Data Buku :
Judul : The Rocker That Holds Me
Penulis : Terri Anne Browning
Format : Kindle ebook
Rating : 3,5 out of 5 stars
Emmie dibesarkan di trailer park bersama ibu yang abuser. Sewaktu kecil, kalo dia butuh melarikan diri dari sang ibu (biasanya setiap habis dipukuli), Em akan lari ke trailer milik keluarganya Nik atau Jesse atau Shane dan Drake. Keempat rocker remaja yang berusia 10 tahun lebih tua ini telah menjadi pelindung Em sejak dia berusia 5 tahun.
Ketika Em berumur 16 tahun, ibunya meninggal. Saat itu Nik, Jesse, Shane dan Drake telah membentuk sebuah grup rock sukses bernama Demon's Wings.
Em pun diajak oleh keempat kakak angkatnya untuk ikut serta dalam tur keliling dunia mereka.
Lima tahun telah berlalu. Demon's Wings makin akrab dan femes. Emmie telah menjadi semacam manajer bagi band itu : mempersiapkan semua kebutuhan mereka, mengatur jadwal wawancara bahkan berurusan dengan para one-night-stand yang sering ngarep jadi many-nights-stand (istilah apa sih ini?).Anggota Demon's Wings sudah menganggap Emmie seperti adik mereka dan Emmie menganggap mereka kakak-nya. Kecuali untuk 1 orang.
Yep...ada 1 anggota yang diam-diam dicintai Emmie. Namun dia memilih untuk menyembunyikan perasaannya.
Hingga suatu saat Emmie sakit lumayan berat, yang memaksanya harus ke dokter. Dan sewaktu dokter memberi tahu penyebab sakitnya, Emmie sadar dia gak punya waktu lama untuk terus menyembunyikan perasaannya.
Buku ini tipis banget, cuma 99 halaman (masih bisa disebut novel gak ya?) dan ceritanya pun simpel banget, jadi saya sendiri surprise karena saya bisa suka sama buku ini. Apalagi karena sampe sekarang, mood saya masih untuk bacaan yang angsty.
Tapi saya suka dengan kerapihan jalinan cerita yang dirangkai penulisnya. Konfliknya ringan, tapi gak kacangan. Klimaks pun dibuka pada waktu yang pas.
Sejak baca sinopsisnya, saya sudah penasaran si Emmie sakit apa. Dan sepanjang baca, saya gak bisa yakin 100% sampai saat penulis mengungkapkannya.
Kayak gini pikiran saya sepanjang baca : "Ow...Emmie sakit A nih. Etapi kan cerita ini semestinya berakhir bahagia. Jadi gak mungkin ah. Apa Emmie sakit B? Tapi kok gak ada hint ke arah situ?"
Yep...buku ini memang diceritakan dari sudut pandang Emmie. Jadi si Emmie bebas nentuin mana yang mau dia ceritain, mana yang enggak. I enjoyed it though.
Tapi yang paling saya suka tuh : chemistry-nya.
Chemistry antara Emmie dan member Demon's Wings itu so sweet banget. Keliatan banget kalo mereka benar-benar sayang dan memperlakukan Emmie layaknya adik kandung.
Saya juga suka hubungan persahabatan anggota Demon's Wings yang berasa akrab.
Namun sisi chemistry ini juga yang "kinda off" for me.
Maksudnya gini, Emmie itu akrab dengan Shane dan Drake, apalagi dengan Jesse. Terlihat jelas hubungan Emmie dengan Jesse lebih akrab dibandingkan hubungan Emmie dengan yang lain. Mereka udah seperti adik-kakak ato malah soulmate. It's undestandable if they fall for each other.
Tapi justru Nik-lah yang jadi love interest-nya Emmie, padahal chemistry mereka sebagai couple tuh kurang berasa. Daripada Nik, saya sih lebih milih Jesse jadi lead male-nya.Tapi yah...itu emang selera saya aja sih.
Masalahnya buku ini emang terlalu singkat untuk si penulis bisa explore lebih dalam chemistry yang lebih believable buat Nik dan Emmie, jadinya berasa kayak diburu-buru.
But overall sih saya sukaaaa.
Berharap banget ada kelanjutan novel ini, yang menceritakan nasib anggota band yang lain. I want more Jesse please.
And oh this book is a nice hello bye the way, Ms. Browning. :)
PS : Thanks buat temen tersayang yang niat beliin ebooknya.You do adore these rockers a lot eh? ;)
Showing posts with label 3 1/2 bintang. Show all posts
Showing posts with label 3 1/2 bintang. Show all posts
Saturday, February 2, 2013
Saturday, January 12, 2013
The Unwanted Wife
Data Buku
Judul : The Unwanted Wife
Penulis : Natasha Anders
Tahun Terbit : September 2012
Bahasa : Inggris
Format : ebook
Kisah bermula di ranjang ketika sepasang suami istri (Sandro dan Theresa) baru selesai bercinta. Si Sandro ini punya kebiasaan mengucapkan "Give me a son, Theresa" setiap kali mereka selesai berhubungan.
Sounds romantic? Sama sekali enggak.
Menurut Theresa, Sandro menganggapnya hanya sebagai mesin pencetak anak dan dia sudah muak. Jadi dia meminta cerai kepada Sandro.
Sandro memang memperlakukan Theresa dengan dingin. Semuanya karena dia dendam pada ayah Theresa. Pernikahannya dengan Theresa terjadi karena sebuah perjanjian bisnis. Ayah Sandro yang sekarat sangat menginginkan sebuah kebun anggur yang dimiliki ayah Theresa. Dan berapa banyak pun Sandro bersedia membayar, ayah Theresa tidak mau melepasnya. Syarat dari ayah Theresa hanya satu : Sandro menikahi Theresa dan memberi seorang putra kepada Theresa. Setelah putra itu lahir, Sandro bebas menceraikan Theresa.
Karena itu, sejak awal menikah fokus Sandro hanyalah sesegera mungkin mendapatkan seorang putra. Dia acuh pada Theresa karena dia berpikir Theresa ikut dalam rencana licik ayahnya.
Belakangan Sandro baru sadar 2 hal :
1. Theresa gak tahu apa-apa tentang perjanjian yang dipaksakan ayahnya
2. Sandro sebenarnya mencintai istrinya
Sayang kesadaran itu datang terlambat karena sekarang Theresa berkeras ingin bercerai dengannya.
Awalnya Sandro masih bisa tenang. Dia tahu perceraian itu gak akan terjadi selama mereka belum punya anak. Hingga Theresa mengabarkan bahwa dia sedang hamil. And suddenly, Sandro knows the feeling of having a ticking time bomb. He has to do eveything to win her back while praying that it's not too late.
(Hey don't get me wrong. I do love Harlequin. I just wasn't in the mood).
Dan ternyata saya salah sekaligus bener.
Iya, emang bener buku ini dramatis, menye, tapi sama sekali gak fluffy. Dan gak terlalu ringan pula.
Konfliknya juga ada di perbatasan antara cetek dan enggak #halah.
Maksudnya, yaaa emang sih bisa dianggap cetek karena konflik tuh "cuma" seputar usaha sang suami untuk merebut kembali hati sang istri. Gak ada urusan rebutan warisan apalagi ampe rebutan nyawa dan tahta #SituKiraSinetron?
Tapi sejak kapan sih urusan hati dan perasaan bisa dianggap remeh apalagi cetek? #WhyDoISoundSoContradictive?
Si Bella Swan itu emang keliatan cemen banget waktu nangis ngeringkel kehilangan Edward di New Moon (kenapa jadi nyinggung ini sih?), tapi patah hati adalah suatu hal serius yang harus diperhatikan. Pernah dengar suatu penyakit jantung yang disebut Broken Heart Syndrome kan? Kalo belum, googling deh. Nanti tahu kalo patah hati tuh bisa fatal akibatnya. Dan karenanya kita gak boleh ngeremehin siapa pun yang patah hati. Dan juga karenanya, saya bisa maklum kalo ada orang yang berbuat apa saja demi mencegah hatinya hancur (sebenarnya saya gak setuju sama istilah patah hati itu. Secara teknis, hati gak bisa patah, bisanya hancur #ApaSihWi). Termasuk juga Sandro di buku ini. Sah-sah aja kalo dia mau menghabiskan 216 halaman untuk mendapatkan kembali cinta istrinya. Daripada dia kena Broken Heart Syndrome nantinya. #DoISoundLebay?
Therefore I can't say that the conflict is light though I can't say it's a heavy one too.
Lalu kenapa rating saya mentok di tiga setengah bintang?
Setengah bintang saya potong karena geregetan sama karakter ceweknya. Yaaa ngerti sih kalo dia sakit hati dan trauma sama kelakuan suaminya. Jadi ketika sang suami bersikap baik dan berusaha memperbaiki kesalahannya, she always second-guesses his actions. But isn't she too much? Awalnya saya suka sama Theresa. Di awal dia berani nentang suami dan bapaknya setelah selama ini ditindas. Wow...a kickass heroine who knows what she wants. Kewl!
Sayang belakangan karakter dia jadi setipe dengan Harlequin sejenis yang plin plan dan bawaannya curigaaaa mulu. Rasa curiga yang bersumber dari rasa tidak-percaya-dirinya. Pfftt...I have enough of this type of character.
Setengah bintang lagi saya potong karena di bagian pertengahan terasa draggy ceritanya. Konfliknya berasa dipanjang-panjangin. Si Theresa kelamaan gantungin perasaan Sandro. Okeh...9 bulan untuk Theresa gantungin Sandro emang belum selama usia pernikahan mereka di mana Sandro PHP-in Theresa, tapi kan setting buku ini gak mulai dari awal pernikahan mereka. Jadi saya gak tahu gimana suasananya dulu dan sulit bersimpati dengan kelakuan Theresa sekarang.
Setengah bintang lagi dipotong deskripsinya yang diulang-ulang mulu. Entah berapa kali saya baca kalo Sandro itu tall, dark, brooding dan Theresa itu red hair, green eyes, bla bla bla.Geezz...we got it already. No need to keep telling us about it.
Tapi saya harus memberi point yang tinggi pada Sandro. Dia contoh yang cocok untuk karakter a redeemable hero
Ngebaca buku ini di awal, kesan yang ditangkap dari Sandro adalah he's a jerk, an ass. Tapi dia berkembang jadi karakter yang oh-make-my-heart-melt. Penulis jarang mengambil cerita dari sudut pandang Sandro, tapi toh pembaca bisa dapat kesan kalo Sandro beneran serius menyesal dan niat berubah. Satu kalimat ini sudah cukup menggambarkan perubahan karakter Sandro.
It's a good debut novel, Ms. Natasha Anders. Keep it coming.
PS : Review pertama untuk 2013 Books In English Reading Challenge. Yeaayy
Judul : The Unwanted Wife
Penulis : Natasha Anders
Tahun Terbit : September 2012
Bahasa : Inggris
Format : ebook
Kisah bermula di ranjang ketika sepasang suami istri (Sandro dan Theresa) baru selesai bercinta. Si Sandro ini punya kebiasaan mengucapkan "Give me a son, Theresa" setiap kali mereka selesai berhubungan.
Sounds romantic? Sama sekali enggak.
Menurut Theresa, Sandro menganggapnya hanya sebagai mesin pencetak anak dan dia sudah muak. Jadi dia meminta cerai kepada Sandro.
Sandro memang memperlakukan Theresa dengan dingin. Semuanya karena dia dendam pada ayah Theresa. Pernikahannya dengan Theresa terjadi karena sebuah perjanjian bisnis. Ayah Sandro yang sekarat sangat menginginkan sebuah kebun anggur yang dimiliki ayah Theresa. Dan berapa banyak pun Sandro bersedia membayar, ayah Theresa tidak mau melepasnya. Syarat dari ayah Theresa hanya satu : Sandro menikahi Theresa dan memberi seorang putra kepada Theresa. Setelah putra itu lahir, Sandro bebas menceraikan Theresa.
Karena itu, sejak awal menikah fokus Sandro hanyalah sesegera mungkin mendapatkan seorang putra. Dia acuh pada Theresa karena dia berpikir Theresa ikut dalam rencana licik ayahnya.
Belakangan Sandro baru sadar 2 hal :
1. Theresa gak tahu apa-apa tentang perjanjian yang dipaksakan ayahnya
2. Sandro sebenarnya mencintai istrinya
Sayang kesadaran itu datang terlambat karena sekarang Theresa berkeras ingin bercerai dengannya.
Awalnya Sandro masih bisa tenang. Dia tahu perceraian itu gak akan terjadi selama mereka belum punya anak. Hingga Theresa mengabarkan bahwa dia sedang hamil. And suddenly, Sandro knows the feeling of having a ticking time bomb. He has to do eveything to win her back while praying that it's not too late.
“And then when you told me you were pregnant, suddenly it felt like there was a ticking time bomb in the house. I didn’t have all the time in the world to make you love me again; I had only a few short months." -Alessandro-Saya lagi mood membaca sesuatu yang angsty dan heart broken waktu teman saya merekomendasikan buku ini. Sekali lihat sinopsisnya dan tahu ini Harlequin, saya langsung males bacanya. Saya pikir buku ini gak beda jauh dengan Harlequin lainnya yang dramatis, menye tapi konfliknya cetek. In short, I thought it was a light and fluffy read.
(Hey don't get me wrong. I do love Harlequin. I just wasn't in the mood).
Dan ternyata saya salah sekaligus bener.
Iya, emang bener buku ini dramatis, menye, tapi sama sekali gak fluffy. Dan gak terlalu ringan pula.
Konfliknya juga ada di perbatasan antara cetek dan enggak #halah.
Maksudnya, yaaa emang sih bisa dianggap cetek karena konflik tuh "cuma" seputar usaha sang suami untuk merebut kembali hati sang istri. Gak ada urusan rebutan warisan apalagi ampe rebutan nyawa dan tahta #SituKiraSinetron?
Tapi sejak kapan sih urusan hati dan perasaan bisa dianggap remeh apalagi cetek? #WhyDoISoundSoContradictive?
Si Bella Swan itu emang keliatan cemen banget waktu nangis ngeringkel kehilangan Edward di New Moon (kenapa jadi nyinggung ini sih?), tapi patah hati adalah suatu hal serius yang harus diperhatikan. Pernah dengar suatu penyakit jantung yang disebut Broken Heart Syndrome kan? Kalo belum, googling deh. Nanti tahu kalo patah hati tuh bisa fatal akibatnya. Dan karenanya kita gak boleh ngeremehin siapa pun yang patah hati. Dan juga karenanya, saya bisa maklum kalo ada orang yang berbuat apa saja demi mencegah hatinya hancur (sebenarnya saya gak setuju sama istilah patah hati itu. Secara teknis, hati gak bisa patah, bisanya hancur #ApaSihWi). Termasuk juga Sandro di buku ini. Sah-sah aja kalo dia mau menghabiskan 216 halaman untuk mendapatkan kembali cinta istrinya. Daripada dia kena Broken Heart Syndrome nantinya. #DoISoundLebay?
Therefore I can't say that the conflict is light though I can't say it's a heavy one too.
Lalu kenapa rating saya mentok di tiga setengah bintang?
Setengah bintang saya potong karena geregetan sama karakter ceweknya. Yaaa ngerti sih kalo dia sakit hati dan trauma sama kelakuan suaminya. Jadi ketika sang suami bersikap baik dan berusaha memperbaiki kesalahannya, she always second-guesses his actions. But isn't she too much? Awalnya saya suka sama Theresa. Di awal dia berani nentang suami dan bapaknya setelah selama ini ditindas. Wow...a kickass heroine who knows what she wants. Kewl!
Sayang belakangan karakter dia jadi setipe dengan Harlequin sejenis yang plin plan dan bawaannya curigaaaa mulu. Rasa curiga yang bersumber dari rasa tidak-percaya-dirinya. Pfftt...I have enough of this type of character.
Setengah bintang lagi saya potong karena di bagian pertengahan terasa draggy ceritanya. Konfliknya berasa dipanjang-panjangin. Si Theresa kelamaan gantungin perasaan Sandro. Okeh...9 bulan untuk Theresa gantungin Sandro emang belum selama usia pernikahan mereka di mana Sandro PHP-in Theresa, tapi kan setting buku ini gak mulai dari awal pernikahan mereka. Jadi saya gak tahu gimana suasananya dulu dan sulit bersimpati dengan kelakuan Theresa sekarang.
Setengah bintang lagi dipotong deskripsinya yang diulang-ulang mulu. Entah berapa kali saya baca kalo Sandro itu tall, dark, brooding dan Theresa itu red hair, green eyes, bla bla bla.Geezz...we got it already. No need to keep telling us about it.
“Why should I forgive you and love you again? Why should I open up my heart to a man who would probably crush it in the palms of his hands?”Reading one more that kind of conversation, make me wanna shout : "Stop this drama, will you?"
“You probably shouldn’t,” he smiled bitterly. “But I wish you would.”
“I can’t.”
Tapi saya harus memberi point yang tinggi pada Sandro. Dia contoh yang cocok untuk karakter a redeemable hero
Ngebaca buku ini di awal, kesan yang ditangkap dari Sandro adalah he's a jerk, an ass. Tapi dia berkembang jadi karakter yang oh-make-my-heart-melt. Penulis jarang mengambil cerita dari sudut pandang Sandro, tapi toh pembaca bisa dapat kesan kalo Sandro beneran serius menyesal dan niat berubah. Satu kalimat ini sudah cukup menggambarkan perubahan karakter Sandro.
"I started praying for a girl because I knew a girl would buy me more time. A girl would keep you with me longer; it would also prove to you, once and for al that your father’s ridiculous contract meant nothing to me anymore. That I wanted our marriage to last forever - Alesandro-Another point just because this is an angsty read, just like what I'm looking for. Yaa...emang sih gak segitu tear-jerker dan heart-wrenching seperti yang saya mau, gak bisa juga bikin saya sedepresi waktu baca The Fault In Our Stars . Tapi sebagai pembuka, lumayan lah buku ini.
It's a good debut novel, Ms. Natasha Anders. Keep it coming.
PS : Review pertama untuk 2013 Books In English Reading Challenge. Yeaayy
Wednesday, March 28, 2012
Delirium
Judul: Delirium
Penulis: Lauren Oliver
Penerjemah: Vici Alfanani Purnomo
Penyunting: Prisca Primasari
Penerbit: Mizan Fantasi
Tahun: 2012
Hlm: 518
ISBN: 9789794336465
“The most dangerous sicknesses are those that make us believe we are well
- Proverb 42, The Book of Shhh”
Saya pernah membaca tentang kehidupan masyarakat Korea Utara yang sangat tertutup itu. Di sana, penggunaan listrik diatur, jam malam diberlakukan, pekerjaan ditentukan negara, bahkan hiburan pun dibatasi.
Akses internet? Informasi ke dunia luar? Hanya mimpi.
Meski begitu, masyarakat Korea Utara percaya (tepatnya terdoktrin) bahwa hidup mereka adalah hidup yg terbaik. Bahwa kehidupan di luar negara mereka adalah hidup yang menyedihkan dan susah. Karenanya mereka sangat berterima kasih dan memuja presiden mereka (kala itu) Kim Jong Il.
Saya jadi terpikir, apa jadinya kalau suatu saat warga KorUt berkesempatan ke dunia luar dan menyadari bahwa hidup bebas di negara lain lebih menyenangkan dari negara mereka? Dan menyadari bahwa sistem komunis yang dianut negara mereka bukanlah sistem yang terbaik dan nilai-nilai yang diajarkan kemungkinan bohong belaka. Apakah mereka akan merasa terkhianati atau dibohongi?
Mungkinkah perasaan mereka sama dengan perasaan Lena Haloway saat pertama kali melihat Alam Liar?
Awalnya Lena bersemangat menanti gilirannya disembuhkan. Dia ngeri membayangkan hidup di bawah langit yang sama dengan virus cinta tanpa proteksi apapun dalam tubuhnya. Tapi semuanya berubah saat dia berkenalan dengan Alex Sheathes. Lena menyadari dia terindeksi Amor Deliria Nervosa namun tak mampu mematikan perasaannya.
Alex memperkenalkannya pada dunia yang baru dan terasa seperti roller coaster. Alex juga menunjukkan pada Lena seperti apa rupa Alam Liar dan bagaimana rasanya bebas dari pengawasan pemerintah. Dan segera, Lena bisa melihat kekurangan yang ada di dunianya.
Betul...dunia tanpa cinta adalah dunia tanpa kesedihan. Tak ada rasa galau, kecewa atau pun patah hati, namun juga tak ada kebahagiaan dan tawa gembira. Dunia yang datar dan menyedihkan. Dan akhirnya Lena menyadari kebenaran kalimat ini : "You can't be happy unless you're unhappy sometimes".
Sungguh jauh dengan promosi pemerintah yang mendoktrin hidup jauh lebih baik tanpa cinta.
Dari Alex juga lah Lena mengetahui kenyataan di balik pemusnahan besar 43 tahun lalu dan membuat dia sadar seberapa besar kebohongan yang diciptakan pemerintahnya demi membasmi virus cinta.
Dia ingin memberontak dan melawan sistem. Dia ingin hidup bebas dan bahagia bersama Alex. Tapi apa yang bisa dia lakukan, seorang gadis yang biasa-biasa saja, melawan sebuah sistem yang sudah berlangsung puluhan tahun?
Tapi bersabarlah melewatkan 3 bab awal, dan saya yakin Anda akan menikmati buku ini seperti yang saya alami. Tentunya hal ini sangat terbantu dengan karakter Alex yang bikin penasaran sekaligus klepek-klepek serta chemistry Alex dan Lena yang alami.
Juga side story yang mengharukan tentang cinta ibu Lena ke anak-anaknya. Bagian itu terasa mengharukan karena menunjukkan besarnya cinta sang ibu dan usahanya untuk menunjukkan pada putrinya kalau mereka dicintai walaupun harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi.
Yap perincian di atas itu memang membuat novel ini terasa lambat, namun toh saya menyadari bahwa hal ini memang perlu.
Untuk terjemahan, di bab awal memang kaku. Tapi makin ke belakang makin luwes kok. Dan setelah mengintip versi aslinya, saya malah jadi salut. Bayangin aja, kitab yang berisi panduan untuk hidup sehat, selamat dan tenteram atau disingkat "Psst" ternyata dalam versi aslinya berjudul "Shhh" (singkatan dari The Safety, Health, and Happiness Handbook). Woww...dari "Ssh" ke "Psst". Bisa pas gitu diubah namun gak mengubah arti judul kitab tersebut. Kereeennn! Sayangnya, diksi-diksi indah khas Lauren Oliver pun turut berubah. Yah...itu resiko sebuah buku terjemahan sih ya. Toh Mizan sudah berusaha maksimal untuk memberi terjemahan semirip mungkin.
Yang juga menarik adalah misteri-misteri seputar latar belakang Alex dan Lena yang diungkap secara perlahan oleh Lauren Oliver. Dan bikin geregetan karena sampai akhir masih ada misteri yang dirahasiakan (disimpan untuk buku kedua mungkin).
Lalu hal apa sih yang membuat Cinta dianggap sebagai penyakit mematikan? Cuma karena Cinta dianggap penyebab perang? Bagaimana dengan keserakahan dan ambisi? Apa itu juga penyebabnya karena cinta?
Hmm...saya berharap hal-hal ini akan lebih dibahas di buku kedua.
Dan sementara itu, 3,5 bintang untuk Delirium. Setengah bintang dikurangi karena cover versi Mizan tuh 'nggak banget, kalah jauh dibanding cover aslinya. 1 bintang lagi dikurangi untuk terjemahan yang kaku di awal.
“I know that life isn't life if you just float through it. I know that the whole point- the only point- is to find the things that matter and hold onto them and fight for them and refuse to let them go.”
Penulis: Lauren Oliver
Penerjemah: Vici Alfanani Purnomo
Penyunting: Prisca Primasari
Penerbit: Mizan Fantasi
Tahun: 2012
Hlm: 518
ISBN: 9789794336465
“The most dangerous sicknesses are those that make us believe we are well
- Proverb 42, The Book of Shhh”
Saya pernah membaca tentang kehidupan masyarakat Korea Utara yang sangat tertutup itu. Di sana, penggunaan listrik diatur, jam malam diberlakukan, pekerjaan ditentukan negara, bahkan hiburan pun dibatasi.
Akses internet? Informasi ke dunia luar? Hanya mimpi.
Meski begitu, masyarakat Korea Utara percaya (tepatnya terdoktrin) bahwa hidup mereka adalah hidup yg terbaik. Bahwa kehidupan di luar negara mereka adalah hidup yang menyedihkan dan susah. Karenanya mereka sangat berterima kasih dan memuja presiden mereka (kala itu) Kim Jong Il.
Saya jadi terpikir, apa jadinya kalau suatu saat warga KorUt berkesempatan ke dunia luar dan menyadari bahwa hidup bebas di negara lain lebih menyenangkan dari negara mereka? Dan menyadari bahwa sistem komunis yang dianut negara mereka bukanlah sistem yang terbaik dan nilai-nilai yang diajarkan kemungkinan bohong belaka. Apakah mereka akan merasa terkhianati atau dibohongi?
Mungkinkah perasaan mereka sama dengan perasaan Lena Haloway saat pertama kali melihat Alam Liar?
“I am no one special. I am just a single girl. I am five feet two inches tall and I am in-between in every way. But I have a secret.”Lena tinggal di Portland (USA) di suatu masa ketika Cinta dianggap penyakit menular mematikan dengan nama lain Amor Deliria Nervosa. Dipercaya Cinta sebagai penyebab perang, kebencian dan nafsu buruk. Untungnya, 43 tahun yang lalu ditemukan penawar untuk virus Cinta ini. Di masa lalu, warga negara yang telah berumur 18 tahun diwajibkan untuk mengikuti prosedur penyembuhan. Dan mereka yang menolak, diasingkan keluar dan hidup di Alam Liar (jadi ceritanya di seluruh negeri dibangun tembok pembatas untuk memisahkan daerah yang sudah disterilkan dari virus cinta).
Awalnya Lena bersemangat menanti gilirannya disembuhkan. Dia ngeri membayangkan hidup di bawah langit yang sama dengan virus cinta tanpa proteksi apapun dalam tubuhnya. Tapi semuanya berubah saat dia berkenalan dengan Alex Sheathes. Lena menyadari dia terindeksi Amor Deliria Nervosa namun tak mampu mematikan perasaannya.
Alex memperkenalkannya pada dunia yang baru dan terasa seperti roller coaster. Alex juga menunjukkan pada Lena seperti apa rupa Alam Liar dan bagaimana rasanya bebas dari pengawasan pemerintah. Dan segera, Lena bisa melihat kekurangan yang ada di dunianya.
Betul...dunia tanpa cinta adalah dunia tanpa kesedihan. Tak ada rasa galau, kecewa atau pun patah hati, namun juga tak ada kebahagiaan dan tawa gembira. Dunia yang datar dan menyedihkan. Dan akhirnya Lena menyadari kebenaran kalimat ini : "You can't be happy unless you're unhappy sometimes".
Sungguh jauh dengan promosi pemerintah yang mendoktrin hidup jauh lebih baik tanpa cinta.
Dari Alex juga lah Lena mengetahui kenyataan di balik pemusnahan besar 43 tahun lalu dan membuat dia sadar seberapa besar kebohongan yang diciptakan pemerintahnya demi membasmi virus cinta.
Dia ingin memberontak dan melawan sistem. Dia ingin hidup bebas dan bahagia bersama Alex. Tapi apa yang bisa dia lakukan, seorang gadis yang biasa-biasa saja, melawan sebuah sistem yang sudah berlangsung puluhan tahun?
“...You can build walls all the way to the sky and I will find a way to fly above them. You can try to pin me down with a hundred thousand arms, but I will find a way to resist...”Walau pun sudah lama tertarik dengan buku ini, namun saya membutuhkan waktu 5 hari untuk menyelesaikann. Salahkan openingnya yang lamban, salahkan juga terjemahan di bab awal yang kurang mengalir. Juga salahkan suasana musim panas di buku ini, yang saking terasa-nya membuat saya ikutan merasa gerah dan jadi malas melanjutkan baca (halaaahhhh....diri sendiri yang males malah nyalahin yang lain :D).
Tapi bersabarlah melewatkan 3 bab awal, dan saya yakin Anda akan menikmati buku ini seperti yang saya alami. Tentunya hal ini sangat terbantu dengan karakter Alex yang bikin penasaran sekaligus klepek-klepek serta chemistry Alex dan Lena yang alami.
Juga side story yang mengharukan tentang cinta ibu Lena ke anak-anaknya. Bagian itu terasa mengharukan karena menunjukkan besarnya cinta sang ibu dan usahanya untuk menunjukkan pada putrinya kalau mereka dicintai walaupun harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi.
"...And there are many of us out there, more than you think. People who refuse to stop believing. People who refuse to come to earth. People who love in a world without walls, people who love into hate, into refusal, against hope,and without fear..."Namun yang paling menarik adalah gambaran rinci mengenai gejala Amor Deliria Nervosa lengkap dengan prosedur penyembuhannya, suasana dan pola hidup masyarakat di jaman Lena, serta kerja sistem negara untuk memastikan semua warga aman dari virus cinta tersebut.
Yap perincian di atas itu memang membuat novel ini terasa lambat, namun toh saya menyadari bahwa hal ini memang perlu.
Untuk terjemahan, di bab awal memang kaku. Tapi makin ke belakang makin luwes kok. Dan setelah mengintip versi aslinya, saya malah jadi salut. Bayangin aja, kitab yang berisi panduan untuk hidup sehat, selamat dan tenteram atau disingkat "Psst" ternyata dalam versi aslinya berjudul "Shhh" (singkatan dari The Safety, Health, and Happiness Handbook). Woww...dari "Ssh" ke "Psst". Bisa pas gitu diubah namun gak mengubah arti judul kitab tersebut. Kereeennn! Sayangnya, diksi-diksi indah khas Lauren Oliver pun turut berubah. Yah...itu resiko sebuah buku terjemahan sih ya. Toh Mizan sudah berusaha maksimal untuk memberi terjemahan semirip mungkin.
Yang juga menarik adalah misteri-misteri seputar latar belakang Alex dan Lena yang diungkap secara perlahan oleh Lauren Oliver. Dan bikin geregetan karena sampai akhir masih ada misteri yang dirahasiakan (disimpan untuk buku kedua mungkin).
“...I love you. Remember. They cannot take it.”Sayangnya, masih ada beberapa hal yang menjadi tanda tanya saya. Misalnya saja : apakah Cinta hanya dianggap berbahaya di USA saja atau juga di negara lain? Kalo hanya di USA, kenapa warga Alam Liar gak mencoba cari suaka ke negara tetangga seperti Meksiko atau Kanada misalnya?
Lalu hal apa sih yang membuat Cinta dianggap sebagai penyakit mematikan? Cuma karena Cinta dianggap penyebab perang? Bagaimana dengan keserakahan dan ambisi? Apa itu juga penyebabnya karena cinta?
Hmm...saya berharap hal-hal ini akan lebih dibahas di buku kedua.
Dan sementara itu, 3,5 bintang untuk Delirium. Setengah bintang dikurangi karena cover versi Mizan tuh 'nggak banget, kalah jauh dibanding cover aslinya. 1 bintang lagi dikurangi untuk terjemahan yang kaku di awal.
“I know that life isn't life if you just float through it. I know that the whole point- the only point- is to find the things that matter and hold onto them and fight for them and refuse to let them go.”
Sunday, March 25, 2012
The Wind In The Willows
Data Buku :
Judul Terjemahan: Embusan Angin Di Pohon Dedalu
Penulis: Kenneth Grahame
Penerjemah: Rini Nurul Badariah
Penerbit: Mahda Books
Terbit: April 2010
Tebal: 134 hlm
Buku ini mengisahkan persahabatan empat hewan yang bermukim di sekitar tepi sungai. Persahabatan antara Molly - si tikus tanah yang pemalu namun haus akan petualangan, Ratty - si tikus air ramah yang sangat mencintai rumahnya, Katak yang ceroboh dan suka membanggakan diri serta Luak yang senang menyendiri dan bijaksana.
Kisah dimulai di suatu pagi musim semi saat Molly sedang membersihkan rumahnya. Tiba-tiba ada hasrat kuat memanggil untuk pergi ke Dunia Atas. Secara impulsif, Molly mengikuti dorongan hasratnya. Di atas, dia terkesima dengan keindahan padang bunga. Dan lebih terkesima lagi sewaktu menemukan Sungai. Saat itulah dia berkenalan dengan Ratty, si tikus air.
Mengetahui kawan barunya belum pernah menyusuri sungai, Ratty pun mengajak Molly untuk naik perahunya. Dalam perjalanan itu, Molly berkenalan dengan Tuan Berang-berang dan Katak serta melihat sekilas Tuan Luak. Pesiar di Tepi Sungai ini akhirnya berkembang menjadi ajakan menginap di tempat Ratty.
Setelah beberapa bulan menginap di rumah Ratty, Molly pun berkenalan dengan Tuan Katak. Di kalangan teman-temannya, Katak dikenal punya banyak kegemaran namun mudah bosan dan gampang beralih ke hal baru. Misalnya di suatu hari dia tergila-gila dengan perahu layar, besoknya dia beralih ke rumah tongkang, lalu rumah perahu kemudian perahu balap. Saat Molly berkenalan dengan Katak, kebetulan Katak sedang gemar dengan kereta gipsi. Namun hobi ini pun dengan cepat teralihkan ke mobil.
Kegilaan Katak pada mobil sudah mencapai tahap berlebihan, hingga membuatnya mendapat beberapa kecelakaan. Hal ini menjadi keprihatinan Molly dan Ratty hingga membuat mereka menceritakan perihal kegemaran baru Katak ini kepada Luak saat mereka kebetulan berkunjung ke rumahnya.
Luak yang juga prihatin mengajak kedua kawannya untuk menyadarkan Katak saat musim semi tiba nanti (btw ada yang sadarkah, dengan kalimat Luak ini artinya Molly sudah hampir 1 tahun tinggal bersama Ratty? Karena cerita ini dimulai saat musim semi)
Dan tibalah musim semi...
Luak, Ratty dan Molly mengurung Katak dalam kamarnya dan bergiliran menjaga. Namun berkat kecerdikannya, Katak berhasil kabur dari penjagaan Ratty. Di pelariannya, Katak mencuri mobil yang membuatnya tertangkap polisi dan dihukum 20 tahun penjara.
Jerakah Katak?
Oho...Jelas tidak! Berkat muslihatnya, lagi-lagi Katak berhasil kabur dari penjara dan kembali memulai petualangan gila-gilaannya.
Tinggallah ketiga sahabatnya yang berusaha mencari cara untuk menyadarkan Katak dan membuatnya menjadi Katak yang bijaksana.
Saya juga belajar dari keramahan Ratty pada orang asing. Di dunia yang penuh orang jahat ini, kita (eh saya sih) cenderung berprasangka pada orang asing yang saya temui di jalan. Padahal kalo saja saya mau lebih membuka diri dan ramah pada orang asing seperti Ratty, mana tahu saya akan menemukan sahabat sejati seperti Molly.
Bahkan dari Katak pun saya belajar untuk bertindak dengan lebih hati-hati dan tidak menurutkan nafsu, walau pun juga jangan menolak hasrat berpetualang yang ada dalam diri.
Dan saya merasa menemukan diri saya pada sosok Molly.
Bukan soal pemalunya karena saya gak sepemalu dan serendah hati dia. Tapi pada perasaan Molly yang setelah bertualang pun, ternyata masih merindukan rumah. Saya juga begitu. Sejauh-jauhnya saya pergi, pada akhirnya saya juga kangen sama rumah. Dan sama seperti Molly, senang rasanya mengetahui saya selalu punya tempat untuk pulang.
Buku yang saya baca ini adalah versi terjemahan Mahda Books. Covernya bagus banget, ilustrasi di dalamnya juga cantik dan sesuai dengan penggambaran Mr. Grahame tentang keadaan Tepi Sungai. Saya seakan bisa merasakan kedamaian sungai dan keramahan penghuninya melalui ilustrasi di buku tersebut.
Sayang, saya merasa ada yang aneh dengan versi terjemahan ini. Rasanya seakan ada missing parts dalam buku ini. Seperti sewaktu Katak melarikan diri, tak ada penjelasan lebih lanjut tentang keadaan ketiga kawannya yang ditinggalkan. Juga sewaktu Katak ditangkap Polisi, tak ada penjelasan bagaimana Katak bisa sampai ditangkap polisi. Yang saya tahu, setelah Katak mencuri mobil, tiba-tiba saja dia sudah diadili.
Saya sempat terpikir apakah terjemahan ini abridged version?
Hasil googling membuat saya berpikir ini bukan abridged version. Karena menurut penjelasan Mbah Wiki, pada abridged version biasanya ada 3 bab yang dihilangkan. Ketiga bab itu adalah :
1. Saat Molly tiba-tiba homesick dan ingin kembali ke rumahnya walau hanya semalam
2. Saat Ratty merasa resah dan kemudian bertemu dengan Tikus Kapal. Si Tikus Kapal menyarankan Ratty untuk bertualang. Dan Ratty yang tipe orang "rumahan" langsung dipenuhi hasrat untuk berpetualang. Untunglah Molly yang mengenalnya dengan baik berhasil mencegah niat Ratty.
3. Saat Ratty dan Molly mencari anak pak berang-berang yang hilang dan secara tak sengaja mereka bertemu Dewa Pan.
Ketiga bab ini memang tak berhubungan dengan plot utama, seolah hanya bab tambahan. Karena itu pada abridged version, ketiga bab ini biasanya dihilangkan.
Versi Mahda memuat ketiga bab ini, karena itu saya berkesimpulan ini bukan abridged version.
Mesti begitu saya tetap penasaran dan membaca ulang versi aslinya (baca online di Goodreads).
Hasilnya?
Memang ada bagian yang dipotong. Mestinya ada cerita yang lebih panjang pada bagian-bagian yang saya anggap janggal tadi.
Dan ada juga adegan-adegan tambahan lain yang tidak ada di buku terjemahan dan tidak saya antisipasi sebelumnya.
Kenapa sampai terjadi hal seperti ini?
Entah...saya juga gak ngerti.
Yang saya tahu, saya kecewa dengan adanya pemotongan ini dan memutuskan mengurangi bintang versi terjemahan. Walau pun saya harus memberi selamat untuk penerjemahannya yang bagus. Hasil dari membandingkan versi asli dan terjemahan, saya berkesimpulan versi Mahda mampu menerjemahkan dengan baik keindahan kalimat-kalimat Kenneth Grahame
So...4 bintang untuk versi original, dan 3,5 bintang untuk versi terjemahan.
Tambahan :

Secara kebetulan, channel Fox Movies Premium menayangan The Wind In The Willows di bulan Maret ini.
Versi yang ditayangkan adalah versi tahun 1996 yang ini.
Seperti yang dilihat, semua tokoh hewannya diperankan oleh manusia, tapi hebatnya mereka bisa berakting persis seperti Tikus Tanah, Tikus Air, Luak dan Katak.
Terutama Katak! Miriiip banget dengan Katak beneran.
Dari segi cerita sih agak beda. Contohnya awal Molly keluar ke dunia atas itu bukan karena ada panggilan. Tapi karena rumahnya tergusur. Usut punya usut, Katak (sebagai pemilik lahan Molly) yang menjual lahan itu sebagai uang pembeli kereta gipsi. Masih ada perbedaan-perbedaan lain yang dibuat dengan tujuan lebih dramatis tapi secara keseluruhan saya sih puas menonton adaptasi The Wind In The Willows yang ini.
Oya...review ini diposting dalam rangka baca bareng Bulan Maret bersama BBI dan komunitas @bacaklasik. Sekaligus memperingati ulang tahun pengarangnya, Kenneth Grahame
Favourite Part from The Book :
“It's a goodly life that you lead, friends; no doubt the best in the world, if only you are strong enough to lead it!'
'Yes, it's the life, the only life, to live,' responded the Water Rat dreamily, and without his usual whole-hearted conviction.
'I did not exactly say that,' the stranger replied cautiously, 'but no doubt it's the best. I've tried it, and I know. And because I've tried it - six months of it - and know it's the best, here I am, footsore and hungry, tramping away from it, tramping southward, following the old call, back to the old life, the life which is mine and which will not let me go.”
(page 93)
Judul Terjemahan: Embusan Angin Di Pohon Dedalu
Penulis: Kenneth Grahame
Penerjemah: Rini Nurul Badariah
Penerbit: Mahda Books
Terbit: April 2010
Tebal: 134 hlm
Buku ini mengisahkan persahabatan empat hewan yang bermukim di sekitar tepi sungai. Persahabatan antara Molly - si tikus tanah yang pemalu namun haus akan petualangan, Ratty - si tikus air ramah yang sangat mencintai rumahnya, Katak yang ceroboh dan suka membanggakan diri serta Luak yang senang menyendiri dan bijaksana.
Kisah dimulai di suatu pagi musim semi saat Molly sedang membersihkan rumahnya. Tiba-tiba ada hasrat kuat memanggil untuk pergi ke Dunia Atas. Secara impulsif, Molly mengikuti dorongan hasratnya. Di atas, dia terkesima dengan keindahan padang bunga. Dan lebih terkesima lagi sewaktu menemukan Sungai. Saat itulah dia berkenalan dengan Ratty, si tikus air.
Mengetahui kawan barunya belum pernah menyusuri sungai, Ratty pun mengajak Molly untuk naik perahunya. Dalam perjalanan itu, Molly berkenalan dengan Tuan Berang-berang dan Katak serta melihat sekilas Tuan Luak. Pesiar di Tepi Sungai ini akhirnya berkembang menjadi ajakan menginap di tempat Ratty.
Setelah beberapa bulan menginap di rumah Ratty, Molly pun berkenalan dengan Tuan Katak. Di kalangan teman-temannya, Katak dikenal punya banyak kegemaran namun mudah bosan dan gampang beralih ke hal baru. Misalnya di suatu hari dia tergila-gila dengan perahu layar, besoknya dia beralih ke rumah tongkang, lalu rumah perahu kemudian perahu balap. Saat Molly berkenalan dengan Katak, kebetulan Katak sedang gemar dengan kereta gipsi. Namun hobi ini pun dengan cepat teralihkan ke mobil.
Kegilaan Katak pada mobil sudah mencapai tahap berlebihan, hingga membuatnya mendapat beberapa kecelakaan. Hal ini menjadi keprihatinan Molly dan Ratty hingga membuat mereka menceritakan perihal kegemaran baru Katak ini kepada Luak saat mereka kebetulan berkunjung ke rumahnya.
Luak yang juga prihatin mengajak kedua kawannya untuk menyadarkan Katak saat musim semi tiba nanti (btw ada yang sadarkah, dengan kalimat Luak ini artinya Molly sudah hampir 1 tahun tinggal bersama Ratty? Karena cerita ini dimulai saat musim semi)
Dan tibalah musim semi...
Luak, Ratty dan Molly mengurung Katak dalam kamarnya dan bergiliran menjaga. Namun berkat kecerdikannya, Katak berhasil kabur dari penjagaan Ratty. Di pelariannya, Katak mencuri mobil yang membuatnya tertangkap polisi dan dihukum 20 tahun penjara.
Jerakah Katak?
Oho...Jelas tidak! Berkat muslihatnya, lagi-lagi Katak berhasil kabur dari penjara dan kembali memulai petualangan gila-gilaannya.
Tinggallah ketiga sahabatnya yang berusaha mencari cara untuk menyadarkan Katak dan membuatnya menjadi Katak yang bijaksana.
"Lagi pula, yang membuat liburan jadi menyenangkan bukanlah banyak beristirahat, melainkan melihat makhluk-makhluk lain sibuk bekerja."Sebagai fabel, cerita ini tergolong ringan, namun ada hal-hal yang bisa saya petik. Pertama tentang persahabatan ke-4 tokohnya yang tulus dan saling mendukung walau pun sudah dikecewakan. Susah menemukan sahabat sejati seperti itu di jaman sekarang.
-Molly-
Saya juga belajar dari keramahan Ratty pada orang asing. Di dunia yang penuh orang jahat ini, kita (eh saya sih) cenderung berprasangka pada orang asing yang saya temui di jalan. Padahal kalo saja saya mau lebih membuka diri dan ramah pada orang asing seperti Ratty, mana tahu saya akan menemukan sahabat sejati seperti Molly.
Bahkan dari Katak pun saya belajar untuk bertindak dengan lebih hati-hati dan tidak menurutkan nafsu, walau pun juga jangan menolak hasrat berpetualang yang ada dalam diri.
Dan saya merasa menemukan diri saya pada sosok Molly.
Bukan soal pemalunya karena saya gak sepemalu dan serendah hati dia. Tapi pada perasaan Molly yang setelah bertualang pun, ternyata masih merindukan rumah. Saya juga begitu. Sejauh-jauhnya saya pergi, pada akhirnya saya juga kangen sama rumah. Dan sama seperti Molly, senang rasanya mengetahui saya selalu punya tempat untuk pulang.
"Ia tidak ingin mengabaikan kehidupan barunya. Dunia di atas sana terlalu menarik. Tempat itu memanggil-manggil ke dalam dirinya. Namun sungguh melegakan karena dia punya tempat untuk pulang, rumahnya sendiri, hal-hal yang pasti membuatnya merasa diterima. Sungai adalah tempat bertualang. Di sini adalah rumahnya." (hlm 57)
Buku yang saya baca ini adalah versi terjemahan Mahda Books. Covernya bagus banget, ilustrasi di dalamnya juga cantik dan sesuai dengan penggambaran Mr. Grahame tentang keadaan Tepi Sungai. Saya seakan bisa merasakan kedamaian sungai dan keramahan penghuninya melalui ilustrasi di buku tersebut.
Sayang, saya merasa ada yang aneh dengan versi terjemahan ini. Rasanya seakan ada missing parts dalam buku ini. Seperti sewaktu Katak melarikan diri, tak ada penjelasan lebih lanjut tentang keadaan ketiga kawannya yang ditinggalkan. Juga sewaktu Katak ditangkap Polisi, tak ada penjelasan bagaimana Katak bisa sampai ditangkap polisi. Yang saya tahu, setelah Katak mencuri mobil, tiba-tiba saja dia sudah diadili.
Saya sempat terpikir apakah terjemahan ini abridged version?
Hasil googling membuat saya berpikir ini bukan abridged version. Karena menurut penjelasan Mbah Wiki, pada abridged version biasanya ada 3 bab yang dihilangkan. Ketiga bab itu adalah :
1. Saat Molly tiba-tiba homesick dan ingin kembali ke rumahnya walau hanya semalam
2. Saat Ratty merasa resah dan kemudian bertemu dengan Tikus Kapal. Si Tikus Kapal menyarankan Ratty untuk bertualang. Dan Ratty yang tipe orang "rumahan" langsung dipenuhi hasrat untuk berpetualang. Untunglah Molly yang mengenalnya dengan baik berhasil mencegah niat Ratty.
3. Saat Ratty dan Molly mencari anak pak berang-berang yang hilang dan secara tak sengaja mereka bertemu Dewa Pan.
Ketiga bab ini memang tak berhubungan dengan plot utama, seolah hanya bab tambahan. Karena itu pada abridged version, ketiga bab ini biasanya dihilangkan.
Versi Mahda memuat ketiga bab ini, karena itu saya berkesimpulan ini bukan abridged version.
Mesti begitu saya tetap penasaran dan membaca ulang versi aslinya (baca online di Goodreads).
Hasilnya?
Memang ada bagian yang dipotong. Mestinya ada cerita yang lebih panjang pada bagian-bagian yang saya anggap janggal tadi.
Dan ada juga adegan-adegan tambahan lain yang tidak ada di buku terjemahan dan tidak saya antisipasi sebelumnya.
Kenapa sampai terjadi hal seperti ini?
Entah...saya juga gak ngerti.
Yang saya tahu, saya kecewa dengan adanya pemotongan ini dan memutuskan mengurangi bintang versi terjemahan. Walau pun saya harus memberi selamat untuk penerjemahannya yang bagus. Hasil dari membandingkan versi asli dan terjemahan, saya berkesimpulan versi Mahda mampu menerjemahkan dengan baik keindahan kalimat-kalimat Kenneth Grahame
So...4 bintang untuk versi original, dan 3,5 bintang untuk versi terjemahan.
Tambahan :
Secara kebetulan, channel Fox Movies Premium menayangan The Wind In The Willows di bulan Maret ini.
Versi yang ditayangkan adalah versi tahun 1996 yang ini.
Seperti yang dilihat, semua tokoh hewannya diperankan oleh manusia, tapi hebatnya mereka bisa berakting persis seperti Tikus Tanah, Tikus Air, Luak dan Katak.
Terutama Katak! Miriiip banget dengan Katak beneran.
Dari segi cerita sih agak beda. Contohnya awal Molly keluar ke dunia atas itu bukan karena ada panggilan. Tapi karena rumahnya tergusur. Usut punya usut, Katak (sebagai pemilik lahan Molly) yang menjual lahan itu sebagai uang pembeli kereta gipsi. Masih ada perbedaan-perbedaan lain yang dibuat dengan tujuan lebih dramatis tapi secara keseluruhan saya sih puas menonton adaptasi The Wind In The Willows yang ini.
Oya...review ini diposting dalam rangka baca bareng Bulan Maret bersama BBI dan komunitas @bacaklasik. Sekaligus memperingati ulang tahun pengarangnya, Kenneth Grahame
Favourite Part from The Book :
“It's a goodly life that you lead, friends; no doubt the best in the world, if only you are strong enough to lead it!'
'Yes, it's the life, the only life, to live,' responded the Water Rat dreamily, and without his usual whole-hearted conviction.
'I did not exactly say that,' the stranger replied cautiously, 'but no doubt it's the best. I've tried it, and I know. And because I've tried it - six months of it - and know it's the best, here I am, footsore and hungry, tramping away from it, tramping southward, following the old call, back to the old life, the life which is mine and which will not let me go.”
(page 93)
Saturday, February 25, 2012
The Vow
Data Film
Director: Michael Sucsy
Writers: Jason Katims, Abby Kohn, Stuart Sender, Marc Silverstein
Stars: Rachel McAdams, Channing Tatum and Sam Neill
Genres: Drama | Romance
Motion Picture Rating (MPAA) : Rated PG-13
Language: English
Release Date: 16 February 2012 (Indonesia)
Filming Locations: Chicago, Illinois, USA
Paige bukan hanya melupakan perseteruan dengan keluarganya selama 5 tahun terakhir dan perubahan karirnya dari seorang calon pengacara menjadi pemahat. Yang lebih parah, dia melupakan segala hal tentang Leo mulai dari pertemuan, pacaran hingga pernikahan mereka. Dan yang bikin makin pedih buat Leo, karena ingatan Paige justru terhenti di masa ketika Paige masih bertunangan dengan Jeremy (Scott Speedman).
Segala cara dilakukan Leo, mulai dari membawa Paige ke tempat pertama kali mereka bertemu, mengingatkan Paige pada segala kebiasaan dan janji-janji mereka hingga berdamai dengan keluarga Paige walau pun sadar kalau keluarga gadis tersebut tidak menyukainya.
Dengan alasan itulah, Leo pun memutuskan keluar dari hidup Paige.
Apa keadaan membaik untuk Paige?
Ternyata tidak juga.
Paige menemukan rahasia besar yang dipendam orang tuanya sekaligus alasan dia meninggalkan keluarganya 5 tahun lalu.
And then she start questioning her memories, whether the ones she still remembers are the truth or not. She also realizes that her lost memories are part of her life too therefore she can't deny its existencies. That's why Paige's trying to regain her lost memories for the past 5 years or at least to start her life again right where she left off, including things regarding with Leo, her vow to him and their love.
Endingnya juga sudah terprediksi. Kalau pernah baca novel Harlequin jadul karangan Rebecca Winters yang berjudul Undercover Baby, nah you pretty much got the idea about The Vow's ending.
Malah khusus untuk film ini, saya kurang puas dengan endingnya atau lebih tepatnya dengan set up ending-nya. Terasa agak diburu-buru aja dari sejak Paige menemukan rekaman pernikahannya dengan Leo. Coba adegan penutupnya ditambah 5-10 menit lagi, pasti lebih berkesan.
Tapi saya suka chemistry Chaning Tatum dan McAdams, somehow bisa dipercaya kok kalo mereka memang couple. Dan anehnya saya jadi suka lho sama 2 aktor/aktris ini. Padahal sebelumnya, saya bukan fans mereka dan gak pernah tertarik nontonin film-film mereka.
Saya juga suka dengan latar belakang kota Chicago di musim saljunya yang cantik banget. Dan suka banget dengan music scoring dan soundtrack filmnya yang bagus dan kena banget.
So...to summarize, ini memang film yang cocok banget ditonton untuk Valentine. dengan sesama teman cewek (please jangan bawa cowok, kasihan mereka. Kecuali kalo cowok yang mau dibawa itu penggemar Rachel McAdams). Good movie though not great, but at least give you a good feeling when watch it. And also entertaining for both eyes and ears. Not my most favourite chick flick but definitely worth to see.
Rating tiga bintang untuk storyline, tapi naik jadi 3,5 bintang karena setting dan soundtracknya yang keren.
Sewaktu googling tentang pasangan Carpenter, saya ketemu link ini. Di situ diceritakan perekat bagi pasangan ini (setelah kecelakaan tragis itu) adalah kepercayaan mereka pada Tuhan dan sumpah setia yang mereka ucapkan satu sama lain.
Sumpah setia itu lah yang bikin saya penasaran.
Sumpah yang diucapkan Leo dan Paige versi The Vow sih manis dan romantis, tapi kira-kira seperti apa ya sumpah yang diucapkan pasangan Carpenter? Sehebat atau setulus apakah perasaan mereka ketika bersumpah hingga mampu bertahan melawan segala badai?
Apalagi...Leo dan Paige sih punya 4 tahun pernikahan bahagia sebelumnya. Wajar kalo Leo enggan melepas masa-masa itu. Tapi Kim dan Krickitt Carpenter hanya bersama selama 18 bulan sebelum Krickitt mengalami amnesia.
Saya menduga 18 bulan itu pastilah 18 bulan yang paling membahagiakan dalam hidup Kim hingga dia tak rela melepasnya.
Benarkah demikian?
Entahlah...saya musti membaca sendiri bukunya.
Ah saya benar-benar penasaran sama buku ini. Sebelnya saya sudah mencari ke beberapa toko buku import di Jakarta dan gak ketemu juga. Satu-satunya cara pesan lewat Amazon, which I don't want.
Mudah-mudahan saya sempat ke Bras Basah bulan depan dan ketemu buku ini di sana. Wish me luck yaaaa \(^__^)/
Paige : "I vow to help you love life, to always hold you with tenderness, and to have the patience that love demands. To speak when words are needed, and to share the silence when they're not. To agree or to disagree on red velvet cake, and to live within the warmth of your heart and always call it home."
Leo : "I vow to love you. And no matter what challenges might carry us apart, we will always find a way back to each other. I vow to fiercely love you in all your forms now and forever. I promise to never forget that this is a once in a lifetime love."
Director: Michael Sucsy
Writers: Jason Katims, Abby Kohn, Stuart Sender, Marc Silverstein
Stars: Rachel McAdams, Channing Tatum and Sam Neill
Genres: Drama | Romance
Motion Picture Rating (MPAA) : Rated PG-13
Language: English
Release Date: 16 February 2012 (Indonesia)
Filming Locations: Chicago, Illinois, USA
"Life's all about moments of impact, and how they change our lives forever. But what if one day you could no longer remember any of them?"Itu pertanyaan yang harus dijawab pasangan Paige (Rachel McAdams) dan Leo (Channing Tatum) setelah dihadapkan pada suatu kecelakaan fatal yang merenggut ingatan Paige.
(Leo)
Paige bukan hanya melupakan perseteruan dengan keluarganya selama 5 tahun terakhir dan perubahan karirnya dari seorang calon pengacara menjadi pemahat. Yang lebih parah, dia melupakan segala hal tentang Leo mulai dari pertemuan, pacaran hingga pernikahan mereka. Dan yang bikin makin pedih buat Leo, karena ingatan Paige justru terhenti di masa ketika Paige masih bertunangan dengan Jeremy (Scott Speedman).
“Everything that I fell in love with is still there." "I need to make my wife fall in love with me again"Begitulah keyakinan Leo. Sumpah sucinya kepada Paige di hadapan Tuhan sewaktu pernikahan mereka dan keyakinan bahwa Paige yang dicintainya masih ada dalam diri gadis itu membuat Leo bertekad untuk membuat istrinya jatuh cinta sekali lagi dengannya.
-Leo-
Segala cara dilakukan Leo, mulai dari membawa Paige ke tempat pertama kali mereka bertemu, mengingatkan Paige pada segala kebiasaan dan janji-janji mereka hingga berdamai dengan keluarga Paige walau pun sadar kalau keluarga gadis tersebut tidak menyukainya.
“How do you look at the woman you love, and tell yourself that it's time to walk away?"Namun sampai kapan Leo mampu bertahan dalam suasana seperti ini? Apalagi keluarga Paige tidak merestui hubungan mereka dan malah berusaha mendekatkan Paige dan Jeremy. Di lain sisi ada Jeremy yang masih berharap pada Paige. And on top of that, fakta bahwa saat Paige terbangun, dia kembali ke fase saat dia (merasa) masih mencintai Jeremy. Leo sadar bagaimana perasaan Paige yang sebenarnya ke Jeremy. "I know you love him cause that's the way you used to look at me," kata Leo. Dia juga sadar bahwa sementara dia terus mencintai Paige, namun bagi Paige dia hanyalah orang asing. Dan karenanya, Paige berhak memulai hidup baru dengan cerita yang juga baru.
-Leo-
Dengan alasan itulah, Leo pun memutuskan keluar dari hidup Paige.
Apa keadaan membaik untuk Paige?
Ternyata tidak juga.
Paige menemukan rahasia besar yang dipendam orang tuanya sekaligus alasan dia meninggalkan keluarganya 5 tahun lalu.
And then she start questioning her memories, whether the ones she still remembers are the truth or not. She also realizes that her lost memories are part of her life too therefore she can't deny its existencies. That's why Paige's trying to regain her lost memories for the past 5 years or at least to start her life again right where she left off, including things regarding with Leo, her vow to him and their love.
“You can’t remember how we fell in love. You get to experience it all over again.”Ide cerita The Vow sebenarnya biasa saja, cenderung pasaran malah. Cerita orang amnesia bukan pertama kali ini ada. Dan malah, menyangkut amnesia, saya masih lebih suka 50 First Dates dibandingkan film ini (Iyaaa...saya sadar kok kalo saya gak adil membandingkan kedua film ini). Dialognya pun standar, dalam arti bukan yang baguuusss banget sampai patut dikenang tapi juga gak over cheesy.
-Leo-
Endingnya juga sudah terprediksi. Kalau pernah baca novel Harlequin jadul karangan Rebecca Winters yang berjudul Undercover Baby, nah you pretty much got the idea about The Vow's ending.
Malah khusus untuk film ini, saya kurang puas dengan endingnya atau lebih tepatnya dengan set up ending-nya. Terasa agak diburu-buru aja dari sejak Paige menemukan rekaman pernikahannya dengan Leo. Coba adegan penutupnya ditambah 5-10 menit lagi, pasti lebih berkesan.
Tapi saya suka chemistry Chaning Tatum dan McAdams, somehow bisa dipercaya kok kalo mereka memang couple. Dan anehnya saya jadi suka lho sama 2 aktor/aktris ini. Padahal sebelumnya, saya bukan fans mereka dan gak pernah tertarik nontonin film-film mereka.
Saya juga suka dengan latar belakang kota Chicago di musim saljunya yang cantik banget. Dan suka banget dengan music scoring dan soundtrack filmnya yang bagus dan kena banget.
So...to summarize, ini memang film yang cocok banget ditonton untuk Valentine. dengan sesama teman cewek (please jangan bawa cowok, kasihan mereka. Kecuali kalo cowok yang mau dibawa itu penggemar Rachel McAdams). Good movie though not great, but at least give you a good feeling when watch it. And also entertaining for both eyes and ears. Not my most favourite chick flick but definitely worth to see.
Rating tiga bintang untuk storyline, tapi naik jadi 3,5 bintang karena setting dan soundtracknya yang keren.
“At a low point in my life, I didn’t think this marriage was going to work. I didn’t have the faith that we were going to make it. At the same time, I wasn’t going to leave her in the state she was in; I was vowing to stay with her.”Nah yang sebenarnya membuat saya tergerak menulis review adalah ketika saya tahu film ini terinspirasi dari kisah nyata pasangan Kim dan Krickitt Carpenter yang dituangkan dalam buku berjudul The Vow.
-Kim Carpenter-
Sewaktu googling tentang pasangan Carpenter, saya ketemu link ini. Di situ diceritakan perekat bagi pasangan ini (setelah kecelakaan tragis itu) adalah kepercayaan mereka pada Tuhan dan sumpah setia yang mereka ucapkan satu sama lain.
Sumpah setia itu lah yang bikin saya penasaran.
Sumpah yang diucapkan Leo dan Paige versi The Vow sih manis dan romantis, tapi kira-kira seperti apa ya sumpah yang diucapkan pasangan Carpenter? Sehebat atau setulus apakah perasaan mereka ketika bersumpah hingga mampu bertahan melawan segala badai?
Apalagi...Leo dan Paige sih punya 4 tahun pernikahan bahagia sebelumnya. Wajar kalo Leo enggan melepas masa-masa itu. Tapi Kim dan Krickitt Carpenter hanya bersama selama 18 bulan sebelum Krickitt mengalami amnesia.
Saya menduga 18 bulan itu pastilah 18 bulan yang paling membahagiakan dalam hidup Kim hingga dia tak rela melepasnya.
Benarkah demikian?
Entahlah...saya musti membaca sendiri bukunya.
Ah saya benar-benar penasaran sama buku ini. Sebelnya saya sudah mencari ke beberapa toko buku import di Jakarta dan gak ketemu juga. Satu-satunya cara pesan lewat Amazon, which I don't want.
Mudah-mudahan saya sempat ke Bras Basah bulan depan dan ketemu buku ini di sana. Wish me luck yaaaa \(^__^)/
The Vow :
Leo : "I vow to love you. And no matter what challenges might carry us apart, we will always find a way back to each other. I vow to fiercely love you in all your forms now and forever. I promise to never forget that this is a once in a lifetime love."
Monday, January 30, 2012
Godaan Di Senja Hari
Judul asli : Tempt Me At Twilight
ISBN/EAN : 9789792260403 / 9789792260403
Author : Lisa Kleypas
Publisher : Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Publish : 03 Agustus 2010
Pages : 424
Dimension (mm) : 140 x 210
Ini buku kiriman Secret Santa-ku, Mbak Desty Nugrainy. Pertama buka bungkusannya langsung cengar-cengir karena mikir : "Yeeaayyy...historical romance-Lisa Kleypas-Hathaways-Belum punya."
Tapi di sisi lain juga mikir : "Eng...ini buku ke-3 kan? Susah nih ngereview buku ke-3." *elusJidat*
Yup...kelemahan saya emang ngereview buku berseri. Saya lebih suka membacanya ampe habis dan memposting reviewnya sekaligus (itu pun kalo gak keburu males bikin :D). Jadi...kiriman dari Secret Santa-ku ini jadi semacam tantangan tersendiri. Makasih, Secret Santa ^__^
Seperti yang saya bilang di atas, Godaan Di Senja Hari ini adalah buku ke-3 dari serial Hathaways yang bercerita tentang liku percintaan Hathaway bersaudara. Keluarga Hathaway dikenal sebagai keluarga bangsawan yang eksentrik. Mereka tidak terlalu patuh pada aturan aristokrat dan wanita-wanitanya dikenal pintar yang mana suatu kekurangan lumayan fatal (di jaman itu, pria kurang suka wanita pintar sebagai istri, takut memberontak mungkin). Hal inilah yang membuat wanita Hathaway (walaupun punya maskawin yang besar) rada sulit laku di bursa perjodohan.
"Peluangnya memperoleh pernikahan yang pantas akan lenyap--hanya karena musang."
Dan dengan kalimat itu, dimulailah kisah tentang Poppy, putri ketiga keluarga Hathaway.
Poppy sangat mencintai keluarganya yang unik, namun dia terus memimpikan hidup yang normal, damai (ato singkatnya: hidup yang boring) dan menikah dengan pemuda dari keluarga terhormat. Impian itu terancam hancur bila surat cinta dari Michael Bayning (kekasih rahasianya) tersebar kemana-mana. Sialnya, saat ini surat itu sedang dipegang Dodger, musang peliharaan adiknya. Dan sudah jelas, Dodger tak mengerti tingginya level kerahasiaan surat itu.
Pengejaran itu membawanya berkenalan dengan Harry Rutledge. Perkenalan yang menjungkirbalikkan semua rencana Poppy.
Sejak awal bertemu, Harry sudah tertarik kepada Poppy dan bertekad memilikinya walau pun harus melakukan segala cara. Dengan cara licik, Harry berhasil memisahkan Poppy dan Michael. Dan lewat suatu insiden, Harry berhasil menyudutkan Poppy hingga gadis itu terpaksa menikah dengannya.
Namun, tak ada rahasia yang tak terungkap.
Di hari pernikahan mereka, Michael datang dan mengungkapkan segala kecurangan Harry. Walau marah, Poppy memilih tetap menjalankan rencana menikah dengan Harry, basically choosing the lesser of two evils. Dan dimulailah pernikahan yang aneh itu. Pernikahan yang memaksa mereka berdua untuk membuka diri dan hati serta belajar memaafkan.
Suka sama karakter Harry yang tegas, dewasa, tahu apa yang dia mau walopun di dalamnya selalu ada sosok bocah kesepian. Yang paling saya suka adalah : Harry gak munafik. Dari sejak awal pun dia udah ngaku kalo dia memang bukan orang yang baik dan karenanya tak bisa diharapkan menjadi "saint". Soal mengubah seorang villain jadi hero dan membuat pembaca jadi bersimpati pada sang "hero" memang Kleypas jagonya.
Suka juga sama karakter Poppy yang rasional dan berkepala dingin. Semarah apapun Poppy, dia bisa mempertimbangkan sisi positif dan negatif suatu masalah. Dari semua karakter heroine-nya Kleypas, Poppy masuk dalam daftar favorit saya. Kekurangan Poppy itu di sifatnya yang terlalu baik, bahkan kepada mantan pacarnya dan kadang rada naif.
Suka juga sama karakter-karakter pendukung yaitu anggota keluarga Hathaway lainnya. Suka sama kekompakan dan kasih sayang yang kental antara mereka. Suka dengan rahasia Catherine yang semakin terungkap. Dan yang paling saya suka, disini kita bisa melihat chemistry Leo dan Catherine yang semakin terbentuk. Prekuel yang bagus untuk buku berikutnya (Married By Morning) yang menceritakan Leo-Cath.
Suka sama endingnya yang (walaupun) tertutup, tapi bikin penasaran untuk baca buku lanjutannya.
Untuk versi Indonesia ini, saya juga suka covernya yang menggambarkan suasana senja dan bangunan besar yang saya anggap sebagai hotel Rutledge. Suka warna covernya yang bernuansa pink-ungu itu. Cantik banget :D
Yang saya kurang suka adalah proses menuju endingnya. Somehow, rasanya agak terburu-buru. Setelah santai dan ringan di awal, pas mendekati konflik akhir kok jadi makin cepat ya? Penyelesaiannya pun terasa agak diburu-buru. Tapi sungguh, itu kekurangan yang kecil dibanding nilai keseluruhan cerita ini.
Karenanya saya kasi 3,5 bintang untuk Godaan Di Senja Hari versi GPU ini. Tiga bintang untuk ceritanya dan setengah bintang lagi untuk cover dan terjemahannya yang bagus banget itu. Kenapa ceritanya cuma 3 bintang? Karena yah...gak sreg sama konfliknya yang kurang tajam dan penyelesaiannya yang rada terburu-buru.
Quote of the book:
Poppy Hathaway : “Aku tidak akan pernah lupa kau merampas pria yang kucintai dan menempatkan dirimu di tempatnya. Aku tidak yakin bisa memaafkanmu sampai kapan pun. Satu-satunya yang kuyakini adalah aku tidak akan pernah mencintaimu. Apa kau masih ingin menikah denganku?”
Harry Rutledge : "Ya. Aku tidak pernah ingin dicintai. Tuhan pun tahu tidak seorang pun pernah mencintaiku."
ISBN/EAN : 9789792260403 / 9789792260403
Author : Lisa Kleypas
Publisher : Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Publish : 03 Agustus 2010
Pages : 424
Dimension (mm) : 140 x 210
Ini buku kiriman Secret Santa-ku, Mbak Desty Nugrainy. Pertama buka bungkusannya langsung cengar-cengir karena mikir : "Yeeaayyy...historical romance-Lisa Kleypas-Hathaways-Belum punya."
Tapi di sisi lain juga mikir : "Eng...ini buku ke-3 kan? Susah nih ngereview buku ke-3." *elusJidat*
Yup...kelemahan saya emang ngereview buku berseri. Saya lebih suka membacanya ampe habis dan memposting reviewnya sekaligus (itu pun kalo gak keburu males bikin :D). Jadi...kiriman dari Secret Santa-ku ini jadi semacam tantangan tersendiri. Makasih, Secret Santa ^__^
Seperti yang saya bilang di atas, Godaan Di Senja Hari ini adalah buku ke-3 dari serial Hathaways yang bercerita tentang liku percintaan Hathaway bersaudara. Keluarga Hathaway dikenal sebagai keluarga bangsawan yang eksentrik. Mereka tidak terlalu patuh pada aturan aristokrat dan wanita-wanitanya dikenal pintar yang mana suatu kekurangan lumayan fatal (di jaman itu, pria kurang suka wanita pintar sebagai istri, takut memberontak mungkin). Hal inilah yang membuat wanita Hathaway (walaupun punya maskawin yang besar) rada sulit laku di bursa perjodohan.
"Peluangnya memperoleh pernikahan yang pantas akan lenyap--hanya karena musang."
Dan dengan kalimat itu, dimulailah kisah tentang Poppy, putri ketiga keluarga Hathaway.
Poppy sangat mencintai keluarganya yang unik, namun dia terus memimpikan hidup yang normal, damai (ato singkatnya: hidup yang boring) dan menikah dengan pemuda dari keluarga terhormat. Impian itu terancam hancur bila surat cinta dari Michael Bayning (kekasih rahasianya) tersebar kemana-mana. Sialnya, saat ini surat itu sedang dipegang Dodger, musang peliharaan adiknya. Dan sudah jelas, Dodger tak mengerti tingginya level kerahasiaan surat itu.
Pengejaran itu membawanya berkenalan dengan Harry Rutledge. Perkenalan yang menjungkirbalikkan semua rencana Poppy.
Sejak awal bertemu, Harry sudah tertarik kepada Poppy dan bertekad memilikinya walau pun harus melakukan segala cara. Dengan cara licik, Harry berhasil memisahkan Poppy dan Michael. Dan lewat suatu insiden, Harry berhasil menyudutkan Poppy hingga gadis itu terpaksa menikah dengannya.
Namun, tak ada rahasia yang tak terungkap.
Di hari pernikahan mereka, Michael datang dan mengungkapkan segala kecurangan Harry. Walau marah, Poppy memilih tetap menjalankan rencana menikah dengan Harry, basically choosing the lesser of two evils. Dan dimulailah pernikahan yang aneh itu. Pernikahan yang memaksa mereka berdua untuk membuka diri dan hati serta belajar memaafkan.
"Aku tidak akan pernah menyesalinya. Karena jika aku tidak melakukannya, kau miliknya sekarang. Padahal dia hanya menginginkanmu jika itu mudah baginya. Tapi aku menginginkanmu dengan cara apa pun yang aku bisa. Aku menginginkanmu karena tidak ada orang lain yang seperti dirimu, dan aku tidak pernah ingin memulai hari tanpa melihatmu."I love this book.
-Harry Rutledge-
Suka sama karakter Harry yang tegas, dewasa, tahu apa yang dia mau walopun di dalamnya selalu ada sosok bocah kesepian. Yang paling saya suka adalah : Harry gak munafik. Dari sejak awal pun dia udah ngaku kalo dia memang bukan orang yang baik dan karenanya tak bisa diharapkan menjadi "saint". Soal mengubah seorang villain jadi hero dan membuat pembaca jadi bersimpati pada sang "hero" memang Kleypas jagonya.
Suka juga sama karakter Poppy yang rasional dan berkepala dingin. Semarah apapun Poppy, dia bisa mempertimbangkan sisi positif dan negatif suatu masalah. Dari semua karakter heroine-nya Kleypas, Poppy masuk dalam daftar favorit saya. Kekurangan Poppy itu di sifatnya yang terlalu baik, bahkan kepada mantan pacarnya dan kadang rada naif.
Suka juga sama karakter-karakter pendukung yaitu anggota keluarga Hathaway lainnya. Suka sama kekompakan dan kasih sayang yang kental antara mereka. Suka dengan rahasia Catherine yang semakin terungkap. Dan yang paling saya suka, disini kita bisa melihat chemistry Leo dan Catherine yang semakin terbentuk. Prekuel yang bagus untuk buku berikutnya (Married By Morning) yang menceritakan Leo-Cath.
Suka sama endingnya yang (walaupun) tertutup, tapi bikin penasaran untuk baca buku lanjutannya.
Untuk versi Indonesia ini, saya juga suka covernya yang menggambarkan suasana senja dan bangunan besar yang saya anggap sebagai hotel Rutledge. Suka warna covernya yang bernuansa pink-ungu itu. Cantik banget :D
Yang saya kurang suka adalah proses menuju endingnya. Somehow, rasanya agak terburu-buru. Setelah santai dan ringan di awal, pas mendekati konflik akhir kok jadi makin cepat ya? Penyelesaiannya pun terasa agak diburu-buru. Tapi sungguh, itu kekurangan yang kecil dibanding nilai keseluruhan cerita ini.
"Kau tahu apa itu roda penyeimbang? Ada satu roda seperti itu di setiap jam dinding atau jam tangan. Roda itu berputar maju dan mundur tanpa berhenti. Itu yang menghasilkan suara berdetik, yang membuat jarum jam bergerak maju menandai menit. Tanpa roda itu, jam itu tidak akan bekerja. Kaulah roda penyeimbangku,Poppy."Saya sudah baca kelima serial dalam versi ebook-nya, tapi baca versi terjemahan ini bikin saya penasaran untuk membaca dan mengoleksi lima seri terjemahannya (Hehehe...mbak Desti menambah target buku yang harus saya beli di 2012 ini :D).
-Harry Rutledge-
Karenanya saya kasi 3,5 bintang untuk Godaan Di Senja Hari versi GPU ini. Tiga bintang untuk ceritanya dan setengah bintang lagi untuk cover dan terjemahannya yang bagus banget itu. Kenapa ceritanya cuma 3 bintang? Karena yah...gak sreg sama konfliknya yang kurang tajam dan penyelesaiannya yang rada terburu-buru.
Quote of the book:
Poppy Hathaway : “Aku tidak akan pernah lupa kau merampas pria yang kucintai dan menempatkan dirimu di tempatnya. Aku tidak yakin bisa memaafkanmu sampai kapan pun. Satu-satunya yang kuyakini adalah aku tidak akan pernah mencintaimu. Apa kau masih ingin menikah denganku?”
Harry Rutledge : "Ya. Aku tidak pernah ingin dicintai. Tuhan pun tahu tidak seorang pun pernah mencintaiku."
Sunday, January 8, 2012
Hex Hall
Judul asli : Hex Hall
Penulis : Rachel Hawkins
Penerbit: Ufuk Press
ISBN: 978-602-9346-10-7
Ukuran: 14 x 20,5 cm
Halaman: 424 halaman
Terbit: November 2011
Sophie Mercer dilahirkan dari ayah warlock dan ibu manusia. Namun dia tak mengetahui fakta itu sampai umur 12 tahun, ketika kekuatan sihirnya muncul untuk pertama kalinya. Karena salah merapal mantra di prom, Dewan (tetua bangsa sihir) memutuskan agar Sophie dimasukkan ke Hex Hall, sekolah khusus bagi anak-anak bandel Prodigium, sebutan untuk kaum penyihir, peri, vampir, warlock dan shapeshifter.
Meski awalnya enggan bersekolah disana, namun Sophie mendapatkan banyak pengalaman baru. Pertama kalinya punya sahabat cewek walaupun sang sahabat, Jenna, adalah vampir yang dijauhi satu sekolah. Pertama kalinya juga merasakan dimusuhi tiga penyihir berwajah supermodel dan pertama kalinya naksir sama warlock ganteng, Archer, yang sialnya pacar salah satu penyihir-berwajah-supermodel itu.
In short, life's "good"...life's fun.
Suasana berbalik ketika seorang murid ditemukan terluka parah; terdapat luka berbentuk dua lubang kecil di leher yang tampak seperti bekas gigitan vampir. Hal ini membuat Jenna, sahabat Sophie, menjadi tertuduh. Saat pelakunya belum terungkap, terjadi lagi serangan berikutnya. Kali ini, Dewan memutuskan untuk me-rumah-kan Jenna.
Karena tak percaya Jenna adalah pelakunya, Sophie memutuskan untuk menyelidiki masalah ini.
Tanpa menyadari, bahwa pelakunya justru orang terdekat. Juga bahwa pengungkapan misteri ini akan mengungkap rahasia besar tentang keluarga dan dirinya.
Seperti karakter Sophie yang berani dan sarkastik. Sarkasmenya itu yang membuat buku ini enak dibaca. Dan sarkasme itu jadi ironis karena Sophie juga orang yang naif. Singkatnya, dia gak sempurna. And that's good :).
Jenna si vampir yang kesepian mencuri perhatian saya meski belum bisa sayang padanya. Soalnya, Jenna sukarela jadi vampir, eh belakangan malah menyesali keputusannya dan "marah" pada lingkungan yang mendiskriminasinya. Well Jenna, vampire really is different. Don't you know that? Tapi, saya penasaran melihat perkembangan karakter Jenna di buku kedua.
Buat saya, Archer nggak menarik. Okay...dia ganteng,hot, asyik, populer, dll. Tapi dia gak bikin saya tertarik dan malah heran kenapa Sophie segitu naksirnya.
Nah karakter Cal malah bikin saya penasaran. Si pengawas sekolah yang ganteng dan misterius itu lebih menarik buat saya. Cal belum banyak berperan di sini, tapi saya punya feeling nantinya Cal berperan besar.
Untuk tokoh pendukung, kepala sekolahnya, Mrs. Casnoff, menarik. So far imagenya tegas dan gak neko-neko seperti Prof. McGonnagal-nya Harry Potter. Tapi rasanya sih dia gak "selurus" itu.
Saya suka pace-nya yang pas, dalam artian gak terlalu cepat tapi juga gak lelet.
Dan suka juga dengan twist di tengah cerita. Ada yang terprediksi, tapi ada yang enggak. Dan untunglah, endingnya bagus. Bagus karena bikin penasaran buat baca lanjutannya.
Magical boarding school. Tokoh utama yang gak tahu apa-apa tentang kekuatannya. Gets on wrong side of popular bitches on day one. Naksir cowok terganteng di sekolah (di hari pertama juga). Sialnya, si cowok itu pacar cewek populer.
D'uh...Unsur kayak gitu ada di hampir semua novel genre YA dan/atau fantasi. Harry Potter, Vampire Academy, Evernight, sedikit Twilight, dll-dst-etc.
Tipikal banget sih :s
Saya bahkan rada bisa memprediksi lanjutan ceritanya. Ini tebakan saya (nanti dicocokkan setelah baca yang ke-2 dan 3) :
- Cal itu ternyata tunangan Sophie. Oya lupa bilang, di dunia Prodigium ada tradisi ditunangkan waktu umur 12 tahun. Cuma tunangan lho, bukan berarti kawin paksa. Trus dia naksir Sophie
- Tapi Sophie tetap suka sama Archer. Karena si Cal tulus, Sophie jadi bimbang
- Ujung-ujungnya, toh Sophie tetep jadian sama Archer juga.
- Sophie gak jadi ketua Dewan. Mungkin aja pada akhirnya dia ikut pemunahan bareng sama Archer.
Hmm...itu sekedar prediksi asal-asalan. Mudah-mudahan salah semua. Semoga ada twist-twist lain nanti.
Pokoknya saya sabar aja nunggu buku ke-2 (Demon Glass) versi terjemahan terbit. Karena, walau pun saya penasaran, tapi gak segitu penasarannya buat cari ebook-nya.
Tapi klo untuk kesan pertama, saya gak bakal tertarik klo cuma liat cover. Soalnya, buku ini tampak seperti genre teenlit biasa dan bukannya fantasi. Dibutuhkan baca sinopsis dan intip Goodreads sebelum saya memutuskan beli buku ini.
Suka sama pilihan font-nya Ufuk, besar, jelas dan mudah dibaca. Juga terjemahan yang oke karena sarkas dan witty-nya Sophie bisa tersampaikan dengan baik, sama seperti di buku aslinya. Sayang masih ada beberapa kata yang sepertinya lebih bagus tetap dibiarkan dalam bahasa inggris.
So, to summarize it all : cerita yang ringan, santai dengan karakter menyenangkan dan cerdas : 3 bintang. Ditambah 1/2 bintang lagi untuk font dan terjemahan-nya. Total 3,5 bintang. Buku yang saya rekomendasikan untuk dibaca penggemar fantasi :).
Penulis : Rachel Hawkins
Penerbit: Ufuk Press
ISBN: 978-602-9346-10-7
Ukuran: 14 x 20,5 cm
Halaman: 424 halaman
Terbit: November 2011
Sophie Mercer dilahirkan dari ayah warlock dan ibu manusia. Namun dia tak mengetahui fakta itu sampai umur 12 tahun, ketika kekuatan sihirnya muncul untuk pertama kalinya. Karena salah merapal mantra di prom, Dewan (tetua bangsa sihir) memutuskan agar Sophie dimasukkan ke Hex Hall, sekolah khusus bagi anak-anak bandel Prodigium, sebutan untuk kaum penyihir, peri, vampir, warlock dan shapeshifter.
Meski awalnya enggan bersekolah disana, namun Sophie mendapatkan banyak pengalaman baru. Pertama kalinya punya sahabat cewek walaupun sang sahabat, Jenna, adalah vampir yang dijauhi satu sekolah. Pertama kalinya juga merasakan dimusuhi tiga penyihir berwajah supermodel dan pertama kalinya naksir sama warlock ganteng, Archer, yang sialnya pacar salah satu penyihir-berwajah-supermodel itu.
In short, life's "good"...life's fun.
Suasana berbalik ketika seorang murid ditemukan terluka parah; terdapat luka berbentuk dua lubang kecil di leher yang tampak seperti bekas gigitan vampir. Hal ini membuat Jenna, sahabat Sophie, menjadi tertuduh. Saat pelakunya belum terungkap, terjadi lagi serangan berikutnya. Kali ini, Dewan memutuskan untuk me-rumah-kan Jenna.
Karena tak percaya Jenna adalah pelakunya, Sophie memutuskan untuk menyelidiki masalah ini.
Tanpa menyadari, bahwa pelakunya justru orang terdekat. Juga bahwa pengungkapan misteri ini akan mengungkap rahasia besar tentang keluarga dan dirinya.
"'Now, Sophia, would you care to tell me why you're here by the pond instead of reporting to your next class?' -Mrs.Casnoff-Saya suka karakter-karakter di buku ini.
'I'm experiencing some teenage angst, Mrs. Casnoff,' I answered. 'I need to, like, write in my journal or something.'" -Sophie Mercer-
Seperti karakter Sophie yang berani dan sarkastik. Sarkasmenya itu yang membuat buku ini enak dibaca. Dan sarkasme itu jadi ironis karena Sophie juga orang yang naif. Singkatnya, dia gak sempurna. And that's good :).
Jenna si vampir yang kesepian mencuri perhatian saya meski belum bisa sayang padanya. Soalnya, Jenna sukarela jadi vampir, eh belakangan malah menyesali keputusannya dan "marah" pada lingkungan yang mendiskriminasinya. Well Jenna, vampire really is different. Don't you know that? Tapi, saya penasaran melihat perkembangan karakter Jenna di buku kedua.
Buat saya, Archer nggak menarik. Okay...dia ganteng,hot, asyik, populer, dll. Tapi dia gak bikin saya tertarik dan malah heran kenapa Sophie segitu naksirnya.
Nah karakter Cal malah bikin saya penasaran. Si pengawas sekolah yang ganteng dan misterius itu lebih menarik buat saya. Cal belum banyak berperan di sini, tapi saya punya feeling nantinya Cal berperan besar.
Untuk tokoh pendukung, kepala sekolahnya, Mrs. Casnoff, menarik. So far imagenya tegas dan gak neko-neko seperti Prof. McGonnagal-nya Harry Potter. Tapi rasanya sih dia gak "selurus" itu.
Saya suka pace-nya yang pas, dalam artian gak terlalu cepat tapi juga gak lelet.
Dan suka juga dengan twist di tengah cerita. Ada yang terprediksi, tapi ada yang enggak. Dan untunglah, endingnya bagus. Bagus karena bikin penasaran buat baca lanjutannya.
“I scowled. Being manipulated has always been one of my least favorite things. Right up there with snakes. And Britney Spears. “Dan yang saya gak suka adalah klisenya (>.<).
-Sophie Mercer-
Magical boarding school. Tokoh utama yang gak tahu apa-apa tentang kekuatannya. Gets on wrong side of popular bitches on day one. Naksir cowok terganteng di sekolah (di hari pertama juga). Sialnya, si cowok itu pacar cewek populer.
D'uh...Unsur kayak gitu ada di hampir semua novel genre YA dan/atau fantasi. Harry Potter, Vampire Academy, Evernight, sedikit Twilight, dll-dst-etc.
Tipikal banget sih :s
Saya bahkan rada bisa memprediksi lanjutan ceritanya. Ini tebakan saya (nanti dicocokkan setelah baca yang ke-2 dan 3) :
- Cal itu ternyata tunangan Sophie. Oya lupa bilang, di dunia Prodigium ada tradisi ditunangkan waktu umur 12 tahun. Cuma tunangan lho, bukan berarti kawin paksa. Trus dia naksir Sophie
- Tapi Sophie tetap suka sama Archer. Karena si Cal tulus, Sophie jadi bimbang
- Ujung-ujungnya, toh Sophie tetep jadian sama Archer juga.
- Sophie gak jadi ketua Dewan. Mungkin aja pada akhirnya dia ikut pemunahan bareng sama Archer.
Hmm...itu sekedar prediksi asal-asalan. Mudah-mudahan salah semua. Semoga ada twist-twist lain nanti.
Pokoknya saya sabar aja nunggu buku ke-2 (Demon Glass) versi terjemahan terbit. Karena, walau pun saya penasaran, tapi gak segitu penasarannya buat cari ebook-nya.
"I opened my eyes to stare at a bright blue tulle monstrosity with a skirt that would hit me at mid thigh. I'd look like the really slutty bride of Cookie Monster."Secara fisik, covernya bagus sih. Dan setelah baca ampe akhir, saya ngerti makna covernya.
-Sophie Mercer-
Tapi klo untuk kesan pertama, saya gak bakal tertarik klo cuma liat cover. Soalnya, buku ini tampak seperti genre teenlit biasa dan bukannya fantasi. Dibutuhkan baca sinopsis dan intip Goodreads sebelum saya memutuskan beli buku ini.
Suka sama pilihan font-nya Ufuk, besar, jelas dan mudah dibaca. Juga terjemahan yang oke karena sarkas dan witty-nya Sophie bisa tersampaikan dengan baik, sama seperti di buku aslinya. Sayang masih ada beberapa kata yang sepertinya lebih bagus tetap dibiarkan dalam bahasa inggris.
So, to summarize it all : cerita yang ringan, santai dengan karakter menyenangkan dan cerdas : 3 bintang. Ditambah 1/2 bintang lagi untuk font dan terjemahan-nya. Total 3,5 bintang. Buku yang saya rekomendasikan untuk dibaca penggemar fantasi :).
Labels:
3 1/2 bintang,
fantasy,
Rachel Hawkins,
Romance,
ufuk
Monday, February 2, 2009
New Moon
Judul Asli : New Moon
Judul Terjemahan : Dua Cinta
Penulis : Stephenie Meyer
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2008
Rating : 3,5 stars out of 5
Bella merayakan ulang tahunnya yang ke 18 bersama keluarga Cullen. Sayangnya, di pesta itu terjadi kecelakaan yang menyebabkan tangan Bella berdarah. Dan Jasper yang baru mulai berdiet pun langsung kalap, walau sempat ditahan anggota Cullen yang lain.
Ternyata, naluri dasar memang sulit dilawan. Walau pun keluarga Cullen bisa menahan diri untuk tidak menyerang Bella, namun ekspresi lapar sekaligus malu di wajah mereka tak bisa ditutupi. Kecuali Carlisle yang tetap tenang karena sudah terbiasa menghadapi darah dalam pekerjaannya sebagai dokter.
Kejadian ini membuat Edward memutuskan akan terlalu berbahaya bagi Bella bila mereka tetap berhubungan. Demi kebaikan Bella, seluruh keluarga Cullen pindah dari Forks. Edward juga turut pergi, memberikan alasan yang menyakitkan hati, bahwa dia meninggalkan Bella karena ada hal lain yang menarik minatnya kini.
Dan dimulailah hari - hari panjang Bella yang hampa dan malam yang penuh tangis. Bella bergerak seperti mayat hidup hingga membuat ayahnya khawatir.
Kondisi ini bertahan selama 5 bulan, hingga Bella bertemu kembali dengan Jacob Black, cowok Indian teman kecilnya.
Jacob yang periang, berani dan nekat mampu mengembalikan senyum Bella dan memberi tawa dalam hari - harinya.
Dia memahami Bella tanpa Bella perlu mengatakannya. Dia selalu ada kapan pun Bella membutuhkannya. Dan dia juga mengerti bahwa Bella masih sangat mencintai Edward.
Ternyata Bella memang magnet penarik bahaya. Ketika sedang berjalan menuju danau di hutan, Bella bertemu dengan Laurent, seorang vampir yang hendak menyerangnya. Bella kemudian ditolong oleh sekawanan serigala besar.
Belakangan diketahui, bahwa serigala besar itu sebenarnya manusia serigala yang merupakan kemampuan khusus yang diwariskan dalam suku Jacob.
Disinilah dijelaskan lebih dalam tentang sejarah antara manusia serigala dan vampir yang merupakan musuh bebuyutan.
Di hari - harinya yang selalu memikirkan Edward, Bella menyadari bahwa saat melakukan tindakan nekat, dia bisa mendengar "suara" Edward yang memberi saran padanya agar tetap aman. (Yah...rupanya rindu yang teramat sangat bisa membuat orang menjadi berdelusi). Dan karenanya, Bella pun senang melakukan olah raga nekat seperti kebut-kebutan dari motor dan terjun dari tebing.
Alice yang punya kemampuan melihat masa depan, melihat Bella terjun dari tebing dan mengira Bella berusaha bunuh diri. Hal ini sampai ke Edward.
Edward, yang mengira Bella telah meninggal, memutuskan untuk pergi ke Volterra, sebuah kota di Itali yang dikuasai keluarga vampir bangsawan Volturi. Tujuan Edward adalah agar keluarga Volturi membunuhnya.
(Bagaimana dan kenapa Edward memutuskan ke sana sebaiknya dibaca langsung di bukunya).
Maka Alice dan Bella pun pergi ke Volterra, berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan Edward. Dan untuk membawa kembali matahari Bella dalam hidupnya.
Saya jauh lebih menyukai buku kedua ini dibanding yang pertama baik dalam versi terjemahan maupun versi asli.
Kisah ketegangannya mengena dan terjaga, meskipun kurang detil .Klimaksnya saat Bella berada di sarang Vampir di Italia pun terasa kurang.
Well..mungkin Stephanie Meyer memang tidak ingin mengumbar kekerasan dan kengerian disana-sini, secara ini novel roman dan bukannya action macam Dracula-nya Bram Stoker.
Gaya penerjemahan di buku kedua ini juga enak dibaca. Terasa mengalir dan kena banget.
Covernya pun menarik. Saya malah lebih suka melihat cover New Moon versi terjemahan yaitu gambar bulan baru. Cocok dengan judul novelnya.
Cover versi USnya sendiri menggambarkan tulip yang koyak dan berdarah. Entah apa maksudnya, karena Stephanie Meyer mengatakan dia tak terlibat dalam pemilihan cover kali ini.
Well...menurut tebakan saya yang sok tahu sih, tulip itu menggambarkan perasaan Bella ke Jacob yang selamanya memang hanya akan kuncup (seperti Tulip), dan bahkan tulip itu pun sudah terkoyak dan berdarah.
Yang sedikit gak sreg dari versi Indonesia adalah judulnya.
Meyer memberi judul New Moon karena "new moon" atau bulan baru menggambarkan satu fase bulan yang berlawanan dengan bulan purnama. Itu adalah saat matahari terletak berseberangan dengan bulan hingga bulan tak terlihat. Malam seperti itu adalah malam yang paling gelap. Ini menggambarkan masa hidup tergelap Bella.
Entah kenapa, GPU menerjemahkan New Moon sebagai Dua Cinta.
Jauh banget ya dengan makna yang dimaksudkan Stephenie Meyer :p
Rating saya 3,5 bintang dari 5 untuk New Moon versi US karena covernya yang standar. Dan 3,5 bintang juga untuk versi terjemahan karena saya masih gak terima dengan penerjemahan judul New Moon menjadi Dua Cinta ;D
Quote of the book:
“Before you my life was like a moonless night. Very dark, but there were stars-points of light and reason. And then you shot across the sky like a meteor. Suddenly everything was on fire; there was brilliancy, there was beauty. When you were gone, when the meteor had fallen over the horizon, everything went black. Nothing had changed, but my eyes were blinded by the light. I couldn’t see the stars anymore. And there was no more reason for anything."
-Edward Cullen-
Saturday, November 15, 2008
Love, Hate & Hocus Pocus
Author : Karla M Nashar
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : pertama,Mei 2008
Tebal buku : 264 halaman
Pengalaman saya dengan Karla M Nashar sebelumnya hanyalah Bellamore. Dan saya gak suka dengan cerita Bellamore yang too dramatic.
Jadi saya sendiri heran mengapa saya memilih Love, Hate & Hocus Pocus di antara sekian banyak metropop baru yang dipajang di toko buku.
Untungnya, pilihan saya tepat.
Love, Hate & Hocus Pocus berfokus pada Troy Mardian dan Gadis Parasayu. Dari sejak pertama bertemu, mereka sudah bermusuhan. Saling melontarkan kata - kata menghina dan juga saling bersaing.
Apesnya, bos menugaskan mereka berdua untuk bekerja sama menangani kasus sabotase yang menimpa Demoticyl, produk terbaru Perusahaan mereka. Dengan segala perbedaan mereka, Gadis dan Troy pun mesti memaksakan diri untuk akur dan bekerja sama.
Menurut Gadis, Troy Mardian itu cowok yang "nggak banget". Dia adalah contoh sempurna tipe manusia yang tercabut dari akarnya. Jelas-jelas asli Indonesia, kok pakai bertingkah ala bule? Ngomong selalu pakai Inggris dan barang-barang harus designer label ternama.
Dan metrosexual-nya itu lho!!!!
Ampuuuunnn..... Cowok kok lebih centil daripada dia yang cewek.
Bayangkan aja, Troy ogah duduk bersandar di kursi karena kebersihan kursi itu tidak memenuhi standarnya! Troy juga bisa panik berat cuma karena dia abis berpanas-panasan yang membuat wajahnya jadi merah dan keringatan, sehingga penampilannya tidak "perfect".
Walo begitu, harus Gadis akui, otak Troy, terutama dalam hafalan data, memang sempurna.
Sedangkan menurut Troy, Gadis Parasayu (atau Paras Ayu) adalah nama terkonyol yang pernah didengarnya. Di Amerika tempat Troy dibesarkan, nggak ada orangtua yang cukup gila menamai anak mereka dengan Beautiful Face Girl. Narsis sekali!
Okelah, wajahnya memang eksotis plus lekuk bodi bak JLo, tapi masa sih doyan banget pakai merek lokal? Keluaran Mangga Dua lagi.
Belum lagi, kesenangan Gadis pada jajanan pinggir jalan. Ya ampuuunn....makanan kayak gitu kan gak terjamin kebersihannya. Kita gak tau, bagaimana piring dan gelas-nya dicuci. Bahkan, apakah bahan makanan itu dicuci dulu sebelum diolah juga gak ketahuan. Si Gadis gak takut kena typhus apa? Hih...cewek kok serampangan gitu!
Walau begitu, Troy mengakui dengan enggan, Gadis memang memiliki otak cemerlang dan kemampuan komunikasi yang baik.
Hanya satu persamaan mereka. Sama-sama nggak percaya dengan yang namanya hocus-pocus, ramal-meramal, paranormal, astrologi, kartu tarot, feng shui, atau apa pun sebutannya yang berhubungan dengan dunia pernujuman.
Bahkan, hanya mereka berdualah yang tertawa ketika mendengar ramalan seorang peramal gipsi yang diundang sewaktu acara pesta di kantor mereka.
Hingga suatu pagi, mereka terbangun dan mendapati diri mereka berada di ranjang yang sama dalam kondisi bugil, plus cincin kawin yang melingkari jari manis masing-masing, serta sepotong memori kabur tentang pernikahan yang mereka lakukan tiga belas hari yang lalu.
Dari sini mulailah bergulir cerita sebenarnya. Bagaimana Troy dan Gadis berusaha menerima dan mengatasi pernikahan gak terduga ini. Bagaimana mereka berusaha menjalani kehidupan bersama yang rasanya seperti mimpi (gabungan antara mimpi buruk dan mimpi indah sih).
Saya salut dengan pengarangnya. Entah bagaimana, dia mampu membuat pembaca juga merasa larut dalam aura mistis dan mimpi yang melingkupi novel ini. Selain itu, dialog antara tokoh - tokohnya terutama Troy dan Gadis juga begitu segar dan mengalir sehingga kita akan merasa seolah ada di situ bersama mereka.
Yang paling membuat saya suka adalah ending ceritanya. Sebagian besar pembaca beranggapan bahwa endingnya mengecewakan. Saya pribadi beranggapan, endingnya itulah yang membuat novel ini berkesan.
I really love this book.
Nice story (jarang kan ada cerita dimana cinta terjadi karena hocus pocus, biasanya kan karena perjodohan), strong character, witty dialogues, and especially unique ending. What's not to like?
So...3 bintang untuk ceritanya secara keseluruhan, ditambah 1/2 bintang untuk endingnya yang keren dan cover bukunya yang cantik.
source pic : energialamsemesta
Wednesday, February 9, 2005
Fairish
"Lo pura-pura jadi pacar gue ya, Rish? Biar gue nggak dikerubutin cewek-cewek centil itu." pinta Davi
."Tapi... konsekuensinya. Dav." ujar Irish pelan.
"Elo punya cowok?" Kali ini ganti Davi yang tersentak kaget."Atau... lagi ada yang elo suka?"
Irish buru-buru geleng kepala. "Bukan gitu. Kalo mereka nyangka kita beneran..."
"Biarin aja. Bagus malah!" Davi menggenggam kedua tangan Irish. "Ntar klo ada cowok yang lo suka, lo boleh pergi."
Permintaan Davi emang aneh. Dia minta Irish pura - pura jadi pacarnya supaya gak ada lagi cewek yang ngejar dia. Karena dia anti sama cewek. Awalnya Irish ragu, tapi akhirnya diterima juga. Lagipula dia menikmati kok jadi satu - satunya cewek yang dekat sama Davi. Tapi, Irish musti rajin - rajin ngingatin hatinya supaya jangan berharap. Karena Davi cuma butuh pertolongannya. Dan akhirnya Irish berhasil. Dia tiba pada hari dimana perasaannya ke Davi udah tawar dan menganggap sandiwara mereka cuma sebuah permainan yang lucu.
Irish memang gak secantik Menur yang kembang SMU mereka, juga gak setajir Metha yang anak direktur. Dia cuma cewek mungil yang biasa aja. Di sekolah juga namanya gak terkenal. Karena itu Davi pikir dia gak akan naksir beneran sama Irish. Tapi...kenapa lama kelamaan dia suka banget mengenang kembali saat - saat bersama Irish? Merasakan damai bila gadis itu bersamanya. Kenapa perasaan itu justru muncul di saat Irish tampaknya mulai menikmati sandiwara mereka dengan wajar? Davi baru sadar betapa terlambatnya dia sewaktu ada cowok baru bernama Alpha yang sukses merebut perhatian Irish. Apalagi Alpha anaknya ceria dan rame, jauh beda dengan dia. Sekarang, Davi musti berusaha untuk menarik Irish kembali padanya. Sayangnya, dia terbentur pada janji yang diucapkannya sendiri.
Gua suka nih buku
Wednesday, February 2, 2005
Gege Mengejar Cinta
Are you gonna stay with the one who loves you or are you going back to the one you love?
Pertanyaan di atas yang jadi tema sentral novel ini. Menceritakan tentang Gege yang bingung di antara 2 pilihan. Antara Caca, si cinta abadinya dari SMP ato Tia, sahabatnya sekarang.Wajar emang klo Gege lebih milih Caca. Gimana pun juga, dia udah lama banget ngejar Caca. Demi Caca lah, Gege berusaha jadi pria yang baik, yang gak malu - maluin, yang bisa dibanggain sama Caca. Demi Caca juga, Gege rela nelponin kedutaan Indonesia di Budapest demi melacak jejaknya. Dan bertemu kembali dengan Caca setelah sekian tahun berpisah rasanya seperti sebuah keajaiban dan anugerah buat Gege. Dengan semua alasan itu, sudah sepantasnya donk klo Gege milih Caca. Tapi...klo gitu kenapa Gege selalu menyebutkan nama Tia ya? Bahkan saat dia bersama Caca sekali pun. Jadi...si Gege suka yang mana? Hehehe...baca aja ndiri!
Adhitya Mulya, pengarang novel ini, adalah seorang penulis novel komedi. Jadi bisa dipastikan, dalam buku ini loe bakal nemu gaya humor yang oke dan gak basi ! Ceritanya juga gak berbelit - belit. Langsung ke inti, padat dan jelas! Dan adegan klimaksnya seru banget! Plus gokil. Ngalahin serunya kejar - kejaran di bandara versi AADC. Kok ya bisa - bisanya kepikir ampe kayak gitu?
Satu lagi yang gua suka dari buku ini tuh covernya. Terlihat gak makna awalnya, tapi setelah baca bukunya pasti ngerti kenapa covernya kayak gitu. Mungkin satu hal yang berasa kurang dari buku ini tuh endingnya ya. Menggantung dan kok cuma gitu aja? Setelah adegan klimaks yang demikian heboh, endingnya jadi terasa datar. Tapi itu penilaian subyektif dari gua sih. Gimana pun juga, penentuan ending adalah hak istimewa pengarang toh!
Subscribe to:
Posts (Atom)