Showing posts with label Valiant Budi. Show all posts
Showing posts with label Valiant Budi. Show all posts

Friday, November 9, 2012

Memoritmo

Data Buku :
Penulis : Ade Paloh, Anto Arief, Cholil Mahmud, Eross Chandra, Galih Sakti, Hasief Ardiasyah, Kartika Jahja, Maradilla Syachridar, Meng, Mikael Johani, Rain Chudori, Sammaria Simanjuntak, Sarah Deshita, Vabyo
Penerbit : Bukune
Bahasa : Indonesia
ISBN  : 6022200725
Rating : 3 out of 5 stars

Apa yang bikin saya tertarik beli buku ini? Karena salah satu penulisnya adalah penulis favorit saya yang entah kenapa kok ya belum juga bikin buku yang bikin saya pengen kasi 5 bintang.
Dan berhubung saya tuh tipe kepo, jadilah saya terus-terusan beli bukunya. Pokoknya belum mo berhenti ampe saya bisa nemu buku dia yang dapat bintang 5.
Jadinya, walau pun tahu buku ini kumcer (yang sebenarnya bikin saya alergi), saya tetap beli.

Ternyata saya salah. Ini bukan sekadar kumcer.
Ini lebih tepat dibilang kumpulan memori yang berhubungan dengan musik (apa itu kali ya artinya Memoritmo? Entahlah).
Adalah Maradilla Syachridar yang pertama menelurkan ide ini. Karena terkenang kembali akan suatu memori yang dihidupkan oleh sebuah lagu, dia jadi terpikir pastilah banyak orang lain yang juga memiliki soundtrack dalam hidupnya. Karena itu, dia membuat proyek Memoritmo, tantangannya adalah memilih satu dari sekian banyak lagu yang berkaitan dengan kehidupan kita. Lalu dia mengajak beberapa rekan yang hidupnya dekat dengan musik.

Jujur, saya paling payah kalo disuruh mereview kumcer kayak gini. Saya bingung kasih ratingnya gimana. Mendingan saya bahas satu persatu saja dan kasi rating per cerita. Berhubung bagian ini bakal kepanjangan kalo dijembreng di blog, saya kasih spoiler tag aja ya.
    

   

    SINOPSIS SINGKAT   

   

   

  

  1. Memori milik Eross Chandra yang paling saya suka dan akan saya bahas sendri nanti. 4 bintang.

  2. Lagu Djuwita Malam, tulisan Anto Arief bercerita tentang kisah cinta dengan seorang gadis. Tapi saya gagal paham hubungannya dengan lagu Djuwita Malam. 1 bintang.

  3. Mikael Johani dengan lagu Madu & Racun bercerita tentang musik yang bagaikan mesin waktu dan bisa membawa kenangan ke satu periode tertentu. Saya suka gaya tulisan dia. 3 bintang.

  4. Little Motel oleh Rain Chudori. Entah ini fiksi ato nyata. Chudori bercerita tentang aku & adikku yang menghabiskan satu periode di motel kecil. 2 bintang.

  5. Maradilla Syachridar membahas sulitnya memutus benang kasih yang terentang bahkan ketika cinta sudah lewat Strings That Tie To You. 3 bintang.

  6. Lewat Yeh Jo Halka Saroor Hae, Galih Ismoyo bercerita tentang pengalaman pertama Dimas (entah siapa dia) belajar ngaji. 2 bintang.

  7. Topik cinta memang gak ada matinya. Sarah Deshita menyarankan untuk jangan menyerah menunggu datangnya cinta sejati lewat True Love Waits. 3 bintang.

  8. Cholil Mahmud menceritakan efek musik Slank bagi perkembangan karirnya lewat Terbunuh Sepi. 2 bintang.

  9. Seorang gadis menganggap gelap adalah kuning. Warna itu melekat kuat dalam ingatan masa kecilnya lewat suatu memori berwarna kuning dan Bad Wisdom adalah soundtrack hidupnya. Entahlah apakah cerita Kartika Jahja ini fiksi atau nyata. Tapi gaya bertuturnya enak dibaca. 3 bintang.

  10. Meng Simamora mengenang sang ayah lewat lagu Moon River. Saya kasi 3,5 bintang lebih karena saya suka lagu dan tentang ayah-nya.

  11. Hasief Hardiansyah mengenang masa remajanya yang sudah lama berlalu lewat My Teen Years. 3 bintang.

  12. Lewat Do You Want To Know A Secret, Ade Paloh bercerita bagaimana Beatles mempengaruhi hidup dan membuka cakrawalanya. Hmm...otak saya memang segitu kapasitasnya. Saya gagal nangkap keindahan kata-kata dia. 1 bintang.

  13. Valiant Budi berbagi kisah tentang sahabat gadungan semasa SMA dulu lewat Sahabat Gelap. Kisah yang dialami (hampir) semua anak sekolah pria era 90an (eh sekarang masih gak ya?). Gaya bertutur Vabyo tetap kenes kayak biasa. 3,5 bintang.

  14. Sammaria Simandjuntak bercakap dengan seorang sahabat untuk terus mengejar kesempatan jadi penyanyi dan jangan hanya pasif menanti lewat Get Up & Go. Suka sama gaya bahasanya. 3,5 bintang.

   

   

   

 Kalo dirata-ratakan jadi 2,67. Bulatkan ke 3 bintang aja deh karena covernya keren (Ribet amat sih loe urusan bintang doang, wi :p)

Btw walau pun secara umum para memori di buku ini menarik dibaca, tapi ada satu yang saya sukaaa banget. Memori itu milik Eross Chandra yang bercerita tentang kecintaannya pada The Beatles lewat Across The Universe.

Terima kasih pada Ayah yang telah mengenalkan saya dengan musik lawas, sampai sekarang saya penggemar setia band jadul. Tersimpan dalam tubuh Lexie (ipod saya), di antara tembang milik Maroon 5, Jason Mraz, Bruno Mars, pasti bisa ditemukan lagu milik Everly Brothers, Engelbert Humperdinck, Frank Sinatra, bahkan sampai ke Broery Pesolima.

Dan di antara semua band jadul itu, Ayah paling suka dengan The Beatles. Buat Ayah saya, me-time favorit adalah bermain piano sambil bernyanyi (dan Ayah memang pianis dan penyanyi yang sangat baik). Biasanya, malam hari selesai praktek, Ayah akan sibuk berkencan dengan pianonya hingga larut malam.
Saya sudah jadi makhluk nocturnal sedari SD. Setelah tugas sekolah esok hari selesai dibuat, saya akan membaca novel hingga larut. Dan tempat baca favorit saya jelas sofa di ruang musik.
Kenapa di situ? Soalnya ruangan itu kedap suara. Saya bisa membaca tanpa terganggu suara berisik adik-adik saya.
Kebiasaan itu membuat saya secara tak langsung menemani Ayah tiap kali dia bermain piano walau pun kami jarang mengobrol. Kami adalah 2 manusia yang tenggelam dalam dunia masing-masing namun menikmati kehadiran satu sama lain.

Karena seringnya mendengar nyanyian Ayah, naturally saya menyukai lagu-lagu yang dinyanyikannya. Ayah mendukung minat saya itu. Kami bisa menghabiskan waktu berjam-jam, ngobrol tentang penyanyi favorit dan lagu kesukaan beliau. Ayah akan menjelaskan kisah hidup serta latar belakang lagu-lagu indah yang ditulis mereka. Dan favorit saya ketika Ayah memberi terjemahan tiap lagu yang saya minta lengkap dengan makna terselubungnya (jika ada). Come to think of it, itulah perkenalan awal saya dengan bahasa Inggris.

Yang paling sering Ayah bahas adalah The Beatles.
Selain karena beliau memang fans berat band tersebut (Ayah koleksi semua kaset, piringan hitam dan CD The Beatles), juga karena (menurut beliau) lirik lagu The Beatles begitu kaya dan punya makna yang luas. Contohnya Yesterday, yang memang pada dasarnya bercerita tentang break up, tapi toh bisa diaplikasikan dalam hal lain.

Dan berkat pengaruh Ayah, dengan segera saya pun jadi fans Beatles. Sementara teman-teman sekolah saya hafal lagu-lagu NKOTB atau Abang Tukang Bakso-nya Melissa (perbandingannya jauh ya), saya hafal lagu-lagunya Beatles. Di saat teman-teman berburu poster Jordan Knight, saya malah nyimpen gambar Paul McCartney di dompet saya. (Hey...Paul yang paling ganteng dulu).

Lagu Beatles kesukaan Ayah adalah Blackbird. Ayah pernah cerita kalo Blackbird diciptakan Paul untuk mengenang isu rasialisme di USA. Dalam lagunya, Paul berharap agar ras kulit hitam (blackbird) bisa bebas suatu saat nanti. Lagu ini di-release sekitar tahun 68-69. Waktu itu, kasus G30S-PKI sudah lewat, namun pembersihan komunis yang dilakukan rezim Suharto masih terus berlangsung, terutama untuk daerah luar jawa seperti di tempat Ayah.
 Blackbird singing in the dead of night 
Take these broken wings and learn to fly 
All your life 
You were only waiting for this moment to arise
Cerita Ayah, kalo saat itu ada orang yang dicurigai anggota PKI, maka habislah harapan hidup layak untuk dia dan keluarganya. Dan saat itulah, remaja seumuran Ayah mulai sering menyanyikan lagu Blackbird sebagai dukungan terselubung mereka pada tetangga/rekan yang dituduh antek komunis. Yah mereka memang hanya bisa mendukung diam-diam karena ketahuan berinteraksi dengan orang yang dicurigai komunis bisa fatal akibatnya. Dan memori pada lagu Blackbird terus dibawa Ayah sampai dia dewasa.

Memori itu diteruskan kepada saya dan membuat saya ikut menggemari Blackbird. Saking sukanya, saat beliau bermain piano, saya bisa request Blackbird dinyanyikan berulang-ulang. Bahkan saat saya mulai ngantuk, saya akan meminta Ayah memainkan Blackbird dan membuatnya jadi lullaby saya (Iya...saya emang punya hobi ketiduran di sofa ruang musik itu).

Namun seperti layaknya badai yang pasti berlalu, fanatisme saya pada Beatles juga berlalu.
Saya masih suka banget sama Beatles. Tapi saya sudah move on dan menemukan lagu serta band lain yang  juga bisa saya sukai. Tuntutan pergaulan (aih syedap) juga membuat saya makin jarang mantengin Ayah main piano. Namun sesekali, saya masih suka request pada Ayah untuk memainkan Blackbird di pianonya.

Seperti blackbird yang telah terbang, Ayah juga telah pergi kini. Beliau dan pianonya menjadi memori yang membeku sejak 8 tahun lalu ketika beliau dipanggil oleh-NYA. Dan saya biarkan memori tentang Beatles turut membeku walau masih setia menyimpan semua mp3nya dalam ipod.

Adalah tulisan Eross yang membangkitkan kembali memori itu. Eross memang bukan satu-satunya yang membahas Beatles di buku ini. Namun gaya bertutur Eross, kecintaannya yang sangat terasa pada Beatles, interpretasinya yang dalam namun luas pada lirik Across The Universe milik Beatles membuat saya teringat akan Ayah.
Dan memori yang telah membeku selama 8 tahun itu kini berpendar kembali...

Maka saya menyetel playlist "Drop of Heaven" dari Lexie yang memang dikhususkan untuk semua tembang The Beatles, menyuruh Lexie melantunkan Blackbird 2x sebagai opening lalu membiarkannya bebas menyanyikan tembang Beatles yang mana pun sambil mengenang masa lalu bersama Ayah.
Bahkan saat menuliskan review ini, Lexie masih setia menyanyikan lagu Beatles. Yap...sejak kemarin!
Ternyata, saya gak pernah bisa move on sepenuhnya dari The Beatles.

Just wanna say :
Thank you Beatles for the music
Thank you Erros Chandra for bringing back the memory
and
Thank you, Papi for all the lessons you've taught me. Our times together are still one of the happiest moment in my life. Love you :).
Blackbird fly, blackbird fly 
Into the light of the dark black night

PS : Gimana dengan si penulis-yang-karenanya-saya-beli-buku-ini?
Ah ternyata ceritanya kali ini pun belum bisa dirating 5 bintang. Saya hanya memberikan 3,5 bintang.
Tapi gapapa. Terus berkarya dan saya akan terus mengejar bukumu.

Sunday, October 7, 2012

Kala Kali

Judul : Kala Kali
Penulis : Valiant Budi &Windy Ariestanty
Penerbit : Gagas Media
Edisi :Soft Cover
ISBN : 9797805816
ISBN-13 : 9789797805814
Bahasa : Indonesia
Rating : 3 bintang dari 5

Selama ini, saya gak pernah tertarik beli Gagas Duet. Karena (menurut info), Gagas Duet tuh bukannya 2 penulis berkolaborasi bikin 1 cerita yang sama. Tapi masing-masing penulis membuat 1 cerita dan kedua cerita itu tidak berhubungan.
Lha? Buat apa bikin duet kalo gitu? Kebayang deh, pasti ceritanya bakal pendek, mirip cerpen tapi panjangan dikiiit (ini ambigu banget sih bahasanya XD). Intinya: gak minat beli.

Tapi niat teguh itu pun goyah saat tahu Vabyo terlibat dalam proyek duet. Mau gak beli, kok ya penasaran pengen baca. Lagian udah tanggung koleksi buku yang bersangkutan. Akhirnya nekat deh ikut beli. (PS : Ini kenapa preludenya panjang ya?)

Sewaktu pertama liat bukunya, ada dialog gini sama diri sendiri : "Yiha...beneran keren nih cover. Sekeren di gambar." #MenurutNgana
Tapi kegirangan itu langsung menguap begitu sadar covernya dipakein lidah ato elemen tambahan ato apalah itu yang bikin jadi susah disampul. Asli repot buanget nyampulin itu buku.

Okeh...mari masuk ke isi buku.
"Hidup mah dinikmatin ajah. Banyak-banyak berbuat baik, jadi pas mati juga insya Allah dalam keadaan baik. Lagian, kalo hidup malah fokus mikirin mati terus, bisa jadi yang mati duluan malah orang-orang di sekitar kita, kan? Jadi mending perhatiin mereka yang sayang kamu." -Ramalan Dari Desa Emas-

Kisah pertama berjudul Ramalan Dari Desa Emas buah karya Vabyo, berkisah tentang Keni Arladi yang akan berusia 18 tahun. Keni ini tipe anti mainstream rupanya. Jadi bukannya ngerayain ultah bareng temannya ato keluarganya, ato bikin video trus unggah di youtube, ato apalah pokoknya, Keni memilih 'tuk menyepi di Desa Sawarna.

Awalnya rencana itu tampak mulus, sampai Keni bertemu bocah jago ramal yang (pastinya) meramalkan dia akan meninggal sebelum usianya 18 tahun. Keni sih berusaha untuk cuek, tapi setelah melihat betapa kesialan (dibarengi maut) selalu mengintai pasca diramal, dia pun terpengaruh. Dan dimulailah usaha pelarian diri Keni yang rada mirip Final Destination. Tentu semua itu diceritakan dari sudut pandang Keni yang cuek, rada sinis dan tengil.

Ceritanya enak dibaca sebenernya, mengalir dan pace-nya cepat. Endingnya juga seru dan gak ketebak.
Biar pun karakter Keni cuek gitu, tapi gak nyebelin untuk dibaca karena Vabyo membalutnya dengan humor kenes-namun-kadang-garing ala Vabyo.

Bagian mengganggu dari cerita ini adalah gaya bahasanya yang setipe banget dengan gaya bahasa Kedai 1001 Mimpi (yang juga berarti gaya bahasa Vabyo di twitter dan blog). Rasanya seperti Vabyo sendiri yang bercerita dan bukannya Keni.
Ada pikiran gini selama membaca :
"Oh si Vabyo sekarang jiper sendiri gegara dia kesasar di hutan. Eh? Apa? Siapa yang kesasar? Oh Keni toh, bukan Vabyo. Ah tapi masa sih? Vabyo itu mah. Liat dong gaya bahasanya yang berima, itu kan gaya Vabyo."
"Hah? Apa katanya? Keni cewek? Ah now I'm sure you're lying."


Iya...saya gagal membayangkan Keni sebagai cewek. Gaya bahasa, berpikir, dan sebagainya si Keni tidak membuat saya nangkep aura ceweknya.
Apa karena si Keni tomboy? Atau lebih tepatnya : apa begini gaya pikir remaja cewek tomboy 18 tahun jaman sekarang? Mungkin. Toh saya memang gak tahu apa-apa tentang itu.

Ato memang Vabyo yang gak mampu menciptakan karakter cewek dan mendalaminya?
Bukan ah. Di Bintang Bunting dia berhasil. Di Joker sekalipun, karakter Aulia masih berasa girly-nya (walopun rada nyaru).
Apa karena gaya penulisan Vabyo sudah berubah? Ada jeda 4 tahun antara Bintang Bunting dan novel ini, dan sangat wajar kalo gaya penulisan seseorang berubah.
Yah mungkin saja.

Tapi ini bikin saya jadi penasaran buat baca karya Vabyo selanjutnya. Jadiii...ayo kita tunggu MENUJUH \(^o^)/.
PS : Saya udah PO tuh buku lho (iyaaa...emang ini pamer kok ;p)

Sementara itu, 3 bintang untuk Ramalan Desa Emas-nya Vabyo.
"Hidup tak tertebak. Seperti permainan gundu dan dadu. Terkadang, aku takut itu... Bahkan ketika kita merasa segala sesuatu telah ada di genggaman, kondisi bisa berbalik." -Bukan Cerita Cinta-
Di bagian ke-2 ada "Bukan Cerita Cinta" dari Windy Ariestanty.
Bertutur tentang seorang Bumi yang editor, yang memandang hidup secara filosofis juga persahabatannya dengan Akshara, seorang penulis impulsif dan sedang jatuh cinta dengan Bima.

Bumi yakin kalo Akshara tidak sungguhan mencintai Bima. Sementara Akshara berkeras sebaliknya. Hingga dibuatlah taruhan yang berpuncak pada ulang tahun Akshara. Pada hari H akan dilihat, apakah Akshara masih bersama dengan Bima. Sebaliknya, Akshara ingin Bumi datang ke ulang tahunnya bersama pacar baru.
Kehadiran teman Akshara yang bernama Koma seperti datang tepat pada waktunya. Perempuan tanda baca itu berhasil memikat Bumi dengan tawanya.
Lalu kisah pun mengalir dari penuturan Bumi tentang Akshara, tentang Koma. Pendapat Bumi tentang mereka berdua, tentang filosofi cinta dan diskusi-diskusi kaya makna antara ketiga tokoh tersebut.

Kebalikan dengan cerita Vabyo yang pace-nya cepat, cerita milik Windy ini justru terasa lamban. Sangaaaaatttt lamban.
Inti cerita sebenarnya sependek yang saya jabarkan di atas, tapi Windy memperpanjang cerita dengan berbagai penuturan yang gak penting.
Kadang-kadang pengarang sering mengajak pembacanya muter-muter nggak keruan hanya karena si penulis kepingin aja memasukkan jalinan peristiwa atau dialog yang kalau ditanya kenapa dia melakukannya, jawabannya adalah, "Because I like it."
source
Saya menangkap kesan yang sama dari cerita ini, semacam : "Nih biar loe nangkep cinta itu kayak apa, gw ceritain tentang Elizabeth Barrett Browning. Nih Anna Karenina. Masih kurang? Ini nih sekalian kisah si Cupid & Psyche. Oh iya, gw bahas Daido juga deh."
Apa Windhy kehabisan ide mo dibawa kemana ini cerita hingga dimasukkan lah bagian ini? Nggak mungkin rasanya ah.

Selama membaca semua filler itu, saya nanya sendiri : "Ini buku konfliknya apa sih? Klimaksnya dimana?"
Dan sampe akhir, saya gagal nemu klimaksnya. Semua datar, flat.
Okeh, saya nangkap kok adegan mana yang dimaksudkan jadi klimaks, tapi buat saya itu pun sama datarnya dengan adegan sebelum dan setelah itu.

Dan saya juga merasa gak sreg dengan tokoh-tokohnya. Karakterisasi mereka kurang kuat untuk saya. Cuma Komang yang menarik dengan bubbly personality-nya.
Akshara? Datar.
Bumi? Sama datarnya.
Bima? Datar juga (ya walo si Bima emang jarang muncul sih).

Terus, klo di cerita Vabyo saya gagal membayangkan Keni sebagai wanita, di "Bukan Cerita Cinta" saya susah membayangkan Bumi sebagai pria. Susah namun bukan berarti gak bisa.
Ada saat tertentu sisi pria Bumi kelihatan. Tapi most of the time, saya dapat kesan yang sama dengan Farah : si Bumi ini cewek androgyny yang naksir sama si Akshara. X))

Untunglah, cerita Windy ketolong dengan untaian kalimat yang puitis dan penuh makna. Membaca cerita Windy memang gak bisa skimming supaya dapat meresapi makna kalimatnya. Dan sungguh, gaya bahasa inilah yang bikin saya bertahan menyelesaikan Kala Kali. Walo pun dengan rasa jenuh dan sakit kepala yang kerap datang setelah baca 4-5 lembar. (hehehe).
Yap, saya menikmati dibikin sakit kepala sama Windy. Rada masokis emang XP (ps : mudah-mudahan gak ada anggota 50United yang baca ini)

Saya belum pernah baca satu pun karya Windy (kecuali The Journeys) walo udah menimbun ketiga bukunya di rak saya . Saya tahu, dari review rekan-rekan, Life's Traveller punya gaya bahasa yang puitis dan filosofis juga. Dan kemungkinan, bisa bikin saya dapat sakit kepala yang nikmat lagi. (halah!)

Tapi saya kok malah jadi penasaran sama Shit Happens ya. Pengen tahu aja apa memang Windy selalu menulis dengan gaya seperti ini, meskipun dalam novel remaja.
Hmmm...*menatap Shit Happens yang masih terbungkus rapi selama sekian tahun*
Yeah! Let's take a look later. \(^o^)/ (ps : much later I mean)

Dan saya juga gagal paham dengan tagline : Hanya waktu yang tak pernah terlambat.
Bisa gak sih Gagas berhenti bikin tagline dan-atau blurb yang emang puitis, keren tapi menyesatkan dan maknanya gak masuk ke cerita?

Kesimpulannya: 2 bintang untuk Bukan Cerita Cinta dan 3 bintang untuk Ramalan Dari Desa Emas.
Totalnya 2,5 bintang. Dibulatkan 3 bintang untuk covernya.


PS : Yang ini sih unek-unek saya untuk Mbak Windy. Gak penting-penting amat untuk dibaca oleh yang lain, but I hope someday Windy would read this. Buat yang lain, better read it only if you can stand my lebayness (apa pun arti kata itu) XD

    

   

    SEKADAR CURHAT:   

   

   

   Pada salah satu scene di Bukan Cerita Cinta, ada bagian Akshara sakit dan berkata : "Kata dokter, aku sakit gejala typhus (ato tifoid?)."

Well, there's no such thing as "gejala thypus". Gak akan ada dokter yang kasi diagnosa "gejala typhus", setidaknya untuk dokter jaman sekarang.

Para dosen dan juga bos saya bisa murka kalo tahu bahwa kami (para GP unyu ini) kasi diagnosa gejala typhus.
Alasannya?
Karena pemberian kata "gejala" di penyakit ini menimbulkan reaksi yang "aneh" pada pasien.

1. Yang mendapat kesan kalo typhoid itu sakit ringan saja (padahal jelas salah)
Mereka di golongan ini akan cuek dengan bahaya typhoid. Rata-rata pada mikir : "Ah gejalanya aja cuma gini. Demam dan mual doang. Cemen lah. Istirahat di rumah beberapa hari juga beres. Penyakit aslinya juga gak berat-berat amat dong."

Atau yang ke-2, malah jadi menganggap serius "gejala-typhus"nya. Pasien yang di golongan ini akan mengonsumsi antibiotik (yang sebenarnya tidak perlu) atau kapsul cacing tanah (yang lebih tidak perlu lagi dan bisa bahaya).
Kenapa gak perlu? Karena sebagian besar kasus "gejala typhus" itu sebenarnya infeksi virus yang lebih ke self limiting diseases.

Saya gak tahu sejak kapan dan siapa yang pertama kali menciptakan salah kaprah macam gejala typhus ini. Salah satu dosen saya berteori, mungkin penyebabnya dari kalangan dokter sendiri di jaman dahulu kala. Saat ilmu kedokteran belum semaju sekarang, pemeriksaan laboratorium masih terbatas dan penyakit typhoid masih jadi momok. Sehingga semua orang yang punya keluhan mirip-mirip typhoid langsung dianggap "gejala typhus" dan diperlakukan sama seperti pasien typhoid.

Jelas ini salah kaprah yang harus diluruskan. Dosen yang sama juga bilang : "Generasi kalian ini emang korban dari generasi saya. Sudah terlalu banyak salah kaprah yang dibikin sama angkatan saya. Gejala typhus ini salah satunya. Salah duanya ya tentang antibiotik. Tapi tugas kalian buat meluruskan. Demi generasi di bawah kalian nanti dan demi kalian juga."

So...yep, we're trying. I'm trying. Dan jelas nggak gampang meluruskan kesalahpahaman yang sudah berkembang lama. Tentu saja kami mengandalkan bantuan pihak-pihak lain seperti penyuluhan, media-media, dan termasuk juga buku. Pokoknya apa pun yang bisa menjangkau masyarakat luas.
Dan karenanya menyebalkan ketika salah satu sarana yang bisa mendidik seperti novel malah bantu menyebarkan kesalahan ini.

Saya ngerti Windy bukan orang medis. Dan sebenarnya gak papa juga kalo dia mo nulis "gejala typhus" di ceritanya. Yang mengganggu adalah bagian "Kata dokter..." di kalimat itu, yang seolah menegaskan dokter mengakui ada penyakit seperti itu.
So next time, be more careful, mbak :)

Fyuh...curhat yang panjang cuma karena dua kata "gejala typhus" doang ya. Mana berasa lebay pula (iyaaa...saya juga tahu kok kesannya lebay banget). Ya maka itu saya hide ;p
   

   

   

Friday, December 16, 2011

Kedai 1001 Mimpi


Penulis: Valiant Budi
Penerbit: Gagasmedia
ISBN :  9789797804978
Tgl Penerbitan : 2011-05-11
Halaman : 456
Ukuran : 130x200x0 mm


Selamat datang di negeri 1001 dongeng. Berharaplah ini memang sekedar dongeng.
@Vabyo
Nun jauh di Bandung sana, hiduplah seorang pria bernama Valiant Budi Yogi aka Vabyo. Sama seperti jutaan orang lain, Vabyo juga punya mimpi tinggal di luar negeri. Bedanya negara impian Vabyo bukanlah yang favorit semacam Eropa ato Amerika. Vabyo justru bermimpi tinggal di kawasan Timur Tengah ato Afrika.
Demi mengejar mimpi ini, Vabyo rela meninggalkan karirnya di Indonesia untuk menjadi barista di Dammam, sebuah kota di Kingdom of Saudi Arabia (KSA).

Namun kenyataan memang jarang yang seindah mimpi.
Pertama, tentu saja Vabyo harus bergulat dengan cuaca yang panasnya di luar perkiraan (nyampe 56 derajat celcius, bo!). Cuaca panas ini otomatis berdampak pada air yang juga panas, menyebabkan insiden dubur lecet (baca aja sendiri untuk lengkapnya ya).

Kedua, Vabyo mesti berdamai dengan shift kerja gila-gilaan dan setiap shift diisi dengan kerjaan yang naujubile capeknyaaa. Ternyata menjadi barista itu bukan hanya duduk-duduk manis menunggu customer dan membuatkan kopi ketika ada yang mengorder. Ternyata menjadi barista itu sebuah pekerjaan yang melibatkan terbuangnya tenaga, hati dan juga nurani. Terkesan lebay? Gak kok. Baca aja buku ini dan Anda akan mengerti maksud saya.

Tapi yang menurut saya paling berat di antara semuanya adalah, Vabyo harus bisa bertahan menghadapi kelakuan warga Dammam yang "ajaib". Mulai dari rekan kerja hingga orang asing yang ditemui di jalan.
Simak pengalaman Vabyo waktu sakit dan berobat ke dokter yang aneh tapi nyata. Atau waktu dia dikejar-kejar segerombolan pria Arab untuk di..ehm..."lecehkan". Juga kekekiannya menghadapi pelanggan-pelanggan ajaib yang arogan, sok tahu, linglung, bahkan haram. Hah? Haram? Yup...beneran haram. Makanya baca sendiri dong bukunya ;)
"Kita ini konon pahlawan devisa. Tapi kalau mati ya sudah-dianggap binatang saja."
-Yuti-
Buku ini juga mengungkap fakta-fakta "unik" tentang negara itu. Seperti hak dan kebebasan wanita yang sangat dibatasi (nyetir mobil aja gak boleh lho), kode-kode kencan yang dilancarkan para baba, saudi champagne yang dari namanya saja jelas-jelas beralkohol tapi masih masuk kategori halal, serta yang paling menarik tentang kedekatan hubungan antar para baba di KSA dan daerah Cipanas di Puncak. Hayoo...ada yang tahu?;)

Namun Kedai 1001 Mimpi tidak melulu bercerita tentang Vabyo. Ikuti perjalanan Yuti sang TKI yang sukses mengubah nasib dari yang tadinya mengepel lantai kini menyisir lantai mall berbusana Prada. Simak kisah Mas Blitar, sang supir asli (well...jelaslah) Blitar yang merangkap sebagai pemuas nafsu majikan-majikannya. Juga Bambang, seorang gay yang merasa ketemu dunianya di Dammam. Dan jangan lupakan Eldo, si floor supervisor di sebuah hotel yang merangkap sebagai penari tiang. Baca dan tersenyum kecutlah bersama mereka.
Dan buku ini juga tidak hanya mengungkap sisi buruk KSA. Ada sisi baik dan kebaikan warganya yang juga diceritakan Vabyo. Namun demi untuk mencegah spoiler, saya biarkan anda menemukannya sendiri di buku.
“Tapi satu pelajaran yang gue dapet. Kita bisa mencari iman di mana saja, termasuk di negara yang sering ‘dibilang kafir’ sekalipun.”
Saya sudah mengikuti perjalanan @Vabyo di KSA sejak dia rajin memposting serial tweetnya dengan tagar "Arabian Underkampret" (yang lalu diubah jadi Arabian Undercover. Sayangnya saya sudah nyaman dengan istilah Underkampret. Hehehe :p). Rutinitas pagi saya kala itu membaca timeline @Vabyo sepanjang jalan menuju kantor.
Sayang, sekembalinya ke tanah air, @Vabyo semakin jarang membagi cerita Arabian Underkampret-nya. Awalnya saya berpikir mungkin dikarenakan kesibukannya mengurus Warung Ngebul.
Tapi ternyata, @Vabyo bilang di twitter bahwa pengalaman-pengalaman Arabia Underkampret-nya akan dibukukan, makanya gak bisa dishare lewat twitter lagi. Horeeee....\(^o^)/

Karenanya gak heran waktu buku ini di-launching, saya dengan bersemangat langsung membeli.
Dari segi fisik, saya suka sama sampulnya yang lucu dan "kena" banget dengan isi buku. Ilustrasi secangkir kopi yang ada di tiap akhir bab juga mampu membuat saya mendadak ngidam kopi. Ada beberapa typo namun bagi saya sih bisa dimaafkan.
"Saya datang buat mempertebal iman, bukan jadi dalang setan."
-Mas Blitar-
Mengenai isi buku, sebenarnya kebanyakan cerita mirip dengan yang dulu pernah di-tweetkan @Vabyo. Jadi yah sebagian besar ceritanya sudah saya baca. Tapi saya tetap senang kok. Karena akhirnya saya punya memento untuk serial twit Arabian Underkampret-nya Vabyo itu. Lumayanlah sebagai salah satu referensi saya tentang KSA (psstt...diam-diam saya sama kayak Vabyo yang punya ketertarikan khusus pada Timur Tengah dan Afrika).

Kalo ada yang pernah membaca 2 buku Vabyo sebelumnya, pasti heran dengan gaya bahasanya yang lain banget di Kedai 1001 Mimpi. Tapi gaya bahasa Vabyo tetap enak dibaca. Dan jangan khawatir, walau pun buku ini sebenarnya beraroma susah, namun Vabyo membalutnya dengan gaya komedi. Dia seolah ingin mengajak kita menertawakan hidup sepahit apapun itu, karena memang "Ada Lelucon Di Setiap Duka".
Kamu tidak perhatikan, banyak orang MATI karena terlalu BANYAK TAU?!
-sebuah comment di sebuah blog-
Dari info yang saya baca di timeline @Vabyolous (fanbasenya Vabyo di twitter) ternyata drama bukan hanya terjadi di dalam buku ini. Ada banyak kisah di balik layar penerbitan Kedai 1001 Mimpi. Vabyo mendapatkan banyak ancaman dan beberapa kali dicegat orang-orang asing, bahkan sampai terjadi pemukulan. Pelakunya jelas mereka yang berpikiran sempit dan menganggap Vabyo mencemarkan Islam dengan mengungkap fakta-fakta tentang KSA. Padahal Vabyo hanya ingin membuka mata kita tentang fakta yang sebenarnya sudah diketahui banyak orang namun sering dilupakan yaitu : Arab memang negara Islam tapi Islam bukanlah Arab.

Rating 4 bintang saya berikan untuk Vabyo dan segala pengalaman uniknya di Dammam sana.
Kenapa gak 5 bintang? Karena saya menangkap ada beberapa kekurangan. Ada hal-hal yang gak tuntas diceritakan Vabyo seperti alasan kearoganan customer dari Riyadh atau apakah Vabyo pada akhirnya mengiyakan tawaran Eldo. Jadi rasanya seolah-olah Vabyo "lost track" di tengah-tengah menulis dan pindah ke topik lain.
Walau begitu saya sangat salut pada keberanian Vabyo untuk mengungkap fakta kelam KSA walau pun mendapat ancaman. Maju terus dalam mengungkap fakta, bro. Semoga makin sukses dan tetap baik-baik saja ya.

Quote of the book :
"Di negara miskin saya itu, saya lebih banyak tersenyum. Tak terbeli dengan ribuan riyal. Lagi pula, semua kebusukan negara saya, Indonesia, ada di negara lain, kok. Tapi keindahan Indonesia belum tentu dimiliki negara lain."
-Vabyo-