Showing posts with label 3 bintang. Show all posts
Showing posts with label 3 bintang. Show all posts

Saturday, March 2, 2013

Harry Potter & The Chamber Of Secrets

Data Buku :
Judul : Harry Potter and the Chamber of Secrets

Penulis : JK Rowling
Tahun Terbit : 1998
Penerbit : Bloomsburry
Jumlah Halaman : 251
ISBN : 0747538492
Rating : 3 out of 5 stars

Sinopsis :

Ever since Harry Potter had come home for the summer, the Dursleys had been so mean and hideous that all Harry wanted was to get back to the Hogwarts School of Witchcraft and Wizardry. But just as he's packing his bags, Harry receives a warning from a strange, impish creature who says that if Harry returns to Hogwarts, disaster will strike.

And strike it does. For in Harry's second year at Hogwarts, fresh torments and horrors arise, including an outrageously stuck-up new professor and a spirit who haunts the girl's bathroom. But then the real trouble begins - something is attacking Hogwarts students, turning them into stone. Could it be Draco Malfoy, a more poisonous rival than ever? Could it possibly be Hagrid, whose mysterious past reveals dark secrets? Or could it be the one everyone at Hogwarts most suspects ... Harry Potter himself!


Spoiler Alert!

Dari ke-7 buku Harry Potter, buku ke-2 ini my least favorite, malah satu-satunya buku yang gak pernah saya baca ulang sebelum event Hotter Potter ini.

Please note, bukan berarti saya menganggap buku ini jelek. Jauuuhh dari itu.
Buku ini punya twist yang keren, salah satu twist terkeren di serial ini malah.
Maksud saya, siapa sih yang bisa nebak kalo pelaku utamanya adalah sebuah diary?  Mana ada sih yang nyangka kalo sebuah memori yang disimpan dalam diary bisa bertindak sejauh itu? (Well...saya sih gak nyangka :p)
Lalu anagram Tom Marvolo Riddle itu? Cool! Di sini lah JKR pertama kali memperkenalkan konsep horcrux dan saya sih gak nyangka horcrux itu berperan penting nantinya. Keren, bu Rowling!

Saya juga suka dengan kemunculan Lockhart di sini. Iya, emang sih dia tuh narsis ngeselin. Tapi se-ngeselin apapun dia, buat saya mah kelakuan Lockhart itu jadi penyegar di suasana muram buku ke-2.
Dan saya juga suka pada fakta betapa buku ini jadi fondasi untuk aspek yang berperan dalam serial ini nanti, contohnya : horcrux, awal romansa/debat Ron-Hermione (it's cute anyway), mantra Expelliarmus yang jadi salah satu mantra andalan Harry, juga perkenalan lebih jauh dengan Ginny Weasley (saya termasuk yang gak nyangka kalo Ginny berperan dalam hidup Harry nantinya.).

Satu lagi yang saya sukai, buku ini adalah satu-satunya buku dalam serial ini yang hanya berpusat pada 1 misteri aja. Konfliknya tidak berhubungan dengan masa lalu Harry, malah membuka masa lalu Voldemort dan Hagrid. Sapa sangka ya ternyata Voldemort dan Hagrid itu sejaman sekolahnya. Dan di sini juga Harry pertama kali menggunakan kemampuannya sendiri untuk bertarung. Kalo di buku 1 kan bisa dianggap menang karena beruntung tuh. 

Jadi dengan semua itu sebagai pertimbangan, saya mengakui buku ini bagus, 5 bintang malah.
Tapi saya ngasi rating bukan berdasarkan bagus enggaknya suatu buku, tapi berdasarkan seberapa besar kesukaan saya (memang subjektif kok rating saya) terhadap buku tersebut.
Dan kalo tolak ukurnya adalah suka, maka rating saya 3 bintang juga.

Here's my reasons :

1.Semua buku di serial Harry Potter ini tipikal ya dalam segi timing konfliknya.
Di bulan-bulan awal masa sekolah itu gak ada yang berarti. Yah ada lah sedikit konflik sini dan sana, tapi gitu aja. Sampe akhirnya muncul beberapa masalah seiring berjalannya waktu. Lalu mencapai klimaks di akhir masa tahun ajaran.
Kenapa sih harus selalu (selalu!)  menjelang tahun ajaran berakhir baru klimaks? Kenapa Voldemort ato pun kroninya baru muncul setelah musim ujian selesai?
Saya bisa nangkap pemilihan waktu di buku 1 karena Quirrell menunggu Dumbledore pergi, begitu juga di buku ke-3 dan seterusnya, tapi untuk buku ke-2 ini, saya gak menemukan alasan kuat.
I mean, Dumbledore udah pergi dari Hogwarts di 1/3 akhir buku. Jadi apa yang membuat pewaris Slytherin menunggu hingga ujian selesai baru melakukan tindakan drastis? Kenapa gak langsung setelah Dumbledore pergi?

2. Saya mendeteksi adanya kecenderungan Rowling menjadikan tokoh Dumbledore ato Hermione sebagai pengisi plot hole.
Ada sesuatu yang kurang jelas di sepanjang cerita? Hermione yang bakal menjelaskan.
Sampe akhir buku masih ada bagian yang kurang jelas maupun pertanyaan yang belum terjawab? Tenaaangg, the Mighty Dumbledore punya semua jawaban. Dari jawaban penyebab Harry mampu menangkal kutukanVoldemort saat bayi sampai ke jawaban apakah Harry layak masuk Gryffiondor, semua ada di Dumbledore.
Nothing's wrong with this way. Cuma aja saya ngerasa jenuh dengan pengisian plot hole ala Rowling.

3. Dan karakter-karakter Harry Potter ini hitam putih banget.
Sepertinya di kamus Rowling gak ada isitilah karakter abu-abu. Either you're a good people or a bad one.
Hal itu kerasa banget di buku ini.
Semua karakter antagonis masuknya ke Slytherin. Kok saya gak nyaman dengan konsep pembagian kayak gini. Rasanya kok ya Hogwarts itu pasrah-pasrah saja ya dengan murid yang berpotensi antagonis? Gak ada kah usaha untuk mengubah mereka?

Lalu masih menyangkut karakter antagonis, saya pengen membahas Draco Malfoy.
Mungkin cuma saya aja yang kayak gini, tapi saya selalu pengen percaya tiap orang tuh punya area abu-abu. Dan karenanya saya selalu berpikir ada sisi baik dalam diri Draco, ato minimal sisi rapuhnya lah yang membuat dia lebih manusiawi. Di buku ini, Rowling punya kesempatan untuk nunjukkin sisi lain Draco waktu Ron dan Harry menyamar jadi Crabbe dan Goyle. But noooo....Rowling tetap milih menunjukkan Malfoy dengan "pesona"nya yang biasa.

Well...saya sangat sadar kalo 3 point yang saya sebutkan di atas ada di buku-buku berikutnya juga.
Lalu kenapa cuma saya anggap menganggu di buku ke-2 ini?
Karena di buku ini saya pertama kali "ngeh" dengan hal tersebut. Di buku ke-1 saya masih (terlalu) terpesona dengan dunia Harry Potter sedangkan pada buku ke-3 sampe ke-7, saya udah bisa nerima hal ini dan sudah berdamai dengannya haish....segala damai X))

Friday, November 9, 2012

Memoritmo

Data Buku :
Penulis : Ade Paloh, Anto Arief, Cholil Mahmud, Eross Chandra, Galih Sakti, Hasief Ardiasyah, Kartika Jahja, Maradilla Syachridar, Meng, Mikael Johani, Rain Chudori, Sammaria Simanjuntak, Sarah Deshita, Vabyo
Penerbit : Bukune
Bahasa : Indonesia
ISBN  : 6022200725
Rating : 3 out of 5 stars

Apa yang bikin saya tertarik beli buku ini? Karena salah satu penulisnya adalah penulis favorit saya yang entah kenapa kok ya belum juga bikin buku yang bikin saya pengen kasi 5 bintang.
Dan berhubung saya tuh tipe kepo, jadilah saya terus-terusan beli bukunya. Pokoknya belum mo berhenti ampe saya bisa nemu buku dia yang dapat bintang 5.
Jadinya, walau pun tahu buku ini kumcer (yang sebenarnya bikin saya alergi), saya tetap beli.

Ternyata saya salah. Ini bukan sekadar kumcer.
Ini lebih tepat dibilang kumpulan memori yang berhubungan dengan musik (apa itu kali ya artinya Memoritmo? Entahlah).
Adalah Maradilla Syachridar yang pertama menelurkan ide ini. Karena terkenang kembali akan suatu memori yang dihidupkan oleh sebuah lagu, dia jadi terpikir pastilah banyak orang lain yang juga memiliki soundtrack dalam hidupnya. Karena itu, dia membuat proyek Memoritmo, tantangannya adalah memilih satu dari sekian banyak lagu yang berkaitan dengan kehidupan kita. Lalu dia mengajak beberapa rekan yang hidupnya dekat dengan musik.

Jujur, saya paling payah kalo disuruh mereview kumcer kayak gini. Saya bingung kasih ratingnya gimana. Mendingan saya bahas satu persatu saja dan kasi rating per cerita. Berhubung bagian ini bakal kepanjangan kalo dijembreng di blog, saya kasih spoiler tag aja ya.
    

   

    SINOPSIS SINGKAT   

   

   

  

  1. Memori milik Eross Chandra yang paling saya suka dan akan saya bahas sendri nanti. 4 bintang.

  2. Lagu Djuwita Malam, tulisan Anto Arief bercerita tentang kisah cinta dengan seorang gadis. Tapi saya gagal paham hubungannya dengan lagu Djuwita Malam. 1 bintang.

  3. Mikael Johani dengan lagu Madu & Racun bercerita tentang musik yang bagaikan mesin waktu dan bisa membawa kenangan ke satu periode tertentu. Saya suka gaya tulisan dia. 3 bintang.

  4. Little Motel oleh Rain Chudori. Entah ini fiksi ato nyata. Chudori bercerita tentang aku & adikku yang menghabiskan satu periode di motel kecil. 2 bintang.

  5. Maradilla Syachridar membahas sulitnya memutus benang kasih yang terentang bahkan ketika cinta sudah lewat Strings That Tie To You. 3 bintang.

  6. Lewat Yeh Jo Halka Saroor Hae, Galih Ismoyo bercerita tentang pengalaman pertama Dimas (entah siapa dia) belajar ngaji. 2 bintang.

  7. Topik cinta memang gak ada matinya. Sarah Deshita menyarankan untuk jangan menyerah menunggu datangnya cinta sejati lewat True Love Waits. 3 bintang.

  8. Cholil Mahmud menceritakan efek musik Slank bagi perkembangan karirnya lewat Terbunuh Sepi. 2 bintang.

  9. Seorang gadis menganggap gelap adalah kuning. Warna itu melekat kuat dalam ingatan masa kecilnya lewat suatu memori berwarna kuning dan Bad Wisdom adalah soundtrack hidupnya. Entahlah apakah cerita Kartika Jahja ini fiksi atau nyata. Tapi gaya bertuturnya enak dibaca. 3 bintang.

  10. Meng Simamora mengenang sang ayah lewat lagu Moon River. Saya kasi 3,5 bintang lebih karena saya suka lagu dan tentang ayah-nya.

  11. Hasief Hardiansyah mengenang masa remajanya yang sudah lama berlalu lewat My Teen Years. 3 bintang.

  12. Lewat Do You Want To Know A Secret, Ade Paloh bercerita bagaimana Beatles mempengaruhi hidup dan membuka cakrawalanya. Hmm...otak saya memang segitu kapasitasnya. Saya gagal nangkap keindahan kata-kata dia. 1 bintang.

  13. Valiant Budi berbagi kisah tentang sahabat gadungan semasa SMA dulu lewat Sahabat Gelap. Kisah yang dialami (hampir) semua anak sekolah pria era 90an (eh sekarang masih gak ya?). Gaya bertutur Vabyo tetap kenes kayak biasa. 3,5 bintang.

  14. Sammaria Simandjuntak bercakap dengan seorang sahabat untuk terus mengejar kesempatan jadi penyanyi dan jangan hanya pasif menanti lewat Get Up & Go. Suka sama gaya bahasanya. 3,5 bintang.

   

   

   

 Kalo dirata-ratakan jadi 2,67. Bulatkan ke 3 bintang aja deh karena covernya keren (Ribet amat sih loe urusan bintang doang, wi :p)

Btw walau pun secara umum para memori di buku ini menarik dibaca, tapi ada satu yang saya sukaaa banget. Memori itu milik Eross Chandra yang bercerita tentang kecintaannya pada The Beatles lewat Across The Universe.

Terima kasih pada Ayah yang telah mengenalkan saya dengan musik lawas, sampai sekarang saya penggemar setia band jadul. Tersimpan dalam tubuh Lexie (ipod saya), di antara tembang milik Maroon 5, Jason Mraz, Bruno Mars, pasti bisa ditemukan lagu milik Everly Brothers, Engelbert Humperdinck, Frank Sinatra, bahkan sampai ke Broery Pesolima.

Dan di antara semua band jadul itu, Ayah paling suka dengan The Beatles. Buat Ayah saya, me-time favorit adalah bermain piano sambil bernyanyi (dan Ayah memang pianis dan penyanyi yang sangat baik). Biasanya, malam hari selesai praktek, Ayah akan sibuk berkencan dengan pianonya hingga larut malam.
Saya sudah jadi makhluk nocturnal sedari SD. Setelah tugas sekolah esok hari selesai dibuat, saya akan membaca novel hingga larut. Dan tempat baca favorit saya jelas sofa di ruang musik.
Kenapa di situ? Soalnya ruangan itu kedap suara. Saya bisa membaca tanpa terganggu suara berisik adik-adik saya.
Kebiasaan itu membuat saya secara tak langsung menemani Ayah tiap kali dia bermain piano walau pun kami jarang mengobrol. Kami adalah 2 manusia yang tenggelam dalam dunia masing-masing namun menikmati kehadiran satu sama lain.

Karena seringnya mendengar nyanyian Ayah, naturally saya menyukai lagu-lagu yang dinyanyikannya. Ayah mendukung minat saya itu. Kami bisa menghabiskan waktu berjam-jam, ngobrol tentang penyanyi favorit dan lagu kesukaan beliau. Ayah akan menjelaskan kisah hidup serta latar belakang lagu-lagu indah yang ditulis mereka. Dan favorit saya ketika Ayah memberi terjemahan tiap lagu yang saya minta lengkap dengan makna terselubungnya (jika ada). Come to think of it, itulah perkenalan awal saya dengan bahasa Inggris.

Yang paling sering Ayah bahas adalah The Beatles.
Selain karena beliau memang fans berat band tersebut (Ayah koleksi semua kaset, piringan hitam dan CD The Beatles), juga karena (menurut beliau) lirik lagu The Beatles begitu kaya dan punya makna yang luas. Contohnya Yesterday, yang memang pada dasarnya bercerita tentang break up, tapi toh bisa diaplikasikan dalam hal lain.

Dan berkat pengaruh Ayah, dengan segera saya pun jadi fans Beatles. Sementara teman-teman sekolah saya hafal lagu-lagu NKOTB atau Abang Tukang Bakso-nya Melissa (perbandingannya jauh ya), saya hafal lagu-lagunya Beatles. Di saat teman-teman berburu poster Jordan Knight, saya malah nyimpen gambar Paul McCartney di dompet saya. (Hey...Paul yang paling ganteng dulu).

Lagu Beatles kesukaan Ayah adalah Blackbird. Ayah pernah cerita kalo Blackbird diciptakan Paul untuk mengenang isu rasialisme di USA. Dalam lagunya, Paul berharap agar ras kulit hitam (blackbird) bisa bebas suatu saat nanti. Lagu ini di-release sekitar tahun 68-69. Waktu itu, kasus G30S-PKI sudah lewat, namun pembersihan komunis yang dilakukan rezim Suharto masih terus berlangsung, terutama untuk daerah luar jawa seperti di tempat Ayah.
 Blackbird singing in the dead of night 
Take these broken wings and learn to fly 
All your life 
You were only waiting for this moment to arise
Cerita Ayah, kalo saat itu ada orang yang dicurigai anggota PKI, maka habislah harapan hidup layak untuk dia dan keluarganya. Dan saat itulah, remaja seumuran Ayah mulai sering menyanyikan lagu Blackbird sebagai dukungan terselubung mereka pada tetangga/rekan yang dituduh antek komunis. Yah mereka memang hanya bisa mendukung diam-diam karena ketahuan berinteraksi dengan orang yang dicurigai komunis bisa fatal akibatnya. Dan memori pada lagu Blackbird terus dibawa Ayah sampai dia dewasa.

Memori itu diteruskan kepada saya dan membuat saya ikut menggemari Blackbird. Saking sukanya, saat beliau bermain piano, saya bisa request Blackbird dinyanyikan berulang-ulang. Bahkan saat saya mulai ngantuk, saya akan meminta Ayah memainkan Blackbird dan membuatnya jadi lullaby saya (Iya...saya emang punya hobi ketiduran di sofa ruang musik itu).

Namun seperti layaknya badai yang pasti berlalu, fanatisme saya pada Beatles juga berlalu.
Saya masih suka banget sama Beatles. Tapi saya sudah move on dan menemukan lagu serta band lain yang  juga bisa saya sukai. Tuntutan pergaulan (aih syedap) juga membuat saya makin jarang mantengin Ayah main piano. Namun sesekali, saya masih suka request pada Ayah untuk memainkan Blackbird di pianonya.

Seperti blackbird yang telah terbang, Ayah juga telah pergi kini. Beliau dan pianonya menjadi memori yang membeku sejak 8 tahun lalu ketika beliau dipanggil oleh-NYA. Dan saya biarkan memori tentang Beatles turut membeku walau masih setia menyimpan semua mp3nya dalam ipod.

Adalah tulisan Eross yang membangkitkan kembali memori itu. Eross memang bukan satu-satunya yang membahas Beatles di buku ini. Namun gaya bertutur Eross, kecintaannya yang sangat terasa pada Beatles, interpretasinya yang dalam namun luas pada lirik Across The Universe milik Beatles membuat saya teringat akan Ayah.
Dan memori yang telah membeku selama 8 tahun itu kini berpendar kembali...

Maka saya menyetel playlist "Drop of Heaven" dari Lexie yang memang dikhususkan untuk semua tembang The Beatles, menyuruh Lexie melantunkan Blackbird 2x sebagai opening lalu membiarkannya bebas menyanyikan tembang Beatles yang mana pun sambil mengenang masa lalu bersama Ayah.
Bahkan saat menuliskan review ini, Lexie masih setia menyanyikan lagu Beatles. Yap...sejak kemarin!
Ternyata, saya gak pernah bisa move on sepenuhnya dari The Beatles.

Just wanna say :
Thank you Beatles for the music
Thank you Erros Chandra for bringing back the memory
and
Thank you, Papi for all the lessons you've taught me. Our times together are still one of the happiest moment in my life. Love you :).
Blackbird fly, blackbird fly 
Into the light of the dark black night

PS : Gimana dengan si penulis-yang-karenanya-saya-beli-buku-ini?
Ah ternyata ceritanya kali ini pun belum bisa dirating 5 bintang. Saya hanya memberikan 3,5 bintang.
Tapi gapapa. Terus berkarya dan saya akan terus mengejar bukumu.

Sunday, October 7, 2012

Kala Kali

Judul : Kala Kali
Penulis : Valiant Budi &Windy Ariestanty
Penerbit : Gagas Media
Edisi :Soft Cover
ISBN : 9797805816
ISBN-13 : 9789797805814
Bahasa : Indonesia
Rating : 3 bintang dari 5

Selama ini, saya gak pernah tertarik beli Gagas Duet. Karena (menurut info), Gagas Duet tuh bukannya 2 penulis berkolaborasi bikin 1 cerita yang sama. Tapi masing-masing penulis membuat 1 cerita dan kedua cerita itu tidak berhubungan.
Lha? Buat apa bikin duet kalo gitu? Kebayang deh, pasti ceritanya bakal pendek, mirip cerpen tapi panjangan dikiiit (ini ambigu banget sih bahasanya XD). Intinya: gak minat beli.

Tapi niat teguh itu pun goyah saat tahu Vabyo terlibat dalam proyek duet. Mau gak beli, kok ya penasaran pengen baca. Lagian udah tanggung koleksi buku yang bersangkutan. Akhirnya nekat deh ikut beli. (PS : Ini kenapa preludenya panjang ya?)

Sewaktu pertama liat bukunya, ada dialog gini sama diri sendiri : "Yiha...beneran keren nih cover. Sekeren di gambar." #MenurutNgana
Tapi kegirangan itu langsung menguap begitu sadar covernya dipakein lidah ato elemen tambahan ato apalah itu yang bikin jadi susah disampul. Asli repot buanget nyampulin itu buku.

Okeh...mari masuk ke isi buku.
"Hidup mah dinikmatin ajah. Banyak-banyak berbuat baik, jadi pas mati juga insya Allah dalam keadaan baik. Lagian, kalo hidup malah fokus mikirin mati terus, bisa jadi yang mati duluan malah orang-orang di sekitar kita, kan? Jadi mending perhatiin mereka yang sayang kamu." -Ramalan Dari Desa Emas-

Kisah pertama berjudul Ramalan Dari Desa Emas buah karya Vabyo, berkisah tentang Keni Arladi yang akan berusia 18 tahun. Keni ini tipe anti mainstream rupanya. Jadi bukannya ngerayain ultah bareng temannya ato keluarganya, ato bikin video trus unggah di youtube, ato apalah pokoknya, Keni memilih 'tuk menyepi di Desa Sawarna.

Awalnya rencana itu tampak mulus, sampai Keni bertemu bocah jago ramal yang (pastinya) meramalkan dia akan meninggal sebelum usianya 18 tahun. Keni sih berusaha untuk cuek, tapi setelah melihat betapa kesialan (dibarengi maut) selalu mengintai pasca diramal, dia pun terpengaruh. Dan dimulailah usaha pelarian diri Keni yang rada mirip Final Destination. Tentu semua itu diceritakan dari sudut pandang Keni yang cuek, rada sinis dan tengil.

Ceritanya enak dibaca sebenernya, mengalir dan pace-nya cepat. Endingnya juga seru dan gak ketebak.
Biar pun karakter Keni cuek gitu, tapi gak nyebelin untuk dibaca karena Vabyo membalutnya dengan humor kenes-namun-kadang-garing ala Vabyo.

Bagian mengganggu dari cerita ini adalah gaya bahasanya yang setipe banget dengan gaya bahasa Kedai 1001 Mimpi (yang juga berarti gaya bahasa Vabyo di twitter dan blog). Rasanya seperti Vabyo sendiri yang bercerita dan bukannya Keni.
Ada pikiran gini selama membaca :
"Oh si Vabyo sekarang jiper sendiri gegara dia kesasar di hutan. Eh? Apa? Siapa yang kesasar? Oh Keni toh, bukan Vabyo. Ah tapi masa sih? Vabyo itu mah. Liat dong gaya bahasanya yang berima, itu kan gaya Vabyo."
"Hah? Apa katanya? Keni cewek? Ah now I'm sure you're lying."


Iya...saya gagal membayangkan Keni sebagai cewek. Gaya bahasa, berpikir, dan sebagainya si Keni tidak membuat saya nangkep aura ceweknya.
Apa karena si Keni tomboy? Atau lebih tepatnya : apa begini gaya pikir remaja cewek tomboy 18 tahun jaman sekarang? Mungkin. Toh saya memang gak tahu apa-apa tentang itu.

Ato memang Vabyo yang gak mampu menciptakan karakter cewek dan mendalaminya?
Bukan ah. Di Bintang Bunting dia berhasil. Di Joker sekalipun, karakter Aulia masih berasa girly-nya (walopun rada nyaru).
Apa karena gaya penulisan Vabyo sudah berubah? Ada jeda 4 tahun antara Bintang Bunting dan novel ini, dan sangat wajar kalo gaya penulisan seseorang berubah.
Yah mungkin saja.

Tapi ini bikin saya jadi penasaran buat baca karya Vabyo selanjutnya. Jadiii...ayo kita tunggu MENUJUH \(^o^)/.
PS : Saya udah PO tuh buku lho (iyaaa...emang ini pamer kok ;p)

Sementara itu, 3 bintang untuk Ramalan Desa Emas-nya Vabyo.
"Hidup tak tertebak. Seperti permainan gundu dan dadu. Terkadang, aku takut itu... Bahkan ketika kita merasa segala sesuatu telah ada di genggaman, kondisi bisa berbalik." -Bukan Cerita Cinta-
Di bagian ke-2 ada "Bukan Cerita Cinta" dari Windy Ariestanty.
Bertutur tentang seorang Bumi yang editor, yang memandang hidup secara filosofis juga persahabatannya dengan Akshara, seorang penulis impulsif dan sedang jatuh cinta dengan Bima.

Bumi yakin kalo Akshara tidak sungguhan mencintai Bima. Sementara Akshara berkeras sebaliknya. Hingga dibuatlah taruhan yang berpuncak pada ulang tahun Akshara. Pada hari H akan dilihat, apakah Akshara masih bersama dengan Bima. Sebaliknya, Akshara ingin Bumi datang ke ulang tahunnya bersama pacar baru.
Kehadiran teman Akshara yang bernama Koma seperti datang tepat pada waktunya. Perempuan tanda baca itu berhasil memikat Bumi dengan tawanya.
Lalu kisah pun mengalir dari penuturan Bumi tentang Akshara, tentang Koma. Pendapat Bumi tentang mereka berdua, tentang filosofi cinta dan diskusi-diskusi kaya makna antara ketiga tokoh tersebut.

Kebalikan dengan cerita Vabyo yang pace-nya cepat, cerita milik Windy ini justru terasa lamban. Sangaaaaatttt lamban.
Inti cerita sebenarnya sependek yang saya jabarkan di atas, tapi Windy memperpanjang cerita dengan berbagai penuturan yang gak penting.
Kadang-kadang pengarang sering mengajak pembacanya muter-muter nggak keruan hanya karena si penulis kepingin aja memasukkan jalinan peristiwa atau dialog yang kalau ditanya kenapa dia melakukannya, jawabannya adalah, "Because I like it."
source
Saya menangkap kesan yang sama dari cerita ini, semacam : "Nih biar loe nangkep cinta itu kayak apa, gw ceritain tentang Elizabeth Barrett Browning. Nih Anna Karenina. Masih kurang? Ini nih sekalian kisah si Cupid & Psyche. Oh iya, gw bahas Daido juga deh."
Apa Windhy kehabisan ide mo dibawa kemana ini cerita hingga dimasukkan lah bagian ini? Nggak mungkin rasanya ah.

Selama membaca semua filler itu, saya nanya sendiri : "Ini buku konfliknya apa sih? Klimaksnya dimana?"
Dan sampe akhir, saya gagal nemu klimaksnya. Semua datar, flat.
Okeh, saya nangkap kok adegan mana yang dimaksudkan jadi klimaks, tapi buat saya itu pun sama datarnya dengan adegan sebelum dan setelah itu.

Dan saya juga merasa gak sreg dengan tokoh-tokohnya. Karakterisasi mereka kurang kuat untuk saya. Cuma Komang yang menarik dengan bubbly personality-nya.
Akshara? Datar.
Bumi? Sama datarnya.
Bima? Datar juga (ya walo si Bima emang jarang muncul sih).

Terus, klo di cerita Vabyo saya gagal membayangkan Keni sebagai wanita, di "Bukan Cerita Cinta" saya susah membayangkan Bumi sebagai pria. Susah namun bukan berarti gak bisa.
Ada saat tertentu sisi pria Bumi kelihatan. Tapi most of the time, saya dapat kesan yang sama dengan Farah : si Bumi ini cewek androgyny yang naksir sama si Akshara. X))

Untunglah, cerita Windy ketolong dengan untaian kalimat yang puitis dan penuh makna. Membaca cerita Windy memang gak bisa skimming supaya dapat meresapi makna kalimatnya. Dan sungguh, gaya bahasa inilah yang bikin saya bertahan menyelesaikan Kala Kali. Walo pun dengan rasa jenuh dan sakit kepala yang kerap datang setelah baca 4-5 lembar. (hehehe).
Yap, saya menikmati dibikin sakit kepala sama Windy. Rada masokis emang XP (ps : mudah-mudahan gak ada anggota 50United yang baca ini)

Saya belum pernah baca satu pun karya Windy (kecuali The Journeys) walo udah menimbun ketiga bukunya di rak saya . Saya tahu, dari review rekan-rekan, Life's Traveller punya gaya bahasa yang puitis dan filosofis juga. Dan kemungkinan, bisa bikin saya dapat sakit kepala yang nikmat lagi. (halah!)

Tapi saya kok malah jadi penasaran sama Shit Happens ya. Pengen tahu aja apa memang Windy selalu menulis dengan gaya seperti ini, meskipun dalam novel remaja.
Hmmm...*menatap Shit Happens yang masih terbungkus rapi selama sekian tahun*
Yeah! Let's take a look later. \(^o^)/ (ps : much later I mean)

Dan saya juga gagal paham dengan tagline : Hanya waktu yang tak pernah terlambat.
Bisa gak sih Gagas berhenti bikin tagline dan-atau blurb yang emang puitis, keren tapi menyesatkan dan maknanya gak masuk ke cerita?

Kesimpulannya: 2 bintang untuk Bukan Cerita Cinta dan 3 bintang untuk Ramalan Dari Desa Emas.
Totalnya 2,5 bintang. Dibulatkan 3 bintang untuk covernya.


PS : Yang ini sih unek-unek saya untuk Mbak Windy. Gak penting-penting amat untuk dibaca oleh yang lain, but I hope someday Windy would read this. Buat yang lain, better read it only if you can stand my lebayness (apa pun arti kata itu) XD

    

   

    SEKADAR CURHAT:   

   

   

   Pada salah satu scene di Bukan Cerita Cinta, ada bagian Akshara sakit dan berkata : "Kata dokter, aku sakit gejala typhus (ato tifoid?)."

Well, there's no such thing as "gejala thypus". Gak akan ada dokter yang kasi diagnosa "gejala typhus", setidaknya untuk dokter jaman sekarang.

Para dosen dan juga bos saya bisa murka kalo tahu bahwa kami (para GP unyu ini) kasi diagnosa gejala typhus.
Alasannya?
Karena pemberian kata "gejala" di penyakit ini menimbulkan reaksi yang "aneh" pada pasien.

1. Yang mendapat kesan kalo typhoid itu sakit ringan saja (padahal jelas salah)
Mereka di golongan ini akan cuek dengan bahaya typhoid. Rata-rata pada mikir : "Ah gejalanya aja cuma gini. Demam dan mual doang. Cemen lah. Istirahat di rumah beberapa hari juga beres. Penyakit aslinya juga gak berat-berat amat dong."

Atau yang ke-2, malah jadi menganggap serius "gejala-typhus"nya. Pasien yang di golongan ini akan mengonsumsi antibiotik (yang sebenarnya tidak perlu) atau kapsul cacing tanah (yang lebih tidak perlu lagi dan bisa bahaya).
Kenapa gak perlu? Karena sebagian besar kasus "gejala typhus" itu sebenarnya infeksi virus yang lebih ke self limiting diseases.

Saya gak tahu sejak kapan dan siapa yang pertama kali menciptakan salah kaprah macam gejala typhus ini. Salah satu dosen saya berteori, mungkin penyebabnya dari kalangan dokter sendiri di jaman dahulu kala. Saat ilmu kedokteran belum semaju sekarang, pemeriksaan laboratorium masih terbatas dan penyakit typhoid masih jadi momok. Sehingga semua orang yang punya keluhan mirip-mirip typhoid langsung dianggap "gejala typhus" dan diperlakukan sama seperti pasien typhoid.

Jelas ini salah kaprah yang harus diluruskan. Dosen yang sama juga bilang : "Generasi kalian ini emang korban dari generasi saya. Sudah terlalu banyak salah kaprah yang dibikin sama angkatan saya. Gejala typhus ini salah satunya. Salah duanya ya tentang antibiotik. Tapi tugas kalian buat meluruskan. Demi generasi di bawah kalian nanti dan demi kalian juga."

So...yep, we're trying. I'm trying. Dan jelas nggak gampang meluruskan kesalahpahaman yang sudah berkembang lama. Tentu saja kami mengandalkan bantuan pihak-pihak lain seperti penyuluhan, media-media, dan termasuk juga buku. Pokoknya apa pun yang bisa menjangkau masyarakat luas.
Dan karenanya menyebalkan ketika salah satu sarana yang bisa mendidik seperti novel malah bantu menyebarkan kesalahan ini.

Saya ngerti Windy bukan orang medis. Dan sebenarnya gak papa juga kalo dia mo nulis "gejala typhus" di ceritanya. Yang mengganggu adalah bagian "Kata dokter..." di kalimat itu, yang seolah menegaskan dokter mengakui ada penyakit seperti itu.
So next time, be more careful, mbak :)

Fyuh...curhat yang panjang cuma karena dua kata "gejala typhus" doang ya. Mana berasa lebay pula (iyaaa...saya juga tahu kok kesannya lebay banget). Ya maka itu saya hide ;p
   

   

   

Saturday, February 25, 2012

Bordir

Data Buku :

Judul Asli : Embroideries
Pengarang : Marjane Satrapi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 9792220070
Halaman : 138
Paperback
Terbit : Maret 2006

Di novel grafisnya ini, Marjane memfokuskan cerita pada neneknya dan kebiasaan beliau kumpul minum samovar (teh) di sore hari dengan teman-temannya sambil (apalagi kalau bukan) bergosip, baik gosip tentang diri sendiri atau pun orang lain.

Para wanita ini menceritakan pengalaman mereka (dan orang-orang yang mereka kenal) secara gamblang dan lucu. Dan topiknya pastilah tentang hal paling seru untuk diperbincangkan : pria dan sex!
Yap...pria dengan segala plus dan minusnya serta tradisi-tradisi Iran menyangkut perjodohan dan hal-hal konyol yang bisa terjadi karenanya.

Ada cerita tentang seorang wanita yang takut ketahuan calon suaminya kalo dia sudah nggak perawan lagi, dan untuk mengelabuinya dia membekali diri dengan silet di malam pertamanya. Niat awal sih untuk bikin luka sedikit di pahanya, tapi dia salah menggores dan malah kena ke private part suami barunya (ouch!).

Ada juga cerita lain tentang teman si nenek yang dijodohkan sewaktu berumur 13 tahun dengan pria berumur 69 tahun dan betapa dia sangat membenci suaminya sehingga dia berdoa siang malam semoga suaminya segera berpulang ke Tuhan YME. Bayangkan kebahagiaannya ketika doanya terkabul dan dia merasa memiliki dunia :))

Dan cerita yang paling lucu buat saya jelas cerita yang menyangkut teh dan sesuatu yang putih-putih. Gak seru kalo diceritain. Lebih asyik dibaca sendiri bagian yang ini.

Ada juga perdebatan kecil tentang keuntungan menjadi simpanan vs menjadi istri dan pentingnya sebuah keperawanan ato enggak. Dan hal ini membawa kita pada judul buku ini yaitu Bordir. Ternyata Bordir itu bukan membahas kain bordiran atau semacamnya toh. Tapi membahas tentang kegiatan bordir yang lain, yang melibatkan salah satu bagian tubuh wanita yang terkoyak. (PS : Nyambung gak? Hah...Enggak??? Oh well...sudahlah. Baca aja sendiri).

Membaca buku ini rasanya jadi orang ke-11 yang turut hadir dalam acara minum teh sore nenek Satrapi dan rekan-rekannya. Bacalah buku ini disertai segelas teh juga dan niscaya Anda akan merasa seperti ada dalam buku tersebut.

Swear, ini buku menarik banget. Lucu, witty humour (my favourite kind of humour), blak-blakan dan cepat pula dibaca. Gambarnya juga menarik dan bersih (dalam artian gak penuh dengan detail rumit). Dan sebenarnya saya pengen banget kasih lebih dari 3 bintang.

Sayangnya gak bisa, karena satu sebab remeh yaitu : Saya gak suka duduk ngumpul minum teh sambil ngegosipin orang yang saya gak kenal. Kalo saya punya waktu untuk minum teh di sore hari, percayalah teh itu akan saya habiskan sambil membaca buku, bukannya sambil ngalor ngidul gak jelas kayak gini.
Jangan salah, saya suka kok dengar cerita atau curhatan orang. But please, bukan tentang orang yang saya gak kenal. Dan please juga deh, jangan bahas aib orang dong.

So...though I enjoyed my tea time with The Satrapis, but I'm not sure I wannna do it again some other time.

Wednesday, November 9, 2011

Waktu Aku Sama Mika

Penulis : Indi
Penerbit : Homerian Pustaka
Ukuran : 11cm x 18 cm
ISBN : 978-979-17454-5-1

Buku ini adalah kumpulan curhat yang ditulis oleh Indi, seorang penderita scoliosis berumur 15 tahun untuk kekasihnya Mika, seorang penderita AIDS berumur 22 tahun yang kini telah pulang ke surga. Di buku ini, Indi menulis kenangan-kenangannya tentang Mika, rasa rindu dan cintanya, juga bagaimana dia telah dewasa sekarang dan berharap Mika bisa melihatnya.

Awal membacanya saya merasa jenuh. Begitu banyak pengulangan di buku ini, contohnya saja di halaman awal Indi sudah mengatakan dia kangen sama Mika, dan di pertengahan buku, dia mengulangnya lagi dengan kata-kata yang persis sama. Belum lagi gaya bahasanya yang sangat sederhana, sangat polos dan sangat kekanakan. Maksud saya, anak umur 15 tahun mana yang percaya awan terbuat dari gula-gula kapas, neverland benar-benar ada dan boogeyman akan pergi kalau disemprot obat nyamuk? Absurd bukan?

Lagipula berbeda dengan tipe buku harian lainnya seperti Buku Harian Zlata, Diary of A Wimpy Kid atau Diary of Anne Frank yang memang diperuntukkan untuk dibaca khalayak ramai, "Waktu Aku Sama Mika" jelas hanya ditujukan untuk Mika. Indi tak merasa perlu menjelaskan latar belakang Mika : pekerjaannya, keluarganya, pendidikannya, teman-temannya, bahkan juga pergulatan Mika melawan AIDS. Indi juga tak menjelaskan siapa Bima, Clifton dan nama-nama lain yang disebutkannya. Jelas Indi tak merasa perlu untuk menjelaskan karena toh Mika sudah mengenal mereka semua. Dan catatan ini memang untuk Mika, bukan untuk pembaca lainnya.
Lalu aku putuskan untuk berhenti bertanya. Karena aku segera yakin bahwa Bima itu salah. Tidak mungkin seseorang yang tertawa ketika menonton Mr.Bean, menyukai cokelat M&M’s dan percaya Tuhan itu tidak pantas untuk dipacari, kan?
Saya sudah hampir menutup buku ini separuh jalan, sudah kehilangan mood untuk menyelesaikannya.
Tapi kemudian saya ingat rasanya sewaktu masih remaja dan jatuh cinta untuk pertama kalinya. Semua perasaan sayang yang masih polos itu dan keinginan untuk membuat orang yang dicintai bahagia dengan percaya saja semua perkataannya, tak peduli seabsurd apapun itu.
Lalu saya juga membayangkan apa efek perasaan cinta pertama pada Indi.
Indi yang seorang penderita skoliosis, yang tak bisa berlari, melompat, menari, berhitung, membungkuk. Indi yang hampir tak punya teman karena dia sulit bermain seperti anak normal lainnya. Indi yang kurang percaya diri karena punya banyak kekurangan. Indi yang hampir tak punya orang yang mencintainya dengan tulus diluar keluarganya.
Dan ketika suatu saat ada seorang Mika yang bisa memberinya cinta yang tulus, semangat dan rasa percaya diri, wajar kan kalau jadinya dia selalu terkenang pada Mika walau pun Mika sudah lama pergi?

Dan awalnya Indi memang meniatkan curhatan ini untuk Mika kok. Jadi salahkan publisher yang tertarik untuk menerbitkan catatan pribadinya. Salahkan juga pembaca yang mau-maunya membaca sesuatu yang semestinya personal.

Maka saya pun mulai melihat buku ini dari kacamata baru.
Saya berusaha melihatnya dari sisi pribadi saya yang masih remaja, melihatnya dalam pandangan seorang remaja polos. Dan pada akhirnya, saya bisa menikmatinya :). Bahkan saya cukup penasaran untuk membaca buku kedua-nya, untuk sekedar mencari tahu apakah di buku kedua akan ada penjelasan lebih lanjut tentang latar belakang Mika. Juga untuk mencari tahu bagaimana kehidupan Indi pra dan post Mika.

Cover buku ini lucu, terkesan polos khas anak-anak, tapi menarik dan mengundang rasa penasaran. Dan sebenarnya cukup menggambarkan isi bukunya. Saya juga suka font yang dipakai buku ini, terkesan seperti tulisan tangan.

Jadi saya kasih 3 bintang untuk buku ini, cause actually it was just okay, but in a weird way I could like it. Dan walau pun saya cukup penasaran membaca lanjutannya, tapi gak sepenasaran itu sampai merasa harus segera membeli buku keduanya (yah...ada masalah tight budget juga sih >_<).

Saya merekomendasikan buku ini untuk dibaca agar kita mendapat gambaran lebih tentang seorang penderita skoliosis. Saya juga merekomendasikan buku ini untuk dibaca oleh para orang dewasa yang sudah lupa polosnya cinta pertama dan ingin mengingatnya kembali. Dan untuk mereka yang sudah sinis akan konsep cinta yang tulus. Juga untuk mereka yang takut menghadapi dunia dan memilih untuk bersembunyi di balik topeng. Contohlah Indi dengan berani untuk menjadi diri sendiri dan percayalah di suatu tempat, suatu saat, akan ada orang yang menerimamu apa adanya.

Quote of the books:
“Sugar, tau gak, kamu tuh ngingetin aku sama anak-anak di buku Torey Hayden”
“Karena aku cacat?”
Bukan, tapi karena kamu special
 

Wednesday, November 12, 2008

Seluas Langit Biru

Judul : Seluas Langit Biru
Pengarang : Sitta Karina
Tebal: 310 halaman
Ukuran: 15 x 23 cm
ISBN: 979-3750-29-4
Harga: Rp 49,500
Penerbit: Terrant Books

Selama ini, saya gak pernah menyukai novel - novel saga Sitta Karina yang bercerita tentang keluarga Hanafiah karena rasanya keluarga seperti itu terlalu gak "real".

Bayangkan saja, melalui novel-novelnya Sitta bercerita tentang sebuah keluarga besar yang kaya dan berkuasa bernama Hanafiah. Saking kayanya, keluarga Hanafiah sampai dinobatkan menjadi pengusaha paling sukses se-Asia (Asia lho ya! bukan cuma Asia tenggara) versi majalah Forbes. Kekuasaan keluarga Hanafiah juga menjangkau dunia Barat sana, dimana anggota keluarga Hanafiah punya hubungan dengan taipan - taipan internasional atau pun anggota keluarga kerajaan Eropa.

Para anggota keluarga Hanafiah juga bergaul di kalangan socialite dengan gaya yang "gaul abies". Minuman alkohol, busana - busana rancangan designer terkenal, dan selalu masuk dalam majalan elegan macam Attirer (semacam Harper's Bazaar kalo di dunia nyata).

Tapi HEBATNYA....
Keluarga besar hanafiah tetap rukun dan saling menyayangi. Gak ada tuh istilah rebutan warisan apalagi persaingan antar saudara seperti yang di sinetron (kalo yang ini sih masih mungkin aja. Toh saya mengenal beberapa orang yang berasal dari keluarga "tajir" tapi rukun).

Yang LEBIH HEBATNYA lagi..
Sebagian besar keluarga Hanafiah ALIM (saya bilang sebagian karena Sitta belum selesai menceritakan anggota keluarga Hanafiah. Dan karenanya saya belum berani bilang semua anggota keluarganya sealim tokoh - tokoh yang telah diceritakan).
"Alim" karena mereka rajin sholat, gak terlibat drugs ato pun extra marital sexual relationship.

Dan SEMUANYA good looking karena ada turunan latin di keluarga mereka. Saking good looking-nya, penampilan fisik (dan juga popularitas) para Hanafiah bahkan mengalahkan para artis Indonesia.

Dan yang PALING HEBAT...
semua kekayaan keluarga Hanafiah itu didapat lewat jalan yang halal. 100% HALAL. Gak ada KKN dan bahkan gak ada usaha Hanafiah yang merusak lingkungan dan gak terlibat keributan dengan rakyat kecil macam gusur menggusur. Pokoknya bersih sebersih - bersihnya.

Wow...Keluarga yang hebat bukan?

Selain point - point di atas, novel saga Hanafiah-nya Sitta Karina juga selalu bercerita tentang :

1. Keluarga - keluarga elite lainnya yang merupakan partner atau pun saingan bisnis Hanafiah yang bergaul di kalangan yang sama tapi mereka gak se-"suci" Hanafiah.

2. Selalu ada tokoh yang sebenarnya tajir tapi memilih untuk hidup dengan gaya anti kemapanan.

3. Kisahnya pasti kisah cinta yang tragis, ironis, kadang berakhir bahagia, kadang tidak.

4. Ada selipan bahasa-bahasa asing. Minimal Inggris, diikuti Spanyol, lalu Jepang ---> Saya masih salut dengan fakta ini karena artinya Sitta 'niat' banget memberi warna lain di novelnya. Bahkan dia rela membayar jasa penerjemah lho (baca infonya di website Sitta).

5. Semua tokohnya (di luar Hanafiah maksudnya) pasti good looking. Bahkan si girl next door macam Sissy pun tetap punya penampilan yang bisa mengalahkan model. Wow (^o^)

6. Sesederhana apapun keluarga tokoh - tokohnya, tetap aja si tokoh mampu kuliah di luar negeri atau pun membeli barang - barang bermerk (Jimmy Choo paling murahnya)

7. Meski sudah disinggung di point 6, tapi saya tetap sebut disini : Selalu ada sisipan berbagai barang - barang branded yang ditulis namanya secara lengkap (bisa terdiri 4-6 kata lho). Geez...seakan pembaca belum paham gimana tajirnya keluarga Hanafiah dan orang - orang di sekitarnya.

8.Tokohnya kalo nggak stress, ya mempunyai cerita hidup yang tragis. Pokoknya latar belakangnya pahit deh.

9. Secara konsisten menggunakan nama-nama tempat bergaul dan sekolah yang sama untuk semua tokoh di dalam novelnya. Contohnya : Portrait (sebuah cafe cozy di Jakarta), Karlu (tempat clubbing kaum socialiter Jakarta) dan (yang gak boleh lupa) Universitas Richmond Indonesia aka URI. Sebuah universitas yang lebih "berkelas" daripada UPH dan lebih "intelek" daripada UI. Wow (lagi)

10. Selalu ada sketsa - sketsa yang digambar Sitta atau potongan gambar yang entah diambil dari mana untuk mendukung ceritanya. Diliat dari review - review lain, sepertinya gambar ini justru jadi salah satu kekuatan novel Sitta. Saya pribadi sih bersikap netral aja dengan gambar- gambar ini.

Sejauh ini sih, saya baru ingat 10 ini. Nanti kalo ada ditambahin lagi (Padahal 10 aja udah kebanyakan ya )

Saya telah mengikuti kisah keluarga Hanafiah sejak novel perdana Sitta yang berjudul Lukisan Hujan yang menceritakan kisah Diaz Hanafiah dan Sissy Iswandaryo. Saat itu, kesan pertama saya adalah : "Ini teenlit yang beda." Bukan hanya dari tema cerita dan pilihan kata-katanya yang bagus tapi juga endingnya yang berani beda.

Novel kedua, Imaji Terindah, yang bercerita tentang Chris Hanafiah dan Aki saya kasi komentar : "Yah...lumayanlah." Gak istimewa banget sih, tapi saya suka endingnya.

Di urutan ketiga ada Pesan Dari Bintang yang menceritakan tentang Inez Hanafiah, bidadari-nya keluarga Hanafiah (karena dia yang paling cantik dan glamour) dengan Nikratama Zakrie, sahabatnya yang beda "dunia". Buku ketiga ini sempat membuat harapan saya naik lagi setelah sempat turun di buku ke 2. Di buku ini, harapan saya bahwa Sitta akan menjadi sepiawai Marga T pun mulai terbentuk.

Sayangnya, buku ke-4 yang berjudul Putri Hujan & Ksatria Malam sukses mengkandaskan harapan itu. Buku ke -4 ini merupakan kelanjutan kisah Diaz Hanafiah dan Sissy juga lanjutan cerita Chris Hanafiah. Di buku ini, satu hal yang saya sukai dari Lukisan Hujan dan Imaji Terindah (yaitu endingnya) ditutup dan dimentahkan disini. Saya tahu, sebagian besar pembaca lebih menyukai ending di Putri Hujan & Ksatria Malam, tapi saya pribadi sudah jenuh dengan cerita yang berkesan happily ever after.

Seluas Langit Biru yang merupakan novel ke-5 Keluarga Hanafiah bercerita tentang Bianca Hanafiah. Berbeda dengan Inez yang charming dan glamour, Bianca adalah tipe gadis tomboi, menguasai karate yang terobsesi dengan ninja dan lolipop. Untuk menggambarkan : Inez elegant while Bi adorable.

Bianca dijodohkan dengan Sultan Syahrizki, pengusaha muda pewaris MataCakra. Hal ini dilakukan untuk mempermudah merger antara MataCakra dan Hanafiah Group (WHAT??  Masak pengusaha sepiawai Sultan gak bisa menyadari untungnya berkongsi dengan Hanafiah Group? ). Sayangnya, Sultan adalah laki-laki yang terlalu serius dan kaku untuk bisa membuat Bianca jatuh cinta.

Kesal dengan perjodohan yang dipaksakan, Bianca pun nekat mabuk - mabukan di Karlu sendirian yang mengakibatkan dia diganggu oleh pengunjung disana. Di saat itu, hadirlah seorang penolong yang membantunya melepaskan diri dari para pemabuk itu bahkan menemaninya ketika dia dalam keadaan setengah sadar. Sayangnya, Bianca gak sempat menanyakan identitas si penolong.

Aozora atau Sora adalah cowok pemberontak yang jenuh menjalani hari - harinya. Dia jenuh harus mengikuti perintah si kakak sementara sang kakak gak pernah menganggapnya exist, jenuh menjadi kambing hitam keluarga, dan terutama dia jenuh dengan rasa penasarannya akan asal usul dirinya.
Sampai suatu hari dia menolong seorang gadis mabuk di Karlu yang membuatnya penasaran.

Karena itu, alangkah terkejutnya Sora ketika bertemu kembali dengan gadis itu di pesta pertunangan kakak tirinya. Dan lebih terkejut lagi saat menyadari bahwa gadis itu ternyata tunangan kakak tirinya.
Seumur hidup, Sora selalu tunduk pada kakaknya. Namun kali ini, dia menolak untuk mengalah. Karenanya, di tengah pesta pertunangan, dia mengangkat toast dalam diam seraya berkata : "May the best man win."

Merger antara Mata Cakra dan Hanafiah Group menimbulkan keresahan pada beberapa pihak yang berakibat ancaman terhadap keselamatan Bianca. Sehingga Bianca merasa memerlukan bodyguard. Dan dia gak bisa menolak ketika Sultan (sang tunangan) menawarkan adiknya untuk menjadi pelindung Bianca.

Sementara itu, nun jauh di Osaka sana, Kaminari Kei (yang lumayan exist di saga Hanafiah ini) tergerak untuk pergi ke Jakarta. untuk menemui kembali para sahabat Hanafiah-nya, sweetheart-nya Bianca dan terutama bertemu dengan sepupunya yang saat ini masih belum tahu asal usulnya.
Dan cerita pun terutama berkisar pada ke-4 tokoh di atas.

Kelebihan dari saga ke-5 ini adalah pada chemistry antara Bianca dan Sora dibangun dengan sangat baik sehingga hampir menyamai chemistry yang tercipta antara Diaz-Sisy. Cara yang ditempuh Sitta juga sama, menulis secara jujur dan lengkap bagaimana Bianca dan Sora melewati hari-hari mereka (bertengkar, bertengkar, bertengkar...walo di balik itu pertengkaran itu ada rasa lain yang juga perlahan tumbuh) sampai akhirnya satu tidak lengkap tanpa ada yang lain.

Sayangnya, ke-10 point yang saya sebutkan di atas pun kembali ada di buku ini. Terutama point tentang barang - barang bermerk itu. Kalo dulu - dulu, Sitta hanya menyebutkan selintas lalu. Sekarang barang - barang bermerk itu hampir selalu disebutkan (lengkap pula!). Photobucket
Emangnya penting banget ya pembaca tahu Bianca ke cafe doang pake baju rancangan siapa, sepatu merk apa dan tas keluaran mana? Okelah klo busana Bianca dianggap penting (karena dia tokoh utama), tapi haruskah busana yang dikenakan tokoh - tokoh lain juga disebutkan lengkap? Bayangkan waktu Bianca ke pesta, bertemu banyak kalangan "the haves" dan Sitta masih keukeuh nyebutin merk busana mereka satu per satu.
Fiuh....cape deh.... Photobucket

Selain itu, novel ini juga terbentur pada masalah ending yang rasanya terlalu cepat diselesaikan. Setelah berlama-lama membangun chemistry Bianca dan Sora, penyelesaiannya kok terasa cepat sehingga membuat saya berkomentar: Hah? Udah? Kok gitu aja?
Gak biasanya Sitta begini.
Ada apakah?
Deadline-kah?
Ato sekedar ide cerita yang memang sudah mentok?
Hanya Sitta yang bisa menjawab rasanya

Setelah harapan saya sempat dinaik turunkan, novel ke-5 ini juga membuat saya (untuk saat ini) berhenti berharap lebih jauh akan kemampuan Sitta dalam mengembangkan tema cerita.
Yah...saya mengatakan "untuk saat ini", karena saya berharap (dan yakin) Sitta akan mampu berkembang menjadi sekreatif Marga T dan membuat cerita seemosionil Mira W.

Bagi saya (setidaknya untuk saat ini), inilah batas kemampuan Sitta. Dia memang jempolan dalam hal menulis cerita yang cukup complicated (untuk ukuran teenlit lho) tanpa kehilangan ide utama dan cukup konsisten memasukkan tokoh - tokoh dari novel sebelumnya tanpa membuat cerita berkesan dipaksakan. Sitta juga piawai merangkai kata sehingga dialog - dialog yang tercipta menjadi segar dan "berbobot".
Sayangnya, untuk tema dan jalan cerita, nggak bisa diharapkan ada perubahan signifikan yang membuat adanya unsur "kejutan" di novelnya. Semuanya sudah monoton, sorry to say.

Walau begitu, novel ini masih masuk dalam jajaran saga Hanafiah kesukaan saya. Menempati urutan ke-3 di bawah Pesan Dari Bintang dan Lukisan Hujan.
Kalo ditanya alasannya, saya gak tahu juga. Mungkin karena saya juga sangat menyukai langit.

Pertanyaan yang tertinggal : Apakah saya masih akan membaca kisah Hanafiah berikutnya?

Tentu saja!

Bukan karena mengharapkan adanya kejutan baru, tapi hanya karena saya penasaran dengan kisah para Hanafiah lain.

Tiga bintang untuk Seluas Langit Biru dan quote langit-nya yang keren banget :)

Quote of the book :
" Milikilah hati yang luas, seluas langit biru. Di dalam hati yang luas, kamu akan menampung rasa memaafkan yang besar, kekuatan untuk berpikir dan bertindak positif, serta semangat untuk menjelang hari esok yang tidak pernah pudar. Jadilah langit itu."
[Kaminari Mikage kepada Aozora Syahrizki]

Saturday, March 22, 2008

Dia, Tanpa Aku



Penulis : Esti Kinasih
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tanggal terbit : Januari - 2008
Jumlah Halaman : 280
Jenis Cover : Soft Cover
Dimensi(L x P) : 135x200mm
Kategori : Teenlit
Text Bahasa : Indonesia


SINOPSIS BUKU

Ronald, cowok kelas 2 SMA, sudah lama naksir Citra yang masih kelas 3 SMP. Tapi Ronald belum mau PDKT. Ia menunggu sampai Citra masuk SMA, karena itu ia hanya bisa mengamati Citra dari jauh.

Saat yang ditunggu Ronald selama berbulan-bulan akhirnya tiba. Citra masuk SMA! Namun Ronald kecewa karena ternyata Citra masuk SMA yang sama dengan adiknya, Reinald, dan sekelas pula.

Namun, keinginan dan harapan terbesar Ronald untuk mendekati Citra tak pernah terwujud. Cowok itu kecelakaan dan tewas di tempat, tidak jauh dari rumah Citra.

Reinald menganggap Citra-lah penyebab kematian kakaknya. Rasa marah dan keinginannya untuk menyalahkan Citra membuat sikapnya terhadap cewek itu menjadi penuh permusuhan. Keduanya kemudian kerap bertengkar tanpa Citra tahu pasti alasan sebenarnya.

Sikap Reinald berubah drastis ketika Citra memutuskan untuk tidak lagi mengacuhkannya. Kini Reinald berada di posisi yang sama seperti Ronald dulu. Perubahan sikap Reinald itu tanpa sadar mendekatkan keduanya. Dan akhirnya Reinald tak lagi ingin menjaga Citra demi almarhum kakaknya.

“Gue suka cewek lo,” ucap Reinald suatu hari di depan foto Ronald. Dan itu membuat sang kakak kemudian “kembali”!

Comment

Gua gak terlalu demen Teenlit. Menurut gua ceritanya dangkal dan suka terlalu berlebihan ngurusin cintaaaa melulu, seakan cuma itu masalah yang ada dalam kehidupan remaja. Apalagi kalo novel itu dikarang oleh novelis remaja (cewek). Oh God, have mercy on them please. Entah kenapa, cewek - cewek yang ada dalam teenlit itu selalu jadi pihak "ngemis" ke cowoknya. Bikin emosi aja!! Hari gene gitu lho!!

Esti Kinasih adalah perkecualian untuk gua. Gua suka semua novelnya. Di semua novelnya, Esti selalu masukkin karakter cewek yang cuek. Bukan cewek yang lemah dan ngejar cowok, tapi malah sebaliknya. Girl power pokoknya! Dan gaya bahasanya pun menunjukkan kecerdasan pengarangnya walo masih tetap meremaja.

Cerita "Dia Tanpa Aku" tergolong unik. Bukan sekedar cerita cinta biasa karena di sini, tokoh utama harus bersaing dengan "arwah" yang adalah kakaknya juga. Gua juga suka dengan gaya bahasanya Esti yang berisi.
Tapi "Dia Tanpa Aku" ini gak seseru novel Esti yang lainnya. Satu hal yang gua suka dari novel - novel Esti sebelumnya adalah ada semacam "perasaan" di dalamnya. Saat membacanya, gua bisa ngerasa terharu ato tersentuh. Entah kenapa, di buku yang ini gua gak merasakan feeling serupa. Datar aja rasanya.
But other than that, menurut gua novel ini patut dibaca. Dan gua masih akan menantikan karya Esti Kinasih berikutnya.

Rate :
3 out of 5