Showing posts with label non fiksi. Show all posts
Showing posts with label non fiksi. Show all posts

Wednesday, January 30, 2013

Caldas

Data Buku :
Judul : Caldas
Judul Inggris: The Story of A Shipwrecked Sailor
Penulis: Gabriel Garcia Marquez
Penerjemah: Rizadini
Penerbit: Pustaka Sastra LKis Yogyakarta xvi + 124 hlm
Rating : 5 out of 5 stars

Jujur, saya merasa terintimidasi menulis review ini >.<
Gimana nggak, rekan saya Bang Helvry sudah membuat review yang sangat komprehensif untuk buku ini (sila baca review dia di sini). Saking komplitnya review beliau, saya gak tahu mo nulis apa lagi. Rasanya cuma kepengen nulis gini : "Untuk review yang mumpuni, sila baca review ini" sambil memberi tautan ke blog bang Helvry. Boleh gitu aja gak sih? X) #DikeplakBebi

Okeh..yuk kita mulai review ini...

Di bulan Maret 1958, seorang pelaut ditemukan terdampar di sekitar pesisir Mulatos, Kolombia.
Belakangan diketahui pelaut yang bernama Luis Alejandro Velasco itu adalah awak dari kapal Caldas, sebuah kapal perusak milik Kolombia.
Sekitar sepuluh hari yang lalu,  Caldas dihantam ombak besar yang menyebabkan beberapa awaknya terlempar ke laut. Sudah dilakukan pencarian untuk menemukan kru Caldas yang hilang, namun tak membawa hasil.

Karenanya, Luis Alejandro Velasco pun disambut bak pahlawan. Semua mengelu-elukan kemampuannya bertahan hidup selama 10 hari di lautan hanya dengan air laut, beberapa kartu nama, sebuah jam tangan, dan sebuah kunci. Dan biar saya tekankan : tanpa makanan! (Well...itu kalo burung camar mentah gak dianggap makanan).
Dengan segera, Velasco menangguk popularitas. Dia muncul di tv nasional untuk bercerita tentang petualangannya, dikontrak sebagai bintang iklan mulai dari iklan jam tangan hingga sepatu.

Adalah kejutan bagi pihak surat kabar El Espectador ketika suatu hari Velasco muncul di kantor mereka dan menawarkan untuk menceritakan kisah sebenarnya. Pada awalnya pihak redaksi tak tertarik. Sudah satu bulan berlalu sejak perisitiwa menghebohkan itu, sudah banyak pula kisahnya beredar. Untuk apa mereka menyiarkan berita usang?
Tapi direktur El Espectador punya pendapat lain. Dia yakin ada hal-hal yang belum terungkap dari kisah-kisah yang sudah beredar tentang Velasco. Maka ditugaskanlah Gabriel Garcia Marquez (yang waktu itu masih jurnalis muda) untuk menuliskan petualangan Velasco.

Saya sudah penasaran dengan buku ini sejak membaca review Bang Helvry itu (saya emang suka kisah non fiksi macam gini sih). Rasa penasaran itu semakin bertambah waktu baca bab "Pengantar Penulis Kisah di Balik Cerita" dan Garcia Marquez menulis begini :
"Kami tidak menyadari bahwa ketika kami mencoba menggali petualangan itu menit demi menit, penyelidikan kami yang mendalam dan terus menerus itu justru membawa kami pada petualangan baru yang menimbulkan kegemparan sehingga si pelaut harus melepaskan gelar kehormatan yang dianugerahkan kepadanya, dan aku nyaris dikuliti hidup-hidup."
Wow...apa yang terjadi? Kenapa Velasco dan Marquez sampai harus mengalami kejadian seperti itu? Seamis apakah misteri yang tersembunyi di balik tenggelamnya awak Caldas?
Dan rasa penasaran ini mencapai puncak ketika di halaman berikutnya Marquez menuliskan ini :
"Kekagetanku yang kedua, dan yang lebih mengekutkan, ketika aku meminta Luis Alejandro Velasco menggambarkan badai yang menyebabkan malapetaka itu. Menyadari bahwa pernyataannya sangat berharga, ia menjawab sambil tersenyum, "Tidak ada badai,kok." "
Happpaaahhhhh? O__o
Gak ada badai? Kalo nggak ada badai, gimana bisa kapal besar dan stabil seperti Caldas sampai mengalami guncangan sebesar itu?
Maka dengan penuh semangat saya meneruskan baca buku ini.
Dan...

Well....sebelum lanjut, sebaiknya saya kasi tahu kalo Marquez sebenarnya sudah menjawab kedua pertanyaan itu di bab Pengantar Penulis. Tapi dengan ngototnya saya masih berharap akan ada cerita lebih lanjut mengenai skandal di balik tenggelamnya kapal ini.

Ternyata, harapan saya gak terpenuhi X).
Fokus cerita di buku ini hanyalah kisah Velasco bertahan hidup selama 10 hari dan benar-benar hanya itu. Jangan mengharap ada yang bisa dijadikan renungan spiritual ala Life Of Pi ato kisah dramatis dengan bola voli seperti di Cast Away.
Yang ada di buku ini adalah perasaan Velasco menghadapi hari-hari panjang membosankan, strateginya agar tidak sampai mati kehausan (minum air laut terlalu banyak bisa berbahaya) dan mati kelaparan, triknya bertahan agar tak diserang hiu serta harapan dan putus asa yang menderanya silih berganti.

Mungkin terdengar membosankan, tapi begitulah realita. Saya bisa membayangkan, kalo suatu saat saya terlunta di laut (amit-amit!) seperti Velasco, saya juga gak bakal ribet berkontemplasi memikirkan hikmah musibah ini apalagi  ampe kepikiran bersahabat sama bola voli. Yang akan  ada di pikiran saya hanyalah gimana caranya bisa survive. Dan bila semua usaha survive saya gagal, yaaa...pasrah pada nasib, persis seperti yang dilakukan Velasco. Karenanya, walopun buku ini terasa kurang dramatis dibanding buku sejenis, bagi saya buku inilah yang akan lebih berguna bila anda harus terombang-ambing seperti Velasco. Seenggaknya, trik Velasco di buku ini bisa anda coba terapkan.

Saya juga mesti berkomentar tentang gaya penulisan Marquez. Woah....gaya penulisannya indah sekali. Bayangin aja, petualangan yang (kalo disadari) sebenarnya membosankan itu bisa ditulis dengan asyik dan seru sehingga saya gak merasa bosan sama sekali. Malah saya terus penasaran membaca hingga lembar terakhir. Penulisan Marquez begitu jelas dan deskriptiv hingga saya ikut merasakan terlunta di laut bersama Velasco, bisa merasakan hawa panas dan bau garam laut serta berbagi keputusasaan dengannya.

Seandainya bukan Marquez yang menuliskan kisah ini, saya gak yakin saya bisa cepat menyelesaikan buku ini. Kalo seperti inilah cara Marquez menulis, maka saya jadi penasaran baca buku-buku beliau yang lain. Kudos juga harus disertakan kepada penerjemah buku ini. You did a great job in translating this book.

Oya ada satu kalimat yang "kena" banget buat saya di buku ini. Hasil dari perenungan dan puncak keputus asaan Valdez, dan itu adalah kalimat di halaman 87 ini :
"...sembari merasa putus asa dan marah pada kenyataan bahwa mati ternyata lebih sukar dibandingkan terus bertahan hidup."
Yep...indeed.
Sepanjang masa tugas saya, entah berapa kali saya ketemu pasien yang sakit begitu lama dan parah hingga mereka berpikir ingin mati saja. (Bahkan saya pernah bertemu pasien kanker yang menolak minum pain killer. Soalnya dia berpikir dengan membuat dirinya kesakitan, dewa maut akan lebih cepat datang). Tapi pada akhirnya mereka masih bertahan untuk waktu yang cukup lama.
Apa karena umur mereka panjang? Iya sih #lah X)
Tapi juga karena manusia itu punya naluri dasar untuk mempertahankan hidup. Dan naluri itu akan bertambah kuat, saat ajal terasa mendekat.

Itu sebabnya, terkadang pasien yang kondisinya kritis, sempat menunjukkan perbaikan walau sekejap. Di ICU, sudah sering saya lihat pasien yang koma tiba-tiba tensinya naik atau heart rate-nya meningkat, sebelum kemudian menurun secara perlahan dan akhirnya meninggal. I think that's their last attempt on struggling for their life though they did it unconciously.

Lalu bagaimana dengan mereka yang secara sadar mengakhiri hidup mereka? Saya sih meragukan mereka memilip opsi bunuh diri itu secara "sadar".
Tahukah berapa jumlah kasus percobaan bunuh diri? Menurut American Foundation for Suicide Prevention, di US pada tahun 2010 hampir satu juta orang yang mencoba bunuh diri, sementara yang "sukses" dan dinyatakan mati karena bunuh diri "hanya" sekitar 38 ribu kasus atau 3,8%.
Bisa menebak alasannya?
Karena (menurut para survivor), di momen hidup (yang semestinya) terakhir itu, mereka merasa gentar dan insting alami untuk mempertahankan diri pun muncul. Maka secara refleks, mereka akan berusaha menghentikan tindakan apapun yang mereka lakukan untuk memutus nyawa.
And that's why, drinking poison for a full bottle or cutting wrist and let the body runs out of blood could only happen in the movie or to those with severe mental problem.

The world is a mixed of paradox, isn't it?
There I was reading a true story about a man stranded for 10 days in the sea and fighting so hard for his own life, then I read about this suicide statistic report.
And I wonder, for these 3,8% who succesfully committed suicide, while they were in the process of killing themselves, did that instinct of surviving ever kick in even for just one second? While they were falling down after they jumped off the high building, did they ever try to grasp for something? And for those who shot themselves with firearm, were their hand shaking when they're about to pull the trigger?
Well I hope the answer is no.
Because it's so teriffying to fight for something that you know would be gone from you in the end since it was already too late.
For those 3,8%, I hope they could spend the final seconds of their life in peace from knowing that finally they've got what they were desperately seeking for : death.
Don't you think so?

===================================================

Seperti yang udah diceritakan di sini, buku ini adalah pemberian dari Santa BBI melalui program Secret Santa. Saya dapat 2 buku sebenarnya : Caldas yang ini dan The New Life-nya Orhan Pamuk.
Dan seperti yang udah saya ceritakan juga, saya sempat bingung nentuin siapa santa saya. Soalnya sang santa yang baik kasi riddlenya kayak gini :
"Aku berfoto dengan salah satu buku dlm paket ini.
Happy reading and blogging
Your Santa,"
Dan setau saya ada 2 orang member BBI yang pernah berfoto dengan buku hadiah dari Santa.

Bang Helvry dengan Caldas
Teh Indri dgn New Life
Saya udah kepikir lempar koin aja daripada ribet X).
Tapi gak percuma dong saya jadi Sherlockian dan Conan-ers (istilah apa ini?). Kalo ada satu hal yang saya pelajari dari mereka berdua, itu adalah untuk memperhatikan detail sekecil apa pun.
Jadi saya pun memerhatikan baik-baik kertas yang dipake untuk menulis riddle. Ternyata kertas ini dari buku notes, semacam notes yang sering dihadiahkan sebagai bonus suatu produk. Dan di bagian atas kertas itu, ada tulisan terembos kayak gini :
Johan Yan - Poor Is Sin
dan di bagian bawah kertas tertulis gini :
Total Quality - Johan Yan

Hoh? Apa itu Poor Is Sin? Siapa itu Johan Yan?
Setelah googling, ternyata itu judul buku rohani yang ditulis oleh Johan Yan toh. Melihat profil kedua "tersangka" sih, sepertinya lebih cocok ditebak kalo Bang Helvry Sinaga-lah Santa saya. Bener gak nih, Bang Helvry?
Kalo bener, nanya dong : "Sebelumnya ngeh nggak kalo Teh Indri pernah berfoto dengan buku Pamuk? Dan pemilihan kertas buat nulis riddle itu sengaja ato nggak?"

Makasi ya buat bukunya, Bang Helvry (pede kalo Santa-nya Bang Helvry). Terutama buat Caldas ini. Soalnya aku pernah nyari sendiri buku ini dan gak nemu. I know it's hard to find. Ato jangan-jangan malah ini diambil dari koleksimu? Woaa....makasi banget kalo iya *GR tak terkira* :)).
Lalu semoga review ini "cukup" untukmu. Saya masih ingat soalnya reply-anmu atas komenku di review Caldas-mu, dan honestly itu bikin saya tertantang sekaligus terbeban buat mereview. Huahahaha.... X)
Yah kalo ada kesalahan mohon dimaafkan karena kesempurnaan hanyalah milik Tuhan semata dan kesalahan adalah sepenuhnya milik saya. #eaaaa #MendadakSyariah 
Makasi juga buat Oky dan Ndari yang udah bikin event seru kayak gini.

Untuk melihat tebakan riddle peserta Secret Santa lainnya, go to here : Kumpulan Sinopsis Untukmu

Friday, November 9, 2012

Memoritmo

Data Buku :
Penulis : Ade Paloh, Anto Arief, Cholil Mahmud, Eross Chandra, Galih Sakti, Hasief Ardiasyah, Kartika Jahja, Maradilla Syachridar, Meng, Mikael Johani, Rain Chudori, Sammaria Simanjuntak, Sarah Deshita, Vabyo
Penerbit : Bukune
Bahasa : Indonesia
ISBN  : 6022200725
Rating : 3 out of 5 stars

Apa yang bikin saya tertarik beli buku ini? Karena salah satu penulisnya adalah penulis favorit saya yang entah kenapa kok ya belum juga bikin buku yang bikin saya pengen kasi 5 bintang.
Dan berhubung saya tuh tipe kepo, jadilah saya terus-terusan beli bukunya. Pokoknya belum mo berhenti ampe saya bisa nemu buku dia yang dapat bintang 5.
Jadinya, walau pun tahu buku ini kumcer (yang sebenarnya bikin saya alergi), saya tetap beli.

Ternyata saya salah. Ini bukan sekadar kumcer.
Ini lebih tepat dibilang kumpulan memori yang berhubungan dengan musik (apa itu kali ya artinya Memoritmo? Entahlah).
Adalah Maradilla Syachridar yang pertama menelurkan ide ini. Karena terkenang kembali akan suatu memori yang dihidupkan oleh sebuah lagu, dia jadi terpikir pastilah banyak orang lain yang juga memiliki soundtrack dalam hidupnya. Karena itu, dia membuat proyek Memoritmo, tantangannya adalah memilih satu dari sekian banyak lagu yang berkaitan dengan kehidupan kita. Lalu dia mengajak beberapa rekan yang hidupnya dekat dengan musik.

Jujur, saya paling payah kalo disuruh mereview kumcer kayak gini. Saya bingung kasih ratingnya gimana. Mendingan saya bahas satu persatu saja dan kasi rating per cerita. Berhubung bagian ini bakal kepanjangan kalo dijembreng di blog, saya kasih spoiler tag aja ya.
    

   

    SINOPSIS SINGKAT   

   

   

  

  1. Memori milik Eross Chandra yang paling saya suka dan akan saya bahas sendri nanti. 4 bintang.

  2. Lagu Djuwita Malam, tulisan Anto Arief bercerita tentang kisah cinta dengan seorang gadis. Tapi saya gagal paham hubungannya dengan lagu Djuwita Malam. 1 bintang.

  3. Mikael Johani dengan lagu Madu & Racun bercerita tentang musik yang bagaikan mesin waktu dan bisa membawa kenangan ke satu periode tertentu. Saya suka gaya tulisan dia. 3 bintang.

  4. Little Motel oleh Rain Chudori. Entah ini fiksi ato nyata. Chudori bercerita tentang aku & adikku yang menghabiskan satu periode di motel kecil. 2 bintang.

  5. Maradilla Syachridar membahas sulitnya memutus benang kasih yang terentang bahkan ketika cinta sudah lewat Strings That Tie To You. 3 bintang.

  6. Lewat Yeh Jo Halka Saroor Hae, Galih Ismoyo bercerita tentang pengalaman pertama Dimas (entah siapa dia) belajar ngaji. 2 bintang.

  7. Topik cinta memang gak ada matinya. Sarah Deshita menyarankan untuk jangan menyerah menunggu datangnya cinta sejati lewat True Love Waits. 3 bintang.

  8. Cholil Mahmud menceritakan efek musik Slank bagi perkembangan karirnya lewat Terbunuh Sepi. 2 bintang.

  9. Seorang gadis menganggap gelap adalah kuning. Warna itu melekat kuat dalam ingatan masa kecilnya lewat suatu memori berwarna kuning dan Bad Wisdom adalah soundtrack hidupnya. Entahlah apakah cerita Kartika Jahja ini fiksi atau nyata. Tapi gaya bertuturnya enak dibaca. 3 bintang.

  10. Meng Simamora mengenang sang ayah lewat lagu Moon River. Saya kasi 3,5 bintang lebih karena saya suka lagu dan tentang ayah-nya.

  11. Hasief Hardiansyah mengenang masa remajanya yang sudah lama berlalu lewat My Teen Years. 3 bintang.

  12. Lewat Do You Want To Know A Secret, Ade Paloh bercerita bagaimana Beatles mempengaruhi hidup dan membuka cakrawalanya. Hmm...otak saya memang segitu kapasitasnya. Saya gagal nangkap keindahan kata-kata dia. 1 bintang.

  13. Valiant Budi berbagi kisah tentang sahabat gadungan semasa SMA dulu lewat Sahabat Gelap. Kisah yang dialami (hampir) semua anak sekolah pria era 90an (eh sekarang masih gak ya?). Gaya bertutur Vabyo tetap kenes kayak biasa. 3,5 bintang.

  14. Sammaria Simandjuntak bercakap dengan seorang sahabat untuk terus mengejar kesempatan jadi penyanyi dan jangan hanya pasif menanti lewat Get Up & Go. Suka sama gaya bahasanya. 3,5 bintang.

   

   

   

 Kalo dirata-ratakan jadi 2,67. Bulatkan ke 3 bintang aja deh karena covernya keren (Ribet amat sih loe urusan bintang doang, wi :p)

Btw walau pun secara umum para memori di buku ini menarik dibaca, tapi ada satu yang saya sukaaa banget. Memori itu milik Eross Chandra yang bercerita tentang kecintaannya pada The Beatles lewat Across The Universe.

Terima kasih pada Ayah yang telah mengenalkan saya dengan musik lawas, sampai sekarang saya penggemar setia band jadul. Tersimpan dalam tubuh Lexie (ipod saya), di antara tembang milik Maroon 5, Jason Mraz, Bruno Mars, pasti bisa ditemukan lagu milik Everly Brothers, Engelbert Humperdinck, Frank Sinatra, bahkan sampai ke Broery Pesolima.

Dan di antara semua band jadul itu, Ayah paling suka dengan The Beatles. Buat Ayah saya, me-time favorit adalah bermain piano sambil bernyanyi (dan Ayah memang pianis dan penyanyi yang sangat baik). Biasanya, malam hari selesai praktek, Ayah akan sibuk berkencan dengan pianonya hingga larut malam.
Saya sudah jadi makhluk nocturnal sedari SD. Setelah tugas sekolah esok hari selesai dibuat, saya akan membaca novel hingga larut. Dan tempat baca favorit saya jelas sofa di ruang musik.
Kenapa di situ? Soalnya ruangan itu kedap suara. Saya bisa membaca tanpa terganggu suara berisik adik-adik saya.
Kebiasaan itu membuat saya secara tak langsung menemani Ayah tiap kali dia bermain piano walau pun kami jarang mengobrol. Kami adalah 2 manusia yang tenggelam dalam dunia masing-masing namun menikmati kehadiran satu sama lain.

Karena seringnya mendengar nyanyian Ayah, naturally saya menyukai lagu-lagu yang dinyanyikannya. Ayah mendukung minat saya itu. Kami bisa menghabiskan waktu berjam-jam, ngobrol tentang penyanyi favorit dan lagu kesukaan beliau. Ayah akan menjelaskan kisah hidup serta latar belakang lagu-lagu indah yang ditulis mereka. Dan favorit saya ketika Ayah memberi terjemahan tiap lagu yang saya minta lengkap dengan makna terselubungnya (jika ada). Come to think of it, itulah perkenalan awal saya dengan bahasa Inggris.

Yang paling sering Ayah bahas adalah The Beatles.
Selain karena beliau memang fans berat band tersebut (Ayah koleksi semua kaset, piringan hitam dan CD The Beatles), juga karena (menurut beliau) lirik lagu The Beatles begitu kaya dan punya makna yang luas. Contohnya Yesterday, yang memang pada dasarnya bercerita tentang break up, tapi toh bisa diaplikasikan dalam hal lain.

Dan berkat pengaruh Ayah, dengan segera saya pun jadi fans Beatles. Sementara teman-teman sekolah saya hafal lagu-lagu NKOTB atau Abang Tukang Bakso-nya Melissa (perbandingannya jauh ya), saya hafal lagu-lagunya Beatles. Di saat teman-teman berburu poster Jordan Knight, saya malah nyimpen gambar Paul McCartney di dompet saya. (Hey...Paul yang paling ganteng dulu).

Lagu Beatles kesukaan Ayah adalah Blackbird. Ayah pernah cerita kalo Blackbird diciptakan Paul untuk mengenang isu rasialisme di USA. Dalam lagunya, Paul berharap agar ras kulit hitam (blackbird) bisa bebas suatu saat nanti. Lagu ini di-release sekitar tahun 68-69. Waktu itu, kasus G30S-PKI sudah lewat, namun pembersihan komunis yang dilakukan rezim Suharto masih terus berlangsung, terutama untuk daerah luar jawa seperti di tempat Ayah.
 Blackbird singing in the dead of night 
Take these broken wings and learn to fly 
All your life 
You were only waiting for this moment to arise
Cerita Ayah, kalo saat itu ada orang yang dicurigai anggota PKI, maka habislah harapan hidup layak untuk dia dan keluarganya. Dan saat itulah, remaja seumuran Ayah mulai sering menyanyikan lagu Blackbird sebagai dukungan terselubung mereka pada tetangga/rekan yang dituduh antek komunis. Yah mereka memang hanya bisa mendukung diam-diam karena ketahuan berinteraksi dengan orang yang dicurigai komunis bisa fatal akibatnya. Dan memori pada lagu Blackbird terus dibawa Ayah sampai dia dewasa.

Memori itu diteruskan kepada saya dan membuat saya ikut menggemari Blackbird. Saking sukanya, saat beliau bermain piano, saya bisa request Blackbird dinyanyikan berulang-ulang. Bahkan saat saya mulai ngantuk, saya akan meminta Ayah memainkan Blackbird dan membuatnya jadi lullaby saya (Iya...saya emang punya hobi ketiduran di sofa ruang musik itu).

Namun seperti layaknya badai yang pasti berlalu, fanatisme saya pada Beatles juga berlalu.
Saya masih suka banget sama Beatles. Tapi saya sudah move on dan menemukan lagu serta band lain yang  juga bisa saya sukai. Tuntutan pergaulan (aih syedap) juga membuat saya makin jarang mantengin Ayah main piano. Namun sesekali, saya masih suka request pada Ayah untuk memainkan Blackbird di pianonya.

Seperti blackbird yang telah terbang, Ayah juga telah pergi kini. Beliau dan pianonya menjadi memori yang membeku sejak 8 tahun lalu ketika beliau dipanggil oleh-NYA. Dan saya biarkan memori tentang Beatles turut membeku walau masih setia menyimpan semua mp3nya dalam ipod.

Adalah tulisan Eross yang membangkitkan kembali memori itu. Eross memang bukan satu-satunya yang membahas Beatles di buku ini. Namun gaya bertutur Eross, kecintaannya yang sangat terasa pada Beatles, interpretasinya yang dalam namun luas pada lirik Across The Universe milik Beatles membuat saya teringat akan Ayah.
Dan memori yang telah membeku selama 8 tahun itu kini berpendar kembali...

Maka saya menyetel playlist "Drop of Heaven" dari Lexie yang memang dikhususkan untuk semua tembang The Beatles, menyuruh Lexie melantunkan Blackbird 2x sebagai opening lalu membiarkannya bebas menyanyikan tembang Beatles yang mana pun sambil mengenang masa lalu bersama Ayah.
Bahkan saat menuliskan review ini, Lexie masih setia menyanyikan lagu Beatles. Yap...sejak kemarin!
Ternyata, saya gak pernah bisa move on sepenuhnya dari The Beatles.

Just wanna say :
Thank you Beatles for the music
Thank you Erros Chandra for bringing back the memory
and
Thank you, Papi for all the lessons you've taught me. Our times together are still one of the happiest moment in my life. Love you :).
Blackbird fly, blackbird fly 
Into the light of the dark black night

PS : Gimana dengan si penulis-yang-karenanya-saya-beli-buku-ini?
Ah ternyata ceritanya kali ini pun belum bisa dirating 5 bintang. Saya hanya memberikan 3,5 bintang.
Tapi gapapa. Terus berkarya dan saya akan terus mengejar bukumu.

Monday, October 22, 2012

Buku Ajar Koas Racun

 Data Buku:
Judul : Buku Ajar Koas Racun
Penulis : Andreas Kurniawan, dr
Penerbit : mediakita
Halaman : 256
Published : 2012
Rating : 4 out of 5 stars


@KoasRacun adalah salah satu akun parodi kedokteran yang sudah lumayan lama beredar di jagat twitter. Saya gak tahu seberapa bekennya @KoasRacun bagi tweeps kalangan non-medis, tapi buat kami (ato minimal saya), akun ini salah satu akun humor yang wajib difollow. Tweet-tweetnya @KoasRacun itu suka sinis, nyindir tapi lucu. Rasanya akun itu menyuarakan jeritan hati para koas di negeri ini *halah*

(ps : buat yang gak mudeng, koas adalah sebutan untuk mahasiswa FK tingkat klinik, yang berarti mahasiswa FK tahun ke-5 dan 6)

Ketika mengetahui @KoasRacun akan melahirkan (pemilihan kata yang aneh) buku, saya kira yang akan keluar adalah buku kompilasi twit. Ternyata saya salah. Sesuai dengan taglinenya, buku ini memang panduan bertahan hidup untuk koas & mahasiswa kedokteran.

Ada banyak hal yang diceritakan penulis di buku ini, mulai dari jaga malam yang adalah takdir sekaligus kewajiban bagi koas, tentang suka duka perkuliahan dalam menghadapi praktikum, ujian dan juga dosen, sampai ke "mitos" aneh menyangkut profesi dokter. Mitos yang saya maksud itu seputar keyakinan masyarakat awam bahwa semua dokter pasti tulisannya jelek (lucunya banyak yang berpikir di FK pasti ada mata kuliah belaja-nulis-kayak-ceker-ayam) ato bahwa dokter gak bisa sakit.

Eh? Anda gak percaya bahwa ada orang yang berpikir dokter gak bisa sakit? Jangan salah. Banyak lho yang mikir gitu.
Saya ingat sekian tahun lalu, waktu ayah saya sakit dan ada pasien yang mo berobat. Setelah diberi tahu bahwa ayah gak bisa melayani karena sedang sakit, sang ayah pasien pergi sambil ngomel : "Dokter kok bisa sakit sih? Ini mah pasti males aja nerima pasien. Dikira saya gak bisa bayar apa?"

Ish...klo ingat kejadian itu masih bisa emosi deh #eaaa #mendadakcurcol
Untung ampe sekarang saya belum pernah dengar ada yang komentar : "Dokter kok bisa meninggal karena sakit?". Klo ada yang mikir gitu, then they really should get their head checked.

Seperti tagline-nya, buku ini memang lebih tepat jadi panduan mereka yang belum ato sedang koas. Bagi saya yang (alhamdulillah) sudah melewati masa itu, buku ini lebih sebagai pembangkit kenangan manis saja. Juga sebagai penghibur hati bahwa ternyata saya gak dogol sendirian, ternyata mahasiswa-mahasiswa FK seantero nusantara mengalami hal yang sama toh #menurutngana.

Oh saya juga jadi ngeh kalo ternyata mitos-mitos cara penolak dan pemanggil pasien kala jaga malam itu dipercaya oleh seantero FK toh. Jadi penasaran, mahasiswa FK di negara lain punya mitos aneh juga gak ya? Seaneh apa mitos itu? Silakan baca sendiri :D

Gaya bahasa penulis sih sama kayak di twitter. Sama-sama sinis, nyindir tapi lucu dan cerdas.
"Dokternya ada?" tanya bapak itu.
Pertanyaan ini cukup janggal di telinga saya, mengingat percakapan ini mengambil setting lokasi di IGD suatu rumah sakit umum. Saya tidak pernah berpikir untuk datang ke restoran cepat saji dan bertanya, "Yang masak ada?"
Buku ini juga tak lupa menyorot dilema yang dihadapi para dokter. Bagaimana mereka menghabiskan waktu untuk mengurus keluarga orang lain sementara keluarga sendiri harus ditinggal di rumah.
Yep, I can relate to that. Saya juga beberapa kali harus meninggalkan ibu sendirian di rumah padahal beliau sedang sakit untuk merawat ibu orang lain. It's a dilema. Trust me.

Tapi bab favorit saya sih di bab "Koas & Film".
Di awal bab, penulis berkata begini:
"Ada satu hal yang selalu ditanamkan oleh dosen kami dari dulu : jadi mahasiswa harus kritis. Apalagi menjadi seorang dokter. Segala sesuatu harus bisa dipertanyakan, kenapa bisa begitu, apa hal tersebut mungkin, dan sebagainya. Hal ini di satu sisi membuat kami penghuni dunia medis menjadi pribadi yang kritis. Di sisi lain, kami kadang tidak bisa menikmati beberapa hal lagi. Apalagi saat menonton film."
Tuh kaaann! Tuh kaaaaannnnn!!!
Wajar kan kalo saya sungguh sewot sama film/buku Heart ini. Lah wong buku ini salah di semua aspek. Ato ketika saya ngomel di review buku Kala Kali itu.
Iyaaa...yang dibilang penulis emang bener. Ada beberapa kenikmatan yang hilang saat menonton film bagi kami. Film yang rusak kenikmatannya menurut contoh penulis adalah X-Men Origins : Wolverine, The Dark Knight Rises, dan Soegija. Dan list ini masih bisa panjang kalo mo diterusin.
Buat saya, hal ini juga berlaku pada buku :|.

Gimana dengan sinetron? Oh...do not make me go there! Toh penulis juga sudah memaparkan keanehan-keanehan yang dilihatnya di sinetron.
Tampak seorang ibu sedang mengejan dengan sepenuh tenaga. Beberapa saat kemudian terdengar tangisan bayi, kemudian petugas rumah sakit langsung memakaikan selimut ke bayi tersebut, dan diperlihatkan ke sang ibu. Indah sekali, seorang ibu yang bertaruh nyawa untuk memberikan hidup ke bayi tercinta. Setelah itu adegan selesai. Serius, sudah selesai.
Catatan:
Suatu kondisi yang menarik sekali, bayi tersebut pantas masuk ke dalam The Guinness Book of World Records sebagai satu2nya bayi yang lahir tanpa plasenta
Asli...pas baca bagian ini serasa pengen ketemu langsung penulisnya dan berterima kasih karena mau bersusah payah melawan usaha pembodohan yang dilakukan produser sinetron. Mudah-mudahan saja buku ini banyak dibaca biar infonya makin meluas.

Kalo ada kekurangan di buku ini, itu adalah typonya. Gak terlalu banyak sih, tapi saya terganggu dengan banyaknya kata memelajari yang ada di buku ini (yang bener mempelajari ato memelajari sih?). Juga editan yang masih kurang halus. Liat kutipan di atas? Masih ada kata "satu2nya" di buku ini.

Saya juga gak yakin apakah jokes yang ada di buku ini bisa ditangkap oleh pembaca kalangan non medis.
Oh jangan khawatir. Anda pasti ngerti segala yang diceritakan penulis karena dipaparkan dengan begitu jelas. Saya cuma meragukan apakah sisi lucunya bisa ditangkap oleh semua pembaca. Saya pribadi menganggapnya lucu karena saya pernah mengalami dan tahu kayak apa rasanya. Apakah orang lain menganggap pengalaman saya lucu? Entahlah.

Untuk siapa saya merekomendasikan buku ini?
Kepada teman sejawat dari dunia medis karena dengannya kita bisa bernostalgia dan berefleksi diri. Setelah membaca buku ini, saya sadar betapa kacrutnya saya dulu. Dan betapa ampe sekarang pun, saya masih sama aja (klo gak mau dibilang lebih parah) kacrutnya X).

Mereka yang ingin masuk FK dan para orang tua yang ingin anaknya jadi dokter tapi clueless seperti apa dunia kedokteran itu juga sebaiknya membaca buku ini.
Apa?
Anda termotivasi jadi dokter setelah baca Doctors-nya Erich Segal dan manga Dr. Koto juga Say Hello To Blackjack? Oh jangan percaya deh! Itu kan menyorot profesi dokter di negara lain.
Mending anda baca buku ini deh.
Kalo setelah baca, anda merasa masih minat masuk FK, maka sila dilanjut dengan baca Playing "God"-nya Rully Roesli dan The Doctor: Catatan Hati Seorang Dokter-nya Triharnoto
Kalo masih minat juga, maka...daftarkan diri anda ke FK dan welcome to the jungle :). It's a rollercoaster ride, but like all rollercoaster, it brings fun too.
You'll find many friends and foes here. But still, we're all brothers that binded by the same oath.
DOCTORS are being scorned for being late with diagnosis, yet they're holding their bladder because they don't have time to use the restroom, starving because they missed lunch & missing their family while taking care of yours. Illness or personal affairs aren't excuses for a misdiagnosis or mismanagement. They lack sleep yet are willing to stay awake for you and for your families. They may even be crying for you. In the minute you read this, doctors all over the world are saving lives. -Anonymous-

Saturday, February 25, 2012

Bordir

Data Buku :

Judul Asli : Embroideries
Pengarang : Marjane Satrapi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 9792220070
Halaman : 138
Paperback
Terbit : Maret 2006

Di novel grafisnya ini, Marjane memfokuskan cerita pada neneknya dan kebiasaan beliau kumpul minum samovar (teh) di sore hari dengan teman-temannya sambil (apalagi kalau bukan) bergosip, baik gosip tentang diri sendiri atau pun orang lain.

Para wanita ini menceritakan pengalaman mereka (dan orang-orang yang mereka kenal) secara gamblang dan lucu. Dan topiknya pastilah tentang hal paling seru untuk diperbincangkan : pria dan sex!
Yap...pria dengan segala plus dan minusnya serta tradisi-tradisi Iran menyangkut perjodohan dan hal-hal konyol yang bisa terjadi karenanya.

Ada cerita tentang seorang wanita yang takut ketahuan calon suaminya kalo dia sudah nggak perawan lagi, dan untuk mengelabuinya dia membekali diri dengan silet di malam pertamanya. Niat awal sih untuk bikin luka sedikit di pahanya, tapi dia salah menggores dan malah kena ke private part suami barunya (ouch!).

Ada juga cerita lain tentang teman si nenek yang dijodohkan sewaktu berumur 13 tahun dengan pria berumur 69 tahun dan betapa dia sangat membenci suaminya sehingga dia berdoa siang malam semoga suaminya segera berpulang ke Tuhan YME. Bayangkan kebahagiaannya ketika doanya terkabul dan dia merasa memiliki dunia :))

Dan cerita yang paling lucu buat saya jelas cerita yang menyangkut teh dan sesuatu yang putih-putih. Gak seru kalo diceritain. Lebih asyik dibaca sendiri bagian yang ini.

Ada juga perdebatan kecil tentang keuntungan menjadi simpanan vs menjadi istri dan pentingnya sebuah keperawanan ato enggak. Dan hal ini membawa kita pada judul buku ini yaitu Bordir. Ternyata Bordir itu bukan membahas kain bordiran atau semacamnya toh. Tapi membahas tentang kegiatan bordir yang lain, yang melibatkan salah satu bagian tubuh wanita yang terkoyak. (PS : Nyambung gak? Hah...Enggak??? Oh well...sudahlah. Baca aja sendiri).

Membaca buku ini rasanya jadi orang ke-11 yang turut hadir dalam acara minum teh sore nenek Satrapi dan rekan-rekannya. Bacalah buku ini disertai segelas teh juga dan niscaya Anda akan merasa seperti ada dalam buku tersebut.

Swear, ini buku menarik banget. Lucu, witty humour (my favourite kind of humour), blak-blakan dan cepat pula dibaca. Gambarnya juga menarik dan bersih (dalam artian gak penuh dengan detail rumit). Dan sebenarnya saya pengen banget kasih lebih dari 3 bintang.

Sayangnya gak bisa, karena satu sebab remeh yaitu : Saya gak suka duduk ngumpul minum teh sambil ngegosipin orang yang saya gak kenal. Kalo saya punya waktu untuk minum teh di sore hari, percayalah teh itu akan saya habiskan sambil membaca buku, bukannya sambil ngalor ngidul gak jelas kayak gini.
Jangan salah, saya suka kok dengar cerita atau curhatan orang. But please, bukan tentang orang yang saya gak kenal. Dan please juga deh, jangan bahas aib orang dong.

So...though I enjoyed my tea time with The Satrapis, but I'm not sure I wannna do it again some other time.

Monday, January 2, 2012

My Stupid Boss 4 : Trust No One, Suspect Everyone!

Penulis : chaos@work
Penyunting : tka
Desain sampul : Ellina Wu
Published : November 2011
Penerbit : Gradien Mediatama
ISBN 13 : 9786022080336
edition language : Indonesian


Awalnya ke Gramedia tuh gak ada niat beli nih buku, soalnya masih banyak buku lain yg mo dibeli, makanya cuma ngerencanain beli 1 buku personal literature yaitu Manusia Setengah Salmon-nya Raditya Dika.
Bukannya gak berencana beli nih buku. Udah dimasukkin dalam planning kok, but not now. Dalam pikiran saya : buku ke-4 ini pasti lucu, tapi lucunya sama aja kyk buku2 sebelumnya. Sementara Manusia Setengah Salmon itu kan (katanya) hadir dalam format lucu-galau.

Tapi...berhubung penasaran juga sama buku ke-4 ini, saya ambillah 1 sample yang udah kebuka plastiknya. Baca halaman awal sampai ke bab preambule, langsung nyengir lebar di Gramedia, menahan diri untuk gak ngakak lepas. This is what I need right now. Saya perlu tertawa dan saya yakin buku ini bisa bikin saya ketawa. Dan akhirnya, tanpa berpikir lagi, saya bawa buku ini ke kasir.

Dan, saya pun nangkring di kedai kopi ditemani segelas tall frappuccino sambil bersyukur bahwa bos saya bukanlah bos terbangke sedunia :))

Hmm...apa lagi yang perlu dikatakan tentang buku ini? Sudah 4 buku, pembacanya juga pasti sudah tahu banget kelakuan bossman yang aneh-tapi-nyata itu.

Tapi sekedar info aja buat yang belum tahu... Buku ini adalah kumpulan curhat seorang Amoy Kerani (sekretaris) terhadap boss-nya yang di buku ke-4 ini dapat julukan kesayangan : Velociraptor. Yah nama si bos banyak sih. Ada kloningan lele, rantang, iguanadon, badak dan favorit saya : Sangkutan Sarung. Sudahlah, bisa penuh ini 1 postingan cuma bahas nama panggilan si bos aja =D. Pokoknya semua julukan sudah disematkan pada si bossman, kecuali nama aslinya aja (^o^)

Yup...sama seperti di buku-buku sebelumnya, bu Kerani masih merahasiakan identitas aslinya dan masih menggunakan nama pena chaos@work. Identitas bossman juga masih dirahasiakan, walau kali ini ibu Kerani kasi bocoran inisial nama Bossman.
Yang bisa pembaca ketahui hanyalah ibu Kerani adalah seorang Indonesia yang terdampar di Kuala Lumpur demi mengikuti sang suami yang ditugaskan disana. Nun di KL, ibu Kerani bekerja di pabrik/bengkel milik Bossman, pengusaha tajir dari Indonesia yang menikah dengan seorang wanita (tajir juga) asal Malaysia.

Dan jelassss...kelakuan Bossman ini gak ada normal-normalnya. Kalo normal mah gak bakal jadi 4 buku bukan? ;)
Sebenarnya kelakuan si Bossman itu sungguh amat sangat menyebalkan. Tapi ibu Kerani mampu meramunya jadi lucu dan mengubah image si Bossman yang menyebalkan jadi menggemaskan.

Contohnya waktu Kerani bercerita tentang prinsip sang Bossman yang berbunyi : "TRUST NO ONE, SUSPECT EVERYONE" itu. Ini penggalan kisahnya :
Kalo gue lagi kasih laporan pemakaian petty cash, gak peduli seberapa pun dia kasih duit, bisa makan waktu berjam-jam. Mo kasih duit 2000 ringgit kek, 20 ringgit kek, sama aja nyebelinnya.
Bossman : Ini apaan?
Gue : Itu bayar tol.
Bossman : Loh, ngapain bayar tol?
Gue : Itu kan ke Port Klang waktu urus tax
Bossman : Memangnya ada tol di sana?
Gue : Ya ada lah, Pak!
Bossman : Bentar, bentar...saya cek dulu di internet...duh ini kenapa sih mouse-nya kok macet ya...bentar,bentar...bener gak ya di Port Klang ada tol...
Sampai di situ, rasanya nyebelin bukan? Semacam pengen geplak pak boss yang curigation-nya kelewatan ituh :D.
Tapi Kerani mengubahnya jadi lucu dengan tambahan :
Si Velo itu sendiri udah ratusan kali ke Port Klang. Dia tau banget di sana ada tol sampek 3 kali pintu tol!!!! Masih kagak percaya juga. Kali ini gue rasanya bener-bener puanasssss banget, hiiihhh...gue sumpahin kutuan tu bulu ketek dia!!
Ya begitulah...
Yang tadinya mo gregetan ama si Bossman, malah berbalik jadi gemes karena gaya bercerita Kerani itu. Tebakan saya, aslinya mbak chaos@work ini memang orang yang selalu berusaha bersikap positif ya.

Dari segi teknik penulisan sih, tetap sama kayak dulu. Persis kayak gaya nulis curhatan di blog yang gak ada pakemnya. Ditulis dengan gaya khas ibu Kerani sehingga rasanya dia langsunglah yang bercerita. Segala teknik nulis, diksi, bahasa baku dan sebangsanya...silakan ke laut aja (^__^). Tapi saya suka lho, menyegarkan dan menunjukkan kemampuan ngoceh ibu Kerani yang sebenarnya.

Di buku ke-4 ini juga ada info menarik, ibu Kerani bilang kalo dia sedang mengerjakan 1 proyek menulis lagi yang gak ada hubungannya dengan Bossman.
Nah yang bikin saya penasaran : apakah di buku barunya ini, beliau masih akan menggunakan pengaruh chaos@work ato ganti dengan identitas lain?

Maksud saya dengan ganti identitas lain tuh seperti yang rencananya akan dilakukan JK Rowling. Jadi JKR pernah bilang setelah Harry Potter selesai, dia mau mengeluarkan novel fantasi lagi tapi gak bakal pake nama JKR. Dia mau pake nama lain dan rencananya sih fans gak akan dikasi tahu nama barunya. Bahkan segala keperluan promo buku dan semuanya pun gak akan memunculkan sosok dia. Soalnya dia gak mau karya terbarunya dibandingkan dengan Harry Potter.

atau...

Apakah ibu Kerani bakal masih pake pengaruh nama chaos@work? Jadi maksudnya, beliau bakal muncul pake nama lain sih, tapi semua orang juga tahu kalo itu adalah alter name-nya chaos@work. Yah...seperti Nora Roberts dan JD Robb-lah.

Tapi yang mana pun yang dipilih sama ibu Kerani, saya sih mendukung aja dan mendoakan semoga beliau sukses terus dengan karier dan hidupnya.
Soalnya semua seri My Stupid Boss-nya sudah bikin saya ngakak. Terutama buku ke-4 ini, yang menemani saya di hari pertama 2012 dan membuat saya melupakan kebetean sehari sebelumnya.

Dan semoga awal tahun yang diisi tawa menjadi pertanda bahwa setahun ini juga akan penuh tawa bagi saya. Amin :)


(PS : Oh..and thanks to you for that laughter, mba Kerani)

Friday, December 16, 2011

Kedai 1001 Mimpi


Penulis: Valiant Budi
Penerbit: Gagasmedia
ISBN :  9789797804978
Tgl Penerbitan : 2011-05-11
Halaman : 456
Ukuran : 130x200x0 mm


Selamat datang di negeri 1001 dongeng. Berharaplah ini memang sekedar dongeng.
@Vabyo
Nun jauh di Bandung sana, hiduplah seorang pria bernama Valiant Budi Yogi aka Vabyo. Sama seperti jutaan orang lain, Vabyo juga punya mimpi tinggal di luar negeri. Bedanya negara impian Vabyo bukanlah yang favorit semacam Eropa ato Amerika. Vabyo justru bermimpi tinggal di kawasan Timur Tengah ato Afrika.
Demi mengejar mimpi ini, Vabyo rela meninggalkan karirnya di Indonesia untuk menjadi barista di Dammam, sebuah kota di Kingdom of Saudi Arabia (KSA).

Namun kenyataan memang jarang yang seindah mimpi.
Pertama, tentu saja Vabyo harus bergulat dengan cuaca yang panasnya di luar perkiraan (nyampe 56 derajat celcius, bo!). Cuaca panas ini otomatis berdampak pada air yang juga panas, menyebabkan insiden dubur lecet (baca aja sendiri untuk lengkapnya ya).

Kedua, Vabyo mesti berdamai dengan shift kerja gila-gilaan dan setiap shift diisi dengan kerjaan yang naujubile capeknyaaa. Ternyata menjadi barista itu bukan hanya duduk-duduk manis menunggu customer dan membuatkan kopi ketika ada yang mengorder. Ternyata menjadi barista itu sebuah pekerjaan yang melibatkan terbuangnya tenaga, hati dan juga nurani. Terkesan lebay? Gak kok. Baca aja buku ini dan Anda akan mengerti maksud saya.

Tapi yang menurut saya paling berat di antara semuanya adalah, Vabyo harus bisa bertahan menghadapi kelakuan warga Dammam yang "ajaib". Mulai dari rekan kerja hingga orang asing yang ditemui di jalan.
Simak pengalaman Vabyo waktu sakit dan berobat ke dokter yang aneh tapi nyata. Atau waktu dia dikejar-kejar segerombolan pria Arab untuk di..ehm..."lecehkan". Juga kekekiannya menghadapi pelanggan-pelanggan ajaib yang arogan, sok tahu, linglung, bahkan haram. Hah? Haram? Yup...beneran haram. Makanya baca sendiri dong bukunya ;)
"Kita ini konon pahlawan devisa. Tapi kalau mati ya sudah-dianggap binatang saja."
-Yuti-
Buku ini juga mengungkap fakta-fakta "unik" tentang negara itu. Seperti hak dan kebebasan wanita yang sangat dibatasi (nyetir mobil aja gak boleh lho), kode-kode kencan yang dilancarkan para baba, saudi champagne yang dari namanya saja jelas-jelas beralkohol tapi masih masuk kategori halal, serta yang paling menarik tentang kedekatan hubungan antar para baba di KSA dan daerah Cipanas di Puncak. Hayoo...ada yang tahu?;)

Namun Kedai 1001 Mimpi tidak melulu bercerita tentang Vabyo. Ikuti perjalanan Yuti sang TKI yang sukses mengubah nasib dari yang tadinya mengepel lantai kini menyisir lantai mall berbusana Prada. Simak kisah Mas Blitar, sang supir asli (well...jelaslah) Blitar yang merangkap sebagai pemuas nafsu majikan-majikannya. Juga Bambang, seorang gay yang merasa ketemu dunianya di Dammam. Dan jangan lupakan Eldo, si floor supervisor di sebuah hotel yang merangkap sebagai penari tiang. Baca dan tersenyum kecutlah bersama mereka.
Dan buku ini juga tidak hanya mengungkap sisi buruk KSA. Ada sisi baik dan kebaikan warganya yang juga diceritakan Vabyo. Namun demi untuk mencegah spoiler, saya biarkan anda menemukannya sendiri di buku.
“Tapi satu pelajaran yang gue dapet. Kita bisa mencari iman di mana saja, termasuk di negara yang sering ‘dibilang kafir’ sekalipun.”
Saya sudah mengikuti perjalanan @Vabyo di KSA sejak dia rajin memposting serial tweetnya dengan tagar "Arabian Underkampret" (yang lalu diubah jadi Arabian Undercover. Sayangnya saya sudah nyaman dengan istilah Underkampret. Hehehe :p). Rutinitas pagi saya kala itu membaca timeline @Vabyo sepanjang jalan menuju kantor.
Sayang, sekembalinya ke tanah air, @Vabyo semakin jarang membagi cerita Arabian Underkampret-nya. Awalnya saya berpikir mungkin dikarenakan kesibukannya mengurus Warung Ngebul.
Tapi ternyata, @Vabyo bilang di twitter bahwa pengalaman-pengalaman Arabia Underkampret-nya akan dibukukan, makanya gak bisa dishare lewat twitter lagi. Horeeee....\(^o^)/

Karenanya gak heran waktu buku ini di-launching, saya dengan bersemangat langsung membeli.
Dari segi fisik, saya suka sama sampulnya yang lucu dan "kena" banget dengan isi buku. Ilustrasi secangkir kopi yang ada di tiap akhir bab juga mampu membuat saya mendadak ngidam kopi. Ada beberapa typo namun bagi saya sih bisa dimaafkan.
"Saya datang buat mempertebal iman, bukan jadi dalang setan."
-Mas Blitar-
Mengenai isi buku, sebenarnya kebanyakan cerita mirip dengan yang dulu pernah di-tweetkan @Vabyo. Jadi yah sebagian besar ceritanya sudah saya baca. Tapi saya tetap senang kok. Karena akhirnya saya punya memento untuk serial twit Arabian Underkampret-nya Vabyo itu. Lumayanlah sebagai salah satu referensi saya tentang KSA (psstt...diam-diam saya sama kayak Vabyo yang punya ketertarikan khusus pada Timur Tengah dan Afrika).

Kalo ada yang pernah membaca 2 buku Vabyo sebelumnya, pasti heran dengan gaya bahasanya yang lain banget di Kedai 1001 Mimpi. Tapi gaya bahasa Vabyo tetap enak dibaca. Dan jangan khawatir, walau pun buku ini sebenarnya beraroma susah, namun Vabyo membalutnya dengan gaya komedi. Dia seolah ingin mengajak kita menertawakan hidup sepahit apapun itu, karena memang "Ada Lelucon Di Setiap Duka".
Kamu tidak perhatikan, banyak orang MATI karena terlalu BANYAK TAU?!
-sebuah comment di sebuah blog-
Dari info yang saya baca di timeline @Vabyolous (fanbasenya Vabyo di twitter) ternyata drama bukan hanya terjadi di dalam buku ini. Ada banyak kisah di balik layar penerbitan Kedai 1001 Mimpi. Vabyo mendapatkan banyak ancaman dan beberapa kali dicegat orang-orang asing, bahkan sampai terjadi pemukulan. Pelakunya jelas mereka yang berpikiran sempit dan menganggap Vabyo mencemarkan Islam dengan mengungkap fakta-fakta tentang KSA. Padahal Vabyo hanya ingin membuka mata kita tentang fakta yang sebenarnya sudah diketahui banyak orang namun sering dilupakan yaitu : Arab memang negara Islam tapi Islam bukanlah Arab.

Rating 4 bintang saya berikan untuk Vabyo dan segala pengalaman uniknya di Dammam sana.
Kenapa gak 5 bintang? Karena saya menangkap ada beberapa kekurangan. Ada hal-hal yang gak tuntas diceritakan Vabyo seperti alasan kearoganan customer dari Riyadh atau apakah Vabyo pada akhirnya mengiyakan tawaran Eldo. Jadi rasanya seolah-olah Vabyo "lost track" di tengah-tengah menulis dan pindah ke topik lain.
Walau begitu saya sangat salut pada keberanian Vabyo untuk mengungkap fakta kelam KSA walau pun mendapat ancaman. Maju terus dalam mengungkap fakta, bro. Semoga makin sukses dan tetap baik-baik saja ya.

Quote of the book :
"Di negara miskin saya itu, saya lebih banyak tersenyum. Tak terbeli dengan ribuan riyal. Lagi pula, semua kebusukan negara saya, Indonesia, ada di negara lain, kok. Tapi keindahan Indonesia belum tentu dimiliki negara lain."
-Vabyo-

Sunday, November 27, 2011

Nasional.Is.Me

Data Buku:
Judul: Nasional.Is.Me
Penulis: Pandji Pragiwaksono
Penerbit: Bentang Pustaka
Penyunting: Ikhdah Henny
Pemeriksa Aksara: Nunung
Tebal: xiv + 330 hlm
Harga: Rp54.000
Rilis: Juli 2011 (Cet. I)
ISBN: 9786028811538
 


Selain untuk tugas sekolah/kampus dulu, saya hanya 1x pernah mereview buku non fiksi. Bukannya gak suka sama buku kayak begini, tapi masalahnya saya memang gak tau bagaimana membuat review yang benar untuk kategori non fiksi.
Namun ada sesuatu di buku ini yang menggerakkan saya untuk mencoba membuat review. Sesuatu yang akan saya sebutkan di akhir postingan ini.

Saya selalu berpendapat semua rakyat Indonesia cinta kok kepada tanah air-nya ini. Sayang, kebobrokan dan beratnya hidup yang dijalani di negeri tercinta ini membuat  sebagian besar dari mereka menjadi pahit dan pesimis pada negeri ini. Saking banyaknya yang pesimis, bila masih ada yang optimis dengan negara ini justru dianggap anomali dan diajukan pertanyaan seperti : "Apa sih yang bikin loe masih optimis sama negara ini?"

Buku ini adalah jawaban seorang Pandji terhadap pertanyaan tersebut.
Menurut Pandji, semua tindakan atau keputusan yang kita pilih berdasar pada wawasan kita. We are what we know. Dan seandainya mereka yang pesimis itu tahu tentang Indonesia seperti yang diketahui Pandji, maka mereka tentu akan sama optimisnya dengan dia. Pandji menulis buku ini dengan harapan bahwa lebih banyak lagi orang yang tahu tentang Indonesia. Karena buku ini memang untuk Indonesia.
"Cinta adalah hal terakhir yang mutlak kita bisa berikan kepada anak kita, ketika kita tidak bisa, tidak kuasa memberikan apa pun lagi"
(hal 151)
Wawasan tentu saja didapat dari pengalaman dan pembelajaran.
Untuk itulah pada bab "Dari Sabang Sampai Merauke", Pandji berbagi wawasannya tentang Indonesia. Dia berpendapat : tidak boleh kita membenci sesuatu yang tidak kita pahami. Tapi lucunya, kebanyakan dari mereka yang pesimis tentang Indonesia malah belum pernah melihat Indonesia secara luas. Kebanyakan mereka hanya pernah ke sekitaran pulau Jawa atau paling jauhnya: Bali. Satu kalimat Pandji yang sangat mengena :"Bagaimana mereka bisa bilang benci Indonesia kalau yang mereka tahu tentang Indonesia hanyalah dari apa yang mereka baca di media dan tonton di TV." (hal 88)
Melalui bab ini Pandji menunjukkan dengan nyata bahwa Indonesia bukan hanya Jakarta, bukan juga hanya Jawa dan Bali. Bahwa seluruh daerah di Indonesia bisa kita banggakan sama besarnya seperti kita membanggakan Bali.

Bab ini adalah favorit saya.
Saya juga cinta dan bangga banget sama negara ini. Dan saya selalu ingin membagi sisi lain Indonesia kepada banyak orang. Karenanya senang sekali melihat seorang dengan pengaruh besar seperti Pandji (follower twitternya lumayan banyak lho) melakukan sesuatu yang belum mampu saya lakukan. Mudah-mudahan saja, sehabis membaca buku ini makin banyak rakyat Indonesia yang lebih tertarik menjelajahi negaranya ketimbang menghabiskan uang untuk berburu diskon di negara tetangga.
Dan bab ini juga semakin memantapkan niat saya untuk melihat Indonesia secara langsung dari ujung ke ujung. So far sih baru sampai Maluku. Doakan semoga bisa sampai Papua ya \(^o^)/
"Dengan segala potensi yang dimiliki bangsa ini, siapa yang tidak optimis dengan Indonesia? Wong orang luar negeri saja optimis kok dengan Indonesia."
(hal 204)
Pada bab "Dari Sebuah Krisis Sampai Pada Perasaan Optimis" Pandji menyinggung tentang ekonomi Indonesia. Bab ini berangkat dari sebuah pertanyaan yang juga dipertanyakan banyak orang :"Apa yang salah dengan perekonomian Indonesia?" Untuk menjawab pertanyaan ini, Pandji menghadirkan para pakar di bidang ekonomi, yang memberi tahu letak kekurangan sekaligus kekuatan ekonomi Indonesia. Suatu bahasan yang menarik dan mudah dicerna.

Bagian terpenting dari buku ini mungkin ada di bab "Dari Sebuah Keyakinan Sampai Sebuah Keraguan". Pada bab ini, Pandji mengungkapkan sejarah kelam Indonesia dan bagaimana sebuah fakta dipuntir demi keuntungan golongan tertentu. Juga kebusukan - kebusukan terpendam negara ini yang tak disadari oleh banyak orang.
Mengapa Pandji mengungkit ini? Karena dia ingin memberi kesempatan pada pembacanya untuk ragu. Keraguan akan membuat seseorang mempertanyakan keyakinannya. Orang yang kembali dari keraguannya akan memiliki keyakinan yang lebih kuat. Dan karenanya mereka akan memiliki cinta yang lebih penuh serta tekad yang lebih kuat untuk berjuang.
"Setelah apa yang Anda tahu akan Indonesia. Baik dan buruknya. Kini waktunya Anda untuk pertanyakan kepada diri Anda sendiri. Apakah saya (masih) mencintai Indonesia?"
(Hal 287)
Sebuah cinta tentu tak akan berarti tanpa tindakan untuk membuktikannya.
Actions speak louder than words rite? ;)
Begitu pula dengan rasa cinta terhadap Indonesia. Karena cinta, kita pasti ingin melihat Indonesia menjadi bangsa yang hebat. Pandji memberikan 3 hal yang bisa kita lakukan untuk membantu Indonesia. Salah satunya adalah berkarya untuk masa depan bangsa. Berkarya dan menciptakan perubahan.
Bagaimana caranya?
Masing-masing pasti punya cara sendiri yang sesuai dengan kemampuan. Pandji memilih berkarya melalui hiphop, C3, program Satu Tiang Satu Tahun dan Donor Tetap. Mungkin ada yang menganggapnya pamer karena menuliskan kegiatannya secara blak-blakan di buku.
Tapi bagi saya sih enggak. Bagi saya, alasan Pandji menulisnya karena berharap ada yang terinspirasi dengan gerakannya dan mau melakukan hal yang serupa. Atau bisa juga sebagai tantangan terselubung. Dia seakan bilang: "Ini yang udah gw lakukan untuk Indonesia. Gimana dengan loe?"
"Mengubah hari ini, bisa jadi sudah terlambat. Pertanyaannya, maukah Anda jadi orang yang mengubah masa depan? Maukah?"
(Hal 327)
Membaca buku ini rasanya seperti makan gado-gado. Campur aduk tapi enak. Ada perasaan bangga, senang, terharu dan bersemangat. Serta perasaan untuk menularkan virus buku ini pada orang lain. (^_^)

Sekarang saya mau bahas alasan saya me-review buku ini.
Jadi gini...
Buku ini bermula dari sebuah e-book yang diposting di sini (Silakan download. Legal kok). E-book ini ternyata mendapat respon luas dan diunduh hampir 13.000 kali. Setelahnya, mulai banyak yang meminta agar buku ini hadir dalam bentuk fisik. Bagi Pandji, mencetak buku ini dalam bentuk fisik saja tidaklah cukup. Dia ingin agar buku ini bisa sampai kepada mereka yang tidak punya akses terhadap internet. Sayangnya, mereka yang tidak melek internet biasanya juga kurang maju di sisi ekonomi.

Adalah Bentang Pustaka dan Putera Sampoerna Foundation yang membantu Pandji mewujudkan keinginannya melalui program "Beli Satu Sumbang Satu". Maksudnya, setiap satu orang yang membeli buku Nasional.Is.Me maka dia telah menyumbangkan satu buku ini kepada saudara kita di pelosok sana yang haus informasi namun kekurangan akses.

Menurut saya, program ini bagus banget. Hanya dengan 1 buku ini, kita sudah bisa melaksanakan pesan yang tersirat di buku ini yaitu : menjadi agen perubahan untuk Indonesia. Hanya dengan 1 cara yang simple dan menyenangkan yaitu beli buku :).
Karenanya, saya tergerak membuat review ini. Semoga saja akan ada yang tertarik membeli bukunya pasca membaca review ini. Yah semoga... (iya...emang ngarep kok :D)

Saya suka cover-nya. Warna merah dengan tulisan berwarna putih. Indonesia banget. Cocok banget dengan judulnya. (^_^) Dan saya juga suka font pada cover-nya. Font apa sih itu? *wondering*
Tentang rating, melihat isinya saya mau kasi 4 bintang.
Tapi saya terkesan dengan program "Beli Satu Sumbang Satu"-nya dan memutuskan untuk memberi 5 bintang. Karena kita bisa saja menemukan buku-buku inspiratif lainnya, tapi tak banyak buku yang bisa membuat kita turut menjadi agen perubahan. Dan buku yang seunik ini layak diganjar nilai sempurna kan? :)
Makanya...beli dong buku ini :D
"Bukan kebetulan elo lahir pada zaman ketika Indonesia sedang seperti sekarang ini, dan bukan kebetulan juga elo membaca tulisan ini..."
(Hal 330)
Source : Here
Sekilas Tentang Penulis :
Pandji Pragiwaksono is now a husband, a father, a rapper, a stand up comedian, a political tv host, a book writer, an entrepreneur in basketball clothing and comics. He's everything he dreamed of.
(source : here)


PS : Review ini diikutsertakan dalam kontes “2011 End of Year Book Contest” yang diadakan oleh Okeyzz.
Buku ini memenuhi persyaratan nomor 5 kontes tersebut yaitu cover buku yang ada unsur warna merahnya.

Wednesday, November 9, 2011

Waktu Aku Sama Mika

Penulis : Indi
Penerbit : Homerian Pustaka
Ukuran : 11cm x 18 cm
ISBN : 978-979-17454-5-1

Buku ini adalah kumpulan curhat yang ditulis oleh Indi, seorang penderita scoliosis berumur 15 tahun untuk kekasihnya Mika, seorang penderita AIDS berumur 22 tahun yang kini telah pulang ke surga. Di buku ini, Indi menulis kenangan-kenangannya tentang Mika, rasa rindu dan cintanya, juga bagaimana dia telah dewasa sekarang dan berharap Mika bisa melihatnya.

Awal membacanya saya merasa jenuh. Begitu banyak pengulangan di buku ini, contohnya saja di halaman awal Indi sudah mengatakan dia kangen sama Mika, dan di pertengahan buku, dia mengulangnya lagi dengan kata-kata yang persis sama. Belum lagi gaya bahasanya yang sangat sederhana, sangat polos dan sangat kekanakan. Maksud saya, anak umur 15 tahun mana yang percaya awan terbuat dari gula-gula kapas, neverland benar-benar ada dan boogeyman akan pergi kalau disemprot obat nyamuk? Absurd bukan?

Lagipula berbeda dengan tipe buku harian lainnya seperti Buku Harian Zlata, Diary of A Wimpy Kid atau Diary of Anne Frank yang memang diperuntukkan untuk dibaca khalayak ramai, "Waktu Aku Sama Mika" jelas hanya ditujukan untuk Mika. Indi tak merasa perlu menjelaskan latar belakang Mika : pekerjaannya, keluarganya, pendidikannya, teman-temannya, bahkan juga pergulatan Mika melawan AIDS. Indi juga tak menjelaskan siapa Bima, Clifton dan nama-nama lain yang disebutkannya. Jelas Indi tak merasa perlu untuk menjelaskan karena toh Mika sudah mengenal mereka semua. Dan catatan ini memang untuk Mika, bukan untuk pembaca lainnya.
Lalu aku putuskan untuk berhenti bertanya. Karena aku segera yakin bahwa Bima itu salah. Tidak mungkin seseorang yang tertawa ketika menonton Mr.Bean, menyukai cokelat M&M’s dan percaya Tuhan itu tidak pantas untuk dipacari, kan?
Saya sudah hampir menutup buku ini separuh jalan, sudah kehilangan mood untuk menyelesaikannya.
Tapi kemudian saya ingat rasanya sewaktu masih remaja dan jatuh cinta untuk pertama kalinya. Semua perasaan sayang yang masih polos itu dan keinginan untuk membuat orang yang dicintai bahagia dengan percaya saja semua perkataannya, tak peduli seabsurd apapun itu.
Lalu saya juga membayangkan apa efek perasaan cinta pertama pada Indi.
Indi yang seorang penderita skoliosis, yang tak bisa berlari, melompat, menari, berhitung, membungkuk. Indi yang hampir tak punya teman karena dia sulit bermain seperti anak normal lainnya. Indi yang kurang percaya diri karena punya banyak kekurangan. Indi yang hampir tak punya orang yang mencintainya dengan tulus diluar keluarganya.
Dan ketika suatu saat ada seorang Mika yang bisa memberinya cinta yang tulus, semangat dan rasa percaya diri, wajar kan kalau jadinya dia selalu terkenang pada Mika walau pun Mika sudah lama pergi?

Dan awalnya Indi memang meniatkan curhatan ini untuk Mika kok. Jadi salahkan publisher yang tertarik untuk menerbitkan catatan pribadinya. Salahkan juga pembaca yang mau-maunya membaca sesuatu yang semestinya personal.

Maka saya pun mulai melihat buku ini dari kacamata baru.
Saya berusaha melihatnya dari sisi pribadi saya yang masih remaja, melihatnya dalam pandangan seorang remaja polos. Dan pada akhirnya, saya bisa menikmatinya :). Bahkan saya cukup penasaran untuk membaca buku kedua-nya, untuk sekedar mencari tahu apakah di buku kedua akan ada penjelasan lebih lanjut tentang latar belakang Mika. Juga untuk mencari tahu bagaimana kehidupan Indi pra dan post Mika.

Cover buku ini lucu, terkesan polos khas anak-anak, tapi menarik dan mengundang rasa penasaran. Dan sebenarnya cukup menggambarkan isi bukunya. Saya juga suka font yang dipakai buku ini, terkesan seperti tulisan tangan.

Jadi saya kasih 3 bintang untuk buku ini, cause actually it was just okay, but in a weird way I could like it. Dan walau pun saya cukup penasaran membaca lanjutannya, tapi gak sepenasaran itu sampai merasa harus segera membeli buku keduanya (yah...ada masalah tight budget juga sih >_<).

Saya merekomendasikan buku ini untuk dibaca agar kita mendapat gambaran lebih tentang seorang penderita skoliosis. Saya juga merekomendasikan buku ini untuk dibaca oleh para orang dewasa yang sudah lupa polosnya cinta pertama dan ingin mengingatnya kembali. Dan untuk mereka yang sudah sinis akan konsep cinta yang tulus. Juga untuk mereka yang takut menghadapi dunia dan memilih untuk bersembunyi di balik topeng. Contohlah Indi dengan berani untuk menjadi diri sendiri dan percayalah di suatu tempat, suatu saat, akan ada orang yang menerimamu apa adanya.

Quote of the books:
“Sugar, tau gak, kamu tuh ngingetin aku sama anak-anak di buku Torey Hayden”
“Karena aku cacat?”
Bukan, tapi karena kamu special
 

Saturday, March 22, 2008

Papua : Sebuah Fakta & Tragedi Anak Bangsa




Pengarang : John Manangsang
Harga : Rp. 75,000
Penerbit : Buku Obor

ISBN : 979-461-177-8
Dimensi Buku : 14 x 21 x 3 cm
Cetak Isi : Black/White
Jenis Kertas : HVS



Sinopsis Buku

Buku ini merupakan revisi dan perluasan dari buku yang pernah terbit tahun 1994 Berjudul CATATAN SEORANG DOKTER DARI BELANTARA BOVEN DIGUL Dan pernah mendapat penghargaan dari LIPI -TVRI di tahun 1996 sebagai Pemenang Lomba Karya Tulis Ilmiah Peneliti Muda bidang sosial, kebudayaan dan Kemanusiaan 1995 . Dalam buku ini juga ditambahkan oleh penulis, ada apa dengan Papua 15 Tahun pasca pengalamannya Digul? Dalam edisi revisi ini, hadir pula komentar 19 Pakar Indonesia, yang highlight-nya sebagai berikut :
- Dia bukan model dokter yang pasif lalu menyerah, hanya karena tidak ada fasilitas.. Dia mau menikmati keberhasilan sekaligus kegagalannya.(Prof. Daldiyono)

- Dengan UU Praktik Kedokteran, apabila penegak hukum tidak memahami, serta selalu mempergunakan ancaman pidana, maka sudah dapat dipastikan tidak akan muncul dokter-dokter muda pemberani yang lain. (Prof. Wiyadi, Dekan FK-UNAIR)

- Suatu dokumentasi yang sulit dicari. Suatu peringatan bagi para ko-asisten untuk memanfaatkan waktu yang sangat terbatas sebaik-baiknya. (Prof. Kabulrachman, Dekan FK-UNDIP)
Note : berhubung kebanyakan, jadi comment lain gua cut

Comment :
Buku ini merupakan kisah nyata dr. John Manangsang sewaktu dia bertugas di Papua. Di buku ini diceritakan dengan jelas semua pengalamannya. Operasi angkat tumor, pasien yang gak bisa kencing, bahkan operasi caesar pun dia lakukan sendiri. Padahal waktu itu dia masih dokter umum. Hebaaatt!!!! Bener - bener salut gua Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket. Operasi caesarnya pun dia lakukan pake silet saking terbatasnya alat.
Bahasa yang digunakan dr. Jhon juga enak dibaca. Begitu lancar dan mengalir sehingga kita gak bosen membaca kisahnya dan malah pengen terus lagi dan lagi. Isi bukunya juga menarik, gak hanya diceritakan keberhasilan dia aja, tapi juga kegagalannya dan gimana dia belajar dari kegagalannya itu.

Menyangkut cerita, buku ini benar - benar membuat gua merasa ditampar dan kemudian gak PD. Gua salut sama si dokternya. Bukan cuma kepandaiannya yang patut dipuji tapi juga keberaniannya. Gua sih yakin kemampuan gua bahkan gak mencapai 1/2 kemampuan dia.
Segi positifnya , gua jadi tertantang untuk belajar lebih banyak lagi dengan 1 prinsip yang gua tanamkan : "kalo pun gua gak bisa sehebat dia dalam hal nyembuhin pasien, paling enggak gua gak menambah penderitaan pasien".