Showing posts with label Romance. Show all posts
Showing posts with label Romance. Show all posts

Saturday, January 12, 2013

The Unwanted Wife

Data Buku 
Judul : The Unwanted Wife
Penulis : Natasha Anders
Tahun Terbit : September 2012
Bahasa : Inggris
Format : ebook

Kisah bermula di ranjang ketika sepasang suami istri (Sandro dan Theresa) baru selesai bercinta. Si Sandro ini punya kebiasaan mengucapkan "Give me a son, Theresa" setiap kali mereka selesai berhubungan.
Sounds romantic? Sama sekali enggak.
Menurut Theresa, Sandro menganggapnya hanya sebagai mesin pencetak anak dan dia sudah muak. Jadi dia meminta cerai kepada Sandro.

Sandro memang memperlakukan Theresa dengan dingin. Semuanya karena dia dendam pada ayah Theresa. Pernikahannya dengan Theresa terjadi karena sebuah perjanjian bisnis. Ayah Sandro yang sekarat sangat menginginkan sebuah kebun anggur yang dimiliki ayah Theresa. Dan berapa banyak pun Sandro bersedia membayar, ayah Theresa tidak mau melepasnya. Syarat dari ayah Theresa hanya satu : Sandro menikahi Theresa dan memberi seorang putra kepada Theresa. Setelah putra itu lahir, Sandro bebas menceraikan Theresa.
Karena itu, sejak awal menikah fokus Sandro hanyalah sesegera mungkin mendapatkan seorang putra. Dia acuh pada Theresa karena dia berpikir Theresa ikut dalam rencana licik ayahnya.

Belakangan Sandro baru sadar 2 hal :
1. Theresa gak tahu apa-apa tentang perjanjian yang dipaksakan ayahnya
2. Sandro sebenarnya mencintai istrinya
Sayang kesadaran itu datang terlambat karena sekarang Theresa berkeras ingin bercerai dengannya.

Awalnya Sandro masih bisa tenang. Dia tahu perceraian itu gak akan terjadi selama mereka belum punya anak. Hingga Theresa mengabarkan bahwa dia sedang hamil. And suddenly, Sandro knows the feeling of having a ticking time bomb. He has to do eveything to win her back while praying that it's not too late.
“And then when you told me you were pregnant, suddenly it felt like there was a ticking time bomb in the house. I didn’t have all the time in the world to make you love me again; I had only a few short months." -Alessandro-
Saya lagi mood membaca sesuatu yang angsty dan heart broken waktu teman saya merekomendasikan buku ini. Sekali lihat sinopsisnya dan tahu ini Harlequin, saya langsung males bacanya. Saya pikir buku ini gak beda jauh dengan Harlequin lainnya yang dramatis, menye tapi konfliknya cetek. In short, I thought it was a light and fluffy read.
(Hey don't get me wrong. I do love Harlequin. I just wasn't in the mood).
 Dan ternyata saya salah sekaligus bener.
Iya, emang bener buku ini dramatis, menye, tapi sama sekali gak fluffy. Dan gak terlalu ringan pula.
Konfliknya juga ada di perbatasan antara cetek dan enggak #halah.

Maksudnya, yaaa emang sih bisa dianggap cetek karena konflik tuh "cuma" seputar usaha sang suami untuk merebut kembali hati sang istri. Gak ada urusan rebutan warisan apalagi ampe rebutan nyawa dan tahta #SituKiraSinetron?
Tapi sejak kapan sih urusan hati dan perasaan bisa dianggap remeh apalagi cetek? #WhyDoISoundSoContradictive?
Si Bella Swan itu emang keliatan cemen banget waktu nangis ngeringkel kehilangan Edward di New Moon (kenapa jadi nyinggung ini sih?), tapi patah hati adalah suatu hal serius yang harus diperhatikan. Pernah dengar suatu penyakit jantung yang disebut Broken Heart Syndrome kan? Kalo belum, googling deh. Nanti tahu kalo patah hati tuh bisa fatal akibatnya. Dan karenanya kita gak boleh ngeremehin siapa pun yang patah hati. Dan juga karenanya, saya bisa maklum kalo ada orang yang berbuat apa saja demi mencegah hatinya hancur (sebenarnya saya gak setuju sama istilah patah hati itu. Secara teknis, hati gak bisa patah, bisanya hancur #ApaSihWi). Termasuk juga Sandro di buku ini. Sah-sah aja kalo dia mau menghabiskan 216 halaman untuk mendapatkan kembali cinta istrinya. Daripada dia kena Broken Heart Syndrome nantinya. #DoISoundLebay?
Therefore I can't say that the conflict is light  though I can't say it's a heavy one too.

Lalu kenapa rating saya mentok di tiga setengah bintang?

Setengah bintang saya potong karena geregetan sama karakter ceweknya. Yaaa ngerti sih kalo dia sakit hati dan trauma sama kelakuan suaminya. Jadi ketika sang suami bersikap baik dan berusaha memperbaiki kesalahannya, she always second-guesses his actions. But isn't she too much? Awalnya saya suka sama Theresa. Di awal dia berani nentang suami dan bapaknya setelah selama ini ditindas. Wow...a kickass heroine who knows what she wants. Kewl!
Sayang belakangan karakter dia jadi setipe dengan Harlequin sejenis yang plin plan dan bawaannya curigaaaa mulu. Rasa curiga yang bersumber dari rasa tidak-percaya-dirinya. Pfftt...I have enough of this type of character.

Setengah bintang lagi saya potong karena di bagian pertengahan terasa draggy ceritanya. Konfliknya berasa dipanjang-panjangin. Si Theresa kelamaan gantungin perasaan Sandro. Okeh...9 bulan untuk Theresa gantungin Sandro emang belum selama usia pernikahan mereka di mana Sandro PHP-in Theresa, tapi kan setting buku ini gak mulai dari awal pernikahan mereka. Jadi saya gak tahu gimana suasananya dulu dan sulit bersimpati dengan kelakuan Theresa sekarang.

Setengah bintang lagi dipotong deskripsinya yang diulang-ulang mulu. Entah berapa kali saya baca kalo Sandro itu tall, dark, brooding dan Theresa itu red hair, green eyes, bla bla bla.Geezz...we got it already. No need to keep telling us about it.
“Why should I forgive you and love you again? Why should I open up my heart to a man who would probably crush it in the palms of his hands?”
“You probably shouldn’t,” he smiled bitterly. “But I wish you would.”
“I can’t.” 
Reading one more that kind of conversation, make me wanna shout : "Stop this drama, will you?"

Tapi saya harus memberi point yang tinggi pada Sandro. Dia contoh yang cocok untuk karakter a redeemable hero
Ngebaca buku ini di awal, kesan yang ditangkap dari Sandro adalah he's a jerk, an ass. Tapi dia berkembang jadi karakter yang oh-make-my-heart-melt. Penulis jarang mengambil cerita dari sudut pandang Sandro, tapi toh pembaca bisa dapat kesan kalo Sandro beneran serius menyesal dan niat berubah. Satu kalimat ini sudah cukup menggambarkan perubahan karakter Sandro.
"I started praying for a girl because I knew a girl would buy me more time. A girl would keep you with me longer; it would also prove to you, once and for al that your father’s ridiculous contract meant nothing to me anymore. That I wanted our marriage to last forever - Alesandro-
Another point just because this is an angsty read, just like what I'm looking for. Yaa...emang sih gak segitu tear-jerker dan heart-wrenching seperti yang saya mau, gak bisa juga bikin saya sedepresi waktu baca The Fault In Our Stars . Tapi sebagai pembuka, lumayan lah buku ini.

It's a good debut novel, Ms. Natasha Anders. Keep it coming.


PS : Review pertama untuk 2013 Books In English Reading Challenge. Yeaayy

Wednesday, December 26, 2012

Book Kaleidoscope 2012 - Top Five Book Boy Friends







Tahun 2012 akan segera berakhir. Dan seperti tahun lalu, kali ini saya juga bakal posting Top Five Book Boy Friends.

Untuk saya pribadi, ada perbedaan antara event tahun ini dan tahun lalu. Kalo tahun lalu saya membuat Top Five Book Boy Friends of All Time, maka tahun ini saya mengkhususkan hanya pada buku-buku yang saya baca di tahun 2012 ini.

Lalu untuk tahun ini, event Book BoyFriends ini tergabung dalam proyek Book Kaleidoscope 2012 milik Mbak Fanda. Dalam Book Kaleidoscope ini tidak hanya ada kategori Best Book BoyFriends, tapi juga Best Book Covers dan Most Favorite Books.

Setelah mendaftarkan diri ikutan event ini, baru saya melihat buku yang sudah saya baca sepanjang 2012 di Goodreads dan baru nyadar kalo kebanyakan buku yang saya baca tahun ini tuh non fiksi. Dan sekalinya fiksi pun, lead male-nya kurang berkesan (_ _"). Untungnya, saya masih bisa milih 5 di antaranya. And without further ado, here they are (in alphabetical order) :


1. Alex Sheathes dari Delirium Series

Alex, remaja bebas pemberani yang mampu meyakinkan Lena untuk menerjang tembok pembatas dan mengenalkannya pada dunia baru. Alex yang mampu membuat Lena percaya diri. Alex yang tak pernah berhenti mendukung dan selalu mendengarkan curahan hati da kegelisan Lena. Dan Alex yang selalu melindungi Lena bahkan dengan nyawanya sekali pun. What's not to like from this character?
“You can build walls all the way to the sky and I will find a way to fly above them. You can try to pin me down with a hundred thousand arms, but I will find a way to resist. And there are many of us out there, more than you think. People who refuse to stop believing. People who refuse to come to earth. People who love in a world without walls, people who love into hate, into refusal, against hope, and without fear.
I love you. Remember. They cannot take it.”
Untuk versi real life-nya, saya harus ngaku kalo saya buruk dalam hal pemilihan aktor. Saya gak tahu banyak aktor soalnya.
Tapi sesuai dengan deskripsi Alex Sheathes yang "His hair is golden brown, like leaves in autumn just as they're turning, and he has bright amber eyes"  maka saya memilih dia :

Yep...dia adalah Shiloh Fernandez. What do you think?

2. Augustus Waters dari The Fault In Our Stars

Ah...masihkah Augustus Waters perlu diperkenalkan pada khalayak kutu buku? Saya yakin, namanya akan cukup banyak muncul dalam list Top Book Boyfriend tahun ini.
“Oh, I wouldn't mind, Hazel Grace. It would be a privilege to have my heart broken by you.” - Augustus Waters-
Kalo harus menunjuk tokoh paling optimis di buku yang saya kenal sepanjang 2012 ini, maka Augustus lah jawabannya. Dia mantan penderita kanker memang, tapi semua orang juga tahu bahwa yang namanya kanker selalu ada kemungkinan kambuh lagi.
Apa pengetahuan ini membuat Augustus jadi pesimis dan "pahit"? Sama sekali tidak.
Dia tetap menjalani hidupnya dengan riang dan berani. Semangat hidup August, kemampuannya untuk berpikir out-of-box, optimismenya pada kehidupan dan supportnya pada Hazel membuat saya memasukkannya dalam daftar Top Five Book Boyfriends versi saya tahun ini, dia bahkan bisa masuk ke kategori all time. That shows how much I love him.
(PS: Eh baru nyadar kalo belum ngereview bukunya :D)
“You don't get to choose if you get hurt in this world...but you do have some say in who hurts you. I like my choices.”- Augustus Waters-
 Siapa aktor yang cocok berperan sebagai Augustus?
Jujur...saya susah banget ngebayangin siapa yang cocok. Tapi gimana kalo ini :



Yep...dia adalah Andrew Garfield. Okeh...dia mungkin ketuaan untuk jadi remaja 17 tahun, tapi...tapi...dia begitu ganteng (eaaa....fangirlingnya kumat), dan jahil dan slengean.


3. Beno Wicaksono dari Twivortiare

Sebenarnya tipe cowok lempeng dan datar kayak Beno bukanlah tipe favorit saya.
Jadi apa yang membuatnya masuk dalam Top Five? Lebih karena karakternya yang family man dan bertanggung jawab banget.
Di sela-sela kesibukannya sebagai dokter bedah thoraks, Beno selalu mencari waktu untuk menunjukkan pada Alexandra (istrinya) bahwa dia mencintainya. Beno emang pembuktian nyata dari kalimat : "Just because someone doesn't love you the way you love him to, doesn't mean he doesn't love you with everything he has." Kalimat lama yang sudah pasaran banget tapi toh terbukti kebenarannya. Thanks for reminding me about that words, Ben.

Mengenai versi orangnya, hmm....penulisnya sendiri sih bilang Ari Sihasale yang paling cocok untuk peran ini (kalo gak salah ingat yaaa). What do you think? Does he fit?
Mungkin penulis melihat dari brewoknya kali yaa.
Kalo buat saya sih, lebih pengen menominasikan Reza Rahadian (semua karakter di film Indo emang suka saya bayangkan sebagai Reza kok). Etapi Reza Rahadian cocok gak sih jadi karakter pendiam nan lempeng?
 "Lex, dulu kamu pernah minta aku janji bahwa aku nggak akan melepaskan kamu apa pun yang kamu bilang atau minta ke aku. So this me not letting you bail, Sayang. This is me not letting you go. Okay?" -Beno Wicaksono-

4. Gerry Kennedy dari P.S.I Love You


Apa yang kamu harapkan dari seorang pasangan hidup?
Seorang yang tidak hanya bisa menjadi kekasihmu tapi juga bisa menjadi sahabat terbaik? Someone that could make you feel like you're home whenever you're with him/her? Someone that always makes you feel loved? Someone that you could always turn to when the going get tough?
Itulah tepatnya arti seorang Gerry bagi Holly.
Apa yang membuat Gerry lebih istimewa lagi?
Surat yang dikirimkan Gerry kepada Holly bahkan sampai 10 bulan setelah Gerry meninggal. Many guys could tell their woman that they love her, many guys could prove it too. But not many guys who could prove it to their woman after they passed away. Dan satu hal lagi yang menarik, karena surat-surat itu menjadi kekuatan Holly dalam menghadapi hidup setelah ditinggal Gerry.
Wow...he really is someone she could turn to anytime.

Buku ini telah difilmkan dengan Gerard Butler sebagai Gerry Kennedy.
What can I say? I looovveee Gerard Butler.
Berhubung filmnya saya tonton setelah baca bukunya (iyaaa...saya emang baru nonton filmnya tahun ini juga), maka jujur saya sih gak bisa ngebayangin sosok Gerard saat baca bukunya.
Tapi waktu nonton, it feels that he fits the role.
 "What do you want? I know what I want, cause I'm holding it in my hands."
-Gerry Kennedy,
while holding Holly by the shoulders-


5. Hunter Zaccadelli dari My Favorite Mistakes
 “I don't like you. I don't like how your hair smells, and how I can't stop thinking about waking up and seeing your face. I hate how my bed felt empty when you left. I don't like how good you were with my family, especially Harper, and how I wanted ot see you with them again, but not just as a guest. As a member. You're right. I don't like you at all.” -Hunter Zaccadelli-
Secara penampakan fisik, Hunter emang tipe bad boy. Punya tattoo, pake anting, you name it lah. Tapiii di luar itu, Hunter juga pinter masak (wow), jago main gitar daann jago nyanyi.
Tapi yang bikin Hunter masuk dalam top 5 bukan cuma karakteristik di atas.
Yang bikin Hunter stands out buat saya adalah kesabaran dia menghadapi Taylor (ceweknya). Dia tahu kalo Taylor punya trauma tertentu yang bikin cewek itu susah percaya sama orang asing apalagi cowok. Jadi satu-satunya cara bagi Hunter untuk bisa mendapatkan Taylor adalah dengan mendapatkan kepercayaannya. And that's what he did.
Yang saya suka juga, Hunter itu gak gombal. Gak ada janji setia sehidup semati yang dia bilang. Gak ada juga segala kalimat till-death-do-us-part. Tapi dengan caranya sendiri, Hunter bisa meyakinkan Taylor bahwa dia serius.
“I can't promise not to make you mad. I can't promise that I won't hurt you. All I can promise is that I want you in my life, and I'll do anything to keep you there.” 
-Hunter Zaccadelli
Yeaa..,yeaaa...I know it's cheesy, but that is the kind of cheesiness that I like.

Dan soal romantis? Kurang romantis apa sih kalo ada cowok yang ngomong kayak gini ke ibu kamu:
“You're not just doing that to impress her, are you?"
"Everything I do is to impress her. It's my mission in life," he said with a completely serious face, while he squeezed my knee under the table.
Hmmm....sapa ya yang cocok jadi Hunter? *garuk pala*
Jujur aja, menurut saya sih cowok di cover itu udah pas. Saya juga ngebayangin yang mirip di cover kok selama membaca bukunya.
Tapi kalo harus milih, what about this one :

Dia adalah Wentworth Miller. Yaaa...emang lagi-lagi ketuaan sih buat jadi Hunter *garuk kepala lagi* *tapi gak ketombean lho* #pentingabis
Tapi imagenya Aa Wentworth ini cocok buat jadi Hunter.

Dan itulah top 5 book boyfriend saya untuk tahun ini. Jujur aja, ada di antara mereka yang sepertiya gak akan masuk top 5 versi saya seandainya saya punya pilihan lain. Tapi dari pilihan yang ada tahun ini, this is the best for me.
Gimana dengan kamu? Siapa top 5 book boyfriend/girlfriend-mu? Sharing yuk.

Oiya kalo mo liat top 5 book boyfriend versi blogger lain, silakan cek masterpost event ini di blognya Mbak Fanda.  

Friday, December 21, 2012

Camar Biru

Judul : Camar Biru : Cinta Tak Selalu Tepat Waktu
Penulis : Nilam Suri
Penerbit : GagasMedia
Tahun Terbit : November 2012
Bahasa : Indonesia
ISBN : 9797806030
Rating : 4 out of 5 Stars

Ini cerita tentang sebuah bujursangkar, yang dulu pernah begitu solid namun kini terpecah karena sebuah tragedi.

Ini cerita tentang Nina, salah satu sisi bujur sangkar yang tersisa. Sang putri gulali dengan warna pastel yang berubah jadi manusia kelabu berhati biru. Nina yang hidup dalam kurungan kenangan masa lalu. Nina yang sekadar "bertahan" untuk hidup namun juga ingin menghilang.

Ini juga cerita tentang Adith, sisi lain yang tersisa dari bujur sangkar. Adith memang bukan pangeran tampan berkuda putih-nya Nina, tapi Adith adalah pangeran yang selalu setia di samping Nina. Adith yang tidak membiarkan Nina menghilang.

Berawal dari pemenuhan sebuah janji yang terucap sepuluh tahun lalu, kini Adith dan Nina belajar untuk memaafkan masa lalu, berani menapak masa depan dan menerima satu sama lain dalam hati masing-masing.


Pertama kelar baca buku ini, saya bengong sesaat. GIMANA CARANYA BIKIN REVIEW BUKU INI SECARA FAIR TANPA CURCOL???

Well...anyhoo this is my attempt. Mudah-mudahan sih fair dan gak jadi curcol. Dan mudah-mudahan juga gak ada spoiler. Tapi kalo pun iya, you've been told before :p.

Satu, saya suka sama penggalan lagu-lagu yang ada di tiap bab, fits my taste. Terutama buat lagu "Paint It Black"nya The Rolling Stones yang pernah jadi soundtrack hidup saya dan "Blackbird"nya Beatles yang masih menjadi soundtrack saya.

Dua, saya kurang nyaman dengan gaya bahasa loe-gue yang dipake di buku ini. Saya ngerti kalo percakapan antar tokoh pake gue-loe, ato ketika yang bernarasi adalah tokoh pria, tapi saat semua tokoh menggunakan gue-loe, maka yep...saya terganggu.

Tapi saya salut. Walopun pake bahasa gue-loe, percakapan antar tokoh di buku ini berbobot. Bahasa ringan yang digunakannya membuat pesan yang ingin disampaikan jadi "kena". Saya juga suka analogi-analogi yang digunakan oleh Nilam. contohnya percakapan mengenai Dufan berikut ini :

"Lo tahu nggak kenapa gue bilang tempat ini sebagai tempat kebahagiaan semu?" "Karena menurut gue, orang - orang yang sedang menaiki wahana ini sebenarnya sedang setengah mati ketakutan. Mereka sebenarnya sedang setengah mati ketakutan dan berusaha menutupinya dengan tawa."
Tiga, masih soal gaya bahasa. Sama kayak mas Tomo, saya nggak ngerti kenapa Sinar membahasakan diri dengan "saya" ke Nina. Mereka sangat akrab bukan? Kenapa nggak pake "gue-lo" aja? Ato paling nggak "aku-kamu" lah. "Saya" itu kesannya resmi banget untuk seorang istimewa yang dikenal selama 20 tahun lebih.

Empat, saya nggak nyaman dengan multi POV yang dipake buku ini.
Don't get me wrong. Saya suka kok baca cerita yang pake POV 1 ato POV berapa pun itu. Saya juga suka kalo cerita pake multiple POV 1 yang membuat setiap tokoh utama ber-narasi seperti yang terjadi di Perfect Chemistry-nya Simone Elkeles ato Antologi Rasa-nya Ika Natassa. Fine with that.

Tapi ketika sebuah buku mengambil multiple POV 1 lalu beralih ke POV 3 dan balik lagi ke POV 1, then I have a problem with that. Penulisnya berasa Tuhan yang bebas mengatur nasib para tokohnya.

Lima, sama seperti sebagian besar reviewer, saya juga gak suka dengan bagian epilog itu. Cerita ini akan lebih nendang kalo ditutup di bab sebelum epilog. I prefer a story that tied with a red ribbon but not too tight please.

Enam, saya suka dengan analogi asap rokok di buku ini.
"Gue selalu percaya permintaan itu akan dikabulkan kalau dia bisa terbang semakin tinggi, nggak tahu kenapa. Mungkin kalau dia semakin tinggi, dia akan semakin mudah didengar. Karena nggak mungkin gue harus terus-terusan naik pesawat setiap kali punya permintaan, jadi jalan lainnya adalah dengan asap."
Seseorang juga pernah mengajarkan hal serupa pada saya. Namun bukannya menggunakan rokok, beliau menggantinya dengan balon gas. Saya sempat lupa dengan ajaran tersebut dan membaca bagian asap rokok membuka kenangan saya akan beliau. Thank you, Nilam, for bringing back that sweet memory.

Tujuh, uhm...jujur...saya kurang suka dengan covernya. Cantik sih, tapi gak secantik cover Gagas lain. Emang cover designer-nya bukan favorit saya ternyata.
Tapi itu gak penting.
Yang penting adalah : kok gambar yang ada di cover itu bangau kertas biru sih? Kan judulnya camar biru? #SebenernyaIniJugaGakPenting
Apa karena Gagas gak punya stok gambar camar kertas biru? Ah enggak kookk. Halaman dalam buku ini dipenuhi gambar camar kertas

Delapan, bosen rasanya harus bilang ini lagi dan lagi *sigh*, tapi saya gak suka banget deh dengan blurb di buku ini. Tipikal Gagas banget sih yang suka kasi blurb sok puitis berisi curahan hati salah seorang tokohnya tapi gak bakal dipahami maksudnya sama orang yang belum baca novel ini (Dan kenapa bahasa gw ribet giniii??)

Jujur aja, kalo saya lagi di toko buku, ngeliat cover buku ini dan baca blurb di back cover, saya gak bakal tertarik beli buku ini. Blurb-nya gak menjual. In fact, yang bikin saya ngeh sama buku ini adalah nama penulisnya dan review Mas Tomo.

Sembilan, hmm...twist di buku ini sebenarnya udah ketebak bahkan sejak awal. Dari sejak bab 5 ketika Nina bernarasi seperti ini :
"Dengan tetap menyisihkan malam penuh kabut lainnya, kabut mengerikan, yang juga dari sepuluh tahun lalu. Alasan sebenarnya kenapa gue membiarkan Adith membuat sumpah konyol itu, dan alasan kenapa gue menyetujuinya sekarang."
Lain kali coba clue-nya jangan ditaro sejak awal buku, mbak Nilam. Jadinya ketebak. Akan lebih bikin penasaran kalo cuma tokoh Adith aja yang berprasangka dan menebak-nebak sendirian. Biar pembaca (saya sih tepatnya) ikut menebak bersama Adith.

Sepuluh, saya suka dengan chemistry antar tokohnya, terutama chemistry Adith-Nina. Kerasa banget transisi perasaan mereka dari sahabat lama yang kemudian belajar membuka hati. Saya suka gimana Nilam perlahan membangun chemistry mereka hingga keduanya sadar bahwa mereka butuh yang "lebih" dari hubungan mereka selama ini.

Sebelas, saya berharap buku ini bisa lebih tebal sehingga Nilam bisa mengeksplorasi karakter Nina lebih dalam. See...Nina has some wrecked past yang mengubah karakter keseluruhannya. Saya berharap Nilam bisa menggambarkan perasaan dan trauma Nina lebih dalam lagi, tentang bagaimana dia mengatasinya atau bagaimana perjuangan dia untuk menerimanya.
Tapi saya juga paham kok perjuangan psikologis Nina bukanlah topik utama kisah ini. Dan saya juga paham kalo 279 halaman tidaklah cukup untuk mengeksplorasi hal tersebut, belum lagi ditambah cerita tentang Adith-Nina di masa sekarang.

Dua belas, saya suka analogi persahabatan bujur sangkarnya. I know it so well.

Saya pernah punya sebuah persahabatan seperti itu dalam hidup saya. Sebuah dekagon yang begitu solid dan bertahan 20 tahun lebih.
Tapi 2x campur tangan Thanatos dan sebuah "persilangan hati" meretakkan dekagon kami.

Beberapa memilih seperti Sinar, yang pergi menjauh namun tak bisa benar-benar lepas dari jaringan sisi dekagon yang tersisa.
Beberapa seperti Nina yang berusaha keras mempertahankan apa pun yang tersisa dari sebuah ikatan yang sudah retak, mengubahnya jadi oktagon bila perlu.
Saya?
Saya seperti Adith yang hanya diam dan menikmati sisi mana pun yang tersisa dari dekagon kami. Sama seperti Adith, saya tak berusaha menjauh, namun juga tak berusaha merekatkan apapun.
Dan karena itu, I feel Adith. Saya ngerti concern-nya ke Nina, juga rasa pahitnya pada Sinar yang memilih pergi.

Tiga belas, saya suka kalimat ini dari halaman 269 :
"Kadang, saat kita nggak mampu melepaskan orang yang terlalu kita cintai, berarti kitalah yang harus pergi. Mungkin membalikkan badan dan berlalu lebih mudah dibanding berdiri diam menatap punggung seseorang (atau dalam kasus gue, menatap batu nisan) yang berjalan menjauh."
I did that once.
Sayang saya gak seberuntung tokoh-tokoh dalam buku ini. Karena saat kembali, saya masih terjebak dalam same-old-brand-new problem. Should I go again? (woooiii....kok jadi curhat wooiiii? XD)

Empat belas, saya mempertanyakan maksud kalimat yang ada di halaman 4 : "Si Kunyuk itu pecandu kopi akut dan cuma mau kopi Sumatra-nya Starbucks".

Apa maksud "akut" pada kalimat di atas? Apakah Si Kunyuk baru-baru ini saja suka kopi? Ah nggaaakk kookk. Dari ceritanya jelas ditunjukkan Si Kunyuk sudah lama suka kopi.
Mungkin maksud Nilam adalah "kronis"?
Ato mungkin maksud Nilam, Si Kunyuk adalah pecandu kopi kelas berat?
Apa sih makna "akut" yang dimaksud?

Dan kenapa saya segitu bawelnya sama satu kata doang?

Simpel sih, karena saya liat banyak banget penggunaan yang salah pada kata "akut". Entah kenapa banyak yang berpikir "akut" artinya sudah parah. Sehingga saat saya bilang ke client saya kalo penyakit mereka adalah tipe penyakit yang akut, yang ada mereka jadi pucat dan panik.
Padahal akut kan merujuk pada suatu hal yang baru terjadi. Belum tentu jelek.

Dan sebelum saya salah kaprah sama maksud Nilam, mending saya tanya dulu kan?

Lima belas, kenapa saya kasi bintang 4 untuk novel ini?
Balik ke definisi goodreads dan definisi saya aja. Karena saya suka banget sama buku ini dan bakal saya baca ulang someday. Terutama kalo saya lagi mood untuk buku ringan yang beraura beautifully sad dan sadly beautiful kayak buku ini.

Fyuh...finally nemu juga buku terbitan Gagas yang bisa saya sukai dan tidak membuat saya merasa tertipu oleh covernya.

Enam belas, ini sih buat Sulis doang. Liiisss, ada buku Gagas bagus yang layak masuk koleksi niihh. X)

Udah ah. So far sih cuma 16 point ini yang keingat ("cuma" loe kateee, wiii?"). Kapan-kapan kalo masih ada yang perlu ditambah, ditambahain aaahh.
Reserved to be edited sometimes later yaaaa #berasaKaskus

Wednesday, December 19, 2012

Always You

Judul : Always You
Penulis : Kirsty Moseley
Genre : Young Adult
Rating : 1 of 5 stars


Tiap abis kasi 1/2 - 2 star review ke sebuah buku, saya jadi penasaran pengen baca buku lain karya pengarang tersebut. Pengen tahu aja buku berbintang rendah itu apa karena saya beneran gak satu selera dengan pengarangnya ato cuma kebetulan buku itu aja yang saya gak suka.

Begitu juga dengan Kirsty Moseley ini. Buku pertamanya yang saya baca kurang memuaskan, tapi saya bisa melihat ada potensi di sana. Maka dengan semangatnya saya mulailah membaca buku ini, dan ternyata...

Okeh...sebelum saya mulai ngoceh gak jelas, mending saya kasi tau dulu ceritanya kayak gimana. Some spoilers here, so beware.

Riley & Clay sudah bersahabat dari kecil. Clay yang playboy tapi guanteng abis itu sebenarnya naksir Riley dari dulu, tapi si RIley gak nyadar. Semua berubah setelah Riley liburan sebulan dan gak ketemu Clay sama sekali. Saat itu dia mulai merasakan perubahan perasaannya pada Clay.

Awalnya Riley denial dengan perasaannya ini, bahkan waktu mereka udah making out sekali pun. Sampe akhirnya Clay mengakui kalo dia udah cinta Riley dari dulu. Thus dimulailah hubungan mereka.
Apa konfliknya?

Konfliknya ada pada Blake, mantan senior Clay di klub football dulu. Blake & Clay dulunya bersaing di tim football, dan sekarang mereka bersaing memperebutkan hati Riley. Ketika Riley memilih CLay, Blake pun gak rela. Dia berubah jadi stalker bahkan sampe ke titik dia nekat menculik Riley.

Udah segitu aja ah sinopsisnya. Males kasi cerita lebih panjang #eh

Kesan setelah baca buku ini? Hampir sama dengan kesan setelah baca The Boy Who Sneaks in my Bedroom Window, kecuali bagian judulnya itu.

Sama kayak di The Boy Who Sneaks in my Bedroom Window (TBWSimBW), covernya masih keren. Dan kali ini lebih jelas lah maknanya apa.

Tapi sama kayak di TBWSimBW juga, kalimat-kalimatnya terlalu cheesy. Kalo di buku sebelumnya, kata "hot ass" paling sering muncul, dibuku ini 3 kata "i-love-you" lah yang paling mendominasi. Serius, mulai bab 8, 3 kata itu bisa ditemukan minimal 1 di TIAP HALAMAN! Saying i-love-you is nice and sweet, but overdo it and you'll look like a freak.

Kalimat cheesy nan gombal lain gak perlu lah saya tulis di sini. Cukuplah dipahami bahwa kalo di TBWSimBW saya khawatir kena diabetes, di buku ini saya malah mual banget saking udah kebanyakannya disuguhin yang manis tapi garing.

Oh dan jangam lupakan grammar mistakes yang udah ada di buku sebelumnya dan ada juga di sini.
Saya bukan native english (iyaaa...ngakuuu....english saya kacrut abis), tapi bahkan dengan kadar kacrut saya pun saya merasa terganggu dengan grammar mistakes di buku ini.

Ceritanya pun....gak realistis.
Idenya sih lumayan, tentang 2 sahabat yang kemudian saling jatuh cinta. Oh...I know that kind of story very well. Tapi apa Riley dan Clay beneran sahabat? Entahlah. Kadang susah dibedain apa mereka beneran sahabat ato bestfriends with benefit.

Contohnya :
- di buku ini gak perlu lagi sneak through window, karena orang tua Riley dengan pengertiannya mengijinkan Clay nginap di kamar Riley sejak mereka kecil.
Okeh...saya juga punya sahabat cowok dari SD, dan udah gak terhitung berapa kali kami nginap bareng.
Tapi sejak kami kelas 5 SD pun, kami udah gak diizinkan tidur sekamar, apalagi seranjang kecuali mendesak.

- bestfriends tapi hobinya bikin hickey dengan alasan "marking teritorry"? That's weird.

- bestfriend tapi pelukannya sampe rada digendong dan kaki melingkari pinggang cowok? Really weird.

- bestfriend tapi making out to the point of dry hump? Jeez...what's wrong with you two?

- ada adegan Riley, Clay dan teman-teman mereka weekend getaway ke Vegas dan bokapnya Riley dengan santainya kasi US$ 100 dengan pesan dihabiskan di casino. Serius? Ngasi USD 1000 ke anak 17 tahun cuma buat dihabiskan di meja judi? Ditambah Clay dengan kebetulannya memenangkan USD 170.000 di mesin blackjack. Whaaatttt??? Bahkan penjudi senior juga belum tentu seberuntung itu. Beginner's luck? Maybe....but just too much.

- Spoiler nih ya : nanti Riley dan Clay nikah di Vegas. Dan bukannya freaking out besoknya, keduanya malah girang dan berpikir untuk serius membangun rumah tangga. Termasuk ampe nyari apartemen sendiri and bla bla bla. Heu??? 17-18 tahun???
Again...saya tahu itu mungkin.
Tapi...too much.

Masih banyak daftar keanehan yang sulit diterima otak saya yang cetek ini, tapi sudahlah. Lagi gak mood ngoceh panjang (segini gak panjang, wi?)

Sebenernya ada beberapa scene yang "kena" di buku ini, contohnya waktu Riley berusaha meyakinkan Clay bahwa dia menerima Clay apa adanya sekali pun dia lumpuh nanti (ups...spoilerkah ini?). Sayang, bukannya fokus di scene bagus semacam itu, Moseley malah memilih berfokus di adegan making out yang bertaburan di buku ini. Is this some kind of a soft porn?

Ada 1 hal yang bisa saya sukai dari buku ini, yaitu character developmentnya. Riley yang ada di halaman awal dengan Riley di bab terakhir sungguh pribadi yang jauh berbeda. Kedewasaan dan ketangguhannya terasa.
Untuk Clay sih gak terasa perubahan signifikan. Tapi emang sebanyak apa sih karakter yang dari awal diplot manusia sempurna bisa berkembang lagi?

Lalu sekarang, apakah saya tertarik membaca buku Moseley yang lain?
Hmm...gak tahu kalo nanti berubah ya, tapi untuk sekarang sih rasanya cukup 2 ini sajalah.

Thursday, November 8, 2012

Friday's Recommendation #5 : The Boy Who Sneaks In My Bedroom Window

Hari Jum'at lagiiiii....
Artinya waktu untuk Friday's Recommendation. Yaiiiyyyy \(^_^)/


Buku yang saya rekomendasikan untuk diterjemahkan kali ini adalaaahhhh.....


 

The Boy Who Sneaks In My Bedroom Window
Kirsty Moseley
Genre: Teenlit, Romance
Sinospsis:

 Amber Walker and her older brother, Jake, have an abusive father. One night her brother's best friend, Liam, sees her crying and climbs through her bedroom window to comfort her. That one action sparks a love/hate relationship that spans over the next eight years.

Liam is now a confident, flirty player who has never had a girlfriend before. Amber is still emotionally scarred from the abuse she suffered at the hands of her father. Together they make an unlikely pair.

Their relationship has always been a rocky one, but what happens when Amber starts to view her brother's best friend a little differently? And how will her brother, who has always been a little overprotective, react when he finds out that the pair are growing closer? Find out in The Boy Who Sneaks In My Bedroom Window.

Saya sudah pernah mereview buku ini di sini. 
Saya memang cuma kasih 1,5 bintang di review itu. Tapi menurut saya, buku ini punya potensi bagus untuk diterjemahkan. Kalo sasarannya anak remaja (sekitar SMU gitu) pasti suka sama buku ini dan menganggap Liam James tipe cowok impian banget. Dan seandainya saya baca buku ini waktu remaja, kemungkinan saya juga kasi 5 bintang kok. (Iyaaa.....tante-tante emang gak semestinya baca bukunya ABG kok ;p) *tapi saya bukan tante lho*

Lagipula buku ini salah satu nominator Goodreads Award 2012 lhoo. Artinya ratingnya bagus kaann

Gimana dengan kamu?
Punya buku menarik untuk direkomendasikan? Kalo ada, yuk gabung di Friday's Recommendation-nya Ren. Yuk main ke blognya Ren dan baca rekomendasi teman-teman yang lain.


Oya kalo berminat ikutan, sila baca rules-nya Friday's Recommendation : 

1. Pilih jenis rekomendasi buku. Ada dua jenis rekomendasi, yang pertama dan sifatnya mutlak adalah Rekomendasi Buku untuk Diterjemahkan . Jika tidak ada buku yang direkomendasikan untuk diterjemahkan, maka bisa memilih pilihan kedua, Rekomendasi Buku Pilihan. Disini rekomendasikan buku yang paling kamu suka baca dalam minggu ini.
2. Pilih hanya 1 (satu) buku untuk direkomendasikan. Tidak boleh lebih.
3. Beri sinopsis, genre buku dan alasan kenapa kamu merekomendasikan buku itu.
4. Posting button meme (dengan gambar kucing lucu X) ) di bawah ini :


5. Blogger yang sudah membuat memenya, jangan lupa menaruh link ke blog di daftar linky di bagian paling bawah post ini, sehingga pembaca bisa blog walking.
6. Untuk pembaca blog yang tidak punya blog, bisa menulis rekomendasinya di kolom komen.
7. Bahasa yang dipergunakan terserah. Jika memang khusus blog yang menggunakan bahasa Inggris, dipersilakan menulis dengan bahasa Inggris. Begitu juga sebaliknya.

Thursday, October 18, 2012

The Boy Who Sneaks in my Bedroom Window

Data Buku :

Judul : The Boy Who Sneaks in my Bedroom Window
Penulis : Kirsty Moseley
Published : April 2012
ISBN13 : 2940033206711
Bahasa : Inggris
Format : ebook

Amber dan Jake punya ayah yang abusive. Suatu malam, saat Amber menangis di tempat tidurnya setelah dipukuli sang ayah, datang seorang bocah lelaki yang menenangkan tangisnya dan menemaninya tidur sampai pagi. Bocah itu adalah Liam, tetangga sebelah rumah juga sahabat Jake.
Cerita maju 8 tahun kemudian.
Orang tua Amber telah berpisah setelah si ayah mencoba memperkosa Amber (untunglah bisa digagalkan oleh Jake dan Liam). Kejadian itu meninggalkan trauma pada Amber. Dia tak nyaman dengan sentuhan bahkan dari teman ceweknya sekali pun. Anehnya, trauma ini tak berlaku pada ibu, Jake dan Liam.
Bahkan, selama 8 tahun ini dia selalu tidur bersama Liam (tidur beneran lho). Singkatnya Amber sama Liam jadian.
Dan dimulailah hubungan mereka yang manis itu.
Konflik utama muncul ketika ayah Amber kembali dan ingin mengganggunya lagi.

Saya pengen banget kasih bintang yang lebih tinggi untuk buku ini. Swear, pengen banget. Tapi setiap saya bisa memaafkan satu kekurangannya, maka muncul lagi segebung kekacrutan di buku ini yang bikin saya #tepokjidat.

Ayo kita bahas! (btw ini bakal panjang banget lho, FYI aja sih).

1. Judul
Dimulai dari judulnya yang panjang buanget itu. Okelah...judul panjang sih gak papa. Masih ada buku lain yang judulnya lebih panjang (eh iya kan ya?). Buat saya sih, masalahnya ada di arti judul itu sendiri. Dari judul itu aja, pembaca udah tahu ceritanya bakal tentang apa. (Q: Tentang cowo yang nyusup lewat jendela kan? A: MENURUT NGANA?). Udah saingan sama koran erotis deh dari segi "kejelasan" ceritanya.
Kayak gini contohnya :
Image and video hosting by TinyPic

Ato ini :
Image and video hosting by TinyPic

Got what I mean?

Ini penulis dan editornya kehabisan ide ato emang males nyari judul yang lebih keren? Coba belajar bikin judul sama novel The Fault In Our Stars ato Extremely Loud & Inredibly Close.

2. Cover
Tapi judul aneh termaafkan karena covernya yang cuantek itu. Saya paling suka cover dengan nuansa hujan. Adanya siluet "love" di jendela basah itu semakin menambah suasana sendu dan romantis.
Sayang, saya malah merasa ketipu sama tuh cover. Kirain bakal bersetting di musim hujan gitu. Ini mah boro-boro musim hujan, sekadar gerimis numpang lewat aja gak ada.
Boro-boro gerimis numpang lewat, adegan langit mendung juga gak nongol biar cuma sekali. 
Boro-boro langit mendung, bahkan...oh oke...you get my point already.

3. Gaya penulisan
Gaya penulisan, diksi, ato apapun lah itu namanya, buat saya sih mentaaahh banget. Ya emang gak semua buku kudu pake bahasa puitis nan berbunga-bunga. Saya pun kurang demen sama bahasa puitis kecuali emang ceritanya mendukung. Berhubung ini novel remaja, gaya bahasa casual pun cukuplah. Tapi mbok ya jangan se-"polos" itu juga.
Semua hal dijelaskan dan diceritain sama penulisnya. Apa dia meragukan level intelejensia pembacanya?
Rasanya kayak baca diary curhat anak SMA. Curiga jangan-jangan si penulis minjem diary anak SMA beneran, trus dipoles dikit, kasi karakter yang bikin melting, ending dramatis, trus jadi deh 1 draft novel.

Saya juga gak suka dengan "kekreatifan" penulis dalam memilih kata ato mendeskripsikan sesuatu. Tampaknya bagi Moseley, deskripsi seksi serta cakepnya seseorang itu hanya bisa diliat dari how-hot-her/his-piece of ass-is.
-"Hey, Ambs, did you ride in with hot piece of ass one and two again today?”
_"Apparently, I just want to tap your very fine ass,” he said
Okay, total count of ass-word is 91 in this book. I don't need to quote all of it.

Geez...what's with ass and the author?
Does she has some fetish with ass? Ya gapapa, haknya dia kok itu. Tapi gak usah juga ngajak pembacanya ikut-ikutan sama fetish dia ya.
See...I love hot asses too. Winnie The Pooh's ass is a winner there. Followed closely with Channing Tatum's. But you don't see mee talk about it the whole time.
Oh wait! I just did!
But at least I'm talkin only in this part of the review, not in all the books like Moseley did. *meh! Lame excuse, I know*

Image and video hosting by TinyPic
See how hot his ass?

Image and video hosting by TinyPic
So nice even when he's little *kok jadi creepy ya?*

Okay...moving on.

Kata lain yang ganggu karena sering dipake adalah "purred".
“Hi, Liam,” she purred in her sexy voice.
“I missed you last night,” he purred.
He purred. She purred. They purred. Why...why everyone in this book has to "purred"? Why can't they speak normally?

Lalu Moseley juga gak kreatif dalam hal membuat variasi penggunaan kata "smile".
bHe smiled his flirty smile at me.
He smiled that sexy little smile at me.
Why he has to smile like that all the time? Why can't Moseley write another kind of smile? We know already that Liam James is sexy and flirty. The author need not to tell us again about it on every chance that she got.

4. Ide Cerita

Ide cerita sebenarnya bagus sih. Si Amber-nya dianiaya oleh ayahnya sendiri, hampir diperkosa pula hingga membuat dia gak suka dengan "sentuhan" apalagi kalo "sentuhan"nya bersifat intim. A traumatic heroine, a ruined one. That's good and kinda new. Rata-rata cerita roman (harlequin sih) kan yang "ruined" itu male lead-nya.

Lalu si Amber ini punya guardian angel, yang sabar, cinta mati dan selalu berpendapat Amber adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Wow!
Waktu akhirnya Amber dan Liam jadian, saya berharap lebih pada buku ini. Tampaknya buku ini menjanjikan cerita yang seru karena saya jadi tertarik mengetahui bagaimana Liam bisa "menyembuhkan" trauma Amber.

Sayang, saya kembali kecewa. Karena terapi Liam adalah : "making out". Lots and lots of making out, ampe si Amber jadi terbiasa. Ya gapapa juga sih making out sering-sering. Toh mereka emang masih remaja, di saat horny eh hormon lagi tinggi-tingginya.
Kecewanya sih di bagian "yah-kok-making-out-doang-sih". Kirain bakal ada terapi khusus apa gitu, ke psikolog ato psikiater kek, shock therapy kek, hypnotherapy kek ato apalah.

Trus bagian "menuju puncak"nya juga kok ya gitu amat dan gitu doang ya :|.
Maksud saya, hampir setengah buku dihabiskan dengan baca gimana serunya Liam dan Amber making out, tapi pas adegan puncak (when it's finally happened) kok yah lewat gitu aja. Yaaa...saya juga gak ngarep adegan detail sih (emangnya ini EA?), tapi mbok ya jangan juga adegan puncaknya cuma ditulis dalam 1 kalimat dong ah. Rasanya kayak sebel waktu mangga yang udah dirawat dari masih kecil, tau-tau pas udah matang dan siap petik, eh malah diembat sama tukang bakso langganan (Iyeee...ini curhat. Hiks...manggakuuuuu T_T).

Ato kayak lagi seru-serunya "nujes", tahu-tahu musti interuptus karena ada panggilan darurat dari RS (Hey...it's true story!).
Kenapa saya bisa tahu?
 Coz it happened to one of my "bos".
Ceritanya waktu saya nelpon untuk ngelaporin pasien dan baru bilang : "Selamat malam, dok. Dari IGD RS X. Ada pasien.."
tau-tau langsung dipotong beliau dengan nada keras : "APAAN SIH? COITUS INTERRUPTUS NIH!!!"
Saya : engg...#kemudianhening.
*I really didn't know what to say. What should I say cobaaa? Apa saya harus pura-pura gak dengar? Ato jawab dengan nada kalem : "Oh maaf mengganggu, dok. Sila dilanjut. Nanti saya telpon lagi kalo udah beres ya." Ato nanya sambil cengengesan : "Hehehe...lagi sibuk ya, dok?" Yang manaaaaa??? O_o*
Untung sebelum saya sempat galau, sang "bos" berdeham dan melanjutkan dengan nada berwibawa : "Jadi kenapa tadi pasiennya?"
Yah...menuju puncak yang gagal, indeed.

Lalu plot cerita buku ini juga ketebak banget. Jadi ceritanya ntar tuh bokapnya Amber balik ke kota mereka dan mengancam ketenangan hidup Amber dan Jake lagi, bahkan ampe bikin Liam berurusan sama polisi. Dan Amber pun kepikiran bikin jebakan buat menolong Liam dan mengusir si bokap selamanya. Masalahnya, jebakan yang dia pake itu kacangan dan cemen banget. Saya malah heran, kok si bokap gak curiga acan-acan sih? Ini si bokap yang kelewat polos ato saya yang kebanyakan nonton sinetron kacangan?

Saya juga gak suka sama ending untuk si bokap. They let him free? Iya, saya bisa ngerti klo mereka gak mau terlibat lagi sama si bokap. But can't they at least do something when they're adult, like send him to police? They let a child molester free so that he could molest and even rape another kid someday.


My thought:   



iya, saya tahu kok si bokap dipenjara. Tapi karena kasus yg berbeda. Di US itu, hukuman untuk pelaku child molester/rapist lebih keras daripada hukuman penipuan. Apalagi hukuman dari segi sosial. It can be said that once you're being labeled as a child molester/rapist, then your social life is doomed


5. Karakter

Dan mungkin inilah faktor yang paling bikin eneg sekaligus paling sweet dari buku ini.

Mari kita mulai dari karakter pendukung yaitu rekan-rekan sekolah Liam, Amber dan Jake.
Dikisahkan Liam dan Jake ini popular banget. Semua cewek pengen "get in their pants" dan semua cowok pengen temenan sama kedua orang ini.
Errr....asa gimana gitu ya. Not real.
Tapi okelah soal itunya.
Yang ngenganggu sih betapa horny-nya cewek-cewek SMA itu. Iya, saya emang bilang umur segitu wajar kalo BT (nope..bukan BT yg artinya bad temper itu). Tapi kan gak juga ya setiap cewek di sekolah (kecuali Amber tentunya) sodor-sodorin dadanya ke Liam ato grepe "aset pribadi"nya Jake.
“You need to have a word with your friend, seriously, she just grabbed my dick!”

She wrapped her dirty little arms round my boyfriend’s waist, looking at him with her come to bed eyes.
Itu sekolah apaan sih? Sekolah khusus yang isinya slutty and skank gitu? (Hey...Amber yang bilang cewek-cewek itu skank, bukan saya).

Oke...settingnya emang di US, yang budayanya beda sama Indo. Tapi bahkan di US sekalipun, gak semua siswinya semurah itu kok.

Lalu kita bahas karakter pendamping utama : Jake.
Saya suka sih sama Jake, perannya sebagai kakak yang overprotective ke Amber tuh mengharukan. Dia selalu siap menolong si adik kapan pun, bahkan ampe rela pasang badan demi Amber. He really is the best brother in the (book) world.
Cuma yah belakangan kok peran dia kebanyakan menggeplak kepala temannya yang mulai flirting ke adiknya sambil teriak : "Dude, little sister!".
Naon coba maksudnya sih?
But still, I like him. He made this book bear-able for me. He had one moment of weakness which made me want to pukpuk him that time. Hiks...bahkan ksatria terbaik pun berhak untuk berdarah.

Mengenai 2 karakter utama : Liam James dan Amber Walker.

Oke, Liam itu emang sempurna : ganteng, hot ass (penting banget ini disebut ulang), setia, cerdas, responsible, ah sebut semualah pasti Liam punya.
He did many sweet things too. Lihat bagaimana dia bisa menenangkan Amber dan menghapus mimpi buruknya dengan memeluk Amber sepanjang malam selama 8 tahun. Nice!
Ato gimana dia gak bisa tidur nyenyak kalo gak bareng Amber. Romantic!
Ato waktu dia beneran ngecek ke seluruh penjuru kamar Amber untuk mastiin gak ada zombie di kamar itu. Wow...so caring! (or so stupid, you choose).

Tapi saking sempurnanya jadi kerasa kalo ini fiksi abis. Saya bisa tahan sama Liam di bab awal, tapi setelah jadian dengan Amber, dia berubah jadi cowok yang setiap omongannya selalu bikin melting, tapi juga amat sangat cheesy.
Coba baca kutipan ini :
“Don’t remind me about my former life without you, Angel. I’ll have nightmares,”
===> Aww...bikin klepek klepek deh.
“I’ve been crazy about you since the first time I saw you, Angel. All this time it’s only ever been you.”
===> Liam, you know that is too cheesy, don't you?
“What if I said I didn’t believe in having sex before marriage?” I asked. 
“Then I’d say how about we get married as soon as you’re old enough. Eighteen is the legal age, right?” he replied.

===> Ugh...too much sweet is bad for your health. I don't know about Amber, but I kinda have a tootache here just by reading all your words, Liam dude.
“The first time I saw you I thought you were an Angel straight from heaven. You were so beautiful that you took my breath away. You still do, every day.”
===> Gubraks! Did I just say toothache? No...scratch that. I think it's a diabetes. Chewing all these overloaded sweetness must have some effect to blood glucose. Should have a blood check soon.
“Angel, you couldn’t possibly be any hotter, trust me. That would be illegal,”
===> Forget that blood check! No time for that. Better prepare for an insulin, just in case. Where do I put it?
I didn’t want to leave Amber even before we got together, but I don’t even think I’d survive it now that I finally had her.
===> Okay...Where's that darn insulin?
“She was the only thing I needed. If everything else went away tomorrow, the big house, all the cars, the money, I wouldn't care. As long as I still got to hold her every night, I would still be the luckiest guy in the world.”
===> No use for insulin now. Mana oksigen? Oksigeeennnn!! Sekalian bawain ventilator dan defib deh. Sapa tahu butuh! #yakali

Yeah ladies & gentlemen, here I present you Liam James. He beats Willy Wonka in sweet departments (and we know Wonka has all kind of sweets in the world). But need no worry! I've prepared everything in case you're intoxicated by his sweetness. (Trivia: how many times I used the word sweet?)
Oh...and please allow me to remind you that he's just 18.

Yah sebenarnya sih gak ada yang salah dengan kelakuan Liam. Seandainya si Liam 10-15 tahun lebih tua aja, dengan sikap kayak gitu, dia bisa jadi gentleman sejati. Tapi semua omongan permen itu, sewaktu remaja, rasanya jadi lebay abitch.

Sekarang ayo kita beralih ke Amber.
Sebenarnya saya pengen banget bersimpati lebih banyak ke cewek ini. Masa kecilnya pasti sulit deh. Untunglah Amber gak trauma berkepanjangan. Tapi masalahnya, saya sulit bersimpati sama dia.
Amber tuh annoying dan childish pula.

Lalu katanya dia gak nyaman dengan sentuhan, tapi toh dia bisa betah belajar dance yang pastinya full body touch. Katanya trauma sama hal-hal yang berbau seksual, but she's okay waking up to a guy's boner for 8 years.

Trus si Amber ini bebal ato apa sih? Waktu Liam "nembak", dia yang langsung suudzon gitu. Please deh, ber! Itu si Liam dari awal buku juga udah kasi kode kalo dia suka sama loe. Y U NO GET THE CLUE?

Dan ugh...semua ketakutannya bahwa Liam bakal gak kuat selibat itu annoying. Kalo baca dari curhatnya Amber, kamu bakal mikir si Amber ini niat bikin Liam selibat selama berbulan-bulan bahkan ampe tahunan. Eh ternyata cuma seminggu aja dong.
AIS! (ini versi Indonesianya dari WTF ya).

Tapi yang paling ganggu adalah nggak konsistennya karakter si Amber. Di awal, dia bilang gerah ngeliat kelakuan horde of skanks yang nempel mulu ke Liam dan Jake. Lalu kenapa belakangan dia juga ikutan jadi skank?
I purposefully swayed my ass, trying to look sexy; it must have worked because three boys from my history class whistled at me and made a comment about my sexy booty. I rolled my eyes. Boys!
What? Kurang slutty?
Gimana dengan kelakuan Amber yang masukin duit dengan tangannya (literally) ke dalam celana Liam?
Oke...Liam emang pacarnya. Terserah Amber mo diapain juga, dicemek-cemek ampe semek juga boleh (taela bahasa guweee). Tapi ya nggak perlu dilakukan di tempat umum dan depan siswa satu sekolah dong!
Seriously Liam & Amber, stop all that PDAs. It's corny and cheesy.

Buku ini memang punya beberapa kelebihan yang menyenangkan kala dibaca.
Bahkan hal yang dianggap absurd dan gak real oleh pembaca lain pun masih bisa saya tolerir. Seperti fakta orang yang pacaran dari SMA dan langgeng seterusnya. Banyak kok yang kayak gitu. Om dan tante saya pacaran dari masih SMP malah, awet ampe sekarang.
Juga betapa seriusnya Amber dan Jake dan adegan-adegan lebay mereka. Yaaa namanya juga masih umur segitu. Emang kelakuannya masih lebay dan gombal lah. Waktu yang membuktikan apakah segala kegombalan itu tulus ato nggak.

Sayangnya, semua toleransi yang saya berikan, gak bisa menutup fakta akan segepok kekacrutan yang menyertai.
Dan saya sempat bingung kasi rating.
I'd give Liam James & Jake Walker 4 or 5 stars out of 5.
But this book isn't solely about them. And I rate a book, not them.
Saya gak bisa bilang suka sama buku ini. Jadi 3 bintang jelas gak memadai.
Dua bintang yang artinya it-was-okay menurut standar goodreads? Clearly, I'm not okay with the ending.
Jadi ayo kita berdamai di 1,5 bintang saja, sebagai penghargaan untuk covernya.

Sunday, October 7, 2012

Kala Kali

Judul : Kala Kali
Penulis : Valiant Budi &Windy Ariestanty
Penerbit : Gagas Media
Edisi :Soft Cover
ISBN : 9797805816
ISBN-13 : 9789797805814
Bahasa : Indonesia
Rating : 3 bintang dari 5

Selama ini, saya gak pernah tertarik beli Gagas Duet. Karena (menurut info), Gagas Duet tuh bukannya 2 penulis berkolaborasi bikin 1 cerita yang sama. Tapi masing-masing penulis membuat 1 cerita dan kedua cerita itu tidak berhubungan.
Lha? Buat apa bikin duet kalo gitu? Kebayang deh, pasti ceritanya bakal pendek, mirip cerpen tapi panjangan dikiiit (ini ambigu banget sih bahasanya XD). Intinya: gak minat beli.

Tapi niat teguh itu pun goyah saat tahu Vabyo terlibat dalam proyek duet. Mau gak beli, kok ya penasaran pengen baca. Lagian udah tanggung koleksi buku yang bersangkutan. Akhirnya nekat deh ikut beli. (PS : Ini kenapa preludenya panjang ya?)

Sewaktu pertama liat bukunya, ada dialog gini sama diri sendiri : "Yiha...beneran keren nih cover. Sekeren di gambar." #MenurutNgana
Tapi kegirangan itu langsung menguap begitu sadar covernya dipakein lidah ato elemen tambahan ato apalah itu yang bikin jadi susah disampul. Asli repot buanget nyampulin itu buku.

Okeh...mari masuk ke isi buku.
"Hidup mah dinikmatin ajah. Banyak-banyak berbuat baik, jadi pas mati juga insya Allah dalam keadaan baik. Lagian, kalo hidup malah fokus mikirin mati terus, bisa jadi yang mati duluan malah orang-orang di sekitar kita, kan? Jadi mending perhatiin mereka yang sayang kamu." -Ramalan Dari Desa Emas-

Kisah pertama berjudul Ramalan Dari Desa Emas buah karya Vabyo, berkisah tentang Keni Arladi yang akan berusia 18 tahun. Keni ini tipe anti mainstream rupanya. Jadi bukannya ngerayain ultah bareng temannya ato keluarganya, ato bikin video trus unggah di youtube, ato apalah pokoknya, Keni memilih 'tuk menyepi di Desa Sawarna.

Awalnya rencana itu tampak mulus, sampai Keni bertemu bocah jago ramal yang (pastinya) meramalkan dia akan meninggal sebelum usianya 18 tahun. Keni sih berusaha untuk cuek, tapi setelah melihat betapa kesialan (dibarengi maut) selalu mengintai pasca diramal, dia pun terpengaruh. Dan dimulailah usaha pelarian diri Keni yang rada mirip Final Destination. Tentu semua itu diceritakan dari sudut pandang Keni yang cuek, rada sinis dan tengil.

Ceritanya enak dibaca sebenernya, mengalir dan pace-nya cepat. Endingnya juga seru dan gak ketebak.
Biar pun karakter Keni cuek gitu, tapi gak nyebelin untuk dibaca karena Vabyo membalutnya dengan humor kenes-namun-kadang-garing ala Vabyo.

Bagian mengganggu dari cerita ini adalah gaya bahasanya yang setipe banget dengan gaya bahasa Kedai 1001 Mimpi (yang juga berarti gaya bahasa Vabyo di twitter dan blog). Rasanya seperti Vabyo sendiri yang bercerita dan bukannya Keni.
Ada pikiran gini selama membaca :
"Oh si Vabyo sekarang jiper sendiri gegara dia kesasar di hutan. Eh? Apa? Siapa yang kesasar? Oh Keni toh, bukan Vabyo. Ah tapi masa sih? Vabyo itu mah. Liat dong gaya bahasanya yang berima, itu kan gaya Vabyo."
"Hah? Apa katanya? Keni cewek? Ah now I'm sure you're lying."


Iya...saya gagal membayangkan Keni sebagai cewek. Gaya bahasa, berpikir, dan sebagainya si Keni tidak membuat saya nangkep aura ceweknya.
Apa karena si Keni tomboy? Atau lebih tepatnya : apa begini gaya pikir remaja cewek tomboy 18 tahun jaman sekarang? Mungkin. Toh saya memang gak tahu apa-apa tentang itu.

Ato memang Vabyo yang gak mampu menciptakan karakter cewek dan mendalaminya?
Bukan ah. Di Bintang Bunting dia berhasil. Di Joker sekalipun, karakter Aulia masih berasa girly-nya (walopun rada nyaru).
Apa karena gaya penulisan Vabyo sudah berubah? Ada jeda 4 tahun antara Bintang Bunting dan novel ini, dan sangat wajar kalo gaya penulisan seseorang berubah.
Yah mungkin saja.

Tapi ini bikin saya jadi penasaran buat baca karya Vabyo selanjutnya. Jadiii...ayo kita tunggu MENUJUH \(^o^)/.
PS : Saya udah PO tuh buku lho (iyaaa...emang ini pamer kok ;p)

Sementara itu, 3 bintang untuk Ramalan Desa Emas-nya Vabyo.
"Hidup tak tertebak. Seperti permainan gundu dan dadu. Terkadang, aku takut itu... Bahkan ketika kita merasa segala sesuatu telah ada di genggaman, kondisi bisa berbalik." -Bukan Cerita Cinta-
Di bagian ke-2 ada "Bukan Cerita Cinta" dari Windy Ariestanty.
Bertutur tentang seorang Bumi yang editor, yang memandang hidup secara filosofis juga persahabatannya dengan Akshara, seorang penulis impulsif dan sedang jatuh cinta dengan Bima.

Bumi yakin kalo Akshara tidak sungguhan mencintai Bima. Sementara Akshara berkeras sebaliknya. Hingga dibuatlah taruhan yang berpuncak pada ulang tahun Akshara. Pada hari H akan dilihat, apakah Akshara masih bersama dengan Bima. Sebaliknya, Akshara ingin Bumi datang ke ulang tahunnya bersama pacar baru.
Kehadiran teman Akshara yang bernama Koma seperti datang tepat pada waktunya. Perempuan tanda baca itu berhasil memikat Bumi dengan tawanya.
Lalu kisah pun mengalir dari penuturan Bumi tentang Akshara, tentang Koma. Pendapat Bumi tentang mereka berdua, tentang filosofi cinta dan diskusi-diskusi kaya makna antara ketiga tokoh tersebut.

Kebalikan dengan cerita Vabyo yang pace-nya cepat, cerita milik Windy ini justru terasa lamban. Sangaaaaatttt lamban.
Inti cerita sebenarnya sependek yang saya jabarkan di atas, tapi Windy memperpanjang cerita dengan berbagai penuturan yang gak penting.
Kadang-kadang pengarang sering mengajak pembacanya muter-muter nggak keruan hanya karena si penulis kepingin aja memasukkan jalinan peristiwa atau dialog yang kalau ditanya kenapa dia melakukannya, jawabannya adalah, "Because I like it."
source
Saya menangkap kesan yang sama dari cerita ini, semacam : "Nih biar loe nangkep cinta itu kayak apa, gw ceritain tentang Elizabeth Barrett Browning. Nih Anna Karenina. Masih kurang? Ini nih sekalian kisah si Cupid & Psyche. Oh iya, gw bahas Daido juga deh."
Apa Windhy kehabisan ide mo dibawa kemana ini cerita hingga dimasukkan lah bagian ini? Nggak mungkin rasanya ah.

Selama membaca semua filler itu, saya nanya sendiri : "Ini buku konfliknya apa sih? Klimaksnya dimana?"
Dan sampe akhir, saya gagal nemu klimaksnya. Semua datar, flat.
Okeh, saya nangkap kok adegan mana yang dimaksudkan jadi klimaks, tapi buat saya itu pun sama datarnya dengan adegan sebelum dan setelah itu.

Dan saya juga merasa gak sreg dengan tokoh-tokohnya. Karakterisasi mereka kurang kuat untuk saya. Cuma Komang yang menarik dengan bubbly personality-nya.
Akshara? Datar.
Bumi? Sama datarnya.
Bima? Datar juga (ya walo si Bima emang jarang muncul sih).

Terus, klo di cerita Vabyo saya gagal membayangkan Keni sebagai wanita, di "Bukan Cerita Cinta" saya susah membayangkan Bumi sebagai pria. Susah namun bukan berarti gak bisa.
Ada saat tertentu sisi pria Bumi kelihatan. Tapi most of the time, saya dapat kesan yang sama dengan Farah : si Bumi ini cewek androgyny yang naksir sama si Akshara. X))

Untunglah, cerita Windy ketolong dengan untaian kalimat yang puitis dan penuh makna. Membaca cerita Windy memang gak bisa skimming supaya dapat meresapi makna kalimatnya. Dan sungguh, gaya bahasa inilah yang bikin saya bertahan menyelesaikan Kala Kali. Walo pun dengan rasa jenuh dan sakit kepala yang kerap datang setelah baca 4-5 lembar. (hehehe).
Yap, saya menikmati dibikin sakit kepala sama Windy. Rada masokis emang XP (ps : mudah-mudahan gak ada anggota 50United yang baca ini)

Saya belum pernah baca satu pun karya Windy (kecuali The Journeys) walo udah menimbun ketiga bukunya di rak saya . Saya tahu, dari review rekan-rekan, Life's Traveller punya gaya bahasa yang puitis dan filosofis juga. Dan kemungkinan, bisa bikin saya dapat sakit kepala yang nikmat lagi. (halah!)

Tapi saya kok malah jadi penasaran sama Shit Happens ya. Pengen tahu aja apa memang Windy selalu menulis dengan gaya seperti ini, meskipun dalam novel remaja.
Hmmm...*menatap Shit Happens yang masih terbungkus rapi selama sekian tahun*
Yeah! Let's take a look later. \(^o^)/ (ps : much later I mean)

Dan saya juga gagal paham dengan tagline : Hanya waktu yang tak pernah terlambat.
Bisa gak sih Gagas berhenti bikin tagline dan-atau blurb yang emang puitis, keren tapi menyesatkan dan maknanya gak masuk ke cerita?

Kesimpulannya: 2 bintang untuk Bukan Cerita Cinta dan 3 bintang untuk Ramalan Dari Desa Emas.
Totalnya 2,5 bintang. Dibulatkan 3 bintang untuk covernya.


PS : Yang ini sih unek-unek saya untuk Mbak Windy. Gak penting-penting amat untuk dibaca oleh yang lain, but I hope someday Windy would read this. Buat yang lain, better read it only if you can stand my lebayness (apa pun arti kata itu) XD

    

   

    SEKADAR CURHAT:   

   

   

   Pada salah satu scene di Bukan Cerita Cinta, ada bagian Akshara sakit dan berkata : "Kata dokter, aku sakit gejala typhus (ato tifoid?)."

Well, there's no such thing as "gejala thypus". Gak akan ada dokter yang kasi diagnosa "gejala typhus", setidaknya untuk dokter jaman sekarang.

Para dosen dan juga bos saya bisa murka kalo tahu bahwa kami (para GP unyu ini) kasi diagnosa gejala typhus.
Alasannya?
Karena pemberian kata "gejala" di penyakit ini menimbulkan reaksi yang "aneh" pada pasien.

1. Yang mendapat kesan kalo typhoid itu sakit ringan saja (padahal jelas salah)
Mereka di golongan ini akan cuek dengan bahaya typhoid. Rata-rata pada mikir : "Ah gejalanya aja cuma gini. Demam dan mual doang. Cemen lah. Istirahat di rumah beberapa hari juga beres. Penyakit aslinya juga gak berat-berat amat dong."

Atau yang ke-2, malah jadi menganggap serius "gejala-typhus"nya. Pasien yang di golongan ini akan mengonsumsi antibiotik (yang sebenarnya tidak perlu) atau kapsul cacing tanah (yang lebih tidak perlu lagi dan bisa bahaya).
Kenapa gak perlu? Karena sebagian besar kasus "gejala typhus" itu sebenarnya infeksi virus yang lebih ke self limiting diseases.

Saya gak tahu sejak kapan dan siapa yang pertama kali menciptakan salah kaprah macam gejala typhus ini. Salah satu dosen saya berteori, mungkin penyebabnya dari kalangan dokter sendiri di jaman dahulu kala. Saat ilmu kedokteran belum semaju sekarang, pemeriksaan laboratorium masih terbatas dan penyakit typhoid masih jadi momok. Sehingga semua orang yang punya keluhan mirip-mirip typhoid langsung dianggap "gejala typhus" dan diperlakukan sama seperti pasien typhoid.

Jelas ini salah kaprah yang harus diluruskan. Dosen yang sama juga bilang : "Generasi kalian ini emang korban dari generasi saya. Sudah terlalu banyak salah kaprah yang dibikin sama angkatan saya. Gejala typhus ini salah satunya. Salah duanya ya tentang antibiotik. Tapi tugas kalian buat meluruskan. Demi generasi di bawah kalian nanti dan demi kalian juga."

So...yep, we're trying. I'm trying. Dan jelas nggak gampang meluruskan kesalahpahaman yang sudah berkembang lama. Tentu saja kami mengandalkan bantuan pihak-pihak lain seperti penyuluhan, media-media, dan termasuk juga buku. Pokoknya apa pun yang bisa menjangkau masyarakat luas.
Dan karenanya menyebalkan ketika salah satu sarana yang bisa mendidik seperti novel malah bantu menyebarkan kesalahan ini.

Saya ngerti Windy bukan orang medis. Dan sebenarnya gak papa juga kalo dia mo nulis "gejala typhus" di ceritanya. Yang mengganggu adalah bagian "Kata dokter..." di kalimat itu, yang seolah menegaskan dokter mengakui ada penyakit seperti itu.
So next time, be more careful, mbak :)

Fyuh...curhat yang panjang cuma karena dua kata "gejala typhus" doang ya. Mana berasa lebay pula (iyaaa...saya juga tahu kok kesannya lebay banget). Ya maka itu saya hide ;p
   

   

   

Sunday, September 23, 2012

Twivortiare

Data Buku :
Judul : Twivortiare

Penulis : Ika Natassa
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2012
ISBN 13 : 9789792286748

Sinopsis :
“Commitment is a funny thing, you know? It’s almost like getting a tattoo. You think and you think and you think and you think before you get one. And once you get one, it sticks to you hard and deep.”

Do busy bankers tweet? Yes, they do. Empat tahun setelah Divortiare, Alexandra membuka kembali hidupnya kepada publik melalui akun Twitter-nya @alexandrarheaw. Lembar demi lembar buku ini adalah hasil “mengintip” kehidupannya sehari-hari, pemikirannya yang witty dan sangat jujur, spontan, chaotic, dan terkadang menusuk, yang akhirnya akan bisa menjawab pertanyaan: “Dapatkah kita mencintai dan membenci seseorang sedemikian rupa pada saat bersamaan?”

Twivortiare adalah kisah klasik tentang cinta dan luka, terangkai dalam tweets, mentions, dan DM yang lahir lewat ujung-ujung jemari karakter-karakternya.


Review : 

Saya itu orang yang ndak pernah peduli sama autographed version dari buku. Bahkan termasuk CD dari penyanyi favorit juga.

Tanda tangan yang saya pedulikan hanyalah tanda tangan di dokumen-dokumen penting saya ato tanda tangan pemain bola favorit saya (aaaa....Zanettiiiiii).
Karenanya tiap kali ada pre-order buku apapun yang bertanda tangan penulisnya, saya gak pernah tertarik ikutan soalnya saya nunggu buku itu terbit dulu dan ngeliat reaksi pembacanya gimana. Bahkan walo penulisnya udah saya kenal dan bisa menebak bukunya kayak apa (seperti Kedai 1001 Mimpi-nya Vabyo misalnya).

So...kalo ampe saya bersedia ikutan pre order buku ini kemarin, bukan tanda tangannya yang menarik minat saya. Tapi karena saya penasaran (pake banget) dengan kelanjutan Alexandra dan Beno.


Siapa sih Alexandra dan Beno itu?
Mereka adalah tokoh dari novel Ika Natassa sebelumnya yang berjudul Divortiare. Di Divortiare dikisahkan kalo Alexandra dan Beno sudah bercerai. Masing-masing melanjutkan hidup dan mengejar karir dimana Beno adalah dokter bedah thoraks sukses dan Alexandra adalah bankir yang karirnya sedang menanjak. Mereka juga (ato minimal Alexandra karena Divortiare bercerita dari sudut pandangnya) berusaha move on dan mencari cinta yang baru. Divortiare ditutup dengan kisah yang "gantung" antara Alexandra dan Beno. Pembaca disuruh menebak sendiri apakah mereka kembali bersama ato tidak.

Sewaktu mengetahui kalo Ika Natassa membuat akun twitter untuk tokoh rekaannya (Alexandra), saya belum tertarik untuk follow. Baru setelah mendengar kabar kalau rangkaian tweetnya akan dibukukan, saya jadi penasaran bagaimana kelanjutan pasangan itu. Kenapa baru belakangan saya penasaran? Karena sebelumnya saya pikir, twitternya Alexandra itu masih bercerita seputar hidupnya pasca perceraian dan gak nyebut-nyebut Beno. Begitu tahu kalo ternyata hidup Alexandra saat ini melibatkan Beno, jelas saya tertarik dong. Saya kan gemes sama karakter pak dokter yang lempeng banget itu. 

Apalagi saya dapat info kalo buku ini akan bercerita tetap dalam format twitter. Jadi rasanya seperti baca timeline yang panjang. Dan per-tweet hanya dibatasi 160 karakter. Waaa...menarik dan bikin penasaran.

Kesan setelah baca?

Yah bagus sih. Not bad at all Banyak yang bisa kita pelajari dari hubungan Beno-Alex. Tentang usaha untuk mengerti satu sama lain, bahwa pernikahan itu berarti "start to feel for two people." Juga kalo cewe itu mesti bisa mandiri secara finasial (setuju banget ini).

Saya juga belajar tentang perasaan Alexandra yang bersuamikan dokter sibuk banget. Dia sempat merasa di-nomor duaka-kan dibanding pekerjaan suaminya. Jadi kepikir, apa gitu ya perasaan ibu dan tante-tante saya yang bersuamikan dokter?
Tapi sepertinya mereka gak kapok tuh punya suami dokter, soalnya mereka meng-encourage anak masing-masing buat nikah sama dokter juga. Ugh...pada gak tau aja dalem-nya dunia kedokteran itu kayak apa. #Eaaaaa #TetepCurcol

Rada kesal sih sama karakter Alexandra yang kadang too demanding dan childish. Masak gak ngerti juga kalo Beno sayang dia? Saya yang cuma tau kelakuan si Beno lewat tweet-tweet dia aja bisa ngeliat kok, masak dia gak nyadar sih?
Tapi bagusnya, Alexandra udah jauh lebih dewasa dibanding Alexandra di Divortiare.

Dan si Beno-nya juga eugh...keras kepala banget sih.
Etapi berhubung karakter saya lebih dekat ke karakter Beno, dan posisi kami cenderung sama (jadi pihak yang lebih lempeng), somehow bisa ngerti dia. #JanganCurcolLagiDehWi

Dan melalui interaksi kedua tokoh utamanya ini lah, Twivortiare mengajarkan bahwa cinta aja gak cukup untuk membentuk pernikahan, we have to work on it. Dan perbedaan yang ada itu bukan untuk dijadikan sama, tapi untuk dikompromikan.

Ada satu yang nyepet saya di buku ini sebenarnya. Scene waktu Alexandra ngeluh sakit kepala dan Beno cuma menyarankan minum aspirin. Dan si Alex sebel, menurut dia kalo cuma butuh aspirin mah dia gak bakal ngeluh ke Beno. Yang dia butuhkan tuh perhatian dan soothing word dari Beno.
Dan uhm...saya jadi kesepet :">
I mean, saya juga gitu. Kalo ada yang ngeluh sakit ke saya, naluri saya adalah melakukan anamnesis seperti umumnya dokter ke pasien untuk kemudian kasi saran obat yang cocok menurut saya. Dan ini saya lakukan pada siapa pun, dari teman biasa sampe orang dekat macam keluarga dan si "dia".

Dia pernah protes sih. Dia bilang, "Wi...diperhatiin dong. Lagi sakit nih."
Dan saya dengan bingungnya bilang : "Kan udah. Udah dikasi obat, udah dikompres, udah diambilin makan sama minum, udah diselimutin. Istirahat aja sekarang, nunggu obatnya bereaksi."
Membaca kesebalan Alexandra, saya jadi mikir, mungkin maksudnya waktu itu si dia pengen dimanjain ya? Dikelonin dan dipuk-puk gitu? Yeeee.....bilang dong :|

Tapi satu yang gak disadari Alexandra (dan mungkin orang lain), dokter itu (ato paling enggak saya) emang refleksnya gitu kalo ketemu orang sakit. Yang pertama saya pikirkan adalah apa yang bisa saya lakukan untuk memperingan sakitnya. Dan yaaahhh...the easiest way ya to suggest some medicine.
Lagian gak mungkin juga pasien saya kelonin ato saya puk-puk kan? Paling bisa ya ber-empati. Empati yang juga saya terapkan ke orang-orang dekat saya.
Saya suka lupa kalo orang dekat itu gak bisa dimasukkan dalam kategori yang sama dengan "pasien". Bahwa selain empati, saya juga boleh bersimpati sama mereka.

So thanks to Ika Natassa dan Twivortiare yang udah ingetin satu fakta yang sebenernya saya udah tau, tapi suka dilupakan :">

Pertanyaannya, kenapa buku yang begitu banyak memberi pelajaran seperti ini, dengan format unik pula  tetap saya kasi rating 4 bintang?

Jawabnya karena saya jenuh dengan banyaknya bahasa inggris yang bertebaran di buku ini.
Udah bukan banyak lagi, overdosis malah. Bisa lho sampe 2-3 lembar full bahasa inggris.
Yaaa....saya sih masih ngerti aja, tapi jadi kepikir : "Untuk jadi pembacanya Ika Natassa itu kudu bisa bahasa inggris ya? Apa syarat seperti itu udah termaktub somewhere entah dimana?"
Dan bertanya juga, pemasaran buku ini sejauh apa ya?
Saya yakin jumlah masyarakat Indonesia yang ngerti bahasa inggris lebih sedikit dibandingkan yang bisa. Warga di kota-kota di Pulau Jawa dan kota-kota besar lainnya emang banyak yang fasih berbahasa inggris, tapi mereka yang di ujung Kalimantan sana? Yang di Ambon dan sekitarnya?

Dengan overdosis-nya bahasa inggris di sini, saya sih gak yakin buku ini bisa dimengerti mereka-mereka yang di pelosok Indonesia sana.
Dan menurut saya sih sayang kalo karya yang sarat nilai positif tapi disajikan dengan ringan seperti Twivortiare ini gak bisa dinikmati mereka disana.

Jadi....kalo lain kali menulis buku, bisakah menuliskan buku yang menggunakan bahasa Indonesia secara utuh dari awal ampe akhir, mbak Ika Natassa?
Karena saya perhatikan, semua buku anda begitu kuyup dengan bahasa inggris. Apakah karena kesulitan menemukan bahasa indonesia yang tepat untuk mewakili apa yang anda maksudkan?
Padahal saya yakin untuk setiap frase yang ada di bahasa inggris, ada padanan yang tepat di versi indonesianya.
Come on, mbak. I know you can do that. I dare you! :) 



"The simplest things in life are what make us happy eventually. A warm and comfy home, being loved, and knowing that somebody can't live without you."  (p. 193)

Thursday, August 9, 2012

Friday's Recommendation #3 : The Solitude Of Prime Numbers

 

Yeaayyy....setelah sempat alpa ikutan friday's recommendation karena saya mudik dan gak megang laptop, sekarang bisa ikutan lagi.

Seperti biasa, posting rules nya dulu :

1. Pilih jenis rekomendasi buku. Ada dua jenis rekomendasi, yang pertama dan sifatnya mutlak adalah Rekomendasi Buku untuk Diterjemahkan . Jika tidak ada buku yang direkomendasikan untuk diterjemahkan, maka bisa memilih pilihan kedua, Rekomendasi Buku Pilihan. Disini rekomendasikan buku yang paling kamu suka baca dalam minggu ini.
2. Pilih hanya 1 (satu) buku untuk direkomendasikan. Tidak boleh lebih.
3. Beri sinopsis, genre buku dan alasan kenapa kamu merekomendasikan buku itu.
4. Posting button meme (sementara) di bawah ini :


5. Blogger yang sudah membuat memenya, jangan lupa menaruh link ke blog di daftar linky di bagian paling bawah post ini, sehingga pembaca bisa blog walking.
6. Untuk pembaca blog yang tidak punya blog, bisa menulis rekomendasinya di kolom komen.
7. Bahasa yang dipergunakan terserah. Jika memang khusus blog yang menggunakan bahasa Inggris, dipersilakan menulis dengan bahasa Inggris. Begitu juga sebaliknya.

Untuk minggu ini, saya mau rekomendasikan buku ini:

The Solitude of Prime Numbers by Paolo Giordano
Genre : Young Adult, Drama

Sinopsis:

A prime number can only be divided by itself or by one—it never truly fits with another. Alice and Mattia, both "primes," are misfits who seem destined to be alone. Haunted by childhood tragedies that mark their lives, they cannot reach out to anyone else. When Alice and Mattia meet as teenagers, they recognize in each other a kindred, damaged spirit.

But the mathematically gifted Mattia accepts a research position that takes him thousands of miles away, and the two are forced to separate. Then a chance occurrence reunites them and forces a lifetime of concealed emotion to the surface.

Like Mark Haddon's The Curious Incident of the Dog in the Night-Time, this is a stunning meditation on loneliness, love, and the weight of childhood experience that is set to become a universal classic.

Comment: 

Eh btw si pengarang gak bersaudara dengan Giordano yang jualan baju itu kok, yang hobi teriak-teriak di mall "Giordanonya, kakaakkk". Ya kali aja ada yang mikir gitu (kayak saya :D)

Buku ini udah pernah direkomendasikan Ndari di Friday's Recommendation #1 nya dan sejak baca di situ, saya langsung jatuh cinta.

Judul dan sinopsisnya itu lhooo...

Saya emang demen matematika dan selalu suka sama prime number aka bilangan prima soalnya bilangan prima itu unik. Cuma bisa dibagi sama 1 dan angka itu sendiri, jadi memudahkan. Saya ingat, waktu SD dulu tiap ketemu pembagian yang pake bilangan prima, langsung girang karena berasa "gampang".

Udah gitu, makin cinta sama bilangan prima sejak nonton dramanya Hyun Bin yang berjudul Secret Garden. Ceritanya si Hyun Bin jadi genius matematika juga. Dan disitu ada kalimat tentang bilangan prima yang keren :

Bora : "Prime number... I knew it before. What is it again?"
Tae Woong : "A number that can only be divided by one and itself. That's what a prime number is. It has a lot of pride and you can think of it as a lonely number."
Bora : "Why? It's the first time I've seen someone call a number lonely. Is that weird?"
Tae Woong : "No... it's something you'd do."
Bora : "But oppa... the way I see it, prime numbers aren't lonely at all. It has one. If there's only one person in the entire world who can understand you, it's okay. Then you're not lonely at all. Therefore, the one and only divisor that understands me, I hope that it's you."

*eh kok jadi ngelantur ke Hyun Bin?*

Balik ke buku.

Karena baca di blognya Ndari, saya langsung mupeng banget ampe nekat pinjem padahal tumpukan masih banyak :D.

Seperti yang dibaca dari sinopsis, Mattia dan Alice memang tipe "bilangan prima". Aneh dan tersisih dari lingkungannya. Makanya pertama ketemu, mereka langsung merasa klop.
Sayang, berbagai circumstances memisahkan mereka.

Penulisannya juga keren. Auranya gloomy, sad, tapi sangaattt well written. Poetically well written indeed.

Saking terseponanya, saya ampe sengaja merekomendasikan ulang buku ini. Yaaa siapa tahu makin banyak direkomendasikan bisa makin membujuk para penerbit gitu.

Nah ini rekomendasi saya. Kalo kamu?
Oya...cek rekomendasi lain di blognya Ren yaa

PS :
Saking terseponanya, saya ampe beli buku ini juga. Kalo ada yang mo minjem, silakan lho. Tapi tunggu bulan depan ya. Katanya pesanan saya baru ada bulan depan :D