Showing posts with label Teenlit-Young Adult. Show all posts
Showing posts with label Teenlit-Young Adult. Show all posts

Thursday, February 7, 2013

Pushing The Limits

Judul : Pushing The Limits
Penulis : Katie McGarry
Penerbit : Harlequin Teen
Tahun Terbit 2012
Format : Ebook

 Sometimes it takes only one night to turn your life upside down...

Echo Emerson tampak memiliki segalanya : cantik, cerdas, bakat besar di bidang melukis, termasuk geng siswa populer dan berpacaran dengan seorang bintang basket di SMU mereka.
Namun dalam satu malam semuanya berbalik 180 derajat.
Echo tak ingat apa yang terjadi pada malam menentukan itu. Yang pasti dia terbangun di rumah sakit dengan luka besar di lengannya serta informasi bahwa sang ibu kandunglah pelakunya. Ketika dia kembali ke sekolah, sudah beredar gosip bahwa dia mencoba bunuh diri dan berakibat pada pengucilan Echo. Saat ini yang Echo inginkan hanyalah kembali hidup normal dan itu hanya bisa didapat bila dia bisa mendapatkan memorinya lagi.

Dalam satu malam juga hidup Noah Hutchins berubah drastis.
Tadinya dia adalah bintang basket dengan prestasi akademis bagus dan keluarga harmonis. Namun kebakaran menewaskan kedua orang tuanya dan membuat Noah serta kedua adiknya harus ditempatkan dalam rumah asuh. Karena suatu insiden, Noah ditempatkan di rumah asuh yang berbeda dengan kedua adiknya, hak berkunjung pun dibatasi. Saat ini yang diinginkan Noah hanyalah segera lulus dan mendapatkan hak asuh kedua adiknya.

Berkat campur tangan Mrs. Collins (school conseulor), mereka berdua dipertemukan. Echo perlu uang untuk memperbaiki mobil Aires. Noah butuh bimbingan supaya dia lulus tepat waktu.
Dan dua individu yang terkucil ini menemukan kesamaan di diri satu sama lain. Mereka pun berjanji untuk saling membantu menipu Mrs. Collins demi mencapai "tujuan" mereka.
Akankah rencana  itu berhasil?

Saya membaca buku ini tanpa ekspektasi apa-apa. Yap, saya tahu ratingnya tinggi di Goodreads. Tapi somehow, sinopsis dan covernya tidak membuat saya tertarik.
Ternyata saya sangat menikmati bacaan saya kali ini. And here's why :

1. The Story

Yang saya suka adalah, saya ngerasa bisa "percaya" sama cerita ini. Konflik batin yang dihadapi Echo dan Noah untuk menemukan kembali sedikit dunia lama mereka bisa saya pahami.

Emang sih, agak ngeselin liat betapa pengennya Echo diterima lagi oleh geng popularnya. Padahal dia tahu kalo sebagian besar teman itu meninggalkannya saat dia jatuh. Kok ya masih aja dia mo berusaha untuk masuk kembali ke lingkungan populer itu? Kalo saya sih bakal ngambil sikap : "This is me. Take it or leave it."
Lalu saya teringat kayak gimana situasinya di SMU dulu, gimana pentingnya acceptance di pergaulan. Masa sekolah saya tergolong cukup normal, jadi saya kurang paham perasaan Echo. Tapi saya bisa kebayang gimana gak enaknya dikucilkan. Dan karenanya saya bisa ngerti usaha dia untuk diterima kembali.

Dan Noah...wow...saya malah lebih bisa "relate" dengan inner conflictnya.

See...satu hal dari Echo adalah : at least people in her life still there after "that" incident. Yep things had changed, but no one's dead in her case. And for me, as long as the people still alive then there would always a chance to make things right again. No matter how small that chance is, but it still exists somehow.
"They’d never know that they lost the two most amazing people on the face of the planet. They’d never know how the loss had torn me up every single day of my life."
-
Noah Hutchins-
But Noah is a whole different case.
After that day, he practically lost everything : his parents, his stable life, his future.
Dan yang paling menyakitkan bagi Noah adalah kenangan.
Kenangan akan masa indah yg sudah lewat dan gak bakal bisa kembali. Kenangan akan orang menakjubkan yang sayangnya gak akan dikenal oleh orang banyak. Dan yang paling pahit bagi Noah adalah kedua adiknya tidak mengingat orang tua mereka.

Boy, I know that feeling very well.
My younget brother still a little kid when dad had passed away. And I really want him to know more about this greatest person on earth which is our dad.
Saya ngerti banget kenapa Noah selalu bercerita tentang orang tuanya pada kedua adiknya. Alasan yang sama yang bikin Noah pengen banget tinggal bareng adiknya seperti dulu. Supaya ada perasaan semuanya masih tetap sama dan bahwa orang tua mereka akan selalu "diingat".

Saya gak bilang itu pilihan yang bijaksana. Tapi saya ngerti godaan untuk memaksakan "memori tentang orang tersayang" ke orang lain. So I could relate to Noah well.

2. Gaya Penulisan
Well...sebenernya sih ada sedikit masalah dengan gaya penulisan McGary yang suka repetitif itu. Misalnya tentang deskripsi fisik dan karakter Echo & Noah yang itu-itu aja dan diulang melulu (_ _").
Tapi untungnya, di Pushing The Limits McGary bercerita dengan gaya POV 1 dari sisi Noah dan Echo bergantian. Dengan begini, saya lebih bisa mengerti perasaan dan pikiran Noah dan Echo.

3. Karakternya

Saya suka cara penulis membuat karakter dua tokoh utamanya. There are so many layers inside of them.
“Are you ready to take the ACT on Saturday?" my father asked.
Did chickens enjoy being put on trucks labeled KFC? "Sure.”
- Echo Emerson-
Pada awalnya, Echo terlihat sebagai gadis cerdas nan sinis sementara Noah...yah...tipikal remaja tukang madat nan playboy. In some ways, they're unpleasant to be with :).

Tapi saat cerita berlanjut, kita dibawa untuk membuka lapisan lebih dalam dari Echo dan Noah. Ternyata, mereka hanyalah dua manusia pahit yang pernah punya masa depan cerah dan saat ini selalu menyesali semua yang telah hilang. Bisa dipahami kalo mereka jadi pahit ketika semua itu terenggut paksa.
“The worst type of crying wasn't the kind everyone could see--the wailing on street corners, the tearing at clothes. No, the worst kind happened when your soul wept and no matter what you did, there was no way to comfort it. A section withered and became a scar on the part of your soul that survived. For people like me and Echo, our souls contained more scar tissue than life.”
-Noah Hutchins-
Tepat seperti itulah mereka. Dua orang yang menangis dalam diam, namun terluka paling dalam. Dan McGary mampu menyampaikan kesedihan Echo dan Noah dengan sangat baik hingga saya turut merasakan those silent tears.

Namun bukan hanya 2 karakter utama saja yang menarik.
Saya juga suka dengan Mrs. Collins, counselor mereka. Berkat Mrs. Collins lah Echo dan Noah berani belajar untuk percaya lagi. Senang mengetahui ada sosok dewasa yg membimbing mereka.

Lalu ibu tiri Echo.
See...selama ini kita mengenal sang ibu tiri hanya via narasi Echo, so naturally kita pun sepaham dengan Echo. Belakangan saya sadar betapa salahnya membuat asumsi tanpa melihat dari sisi lain :D.
“I wrote about the person I love most, my older brother, Noah. We don't live together so I wrote what I imagine he does when we're not together."
"And what is that?" prodded the stout man.
"He's a superhero who saves people in danger, because he saved me and my brother from dying in a fire a couple of years ago. Noah is better than Batman."
-Jacob Hutchins on his winning speech-
Dan kedua adik Noah, terutama Jacob. They both stole my heart. Kedua adiknya inilah yang mencegah Noah dari kehancuran total.
Saya terharu sewaktu melihat betapa Jacob masih begitu percaya dan sayang sama Noah bahkan setelah semua yang terjadi. We all need at least someone who would trust us 100%, no matter what had happened. Glad for Noah because he has that.

4. Character Development

Ini juga satu aspek yang bikin buku ini "juara" buat saya. Karena Echo dan Noah yang ada di awal buku sungguh berbeda dengan yang di akhir.

Echo dan Noah berkembang di sepanjang buku ini, tapi perkembangan itu tidak terjadi secara instan. Gak ada satu peristiwa drastis yang memaksa mereka untuk langsung "berubah". Sebaliknya, McGary memintal adegan demi adegan, merangkai kata demi kata sehingga character development-nya Echo dan Noah terasa believable dan gak maksa.
"We all started off this way—small little bundles of joy. Me, Aires, Noah, Lila, Isaiah and even Beth. At some point, someone held and loved us, but somewhere along the way, it all got screwed up."
-Echo Emerson-
Kalimat itu emang gak begitu berkesan dibanding kutipan lain dari buku ini, tapi kalimat itu yang bikin saya ngeh betapa jauh seorang Echo berubah. Betapa Echo kini belajar melihat hal dari perspektif berbeda.
“Why is it when people are proud of me that my life sucks?” - Noah Hutchins-
“Because growing up means making tough choices, and doing the right thing doesn’t necessarily mean doing the thing that feels good.” -Mrs. Collins-
Saya gak mau bahas banyak tentang character development Noah di sini. Tapi kutipan itu semestinya cukuplah memberi tahu perubahan Noah.

5. Endingnya
“It doesn't get better," I said. "The pain. The wounds scab over and you don't always feel like a knife is slashing through you. But when you least expect it, the pain flashes to remind you you'll never be the same.”
-Noah Hutchins-
Satu bintang lagi untuk ending buku ini. Endingnya tipe kesukaan saya.
Not the kind of ending that full of sweet stuff, sunshine and roses. It's the kind of ending which told us that there are still lots of hard work ahead for Echo & Noah in terms of working through issues. But you could be sure that they would overcome whatever happens together. And that is enough :).

Kalo ada kekurangan buku ini, itu adalah rasa asing saya dengan konsep instalove-nya Echo dan Noah.
Dari sejak bertemu, langsung ada ketertarikan antara Echo dan Noah yang terus bertumbuh hingga akhir buku. Sebut itu semau anda : love at first sight, special sparks, chemistry, apapun itu. Pokoknya, saya sangsi dengan hal semacam itu. Tapi mungkin itu hanya saya sih.

Dan...sebenarnya saya heran. Sewaktu Echo dikira terluka karena mencoba bunuh diri, kenapa dia malah dikucilkan oleh teman-temannya ya? Kenapa gak ada yang simpati? What kind of cynical society we've build now? But put it aside...
Pushing The Limit tells us about many things. It's about how important it is to accept your self first before you could seek for society acceptance. It's also about learning to see each problem from different side of view.
And mainly : it's about keeping forward. No matter how bad your life is now, how deep in shit you are, just keep forward, keep moving. Because something better might come along later.

It's the kind of book that gave me heart wrenching feeling in some places, made me shed both happy and sad tears at several points in the story, but it was all worth it in the end. I finished this book smiling peacefully and hugging my ereader in bliss.

Five shiny stars for this book.

Wednesday, December 26, 2012

Book Kaleidoscope 2012 - Top Five Book Boy Friends







Tahun 2012 akan segera berakhir. Dan seperti tahun lalu, kali ini saya juga bakal posting Top Five Book Boy Friends.

Untuk saya pribadi, ada perbedaan antara event tahun ini dan tahun lalu. Kalo tahun lalu saya membuat Top Five Book Boy Friends of All Time, maka tahun ini saya mengkhususkan hanya pada buku-buku yang saya baca di tahun 2012 ini.

Lalu untuk tahun ini, event Book BoyFriends ini tergabung dalam proyek Book Kaleidoscope 2012 milik Mbak Fanda. Dalam Book Kaleidoscope ini tidak hanya ada kategori Best Book BoyFriends, tapi juga Best Book Covers dan Most Favorite Books.

Setelah mendaftarkan diri ikutan event ini, baru saya melihat buku yang sudah saya baca sepanjang 2012 di Goodreads dan baru nyadar kalo kebanyakan buku yang saya baca tahun ini tuh non fiksi. Dan sekalinya fiksi pun, lead male-nya kurang berkesan (_ _"). Untungnya, saya masih bisa milih 5 di antaranya. And without further ado, here they are (in alphabetical order) :


1. Alex Sheathes dari Delirium Series

Alex, remaja bebas pemberani yang mampu meyakinkan Lena untuk menerjang tembok pembatas dan mengenalkannya pada dunia baru. Alex yang mampu membuat Lena percaya diri. Alex yang tak pernah berhenti mendukung dan selalu mendengarkan curahan hati da kegelisan Lena. Dan Alex yang selalu melindungi Lena bahkan dengan nyawanya sekali pun. What's not to like from this character?
“You can build walls all the way to the sky and I will find a way to fly above them. You can try to pin me down with a hundred thousand arms, but I will find a way to resist. And there are many of us out there, more than you think. People who refuse to stop believing. People who refuse to come to earth. People who love in a world without walls, people who love into hate, into refusal, against hope, and without fear.
I love you. Remember. They cannot take it.”
Untuk versi real life-nya, saya harus ngaku kalo saya buruk dalam hal pemilihan aktor. Saya gak tahu banyak aktor soalnya.
Tapi sesuai dengan deskripsi Alex Sheathes yang "His hair is golden brown, like leaves in autumn just as they're turning, and he has bright amber eyes"  maka saya memilih dia :

Yep...dia adalah Shiloh Fernandez. What do you think?

2. Augustus Waters dari The Fault In Our Stars

Ah...masihkah Augustus Waters perlu diperkenalkan pada khalayak kutu buku? Saya yakin, namanya akan cukup banyak muncul dalam list Top Book Boyfriend tahun ini.
“Oh, I wouldn't mind, Hazel Grace. It would be a privilege to have my heart broken by you.” - Augustus Waters-
Kalo harus menunjuk tokoh paling optimis di buku yang saya kenal sepanjang 2012 ini, maka Augustus lah jawabannya. Dia mantan penderita kanker memang, tapi semua orang juga tahu bahwa yang namanya kanker selalu ada kemungkinan kambuh lagi.
Apa pengetahuan ini membuat Augustus jadi pesimis dan "pahit"? Sama sekali tidak.
Dia tetap menjalani hidupnya dengan riang dan berani. Semangat hidup August, kemampuannya untuk berpikir out-of-box, optimismenya pada kehidupan dan supportnya pada Hazel membuat saya memasukkannya dalam daftar Top Five Book Boyfriends versi saya tahun ini, dia bahkan bisa masuk ke kategori all time. That shows how much I love him.
(PS: Eh baru nyadar kalo belum ngereview bukunya :D)
“You don't get to choose if you get hurt in this world...but you do have some say in who hurts you. I like my choices.”- Augustus Waters-
 Siapa aktor yang cocok berperan sebagai Augustus?
Jujur...saya susah banget ngebayangin siapa yang cocok. Tapi gimana kalo ini :



Yep...dia adalah Andrew Garfield. Okeh...dia mungkin ketuaan untuk jadi remaja 17 tahun, tapi...tapi...dia begitu ganteng (eaaa....fangirlingnya kumat), dan jahil dan slengean.


3. Beno Wicaksono dari Twivortiare

Sebenarnya tipe cowok lempeng dan datar kayak Beno bukanlah tipe favorit saya.
Jadi apa yang membuatnya masuk dalam Top Five? Lebih karena karakternya yang family man dan bertanggung jawab banget.
Di sela-sela kesibukannya sebagai dokter bedah thoraks, Beno selalu mencari waktu untuk menunjukkan pada Alexandra (istrinya) bahwa dia mencintainya. Beno emang pembuktian nyata dari kalimat : "Just because someone doesn't love you the way you love him to, doesn't mean he doesn't love you with everything he has." Kalimat lama yang sudah pasaran banget tapi toh terbukti kebenarannya. Thanks for reminding me about that words, Ben.

Mengenai versi orangnya, hmm....penulisnya sendiri sih bilang Ari Sihasale yang paling cocok untuk peran ini (kalo gak salah ingat yaaa). What do you think? Does he fit?
Mungkin penulis melihat dari brewoknya kali yaa.
Kalo buat saya sih, lebih pengen menominasikan Reza Rahadian (semua karakter di film Indo emang suka saya bayangkan sebagai Reza kok). Etapi Reza Rahadian cocok gak sih jadi karakter pendiam nan lempeng?
 "Lex, dulu kamu pernah minta aku janji bahwa aku nggak akan melepaskan kamu apa pun yang kamu bilang atau minta ke aku. So this me not letting you bail, Sayang. This is me not letting you go. Okay?" -Beno Wicaksono-

4. Gerry Kennedy dari P.S.I Love You


Apa yang kamu harapkan dari seorang pasangan hidup?
Seorang yang tidak hanya bisa menjadi kekasihmu tapi juga bisa menjadi sahabat terbaik? Someone that could make you feel like you're home whenever you're with him/her? Someone that always makes you feel loved? Someone that you could always turn to when the going get tough?
Itulah tepatnya arti seorang Gerry bagi Holly.
Apa yang membuat Gerry lebih istimewa lagi?
Surat yang dikirimkan Gerry kepada Holly bahkan sampai 10 bulan setelah Gerry meninggal. Many guys could tell their woman that they love her, many guys could prove it too. But not many guys who could prove it to their woman after they passed away. Dan satu hal lagi yang menarik, karena surat-surat itu menjadi kekuatan Holly dalam menghadapi hidup setelah ditinggal Gerry.
Wow...he really is someone she could turn to anytime.

Buku ini telah difilmkan dengan Gerard Butler sebagai Gerry Kennedy.
What can I say? I looovveee Gerard Butler.
Berhubung filmnya saya tonton setelah baca bukunya (iyaaa...saya emang baru nonton filmnya tahun ini juga), maka jujur saya sih gak bisa ngebayangin sosok Gerard saat baca bukunya.
Tapi waktu nonton, it feels that he fits the role.
 "What do you want? I know what I want, cause I'm holding it in my hands."
-Gerry Kennedy,
while holding Holly by the shoulders-


5. Hunter Zaccadelli dari My Favorite Mistakes
 “I don't like you. I don't like how your hair smells, and how I can't stop thinking about waking up and seeing your face. I hate how my bed felt empty when you left. I don't like how good you were with my family, especially Harper, and how I wanted ot see you with them again, but not just as a guest. As a member. You're right. I don't like you at all.” -Hunter Zaccadelli-
Secara penampakan fisik, Hunter emang tipe bad boy. Punya tattoo, pake anting, you name it lah. Tapiii di luar itu, Hunter juga pinter masak (wow), jago main gitar daann jago nyanyi.
Tapi yang bikin Hunter masuk dalam top 5 bukan cuma karakteristik di atas.
Yang bikin Hunter stands out buat saya adalah kesabaran dia menghadapi Taylor (ceweknya). Dia tahu kalo Taylor punya trauma tertentu yang bikin cewek itu susah percaya sama orang asing apalagi cowok. Jadi satu-satunya cara bagi Hunter untuk bisa mendapatkan Taylor adalah dengan mendapatkan kepercayaannya. And that's what he did.
Yang saya suka juga, Hunter itu gak gombal. Gak ada janji setia sehidup semati yang dia bilang. Gak ada juga segala kalimat till-death-do-us-part. Tapi dengan caranya sendiri, Hunter bisa meyakinkan Taylor bahwa dia serius.
“I can't promise not to make you mad. I can't promise that I won't hurt you. All I can promise is that I want you in my life, and I'll do anything to keep you there.” 
-Hunter Zaccadelli
Yeaa..,yeaaa...I know it's cheesy, but that is the kind of cheesiness that I like.

Dan soal romantis? Kurang romantis apa sih kalo ada cowok yang ngomong kayak gini ke ibu kamu:
“You're not just doing that to impress her, are you?"
"Everything I do is to impress her. It's my mission in life," he said with a completely serious face, while he squeezed my knee under the table.
Hmmm....sapa ya yang cocok jadi Hunter? *garuk pala*
Jujur aja, menurut saya sih cowok di cover itu udah pas. Saya juga ngebayangin yang mirip di cover kok selama membaca bukunya.
Tapi kalo harus milih, what about this one :

Dia adalah Wentworth Miller. Yaaa...emang lagi-lagi ketuaan sih buat jadi Hunter *garuk kepala lagi* *tapi gak ketombean lho* #pentingabis
Tapi imagenya Aa Wentworth ini cocok buat jadi Hunter.

Dan itulah top 5 book boyfriend saya untuk tahun ini. Jujur aja, ada di antara mereka yang sepertiya gak akan masuk top 5 versi saya seandainya saya punya pilihan lain. Tapi dari pilihan yang ada tahun ini, this is the best for me.
Gimana dengan kamu? Siapa top 5 book boyfriend/girlfriend-mu? Sharing yuk.

Oiya kalo mo liat top 5 book boyfriend versi blogger lain, silakan cek masterpost event ini di blognya Mbak Fanda.  

Wednesday, December 19, 2012

Always You

Judul : Always You
Penulis : Kirsty Moseley
Genre : Young Adult
Rating : 1 of 5 stars


Tiap abis kasi 1/2 - 2 star review ke sebuah buku, saya jadi penasaran pengen baca buku lain karya pengarang tersebut. Pengen tahu aja buku berbintang rendah itu apa karena saya beneran gak satu selera dengan pengarangnya ato cuma kebetulan buku itu aja yang saya gak suka.

Begitu juga dengan Kirsty Moseley ini. Buku pertamanya yang saya baca kurang memuaskan, tapi saya bisa melihat ada potensi di sana. Maka dengan semangatnya saya mulailah membaca buku ini, dan ternyata...

Okeh...sebelum saya mulai ngoceh gak jelas, mending saya kasi tau dulu ceritanya kayak gimana. Some spoilers here, so beware.

Riley & Clay sudah bersahabat dari kecil. Clay yang playboy tapi guanteng abis itu sebenarnya naksir Riley dari dulu, tapi si RIley gak nyadar. Semua berubah setelah Riley liburan sebulan dan gak ketemu Clay sama sekali. Saat itu dia mulai merasakan perubahan perasaannya pada Clay.

Awalnya Riley denial dengan perasaannya ini, bahkan waktu mereka udah making out sekali pun. Sampe akhirnya Clay mengakui kalo dia udah cinta Riley dari dulu. Thus dimulailah hubungan mereka.
Apa konfliknya?

Konfliknya ada pada Blake, mantan senior Clay di klub football dulu. Blake & Clay dulunya bersaing di tim football, dan sekarang mereka bersaing memperebutkan hati Riley. Ketika Riley memilih CLay, Blake pun gak rela. Dia berubah jadi stalker bahkan sampe ke titik dia nekat menculik Riley.

Udah segitu aja ah sinopsisnya. Males kasi cerita lebih panjang #eh

Kesan setelah baca buku ini? Hampir sama dengan kesan setelah baca The Boy Who Sneaks in my Bedroom Window, kecuali bagian judulnya itu.

Sama kayak di The Boy Who Sneaks in my Bedroom Window (TBWSimBW), covernya masih keren. Dan kali ini lebih jelas lah maknanya apa.

Tapi sama kayak di TBWSimBW juga, kalimat-kalimatnya terlalu cheesy. Kalo di buku sebelumnya, kata "hot ass" paling sering muncul, dibuku ini 3 kata "i-love-you" lah yang paling mendominasi. Serius, mulai bab 8, 3 kata itu bisa ditemukan minimal 1 di TIAP HALAMAN! Saying i-love-you is nice and sweet, but overdo it and you'll look like a freak.

Kalimat cheesy nan gombal lain gak perlu lah saya tulis di sini. Cukuplah dipahami bahwa kalo di TBWSimBW saya khawatir kena diabetes, di buku ini saya malah mual banget saking udah kebanyakannya disuguhin yang manis tapi garing.

Oh dan jangam lupakan grammar mistakes yang udah ada di buku sebelumnya dan ada juga di sini.
Saya bukan native english (iyaaa...ngakuuu....english saya kacrut abis), tapi bahkan dengan kadar kacrut saya pun saya merasa terganggu dengan grammar mistakes di buku ini.

Ceritanya pun....gak realistis.
Idenya sih lumayan, tentang 2 sahabat yang kemudian saling jatuh cinta. Oh...I know that kind of story very well. Tapi apa Riley dan Clay beneran sahabat? Entahlah. Kadang susah dibedain apa mereka beneran sahabat ato bestfriends with benefit.

Contohnya :
- di buku ini gak perlu lagi sneak through window, karena orang tua Riley dengan pengertiannya mengijinkan Clay nginap di kamar Riley sejak mereka kecil.
Okeh...saya juga punya sahabat cowok dari SD, dan udah gak terhitung berapa kali kami nginap bareng.
Tapi sejak kami kelas 5 SD pun, kami udah gak diizinkan tidur sekamar, apalagi seranjang kecuali mendesak.

- bestfriends tapi hobinya bikin hickey dengan alasan "marking teritorry"? That's weird.

- bestfriend tapi pelukannya sampe rada digendong dan kaki melingkari pinggang cowok? Really weird.

- bestfriend tapi making out to the point of dry hump? Jeez...what's wrong with you two?

- ada adegan Riley, Clay dan teman-teman mereka weekend getaway ke Vegas dan bokapnya Riley dengan santainya kasi US$ 100 dengan pesan dihabiskan di casino. Serius? Ngasi USD 1000 ke anak 17 tahun cuma buat dihabiskan di meja judi? Ditambah Clay dengan kebetulannya memenangkan USD 170.000 di mesin blackjack. Whaaatttt??? Bahkan penjudi senior juga belum tentu seberuntung itu. Beginner's luck? Maybe....but just too much.

- Spoiler nih ya : nanti Riley dan Clay nikah di Vegas. Dan bukannya freaking out besoknya, keduanya malah girang dan berpikir untuk serius membangun rumah tangga. Termasuk ampe nyari apartemen sendiri and bla bla bla. Heu??? 17-18 tahun???
Again...saya tahu itu mungkin.
Tapi...too much.

Masih banyak daftar keanehan yang sulit diterima otak saya yang cetek ini, tapi sudahlah. Lagi gak mood ngoceh panjang (segini gak panjang, wi?)

Sebenernya ada beberapa scene yang "kena" di buku ini, contohnya waktu Riley berusaha meyakinkan Clay bahwa dia menerima Clay apa adanya sekali pun dia lumpuh nanti (ups...spoilerkah ini?). Sayang, bukannya fokus di scene bagus semacam itu, Moseley malah memilih berfokus di adegan making out yang bertaburan di buku ini. Is this some kind of a soft porn?

Ada 1 hal yang bisa saya sukai dari buku ini, yaitu character developmentnya. Riley yang ada di halaman awal dengan Riley di bab terakhir sungguh pribadi yang jauh berbeda. Kedewasaan dan ketangguhannya terasa.
Untuk Clay sih gak terasa perubahan signifikan. Tapi emang sebanyak apa sih karakter yang dari awal diplot manusia sempurna bisa berkembang lagi?

Lalu sekarang, apakah saya tertarik membaca buku Moseley yang lain?
Hmm...gak tahu kalo nanti berubah ya, tapi untuk sekarang sih rasanya cukup 2 ini sajalah.

Thursday, November 8, 2012

Friday's Recommendation #5 : The Boy Who Sneaks In My Bedroom Window

Hari Jum'at lagiiiii....
Artinya waktu untuk Friday's Recommendation. Yaiiiyyyy \(^_^)/


Buku yang saya rekomendasikan untuk diterjemahkan kali ini adalaaahhhh.....


 

The Boy Who Sneaks In My Bedroom Window
Kirsty Moseley
Genre: Teenlit, Romance
Sinospsis:

 Amber Walker and her older brother, Jake, have an abusive father. One night her brother's best friend, Liam, sees her crying and climbs through her bedroom window to comfort her. That one action sparks a love/hate relationship that spans over the next eight years.

Liam is now a confident, flirty player who has never had a girlfriend before. Amber is still emotionally scarred from the abuse she suffered at the hands of her father. Together they make an unlikely pair.

Their relationship has always been a rocky one, but what happens when Amber starts to view her brother's best friend a little differently? And how will her brother, who has always been a little overprotective, react when he finds out that the pair are growing closer? Find out in The Boy Who Sneaks In My Bedroom Window.

Saya sudah pernah mereview buku ini di sini
Saya memang cuma kasih 1,5 bintang di review itu. Tapi menurut saya, buku ini punya potensi bagus untuk diterjemahkan. Kalo sasarannya anak remaja (sekitar SMU gitu) pasti suka sama buku ini dan menganggap Liam James tipe cowok impian banget. Dan seandainya saya baca buku ini waktu remaja, kemungkinan saya juga kasi 5 bintang kok. (Iyaaa.....tante-tante emang gak semestinya baca bukunya ABG kok ;p) *tapi saya bukan tante lho*

Lagipula buku ini salah satu nominator Goodreads Award 2012 lhoo. Artinya ratingnya bagus kaann

Gimana dengan kamu?
Punya buku menarik untuk direkomendasikan? Kalo ada, yuk gabung di Friday's Recommendation-nya Ren. Yuk main ke blognya Ren dan baca rekomendasi teman-teman yang lain.


Oya kalo berminat ikutan, sila baca rules-nya Friday's Recommendation

1. Pilih jenis rekomendasi buku. Ada dua jenis rekomendasi, yang pertama dan sifatnya mutlak adalah Rekomendasi Buku untuk Diterjemahkan . Jika tidak ada buku yang direkomendasikan untuk diterjemahkan, maka bisa memilih pilihan kedua, Rekomendasi Buku Pilihan. Disini rekomendasikan buku yang paling kamu suka baca dalam minggu ini.
2. Pilih hanya 1 (satu) buku untuk direkomendasikan. Tidak boleh lebih.
3. Beri sinopsis, genre buku dan alasan kenapa kamu merekomendasikan buku itu.
4. Posting button meme (dengan gambar kucing lucu X) ) di bawah ini :


5. Blogger yang sudah membuat memenya, jangan lupa menaruh link ke blog di daftar linky di bagian paling bawah post ini, sehingga pembaca bisa blog walking.
6. Untuk pembaca blog yang tidak punya blog, bisa menulis rekomendasinya di kolom komen.
7. Bahasa yang dipergunakan terserah. Jika memang khusus blog yang menggunakan bahasa Inggris, dipersilakan menulis dengan bahasa Inggris. Begitu juga sebaliknya.

Thursday, October 18, 2012

The Boy Who Sneaks in my Bedroom Window

Data Buku :

Judul : The Boy Who Sneaks in my Bedroom Window
Penulis : Kirsty Moseley
Published : April 2012
ISBN13 : 2940033206711
Bahasa : Inggris
Format : ebook

Amber dan Jake punya ayah yang abusive. Suatu malam, saat Amber menangis di tempat tidurnya setelah dipukuli sang ayah, datang seorang bocah lelaki yang menenangkan tangisnya dan menemaninya tidur sampai pagi. Bocah itu adalah Liam, tetangga sebelah rumah juga sahabat Jake.
Cerita maju 8 tahun kemudian.
Orang tua Amber telah berpisah setelah si ayah mencoba memperkosa Amber (untunglah bisa digagalkan oleh Jake dan Liam). Kejadian itu meninggalkan trauma pada Amber. Dia tak nyaman dengan sentuhan bahkan dari teman ceweknya sekali pun. Anehnya, trauma ini tak berlaku pada ibu, Jake dan Liam.
Bahkan, selama 8 tahun ini dia selalu tidur bersama Liam (tidur beneran lho). Singkatnya Amber sama Liam jadian.
Dan dimulailah hubungan mereka yang manis itu.
Konflik utama muncul ketika ayah Amber kembali dan ingin mengganggunya lagi.

Saya pengen banget kasih bintang yang lebih tinggi untuk buku ini. Swear, pengen banget. Tapi setiap saya bisa memaafkan satu kekurangannya, maka muncul lagi segebung kekacrutan di buku ini yang bikin saya #tepokjidat.

Ayo kita bahas! (btw ini bakal panjang banget lho, FYI aja sih).

1. Judul
Dimulai dari judulnya yang panjang buanget itu. Okelah...judul panjang sih gak papa. Masih ada buku lain yang judulnya lebih panjang (eh iya kan ya?). Buat saya sih, masalahnya ada di arti judul itu sendiri. Dari judul itu aja, pembaca udah tahu ceritanya bakal tentang apa. (Q: Tentang cowo yang nyusup lewat jendela kan? A: MENURUT NGANA?). Udah saingan sama koran erotis deh dari segi "kejelasan" ceritanya.
Kayak gini contohnya :
Image and video hosting by TinyPic

Ato ini :
Image and video hosting by TinyPic

Got what I mean?

Ini penulis dan editornya kehabisan ide ato emang males nyari judul yang lebih keren? Coba belajar bikin judul sama novel The Fault In Our Stars ato Extremely Loud & Inredibly Close.

2. Cover
Tapi judul aneh termaafkan karena covernya yang cuantek itu. Saya paling suka cover dengan nuansa hujan. Adanya siluet "love" di jendela basah itu semakin menambah suasana sendu dan romantis.
Sayang, saya malah merasa ketipu sama tuh cover. Kirain bakal bersetting di musim hujan gitu. Ini mah boro-boro musim hujan, sekadar gerimis numpang lewat aja gak ada.
Boro-boro gerimis numpang lewat, adegan langit mendung juga gak nongol biar cuma sekali. 
Boro-boro langit mendung, bahkan...oh oke...you get my point already.

3. Gaya penulisan
Gaya penulisan, diksi, ato apapun lah itu namanya, buat saya sih mentaaahh banget. Ya emang gak semua buku kudu pake bahasa puitis nan berbunga-bunga. Saya pun kurang demen sama bahasa puitis kecuali emang ceritanya mendukung. Berhubung ini novel remaja, gaya bahasa casual pun cukuplah. Tapi mbok ya jangan se-"polos" itu juga.
Semua hal dijelaskan dan diceritain sama penulisnya. Apa dia meragukan level intelejensia pembacanya?
Rasanya kayak baca diary curhat anak SMA. Curiga jangan-jangan si penulis minjem diary anak SMA beneran, trus dipoles dikit, kasi karakter yang bikin melting, ending dramatis, trus jadi deh 1 draft novel.

Saya juga gak suka dengan "kekreatifan" penulis dalam memilih kata ato mendeskripsikan sesuatu. Tampaknya bagi Moseley, deskripsi seksi serta cakepnya seseorang itu hanya bisa diliat dari how-hot-her/his-piece of ass-is.
-"Hey, Ambs, did you ride in with hot piece of ass one and two again today?”
_"Apparently, I just want to tap your very fine ass,” he said
Okay, total count of ass-word is 91 in this book. I don't need to quote all of it.

Geez...what's with ass and the author?
Does she has some fetish with ass? Ya gapapa, haknya dia kok itu. Tapi gak usah juga ngajak pembacanya ikut-ikutan sama fetish dia ya.
See...I love hot asses too. Winnie The Pooh's ass is a winner there. Followed closely with Channing Tatum's. But you don't see mee talk about it the whole time.
Oh wait! I just did!
But at least I'm talkin only in this part of the review, not in all the books like Moseley did. *meh! Lame excuse, I know*

Image and video hosting by TinyPic
See how hot his ass?

Image and video hosting by TinyPic
So nice even when he's little *kok jadi creepy ya?*

Okay...moving on.

Kata lain yang ganggu karena sering dipake adalah "purred".
“Hi, Liam,” she purred in her sexy voice.
“I missed you last night,” he purred.
He purred. She purred. They purred. Why...why everyone in this book has to "purred"? Why can't they speak normally?

Lalu Moseley juga gak kreatif dalam hal membuat variasi penggunaan kata "smile".
bHe smiled his flirty smile at me.
He smiled that sexy little smile at me.
Why he has to smile like that all the time? Why can't Moseley write another kind of smile? We know already that Liam James is sexy and flirty. The author need not to tell us again about it on every chance that she got.

4. Ide Cerita

Ide cerita sebenarnya bagus sih. Si Amber-nya dianiaya oleh ayahnya sendiri, hampir diperkosa pula hingga membuat dia gak suka dengan "sentuhan" apalagi kalo "sentuhan"nya bersifat intim. A traumatic heroine, a ruined one. That's good and kinda new. Rata-rata cerita roman (harlequin sih) kan yang "ruined" itu male lead-nya.

Lalu si Amber ini punya guardian angel, yang sabar, cinta mati dan selalu berpendapat Amber adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Wow!
Waktu akhirnya Amber dan Liam jadian, saya berharap lebih pada buku ini. Tampaknya buku ini menjanjikan cerita yang seru karena saya jadi tertarik mengetahui bagaimana Liam bisa "menyembuhkan" trauma Amber.

Sayang, saya kembali kecewa. Karena terapi Liam adalah : "making out". Lots and lots of making out, ampe si Amber jadi terbiasa. Ya gapapa juga sih making out sering-sering. Toh mereka emang masih remaja, di saat horny eh hormon lagi tinggi-tingginya.
Kecewanya sih di bagian "yah-kok-making-out-doang-sih". Kirain bakal ada terapi khusus apa gitu, ke psikolog ato psikiater kek, shock therapy kek, hypnotherapy kek ato apalah.

Trus bagian "menuju puncak"nya juga kok ya gitu amat dan gitu doang ya :|.
Maksud saya, hampir setengah buku dihabiskan dengan baca gimana serunya Liam dan Amber making out, tapi pas adegan puncak (when it's finally happened) kok yah lewat gitu aja. Yaaa...saya juga gak ngarep adegan detail sih (emangnya ini EA?), tapi mbok ya jangan juga adegan puncaknya cuma ditulis dalam 1 kalimat dong ah. Rasanya kayak sebel waktu mangga yang udah dirawat dari masih kecil, tau-tau pas udah matang dan siap petik, eh malah diembat sama tukang bakso langganan (Iyeee...ini curhat. Hiks...manggakuuuuu T_T).

Ato kayak lagi seru-serunya "nujes", tahu-tahu musti interuptus karena ada panggilan darurat dari RS (Hey...it's true story!).
Kenapa saya bisa tahu?
 Coz it happened to one of my "bos".
Ceritanya waktu saya nelpon untuk ngelaporin pasien dan baru bilang : "Selamat malam, dok. Dari IGD RS X. Ada pasien.."
tau-tau langsung dipotong beliau dengan nada keras : "APAAN SIH? COITUS INTERRUPTUS NIH!!!"
Saya : engg...#kemudianhening.
*I really didn't know what to say. What should I say cobaaa? Apa saya harus pura-pura gak dengar? Ato jawab dengan nada kalem : "Oh maaf mengganggu, dok. Sila dilanjut. Nanti saya telpon lagi kalo udah beres ya." Ato nanya sambil cengengesan : "Hehehe...lagi sibuk ya, dok?" Yang manaaaaa??? O_o*
Untung sebelum saya sempat galau, sang "bos" berdeham dan melanjutkan dengan nada berwibawa : "Jadi kenapa tadi pasiennya?"
Yah...menuju puncak yang gagal, indeed.

Lalu plot cerita buku ini juga ketebak banget. Jadi ceritanya ntar tuh bokapnya Amber balik ke kota mereka dan mengancam ketenangan hidup Amber dan Jake lagi, bahkan ampe bikin Liam berurusan sama polisi. Dan Amber pun kepikiran bikin jebakan buat menolong Liam dan mengusir si bokap selamanya. Masalahnya, jebakan yang dia pake itu kacangan dan cemen banget. Saya malah heran, kok si bokap gak curiga acan-acan sih? Ini si bokap yang kelewat polos ato saya yang kebanyakan nonton sinetron kacangan?

Saya juga gak suka sama ending untuk si bokap. They let him free? Iya, saya bisa ngerti klo mereka gak mau terlibat lagi sama si bokap. But can't they at least do something when they're adult, like send him to police? They let a child molester free so that he could molest and even rape another kid someday.


My thought:   



iya, saya tahu kok si bokap dipenjara. Tapi karena kasus yg berbeda. Di US itu, hukuman untuk pelaku child molester/rapist lebih keras daripada hukuman penipuan. Apalagi hukuman dari segi sosial. It can be said that once you're being labeled as a child molester/rapist, then your social life is doomed


5. Karakter

Dan mungkin inilah faktor yang paling bikin eneg sekaligus paling sweet dari buku ini.

Mari kita mulai dari karakter pendukung yaitu rekan-rekan sekolah Liam, Amber dan Jake.
Dikisahkan Liam dan Jake ini popular banget. Semua cewek pengen "get in their pants" dan semua cowok pengen temenan sama kedua orang ini.
Errr....asa gimana gitu ya. Not real.
Tapi okelah soal itunya.
Yang ngenganggu sih betapa horny-nya cewek-cewek SMA itu. Iya, saya emang bilang umur segitu wajar kalo BT (nope..bukan BT yg artinya bad temper itu). Tapi kan gak juga ya setiap cewek di sekolah (kecuali Amber tentunya) sodor-sodorin dadanya ke Liam ato grepe "aset pribadi"nya Jake.
“You need to have a word with your friend, seriously, she just grabbed my dick!”

She wrapped her dirty little arms round my boyfriend’s waist, looking at him with her come to bed eyes.
Itu sekolah apaan sih? Sekolah khusus yang isinya slutty and skank gitu? (Hey...Amber yang bilang cewek-cewek itu skank, bukan saya).

Oke...settingnya emang di US, yang budayanya beda sama Indo. Tapi bahkan di US sekalipun, gak semua siswinya semurah itu kok.

Lalu kita bahas karakter pendamping utama : Jake.
Saya suka sih sama Jake, perannya sebagai kakak yang overprotective ke Amber tuh mengharukan. Dia selalu siap menolong si adik kapan pun, bahkan ampe rela pasang badan demi Amber. He really is the best brother in the (book) world.
Cuma yah belakangan kok peran dia kebanyakan menggeplak kepala temannya yang mulai flirting ke adiknya sambil teriak : "Dude, little sister!".
Naon coba maksudnya sih?
But still, I like him. He made this book bear-able for me. He had one moment of weakness which made me want to pukpuk him that time. Hiks...bahkan ksatria terbaik pun berhak untuk berdarah.

Mengenai 2 karakter utama : Liam James dan Amber Walker.

Oke, Liam itu emang sempurna : ganteng, hot ass (penting banget ini disebut ulang), setia, cerdas, responsible, ah sebut semualah pasti Liam punya.
He did many sweet things too. Lihat bagaimana dia bisa menenangkan Amber dan menghapus mimpi buruknya dengan memeluk Amber sepanjang malam selama 8 tahun. Nice!
Ato gimana dia gak bisa tidur nyenyak kalo gak bareng Amber. Romantic!
Ato waktu dia beneran ngecek ke seluruh penjuru kamar Amber untuk mastiin gak ada zombie di kamar itu. Wow...so caring! (or so stupid, you choose).

Tapi saking sempurnanya jadi kerasa kalo ini fiksi abis. Saya bisa tahan sama Liam di bab awal, tapi setelah jadian dengan Amber, dia berubah jadi cowok yang setiap omongannya selalu bikin melting, tapi juga amat sangat cheesy.
Coba baca kutipan ini :
“Don’t remind me about my former life without you, Angel. I’ll have nightmares,”
===> Aww...bikin klepek klepek deh.
“I’ve been crazy about you since the first time I saw you, Angel. All this time it’s only ever been you.”
===> Liam, you know that is too cheesy, don't you?
“What if I said I didn’t believe in having sex before marriage?” I asked. 
“Then I’d say how about we get married as soon as you’re old enough. Eighteen is the legal age, right?” he replied.

===> Ugh...too much sweet is bad for your health. I don't know about Amber, but I kinda have a tootache here just by reading all your words, Liam dude.
“The first time I saw you I thought you were an Angel straight from heaven. You were so beautiful that you took my breath away. You still do, every day.”
===> Gubraks! Did I just say toothache? No...scratch that. I think it's a diabetes. Chewing all these overloaded sweetness must have some effect to blood glucose. Should have a blood check soon.
“Angel, you couldn’t possibly be any hotter, trust me. That would be illegal,”
===> Forget that blood check! No time for that. Better prepare for an insulin, just in case. Where do I put it?
I didn’t want to leave Amber even before we got together, but I don’t even think I’d survive it now that I finally had her.
===> Okay...Where's that darn insulin?
“She was the only thing I needed. If everything else went away tomorrow, the big house, all the cars, the money, I wouldn't care. As long as I still got to hold her every night, I would still be the luckiest guy in the world.”
===> No use for insulin now. Mana oksigen? Oksigeeennnn!! Sekalian bawain ventilator dan defib deh. Sapa tahu butuh! #yakali

Yeah ladies & gentlemen, here I present you Liam James. He beats Willy Wonka in sweet departments (and we know Wonka has all kind of sweets in the world). But need no worry! I've prepared everything in case you're intoxicated by his sweetness. (Trivia: how many times I used the word sweet?)
Oh...and please allow me to remind you that he's just 18.

Yah sebenarnya sih gak ada yang salah dengan kelakuan Liam. Seandainya si Liam 10-15 tahun lebih tua aja, dengan sikap kayak gitu, dia bisa jadi gentleman sejati. Tapi semua omongan permen itu, sewaktu remaja, rasanya jadi lebay abitch.

Sekarang ayo kita beralih ke Amber.
Sebenarnya saya pengen banget bersimpati lebih banyak ke cewek ini. Masa kecilnya pasti sulit deh. Untunglah Amber gak trauma berkepanjangan. Tapi masalahnya, saya sulit bersimpati sama dia.
Amber tuh annoying dan childish pula.

Lalu katanya dia gak nyaman dengan sentuhan, tapi toh dia bisa betah belajar dance yang pastinya full body touch. Katanya trauma sama hal-hal yang berbau seksual, but she's okay waking up to a guy's boner for 8 years.

Trus si Amber ini bebal ato apa sih? Waktu Liam "nembak", dia yang langsung suudzon gitu. Please deh, ber! Itu si Liam dari awal buku juga udah kasi kode kalo dia suka sama loe. Y U NO GET THE CLUE?

Dan ugh...semua ketakutannya bahwa Liam bakal gak kuat selibat itu annoying. Kalo baca dari curhatnya Amber, kamu bakal mikir si Amber ini niat bikin Liam selibat selama berbulan-bulan bahkan ampe tahunan. Eh ternyata cuma seminggu aja dong.
AIS! (ini versi Indonesianya dari WTF ya).

Tapi yang paling ganggu adalah nggak konsistennya karakter si Amber. Di awal, dia bilang gerah ngeliat kelakuan horde of skanks yang nempel mulu ke Liam dan Jake. Lalu kenapa belakangan dia juga ikutan jadi skank?
I purposefully swayed my ass, trying to look sexy; it must have worked because three boys from my history class whistled at me and made a comment about my sexy booty. I rolled my eyes. Boys!
What? Kurang slutty?
Gimana dengan kelakuan Amber yang masukin duit dengan tangannya (literally) ke dalam celana Liam?
Oke...Liam emang pacarnya. Terserah Amber mo diapain juga, dicemek-cemek ampe semek juga boleh (taela bahasa guweee). Tapi ya nggak perlu dilakukan di tempat umum dan depan siswa satu sekolah dong!
Seriously Liam & Amber, stop all that PDAs. It's corny and cheesy.

Buku ini memang punya beberapa kelebihan yang menyenangkan kala dibaca.
Bahkan hal yang dianggap absurd dan gak real oleh pembaca lain pun masih bisa saya tolerir. Seperti fakta orang yang pacaran dari SMA dan langgeng seterusnya. Banyak kok yang kayak gitu. Om dan tante saya pacaran dari masih SMP malah, awet ampe sekarang.
Juga betapa seriusnya Amber dan Jake dan adegan-adegan lebay mereka. Yaaa namanya juga masih umur segitu. Emang kelakuannya masih lebay dan gombal lah. Waktu yang membuktikan apakah segala kegombalan itu tulus ato nggak.

Sayangnya, semua toleransi yang saya berikan, gak bisa menutup fakta akan segepok kekacrutan yang menyertai.
Dan saya sempat bingung kasi rating.
I'd give Liam James & Jake Walker 4 or 5 stars out of 5.
But this book isn't solely about them. And I rate a book, not them.
Saya gak bisa bilang suka sama buku ini. Jadi 3 bintang jelas gak memadai.
Dua bintang yang artinya it-was-okay menurut standar goodreads? Clearly, I'm not okay with the ending.
Jadi ayo kita berdamai di 1,5 bintang saja, sebagai penghargaan untuk covernya.

Thursday, August 9, 2012

Friday's Recommendation #3 : The Solitude Of Prime Numbers

 

Yeaayyy....setelah sempat alpa ikutan friday's recommendation karena saya mudik dan gak megang laptop, sekarang bisa ikutan lagi.

Seperti biasa, posting rules nya dulu :

1. Pilih jenis rekomendasi buku. Ada dua jenis rekomendasi, yang pertama dan sifatnya mutlak adalah Rekomendasi Buku untuk Diterjemahkan . Jika tidak ada buku yang direkomendasikan untuk diterjemahkan, maka bisa memilih pilihan kedua, Rekomendasi Buku Pilihan. Disini rekomendasikan buku yang paling kamu suka baca dalam minggu ini.
2. Pilih hanya 1 (satu) buku untuk direkomendasikan. Tidak boleh lebih.
3. Beri sinopsis, genre buku dan alasan kenapa kamu merekomendasikan buku itu.
4. Posting button meme (sementara) di bawah ini :


5. Blogger yang sudah membuat memenya, jangan lupa menaruh link ke blog di daftar linky di bagian paling bawah post ini, sehingga pembaca bisa blog walking.
6. Untuk pembaca blog yang tidak punya blog, bisa menulis rekomendasinya di kolom komen.
7. Bahasa yang dipergunakan terserah. Jika memang khusus blog yang menggunakan bahasa Inggris, dipersilakan menulis dengan bahasa Inggris. Begitu juga sebaliknya.

Untuk minggu ini, saya mau rekomendasikan buku ini:

The Solitude of Prime Numbers by Paolo Giordano
Genre : Young Adult, Drama

Sinopsis:

A prime number can only be divided by itself or by one—it never truly fits with another. Alice and Mattia, both "primes," are misfits who seem destined to be alone. Haunted by childhood tragedies that mark their lives, they cannot reach out to anyone else. When Alice and Mattia meet as teenagers, they recognize in each other a kindred, damaged spirit.

But the mathematically gifted Mattia accepts a research position that takes him thousands of miles away, and the two are forced to separate. Then a chance occurrence reunites them and forces a lifetime of concealed emotion to the surface.

Like Mark Haddon's The Curious Incident of the Dog in the Night-Time, this is a stunning meditation on loneliness, love, and the weight of childhood experience that is set to become a universal classic.

Comment: 

Eh btw si pengarang gak bersaudara dengan Giordano yang jualan baju itu kok, yang hobi teriak-teriak di mall "Giordanonya, kakaakkk". Ya kali aja ada yang mikir gitu (kayak saya :D)

Buku ini udah pernah direkomendasikan Ndari di Friday's Recommendation #1 nya dan sejak baca di situ, saya langsung jatuh cinta.

Judul dan sinopsisnya itu lhooo...

Saya emang demen matematika dan selalu suka sama prime number aka bilangan prima soalnya bilangan prima itu unik. Cuma bisa dibagi sama 1 dan angka itu sendiri, jadi memudahkan. Saya ingat, waktu SD dulu tiap ketemu pembagian yang pake bilangan prima, langsung girang karena berasa "gampang".

Udah gitu, makin cinta sama bilangan prima sejak nonton dramanya Hyun Bin yang berjudul Secret Garden. Ceritanya si Hyun Bin jadi genius matematika juga. Dan disitu ada kalimat tentang bilangan prima yang keren :

Bora : "Prime number... I knew it before. What is it again?"
Tae Woong : "A number that can only be divided by one and itself. That's what a prime number is. It has a lot of pride and you can think of it as a lonely number."
Bora : "Why? It's the first time I've seen someone call a number lonely. Is that weird?"
Tae Woong : "No... it's something you'd do."
Bora : "But oppa... the way I see it, prime numbers aren't lonely at all. It has one. If there's only one person in the entire world who can understand you, it's okay. Then you're not lonely at all. Therefore, the one and only divisor that understands me, I hope that it's you."

*eh kok jadi ngelantur ke Hyun Bin?*

Balik ke buku.

Karena baca di blognya Ndari, saya langsung mupeng banget ampe nekat pinjem padahal tumpukan masih banyak :D.

Seperti yang dibaca dari sinopsis, Mattia dan Alice memang tipe "bilangan prima". Aneh dan tersisih dari lingkungannya. Makanya pertama ketemu, mereka langsung merasa klop.
Sayang, berbagai circumstances memisahkan mereka.

Penulisannya juga keren. Auranya gloomy, sad, tapi sangaattt well written. Poetically well written indeed.

Saking terseponanya, saya ampe sengaja merekomendasikan ulang buku ini. Yaaa siapa tahu makin banyak direkomendasikan bisa makin membujuk para penerbit gitu.

Nah ini rekomendasi saya. Kalo kamu?
Oya...cek rekomendasi lain di blognya Ren yaa

PS :
Saking terseponanya, saya ampe beli buku ini juga. Kalo ada yang mo minjem, silakan lho. Tapi tunggu bulan depan ya. Katanya pesanan saya baru ada bulan depan :D

Thursday, July 19, 2012

Friday's Recommendation #2 : Before I Fall


Yap...kembali lagi di Friday's Recommendation yang di-host oleh Ren di blognya Ren's Little Corner.

Sebelum dimulai, saya mau post aturan meme ini yang di-copas dari blognya Ren :

1. Pilih jenis rekomendasi buku. Ada dua jenis rekomendasi, yang pertama dan sifatnya mutlak adalah Rekomendasi Buku untuk Diterjemahkan . Jika tidak ada buku yang direkomendasikan untuk diterjemahkan, maka bisa memilih pilihan kedua, Rekomendasi Buku Pilihan. Disini rekomendasikan buku yang paling kamu suka baca dalam minggu ini.

2. Pilih hanya 1 (satu) buku untuk direkomendasikan. Tidak boleh lebih.

3. Beri sinopsis, genre buku dan alasan kenapa kamu merekomendasikan buku itu.

4. Posting button (sementara) meme di bawah ini :
5. Blogger yang sudah membuat memenya, jangan lupa menaruh link ke blog di daftar linky di bagian paling bawah post ini, sehingga pembaca bisa blog walking.

6. Untuk pembaca blog yang tidak punya blog, bisa menulis rekomendasinya di kolom komen.

7. Bahasa yang dipergunakan terserah. Jika memang khusus blog yang menggunakan bahasa Inggris, dipersilakan menulis dengan bahasa Inggris. Begitu juga sebaliknya.


Nah untuk minggu ini, saya akan merekomendasikan buku ini untuk diterjemahkan :


Before I Fall by Lauren Oliver
Genre : Young Adult Romance

Sinopsis :

What if you only had one day to live? What would you do? Who would you kiss? And how far would you go to save your own life?

Samantha Kingston has it all: looks, popularity, the perfect boyfriend. Friday, February 12, should be just another day in her charmed life. Instead, it turns out to be her last.

The catch: Samantha still wakes up the next morning. Living the last day of her life seven times during one miraculous week, she will untangle the mystery surrounding her death—and discover the true value of everything she is in danger of losing.

  
 Oke...saya tahu covernya kurang menggoda selera. Never mind the cover, please.

Saya pertama kenal Lauren Oliver lewat bukunya Delirium dan jatuh cinta sama ide cerita dan kalimat-kalimatnya yang indah.
Before I Fall menceritakan seorang gadis bernama Samantha. Di sekolahnya, Samantha masuk dalam geng cewe popular yang rada "mean" ato singkatnya kelompok "Mean Girls". Sampai di suatu hari jumat, Samantha menemui ajalnya.
Anehnya...dia masih hidup keesokan paginya, namun di hari jumat yang sama. Yup...Samantha diberi kesempatan untuk menjalani hari terakhir dan menata ulang kehidupannya. Dan kesempatan itu bukan hanya datang sekali, tapi berkali - kali.
Hal yang membuat Samantha sadar apakah hidupnya selama ini sudah benar. Apakah pacarnya adalah cowok yang sungguh-sungguh dicintainya? Apakah dia sudah memberi waktu yang cukup banyak untuk mengenal keluarganya sendiri?
Dan kita pun diajak untuk menyimak transformasi Samantha menjadi pribadi yang dewasa.

Lalu bagaimana endingnya?
Akankah Samantha memperoleh 1 kesempatan lagi setelah dia menyadari kesalahan-kesalahannya?
To find out, you have to read it by yourself ;).


To be honest, ide Before I Fall mungkin gak baru-baru amat. Ide "hari-yang-berulang-untuk-memperbaiki-kesalahan-yang-diperbuat" sudah beberapa kali dipakai dalam novel dan film.
But still...it's Lauren Oliver, the author that I can't miss out.
Kekuatan buku ini terletak dalam kalimat-kalimatnya yang indah. Kalimat seperti :
Maybe you can afford to wait. Maybe for you there's a tomorrow. Maybe for you there's one thousand tomorrows, or three thousand, or ten, so much time you can bathe in it, roll around it, let it slide like coins through you fingers. So much time you can waste it.
But for some of us there's only today. And the truth is, you never really know.” 
“I guess that's what saying good-bye is always like--like jumping off an edge. The worst part is making the choice to do it. Once you're in the air, there's nothing you can do but let go.”
“The whole point of growing up is learning to stay on the laughing side.”  

Aaaahh....masih banyak banget quote yang pengen saya taro di sini, tapi takutnya ntar nih post berubah jadi Friday's Quote. Hehehe... :D

Banyak blogger yang menyatakan novel ini sebagai : provoking, gripping, intense, and wonderfully written.
And I can't agree more.

Sebenernya sih saya agak dilema naro ini di Friday's Recommendation. Soalnya, seperti yang saya bahas, kekuatan Oliver itu di kalimatnya. Dan novel terjemahan Oliver yang pertama (Delirium) gagal menunjukkan keindahan itu. Saya khawatir aja kalo buku ini diterjemahkan juga, banyak makna yang akan berubah.
But heck...this is a really good book about life. Walau pun terkesan "remaja" banget, tapi sebagai orang dewasa banyak yang bisa saya petik dari sini. Hal-hal yang mengingatkan saya akan masa remaja, tentang hal-hal yang ingin saya lakukan dulu dan belum juga sampai sekarang.

Dan karenanya, saya berharap buku ini akan ketemu dengan penerbit/penerjemah yang bisa menggubah kalimatnya seindah milik Oliver.
Oh and please, give a better cover too :)

Inilah rekomendasi saya. Apa rekomendasimu?

Dan jangan lupa, cek rekomendasi teman-teman lain di sini




Friday, July 13, 2012

Friday's Recommendation #1 : On The Island

Sudah lama sebenarnya saya ingin ikutan meme yang diselenggarakan di blog-blog BBI.
Tapi ndak berani karena takutnya gak bisa commit.

Masalahnya, ide meme dari Ren, pemilik Ren's Little Corner ini terlalu menarik untuk dilewatkan. Jadi saya memberanikan diri untuk ikutan.

Meme yang diberi judul Friday's Recommendation ini mempunyai aturan sebagai berikut :

1. Pilih jenis rekomendasi buku. Ada dua jenis rekomendasi, yang pertama dan sifatnya mutlak adalah Rekomendasi Buku untuk Diterjemahkan . Jika tidak ada buku yang direkomendasikan untuk diterjemahkan, maka bisa memilih pilihan kedua, Rekomendasi Buku Pilihan. Disini rekomendasikan buku yang paling kamu suka baca dalam minggu ini.

2. Pilih hanya 1 (satu) buku untuk direkomendasikan. Tidak boleh lebih.

3. Beri sinopsis, genre buku dan alasan kenapa kamu merekomendasikan buku itu.

4. Blogger yang sudah membuat memenya, jangan lupa menaruh link ke blog di daftar linky di bagian paling bawah post ini, sehingga pembaca bisa blog walking.

5. Untuk pembaca blog yang tidak punya blog, bisa menulis rekomendasinya di kolom komen.

Dan untuk minggu ini, saya merekomendasikan buku ini untuk diterjemahkan :


On The Island by Tracey  Garvis - Graves
Genre : Young Adult, Drama

Sinopsis : When thirty-year-old English teacher Anna Emerson is offered a job tutoring T.J. Callahan at his family's summer rental in the Maldives, she accepts without hesitation; a working vacation on a tropical island trumps the library any day.

T.J. Callahan has no desire to leave town, not that anyone asked him. He's almost seventeen and if having cancer wasn't bad enough, now he has to spend his first summer in remission with his family - and a stack of overdue assignments - instead of his friends.

Anna and T.J. are en route to join T.J.'s family in the Maldives when the pilot of their seaplane suffers a fatal heart attack and crash-lands in the Indian Ocean. Adrift in shark-infested waters, their life jackets keep them afloat until they make it to the shore of an uninhabited island. Now Anna and T.J. just want to survive and they must work together to obtain water, food, fire, and shelter. Their basic needs might be met but as the days turn to weeks, and then months, the castaways encounter plenty of other obstacles, including violent tropical storms, the many dangers lurking in the sea, and the possibility that T.J.'s cancer could return. As T.J. celebrates yet another birthday on the island, Anna begins to wonder if the biggest challenge of all might be living with a boy who is gradually becoming a man


Alasan kenapa saya mengharap buku ini diterjemahkan selain karena ratingnya tinggi di Goodreads (nembus angka 4, bo!) juga karena ceritanya menarik. Tentang sepasang manusia yang terdampar di pulau terpencil, bagaimana mereka bertahan hidup. Juga tentang cinta berbeda usia dimana ceweknya lebih tua. Wuaa...menarik! Saya sudah membayangkan konflik emosi di antara kedua tokohnya, juga konflik yang didapat dari tentangan masyarakat. Dan kalo mengacu dari review di Goodreads, tampaknya bayangan saya benar. Selain itu genre YA kan lagi booming.

Yang lebih senang lagi, buku ini bukan seri, cuma 1 judul ini aja. Rata-rata buku YA kan berseri. Jadi seneng kalo nemu buku YA bagus yang gak berseri.

Nah itu rekomendasi saya untuk Jumat pertama ini. Gimana dengan kamu?
Oh ya...Jangan lupa kunjungi blog Ren dan baca-baca rekomendasi peserta meme lainnya

  

Wednesday, July 11, 2012

Memory & Destiny

Judul : Memory & Destiny
Penulis : Yunisa KD
Tahun Terbit : 2010
ISBN 13 : 9789792256581
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Review di bawah ini adalah review dari buku yang boring, garing dan berasa hawa narsisnya. Untuk menyesuaikan dengan nuansa buku, maka review ini juga bakal boring, garing dan penuh dengan ke-narsis-an reviewernya. *dikeplak sampai Timbuktu*

Heck! I lied. Ini bahkan bukan review. Karena banyak teman goodreads tercintah yang sudah memberikan review yang lebih komprehensif, maka saya mo nyinyir dan narsis aja. #bhihik
Oh dan curhatan ini meng-exclude yang sudah disebut dalam repiu-repiu sebelumnya.

Kalo anda ngerasa punya kerjaan yang lebih penting, ya silakan dilanjut.
Tapi kalo masih mo baca juga, yaaa...derita loe itu sih.

Kata Ibu saya sih, saya tuh mirip kucing. Bukan dari segi manja dan ndusel-nduselnya kucing, tapi dari segi kepo. Iya, Ibu saya emang mengacu pada kalimat femes ini : "Curiosity kills a cat", soalnya saya emang kepo banget. Saya gak tahu apa bener kepo bisa ngebunuh kucing. Yang saya tahu sih, rasa kepo memang beberapa kali hampir mencelakakan saya.

Semasa kecil, saya adalah anak yang selalu penasaran membuktikan omongan orang. So kalo dibilangin : "Jangan main piso, kalo kena tangan bisa berdarah, sakit."
Saya malah sengaja ngiris tuh piso ke tangan saya, penasaran aja apa bener bisa berdarah dan sakit. Eitss...ini bukan masokisss yaaa. Harap dibedakan! (*defense mechanism sebelum dituduh*).

Dan kekepoan itu udah bikin saya sengaja menyetrumkan diri, menabrakkan badan ke bemo kemudian angkot (karena pake bemo berasa kurang hardcore), ampe sengaja lompat dari atap rumah hanya untuk tahu apakah terjun dari atap tuh beneran bisa bikin patah kaki. Etapi waktu itu ada kasur sih di tanah. Ya saya kan cuma kepo dan bukan bego.
Untunglah makin gede makin berkurang kepo saya.

Kepo bahaya saya yang terakhir terjadi beberapa tahun yang lalu waktu baru lulus kuliah.
Saya dapat pasien percobaan bunuh diri dengan minum Baygon. Setelah si pasien stabil, saya ngobrol sama dia : "Bu, Baygon rasanya kayak apa?"
"Pait banget, dok."
"Oya? Lebih pait mana sama brotowali?"
(Yup, menurut saya brotowali itu substansi terpait di muka bumi ini. Yaa...tapi masih lebih pait waktu pacar ditikung sahabat sendiri sih. Itu mah paiiitt...pait...pait...paiitt, Jenderal! *Ups...mendadak curcol* #YaMaap)
"Jauh lebih pait Baygon, dok," jawab si ibu.

Rasa kepo saya pun terusik. Masak iya paitnya Baygon bisa ngalahin brotowali?
Jadi pas balik ke kamar jaga, saya ngambil kaleng Baygon, semprotin ke ujung jari saya dan langsung ngemut si jari imut #heyitsrhyme #sakarepmulah
Rasanya?
Beneran pait ternyata. Lebih pait dari brotowali. Dan lebih gak enak juga karena selain pait juga berasa kecut dan sepat. Walo yah...masih lebih pait waktu pacar ditikung sahabat sih. #TeteupCurcol Photobucket
Jadi yah teman-teman, buat yang patah hati dan berpikir minum Baygon, saran saya : JANGAN! Percuma soalnya. Paitnya gak ilang juga. Coba minum spiritus ato minyak tanah gitu. You're welcome, bye the way.

Lalu apa hubungannya buku ini dengan cerita di atas? Gak ada sih.
Saya kan cuma pengen pamer aja kalo saya tahu rasanya Baygon dan kalian nggak. Hohohohoho..... #TertawaLaknatDiPinggirKawah #LaluDitendyang

Yah rasa kepo saya bangkit lagi kemaren gara-gara buku ini.
Kata penulisnya sih, baca buku ini kudu punya banyak syarat. Misalnya open minded yang mana gak masalah buat saya. Buka hati aja saya gak segan, apalagi cuma buka pikiran (iya...saya tahu ini garing).
Trus juga kudu suka Broadway. Bukan masalah juga sih, secara saya rajin ikutan Broadway aka Beronda With Style (iyaa...iyaaa..saya tahu ini maksa dan garing.)
Dan yang paling penting harus berotak prima. Uhm...yang ini agak susah. Saya sih dari kecil udah doyan nenggak minyak goreng cap Prima, tapi gak tau ya apa itu berpengaruh pada otak saya ato ndak. Let's see aja deh ya.

Novel ini dimulai dari Donald yang terbangun pada pagi pernikahannya di London. Sayang di tengah jalan mobil yang ditumpangi bersama tunangan dan sahabatnya mengalami kecelakaan. Sementara kedua orang lain meninggal, Donald koma dan jadi...eng...arwah gentayangan gitu?
Di hari yang sama, Donald bertemu Maroon kecil di Westminter Abbey. Destiny menentukan cuma Maroon yang bisa melihat Donald (Demyu Destiny!). Akhirnya Donald pun ngikutin Maroon ke Jakarta dan jadi teman belajar dan bermainnya.

Lalu Donald menghilang dan cerita berpindah 10 tahun ke depan. Maroon udah jadi dokter...trus diikuti adegan2 gak penting...hingga Maroon kuliah ke Singapur. Disana secara gak sengaja dia ketemu lagi sama Donald dan langsung ngerasa ada chemistry di antara mereka.
Baru kenalan bentar, destiny mengatur Maroon kecelakaan, kehilangan ayah dan jadi amnesia (bangke emang si destiny ini). Donaldnya sih tetap support Maroon, tapi Maroonnya gak mau. Digebahlah si Donald pergi.
Dan David pun memasuki hidup Maroon.
Cerita bergulir pada sejumlah adegan gak penting lainnya yang berkutat di PDKTnya David dan rese-nya Maroon di topik "kok-loe-suka-sama-cewe-amnesia-kayak-gw".
Sampe akhirnya Maroon bisa ingat lagi, tendang David (sukurin! Emang enak dijadiin back up! #SumpahBukanCurcol #BenerBenerBukanLho) lalu ngejar Donald ke Singapoh.

Selesaikah penderitaan pembaca?
Oho...TIDAK!
Penulis masih betah nyiksa pembacanya. Itu cerita diputer lagi. Untuk ditutup dengan ending yang ehm...garing.

Apa yang bikin saya mentahbiskan buku ini sebagai buku kacrut?
Banyak hal sih. Saya ampe bingung mo bahas yang mana dulu. Coba kita mulai dengan :

1. Gaya bahasa yang jadul buanget. Bahkan lebih jadul dari jaman Maria A Sardjono. Sejaman dengan angkatan Balai Pustaka kali. Bedanya kalo para sastrawan Balai Pustaka merangkai dengan indah, yang ini berasa...basi
Contohnya :
"Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhan lah yang terlaksana."
"Selalu saja ada berkat di balik kenestapaan kehidupan yang pekat."
"Meluncurkan panah asmara langsung ke jantung sasarannya."
"...terasa seperti ditusuk sembilu."


Dear Miss Yunisa, I suggest you to time travel to 70's and publish your book there when these words were last used. I'm so sure it's gonna be a big hit back then. And you could torment the milennium kids for having to read and review your book as one of the best literatur ever.
No need to thank me for this wonderful idea, bye the way.

2. Dialog yang keju banget. Keju bakar disiram saos keju dan dikasi taburan keju pun bahkan masih kalah keju dibanding ini. (Mungkin) Rencananya mau bikin bahasa yang niatnya romantis, tapi jatohnya jadi picisan.
Misalnya :
"Gadis yang di matanya bisa kulihat api kehidupanku."
 ===> Eciyeee...api kehidupan lhooo. #disemburNaga

"Dari matanya aku juga bisa melihat masa depan."
==> Coba dicek, situ lagi ngeliat mata orang ato liat bola kristal sebenernya?

"Maroon, kau lebih cantik daripada selusin mawar ini."
==> Aduh mas, rayuannya basi sekali! Pantes ditinggalin.

Seakan kekejuan itu belum cukup, penulis hobi banget masukin lirik lagu yang gak nyambung di tengah percakapan yang (harusnya) serius.
Seperti ini:
"Toh, kalau Donald memang jodohku, somehow, One way or another, I'm gonna see ya, I'm gonna meet ya, meet ya, meet ya seperti lagunya Blondie."
ato
"Mungkin sekarang Donald memang belum jodohku. Jadi buat apa susah? Buat apa susah? Susah itu tak ada gunanya..."

Yeah epribodih, it's #tepokjidat moment.
Photobucket

Masih ditambah pula kalimat yang gak nyambung di otak saya seperti :

"Tinggal sebulan sebelum hari ulang tahunku. Tapi mimpi burukku sudah dimulai hari ini."
===> Maksudnya si tokoh punya tradisi klo dia mimpi buruk tiap ultah dan khusus tahun ini mimpi buruk dimulai sebulan sebelumnya? Apa sih makna "Tapi" di kalimat itu?

Juga penggunaan istilah yang gak tepat seperti ini :
"Mirip George clooney saja, tua - tua kelapa, makin tua makin membuat cewek tergila-gila!"
====> Keladi kaliiiii, mbaaakkkk. Kelapa tua sih jatohnya jadi santan doang.
Dan menyangkut santan, jadi inget kejadian waktu masih di puskesmas.
Ada teman kerja umur 18 tahun yang bakal nikah dengan duda cerai 5x berumur 60an tahun.
Namanya juga desa. Kejadian kayak gini ya dibahas lah. Dan seorang perawat berkomentar : "Kenapa X mo kawin deng Pak Y ya? Barang su seng enak itu. Su terlalu sering diperas. Seng bisa lai jadi anak karna terlalu encer. Cuma bisa dipake jadi santan saja."
Yeah...DEYM HER! I could never see santan the same way again since that. Photobucket

Eh kok jadi ngelantur ke santan? Mbak Yunisa sih bawa-bawa kelapa.
Pokoknya masih banyak kalimat-kalimat ajaib lainnya yang kalo mo saya tulis disini sama aja dengan nulis ulang nih novel di gudrit. Saya persilakan anda baca sendiri aja ya. Good luck lho. Photobucket

3. Homofobia

I'm a faghag. Karenanya saya terganggu dengan sentimen dan prasangka negatif tentang gay yang ada di buku ini. Oke...saya tahu kalo penulis anti gay, itu hak dia.
Tapi gak perlu bikin prejudice yang malah nunjukkin dia kurang paham dunia itu.
Misalnya ketika tokoh Sharon keheranan kenapa sepupunya Wiro yang gay itu bisa disukai orang tua sahabatnya. Ih...gak nyadar ya gay itu likeable banget. Matt Bomer anyone? Neil Patrick Harris? Sir Ian McKellen? Dan...Albus Dumbledore! Yeah!!!

Yang bikin gemes juga waktu secara tersirat dibilang kalo gay itu gak jantan.
Heh? Kata sapa? Siapa pun yang berpendapat gay itu gak jantan boleh coba adu tinju sama Mark Leduc (ya tapi waktu si Mark masih muda sih) ato adu dunk sama John Amaechi.
Hah? Apa? Gak tau Mark Leduc dan Amaechi? Ih kacian tekali. #MenatapIba
Intinya kalo ada yang bilang gay itu gak jantan, pasti pengetahuannya tentang gay mentok sampe ke Olga doang #ups #dicakarpensnyaOlga #runrunfast #kepelukanMattBomer
Photobucket

4.Too much information (yang gak penting)

Mungkin buat penulis, disinilah point plus novelnya. Buat saya sih fakta ini malah gengges. Ya walopun saya akuin membaca penjelasan penulis bikin saya mo ketawa dan bilang "pffttt".
Contohnya waktu penulis ngasi tahu kalo rambut palsu itu wig, ato waktu penulis dengan baik hati menjelaskan kepada pembaca (via Maroon tentunya) bahwa cara terbaik PDKT ke cewe dimulai dari keluarganya dulu (pffttt lagi).

Tapi dari semua penjelasan penulis, gak ada yang ngalahin epiknya penjelasan beliau (cieee....beliauuu) waktu ngejelasin tentang bride's maid dan best man. Demi untuk menjelaskan arti kedua kata itu serta siapa yang biasanya dapat peran kehormatan tersebut, penulis menghabiskan tak kurang dari -wait for it- 1 paragraf. #tepokjidat #ampejenong Photobucket

Ketika Yunisa dengan yakinnya berpendapat bahwa novelnya akan abadi sampai 100 tahun ke depan, dan bahwa orang di masa depan akan berpikir : "Astaga-naga, ternyata Yunisa, tahun 2006-dst udah memikirkan dan mengamati hal yang sama!", pasti yang dimaksud adalah bagian ini.

Saya bisa ngebayangin, tahun 2110 nanti, dalam sebuah kelas Literatur Fiksi, akan ada seorang guru yang berkata seperti ini :
"Jadi, yang menarik dari novel karangan Yunisa ini adalah pikirannya yang jauh ke depan. Sebagai contoh, istilah best man dan bride's maid yang baru diadopsi ke dalam bahasa Indonesia sekitar 30 tahun yang lalu, sudah digunakan olehnya pada novel yang terbit 100 tahun lalu.
Belum jelas apa istilah yang digunakan orang Indonesia pada jaman novel Yunisa ini terbit. Tapi banyak ahli yakin, di jaman itu orang menyebut bride's maid dan best man sebagai "orang-(berasa)-eksis-yang-berdiri-di-sebelah-pengantin-terus-terusan."
Ya memang orang jaman dulu nggak efektif. Kita harus berterima kasih pada Yunisa yang memperkenalkan istilah ini pertama kali kepada masyarakat Indonesia.
Walaupun ketika novelnya pertama terbit, informasi ini dikritik habis-habisan oleh pereview kurang kerjaan di Goodreads bernama asdewi." (Maap ya teman-teman, ternyata setelah 100 tahun, cuma nama saya yang masih eksis). #DirajamRameRame
(ps : jangan keplak saya, plis. Saya tahu kok ini garing. *muka memelas*)

5. Penggunaan kata "destiny" yang over dosis di novel ini.
Ketemu dan jadi sahabat itu destiny. Gak mau ngajak cewek lain kencan, karena si tokoh menunggu destiny-nya. Besok-besok kebelet ke WC ato laper doang dianggap destiny juga dah. #NyinyirDetected

Dan dari bertaburannya kata "destiny" yang ada di novel ini, 2 peristiwa ini sih yang ngasi momen "pffttt" :
Scene pertama:
"David, kenapa sih kita sering sekali bertemu walau kita tidak janjian?"
"Mungkin itu destiny?"

Bookkk...kalo emang ketemu gak sengaja di berbagai tempat bisa dianggap sebagai destiny, maka gw sama Stramaccioni pastilah destiny. Waktu dia datang ke Jakarta kemarin, kita sering ketemuan gak sengaja gitu. Dari ketemuan di lift ampe ketemuan di dekat toilet.
Jadi dia kah destiny saya? dear God, please make it come true. Mohon segera beri hidayah padanya agar sadar bahwa destiny-nya ada di Jakarta.

Eh bentar...
Waktu liburan ke Bali kemarin, saya juga sering ketemu sama Anang. Saking seringnya ketemu, teman saya ampe mikir kita kualat karena cabut kantor dengan alasan ikut pelatihan dan dikasi balasan berupa siksaan visual yaitu secara konstan ketemu pasangan (yang merasa diri) Kate & Will itu.
Jadi...apakah Anang (ato Ashanty?) akan menjadi destiny saya?
Dear God, I beg You please, dont! Jangan ampe se-mblegedes itu sih, pleaseee. Thank you, God. Amin. Photobucket

Anyhoo, peristiwa ke-2 adalah ketika David beranggapan Maroon destiny-nya karena si Maroon ngomong "Christmas is family time" yang mana adalah kalimat paporit David ke ibunya.

Cyiiiinnn...kalo nyebut ucapan yang sama bisa dianggap destiny, maka ada berapa milyar orang di dunia ini yang jadi destiny saya waktu saya bilang : "Gw lapeeerrr" ato waktu saya bilang : "Kayak ketek badak nih sinyal" ?
Jadi sebenernya destiny saya ada berapa sih? Kok gak ada satu pun yang nongol? Hah? Hah?? Hah??? *dilemparBTS*
(PS : Hei...kamu yang baca review ini, pasti juga pernah ngucapin kalimat di atas kan? Ih berarti kamu juga destiny saya. Hayo atuh buruan pinang saya dengan bismillah dan  sesendok berlian *kedipkedipcentil* Photobucket #LaluDitujesPakeSabretooth)

Masih soal "ucapan-yang-sama-adalah-destiny", di halaman 178 ada part dimana David dan Donald mengucapkan kalimat yang sama. Berarti mereka destiny dong?
Setelah ngantuk maksimal, saya langsung excited pas nyampe di bagian ini.
Huwooww...apa buku ini akan berubah ke gay lit? Photobucket
David dan Donald menyadari bahwa mereka destiny lalu naik kuda bersama menuju matahari terbenam sementara Maroon nangis suwe di belakang? (I also don't know why I had this lame vision).
Woww...Wowww.....Spekta sekali Yunisa ini. Twist yang kueren buanget. Sumpah saya meremehkan kemampuan dia.
Maka dengan semangat saya lanjut baca.
Dan kecewa karena ternyata tebakan saya salah.
Dia kembali ke plot cerita garing ala layar tancap, layar kaca, layar gelasnya dong :s
*pembaca kecewa* #YaMenurutLooooo

6. Karakter-karakternya yang unlikeable

Karakter David dan Donald itu dibikin terlalu sempurna ampe jatohnya malah jadi ilfil. Novel Harlequin aja, yang ceritanya manis banget ampe bikin semut kena diabetes, masih ngasi kekurangan di para tokoh cowoknya. Tokoh yang paling saya suka disini sih Olivia, adiknya Maroon.

Dan tokoh paling nyebelin itu jelaslah : Maroon!
Saya udah mulai ilfil pada tokoh ini sejak halaman 16 ketika terjadi dialog seperti ini antara Maroon dan ibunya :
I : "Di sini sebenarnya kan kuburan."
M : "I know and I'm not scared."
I : "Why?"
M : "Karena aku mau jadi dokter! Dokter kan tidak boleh takut!"


Euh...ada yang salah dari pernyataan itu. Dokter juga manusia kok yang boleh takut. Lagian tuh gelar juga gak bakal ngaruh apa-apa buat kuntilanak.
Kebayang deh kalo waktu ketemu saya bilang : "Oi Kunti, gw gak takut sama loe. Kan gw dokter."
Palingan juga si Kunti jawab : "Ya terus? Masalah buat gw? Buat temen-temen gw? Pfft...please deh, bwok!"
Lalu dia pergi sambil kibas rambut dan geal geol patpat (Ini kunti ato Inem sebenernya?)

Apalagi kalo ketemu Pocong. Bisa ngakak kejang dia kalo saya bilang saya dokter. Si Pocong bakal bilang : "Jadi loe dokter? Huahahaha...kesian banget ya loe. Gw cuma dibungkus kayak lontong gini udah punya puluhan film hits di bioskop. Lah loe, pake jas putih keren gitu, bawa stetoskop mahal-mahal, peran loe paling mentok cuma ngomong : "Maaf kami sudah berusaha maksimal...". Suster malah lebih canggih dari loe. Dia cuma ngesot doang udah bisa nge-hits gitu pelemnya. Huahaha...kasian loe, cuy!"
(PS : Dan sumpah ini bukan curcol. Bener-bener bukan kok! #YaAdaCurcolDikitSih)

Anehnya karakter si Maroon ini, dia gak takut sama kuburan di Westminster Abbey. Tapi takut sama kuburan Cina dan kuburan lokal.
Alasannya?
Karena yang dikuburin di Westminster itu pake pakaian rapi sementara di Indo dibungkus kayak lontong ato pake daster putih.
Bah!!! Dia lupa kalo Count Dracula dan Bloody Mary juga bajunya rapi. Tapi coba aja situ liat, mempan kagak gelar dokter situ kalo ngadepin si Tante Mary yang bedarah-darah itu. #KenapeGwYangSewot

7. Logic check

Sebenernya sih mbak Iyut udah ngebahas tentang logic check-nya. Tapi di blognya penulis menyarankan reviewer untuk logic check dan kasi kontribusi positif ke penulisnya, maka saya berusaha kasi kontribusi ke penulisnya. Mengenai apakah kontribusinya positif ato nggak, biar penulis saja yang menilai.

Ini mengenai 1 part yang belum (ato mungkin gak tega) ditulis sama mbak Iyut.
Part yang dimaksud ada di halaman 39, scene waktu Donald tersadar dari koma. Dan ini petikannya :

"Dokter, dokter, denyut jantung pasien mulai melemah!" perawat berteriak. Dua orang perawat dengan cekatan menyiapkan alat kejut listrik defibrillator...
===> Oh jadi denyut jantung melemah itu didefib ya, mbak? Gak liat dulu pola irama jantungnya gimana?

"...Dokter menempelkan defibrillator di atas dada pasien. Tidak ada reaksi. "Kita ulangi,"..."
===> Bookkk! Di-CPR dulu baru defib lagi. Itu mesin defibnya butuh waktu buat recharge dan sembari nunggu ya di-CPR dong ah.

"Bunyi detak jantung masih rata."
===> Haapppaaahhhh??? Rata anda bilang? Jadi dari tadi pasiennya udah rata alias garis lurus alias asystole? Ya terus kenapa didefib? CPR buruan!
Hiihh...!!! Minta didefib juga nih penulisnya. Photobucket

"Kita coba sekali lagi! Naikkan tegangan!"
===> *tarik napas dalam* Mbak Yunisaaaa, defib itu tegangannya gak dinaikkan. Tentukan aja mo pake defibrillator yang monophasic ato biphasic. Yang bisa dinaikin itu cardioversi. Logic check dong, mbak! Logic check!
*kemudian bengek* *lupa buang napas* *sengaja dijelasin* :p

"...pasien tersentak dan sesaat kemudian detak jantung si pasien perlahan kembali normal...pasien lelaki berwajah tampan itu bangun dari komanya yang panjang."
...
Saya speechless Photobucket.
Saran aja nih mbak penulis, kalo lain kali nekat mo nulis novel yang ada scene emergency-nya, coba kurangi nonton Grey's Anatomy dan Scrubs lalu perbanyak nonton ER ato House.

Sebenarnya ide dasar novel ini lumayan kok. Tapi kenapa eksekusinya bisa begini kacrut adalah misteri yang belum berhasil saya pecahkan.
Untuk nemuin jawabannya, saya mengikuti saran penulis untuk membaca ulang bukunya, karena "semakin dibaca ulang, kesannya jadi beda".

Bener sih apa yang dibilang itu.
Soalnya baca pertama kali bikin saya kasi 1 bintang, nah baca yang kedua malah turun jadi setengah bintang. Kesannya emang beda kok pas dibaca ulang. Semacam jadi makin keliatan garingnya gitu deh.

Sebenernya saya sih mau aja baca ulang untuk yang ketiga, keempat bahkan ampe 10x juga. Masalahnya, itu jatah bintang tinggal dikit. Khawatirnya kalo saya baca ulang tuh bintang malah jadi habis dan saya kudu bikin sistem rating baru.

Ya sebenernya gak papa juga sih bikin sistem rating baru, toh gak ribet juga. Tinggal nambah 1 shelf doang kok. Cuma saya masih bingung nentuin pake rating yang mana, apakah "
Kancut Rating System (pinjem istilahnya SinemaIndonesia)


ato

Eneg Rating System
Photobucket

(btw gambar diambil dari sini. Gak sempet putu sendiri soalnya)

Daripada kelamaan bingung, saya memutuskan menyudahi percobaan baca-ulang ini dan berhenti di 1/2 bintang saja.
Besides, this book worth its half star anyway.
Beneran kok! Coba deh baca blog penulisnya di post berjudul yang kena sensor. Saya sih bersyukur akan keberadaan editor di buku ini. Kalo nggak, entah bakal sepanjang apa review ini.
Jadi setengah bintang itu untuk para editor novel ini.

Bye the way, ampe akhir saya masih gak tau apakah kepo beneran bisa bunuh kucing #MasihNgototBahasKucing. Yang saya tahu, di akhir baca buku ini saya menemukan satu lagi persamaan saya dengan kucing yaitu : Gak ada kapoknya!

Saya juga gitu. Walopun keprimaan otak saya terancam tiap kali baca buku kacrut, tapi saya gak kapok untuk membaca buku kacrut. Karena menulis repiu kacrut sesungguhnya masturbasi otak.
Jadi sampai jumpa di repiu kacrut berikutnya (yang entah kapan).
Salam buku kacrut!

PS :
Terima kasih untuk siapa pun yang sudi membaca curhatan ini ampe akhir.
Maap kalo panjang banget. Saya emang gak jago nulis yang singkat, padat dan jelas. Saya jagonya emang ngoceh kayak gini.
Jadi makasi buat yang tahan baca ampe akhir.
Tapi saya punya pertanyaan buat anda/kalian :

"Anda gak ada kerjaan ya? Ngapain juga buang waktu baca ginian? Mending juga pacaran!
Eh apa anda jomblo? Aduh kacian. Ngenes ya hidupnya, blo?"
Photobucket

#BerlaluDenganSongong
#SambilGandengPacar
#YangAdalahBantal
.....
....
...
..
.


IYAAA...IYAAA...SAYA JUGA JOMBLO! SAYA JUGA NGENES!
PUASSS??? HAH? HAH?? HAH???

BUBAAARRR!!! WHOOSAAAHHHH....

Photobucket