Showing posts with label GPU. Show all posts
Showing posts with label GPU. Show all posts

Sunday, September 23, 2012

Twivortiare

Data Buku :
Judul : Twivortiare

Penulis : Ika Natassa
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2012
ISBN 13 : 9789792286748

Sinopsis :
“Commitment is a funny thing, you know? It’s almost like getting a tattoo. You think and you think and you think and you think before you get one. And once you get one, it sticks to you hard and deep.”

Do busy bankers tweet? Yes, they do. Empat tahun setelah Divortiare, Alexandra membuka kembali hidupnya kepada publik melalui akun Twitter-nya @alexandrarheaw. Lembar demi lembar buku ini adalah hasil “mengintip” kehidupannya sehari-hari, pemikirannya yang witty dan sangat jujur, spontan, chaotic, dan terkadang menusuk, yang akhirnya akan bisa menjawab pertanyaan: “Dapatkah kita mencintai dan membenci seseorang sedemikian rupa pada saat bersamaan?”

Twivortiare adalah kisah klasik tentang cinta dan luka, terangkai dalam tweets, mentions, dan DM yang lahir lewat ujung-ujung jemari karakter-karakternya.


Review : 

Saya itu orang yang ndak pernah peduli sama autographed version dari buku. Bahkan termasuk CD dari penyanyi favorit juga.

Tanda tangan yang saya pedulikan hanyalah tanda tangan di dokumen-dokumen penting saya ato tanda tangan pemain bola favorit saya (aaaa....Zanettiiiiii).
Karenanya tiap kali ada pre-order buku apapun yang bertanda tangan penulisnya, saya gak pernah tertarik ikutan soalnya saya nunggu buku itu terbit dulu dan ngeliat reaksi pembacanya gimana. Bahkan walo penulisnya udah saya kenal dan bisa menebak bukunya kayak apa (seperti Kedai 1001 Mimpi-nya Vabyo misalnya).

So...kalo ampe saya bersedia ikutan pre order buku ini kemarin, bukan tanda tangannya yang menarik minat saya. Tapi karena saya penasaran (pake banget) dengan kelanjutan Alexandra dan Beno.


Siapa sih Alexandra dan Beno itu?
Mereka adalah tokoh dari novel Ika Natassa sebelumnya yang berjudul Divortiare. Di Divortiare dikisahkan kalo Alexandra dan Beno sudah bercerai. Masing-masing melanjutkan hidup dan mengejar karir dimana Beno adalah dokter bedah thoraks sukses dan Alexandra adalah bankir yang karirnya sedang menanjak. Mereka juga (ato minimal Alexandra karena Divortiare bercerita dari sudut pandangnya) berusaha move on dan mencari cinta yang baru. Divortiare ditutup dengan kisah yang "gantung" antara Alexandra dan Beno. Pembaca disuruh menebak sendiri apakah mereka kembali bersama ato tidak.

Sewaktu mengetahui kalo Ika Natassa membuat akun twitter untuk tokoh rekaannya (Alexandra), saya belum tertarik untuk follow. Baru setelah mendengar kabar kalau rangkaian tweetnya akan dibukukan, saya jadi penasaran bagaimana kelanjutan pasangan itu. Kenapa baru belakangan saya penasaran? Karena sebelumnya saya pikir, twitternya Alexandra itu masih bercerita seputar hidupnya pasca perceraian dan gak nyebut-nyebut Beno. Begitu tahu kalo ternyata hidup Alexandra saat ini melibatkan Beno, jelas saya tertarik dong. Saya kan gemes sama karakter pak dokter yang lempeng banget itu. 

Apalagi saya dapat info kalo buku ini akan bercerita tetap dalam format twitter. Jadi rasanya seperti baca timeline yang panjang. Dan per-tweet hanya dibatasi 160 karakter. Waaa...menarik dan bikin penasaran.

Kesan setelah baca?

Yah bagus sih. Not bad at all Banyak yang bisa kita pelajari dari hubungan Beno-Alex. Tentang usaha untuk mengerti satu sama lain, bahwa pernikahan itu berarti "start to feel for two people." Juga kalo cewe itu mesti bisa mandiri secara finasial (setuju banget ini).

Saya juga belajar tentang perasaan Alexandra yang bersuamikan dokter sibuk banget. Dia sempat merasa di-nomor duaka-kan dibanding pekerjaan suaminya. Jadi kepikir, apa gitu ya perasaan ibu dan tante-tante saya yang bersuamikan dokter?
Tapi sepertinya mereka gak kapok tuh punya suami dokter, soalnya mereka meng-encourage anak masing-masing buat nikah sama dokter juga. Ugh...pada gak tau aja dalem-nya dunia kedokteran itu kayak apa. #Eaaaaa #TetepCurcol

Rada kesal sih sama karakter Alexandra yang kadang too demanding dan childish. Masak gak ngerti juga kalo Beno sayang dia? Saya yang cuma tau kelakuan si Beno lewat tweet-tweet dia aja bisa ngeliat kok, masak dia gak nyadar sih?
Tapi bagusnya, Alexandra udah jauh lebih dewasa dibanding Alexandra di Divortiare.

Dan si Beno-nya juga eugh...keras kepala banget sih.
Etapi berhubung karakter saya lebih dekat ke karakter Beno, dan posisi kami cenderung sama (jadi pihak yang lebih lempeng), somehow bisa ngerti dia. #JanganCurcolLagiDehWi

Dan melalui interaksi kedua tokoh utamanya ini lah, Twivortiare mengajarkan bahwa cinta aja gak cukup untuk membentuk pernikahan, we have to work on it. Dan perbedaan yang ada itu bukan untuk dijadikan sama, tapi untuk dikompromikan.

Ada satu yang nyepet saya di buku ini sebenarnya. Scene waktu Alexandra ngeluh sakit kepala dan Beno cuma menyarankan minum aspirin. Dan si Alex sebel, menurut dia kalo cuma butuh aspirin mah dia gak bakal ngeluh ke Beno. Yang dia butuhkan tuh perhatian dan soothing word dari Beno.
Dan uhm...saya jadi kesepet :">
I mean, saya juga gitu. Kalo ada yang ngeluh sakit ke saya, naluri saya adalah melakukan anamnesis seperti umumnya dokter ke pasien untuk kemudian kasi saran obat yang cocok menurut saya. Dan ini saya lakukan pada siapa pun, dari teman biasa sampe orang dekat macam keluarga dan si "dia".

Dia pernah protes sih. Dia bilang, "Wi...diperhatiin dong. Lagi sakit nih."
Dan saya dengan bingungnya bilang : "Kan udah. Udah dikasi obat, udah dikompres, udah diambilin makan sama minum, udah diselimutin. Istirahat aja sekarang, nunggu obatnya bereaksi."
Membaca kesebalan Alexandra, saya jadi mikir, mungkin maksudnya waktu itu si dia pengen dimanjain ya? Dikelonin dan dipuk-puk gitu? Yeeee.....bilang dong :|

Tapi satu yang gak disadari Alexandra (dan mungkin orang lain), dokter itu (ato paling enggak saya) emang refleksnya gitu kalo ketemu orang sakit. Yang pertama saya pikirkan adalah apa yang bisa saya lakukan untuk memperingan sakitnya. Dan yaaahhh...the easiest way ya to suggest some medicine.
Lagian gak mungkin juga pasien saya kelonin ato saya puk-puk kan? Paling bisa ya ber-empati. Empati yang juga saya terapkan ke orang-orang dekat saya.
Saya suka lupa kalo orang dekat itu gak bisa dimasukkan dalam kategori yang sama dengan "pasien". Bahwa selain empati, saya juga boleh bersimpati sama mereka.

So thanks to Ika Natassa dan Twivortiare yang udah ingetin satu fakta yang sebenernya saya udah tau, tapi suka dilupakan :">

Pertanyaannya, kenapa buku yang begitu banyak memberi pelajaran seperti ini, dengan format unik pula  tetap saya kasi rating 4 bintang?

Jawabnya karena saya jenuh dengan banyaknya bahasa inggris yang bertebaran di buku ini.
Udah bukan banyak lagi, overdosis malah. Bisa lho sampe 2-3 lembar full bahasa inggris.
Yaaa....saya sih masih ngerti aja, tapi jadi kepikir : "Untuk jadi pembacanya Ika Natassa itu kudu bisa bahasa inggris ya? Apa syarat seperti itu udah termaktub somewhere entah dimana?"
Dan bertanya juga, pemasaran buku ini sejauh apa ya?
Saya yakin jumlah masyarakat Indonesia yang ngerti bahasa inggris lebih sedikit dibandingkan yang bisa. Warga di kota-kota di Pulau Jawa dan kota-kota besar lainnya emang banyak yang fasih berbahasa inggris, tapi mereka yang di ujung Kalimantan sana? Yang di Ambon dan sekitarnya?

Dengan overdosis-nya bahasa inggris di sini, saya sih gak yakin buku ini bisa dimengerti mereka-mereka yang di pelosok Indonesia sana.
Dan menurut saya sih sayang kalo karya yang sarat nilai positif tapi disajikan dengan ringan seperti Twivortiare ini gak bisa dinikmati mereka disana.

Jadi....kalo lain kali menulis buku, bisakah menuliskan buku yang menggunakan bahasa Indonesia secara utuh dari awal ampe akhir, mbak Ika Natassa?
Karena saya perhatikan, semua buku anda begitu kuyup dengan bahasa inggris. Apakah karena kesulitan menemukan bahasa indonesia yang tepat untuk mewakili apa yang anda maksudkan?
Padahal saya yakin untuk setiap frase yang ada di bahasa inggris, ada padanan yang tepat di versi indonesianya.
Come on, mbak. I know you can do that. I dare you! :) 



"The simplest things in life are what make us happy eventually. A warm and comfy home, being loved, and knowing that somebody can't live without you."  (p. 193)

Wednesday, July 11, 2012

Memory & Destiny

Judul : Memory & Destiny
Penulis : Yunisa KD
Tahun Terbit : 2010
ISBN 13 : 9789792256581
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Review di bawah ini adalah review dari buku yang boring, garing dan berasa hawa narsisnya. Untuk menyesuaikan dengan nuansa buku, maka review ini juga bakal boring, garing dan penuh dengan ke-narsis-an reviewernya. *dikeplak sampai Timbuktu*

Heck! I lied. Ini bahkan bukan review. Karena banyak teman goodreads tercintah yang sudah memberikan review yang lebih komprehensif, maka saya mo nyinyir dan narsis aja. #bhihik
Oh dan curhatan ini meng-exclude yang sudah disebut dalam repiu-repiu sebelumnya.

Kalo anda ngerasa punya kerjaan yang lebih penting, ya silakan dilanjut.
Tapi kalo masih mo baca juga, yaaa...derita loe itu sih.

Kata Ibu saya sih, saya tuh mirip kucing. Bukan dari segi manja dan ndusel-nduselnya kucing, tapi dari segi kepo. Iya, Ibu saya emang mengacu pada kalimat femes ini : "Curiosity kills a cat", soalnya saya emang kepo banget. Saya gak tahu apa bener kepo bisa ngebunuh kucing. Yang saya tahu sih, rasa kepo memang beberapa kali hampir mencelakakan saya.

Semasa kecil, saya adalah anak yang selalu penasaran membuktikan omongan orang. So kalo dibilangin : "Jangan main piso, kalo kena tangan bisa berdarah, sakit."
Saya malah sengaja ngiris tuh piso ke tangan saya, penasaran aja apa bener bisa berdarah dan sakit. Eitss...ini bukan masokisss yaaa. Harap dibedakan! (*defense mechanism sebelum dituduh*).

Dan kekepoan itu udah bikin saya sengaja menyetrumkan diri, menabrakkan badan ke bemo kemudian angkot (karena pake bemo berasa kurang hardcore), ampe sengaja lompat dari atap rumah hanya untuk tahu apakah terjun dari atap tuh beneran bisa bikin patah kaki. Etapi waktu itu ada kasur sih di tanah. Ya saya kan cuma kepo dan bukan bego.
Untunglah makin gede makin berkurang kepo saya.

Kepo bahaya saya yang terakhir terjadi beberapa tahun yang lalu waktu baru lulus kuliah.
Saya dapat pasien percobaan bunuh diri dengan minum Baygon. Setelah si pasien stabil, saya ngobrol sama dia : "Bu, Baygon rasanya kayak apa?"
"Pait banget, dok."
"Oya? Lebih pait mana sama brotowali?"
(Yup, menurut saya brotowali itu substansi terpait di muka bumi ini. Yaa...tapi masih lebih pait waktu pacar ditikung sahabat sendiri sih. Itu mah paiiitt...pait...pait...paiitt, Jenderal! *Ups...mendadak curcol* #YaMaap)
"Jauh lebih pait Baygon, dok," jawab si ibu.

Rasa kepo saya pun terusik. Masak iya paitnya Baygon bisa ngalahin brotowali?
Jadi pas balik ke kamar jaga, saya ngambil kaleng Baygon, semprotin ke ujung jari saya dan langsung ngemut si jari imut #heyitsrhyme #sakarepmulah
Rasanya?
Beneran pait ternyata. Lebih pait dari brotowali. Dan lebih gak enak juga karena selain pait juga berasa kecut dan sepat. Walo yah...masih lebih pait waktu pacar ditikung sahabat sih. #TeteupCurcol Photobucket
Jadi yah teman-teman, buat yang patah hati dan berpikir minum Baygon, saran saya : JANGAN! Percuma soalnya. Paitnya gak ilang juga. Coba minum spiritus ato minyak tanah gitu. You're welcome, bye the way.

Lalu apa hubungannya buku ini dengan cerita di atas? Gak ada sih.
Saya kan cuma pengen pamer aja kalo saya tahu rasanya Baygon dan kalian nggak. Hohohohoho..... #TertawaLaknatDiPinggirKawah #LaluDitendyang

Yah rasa kepo saya bangkit lagi kemaren gara-gara buku ini.
Kata penulisnya sih, baca buku ini kudu punya banyak syarat. Misalnya open minded yang mana gak masalah buat saya. Buka hati aja saya gak segan, apalagi cuma buka pikiran (iya...saya tahu ini garing).
Trus juga kudu suka Broadway. Bukan masalah juga sih, secara saya rajin ikutan Broadway aka Beronda With Style (iyaa...iyaaa..saya tahu ini maksa dan garing.)
Dan yang paling penting harus berotak prima. Uhm...yang ini agak susah. Saya sih dari kecil udah doyan nenggak minyak goreng cap Prima, tapi gak tau ya apa itu berpengaruh pada otak saya ato ndak. Let's see aja deh ya.

Novel ini dimulai dari Donald yang terbangun pada pagi pernikahannya di London. Sayang di tengah jalan mobil yang ditumpangi bersama tunangan dan sahabatnya mengalami kecelakaan. Sementara kedua orang lain meninggal, Donald koma dan jadi...eng...arwah gentayangan gitu?
Di hari yang sama, Donald bertemu Maroon kecil di Westminter Abbey. Destiny menentukan cuma Maroon yang bisa melihat Donald (Demyu Destiny!). Akhirnya Donald pun ngikutin Maroon ke Jakarta dan jadi teman belajar dan bermainnya.

Lalu Donald menghilang dan cerita berpindah 10 tahun ke depan. Maroon udah jadi dokter...trus diikuti adegan2 gak penting...hingga Maroon kuliah ke Singapur. Disana secara gak sengaja dia ketemu lagi sama Donald dan langsung ngerasa ada chemistry di antara mereka.
Baru kenalan bentar, destiny mengatur Maroon kecelakaan, kehilangan ayah dan jadi amnesia (bangke emang si destiny ini). Donaldnya sih tetap support Maroon, tapi Maroonnya gak mau. Digebahlah si Donald pergi.
Dan David pun memasuki hidup Maroon.
Cerita bergulir pada sejumlah adegan gak penting lainnya yang berkutat di PDKTnya David dan rese-nya Maroon di topik "kok-loe-suka-sama-cewe-amnesia-kayak-gw".
Sampe akhirnya Maroon bisa ingat lagi, tendang David (sukurin! Emang enak dijadiin back up! #SumpahBukanCurcol #BenerBenerBukanLho) lalu ngejar Donald ke Singapoh.

Selesaikah penderitaan pembaca?
Oho...TIDAK!
Penulis masih betah nyiksa pembacanya. Itu cerita diputer lagi. Untuk ditutup dengan ending yang ehm...garing.

Apa yang bikin saya mentahbiskan buku ini sebagai buku kacrut?
Banyak hal sih. Saya ampe bingung mo bahas yang mana dulu. Coba kita mulai dengan :

1. Gaya bahasa yang jadul buanget. Bahkan lebih jadul dari jaman Maria A Sardjono. Sejaman dengan angkatan Balai Pustaka kali. Bedanya kalo para sastrawan Balai Pustaka merangkai dengan indah, yang ini berasa...basi
Contohnya :
"Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhan lah yang terlaksana."
"Selalu saja ada berkat di balik kenestapaan kehidupan yang pekat."
"Meluncurkan panah asmara langsung ke jantung sasarannya."
"...terasa seperti ditusuk sembilu."


Dear Miss Yunisa, I suggest you to time travel to 70's and publish your book there when these words were last used. I'm so sure it's gonna be a big hit back then. And you could torment the milennium kids for having to read and review your book as one of the best literatur ever.
No need to thank me for this wonderful idea, bye the way.

2. Dialog yang keju banget. Keju bakar disiram saos keju dan dikasi taburan keju pun bahkan masih kalah keju dibanding ini. (Mungkin) Rencananya mau bikin bahasa yang niatnya romantis, tapi jatohnya jadi picisan.
Misalnya :
"Gadis yang di matanya bisa kulihat api kehidupanku."
 ===> Eciyeee...api kehidupan lhooo. #disemburNaga

"Dari matanya aku juga bisa melihat masa depan."
==> Coba dicek, situ lagi ngeliat mata orang ato liat bola kristal sebenernya?

"Maroon, kau lebih cantik daripada selusin mawar ini."
==> Aduh mas, rayuannya basi sekali! Pantes ditinggalin.

Seakan kekejuan itu belum cukup, penulis hobi banget masukin lirik lagu yang gak nyambung di tengah percakapan yang (harusnya) serius.
Seperti ini:
"Toh, kalau Donald memang jodohku, somehow, One way or another, I'm gonna see ya, I'm gonna meet ya, meet ya, meet ya seperti lagunya Blondie."
ato
"Mungkin sekarang Donald memang belum jodohku. Jadi buat apa susah? Buat apa susah? Susah itu tak ada gunanya..."

Yeah epribodih, it's #tepokjidat moment.
Photobucket

Masih ditambah pula kalimat yang gak nyambung di otak saya seperti :

"Tinggal sebulan sebelum hari ulang tahunku. Tapi mimpi burukku sudah dimulai hari ini."
===> Maksudnya si tokoh punya tradisi klo dia mimpi buruk tiap ultah dan khusus tahun ini mimpi buruk dimulai sebulan sebelumnya? Apa sih makna "Tapi" di kalimat itu?

Juga penggunaan istilah yang gak tepat seperti ini :
"Mirip George clooney saja, tua - tua kelapa, makin tua makin membuat cewek tergila-gila!"
====> Keladi kaliiiii, mbaaakkkk. Kelapa tua sih jatohnya jadi santan doang.
Dan menyangkut santan, jadi inget kejadian waktu masih di puskesmas.
Ada teman kerja umur 18 tahun yang bakal nikah dengan duda cerai 5x berumur 60an tahun.
Namanya juga desa. Kejadian kayak gini ya dibahas lah. Dan seorang perawat berkomentar : "Kenapa X mo kawin deng Pak Y ya? Barang su seng enak itu. Su terlalu sering diperas. Seng bisa lai jadi anak karna terlalu encer. Cuma bisa dipake jadi santan saja."
Yeah...DEYM HER! I could never see santan the same way again since that. Photobucket

Eh kok jadi ngelantur ke santan? Mbak Yunisa sih bawa-bawa kelapa.
Pokoknya masih banyak kalimat-kalimat ajaib lainnya yang kalo mo saya tulis disini sama aja dengan nulis ulang nih novel di gudrit. Saya persilakan anda baca sendiri aja ya. Good luck lho. Photobucket

3. Homofobia

I'm a faghag. Karenanya saya terganggu dengan sentimen dan prasangka negatif tentang gay yang ada di buku ini. Oke...saya tahu kalo penulis anti gay, itu hak dia.
Tapi gak perlu bikin prejudice yang malah nunjukkin dia kurang paham dunia itu.
Misalnya ketika tokoh Sharon keheranan kenapa sepupunya Wiro yang gay itu bisa disukai orang tua sahabatnya. Ih...gak nyadar ya gay itu likeable banget. Matt Bomer anyone? Neil Patrick Harris? Sir Ian McKellen? Dan...Albus Dumbledore! Yeah!!!

Yang bikin gemes juga waktu secara tersirat dibilang kalo gay itu gak jantan.
Heh? Kata sapa? Siapa pun yang berpendapat gay itu gak jantan boleh coba adu tinju sama Mark Leduc (ya tapi waktu si Mark masih muda sih) ato adu dunk sama John Amaechi.
Hah? Apa? Gak tau Mark Leduc dan Amaechi? Ih kacian tekali. #MenatapIba
Intinya kalo ada yang bilang gay itu gak jantan, pasti pengetahuannya tentang gay mentok sampe ke Olga doang #ups #dicakarpensnyaOlga #runrunfast #kepelukanMattBomer
Photobucket

4.Too much information (yang gak penting)

Mungkin buat penulis, disinilah point plus novelnya. Buat saya sih fakta ini malah gengges. Ya walopun saya akuin membaca penjelasan penulis bikin saya mo ketawa dan bilang "pffttt".
Contohnya waktu penulis ngasi tahu kalo rambut palsu itu wig, ato waktu penulis dengan baik hati menjelaskan kepada pembaca (via Maroon tentunya) bahwa cara terbaik PDKT ke cewe dimulai dari keluarganya dulu (pffttt lagi).

Tapi dari semua penjelasan penulis, gak ada yang ngalahin epiknya penjelasan beliau (cieee....beliauuu) waktu ngejelasin tentang bride's maid dan best man. Demi untuk menjelaskan arti kedua kata itu serta siapa yang biasanya dapat peran kehormatan tersebut, penulis menghabiskan tak kurang dari -wait for it- 1 paragraf. #tepokjidat #ampejenong Photobucket

Ketika Yunisa dengan yakinnya berpendapat bahwa novelnya akan abadi sampai 100 tahun ke depan, dan bahwa orang di masa depan akan berpikir : "Astaga-naga, ternyata Yunisa, tahun 2006-dst udah memikirkan dan mengamati hal yang sama!", pasti yang dimaksud adalah bagian ini.

Saya bisa ngebayangin, tahun 2110 nanti, dalam sebuah kelas Literatur Fiksi, akan ada seorang guru yang berkata seperti ini :
"Jadi, yang menarik dari novel karangan Yunisa ini adalah pikirannya yang jauh ke depan. Sebagai contoh, istilah best man dan bride's maid yang baru diadopsi ke dalam bahasa Indonesia sekitar 30 tahun yang lalu, sudah digunakan olehnya pada novel yang terbit 100 tahun lalu.
Belum jelas apa istilah yang digunakan orang Indonesia pada jaman novel Yunisa ini terbit. Tapi banyak ahli yakin, di jaman itu orang menyebut bride's maid dan best man sebagai "orang-(berasa)-eksis-yang-berdiri-di-sebelah-pengantin-terus-terusan."
Ya memang orang jaman dulu nggak efektif. Kita harus berterima kasih pada Yunisa yang memperkenalkan istilah ini pertama kali kepada masyarakat Indonesia.
Walaupun ketika novelnya pertama terbit, informasi ini dikritik habis-habisan oleh pereview kurang kerjaan di Goodreads bernama asdewi." (Maap ya teman-teman, ternyata setelah 100 tahun, cuma nama saya yang masih eksis). #DirajamRameRame
(ps : jangan keplak saya, plis. Saya tahu kok ini garing. *muka memelas*)

5. Penggunaan kata "destiny" yang over dosis di novel ini.
Ketemu dan jadi sahabat itu destiny. Gak mau ngajak cewek lain kencan, karena si tokoh menunggu destiny-nya. Besok-besok kebelet ke WC ato laper doang dianggap destiny juga dah. #NyinyirDetected

Dan dari bertaburannya kata "destiny" yang ada di novel ini, 2 peristiwa ini sih yang ngasi momen "pffttt" :
Scene pertama:
"David, kenapa sih kita sering sekali bertemu walau kita tidak janjian?"
"Mungkin itu destiny?"

Bookkk...kalo emang ketemu gak sengaja di berbagai tempat bisa dianggap sebagai destiny, maka gw sama Stramaccioni pastilah destiny. Waktu dia datang ke Jakarta kemarin, kita sering ketemuan gak sengaja gitu. Dari ketemuan di lift ampe ketemuan di dekat toilet.
Jadi dia kah destiny saya? dear God, please make it come true. Mohon segera beri hidayah padanya agar sadar bahwa destiny-nya ada di Jakarta.

Eh bentar...
Waktu liburan ke Bali kemarin, saya juga sering ketemu sama Anang. Saking seringnya ketemu, teman saya ampe mikir kita kualat karena cabut kantor dengan alasan ikut pelatihan dan dikasi balasan berupa siksaan visual yaitu secara konstan ketemu pasangan (yang merasa diri) Kate & Will itu.
Jadi...apakah Anang (ato Ashanty?) akan menjadi destiny saya?
Dear God, I beg You please, dont! Jangan ampe se-mblegedes itu sih, pleaseee. Thank you, God. Amin. Photobucket

Anyhoo, peristiwa ke-2 adalah ketika David beranggapan Maroon destiny-nya karena si Maroon ngomong "Christmas is family time" yang mana adalah kalimat paporit David ke ibunya.

Cyiiiinnn...kalo nyebut ucapan yang sama bisa dianggap destiny, maka ada berapa milyar orang di dunia ini yang jadi destiny saya waktu saya bilang : "Gw lapeeerrr" ato waktu saya bilang : "Kayak ketek badak nih sinyal" ?
Jadi sebenernya destiny saya ada berapa sih? Kok gak ada satu pun yang nongol? Hah? Hah?? Hah??? *dilemparBTS*
(PS : Hei...kamu yang baca review ini, pasti juga pernah ngucapin kalimat di atas kan? Ih berarti kamu juga destiny saya. Hayo atuh buruan pinang saya dengan bismillah dan  sesendok berlian *kedipkedipcentil* Photobucket #LaluDitujesPakeSabretooth)

Masih soal "ucapan-yang-sama-adalah-destiny", di halaman 178 ada part dimana David dan Donald mengucapkan kalimat yang sama. Berarti mereka destiny dong?
Setelah ngantuk maksimal, saya langsung excited pas nyampe di bagian ini.
Huwooww...apa buku ini akan berubah ke gay lit? Photobucket
David dan Donald menyadari bahwa mereka destiny lalu naik kuda bersama menuju matahari terbenam sementara Maroon nangis suwe di belakang? (I also don't know why I had this lame vision).
Woww...Wowww.....Spekta sekali Yunisa ini. Twist yang kueren buanget. Sumpah saya meremehkan kemampuan dia.
Maka dengan semangat saya lanjut baca.
Dan kecewa karena ternyata tebakan saya salah.
Dia kembali ke plot cerita garing ala layar tancap, layar kaca, layar gelasnya dong :s
*pembaca kecewa* #YaMenurutLooooo

6. Karakter-karakternya yang unlikeable

Karakter David dan Donald itu dibikin terlalu sempurna ampe jatohnya malah jadi ilfil. Novel Harlequin aja, yang ceritanya manis banget ampe bikin semut kena diabetes, masih ngasi kekurangan di para tokoh cowoknya. Tokoh yang paling saya suka disini sih Olivia, adiknya Maroon.

Dan tokoh paling nyebelin itu jelaslah : Maroon!
Saya udah mulai ilfil pada tokoh ini sejak halaman 16 ketika terjadi dialog seperti ini antara Maroon dan ibunya :
I : "Di sini sebenarnya kan kuburan."
M : "I know and I'm not scared."
I : "Why?"
M : "Karena aku mau jadi dokter! Dokter kan tidak boleh takut!"


Euh...ada yang salah dari pernyataan itu. Dokter juga manusia kok yang boleh takut. Lagian tuh gelar juga gak bakal ngaruh apa-apa buat kuntilanak.
Kebayang deh kalo waktu ketemu saya bilang : "Oi Kunti, gw gak takut sama loe. Kan gw dokter."
Palingan juga si Kunti jawab : "Ya terus? Masalah buat gw? Buat temen-temen gw? Pfft...please deh, bwok!"
Lalu dia pergi sambil kibas rambut dan geal geol patpat (Ini kunti ato Inem sebenernya?)

Apalagi kalo ketemu Pocong. Bisa ngakak kejang dia kalo saya bilang saya dokter. Si Pocong bakal bilang : "Jadi loe dokter? Huahahaha...kesian banget ya loe. Gw cuma dibungkus kayak lontong gini udah punya puluhan film hits di bioskop. Lah loe, pake jas putih keren gitu, bawa stetoskop mahal-mahal, peran loe paling mentok cuma ngomong : "Maaf kami sudah berusaha maksimal...". Suster malah lebih canggih dari loe. Dia cuma ngesot doang udah bisa nge-hits gitu pelemnya. Huahaha...kasian loe, cuy!"
(PS : Dan sumpah ini bukan curcol. Bener-bener bukan kok! #YaAdaCurcolDikitSih)

Anehnya karakter si Maroon ini, dia gak takut sama kuburan di Westminster Abbey. Tapi takut sama kuburan Cina dan kuburan lokal.
Alasannya?
Karena yang dikuburin di Westminster itu pake pakaian rapi sementara di Indo dibungkus kayak lontong ato pake daster putih.
Bah!!! Dia lupa kalo Count Dracula dan Bloody Mary juga bajunya rapi. Tapi coba aja situ liat, mempan kagak gelar dokter situ kalo ngadepin si Tante Mary yang bedarah-darah itu. #KenapeGwYangSewot

7. Logic check

Sebenernya sih mbak Iyut udah ngebahas tentang logic check-nya. Tapi di blognya penulis menyarankan reviewer untuk logic check dan kasi kontribusi positif ke penulisnya, maka saya berusaha kasi kontribusi ke penulisnya. Mengenai apakah kontribusinya positif ato nggak, biar penulis saja yang menilai.

Ini mengenai 1 part yang belum (ato mungkin gak tega) ditulis sama mbak Iyut.
Part yang dimaksud ada di halaman 39, scene waktu Donald tersadar dari koma. Dan ini petikannya :

"Dokter, dokter, denyut jantung pasien mulai melemah!" perawat berteriak. Dua orang perawat dengan cekatan menyiapkan alat kejut listrik defibrillator...
===> Oh jadi denyut jantung melemah itu didefib ya, mbak? Gak liat dulu pola irama jantungnya gimana?

"...Dokter menempelkan defibrillator di atas dada pasien. Tidak ada reaksi. "Kita ulangi,"..."
===> Bookkk! Di-CPR dulu baru defib lagi. Itu mesin defibnya butuh waktu buat recharge dan sembari nunggu ya di-CPR dong ah.

"Bunyi detak jantung masih rata."
===> Haapppaaahhhh??? Rata anda bilang? Jadi dari tadi pasiennya udah rata alias garis lurus alias asystole? Ya terus kenapa didefib? CPR buruan!
Hiihh...!!! Minta didefib juga nih penulisnya. Photobucket

"Kita coba sekali lagi! Naikkan tegangan!"
===> *tarik napas dalam* Mbak Yunisaaaa, defib itu tegangannya gak dinaikkan. Tentukan aja mo pake defibrillator yang monophasic ato biphasic. Yang bisa dinaikin itu cardioversi. Logic check dong, mbak! Logic check!
*kemudian bengek* *lupa buang napas* *sengaja dijelasin* :p

"...pasien tersentak dan sesaat kemudian detak jantung si pasien perlahan kembali normal...pasien lelaki berwajah tampan itu bangun dari komanya yang panjang."
...
Saya speechless Photobucket.
Saran aja nih mbak penulis, kalo lain kali nekat mo nulis novel yang ada scene emergency-nya, coba kurangi nonton Grey's Anatomy dan Scrubs lalu perbanyak nonton ER ato House.

Sebenarnya ide dasar novel ini lumayan kok. Tapi kenapa eksekusinya bisa begini kacrut adalah misteri yang belum berhasil saya pecahkan.
Untuk nemuin jawabannya, saya mengikuti saran penulis untuk membaca ulang bukunya, karena "semakin dibaca ulang, kesannya jadi beda".

Bener sih apa yang dibilang itu.
Soalnya baca pertama kali bikin saya kasi 1 bintang, nah baca yang kedua malah turun jadi setengah bintang. Kesannya emang beda kok pas dibaca ulang. Semacam jadi makin keliatan garingnya gitu deh.

Sebenernya saya sih mau aja baca ulang untuk yang ketiga, keempat bahkan ampe 10x juga. Masalahnya, itu jatah bintang tinggal dikit. Khawatirnya kalo saya baca ulang tuh bintang malah jadi habis dan saya kudu bikin sistem rating baru.

Ya sebenernya gak papa juga sih bikin sistem rating baru, toh gak ribet juga. Tinggal nambah 1 shelf doang kok. Cuma saya masih bingung nentuin pake rating yang mana, apakah "
Kancut Rating System (pinjem istilahnya SinemaIndonesia)


ato

Eneg Rating System
Photobucket

(btw gambar diambil dari sini. Gak sempet putu sendiri soalnya)

Daripada kelamaan bingung, saya memutuskan menyudahi percobaan baca-ulang ini dan berhenti di 1/2 bintang saja.
Besides, this book worth its half star anyway.
Beneran kok! Coba deh baca blog penulisnya di post berjudul yang kena sensor. Saya sih bersyukur akan keberadaan editor di buku ini. Kalo nggak, entah bakal sepanjang apa review ini.
Jadi setengah bintang itu untuk para editor novel ini.

Bye the way, ampe akhir saya masih gak tau apakah kepo beneran bisa bunuh kucing #MasihNgototBahasKucing. Yang saya tahu, di akhir baca buku ini saya menemukan satu lagi persamaan saya dengan kucing yaitu : Gak ada kapoknya!

Saya juga gitu. Walopun keprimaan otak saya terancam tiap kali baca buku kacrut, tapi saya gak kapok untuk membaca buku kacrut. Karena menulis repiu kacrut sesungguhnya masturbasi otak.
Jadi sampai jumpa di repiu kacrut berikutnya (yang entah kapan).
Salam buku kacrut!

PS :
Terima kasih untuk siapa pun yang sudi membaca curhatan ini ampe akhir.
Maap kalo panjang banget. Saya emang gak jago nulis yang singkat, padat dan jelas. Saya jagonya emang ngoceh kayak gini.
Jadi makasi buat yang tahan baca ampe akhir.
Tapi saya punya pertanyaan buat anda/kalian :

"Anda gak ada kerjaan ya? Ngapain juga buang waktu baca ginian? Mending juga pacaran!
Eh apa anda jomblo? Aduh kacian. Ngenes ya hidupnya, blo?"
Photobucket

#BerlaluDenganSongong
#SambilGandengPacar
#YangAdalahBantal
.....
....
...
..
.


IYAAA...IYAAA...SAYA JUGA JOMBLO! SAYA JUGA NGENES!
PUASSS??? HAH? HAH?? HAH???

BUBAAARRR!!! WHOOSAAAHHHH....

Photobucket

Friday, April 20, 2012

Takdir Elir

Judul : Takdir Elir 
Penulis : Hans J. Gumulia 
Penata letak : Mulyono 
Pem. Aksara : Reyner Nabeel 
Proofread : Bonmedo Tambunan, Dina Begum, Adit H. Pratama 
Pencpt. hikayat : Ami Raditya 
PR : Truly Rudiono 
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

 Pertama kali membaca kata yang tertera di sampul buku ini (Vandaria Saga), saya langsung ngerasa salah buku. "Hah? Vandaria tuh apaan?" pikir saya.

Membaca perkenalan para tokoh dan bab pertama, saya makin mikir kalo saya salah buku. Lah wong saya blank banget dengan istilah dan tata cara dunia Vandaria. Misalnya : frameless itu apa sih? Ordo Vhranas itu apa? Kalo semua penghuni Vandaria memuja Vanadis, kenapa musti ada pembagian ordo segala?

Huaa....saya makin bingung.
But the show must go on. Sekali buku terbuka, pantang berhenti tengah jalan (pret!). Dan saya pun melanjutkan petualangan saya bersama Rozmerga yang gagah berani.

Dari sekilas pandang, saya sempat berpikir kalau Vandaria ini semacam RPG (dan kayaknya sih emang iya). Soalnya perkenalan tokoh di halaman awal itu sampai mencantumkan ukuran fisik segala dan biasanya ini hobi di RPG (teori seenaknya XD)


Adalah seorang pendeta tinggi di Ordo Vrhanas yang mendapat wangsit untuk mengirimkan salah satu frameless juniornya ke Benua Elir. Saat itu, perang hampir pecah di sana karena pertikaian 2 kerajaan besar di benua Elir. Berbekal surat dari pendeta tinggi dan ditemani serombongan ksatria suci, Rozmerga pun melipir ke Benua Elir #heyitsryhme #rhymendasmu X)

Scene lalu berpindah ke Liarra, seorang frameless hutan dari marga suci entah-apa-namanya yang berdomisili di Benua Elir. Rupanya klan Liarra ini memiliki senjata suci nan sakti bernama busur Valuminnaire. Dan berhubung Benua Elir sedang dalam masa kritis, para tetua mendapat wangsit bahwa sudah saatnya busur itu dilepas untuk memilih tuannya. Dan (as we can guest) Liarra lah yang dipilih oleh sang busur.

And...Poof!!!
Begitu Liarra bersentuhan dengan busur Valuminnaire, detik itu juga dia teleport ke Gurun Pasir Tak Bernama dan bertemu Sigmar, seorang pengembara setengah frameless yang sedang dalam misi untuk mencari sebuah kuil yang hilang.

Berhubung Liarra yakin takdirlah yang membuatnya bertemu Sigmar, maka dia yakin adalah takdirnya juga untuk ikut mencari kuil tersebut. Perjalanan mereka gak mudah, sampai ketemu Gorken segala dan akhirnya para Gorken malah jadi pengikut setia Liarra. Oh...apakah Gorken itu? Entah...semacam monster sih. Mungkin sejenis dengan Golem ato Orc kali ya.

Lalu cerita balik ke Rozmerga yang baru sampai di Elir, tepatnya di wilayah kerajaan Serenade. Dalam perjalanannya mencapai ibu kota, dia sempat nyasar, diserang segerombolan perampok, akhirnya terselamatkan dan dapat tumpangan di rumah warga hingga akhirnya dapat tumpangan kendaraan juga ke ibukota.
Buat saya sih bab ini aneh. Gak jelas tujuannya apa secara gak berpengaruh juga ke cerita. Dan aneh juga karena kok Rozmerga dan rombongannya bisa segampang itu kejebak bandit kampung? Apa si pengarang bermaksud menunjukkan betapa juniornya Rozmerga ini?

Setelahnya cerita kembali ke Liarra dan Sigmar yang sudah berhasil menemukan kuil itu dan juga pisau belati kuno. Setelahnya Sigmar dan Liarra menyadari kalau kedua senjata mereka bersinar. Mereka mencoba menyentuhkan kedua senjata dan mendapat suatu visi. Dalam visi tersebut terlihat 5 Pahlawan Legendaris Elir melawan Gottfried Serenade, musuh terkuat dalam sejarah Elir. Pertanyaannya, apakah hubungan visi tersebut dengan kondisi Elir yang kritis saat ini? Dan apa pula peran mereka dalam konflik ini?

 "Ingatlah wahai putri Vanadis, bahwa di jalan segelap apa pun, selalu saja ada secercah cahaya yang akan melindungimu..."
Bingung dengan sinopsis di atas? Nggak perlu...

Karena walaupun ditulis dengan multiple POV, tapi gaya berceritanya nggak bikin bingung kok.
Memang sih ada beberapa hal yang aneh dan lucu seperti Sigmar yang membacakan petunjuk cara menghadapi Gorken ke Liarra tepat saat mereka akan diserang Gorken. Atau saat Rozmerga dan rombongannya gak tahan menghadapi penginapan yang jorok. Juga saat Rozmerga begitu naifnya sampai gak nyadar dia ditipu padahal pembaca awam seperti saya aja bisa nyadar.

Lucu memang, tapi saya pikir biarlah. Toh ukuran saya memberi rating adalah seberapa menikmatinya saya membaca buku tersebut. Dan harus saya akui, membaca Takdir Elir ini enak banget. Bahasanya (walopun kadang-kadang cheesy terutama di bagian percakapan) mengalir banget. Tanpa disadari udah selesai 1 bab aja dan penasaran untuk lanjut bab berikutnya.

Mengenai hal-hal yang belum jelas di buku ini, seperti kegunaan bab waktu Rozmerga diserang (lupa bab berapa) juga apa sebenarnya penyebab konflik di Elir, saya sih berharap akan ada penjelasannya di buku kedua.

Oya...saya juga suka twist di akhir cerita, tentang mereka (saya sengaja gak bilang siapa "mereka" itu) yang terlempar ke masa lalu. Wow...I didn't see that coming. 

Tapi di sisi lain, saya juga heran sendiri. Kan mereka sudah dapat visi tentang masa lalu, kok gak ngeh kalo mereka melihat diri sendiri di visi itu?
Ah time paradox dan time travel selalu jadi konsep yang membingungkan untuk saya. Mudah-mudahan sih akan ada penjelasan yang logis di buku berikutnya.

Empat bintang saya berikan untuk buku ini. Kenapa gak 5 bintag?

Karena dipotong satu bintang karena hal yang "lucu" dan aneh di atas. Dan tadinya saya mau potong setengah bintang lagi karena saya gak suka covernya. Tapi akhirnya batal, karena saya suka ilustrasi-ilustrasi cantik dalam buku ini.

Oh bye the way, ampe akhir saya masih belum tahu frameless itu apa. Tapi pada akhirnya saya gak peduli karena saya toh tetap menikmati buku ini. Yep...this book was that good :)

Saturday, February 25, 2012

Bordir

Data Buku :

Judul Asli : Embroideries
Pengarang : Marjane Satrapi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 9792220070
Halaman : 138
Paperback
Terbit : Maret 2006

Di novel grafisnya ini, Marjane memfokuskan cerita pada neneknya dan kebiasaan beliau kumpul minum samovar (teh) di sore hari dengan teman-temannya sambil (apalagi kalau bukan) bergosip, baik gosip tentang diri sendiri atau pun orang lain.

Para wanita ini menceritakan pengalaman mereka (dan orang-orang yang mereka kenal) secara gamblang dan lucu. Dan topiknya pastilah tentang hal paling seru untuk diperbincangkan : pria dan sex!
Yap...pria dengan segala plus dan minusnya serta tradisi-tradisi Iran menyangkut perjodohan dan hal-hal konyol yang bisa terjadi karenanya.

Ada cerita tentang seorang wanita yang takut ketahuan calon suaminya kalo dia sudah nggak perawan lagi, dan untuk mengelabuinya dia membekali diri dengan silet di malam pertamanya. Niat awal sih untuk bikin luka sedikit di pahanya, tapi dia salah menggores dan malah kena ke private part suami barunya (ouch!).

Ada juga cerita lain tentang teman si nenek yang dijodohkan sewaktu berumur 13 tahun dengan pria berumur 69 tahun dan betapa dia sangat membenci suaminya sehingga dia berdoa siang malam semoga suaminya segera berpulang ke Tuhan YME. Bayangkan kebahagiaannya ketika doanya terkabul dan dia merasa memiliki dunia :))

Dan cerita yang paling lucu buat saya jelas cerita yang menyangkut teh dan sesuatu yang putih-putih. Gak seru kalo diceritain. Lebih asyik dibaca sendiri bagian yang ini.

Ada juga perdebatan kecil tentang keuntungan menjadi simpanan vs menjadi istri dan pentingnya sebuah keperawanan ato enggak. Dan hal ini membawa kita pada judul buku ini yaitu Bordir. Ternyata Bordir itu bukan membahas kain bordiran atau semacamnya toh. Tapi membahas tentang kegiatan bordir yang lain, yang melibatkan salah satu bagian tubuh wanita yang terkoyak. (PS : Nyambung gak? Hah...Enggak??? Oh well...sudahlah. Baca aja sendiri).

Membaca buku ini rasanya jadi orang ke-11 yang turut hadir dalam acara minum teh sore nenek Satrapi dan rekan-rekannya. Bacalah buku ini disertai segelas teh juga dan niscaya Anda akan merasa seperti ada dalam buku tersebut.

Swear, ini buku menarik banget. Lucu, witty humour (my favourite kind of humour), blak-blakan dan cepat pula dibaca. Gambarnya juga menarik dan bersih (dalam artian gak penuh dengan detail rumit). Dan sebenarnya saya pengen banget kasih lebih dari 3 bintang.

Sayangnya gak bisa, karena satu sebab remeh yaitu : Saya gak suka duduk ngumpul minum teh sambil ngegosipin orang yang saya gak kenal. Kalo saya punya waktu untuk minum teh di sore hari, percayalah teh itu akan saya habiskan sambil membaca buku, bukannya sambil ngalor ngidul gak jelas kayak gini.
Jangan salah, saya suka kok dengar cerita atau curhatan orang. But please, bukan tentang orang yang saya gak kenal. Dan please juga deh, jangan bahas aib orang dong.

So...though I enjoyed my tea time with The Satrapis, but I'm not sure I wannna do it again some other time.

Monday, January 30, 2012

Godaan Di Senja Hari

Judul asli : Tempt Me At Twilight
ISBN/EAN : 9789792260403 / 9789792260403
Author : Lisa Kleypas
Publisher : Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Publish : 03 Agustus 2010
Pages : 424
Dimension (mm) : 140 x 210

Ini buku kiriman Secret Santa-ku, Mbak Desty Nugrainy. Pertama buka bungkusannya langsung cengar-cengir karena mikir : "Yeeaayyy...historical romance-Lisa Kleypas-Hathaways-Belum punya."
Tapi di sisi lain juga mikir : "Eng...ini buku ke-3 kan? Susah nih ngereview buku ke-3." *elusJidat*
Yup...kelemahan saya emang ngereview buku berseri. Saya lebih suka membacanya ampe habis dan memposting reviewnya sekaligus (itu pun kalo gak keburu males bikin :D). Jadi...kiriman dari Secret Santa-ku ini jadi semacam tantangan tersendiri. Makasih, Secret Santa ^__^

Seperti yang saya bilang di atas, Godaan Di Senja Hari ini adalah buku ke-3 dari serial Hathaways yang bercerita tentang liku percintaan Hathaway bersaudara. Keluarga Hathaway dikenal sebagai keluarga bangsawan yang eksentrik. Mereka tidak terlalu patuh pada aturan aristokrat dan wanita-wanitanya dikenal pintar yang mana suatu kekurangan lumayan fatal (di jaman itu, pria kurang suka wanita pintar sebagai istri, takut memberontak mungkin). Hal inilah yang membuat wanita Hathaway (walaupun punya maskawin yang besar) rada sulit laku di bursa perjodohan.

"Peluangnya memperoleh pernikahan yang pantas akan lenyap--hanya karena musang."

Dan dengan kalimat itu, dimulailah kisah tentang Poppy, putri ketiga keluarga Hathaway.
Poppy sangat mencintai keluarganya yang unik, namun dia terus memimpikan hidup yang normal, damai (ato singkatnya: hidup yang boring) dan menikah dengan pemuda dari keluarga terhormat. Impian itu terancam hancur bila surat cinta dari Michael Bayning (kekasih rahasianya) tersebar kemana-mana. Sialnya, saat ini surat itu sedang dipegang Dodger, musang peliharaan adiknya. Dan sudah jelas, Dodger tak mengerti tingginya level kerahasiaan surat itu.

Pengejaran itu membawanya berkenalan dengan Harry Rutledge. Perkenalan yang menjungkirbalikkan semua rencana Poppy.
Sejak awal bertemu, Harry sudah tertarik kepada Poppy dan bertekad memilikinya walau pun harus melakukan segala cara. Dengan cara licik, Harry berhasil memisahkan Poppy dan Michael. Dan lewat suatu insiden, Harry berhasil menyudutkan Poppy hingga gadis itu terpaksa menikah dengannya.

Namun, tak ada rahasia yang tak terungkap.
Di hari pernikahan mereka, Michael datang dan mengungkapkan segala kecurangan Harry. Walau marah, Poppy memilih tetap menjalankan rencana menikah dengan Harry, basically choosing the lesser of two evils. Dan dimulailah pernikahan yang aneh itu. Pernikahan yang memaksa mereka berdua untuk membuka diri dan hati serta belajar memaafkan.
"Aku tidak akan pernah menyesalinya. Karena jika aku tidak melakukannya, kau miliknya sekarang. Padahal dia hanya menginginkanmu jika itu mudah baginya. Tapi aku menginginkanmu dengan cara apa pun yang aku bisa. Aku menginginkanmu karena tidak ada orang lain yang seperti dirimu, dan aku tidak pernah ingin memulai hari tanpa melihatmu."
-Harry Rutledge-
I love this book.
Suka sama karakter Harry yang tegas, dewasa, tahu apa yang dia mau walopun di dalamnya selalu ada sosok bocah kesepian. Yang paling saya suka adalah : Harry gak munafik. Dari sejak awal pun dia udah ngaku kalo dia memang bukan orang yang baik dan karenanya tak bisa diharapkan menjadi "saint". Soal mengubah seorang villain jadi hero dan membuat pembaca jadi bersimpati pada sang "hero" memang Kleypas jagonya.

Suka juga sama karakter Poppy yang rasional dan berkepala dingin. Semarah apapun Poppy, dia bisa mempertimbangkan sisi positif dan negatif suatu masalah. Dari semua karakter heroine-nya Kleypas, Poppy masuk dalam daftar favorit saya. Kekurangan Poppy itu di sifatnya yang terlalu baik, bahkan kepada mantan pacarnya dan kadang rada naif.

Suka juga sama karakter-karakter pendukung yaitu anggota keluarga Hathaway lainnya. Suka sama kekompakan dan kasih sayang yang kental antara mereka. Suka dengan rahasia Catherine yang semakin terungkap. Dan yang paling saya suka, disini kita bisa melihat chemistry Leo dan Catherine yang semakin terbentuk. Prekuel yang bagus untuk buku berikutnya (Married By Morning) yang menceritakan Leo-Cath.

Suka sama endingnya yang (walaupun) tertutup, tapi bikin penasaran untuk baca buku lanjutannya.

Untuk versi Indonesia ini, saya juga suka covernya yang menggambarkan suasana senja dan bangunan besar yang saya anggap sebagai hotel Rutledge. Suka warna covernya yang bernuansa pink-ungu itu. Cantik banget :D

Yang saya kurang suka adalah proses menuju endingnya. Somehow, rasanya agak terburu-buru. Setelah santai dan ringan di awal, pas mendekati konflik akhir kok jadi makin cepat ya? Penyelesaiannya pun terasa agak diburu-buru. Tapi sungguh, itu kekurangan yang kecil dibanding nilai keseluruhan cerita ini.
"Kau tahu apa itu roda penyeimbang? Ada satu roda seperti itu di setiap jam dinding atau jam tangan. Roda itu berputar maju dan mundur tanpa berhenti. Itu yang menghasilkan suara berdetik, yang membuat jarum jam bergerak maju menandai menit. Tanpa roda itu, jam itu tidak akan bekerja. Kaulah roda penyeimbangku,Poppy."
-Harry Rutledge-
Saya sudah baca kelima serial dalam versi ebook-nya, tapi baca versi terjemahan ini bikin saya penasaran untuk membaca dan mengoleksi lima seri terjemahannya (Hehehe...mbak Desti menambah target buku yang harus saya beli di 2012 ini :D).

Karenanya saya kasi 3,5 bintang untuk Godaan Di Senja Hari versi GPU ini. Tiga bintang untuk ceritanya dan setengah bintang lagi untuk cover dan terjemahannya yang bagus banget itu. Kenapa ceritanya cuma 3 bintang? Karena yah...gak sreg sama konfliknya yang kurang tajam dan penyelesaiannya yang rada terburu-buru.

Quote of the book:
 
Poppy Hathaway : “Aku tidak akan pernah lupa kau merampas pria yang kucintai dan menempatkan dirimu di tempatnya. Aku tidak yakin bisa memaafkanmu sampai kapan pun. Satu-satunya yang kuyakini adalah aku tidak akan pernah mencintaimu. Apa kau masih ingin menikah denganku?”
Harry Rutledge : "Ya. Aku tidak pernah ingin dicintai. Tuhan pun tahu tidak seorang pun pernah mencintaiku."

Monday, January 16, 2012

Graceling

Judul asli : Graceling
Author : Kristin Cashore
Penerjemah : Poppy D Chusfani
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Halaman : 496
Published : December 2011
ISBN 13 : 9789792278224

Graceling adalah cerita tentang Katsa yang mampu membunuh orang hanya dengan tangan kosong sejak dia berumur 8 tahun.
Katsa tinggal di dunia 7 kerajaan, di mana sangat jarang terjadi, ada orang dilahirkan dengan keterampilan  ekstrim yang disebut Graceling. Para Graceling ditakuti sekaligus  dimanfaatkan di dunia itu. Tidak terkecuali Katsa, yang diperintahkan untuk melakukan pekerjaan kotor (penyiksaan dan hukuman) untuk pamannya, Raja Randa dari Middluns.

Sampai dia bertemu Po, seorang asing yang misterius, yang juga Graceling Petarung dan orang pertama yang berani menantangnya berkelahi.

Dengan segera, Po dan Katsa bersahabat erat dan menemukan kenyataan tentang kemampuan Graceling mereka yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya, juga kenyataan tentang satu sama lain dan tentang bahaya mengerikan yang menyebar perlahan-lahan dan dapat menghancurkan 7 kerajaan. Berdua, Katsa dan Po berusaha mengalahkan si sumber bahaya. Walau tak akan mudah, karena kali ini musuh mereka mempunyai bakat yang begitu kuat hingga dapat mengalahkan Katsa.
“When a monster stopped behaving like a monster, did it stop being a monster? Did it become something else?”
-Katsa-
Saya adalah orang yang visual. Karenanya, membaca cerita berlatar sebuah dunia fiktif sejujurnya melelahkan. Sebelum membaca, saya akan menghafal letak para negara di peta dunia fiktif tersebut, termasuk letak sungai dan gunung. Lalu sepanjang membaca buku, setiap kali si penulis mendeskripsikan dunia karangannya, saya turut mengkhayalkan sampai ke bagian terkecil, juga turut melirik peta yang dibuat pengarang demi mengecek apakah khayalan saya sudah sesuai.
Melelahkan bukan?

Bagusnya, dengan Graceling saya tak mengalami masalah serupa. Selain karena peta yang simpel, pemilihan nama-nama kerajaan juga memudahkan saya dalam mengingat letak masing-masing negara. Contohnya saja kerajaan Estill yang terletak di timur (east), Sunder di selatan (south), Nander di utara (North), Wester di barat (west) dan..coba tebak kerajaan apa yang terletak di tengah? Yap...Middluns alias middle. Ini artinya, 1 point untuk dunia 7 kerajaannya Graceling.

Point kedua terletak di karakterisasi para tokoh.
Katsa itu mandiri, ganas dan kuat secara fisik, bahkan lebih kuat daripada Po.
Bagusnya, Po tak berkecil hati karenanya. Po tak terintimidasi dengan bakat Katsa. Dia juga sangat memahami jiwa Katsa dan karenanya membiarkan Katsa melakukan apa pun selama Katsa bahagia. Baginya, Katsa adalah kucing liar yang hidup bebas di alam. Dan tak ada yang boleh merubah itu, bahkan tidak juga Po. Terharu waktu Po bilang : "Aku akan menyerahkan diriku kepadamu tidak peduli kau ingin aku menjadi apa."

Dan Katsa, walau pun secara fisik dia lebih kuat, namun secara mental, dia lebih rapuh daripada Po. Katsa butuh Po untuk mengajarkan bahwa monster sekali pun pantas dicintai dengan tulus. Katsa juga butuh Po untuk menenangkan hatinya yang resah dan sebagai rumah untuk pulang kapanpun dunia terasa melelahkan.
Chemistry yang seperti ini di antara mereka meyakinkan saya bahwa Katsa dan Po memang soulmate.

Karakter sekunder seperti Bitterblue dan Raffin juga menarik. Cashore menggambarkan Bitterblue sebagai gadis cerdas dengan kebijaksanaan melebihi anak umur 10 tahun pada umumnya. Gak wajar sih tapi bisa dimaklumi mengingat kondisi lingkungan yang menuntutnya untuk dewasa lebih cepat. Raffin, sepupu Katsa dan calon raja Middluns, juga karakter yang saya sukai. Sayangnya Raffin kurang berperan disini. Semoga di buku berikutnya (Bitterblue), Cashore memberi porsi lebih pada Raffin.
"I know you're teasing me. And you should know I'm not easily humiliated. You may hunt for my food, and pound me every time we fight, and protect me when we're attacked, if you like. I'll thank you for it."
-Po-
Dua point ini saja sudah membuat saya betah membaca Graceling walau pun buku ini sebenarnya bermasalah dengan alurnya yang lambat.
Adegan pembukanya seru, pembaca langsung disuguhi dengan Katsa yang sedang beraksi. Lalu perkenalan dengan Po dan ketertarikan instan di antara mereka. Dan alur yang berjalan cepat ini tetap dipertahankan sampai Po dan Katsa bertemu lagi.

Dari situ, adegan bergulir lambat. Cashore berlama-lama menggambarkan pergulatan batin Katsa, juga lambat dalam membangun romansa Po dan Katsa, sampai membuat pembaca geregetan. Tapi setelah bersabar melewati, alurnya akan kembali cepat. Hingga tak terasa, sudah sampai di klimaks, kemudian adegan penutup. Pada adegan penutup, Cashore memberi twist pada ceritanya.
Dan baru saat itu, saya mengerti mengapa Cashore perlu berlama-lama di awal. Karena Cashore perlu membangun chemistry antar Katsa dan Po. Cashore juga perlu membangun rasa percaya yang kuat antar mereka berdua, hingga tak ada pembaca yang meragukan ketulusan janji Katsa dan keteguhan Po pada keputusan yang mereka buat di akhir cerita.
"I love you," he said. "You're more dear to my heart than I ever knew anyone could be. And I've made you cry; and there I'll stop.”
-Po-
Bagaimana dengan endingnya? Ah...it's bittersweet for me.
Gak rela Cashore menutup kisah Katsa dan Po dengan cara begitu. Sisi romantis saya menginginkan ending ala Cinderella dengan prinsip "live-happily-ever-after". But it would be so predictable. Dan itu bukan gaya Katsa. Dia bukanlah orang yang mau mengubah prinsipnya demi orang lain. Lagipula sekali pun Katsa bersedia, Po tak akan membiarkannya.
Di sisi lain ending itu juga sweet, karena menunjukkan kuatnya ikatan dan kepercayaan Katsa dan Po terhadap satu sama lain. Berapa jauhnya hubungan mereka berkembang dibandingkan awal cerita.

Dan ending yang seperti itu menggugah rasa penasaran saya pada kelanjutan nasib Katsa dan Po. Penasaran yang cukup besar hingga membuat saya berniat membaca Bitterblue (bagaimana pun ceritanya nanti), karena saya ingin melihat kelanjutan kisah Katsa dan Po. Toh Cashore sudah berjanji mereka berdua akan muncul lagi di Bitterblue.

Untuk terjemahannya, gak ada masalah sama sekali. Dari awal tahu kalau penerjemahnya adalah Poppy D Chusfani, saya sudah yakin gak bakal ada masalah. Saya juga suka covernya. Permainan warna ungu dan jingga di latar belakang serta ilustrasi gadis perkasa di cover depan terasa "kena" untuk cerita ini.
"One man loves you wholeheartedly. He follows you around like a shadow everyday
That man is laughing though inside he's crying.
That man has many stories that he can't even tell his best friend. That's why that man
love you, because you are just same as him."
Hyun Bin - That Man
Itu adalah lagu yang terus bermain di benak saya saat membaca bagian pertama buku ini. Dan di ending, justru lagu Breathless-nya Better Than Ezra-lah yang mengalun. Ah senang sekali. Sudah lumayan lama sejak terakhir saya ketemu buku yang "bernyanyi".

Untuk ini semua, saya kasih 4 bintang untuk Graceling. Karena banyak novel fantasi bagus di luar sana, tapi tak banyak dari mereka yang bernyanyi. Ditambah setengah bintang untuk terjemahan dan cover-nya.

"I thought you'd want to know. 
That when you feel the world is crashing, all around your feet
Come running headlong into my arms"

Better Than Ezra - Breathless

Sunday, October 30, 2011

Setelah Dia Pergi

Judul Asli : Where She Went
Pengarang : Gayle Forman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Alih bahasa : Poppy D. Chusfani
Editor : Dini Pandia
Publish : 27 Oktober 2011
ISBN / EAN : 9789792276503 / 9789792276503
240 hlm; 20 cm

Buku ini merupakan lanjutan If I Stay yang juga karangan Gayle Forman. Jadi...kalau anda memang belum membaca If I Stay, please jangan baca review ini. Karena, tanpa bisa dihindari, review ini akan memberi spoiler pada ending If I Stay dan akan mengurangi keasyikan membaca If I Stay nantinya.

"She kissed me good-bye. She told me that she loved me more than life itself. Then she stepped through security. She never came back."
-Adam Wilde-
Cerita dimulai tiga tahun sejak kecelakaan tragis yang merenggut keluarga Mia. Dan tiga tahun juga sejak Mia keluar dari kehidupan Adam.
 Dalam tiga tahun ini, Mia berjuang menyembuhkan luka fisik dan jiwa yang dialaminya karena kecelakaan. Sekarang, dia adalah cellist muda berbakat dari Juilliard yang akan memulai karier profesionalnya.

Dalam tiga tahun ini juga, Adam berusaha keras melupakan Mia. Sekarang ini, Adam sudah menjadi bintang rock terkenal, diganjar berbagai platinum dan award, pengidap anxiety disorder dan berubah jadi sosok yang pahit. Adam sadar dia berjalan menuju kehancuran walau tak tahu bagaimana menghentikan dirinya.

Suatu hari yang panas di New York, takdir mempertemukan mereka lagi. Tersedia waktu 24 jam untuk bersama sebelum masing - masing pergi ke benua yang berbeda. Maka Mia mengajak Adam untuk menjelajahi kota yang sekarang menjadi rumahnya sambil mengunjungi masa lalu, untuk membuat sebuah 'closure' atau penutup pada hubungan mereka yang mengambang. Dan juga untuk menjawab pertanyaan terbesar Adam selama 3 tahun ini :  "KENAPA??!!" Kenapa Mia pergi dan kenapa dia melakukan ini pada Adam? 
"Someone wake me when it's over. When the evening silence softens golden. Just lay me on a bed of clover. Oh I need help with this burden." 
Collateral Damage - Hush
Where She Went (WSW) adalah cerita-nya Adam. Sebagai narator tunggal, Adam bercerita tentang hidupnya, kariernya yang meroket, kehampaan dan kepedihannya juga kenangan hidupnya dengan dan tanpa Mia. Sama dengan If I Stay, novel ini juga bercerita dengan gaya flashback, dari masa kini-ke masa lalu-dan kembali ke masa kini.

Saya pernah bilang yang saya suka dari If I Stay adalah karakter Mia dan Adam yang realistis. Di buku ini, sisi realistis itu masih terjaga, walau tentu saja mereka sudah berubah.
Mia jelas berubah. Gak ada yang bisa tetap sama setelah melewati peristiwa tragis itu. Perubahan Mia lebih menarik dibaca langsung di bukunya, karena itu gak saya spoil disini ^-^

Adam...yah dia jelas berubah juga. Sayang perubahannya ke arah yang lebih buruk. Tapi disinilah hebatnya Forman, walau tak setuju dengan perubahan Adam, namun saya bisa mengerti. Forman bisa meyakinkan saya bahwa perubahan Adam wajar saja. Dia membuat Adam jadi karakter yang emo tapi gak menye dan mellow. Sehingga bukannya kesal sama Adam (saya suka kesal sama tokoh cowok yang terlalu emo), saya malah bersimpati.

Sejujurnya, saya terharu pada Adam.
Waktu baca If I Stay, karena membaca hanya dari sisi Mia, saya gak memahami seberapa dalamnya perasaan Adam ke Mia. Saya pikir jenis cinta mereka hanyalah cinta monyet masa remaja.

Ternyata saya salah.
Lewat cerita Adam, saya tahu bahwa sejak awal dia sudah serius dengan Mia. Bagi Adam, ini adalah cinta yang nyata, dan karenanya, saya bisa paham mengapa dia hancur ketika Mia pergi. Saya ikut merasakan kegeraman dan rasa penasaran Adam terhadap Mia.

Saya ikut bersedih untuk Adam ketika mengetahui alasan di balik kepergian Mia. Tapi akhirnya, sama seperti Adam, saya bisa menerima alasan Mia dan setuju ketika Adam mengikhlaskan apa pun keputusan Mia, termasuk melepaskannya bila perlu.
"Hate me. Devastate me. Annihilate me. Re-create me. Re-create me. Won't you, won't you won't you re-create me."
 -Collateral Damage-
Yang juga saya suka di WSW ini adalah chemistry Mia dan Adam yang makin bagus. Seperti yang saya bilang, Adam sudah berubah. Tapi saya bisa melihat kembalinya Adam yang dulu setelah dia bertemu Mia lagi. Hanya Mia yang bisa mengeluarkan sisi terbaik Adam. And for me, that's sweet :)

Oh and I love the ending too.
Nope, I won't spoil it here. I'd just say that Forman tied the ending with a red ribbon but not too tight :)
"Are you happy in your misery? Resting peaceful in desolation? It's the final tie that binds us. The sole source of my consolation"
Collateral Damage - Blue
Buat saya, kekurangan di seri ke-2 ini adalah musik.
Musik sangat berperan bagi hubungan Mia dan Adam. Musik-lah alasan perkenalan sekaligus penghias kebersamaan mereka. Musik-lah yang membantu Mia dalam pemulihan pasca kecelakaan. Musik juga yang menjadi pelarian Adam setelah ditinggal Mia. Dan pada akhirnya, musik yang mempertemukan mereka lagi.

Dengan peran sebesar itu, mestinya musik menjadi nafas di buku ini. Tapi somehow, entah kenapa, musik tidak mempunyai kesan yang kuat bagi pembaca. Minimal tidak sekuat buku pertamanya.

Tapi biar begitu, sepanjang membaca buku ini, ada 2 lagu yang bermain di benak saya. Yang pertama adalah Waiting For The End-nya Linkin Park. Yang kedua, sejak Adam bertransformasi setelah bertemu Mia, lagu yang terngiang adalah The Only Exception-nya Paramore.
"First you inspect me. Then you dissect me. Then you reject me. I wait for the day that you'll resurrect me"
Collateral Damage - Animate
Cover versi GPU menggambarkan sisi belakang sebuah gitar yang disandarkan pada pintu usang bercat hijau. Dari cover-nya, saya mendapat 'feel' suasana musim panas, seseorang yang jenuh atau lelah dengan kehidupannya dan ingin berbalik dari dunia. Cover yang cantik dan sangat menggambarkan isi buku ini. Cover designer-nya memang favorit saya : Marcel A.W.
Dan jelas menang jauh dibanding cover aslinya.

Untuk terjemahan, hmm...entah lah ya. Saya terharu sih waktu baca. Tapi gak sampai nangis juga. Beda banget dengan review-review di goodreads yang bilang ini "tearjerker book".
Ada apa? Salah penerjemahan kah?
Tapi penerjemahnya sama kok dengan di If I Stay. Dan beliau itu salah 1 penerjemah favorit saya.

Karena penasaran, saya membaca versi US-nya. Dan ternyata...mata saya berkaca - kaca. Saya memang lebih merasa terharu tapi tetap aja gak sampai menangis.

Berarti gak ada yang salah dengan terjemahan GPU. Memang begitu lah cara Forman menulis WSW, berjiwa namun kurang emosional. Seenggaknya gak seemosional If I Stay klo menurut saya. Fyuh...thanks, GPU. U still do not fail me :).

And then...
Menurut saya Where She Went sangat layak dibaca. Untuk menjawab rasa penasaran akan If I Stay, untuk melihat kelanjutan kisah Adam dan Mia. Dan terutama untuk belajar dari mereka tentang mengatasi kehilangan.

Empat bintang untuk Where She Went baik versi terjemahan mau pun versi US.

PS : Saya sih berharap GPU akan tetap menerbitkan karya-karya Forman yang lainnya. ^_^

Quote of the book :
"But I'd do it again. I know that know. I'd make that promise a thousand times over and lose her a thousand times over to have heard her play last night or to see her in the morning sunlight. Or even without that. Just to know that she's somewhere out there. Alive."
-Adam Wilde-

Wednesday, October 26, 2011

Jika Aku Tetap Disini

Judul Asli : If I Stay
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Alih bahasa : Poppy D. Chusfani
Editor : Dini Pandia
Publish : 8 Februari 2011



“I realize now that dying is easy. Living is hard.” 
-Mia Hall- 

Buku ini bercerita tentang Mia, seorang pemain Cello berbakat berumur 17 tahun. Kehidupan Mia normal saja dengan keluarga yang harmonis dan pacar yang menyayanginya.
Masalah terbesar Mia dalam hidup adalah memutuskan apakah dia akan ke New York demi mengejar mimpi masuk Juilliard atau tetap tinggal di kota kecilnya bersama keluarga dan pacar tercinta. Should she stay or should she leave?

Di suatu hari bersalju, kehidupan Mia berubah. Kecelakaan naas menimpa mobil yang ditumpangi keluarga Mia. Mia tak tahu pasti apa yang terjadi. Yang dia tahu, sewaktu sadar, dia melihat kedua orang tuanya dalam kondisi mengenaskan dan adiknya entah dimana. Berikutnya, Mia (ato lebih tepat: rohnya Mia) melihat tubuhnya dibawa ke RS hingga masuk ICU. Dia koma dan tak ada yang tahu, apakah dia akan sadar lagi atau tidak.
Dan pertanyaan yang dihadapi Mia tetap sama : Should she stay or should she leave?
"Well, what was that? What's that sound that I hear? It's just my lifetime. It's just whistling past my ear. And when I look back everything seems smaller than life. The way it's been for so long since last night..."
-Waiting for Vengeance-
Novel ini diambil dari sudut pandang Mia hingga rasanya benar-benar seperti Mia sendiri yang bercerita kepada kita. Sambil turut mengawasi fisik Mia yang sedang dirawat dan melihat para penjenguknya, dalam sehari itu Mia juga akan bercerita pada kita tentang keluarganya, Adam (kekasihnya) dan kecintaannya pada musik klasik. Juga pada dilema yang dihadapi Mia untuk tetap tinggal atau pergi. Sebagai pembaca, tentu saja sejak awal saya berharap dia tinggal, namun melalui penuturan Mia, saya paham jika dia ingin pergi.
Tenang...walau pun cerita di novel ini tragis, tapi gak mellow kok. Anda akan merasa terharu pada Mia, tapi gak akan sampai meratapi nasibnya ;).

Menurut saya, tema terbesar di buku ini bukanlah tentang hidup dan mati. Tapi tentang pilihan-pilihan yang kita hadapi sepanjang hidup. Dan bukan hanya Mia.
Di buku ini, ada beberapa karakter yang hidupnya berjalan tidak sesuai dengan yang diniatkan pada awalnya. But that's okay. Cause that's life. Not everything could goes the way you've planned it. Ucapan Ayah Mia cukup mewakili tema buku ini : "Sometimes you make choices in life and sometimes choices make you."
“And that's just it, isn't it? That's how we manage to survive the loss. Because love, it never dies, it never goes away, it never fades, so long as you hang on to it."
-Mia Hall-
Salah satu hal yang paling saya suka dari buku ini, adalah karakternya yang realistis. Disini gak ada cowok 'vampir-romantis-rela-berkorban', gak ada juga cowok 'miliuner-namun-enggan-berkomitmen' ato pria bangsawan nan angkuh. Yang ada hanya Adam, anak band biasa saja yang mencintai Mia dengan tulus.
Gak ada cewek menye-menye yang egois, gak ada lady yang cantik namun miskin, atau gadis cerdas tapi sok tahu. Yang ada cuma Mia, siswa dengan prestasi akademis biasa saja dan 'rada' serius yang pas untuk anak pendiam sepertinya.

Dan semua karakter yang realistis ini membuat kita merasa kenal pada Mia dan bersimpati karena merasa bahwa apa yang menimpanya dapat juga menimpa kita.
 “I'm not sure this is a world I belong in anymore. I'm not sure that I want to wake up.”
-Mia Hall-
Minus di buku ini?
Kurang tebal, kurang banyak :D.
Awalnya saya juga protes tentang ending-nya. Soalnya kok ya gitu aja. Setelah kita tahu apa keputusan Mia, langsung tamat ceritanya. Jadi kurang puas. Protes saya berakhir ketika tahu bahwa buku ini masih ada lanjutannya. Syukurlah :)
“It's okay if you want to go. Everyone wants you to stay. I want you to stay more than I've ever wanted anything in my life. But that's what I want and I could see why it might not be what you want. So I just wanted to tell you that I understand if you go. It's okay if you have to leave us. It's okay if you want to stop fighting."
-Gramps-
Dari segi cover, saya suka banget dengan cover buku ini. Sebuah bangku merah dengan latar belakang musim dingin yang kelabu. Suasana hening dan muram dalam buku ini sangat terwakilkan oleh covernya. Saya sudah melihat macam-macam versi cover If I Stay dari berbagai negara, dan tetap saja paling suka dengan versi cover Gramedia.

Untuk terjemahan, waktu saya membaca buku ini dalam bahasa aslinya, menurut saya suasana yang cocok untuk mendapatkan 'feel' buku ini adalah : cuaca dingin, berlindung di balik selimut, ditemani Pathetique Sonata-nya Beethoven atau Ballad no 1-nya Chopin.

Lalu kalau gak punya itu semua gimana?
Gak masalah kok :).
Saya membaca buku versi terjemahan GPU saat liburan ke Belitung, di pinggir pantai yang panasnya 'naujubile' dan berisik banget. Yang terjadi adalah saya lupa dengan panas di sekitar dan sonata-nya Beethoven serta Chopin terus bermain di kepala saya.

Kok bisa?

Jelas bisa-lah. Saya juga gak terlalu paham. Tapi ada sesuatu dalam bahasa terjemahan GPU yang mampu membuat suasana dingin dan hening di buku menjadi terasa nyata. Versi terjemahan GPU juga bisa menyampaikan kesedihan dan keharuan yang dituliskan Gayle Forman.

Salut buat penerjemah, editor, ilustrator cover, proofreader (ada gak sih?) dan semua pihak di GPU yang bisa menghidupkan buku ini sebagus yang dituliskan Forman. You guys really did a very good job :).

Akhir kata, saya merekomendasikan buku ini sebagai bacaan wajib. Saya gak bisa janji bahwa anda akan merasa tersentuh atau terharu seperti saya. Tapi saya bisa jamin, anda gak akan menyesal meluangkan waktu dan dana untuk membacanya karena buku ini benar - benar layak dibaca :).

Empat bintang untuk If I Stay versi US dan 4,5 bintang untuk versi terjemahan GPU (setengah bintang khusus untuk cover-nya yang cantik).

PS : Menurut berita sih, buku ini akan difilmkan dengan Dakota Fanning sebagai Mia. Yeaayy...gak sabar nunggunya. Fanning salah satu aktris favorit saya (^_^)

Quote of the book:
“If you stay, I'll do whatever you want. I'll quit the band, go with you to New York. But if you need me to go away, I'll do that, too. I was talking to Liz and she said maybe coming back to your old life would be too painful, that maybe it'd be easier for you to erase us. And that would suck, but I'd do it. I can lose you like that if I don't lose you today. I'll let you go. If you stay.”
-Adam Wilde- 

Breaking Dawn


Uhm....udah lama ya saya gak bikin review yang penuh celaan?
Let's start now ;) *merentangkan lengan kiri - rentangkan lengan kanan - lemaskan kedua jari - kretek - kretek - ah..feel good ^_^*

For Twilight Saga fans, back off please.
If you still insist to read, well..you've been warned
Oh and alsooo...FULL SPOILER!!! (tapi hari gini masak iya masih belum baca nih buku?)

SINOPSIS :

Bila kau mencintai orang yang membunuhmu, kau tak punya pilihan. Bila nyawamu satu-satunya yang harus kauberikan untuk orang yang kaucintai, bagaimana mungkin kau tidak memberikannya? Bagi Bella Swan, mencintai dan dicintai vampir bernama Edward adalah bagaikan khayalan dan mimpi buruk yang dirajut jadi satu ke dalam kenyataan. Bukan itu saja, hubungannya yang sangat istimewa dengan Jacob Black sang werewolf, ternyata menyeret Bella ke pilihan-pilihan pelik yang membuat hati keduanya tercabik-cabik. Tapi konon cinta harus memilih, dan karenanya Bella harus memutuskan. Dan sebagai orang yang sangat mengenal Bella, Jacob tahu persis apa keputusan gadis itu. Lalu sanggupkah Jacob meninggalkan Bella selamanya untuk menyembuhkan luka-luka hatinya sendiri? Dan ketika Bella mencarinya, sanggupkah Jacob mengatakan tidak?

COMMENT :

Selama baca buku ini saya curiga, jangan - jangan saya masochist? Soalnya saya tetap menuntaskan baca buku ini walaupun sebenarnya saya udah eneg, bete dan pengen buanget ngerobeknya.

Tapi saya lebih curiga lagi klo Stephanie Meyer itu sadistis!
Soalnya, saya gak ngerti kenapa Meyer tega ngehancurin masterpiece nya (Twilight) menjadi Breaking Dawn.

Ayo kita mulai dari :
1. karakter paling menyebalkan di buku ini : BELLA!
Halaman - halaman awal buku ini udah bikin saya bete sama Bella. Dia mengeluh tentang mobil sport canggihnya yang diberikan Edward. Dia mengeluh tentang persiapan nikahnya, tentang gaun pengantin dan cincinnya. Dan semuanya cuma karena dia khawatir dengan anggapan negatif orang - orang asing yang (bahkan) dia gak kenal karena dia nikah muda.
Saya jadi kasihan sama Bella karena dia musti menikah dengan orang-yang-dia-cintai-lebih-besar-daripada-hidupnya.

Belum lagi egoisnya Bella yang udah dimulai di buku sebelumnya dan ditonjolkan banget di sini. Dimulai dari perlakuannya ke Jacob.
Di Eclipse, Bella nyadar kalo dia mencintai Jacob tapi gak bisa hidup tanpa Edward. Jadi, dia memilih Edward.
Fine! Gak ada yang salah dengan itu.
Tapi ternyata, Bella gak bisa ngelepasin Jacob, sodara - sodara! Di pernikahannya aja, Bella udah flirting dengan Jacob. Selama kehamilannya, dia merasa gak bisa pisah dengan Jacob, pengen selalu bareng sama dia. Dan keegoisan Bella mencapai puncak waktu dia menamakan bayinya yang belum lahir dengan Edward Jacob.

Edward Jacob??? Seriously... Edward JACOB???
Dan langsung memberi nama seperti itu bahkan tanpa konsultasi dengan Edward? Tidak terpikirkah kalo Edward (mungkin) gak suka dengan nama itu? Is that your child with Edward or your child alone?
I fail to see why Edward and Jacob love this girl so much.

2. Edward..
Siapa pun kamu, anggota team Jacob ato pun team Edward, saya yakin alasan pertama kamu mengikuti Twilight (pada awalnya) adalah Edward.
Edward adalah gambaran paling ideal dari seorang hero di novel romance. Tapi pada akhir saga ini, saya berpendapat Edward bukanlah sosok ideal. Dia seorang masokis yang terobsesi pada Bella. Begitu terobsesinya sampai buta. Dan yang tadinya rada iri sama Bella, saya malah jadi kasihan sama Edward. Bayangin aja, kalimat favorit Edward adalah : "Kalau itu membuatnya bahagia, maka aku akan melakukannya."
*rolleyes* *rolleyeslagi* *ehcopot* ;p

Melalui karakter Edward, saya mendapat pesan : kalo kamu mencintai seseorang, lakukan apa pun yang membuatnya bahagia. Apa? Perasaanmu tersakiti dan harga dirimu terinjak? Gak papa!!! Karena yang terpenting adalah, dia bahagia. Ayo ulangi lagiiii....Yap betuuulll.... Dia bahagiaaaaaaaaa (ini semacam metode brain wash baru versi Meyer) :p

Oh Tante Meyer, kalo kayak gini pendapat Anda tentang cinta, maka saya prihatin dengan Anda.

3. Jacob..
Ini satu lagi karakter masokis dalam saga ini. Kalo saya ketemu Jacob, saya bakal bilang :"Dude, get a life. There're still many girls out there." Trus udah gitu saya mo keplak Jacob bolak balik. Maksudnya biar otaknya kembali ke tengah gitu dan nyadar klo sebenernya si Meyer ini benci banget banget sama Jacob

Yup...pasti Meyer benci banget banget sama tokoh rekaannya ini. Soalnya selain benci banget banget, saya gak menemukan alasan kenapa kok ya ada pengarang yang tega kasi nasib setragis itu ke ciptaannya sendiri.

Oke lah kalo Jacob cinta banget sama Bella, tapi setelah jelas Bella memilih Edward, mestinya Jacob dibiarkan saja menyingkir untuk mengobati sakit hatinya kan? Bukannya disuruh datang lagi dalam hidup Bella dan (kembali) sakit hati melihat kenyataan Bella gak bisa ngelepasin dia tapi juga milih Edward.
Belum lagi soal imprint nya Jacob.
Waktu pertama kali Meyer memperkenalkan konsep imprint, saya sudah excited aja, menduga-duga siapa yang jadi imprint-nya Jacob nanti. Leah mungkin. Ato salah satu temannya Bella. Ato Jane yg di kelompok Aro itu. Ato cewek pemadat. Ato ibu beranak 7. Ato... oke...you get the point.

Tapi kesenangan itu hilang begitu saya tahu dia imprint dengan putri Edward dan Bella.
Oh My God!!! *tepokjidat* *jidatnyaMeyer*
Tepat pada saat saya mikir cerita ini gak bisa lebih kacau lagi, it did.

Maksud saya, kenapa siiihh harus seseorang yang berhubungan dengan Bella? Gak bisakah Jacob mendapat kebahagiaannya tanpa dekat - dekat dengan Bella? Kenapa gak kasi Jacob cewek lain yang hidupnya sungguh sangat menderita? Jadi Jacob bisa berperan sebagai prince charming yang menyelamatkan seorang damsel in distress.

4. The storyline
Di antara semua hal tentang Breaking Dawn, point ke 4 ini yang paling bikin saya kecewa.
Dari sejak awal, kita sudah diberi tahu betapa menderitanya jadi vampire. Bahwa keluarga Cullen, seandainya mereka bisa kembali ke masa lalu, tak akan memilih untuk jadi vampire.

Ini cara hidup yang dikutuk Tuhan. Banyak kekurangan dan derita pada kehidupan vampire apalagi vegetarian vampire kayak keluarga Cullen. Seperti merasa haus dan mesti menahan godaan untuk gak menyerang manusia bahkan saat sedang lapar, Bella musti rela putus hubungan dari keluarganya, dan Bella gak bakal bisa punya anak.

Dan di Breaking Dawn, semua alasan itu dihancurkan dengan sempurna!

Begitu Bella membuka matanya di hari pertama dia jadi vampir, semua lebih indah, lebih berkilau, bahkan Bella pun lebih cantik.

Lalu...secara ajaib, Bella gak merasakan "haus" yang dialami para vampire. Kemampuan untuk mengontrol naluri menyerang manusia yang umumnya dipelajari bertahun - tahun, didapat Bella dengan mudah.

Bella juga gak kehilangan keluarganya. Orang tuanya bisa mengerti perubahannya walau pun gak tahu alasannya. Gak ngerti deh orang tua Bella ini terlalu sayang anak ato malah cuek. Normalnya kan orang tua pasti penasaran kalo ada yang aneh dengan anaknya. Apalagi anak yang segitu disayang kayak Bella.

Dan di atas semua itu, Bella punya anak! Salah satu faktor yang membuat Edward berusaha mencegah Bella jadi vampire dihancurkan di novel ini.

Oh ada 1 lagi.
Ada yang masih ingat kenapa Bella bisa punya anak?
Karena dia ngotot mau berhubungan dengan Edward sebelum dia jadi vampire. Dia takut "human emotion"nya bakal hilang. Ternyata, setelah dia berubah jadi vampire, semua "emotion" itu masih ada, dan bahkan bertambah berkali - kali lipat. Dan semua kenikmatan itu....abadi. Wow... -___-

Di akhir saga ini, saya jadi berpikir : kenapa kita gak jadi vampire aja sih? Hidup tampak lebih indah dan lebih mudah setelah Bella jadi vampire, so kenapa kita (para pembaca) gak bisa mengalami hal yang sama?

Judul Breaking Dawn menggambarkan awal hari yang baru untuk Bella. Dan dalam penjelasannya mengenai cover Breaking Dawn, Meyer menjelaskan klo cover itu menggambarkan transformasi Bella yang awalnya cewek lemah (pion catur) jadi yang paling kuat (ratu).

Saya pribadi berpendapat, cover itu menggambarkan Bella sebagai ratu yang mendapatkan semua yang diinginkannya, dan para pembaca (well...saya sih tepatnya) sebagai pion, yang mukanya merah karena emosi sehabis membaca novel ini.

Rating?
Oh...haruskah ada rating?
Sebenarnya gak pengen. Tapi saya menghargai usaha Meyer untuk menulisnya, lalu usaha penerbitnya. Jadi setengah bintang saja boleh lah ;p

Setengah bintang karena sampai akhir, saya masih gak ngerti apa sih pesan moral yang ingin diberikan Meyer dengan saganya ini?
Ada yang bisa kasih tahu saya?

Monday, March 9, 2009

Eclipse

Judul Asli : Eclipse
Judul Terjemahan : Gerhana
Penulis : Stephenie Meyer
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2008
Rating : 2 out of 5 stars

Di antara ke-4 Twilight saga, Eclipse adalah seri yang paling bikin saya eneg dan gak tahan karena di buku ini tergambar jelas betapa egoisnya Bella.

Melanjutkan cerita dari buku ke dua, dimana Bella memilih Edward, maka sekarang dia harus menerima konsekuensinya, yaitu renggangnya hubungan persahabatannya dengan Jacob.
Juga karena sifat Edward yang overprotektif, dia melarang Bella ke La Push (konservasi tempat tinggal suku Jacob) dengan alasan takut Bella gak aman karena dikelilingi para werewolf (Ironis bukan karena Edward beranggapan vampir lebih aman daripada werewolf:p)

Sayangnya, Bella adalah cewek egois nan keras kepala. Semakin keras Edward melarang, semakin keras pula niat Bella untuk bertemu Jacob. Dia bahkan sampai nekat kabur menemui Jacob di saat Edward sedang pergi berburu.
Dan reaksi Edward?
Tetap selembut dan sepengertian biasanya. malah Edward mengakui kalo masalah terbesar dia sehubungan dengan Jacob adalah masalah pribadi dan memberikan full blessing ke Bella untuk berkunjung ke La Push kapan pun dia mau.

Wow...Wow...banget ya punya cowok sepengertian itu. (ato se-masokis itu?)

Cerita pun terus bergulir hingga ke klimaks ketika kasus kriminalitas dan orang hilang terus meningkat di Seattle. Yang sebenarnya terjadi adalah seorang vampir bernama Victoria menciptakan vampir - vampir baru yang liar dan haus darah untuk memburu Bella. Hal ini dilakukan Victoria karena diamasih mendendam terhadap Edward karena telah membunuh kekasihnya James (kisah selengkapnya ada di Twilight).

Tentu saja keluarga Cullen tidak tinggal diam. Mereka pun berusaha menggalang kekuatan untuk melawan vampir ini. Sayangnya, mereka tidak mendapat dukungan dari rekan vampir mereka.
Di saat itulah, Jacob dan kawanan werewolf-nya menawarkan kerja sama dengan keluarga Cullen demi melindungi Bella khususnya dan kota Forks umumnya.

Di sisi lain, Bella pun harus menghadapi konfliknya sendiri.

Yah...one thing lead to another, singkatnya Bella dan Jacob berciuman (dan saya menyadari betapa tricky-nya Jacob dalam hal ini). Dan Bella pun dipaksa untuk menghadapi kenyataan bahwa ternyata dia mencintai Jacob lebih dari sekedar sahabat.
Tepatnya ini kalimat Bella : "Jacob was right. He ’d been right all along. He was more than just my friend. That ’s why it was so impossible to tell him goodbye — because I was in love with him. Too.
I loved him, much more than I should, and yet, still nowhere near enough. I was in love with him, but it was not enough to change anything; it was only enough to hurt us both more. To hurt him worse than I ever had."


Dan sejujurnya, point inilah yang membuat saya bete abis dengan Eclipse. Seakan belum cukup Edward disakiti perasaannya selama ini. Mulai dari menahan diri melihat kedekatan Bella dan Jacob, mendengar keluh kesah Bella tentang Jacob, menghadapi Jacob yang emosional dan selalu beranggapan bahwa Edward membuat kesalahan besar dengan kembali, menahan diri mendengar Bella menyebut Jacob sebagai Jacob-ku, dan sekarang...INI pula!!!

Dan well...si Edward yang kelewat baik itu sama sekali gak marah. Malah dia sangat pengertian.
Dia berkata bahwa Bella adalah manusia dan ada beberapa kebutuhannya yang hanya bisa dipenuhi oleh manusia juga. Edward juga mengerti bahwa sewaktu meninggalkan Bella, dia membuat lubang di hati Bella dan Jacoblah yang menjahit luka itu dengan rapi.
Dan saking baiknya...Edward juga mengatakan bahwa Bella tak perlu memilih. Bahwa Bella dapat memiliki seberapa besar pun bagian dirinya atau malah tidak sama sekali, asalkan Bella bahagia.

Oh geez...
Si Edward ini benar-benar masochist deh aaahh.

Trus si Jacob???
Saya bete sekaligus kasihan sama dia.
Iiiihhh....si Bella ini PHP sekali sih. Kasian kan Jacob, udah di-PHP-in selama 2 buku lebih, di buku ke-3 akhirnya ciuman, eh cuma untuk ditolak.

Senangnya sih...at least reaksi Jacob masih bisa dibilang normal lah. Dia gak yang pengertian dan baik kayak Edward gitu. Dia malah bete banget.
Oke...anggap aja yang kayak gitu normal *kalo gw yang jadi Jacob siiihhh....gw gak bakal seanteng itu*

Dari segi penerjemahan, saya sama sekali gak punya keberatan dengan buku ini. Gaya terjemahannya enak banget, sebagus New Moon.
Dari segi cover, versi Indonesia-nya juga oke. Hanya menggambarkan keadaan gerhana, sesuai dengan judul buku. Cover yang melambangkan perasaan Bella ke Edward yang seperti gerhana hingga menutupi perasaannya ke Jacob.



 Walaupun begitu, cover versi US juga menarik. Di versi US tampak sehelai pita yang hampir putus. Stephenie Meyer mengatakan bahwa pita yang terbelah dua itu menggambarkan bahwa Bella harus memilih antara Jacob dan Edward, juga seutas benang yang menghubungkan kedua bagian pita menggambarkan bahwa Bella tidaklah bisa benar - benar terlepas dari kehidupannya sebagai manusia.

Satu hal yang membuat Eclipse masih terselamatkan (setidaknya menurut pendapat saya) adalah perkembangan plotnya.
Di Twilight dan New Moon, Bella memutuskan untuk menjadi vampir tanpa benar - benar menyadari konsekuensi pilihannya. Di Eclipse, Bella menyadari konsekuensinya dan memutuskan untuk menerima. Semua aspek, cerita, plot dan hubungan di novel Eclipse ini mengacu pada point itu.

Disini juga, Jacob menyadari bahwa Edward adalah obat bagi Bella. Dan dia tak bisa mengalahkan Edward. Sehingga untuk pertama kalinya, Jacob menyadari sebaiknya dia mundur.

Satu hal lagi, sebenarnya melegakan juga (bagi Edward setidaknya) mengetahui bahwa Bella mempunyai pilihan lain. Dia dapat memilih cinta yang lebih mudah bersama Jacob. Cinta yang tidak membuatnya harus mengorbankan keluarga dan masa depannya. Dan tetap saja, dia memilih Edward. Seperti yang Jacob bilang,bahwa setidaknya Bella menyadari perasaannya terhadap Jacob, tahu bahwa dia punya pilihan.

So me (as a reader) could expect a less drama for the next book. Pleaaaaseee...

Quote of the books :
The Clouds I Can Handle, but I Can't Fight with an Eclipse
-Jacob Black-