuthering Heights and some even go the extent of reading it.
Also thanks to Meyers for choosing Rob Pattinson and Taylor Lautner to star in the movie. Many people out there who knew nothing about Twilight Saga at first, fell in love with the actors then proceed to read the whole series.

I know I loathe Twilight Saga so much (especially the last book :D), but I have to give Meyer credit for her influence to the reading world.

So this salute goes to you Meyer and all the authors that manage to get their books made into movie and, in the end, gained more people that become interested with their books and reading world in general. (yep...I'm also talking to you : Rowling, Neil Gaiman, EL James, Suzanne Collins, etc).

And I give credit too for the producers & their crews who made film based on books and cleverly choose actors that succeed in selling the movie and increase the awareness for the books. That means you: the LOTR movie teams, the Harry Potter movie teams, Twilight Saga movie teams, The Narnia movie teams, etc (lupa ah sapa aja. #jyiaahh)

Thank you, guys. Thank you :D


Oh before I ended this rambling, just wanna give you one of my favourite quote from this book, one of the funniest but also the saddest :

CUSTOMER: Which was the first Harry Potter book?
BOOKSELLER: The Philosopher’s Stone.
CUSTOMER: And the second?
BOOKSELLER: The Chamber of Secrets.
CUSTOMER: I’l take The Chamber of Secrets. I don’t want The Philosopher’s Stone.
BOOKSELLER: Have you already read that one?
CUSTOMER: No, but with series of books I always find they take a while to really get going. I don’t want to waste my time with the useless introductory stuff at the beginning.
BOOKSELLER: The story in Harry Potter actually starts right away. Personally, I do recommend that you start with the first book – and it’s very good.
CUSTOMER: Are you working on commission?
BOOKSELLER: No.
CUSTOMER: Right. How many books are there in total?
BOOKSELLER: Seven.
CUSTOMER: Exactly. I’m not going to waste my money on the first book when there are so many others to buy. I’l take the second one.
BOOKSELLER: . . . If you’re sure.
(One week later, the customer returns)
BOOKSELLER: Hi, did you want to buy a copy of The Prisoner of Azkaban?
CUSTOMER: What’s that?
BOOKSELLER: It’s the book after The Chamber of Secrets.
CUSTOMER: Oh, no, definitely not. I found that book far too confusing. I ask you, how on earth are children supposed to understand it if I can’t? I mean, who the heck is that Voldemort guy anyway? No. I’m not going to bother with the rest.
BOOKSELLER: . . .

PS : Euh...baru nyadar, ini repiu kenapa endingnya jadi lebay ya? Padahal niatnya bikin repiu becanda (_ _")

Thursday, November 29, 2012

Macbeth

MacbethMacbeth by William Shakespeare

My rating: 5 of 5 stars


WARNING : Review ini mengandung slight spoiler. Tapi menurut saya, classic seperti ini, apalagi punya Shakespeare, sudah bukan rahasia lagi endingnya gimana

Di antara petir dan kilat yang bersambaran, 3 penyihir membuat janji untuk bertemu lagi dan kali ini mereka akan bertemu dengan Macbeth.

Di tempat lain, seorang prajurit yang terluka melaporkan kepada Raja Duncan dari Scotlandia bahwa sang Jenderal Macbeth - Thane of Glamis- dan Banquo baru saja mengalahkan pasukan Norwegia & Irlandia yang dipimpin oleh pengkhianat Macdonwald.

Pada scene berikutnya, Macbeth dan Banquo (rekannya) sedang berjalan sambil mendiskusikan kemenangan mereka di medan perang. Dan muncullah 3 penyihir yang berniat meramal mereka. Untuk Macbeth, ramalannya adalah dia akan menjadi Thane of Cawdor dan kemudian jadi Raja. Sementara Banquo diramalkan bahwa keturunannya akan menjadi raja meskipun dia sendiri tidak.

Di saat Macbeth dan Banquo merenungkan ramalan ini, ketiga penyihir itu menghilang dan datanglah Thane lain (Ross) yang mengabarkan bahwa Macbeth diberi gelar Thane of Cawdor, menggantikan Thane sebelumnya yang dihukum karena berkhianat. Dan dengan itu 1 ramalan telah terpenuhi.

Macbeth lalu menceritakan ramalan tiga peyihir pada istrinya. Lady Macbeth yang ambisius itu "memaksa" suaminya untuk membunuh Raja Duncan.
Dan bujukannya berhasil!
Macbeth & Lady Macbeth membuat mabuk penjaga Raja, kemudian menusuk Raja hingga mati.

Macbeth yang terpukul sehabis membunuh Raja merasa tidak sanggup meneruskan rencana. Lady Macbeth pun mengambil alih dan meletakkan belati berdarah tersebut ke tangan si penjaga yang tertidur karena mabuk.

Esok paginya, Lennox (seorang bangsawan) dan Macduff, Thane of Fife, tiba di istana. Macbeth mengantar mereka untuk menemui raja dan menemukan tubuhnya terbujur kaku. Berpura-pura marah, Macbeth lalu membunuh penjaga dan menuduhnya sebagai pembunuh raja.

Kedua putra raja, Malcolm dan Donalbain, melarikan diri ke Inggris dan Irlandia. Mereka takut pembunuh Raja akan mengincar nyawa mereka juga. Kosongnya tampuk kekuasaan membuat Macbeth meng-claim posisi Raja (gelar Thane of Cawdor milik Macbeth memang gelar bangsawan tertinggi). Dan dengan itu, ramalan kedua pun tergenapi.

Banquo yang melihat ini sadar kebenaran ramalan tersebut. Dia pun ingat bahwa keturunannya lah yang akan mewarisi tahta. Macbeth juga tak lupa akan ramalan tentang Banquo tersebut. Maka Macbeth pun menyusun rencana untuk membunuh Banquo dan putranya, Fleance, yang berencana melarikan diri ke negara lain.

Banquo memang terbunuh, namun Fleance selamat. Hal ini membuat Macbeth makin cemas. Maka dia pun mengunjungi ketiga penyihir untuk diramal lagi. Ketiga penyihir memanggil "penampakan" yang kemudian memberikan ramalannya :

- Penampakan 1 : Macbeth! Macbeth! Macbeth! beware Macduff; Beware the thane of Fife
- Penampakan 2 : Be bloody, bold, and resolute; laugh to scorn The power of man, for none of woman born Shall harm Macbeth.
- Penampakan 3 : Macbeth shall never vanquish'd be until Great Birnam wood to high Dunsinane hill Shall come against him.

Macbeth juga bertanya tentang keturunan Banquo dan para penyihir itu menunjukkan serangkaian image wajah para raja yang mirip Banquo. Macbeth pun sadar bahwa keturunan Banquo memang akan menjadi raja, namun bukan di Scotlandia.

Macbeth pun menjadi tenang. Soalnya pria mana sih yang tidak dilahirkan oleh wanita? ? Dan bagaimana mungkin Hutan Great Birnam bisa bergerak? Ini kan bukan dunia Lord Of The Rings.
Satu-satunya yang perlu dia lakukan hanyalah memusnahkan Macduff dan keturunannya (which he did). Yah kecuali untuk Macduff yang saat itu sedang berada di Inggris.

Dan Macbeth pun melanjutkan tiraninya di Scotlandia sementara Lady Macbeth justru terkena depresi hebat dan merasa bersalah atas dosa-dosanya.

Lalu...bagaimana nasib Macbeth? Akankah ramalan para penyihir menjadi kenyataan walau pun ramalan itu terdengar mustahil bisa terwujud?
You have to find out by yourself :)

Saya senang memilih Macbeth sebagai plays pertama yang saya baca dalam rangkaian event "Let's Read Plays"-nya Mbak Fanda.
Kenapa?
Karena saya langsung mendapat kisah yang begitu seru dan bikin penasaran.

Sepanjang membaca, saya penasaran dengan ramalan ketiga penyihir tersebut. Saya penasaran mengetahui bagaimana Shakespeare bisa menciptakan "pria-yang-tidak-dilahirkan-dari-wanita" dan memindahkan sebuah hutan ke Dunsinane Hill?
Ato kalo Shakespeare tidak melakukan itu, bagaimana penyelesaian yang dilakukannya? Asli...saya penasaran banget.
Dan untunglah, Shakespeare memberi penyelesaian yang memuaskan bagi saya. Memuaskan dan gak ketebak :).

Menyorot karakter, ada 2 karakter yang menarik perhatian saya.

Yang pertama tentu saja Lady Macbeth. Wanita pada jaman itu adalah sosok yang penurut pada suami. Tapi Lady Macbeth justru sebaliknya. Ambisi besar dan "tantangannya" pada Macbeth lah (dengan menantang harga diri suaminya sebagai pria) yang membuat Macbeth terdorong untuk membunuh Raja.

Lady Macbeth bahkan cukup tegar untuk melanjutkan pembunuhan di saat Macbeth tak sanggup. Namun anehnya, Lady Macbeth juga lah yang pertama merasa depresi dan bersalah atas semua kejahatan yang dilakukannya. Rasa bersalahnya begitu besar hingga menyeretnya dalam kegilaan dan mengakhiri hidupnya.
Karakter Lady Macbeth yang kontradiktif ini salah satu yang membuat saya tertarik membaca terus.

Karakter kedua adalah tiga penyihir. Yang bikin saya tertarik sama karakter ini sih karena gak pernah ada penjelasan latar belakang dan tujuan mereka. Rasanya saya melihat lirik lagu Letto yang "Kau datang dan pergi oh begitu saja" diinterpretasikan dengan baik oleh mereka.

Dan ramalan tiga penyihir ini bikin saya jadi bertanya :
- Apakah mereka menceritakan masa depan? Ato mereka lah penentu masa depan?
- Apakah sudah takdir Macbeth akan membunuh Duncan atau Macbeth membunuh Duncan justru karena mendengar ramalan tersebut?
- Dan apakah tiga penyihir memang hanya karakter tambahan ato justru merekalah mastermind kisah Macbeth?

Such interesting questions for me,but there's no way to find the exact answer.



Thursday, October 18, 2012

The Boy Who Sneaks in my Bedroom Window

Data Buku :

Judul : The Boy Who Sneaks in my Bedroom Window
Penulis : Kirsty Moseley
Published : April 2012
ISBN13 : 2940033206711
Bahasa : Inggris
Format : ebook

Amber dan Jake punya ayah yang abusive. Suatu malam, saat Amber menangis di tempat tidurnya setelah dipukuli sang ayah, datang seorang bocah lelaki yang menenangkan tangisnya dan menemaninya tidur sampai pagi. Bocah itu adalah Liam, tetangga sebelah rumah juga sahabat Jake.
Cerita maju 8 tahun kemudian.
Orang tua Amber telah berpisah setelah si ayah mencoba memperkosa Amber (untunglah bisa digagalkan oleh Jake dan Liam). Kejadian itu meninggalkan trauma pada Amber. Dia tak nyaman dengan sentuhan bahkan dari teman ceweknya sekali pun. Anehnya, trauma ini tak berlaku pada ibu, Jake dan Liam.
Bahkan, selama 8 tahun ini dia selalu tidur bersama Liam (tidur beneran lho). Singkatnya Amber sama Liam jadian.
Dan dimulailah hubungan mereka yang manis itu.
Konflik utama muncul ketika ayah Amber kembali dan ingin mengganggunya lagi.

Saya pengen banget kasih bintang yang lebih tinggi untuk buku ini. Swear, pengen banget. Tapi setiap saya bisa memaafkan satu kekurangannya, maka muncul lagi segebung kekacrutan di buku ini yang bikin saya #tepokjidat.

Ayo kita bahas! (btw ini bakal panjang banget lho, FYI aja sih).

1. Judul
Dimulai dari judulnya yang panjang buanget itu. Okelah...judul panjang sih gak papa. Masih ada buku lain yang judulnya lebih panjang (eh iya kan ya?). Buat saya sih, masalahnya ada di arti judul itu sendiri. Dari judul itu aja, pembaca udah tahu ceritanya bakal tentang apa. (Q: Tentang cowo yang nyusup lewat jendela kan? A: MENURUT NGANA?). Udah saingan sama koran erotis deh dari segi "kejelasan" ceritanya.
Kayak gini contohnya :
Image and video hosting by TinyPic

Ato ini :
Image and video hosting by TinyPic

Got what I mean?

Ini penulis dan editornya kehabisan ide ato emang males nyari judul yang lebih keren? Coba belajar bikin judul sama novel The Fault In Our Stars ato Extremely Loud & Inredibly Close.

2. Cover
Tapi judul aneh termaafkan karena covernya yang cuantek itu. Saya paling suka cover dengan nuansa hujan. Adanya siluet "love" di jendela basah itu semakin menambah suasana sendu dan romantis.
Sayang, saya malah merasa ketipu sama tuh cover. Kirain bakal bersetting di musim hujan gitu. Ini mah boro-boro musim hujan, sekadar gerimis numpang lewat aja gak ada.
Boro-boro gerimis numpang lewat, adegan langit mendung juga gak nongol biar cuma sekali. 
Boro-boro langit mendung, bahkan...oh oke...you get my point already.

3. Gaya penulisan
Gaya penulisan, diksi, ato apapun lah itu namanya, buat saya sih mentaaahh banget. Ya emang gak semua buku kudu pake bahasa puitis nan berbunga-bunga. Saya pun kurang demen sama bahasa puitis kecuali emang ceritanya mendukung. Berhubung ini novel remaja, gaya bahasa casual pun cukuplah. Tapi mbok ya jangan se-"polos" itu juga.
Semua hal dijelaskan dan diceritain sama penulisnya. Apa dia meragukan level intelejensia pembacanya?
Rasanya kayak baca diary curhat anak SMA. Curiga jangan-jangan si penulis minjem diary anak SMA beneran, trus dipoles dikit, kasi karakter yang bikin melting, ending dramatis, trus jadi deh 1 draft novel.

Saya juga gak suka dengan "kekreatifan" penulis dalam memilih kata ato mendeskripsikan sesuatu. Tampaknya bagi Moseley, deskripsi seksi serta cakepnya seseorang itu hanya bisa diliat dari how-hot-her/his-piece of ass-is.
-"Hey, Ambs, did you ride in with hot piece of ass one and two again today?”
_"Apparently, I just want to tap your very fine ass,” he said
Okay, total count of ass-word is 91 in this book. I don't need to quote all of it.

Geez...what's with ass and the author?
Does she has some fetish with ass? Ya gapapa, haknya dia kok itu. Tapi gak usah juga ngajak pembacanya ikut-ikutan sama fetish dia ya.
See...I love hot asses too. Winnie The Pooh's ass is a winner there. Followed closely with Channing Tatum's. But you don't see mee talk about it the whole time.
Oh wait! I just did!
But at least I'm talkin only in this part of the review, not in all the books like Moseley did. *meh! Lame excuse, I know*

Image and video hosting by TinyPic
See how hot his ass?

Image and video hosting by TinyPic
So nice even when he's little *kok jadi creepy ya?*

Okay...moving on.

Kata lain yang ganggu karena sering dipake adalah "purred".
“Hi, Liam,” she purred in her sexy voice.
“I missed you last night,” he purred.
He purred. She purred. They purred. Why...why everyone in this book has to "purred"? Why can't they speak normally?

Lalu Moseley juga gak kreatif dalam hal membuat variasi penggunaan kata "smile".
bHe smiled his flirty smile at me.
He smiled that sexy little smile at me.
Why he has to smile like that all the time? Why can't Moseley write another kind of smile? We know already that Liam James is sexy and flirty. The author need not to tell us again about it on every chance that she got.

4. Ide Cerita

Ide cerita sebenarnya bagus sih. Si Amber-nya dianiaya oleh ayahnya sendiri, hampir diperkosa pula hingga membuat dia gak suka dengan "sentuhan" apalagi kalo "sentuhan"nya bersifat intim. A traumatic heroine, a ruined one. That's good and kinda new. Rata-rata cerita roman (harlequin sih) kan yang "ruined" itu male lead-nya.

Lalu si Amber ini punya guardian angel, yang sabar, cinta mati dan selalu berpendapat Amber adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Wow!
Waktu akhirnya Amber dan Liam jadian, saya berharap lebih pada buku ini. Tampaknya buku ini menjanjikan cerita yang seru karena saya jadi tertarik mengetahui bagaimana Liam bisa "menyembuhkan" trauma Amber.

Sayang, saya kembali kecewa. Karena terapi Liam adalah : "making out". Lots and lots of making out, ampe si Amber jadi terbiasa. Ya gapapa juga sih making out sering-sering. Toh mereka emang masih remaja, di saat horny eh hormon lagi tinggi-tingginya.
Kecewanya sih di bagian "yah-kok-making-out-doang-sih". Kirain bakal ada terapi khusus apa gitu, ke psikolog ato psikiater kek, shock therapy kek, hypnotherapy kek ato apalah.

Trus bagian "menuju puncak"nya juga kok ya gitu amat dan gitu doang ya :|.
Maksud saya, hampir setengah buku dihabiskan dengan baca gimana serunya Liam dan Amber making out, tapi pas adegan puncak (when it's finally happened) kok yah lewat gitu aja. Yaaa...saya juga gak ngarep adegan detail sih (emangnya ini EA?), tapi mbok ya jangan juga adegan puncaknya cuma ditulis dalam 1 kalimat dong ah. Rasanya kayak sebel waktu mangga yang udah dirawat dari masih kecil, tau-tau pas udah matang dan siap petik, eh malah diembat sama tukang bakso langganan (Iyeee...ini curhat. Hiks...manggakuuuuu T_T).

Ato kayak lagi seru-serunya "nujes", tahu-tahu musti interuptus karena ada panggilan darurat dari RS (Hey...it's true story!).
Kenapa saya bisa tahu?
 Coz it happened to one of my "bos".
Ceritanya waktu saya nelpon untuk ngelaporin pasien dan baru bilang : "Selamat malam, dok. Dari IGD RS X. Ada pasien.."
tau-tau langsung dipotong beliau dengan nada keras : "APAAN SIH? COITUS INTERRUPTUS NIH!!!"
Saya : engg...#kemudianhening.
*I really didn't know what to say. What should I say cobaaa? Apa saya harus pura-pura gak dengar? Ato jawab dengan nada kalem : "Oh maaf mengganggu, dok. Sila dilanjut. Nanti saya telpon lagi kalo udah beres ya." Ato nanya sambil cengengesan : "Hehehe...lagi sibuk ya, dok?" Yang manaaaaa??? O_o*
Untung sebelum saya sempat galau, sang "bos" berdeham dan melanjutkan dengan nada berwibawa : "Jadi kenapa tadi pasiennya?"
Yah...menuju puncak yang gagal, indeed.

Lalu plot cerita buku ini juga ketebak banget. Jadi ceritanya ntar tuh bokapnya Amber balik ke kota mereka dan mengancam ketenangan hidup Amber dan Jake lagi, bahkan ampe bikin Liam berurusan sama polisi. Dan Amber pun kepikiran bikin jebakan buat menolong Liam dan mengusir si bokap selamanya. Masalahnya, jebakan yang dia pake itu kacangan dan cemen banget. Saya malah heran, kok si bokap gak curiga acan-acan sih? Ini si bokap yang kelewat polos ato saya yang kebanyakan nonton sinetron kacangan?

Saya juga gak suka sama ending untuk si bokap. They let him free? Iya, saya bisa ngerti klo mereka gak mau terlibat lagi sama si bokap. But can't they at least do something when they're adult, like send him to police? They let a child molester free so that he could molest and even rape another kid someday.


My thought:   



iya, saya tahu kok si bokap dipenjara. Tapi karena kasus yg berbeda. Di US itu, hukuman untuk pelaku child molester/rapist lebih keras daripada hukuman penipuan. Apalagi hukuman dari segi sosial. It can be said that once you're being labeled as a child molester/rapist, then your social life is doomed


5. Karakter

Dan mungkin inilah faktor yang paling bikin eneg sekaligus paling sweet dari buku ini.

Mari kita mulai dari karakter pendukung yaitu rekan-rekan sekolah Liam, Amber dan Jake.
Dikisahkan Liam dan Jake ini popular banget. Semua cewek pengen "get in their pants" dan semua cowok pengen temenan sama kedua orang ini.
Errr....asa gimana gitu ya. Not real.
Tapi okelah soal itunya.
Yang ngenganggu sih betapa horny-nya cewek-cewek SMA itu. Iya, saya emang bilang umur segitu wajar kalo BT (nope..bukan BT yg artinya bad temper itu). Tapi kan gak juga ya setiap cewek di sekolah (kecuali Amber tentunya) sodor-sodorin dadanya ke Liam ato grepe "aset pribadi"nya Jake.
“You need to have a word with your friend, seriously, she just grabbed my dick!”

She wrapped her dirty little arms round my boyfriend’s waist, looking at him with her come to bed eyes.
Itu sekolah apaan sih? Sekolah khusus yang isinya slutty and skank gitu? (Hey...Amber yang bilang cewek-cewek itu skank, bukan saya).

Oke...settingnya emang di US, yang budayanya beda sama Indo. Tapi bahkan di US sekalipun, gak semua siswinya semurah itu kok.

Lalu kita bahas karakter pendamping utama : Jake.
Saya suka sih sama Jake, perannya sebagai kakak yang overprotective ke Amber tuh mengharukan. Dia selalu siap menolong si adik kapan pun, bahkan ampe rela pasang badan demi Amber. He really is the best brother in the (book) world.
Cuma yah belakangan kok peran dia kebanyakan menggeplak kepala temannya yang mulai flirting ke adiknya sambil teriak : "Dude, little sister!".
Naon coba maksudnya sih?
But still, I like him. He made this book bear-able for me. He had one moment of weakness which made me want to pukpuk him that time. Hiks...bahkan ksatria terbaik pun berhak untuk berdarah.

Mengenai 2 karakter utama : Liam James dan Amber Walker.

Oke, Liam itu emang sempurna : ganteng, hot ass (penting banget ini disebut ulang), setia, cerdas, responsible, ah sebut semualah pasti Liam punya.
He did many sweet things too. Lihat bagaimana dia bisa menenangkan Amber dan menghapus mimpi buruknya dengan memeluk Amber sepanjang malam selama 8 tahun. Nice!
Ato gimana dia gak bisa tidur nyenyak kalo gak bareng Amber. Romantic!
Ato waktu dia beneran ngecek ke seluruh penjuru kamar Amber untuk mastiin gak ada zombie di kamar itu. Wow...so caring! (or so stupid, you choose).

Tapi saking sempurnanya jadi kerasa kalo ini fiksi abis. Saya bisa tahan sama Liam di bab awal, tapi setelah jadian dengan Amber, dia berubah jadi cowok yang setiap omongannya selalu bikin melting, tapi juga amat sangat cheesy.
Coba baca kutipan ini :
“Don’t remind me about my former life without you, Angel. I’ll have nightmares,”
===> Aww...bikin klepek klepek deh.
“I’ve been crazy about you since the first time I saw you, Angel. All this time it’s only ever been you.”
===> Liam, you know that is too cheesy, don't you?
“What if I said I didn’t believe in having sex before marriage?” I asked. 
“Then I’d say how about we get married as soon as you’re old enough. Eighteen is the legal age, right?” he replied.

===> Ugh...too much sweet is bad for your health. I don't know about Amber, but I kinda have a tootache here just by reading all your words, Liam dude.
“The first time I saw you I thought you were an Angel straight from heaven. You were so beautiful that you took my breath away. You still do, every day.”
===> Gubraks! Did I just say toothache? No...scratch that. I think it's a diabetes. Chewing all these overloaded sweetness must have some effect to blood glucose. Should have a blood check soon.
“Angel, you couldn’t possibly be any hotter, trust me. That would be illegal,”
===> Forget that blood check! No time for that. Better prepare for an insulin, just in case. Where do I put it?
I didn’t want to leave Amber even before we got together, but I don’t even think I’d survive it now that I finally had her.
===> Okay...Where's that darn insulin?
“She was the only thing I needed. If everything else went away tomorrow, the big house, all the cars, the money, I wouldn't care. As long as I still got to hold her every night, I would still be the luckiest guy in the world.”
===> No use for insulin now. Mana oksigen? Oksigeeennnn!! Sekalian bawain ventilator dan defib deh. Sapa tahu butuh! #yakali

Yeah ladies & gentlemen, here I present you Liam James. He beats Willy Wonka in sweet departments (and we know Wonka has all kind of sweets in the world). But need no worry! I've prepared everything in case you're intoxicated by his sweetness. (Trivia: how many times I used the word sweet?)
Oh...and please allow me to remind you that he's just 18.

Yah sebenarnya sih gak ada yang salah dengan kelakuan Liam. Seandainya si Liam 10-15 tahun lebih tua aja, dengan sikap kayak gitu, dia bisa jadi gentleman sejati. Tapi semua omongan permen itu, sewaktu remaja, rasanya jadi lebay abitch.

Sekarang ayo kita beralih ke Amber.
Sebenarnya saya pengen banget bersimpati lebih banyak ke cewek ini. Masa kecilnya pasti sulit deh. Untunglah Amber gak trauma berkepanjangan. Tapi masalahnya, saya sulit bersimpati sama dia.
Amber tuh annoying dan childish pula.

Lalu katanya dia gak nyaman dengan sentuhan, tapi toh dia bisa betah belajar dance yang pastinya full body touch. Katanya trauma sama hal-hal yang berbau seksual, but she's okay waking up to a guy's boner for 8 years.

Trus si Amber ini bebal ato apa sih? Waktu Liam "nembak", dia yang langsung suudzon gitu. Please deh, ber! Itu si Liam dari awal buku juga udah kasi kode kalo dia suka sama loe. Y U NO GET THE CLUE?

Dan ugh...semua ketakutannya bahwa Liam bakal gak kuat selibat itu annoying. Kalo baca dari curhatnya Amber, kamu bakal mikir si Amber ini niat bikin Liam selibat selama berbulan-bulan bahkan ampe tahunan. Eh ternyata cuma seminggu aja dong.
AIS! (ini versi Indonesianya dari WTF ya).

Tapi yang paling ganggu adalah nggak konsistennya karakter si Amber. Di awal, dia bilang gerah ngeliat kelakuan horde of skanks yang nempel mulu ke Liam dan Jake. Lalu kenapa belakangan dia juga ikutan jadi skank?
I purposefully swayed my ass, trying to look sexy; it must have worked because three boys from my history class whistled at me and made a comment about my sexy booty. I rolled my eyes. Boys!
What? Kurang slutty?
Gimana dengan kelakuan Amber yang masukin duit dengan tangannya (literally) ke dalam celana Liam?
Oke...Liam emang pacarnya. Terserah Amber mo diapain juga, dicemek-cemek ampe semek juga boleh (taela bahasa guweee). Tapi ya nggak perlu dilakukan di tempat umum dan depan siswa satu sekolah dong!
Seriously Liam & Amber, stop all that PDAs. It's corny and cheesy.

Buku ini memang punya beberapa kelebihan yang menyenangkan kala dibaca.
Bahkan hal yang dianggap absurd dan gak real oleh pembaca lain pun masih bisa saya tolerir. Seperti fakta orang yang pacaran dari SMA dan langgeng seterusnya. Banyak kok yang kayak gitu. Om dan tante saya pacaran dari masih SMP malah, awet ampe sekarang.
Juga betapa seriusnya Amber dan Jake dan adegan-adegan lebay mereka. Yaaa namanya juga masih umur segitu. Emang kelakuannya masih lebay dan gombal lah. Waktu yang membuktikan apakah segala kegombalan itu tulus ato nggak.

Sayangnya, semua toleransi yang saya berikan, gak bisa menutup fakta akan segepok kekacrutan yang menyertai.
Dan saya sempat bingung kasi rating.
I'd give Liam James & Jake Walker 4 or 5 stars out of 5.
But this book isn't solely about them. And I rate a book, not them.
Saya gak bisa bilang suka sama buku ini. Jadi 3 bintang jelas gak memadai.
Dua bintang yang artinya it-was-okay menurut standar goodreads? Clearly, I'm not okay with the ending.
Jadi ayo kita berdamai di 1,5 bintang saja, sebagai penghargaan untuk covernya.