Showing posts with label 4 bintang. Show all posts
Showing posts with label 4 bintang. Show all posts

Friday, December 21, 2012

Camar Biru

Judul : Camar Biru : Cinta Tak Selalu Tepat Waktu
Penulis : Nilam Suri
Penerbit : GagasMedia
Tahun Terbit : November 2012
Bahasa : Indonesia
ISBN : 9797806030
Rating : 4 out of 5 Stars

Ini cerita tentang sebuah bujursangkar, yang dulu pernah begitu solid namun kini terpecah karena sebuah tragedi.

Ini cerita tentang Nina, salah satu sisi bujur sangkar yang tersisa. Sang putri gulali dengan warna pastel yang berubah jadi manusia kelabu berhati biru. Nina yang hidup dalam kurungan kenangan masa lalu. Nina yang sekadar "bertahan" untuk hidup namun juga ingin menghilang.

Ini juga cerita tentang Adith, sisi lain yang tersisa dari bujur sangkar. Adith memang bukan pangeran tampan berkuda putih-nya Nina, tapi Adith adalah pangeran yang selalu setia di samping Nina. Adith yang tidak membiarkan Nina menghilang.

Berawal dari pemenuhan sebuah janji yang terucap sepuluh tahun lalu, kini Adith dan Nina belajar untuk memaafkan masa lalu, berani menapak masa depan dan menerima satu sama lain dalam hati masing-masing.


Pertama kelar baca buku ini, saya bengong sesaat. GIMANA CARANYA BIKIN REVIEW BUKU INI SECARA FAIR TANPA CURCOL???

Well...anyhoo this is my attempt. Mudah-mudahan sih fair dan gak jadi curcol. Dan mudah-mudahan juga gak ada spoiler. Tapi kalo pun iya, you've been told before :p.

Satu, saya suka sama penggalan lagu-lagu yang ada di tiap bab, fits my taste. Terutama buat lagu "Paint It Black"nya The Rolling Stones yang pernah jadi soundtrack hidup saya dan "Blackbird"nya Beatles yang masih menjadi soundtrack saya.

Dua, saya kurang nyaman dengan gaya bahasa loe-gue yang dipake di buku ini. Saya ngerti kalo percakapan antar tokoh pake gue-loe, ato ketika yang bernarasi adalah tokoh pria, tapi saat semua tokoh menggunakan gue-loe, maka yep...saya terganggu.

Tapi saya salut. Walopun pake bahasa gue-loe, percakapan antar tokoh di buku ini berbobot. Bahasa ringan yang digunakannya membuat pesan yang ingin disampaikan jadi "kena". Saya juga suka analogi-analogi yang digunakan oleh Nilam. contohnya percakapan mengenai Dufan berikut ini :

"Lo tahu nggak kenapa gue bilang tempat ini sebagai tempat kebahagiaan semu?" "Karena menurut gue, orang - orang yang sedang menaiki wahana ini sebenarnya sedang setengah mati ketakutan. Mereka sebenarnya sedang setengah mati ketakutan dan berusaha menutupinya dengan tawa."
Tiga, masih soal gaya bahasa. Sama kayak mas Tomo, saya nggak ngerti kenapa Sinar membahasakan diri dengan "saya" ke Nina. Mereka sangat akrab bukan? Kenapa nggak pake "gue-lo" aja? Ato paling nggak "aku-kamu" lah. "Saya" itu kesannya resmi banget untuk seorang istimewa yang dikenal selama 20 tahun lebih.

Empat, saya nggak nyaman dengan multi POV yang dipake buku ini.
Don't get me wrong. Saya suka kok baca cerita yang pake POV 1 ato POV berapa pun itu. Saya juga suka kalo cerita pake multiple POV 1 yang membuat setiap tokoh utama ber-narasi seperti yang terjadi di Perfect Chemistry-nya Simone Elkeles ato Antologi Rasa-nya Ika Natassa. Fine with that.

Tapi ketika sebuah buku mengambil multiple POV 1 lalu beralih ke POV 3 dan balik lagi ke POV 1, then I have a problem with that. Penulisnya berasa Tuhan yang bebas mengatur nasib para tokohnya.

Lima, sama seperti sebagian besar reviewer, saya juga gak suka dengan bagian epilog itu. Cerita ini akan lebih nendang kalo ditutup di bab sebelum epilog. I prefer a story that tied with a red ribbon but not too tight please.

Enam, saya suka dengan analogi asap rokok di buku ini.
"Gue selalu percaya permintaan itu akan dikabulkan kalau dia bisa terbang semakin tinggi, nggak tahu kenapa. Mungkin kalau dia semakin tinggi, dia akan semakin mudah didengar. Karena nggak mungkin gue harus terus-terusan naik pesawat setiap kali punya permintaan, jadi jalan lainnya adalah dengan asap."
Seseorang juga pernah mengajarkan hal serupa pada saya. Namun bukannya menggunakan rokok, beliau menggantinya dengan balon gas. Saya sempat lupa dengan ajaran tersebut dan membaca bagian asap rokok membuka kenangan saya akan beliau. Thank you, Nilam, for bringing back that sweet memory.

Tujuh, uhm...jujur...saya kurang suka dengan covernya. Cantik sih, tapi gak secantik cover Gagas lain. Emang cover designer-nya bukan favorit saya ternyata.
Tapi itu gak penting.
Yang penting adalah : kok gambar yang ada di cover itu bangau kertas biru sih? Kan judulnya camar biru? #SebenernyaIniJugaGakPenting
Apa karena Gagas gak punya stok gambar camar kertas biru? Ah enggak kookk. Halaman dalam buku ini dipenuhi gambar camar kertas

Delapan, bosen rasanya harus bilang ini lagi dan lagi *sigh*, tapi saya gak suka banget deh dengan blurb di buku ini. Tipikal Gagas banget sih yang suka kasi blurb sok puitis berisi curahan hati salah seorang tokohnya tapi gak bakal dipahami maksudnya sama orang yang belum baca novel ini (Dan kenapa bahasa gw ribet giniii??)

Jujur aja, kalo saya lagi di toko buku, ngeliat cover buku ini dan baca blurb di back cover, saya gak bakal tertarik beli buku ini. Blurb-nya gak menjual. In fact, yang bikin saya ngeh sama buku ini adalah nama penulisnya dan review Mas Tomo.

Sembilan, hmm...twist di buku ini sebenarnya udah ketebak bahkan sejak awal. Dari sejak bab 5 ketika Nina bernarasi seperti ini :
"Dengan tetap menyisihkan malam penuh kabut lainnya, kabut mengerikan, yang juga dari sepuluh tahun lalu. Alasan sebenarnya kenapa gue membiarkan Adith membuat sumpah konyol itu, dan alasan kenapa gue menyetujuinya sekarang."
Lain kali coba clue-nya jangan ditaro sejak awal buku, mbak Nilam. Jadinya ketebak. Akan lebih bikin penasaran kalo cuma tokoh Adith aja yang berprasangka dan menebak-nebak sendirian. Biar pembaca (saya sih tepatnya) ikut menebak bersama Adith.

Sepuluh, saya suka dengan chemistry antar tokohnya, terutama chemistry Adith-Nina. Kerasa banget transisi perasaan mereka dari sahabat lama yang kemudian belajar membuka hati. Saya suka gimana Nilam perlahan membangun chemistry mereka hingga keduanya sadar bahwa mereka butuh yang "lebih" dari hubungan mereka selama ini.

Sebelas, saya berharap buku ini bisa lebih tebal sehingga Nilam bisa mengeksplorasi karakter Nina lebih dalam. See...Nina has some wrecked past yang mengubah karakter keseluruhannya. Saya berharap Nilam bisa menggambarkan perasaan dan trauma Nina lebih dalam lagi, tentang bagaimana dia mengatasinya atau bagaimana perjuangan dia untuk menerimanya.
Tapi saya juga paham kok perjuangan psikologis Nina bukanlah topik utama kisah ini. Dan saya juga paham kalo 279 halaman tidaklah cukup untuk mengeksplorasi hal tersebut, belum lagi ditambah cerita tentang Adith-Nina di masa sekarang.

Dua belas, saya suka analogi persahabatan bujur sangkarnya. I know it so well.

Saya pernah punya sebuah persahabatan seperti itu dalam hidup saya. Sebuah dekagon yang begitu solid dan bertahan 20 tahun lebih.
Tapi 2x campur tangan Thanatos dan sebuah "persilangan hati" meretakkan dekagon kami.

Beberapa memilih seperti Sinar, yang pergi menjauh namun tak bisa benar-benar lepas dari jaringan sisi dekagon yang tersisa.
Beberapa seperti Nina yang berusaha keras mempertahankan apa pun yang tersisa dari sebuah ikatan yang sudah retak, mengubahnya jadi oktagon bila perlu.
Saya?
Saya seperti Adith yang hanya diam dan menikmati sisi mana pun yang tersisa dari dekagon kami. Sama seperti Adith, saya tak berusaha menjauh, namun juga tak berusaha merekatkan apapun.
Dan karena itu, I feel Adith. Saya ngerti concern-nya ke Nina, juga rasa pahitnya pada Sinar yang memilih pergi.

Tiga belas, saya suka kalimat ini dari halaman 269 :
"Kadang, saat kita nggak mampu melepaskan orang yang terlalu kita cintai, berarti kitalah yang harus pergi. Mungkin membalikkan badan dan berlalu lebih mudah dibanding berdiri diam menatap punggung seseorang (atau dalam kasus gue, menatap batu nisan) yang berjalan menjauh."
I did that once.
Sayang saya gak seberuntung tokoh-tokoh dalam buku ini. Karena saat kembali, saya masih terjebak dalam same-old-brand-new problem. Should I go again? (woooiii....kok jadi curhat wooiiii? XD)

Empat belas, saya mempertanyakan maksud kalimat yang ada di halaman 4 : "Si Kunyuk itu pecandu kopi akut dan cuma mau kopi Sumatra-nya Starbucks".

Apa maksud "akut" pada kalimat di atas? Apakah Si Kunyuk baru-baru ini saja suka kopi? Ah nggaaakk kookk. Dari ceritanya jelas ditunjukkan Si Kunyuk sudah lama suka kopi.
Mungkin maksud Nilam adalah "kronis"?
Ato mungkin maksud Nilam, Si Kunyuk adalah pecandu kopi kelas berat?
Apa sih makna "akut" yang dimaksud?

Dan kenapa saya segitu bawelnya sama satu kata doang?

Simpel sih, karena saya liat banyak banget penggunaan yang salah pada kata "akut". Entah kenapa banyak yang berpikir "akut" artinya sudah parah. Sehingga saat saya bilang ke client saya kalo penyakit mereka adalah tipe penyakit yang akut, yang ada mereka jadi pucat dan panik.
Padahal akut kan merujuk pada suatu hal yang baru terjadi. Belum tentu jelek.

Dan sebelum saya salah kaprah sama maksud Nilam, mending saya tanya dulu kan?

Lima belas, kenapa saya kasi bintang 4 untuk novel ini?
Balik ke definisi goodreads dan definisi saya aja. Karena saya suka banget sama buku ini dan bakal saya baca ulang someday. Terutama kalo saya lagi mood untuk buku ringan yang beraura beautifully sad dan sadly beautiful kayak buku ini.

Fyuh...finally nemu juga buku terbitan Gagas yang bisa saya sukai dan tidak membuat saya merasa tertipu oleh covernya.

Enam belas, ini sih buat Sulis doang. Liiisss, ada buku Gagas bagus yang layak masuk koleksi niihh. X)

Udah ah. So far sih cuma 16 point ini yang keingat ("cuma" loe kateee, wiii?"). Kapan-kapan kalo masih ada yang perlu ditambah, ditambahain aaahh.
Reserved to be edited sometimes later yaaaa #berasaKaskus

Thursday, November 8, 2012

Menaklukkan Maut

Data Buku:

Judul asli : Beat The Reaper
Penulis : Josh Bazell
Penerbit : Esensi
Bahasa : Indonesia
Halaman : 348

ISBN 13 : 9789790991460
Rating : 4 out of 5 stars
“It's a weird curse, when you think about it. We're built for thought, and civilization, more than any other creature we've found. And all we really want to be is killers. ” 
-Peter Brown-
Kisah dibuka dengan narasi dr. Peter Brown, seorang residen maha sibuk di Manhattan Hospital, New York. Meski kesehariannya penuh dengan jam kerja yang padat, namun Peter tak keberatan. Baginya pekerjaan ini adalah pelarian sekaligus penebusan dosa masa lalunya. Sebuah masa yang tak mau dia tengok lagi.

Namun masa lalu memang bisa seperti hantu yang selalu membayang dan mengejar.
Di suatu hari, Peter bertemu kembali dengan Squilante yang adalah pasien penderita kanker lambung yang ganas. Squilante yang akan dioperasi meminta kepada Peter untuk menyelamatkan nyawanya sambil mengancam bila dia meninggal, dia akan membocorkan keberadaan Peter pada organisasi lamanya.

Dengan alur maju mundur, Peter lalu bercerita tentang masa lalunya sedari kecil. Demi membayar satu dendam di masa lalu, Peter bergabung dengan kelompok mafia untuk menjadi hitman. Di sana dia menemukan keluarga kedua sekaligus penuntasan dendam.

Semua berubah saat Peter bertemu Magdalena. Gadis itu membuat Peter ingin berubah menjadi orang yang lebih baik dan meninggalkan kelompok mafia. Tentu ini bukan hal yang mudah. Ada harga sangat mahal yang harus dibayar Peter agar bisa keluar. Dan kini, Squilante malah mengancam ketenangan dan kestabilan hidupnya.

Maka dimulailah satu hari sangat sibuk dalam hidup Peter. Satu hari yang berisi usahanya menyelamatkan Squilante sambil tetap bertugas seperti biasa merawat pasien-pasien lain dan harus mengindari kelompok Mafia yang sudah mengendus keberadaannya.
“Ah, youth. It's like heroin you've smoked instead of snorted. Gone so fast you can't believe you still have to pay for it.”
-Peter Brown-
 Satu hari?
Yup...setting waktu kisah ini (tentu saja tidak termasuk bagian flashback) memang hanya berlangsung satu hari. Satu point ini sudah membuat saya memberikan 1 bintang untuk novel ini.

Bintang kedua untuk karakter Peter Brown yang sinis, arogan, nyeleneh tapi baik hati dan perhatian pada pasien-pasiennya. Meskipun jadi hitman mafia, dia selalu melihat latar belakang korban. Hanya mereka yang pantas dibunuhlah yang akan dihabisinya. Tentu, Anda bisa berargumen bahwa itu hanyalah usaha meringankan beban nurani Peter. Emang benar. Peter sendiri mengakuinya kok.

Yang saya suka juga, penulis tidak setengah-setengah dalam menggambarkan karakter Peter.
 Untuk menciptakan kesan seolah cerita ini benar-benar ditulis oleh Peter, penulis menambahkan banyak footnote yang berisi komentar sinis Peter tentang berbagai hal, mulai dari sistem pelayanan kesehatan US yang payah samapai ke sejarah kamp konsentrasi Nazi.
Saya tahu beberapa pembaca menganggap footnote ini menyebalkan. Tapi saya malah suka membacanya. Bagi saya, footnote ini menghidupkan karakter sinis Peter sekaligus kecerdasannya. Menarik membaca komentar Peter yang sering out-of-the-box itu.

Di akhir buku juga ada glossary yang berisi berbagai penjelasan medis ato kondisi-kondisi umum di US. Lagi, beberapa pembaca menganggapnya mengganggu. Untuk saya yang paham sebagian besar istilah medis di buku ini, saya tak merasa terganggu dengan glossary itu. Justru menambah pengetahuan saya, terutama pada obat-obat yang tak umum dipakai di sini.

Bintang ketiga disematkan pada plot, twist dan pace cepat cerita ini.
Awalnya memang lambat, terutama ketika Peter berlama-lama di kisaha masa kecilnya. Namun pace cerita akan meningkat jauh setelah peter bertemu Magdalena. And since that, I can't put this book down.

Twist yang muncul merupakan kejutan yang menyenangkan. Mulai dari twist tentang musuh sebenarnya Peter (yang dia kira sudah meninggal) hingga twist tentang kenyataan masa lalu keluarga Peter. Masa lalu yang membuatnya menyemai dendam dan memulai seluruh kisah ini. Membaca bagian ini, saya jadi teringat quote terkenal Mahatma Gandhi : "An eye for an eye will make the whole world blind".
Indeed, Mr Gandhi. Indeed. Just look at Peter's life for example.

Tapi dari semua itu, gak ada yang mengalahkan KLIMAKSnya yang seru. Saat itu Peter terpojok menghadapi musuhnya tanpa sebuah senjata pun. Dan untuk pertahanan diri, dia pun menggunakan t...WHOOPSY...saya gak bisa cerita dong.
Apa serunya kalo saya ceritain? Musti dibaca sendiri ini mah.
Saya cuma mau bilang kalo senjata yang dipake sama Peter itu nekat, sinting, sadis tapi sekaligus brilian dan mengejutkan.

Bintang keempat dianugerahkan pada terjemahannya yang enak dibaca dan covernya yang cantik. Cover minimalis bernuansa hitam putih itu pastilah menarik minat saya jika melihatnya di toko buku. Soalnya pria berjas putih di cover itu (tampak) ganteng sih. Hehehe... :p

Sayang saya gak bisa naikkin bintang lagi. Abis saya berasa endingnya kurang panjang sih.
Iya, saya ngerti kalo penulis memang akan menulis lanjutan buku ini. Jadi...saya akan tunggu kelanjutan buku ini dan lihat apakah buku keduanya akan lebih bagus daripada yang pertama. Meanwhile, thanks buat Esensi yang sudah menerjemahkan dengan sangat baik.

PS:
Seorang teman membicarakn tentang sistem health care US yang disorot habis-habisan di buku ini. Terkesan parah banget memang. Disitu digambarkan betapa acuhnya tenaga kesehatan di rumah sakit tempat Peter bekerja. Juga bagaimana para dokter spesialis senior ogah melayani pasien kelas 3 dan lebih fokus mengejar materi.

Saya gak tahu apakah memang seperti itu kondisi pelayanan kesehatan di US. Tapi saya bersyukur bahwa di Indonesia tidaklah separah itu. Masih banyak dokter spesialis senior dan profesor yang tahu sangat perhatian pada pasien-pasien mereka dari kelas mana pun. Sayang figur seperti mereka justru jarang disorot.

Kembali ke sistem health care-nya US, saya punya teman yang berkarir di Boston. Dan menurut dia, kondisi di tempat kerjanya tidak sama dengan yang digambarkan di buku ini. Apa itu artinya kondisi pelayanan kesehatan di Boston dan New York berbeda? Entahlah.

Tapi penulisnya sendiri sudah menegaskan bahwa karya ini hanyalah fiksi, dan semua informasi di buku ini terutama yang menyangkut dunia medis, tidak semestinya dipercaya.
Karenanya, saya memilih untuk menganggap bahwa US health care system yang ditunjukkan di buku ini hanyalah fiksi semata.

*hey...khusnudzon boleh dong*

“When God is truly angry, He will not send vengeful angels.
He will send Magdalena.
Then take her away.”

Wednesday, October 31, 2012

The Late Mattia Pascal

Data Buku
Judul Asli : Il Fu Mattia Pascal
Penulis : Luigi Pirandello
Publisher : New York Review Books
Tahun Terbit : 2004 (First Published 1904)
Bahasa : Inggris
Rating : 4 stars out of 5
"Because we can’t understand life, if we don’t explain death in some way. The motive, the direction of our actions, the thread to lead us out of the maze, dear Signor Meis, the light must come from beyond, from death." (Page 122)

Seandainya kamu diberi kesempatan kedua untuk menjalani hidup dari awal, akankah kamu bersedia?
Tidak?
Well...gimana kalo gini : Seandainya kamu terikat dalam pernikahan tanpa cinta, punya mertua yang rese, dan berada dalam kondisi nyaris bangkrut. Lalu saat pulang dari bermain judi di Monte Carlo, kamu liat pengumuman di koran telah ditemukan sebuah jenazah yang dikira adalah dirimu. Di kantongmu penuh uang hasil kemenangan judi.
Tidakkah kamu berpikir untuk kabur aja dengan uang di tangan? Pergi ke tempat yang jauh dan membangun hidup yang baru?
Saya sih mungkin kepikiran gitu. Nggak tahu juga sih, secara saya belum pernah mengalami kondisi di atas, tapi running away memang tampak pilihan yang lebih mudah sih.

Yang pasti, itulah yang dilakukan Mattia Pascal. Sewaktu mengetahui kalo dia sudah dianggap meninggal, Mattia malah kegirangan dan merasa (akhirnya) dia mendapat kebebasan. Setelah membuat identitas palsu, dengan serunya dia berkeliling Eropa, lalu memutuskan menetap di Roma. Di sana dia berkenalan dengan banyak orang baru dan bahkan jatuh cinta lagi. Mattia begitu cinta pada gadis barunya sampai dia berpikir untuk membeli rumah di Roma dan mulai menetap.

Masalahnya, dia adalah pria dengan identitas palsu. Dia gak punya surat resmi yang dibutuhkan untuk membeli rumah. Dia bahkan gak bisa membuka tabungan di bank, apalagi membuka bisnis yang bisa dibanggakan kepada keluarga kekasihnya. Dan segera Mattia menyadari kalo kebebasan yang selama ini didapatnya hanyalah kebebasan semu.

Lalu apa yang sebaiknya Mattia lakukan? Bertahankah? Atau memalsukan kematian (lagi) dan mulai hidup baru (lagi)? Atau malah kembali ke kehidupan lama?
Kalo dia memalsukan kematian lagi, kapan masalahnya selesai?
Kalo dia mau kembali ke kehidupan lama, emangnya segampang itu buat balik? Keluarganya sudah move on dengan kepergian dia. He can't just pick where he left off. So...what to do now?

Saya sudah membaca beberapa karya Pirandello dan sepertinya topik tentang eksistensi diri adalah topik favorit beliau.
Di novelnya ini, Pirandello gak menegaskan pilihan mana yang sebaiknya diambil. Dia hanya menunjukkan konsekuensi setiap pilihan tersebut dan membiarkan pembaca yang menilai apakah pilihan tersebut tepat.

Mengenai novel ini, walopun tokoh Mattia Pascal itu sebenarnya ngeselin dan terkesan tidak bertanggung jawab, tapi saya bisa bersimpati sama dia. As I said, can't blame him for the decision. Sometimes in the past (reeeeeeeaaaallllllyyyyy really sometimes), I wish to move to another galaxy and start everything from the scratch.
Jelas saya gak bisa melakukan itu. Yang bisa saya lakukan hanyalah menyelesaikan ato berkompromi dengan apapun kondisi saat ini. Tapi toh saya gak bisa menghilangkan pertanyaan macam "apa-jadinya-kalo-gw-bisa-pindah-planet-lain-ya".
Melalui Mattia, Pirandello menjawab pertanyaan saya. Pirandello melihat konsekuensi dari berganti identitas yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Dan sejak membaca buku ini, saya  menghapus keinginan konyol itu. I prefer to stay in this kind of life. Untuk satu alasan ini aja, saya sudah merasa suka sama Mattia Pascal. Belum lagi ditambah dengan dark humour dan sinisme Mattia Pascal yang diselipkan Pirandello di berbagai bagian buku ini.
The country air would certainly do my wife good. Perhaps some of the trees would lose their leaves at the sight of her, and the birds will fall silent; I only hope that the spring doesn’t go dry. (page 70)
Pirandello juga mengungkit soal absolute freedom di buku ini. 
Seperti yang kita tahu, sudah lama ada perdebatan apakah absolute freedom itu benaran ada ato nggak. Bahkan definisi absolute freedom pun masih diperdebatkan. 
Beberapa beranggapan bahwa absolute freedom itu sama dengan fundamental freedom yang ada di pidato Presiden Roosevelt, yaitu "freedom from fear, freedom from want, freedom of speech, dan freedom to worship". 

Beberapa berpegang pada pendapat yang sangat populer tentang absolute freedom yang ini: "the ability or freedom to make a choice and act on it completely detached from the input, control or otherwise influence of external forces such as society, people etc".
 Tentu saja kalo anda beranggapan absolute freedom adalah seperti definisi di atas, then it is unattainable.

 Mereka yang romantis dan optimis mengamini pendapat Stephen Covey yang ini mengenai absolute freedom : “Our ultimate freedom is the right and power to decide how anybody or anything outside ourselves will affect us.” 

Saya tidak akan memulai diskusi mengenai absolute freedom di sini, pun memaparkan pendapat saya tentang itu. But for sure, The Late of Mattia Pascal is Luigi Pirandello's opinion to absolute freedom.
What's his opinion?
Ah...that's something you have to find out by yourself :)

"But at a certain point we realize that all life is stupidity; so tell me yourself what it means never to have done anything foolish. At the very least it means you have never lived."
(page 105) 
Biografi Singkat Penulis:



 

Luigi Pirandello (1867-1936) lahir di Girgenti, Sicilia. Dari tahun 1897 sampai 1922, dia bekerja sebagai professor aesthetics & stylistics di Real Istituto di Magistere Femminile, Roma. Dibandingkan novel-novelnya, Pirandello lebih terkenal karena skrip theater (plays) yang ditulisnya.

The Late Mattia Pascal bukanlah novel pertamanya. Tapi novel itulah yang membuka gerbang kesuksesannya. Novel ini ditulis dalam masa tersulit hidup Pirandello, ketika ayahnya bangkrut dan menghabiskan seluruh dana simpanan Pirandello (termasuk mas kawin milik istrinya). Kondisi ini menyebabkan sang istri terkena depresi berat dan mengharuskan Pirandello kerja double job demi menutupi hutang.
Sambil menjaga sang istri di malam hari, Pirandello mulai menulis novel The Late Mattia Pascal yang mengandung beberapa unsur kisah hidupnya. Banyak yang berpendapat bahwa novel ini mengandung elemen autobiografi yang telah dimodifikasi secara fantastis. Di novel ini jugalah pertama kalinya Pirandello membahas tentang identitas dan eksistensi seseorang.

Tema seperti ini juga muncul dalam Vestire gli ignudi (1923) [To Clothe the Naked] yang bercerita tentang seorang wanita yang berusaha mendapat tempat di masyarakat dengan menciptakan berbagai identitas palsu dengan status sosial yang tinggi serta apa yang terjadi ketika kebohongannya terbongkar.
Lalu di Enrico IV (1922) [Henry IV] tentang seorang pria yang kehilangan ingatan dan berpikir dia adalah si Raja Henry IV yang terkenal itu, dan pada akhirnya membuat sang tokoh bingung apakah dia karakter fiksi atau nyata.
 Dan jangan lupakan salah satu karya fenomenal Pirandello : Sei personaggi in cerca d'autore (1921) [Six Characters in Search of An Author] yang dipuji sekaligus dikritik tajam ketika pertama kali dipentaskan. Berkisah tentang 6 karakter dari sebuah cerita yang hidup dan datang mengganggu  sebuah pementasan. Keenam karakter ini ngotot mencari penulis kisah mereka karena mereka berpikir bahwa kisah mereka seharusnya belum tamat. Penonton berpikir kisah ini terlalu absurd dan membingungkan ketika pertama dipentaskan hingga terjadi kerusuhan dari penonton yang tak puas kala itu (putri Pirandello sampai harus melarikan diri lewat pintu darurat supaya gak diserang). Tapi toh, kisah ini juga menuai sukses di tahun-tahun berikutnya dan diakui sebagai bukti kejeniusan Pirandello.

 Tahun 1934, Pirandello mendapatkan Nobel Prize di bidang Literature dengan alasan : "bold and brilliant renovation of the drama and the stage".




Monday, October 22, 2012

Buku Ajar Koas Racun

 Data Buku:
Judul : Buku Ajar Koas Racun
Penulis : Andreas Kurniawan, dr
Penerbit : mediakita
Halaman : 256
Published : 2012
Rating : 4 out of 5 stars


@KoasRacun adalah salah satu akun parodi kedokteran yang sudah lumayan lama beredar di jagat twitter. Saya gak tahu seberapa bekennya @KoasRacun bagi tweeps kalangan non-medis, tapi buat kami (ato minimal saya), akun ini salah satu akun humor yang wajib difollow. Tweet-tweetnya @KoasRacun itu suka sinis, nyindir tapi lucu. Rasanya akun itu menyuarakan jeritan hati para koas di negeri ini *halah*

(ps : buat yang gak mudeng, koas adalah sebutan untuk mahasiswa FK tingkat klinik, yang berarti mahasiswa FK tahun ke-5 dan 6)

Ketika mengetahui @KoasRacun akan melahirkan (pemilihan kata yang aneh) buku, saya kira yang akan keluar adalah buku kompilasi twit. Ternyata saya salah. Sesuai dengan taglinenya, buku ini memang panduan bertahan hidup untuk koas & mahasiswa kedokteran.

Ada banyak hal yang diceritakan penulis di buku ini, mulai dari jaga malam yang adalah takdir sekaligus kewajiban bagi koas, tentang suka duka perkuliahan dalam menghadapi praktikum, ujian dan juga dosen, sampai ke "mitos" aneh menyangkut profesi dokter. Mitos yang saya maksud itu seputar keyakinan masyarakat awam bahwa semua dokter pasti tulisannya jelek (lucunya banyak yang berpikir di FK pasti ada mata kuliah belaja-nulis-kayak-ceker-ayam) ato bahwa dokter gak bisa sakit.

Eh? Anda gak percaya bahwa ada orang yang berpikir dokter gak bisa sakit? Jangan salah. Banyak lho yang mikir gitu.
Saya ingat sekian tahun lalu, waktu ayah saya sakit dan ada pasien yang mo berobat. Setelah diberi tahu bahwa ayah gak bisa melayani karena sedang sakit, sang ayah pasien pergi sambil ngomel : "Dokter kok bisa sakit sih? Ini mah pasti males aja nerima pasien. Dikira saya gak bisa bayar apa?"

Ish...klo ingat kejadian itu masih bisa emosi deh #eaaa #mendadakcurcol
Untung ampe sekarang saya belum pernah dengar ada yang komentar : "Dokter kok bisa meninggal karena sakit?". Klo ada yang mikir gitu, then they really should get their head checked.

Seperti tagline-nya, buku ini memang lebih tepat jadi panduan mereka yang belum ato sedang koas. Bagi saya yang (alhamdulillah) sudah melewati masa itu, buku ini lebih sebagai pembangkit kenangan manis saja. Juga sebagai penghibur hati bahwa ternyata saya gak dogol sendirian, ternyata mahasiswa-mahasiswa FK seantero nusantara mengalami hal yang sama toh #menurutngana.

Oh saya juga jadi ngeh kalo ternyata mitos-mitos cara penolak dan pemanggil pasien kala jaga malam itu dipercaya oleh seantero FK toh. Jadi penasaran, mahasiswa FK di negara lain punya mitos aneh juga gak ya? Seaneh apa mitos itu? Silakan baca sendiri :D

Gaya bahasa penulis sih sama kayak di twitter. Sama-sama sinis, nyindir tapi lucu dan cerdas.
"Dokternya ada?" tanya bapak itu.
Pertanyaan ini cukup janggal di telinga saya, mengingat percakapan ini mengambil setting lokasi di IGD suatu rumah sakit umum. Saya tidak pernah berpikir untuk datang ke restoran cepat saji dan bertanya, "Yang masak ada?"
Buku ini juga tak lupa menyorot dilema yang dihadapi para dokter. Bagaimana mereka menghabiskan waktu untuk mengurus keluarga orang lain sementara keluarga sendiri harus ditinggal di rumah.
Yep, I can relate to that. Saya juga beberapa kali harus meninggalkan ibu sendirian di rumah padahal beliau sedang sakit untuk merawat ibu orang lain. It's a dilema. Trust me.

Tapi bab favorit saya sih di bab "Koas & Film".
Di awal bab, penulis berkata begini:
"Ada satu hal yang selalu ditanamkan oleh dosen kami dari dulu : jadi mahasiswa harus kritis. Apalagi menjadi seorang dokter. Segala sesuatu harus bisa dipertanyakan, kenapa bisa begitu, apa hal tersebut mungkin, dan sebagainya. Hal ini di satu sisi membuat kami penghuni dunia medis menjadi pribadi yang kritis. Di sisi lain, kami kadang tidak bisa menikmati beberapa hal lagi. Apalagi saat menonton film."
Tuh kaaann! Tuh kaaaaannnnn!!!
Wajar kan kalo saya sungguh sewot sama film/buku Heart ini. Lah wong buku ini salah di semua aspek. Ato ketika saya ngomel di review buku Kala Kali itu.
Iyaaa...yang dibilang penulis emang bener. Ada beberapa kenikmatan yang hilang saat menonton film bagi kami. Film yang rusak kenikmatannya menurut contoh penulis adalah X-Men Origins : Wolverine, The Dark Knight Rises, dan Soegija. Dan list ini masih bisa panjang kalo mo diterusin.
Buat saya, hal ini juga berlaku pada buku :|.

Gimana dengan sinetron? Oh...do not make me go there! Toh penulis juga sudah memaparkan keanehan-keanehan yang dilihatnya di sinetron.
Tampak seorang ibu sedang mengejan dengan sepenuh tenaga. Beberapa saat kemudian terdengar tangisan bayi, kemudian petugas rumah sakit langsung memakaikan selimut ke bayi tersebut, dan diperlihatkan ke sang ibu. Indah sekali, seorang ibu yang bertaruh nyawa untuk memberikan hidup ke bayi tercinta. Setelah itu adegan selesai. Serius, sudah selesai.
Catatan:
Suatu kondisi yang menarik sekali, bayi tersebut pantas masuk ke dalam The Guinness Book of World Records sebagai satu2nya bayi yang lahir tanpa plasenta
Asli...pas baca bagian ini serasa pengen ketemu langsung penulisnya dan berterima kasih karena mau bersusah payah melawan usaha pembodohan yang dilakukan produser sinetron. Mudah-mudahan saja buku ini banyak dibaca biar infonya makin meluas.

Kalo ada kekurangan di buku ini, itu adalah typonya. Gak terlalu banyak sih, tapi saya terganggu dengan banyaknya kata memelajari yang ada di buku ini (yang bener mempelajari ato memelajari sih?). Juga editan yang masih kurang halus. Liat kutipan di atas? Masih ada kata "satu2nya" di buku ini.

Saya juga gak yakin apakah jokes yang ada di buku ini bisa ditangkap oleh pembaca kalangan non medis.
Oh jangan khawatir. Anda pasti ngerti segala yang diceritakan penulis karena dipaparkan dengan begitu jelas. Saya cuma meragukan apakah sisi lucunya bisa ditangkap oleh semua pembaca. Saya pribadi menganggapnya lucu karena saya pernah mengalami dan tahu kayak apa rasanya. Apakah orang lain menganggap pengalaman saya lucu? Entahlah.

Untuk siapa saya merekomendasikan buku ini?
Kepada teman sejawat dari dunia medis karena dengannya kita bisa bernostalgia dan berefleksi diri. Setelah membaca buku ini, saya sadar betapa kacrutnya saya dulu. Dan betapa ampe sekarang pun, saya masih sama aja (klo gak mau dibilang lebih parah) kacrutnya X).

Mereka yang ingin masuk FK dan para orang tua yang ingin anaknya jadi dokter tapi clueless seperti apa dunia kedokteran itu juga sebaiknya membaca buku ini.
Apa?
Anda termotivasi jadi dokter setelah baca Doctors-nya Erich Segal dan manga Dr. Koto juga Say Hello To Blackjack? Oh jangan percaya deh! Itu kan menyorot profesi dokter di negara lain.
Mending anda baca buku ini deh.
Kalo setelah baca, anda merasa masih minat masuk FK, maka sila dilanjut dengan baca Playing "God"-nya Rully Roesli dan The Doctor: Catatan Hati Seorang Dokter-nya Triharnoto
Kalo masih minat juga, maka...daftarkan diri anda ke FK dan welcome to the jungle :). It's a rollercoaster ride, but like all rollercoaster, it brings fun too.
You'll find many friends and foes here. But still, we're all brothers that binded by the same oath.
DOCTORS are being scorned for being late with diagnosis, yet they're holding their bladder because they don't have time to use the restroom, starving because they missed lunch & missing their family while taking care of yours. Illness or personal affairs aren't excuses for a misdiagnosis or mismanagement. They lack sleep yet are willing to stay awake for you and for your families. They may even be crying for you. In the minute you read this, doctors all over the world are saving lives. -Anonymous-

Sunday, September 23, 2012

Twivortiare

Data Buku :
Judul : Twivortiare

Penulis : Ika Natassa
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2012
ISBN 13 : 9789792286748

Sinopsis :
“Commitment is a funny thing, you know? It’s almost like getting a tattoo. You think and you think and you think and you think before you get one. And once you get one, it sticks to you hard and deep.”

Do busy bankers tweet? Yes, they do. Empat tahun setelah Divortiare, Alexandra membuka kembali hidupnya kepada publik melalui akun Twitter-nya @alexandrarheaw. Lembar demi lembar buku ini adalah hasil “mengintip” kehidupannya sehari-hari, pemikirannya yang witty dan sangat jujur, spontan, chaotic, dan terkadang menusuk, yang akhirnya akan bisa menjawab pertanyaan: “Dapatkah kita mencintai dan membenci seseorang sedemikian rupa pada saat bersamaan?”

Twivortiare adalah kisah klasik tentang cinta dan luka, terangkai dalam tweets, mentions, dan DM yang lahir lewat ujung-ujung jemari karakter-karakternya.


Review : 

Saya itu orang yang ndak pernah peduli sama autographed version dari buku. Bahkan termasuk CD dari penyanyi favorit juga.

Tanda tangan yang saya pedulikan hanyalah tanda tangan di dokumen-dokumen penting saya ato tanda tangan pemain bola favorit saya (aaaa....Zanettiiiiii).
Karenanya tiap kali ada pre-order buku apapun yang bertanda tangan penulisnya, saya gak pernah tertarik ikutan soalnya saya nunggu buku itu terbit dulu dan ngeliat reaksi pembacanya gimana. Bahkan walo penulisnya udah saya kenal dan bisa menebak bukunya kayak apa (seperti Kedai 1001 Mimpi-nya Vabyo misalnya).

So...kalo ampe saya bersedia ikutan pre order buku ini kemarin, bukan tanda tangannya yang menarik minat saya. Tapi karena saya penasaran (pake banget) dengan kelanjutan Alexandra dan Beno.


Siapa sih Alexandra dan Beno itu?
Mereka adalah tokoh dari novel Ika Natassa sebelumnya yang berjudul Divortiare. Di Divortiare dikisahkan kalo Alexandra dan Beno sudah bercerai. Masing-masing melanjutkan hidup dan mengejar karir dimana Beno adalah dokter bedah thoraks sukses dan Alexandra adalah bankir yang karirnya sedang menanjak. Mereka juga (ato minimal Alexandra karena Divortiare bercerita dari sudut pandangnya) berusaha move on dan mencari cinta yang baru. Divortiare ditutup dengan kisah yang "gantung" antara Alexandra dan Beno. Pembaca disuruh menebak sendiri apakah mereka kembali bersama ato tidak.

Sewaktu mengetahui kalo Ika Natassa membuat akun twitter untuk tokoh rekaannya (Alexandra), saya belum tertarik untuk follow. Baru setelah mendengar kabar kalau rangkaian tweetnya akan dibukukan, saya jadi penasaran bagaimana kelanjutan pasangan itu. Kenapa baru belakangan saya penasaran? Karena sebelumnya saya pikir, twitternya Alexandra itu masih bercerita seputar hidupnya pasca perceraian dan gak nyebut-nyebut Beno. Begitu tahu kalo ternyata hidup Alexandra saat ini melibatkan Beno, jelas saya tertarik dong. Saya kan gemes sama karakter pak dokter yang lempeng banget itu. 

Apalagi saya dapat info kalo buku ini akan bercerita tetap dalam format twitter. Jadi rasanya seperti baca timeline yang panjang. Dan per-tweet hanya dibatasi 160 karakter. Waaa...menarik dan bikin penasaran.

Kesan setelah baca?

Yah bagus sih. Not bad at all Banyak yang bisa kita pelajari dari hubungan Beno-Alex. Tentang usaha untuk mengerti satu sama lain, bahwa pernikahan itu berarti "start to feel for two people." Juga kalo cewe itu mesti bisa mandiri secara finasial (setuju banget ini).

Saya juga belajar tentang perasaan Alexandra yang bersuamikan dokter sibuk banget. Dia sempat merasa di-nomor duaka-kan dibanding pekerjaan suaminya. Jadi kepikir, apa gitu ya perasaan ibu dan tante-tante saya yang bersuamikan dokter?
Tapi sepertinya mereka gak kapok tuh punya suami dokter, soalnya mereka meng-encourage anak masing-masing buat nikah sama dokter juga. Ugh...pada gak tau aja dalem-nya dunia kedokteran itu kayak apa. #Eaaaaa #TetepCurcol

Rada kesal sih sama karakter Alexandra yang kadang too demanding dan childish. Masak gak ngerti juga kalo Beno sayang dia? Saya yang cuma tau kelakuan si Beno lewat tweet-tweet dia aja bisa ngeliat kok, masak dia gak nyadar sih?
Tapi bagusnya, Alexandra udah jauh lebih dewasa dibanding Alexandra di Divortiare.

Dan si Beno-nya juga eugh...keras kepala banget sih.
Etapi berhubung karakter saya lebih dekat ke karakter Beno, dan posisi kami cenderung sama (jadi pihak yang lebih lempeng), somehow bisa ngerti dia. #JanganCurcolLagiDehWi

Dan melalui interaksi kedua tokoh utamanya ini lah, Twivortiare mengajarkan bahwa cinta aja gak cukup untuk membentuk pernikahan, we have to work on it. Dan perbedaan yang ada itu bukan untuk dijadikan sama, tapi untuk dikompromikan.

Ada satu yang nyepet saya di buku ini sebenarnya. Scene waktu Alexandra ngeluh sakit kepala dan Beno cuma menyarankan minum aspirin. Dan si Alex sebel, menurut dia kalo cuma butuh aspirin mah dia gak bakal ngeluh ke Beno. Yang dia butuhkan tuh perhatian dan soothing word dari Beno.
Dan uhm...saya jadi kesepet :">
I mean, saya juga gitu. Kalo ada yang ngeluh sakit ke saya, naluri saya adalah melakukan anamnesis seperti umumnya dokter ke pasien untuk kemudian kasi saran obat yang cocok menurut saya. Dan ini saya lakukan pada siapa pun, dari teman biasa sampe orang dekat macam keluarga dan si "dia".

Dia pernah protes sih. Dia bilang, "Wi...diperhatiin dong. Lagi sakit nih."
Dan saya dengan bingungnya bilang : "Kan udah. Udah dikasi obat, udah dikompres, udah diambilin makan sama minum, udah diselimutin. Istirahat aja sekarang, nunggu obatnya bereaksi."
Membaca kesebalan Alexandra, saya jadi mikir, mungkin maksudnya waktu itu si dia pengen dimanjain ya? Dikelonin dan dipuk-puk gitu? Yeeee.....bilang dong :|

Tapi satu yang gak disadari Alexandra (dan mungkin orang lain), dokter itu (ato paling enggak saya) emang refleksnya gitu kalo ketemu orang sakit. Yang pertama saya pikirkan adalah apa yang bisa saya lakukan untuk memperingan sakitnya. Dan yaaahhh...the easiest way ya to suggest some medicine.
Lagian gak mungkin juga pasien saya kelonin ato saya puk-puk kan? Paling bisa ya ber-empati. Empati yang juga saya terapkan ke orang-orang dekat saya.
Saya suka lupa kalo orang dekat itu gak bisa dimasukkan dalam kategori yang sama dengan "pasien". Bahwa selain empati, saya juga boleh bersimpati sama mereka.

So thanks to Ika Natassa dan Twivortiare yang udah ingetin satu fakta yang sebenernya saya udah tau, tapi suka dilupakan :">

Pertanyaannya, kenapa buku yang begitu banyak memberi pelajaran seperti ini, dengan format unik pula  tetap saya kasi rating 4 bintang?

Jawabnya karena saya jenuh dengan banyaknya bahasa inggris yang bertebaran di buku ini.
Udah bukan banyak lagi, overdosis malah. Bisa lho sampe 2-3 lembar full bahasa inggris.
Yaaa....saya sih masih ngerti aja, tapi jadi kepikir : "Untuk jadi pembacanya Ika Natassa itu kudu bisa bahasa inggris ya? Apa syarat seperti itu udah termaktub somewhere entah dimana?"
Dan bertanya juga, pemasaran buku ini sejauh apa ya?
Saya yakin jumlah masyarakat Indonesia yang ngerti bahasa inggris lebih sedikit dibandingkan yang bisa. Warga di kota-kota di Pulau Jawa dan kota-kota besar lainnya emang banyak yang fasih berbahasa inggris, tapi mereka yang di ujung Kalimantan sana? Yang di Ambon dan sekitarnya?

Dengan overdosis-nya bahasa inggris di sini, saya sih gak yakin buku ini bisa dimengerti mereka-mereka yang di pelosok Indonesia sana.
Dan menurut saya sih sayang kalo karya yang sarat nilai positif tapi disajikan dengan ringan seperti Twivortiare ini gak bisa dinikmati mereka disana.

Jadi....kalo lain kali menulis buku, bisakah menuliskan buku yang menggunakan bahasa Indonesia secara utuh dari awal ampe akhir, mbak Ika Natassa?
Karena saya perhatikan, semua buku anda begitu kuyup dengan bahasa inggris. Apakah karena kesulitan menemukan bahasa indonesia yang tepat untuk mewakili apa yang anda maksudkan?
Padahal saya yakin untuk setiap frase yang ada di bahasa inggris, ada padanan yang tepat di versi indonesianya.
Come on, mbak. I know you can do that. I dare you! :) 



"The simplest things in life are what make us happy eventually. A warm and comfy home, being loved, and knowing that somebody can't live without you."  (p. 193)

Saturday, September 1, 2012

Kitchen

Judul asli :  キッチン Kicchin
Penulis : Banana Yoshimoto
Tahun Terbit : 2009
ISBN13 : 9789799101730
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Rating : 4 out of 5 stars


Kitchen bercerita dari sudut pandang Mikage yang baru saja kehilangan neneknya.

"Aku tak bisa tidur di tempat lain selain dapur."

Mikage Sakurai sebatang kara sejak neneknya meningal. dapur menjadi satu-satunya tempat dimana ia dikelilingi panci bekas pakai dan sisa ceceran sayur, serta ditemani sepetak langit malam berbintang di jendela.
Namun dapur keluarga Tanabe yang membuatnya jatuh cinta. Di sana selama satu musim panas ia bergulat dengan acar, udon, soba, dan tempura. Di sana pula ia temukan apa yang tak pernah dimilikinya: keluarga, bersama Yuichi Tanabe yang dingin dan Eriko Tanabe yang mempesona--perempuan transeksual yang sejatinya ayah kandung Yuichi.
Ketika Eriko meninggal, Mikage dan Yuichi menjauh dan saling terasing dalam kesedihan. Apa yang harus mereka lakukan untuk bangkit dari dukacita dan menyadari ada cinta di antara mereka?

"Sejujurnya aku ingin sekali berhenti berjalan, berhenti melanjutkan hidup. Walaupun esok, lusa, dan minggu depan pasti akan datang, tak pernah kukira hidup ini ternyata begitu berat."
-Mikage Sakurai-

Kekuatan Kitchen menurut saya terletak di karakter tokoh-tokohnya yang bisa menarik simpati.
Mikage adalah sosok yang selalu berusaha optimis walau sebenarnya dia melewati waktu yang sulit. Mikage berusaha mengatasi kehilangannya dengan memfokuskan diri pada hal kecil sementara berusaha mencari jawaban atas unanswered questions-nya. Pertanyaan seperti "Kenapa semua orang yang dekat dengannya meninggal? Bagaimana dia bertahan bila sendirian??.

Yuichi adalah sosok pendiam, yang jarang mengungkapkan perasaannya. Menarik mengikuti perkembangan chemistry Mikage dan Yuichi yang awalnya awkward hingga menjadi dekat. Dan Mikage lah satu-satunya orang yang mengerti perasaan tak terkatakan Yuichi.

Lalu ada Eriko, sosok waria sekaligus satu-satunya sosok orang tua yang dimiliki Yuichi dan Mikage. Buat saya, Eriko lah sosok yang paling menarik. Dia terlihat ceria, tapi mungkin dia-lah yang mempunyai luka terdalam. Karena pasti luka sebesar itu yang membuat seseorang mau berganti identitasnya.

"Untung dan sial adalah hal biasa, tapi mempercayakan diri kepada peruntungan semacam itu adalah sikap manja."
-Mikage Sakurai-

Oya...saya membaca buku ini sebagai bagian dari proyek baca bareng BBI. Temanya adalah '1001 books you have to read before die'. Dan dari 1001 buku itu, saya memilih Kitchen dengan alasan simpel bahwa saya suka judulnya.

Ketika sedang terluka atau sakit hati, tiap orang mempunyai terapi sendiri untuk menyembuhkannya.
Ada orang yang ketika dirundung masalah akan menenggelamkan diri dalan minuman beralkohol. Ada yang memilih menutup diri dari dunia dan menangis. Beberapa memilih pergi travelling. Dan beberapa memilih shopping atau berpesta.

Terapi saya adalah makanan
Saya memilih berpaling kepada makanan yang membuat saya nyaman (my comfort food).
Ketika ayah meninggal 8 tahun yang lalu, saya menenggelamkan diri di dapur, sibuk memasak makanan favorit beliau. Saat saya menyantap makanan favorit itulah, saatnya saya grieving dan mengenang beliau. Melalui cara itu, saya memulihkan diri. Ketika seorang yang sangat saya sayangi pergi tiga tahun lalu, dapur kembali menjadi tempat pelarian saya.

Terkadang, ada beberapa hal yang tak bisa kita kontrol dalam hidup ini. Kita tak bisa mengontrol siapa yang masuk dalam hidup pun tak mampu mencegah mereka meninggalkan kita. Kita juga terkadang harus rela kehilangan jejak dari orang yang kita pedulikan.
Di dapur, hal seperti itu tak akan terjadi. Kita selalu tahu dimana letak panci A, wajan B atau sodet C. Kita juga yang berkuasa menentukan perangkat mana yang menghuni dapur kita dan mana yang sudah bisa dipensiunkan.

"Bagaimanapun, aku ingin terus merasa bahwa suatu saat aku pasti akan mati. Jika tidak demikian, aku tidak merasa hidup. Karena itulah aku menjalani kehidupan seperti ini."
-Mikage Sakurai-

Dalam hidup, kadang kita tak tahu apa yang salah, dimana semua bermula, dan bagaimana memperbaiki masalah tersebut.
Saat memasak, kalo ada rasa masakan yang gak beres, kita tahu apa yang salah dan bagaimana memperbaikinya. Tambah garam, kecilkan suhu api, atau buang lagi saja dan masak ulang yang baru X), semuanya terserah kita.

Fakta itulah yang saya suka dari dapur dan kegiatan memasaknya. Karena untuk sesaat itu, saya memegang kontrol penuh dalam hidup saya. Walau hanya diwujudkan dengan keadaan sesimpel memasak.

Ketika pertama tahu bahwa Mikage punya ketertarikan khusus pada dapur, saya kira dia akan memiliki alasan yang kurang lebih sama dengan saya (haisss....GR pisan). Ternyata saya salah. Mikage punya alasannya sendiri.
Apa alasan Mikage?
Well...itu sesuatu yang harus anda ketahui dengan baca sendiri.

"Sekarang aku bisa dengan mudah mengucapkannya; dunia ini ada bukan hanya untukku. Karena itu, rasio pertemuan dengan kejadian-kejadian buruk tetap tidak berubah. Bukan aku yang memutuskan. Jadi, sebaiknya tetaplah bersikap ceria."
-Eriko Tanabe-

Kitchen sebenarnya terdiri dari 2 cerita.
Cerita kedua berjudul Moonlight Shadow yang juga membahas tentang kehilangan and how to cope with that.
Yah menurut saya sih Moonlight Shadow sama bagusnya dengan Kitchen, walau saya masih lebih suka Kitchen karena merasa akrab dengan tokoh Mikage (haiss...personal sekali alasanmu, wi).

Mengenai terjemahannya, uhm...ada banyak sekali kata-kata yang puitis dalam bahasa jepang, yang akan sulit diterjemahkan dalam bahasa inggris atau pun Indonesia. Karena itu bahasa terjemahan di buku ini memang terasa kurang "halus".

Juga ada beberapa 'frasa' yang terlewatkan. Misalnya saja tentang bulan. Di awal cerita, saat Mikage menuju rumah Yuichi untuk tinggal bersama, dia melihat ada bulan baru. Di pertengahan cerita, ada bulan separuh. Dan saat mendekati akhir, Mikage menyadari bahwa bulan sudah hampir penuh.
Perubahan fase bulan ini secara tak langsung menggambarkan perubahan fase Mikage juga.
Tapi dalam versi terjemahan, bagian tentang bulan ini hanya sebagai latar. Sementara versi asli, bagian ini ditulis dengan puitis (eh puitis versi saya sih) sehingga kita sadar bahwa bulan bukan hanya penghias cerita.

"Semakin aku dewasa, akan semakin banyak peristiwa terjadi. Aku akan terjerembab lagi dan lagi. Berkali - kali aku akan menderita, berkali - kali pula aku akan bangkit. Aku tidak akan akan kalah. Aku tidak akan menyerah."
-Mikage Sakurai-

Aduh...susah menjelaskannya. Tapi menurut saya, versi terjemahan bahasa Indonesia ini pun sudah cukup baik. Yoshimoto wrote it in a beautifully sad and sadly beautifull way and I think the translator succeeded to give the same aura. So it should be enough.

Mengenai apakah buku ini layak masuk list 1001 buku yang harus dibaca sebelum meninggal, hmmm...saya gak tahu deh >.< . Maksud saya, iya sih bukunya bagus banget. Favorit saya malah. Tapi apa bener buku ini harus dibaca sebelum meninggal?
Mungkin iya. Supaya kita punya gambaran bagaimana kira-kira menghadapi hidup saat orang terdekat harus 'pergi'. Karena hidup sejatinya adalah serangkaian pertemuan dan perpisahan bukan? :)

Friday, April 20, 2012

Takdir Elir

Judul : Takdir Elir 
Penulis : Hans J. Gumulia 
Penata letak : Mulyono 
Pem. Aksara : Reyner Nabeel 
Proofread : Bonmedo Tambunan, Dina Begum, Adit H. Pratama 
Pencpt. hikayat : Ami Raditya 
PR : Truly Rudiono 
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

 Pertama kali membaca kata yang tertera di sampul buku ini (Vandaria Saga), saya langsung ngerasa salah buku. "Hah? Vandaria tuh apaan?" pikir saya.

Membaca perkenalan para tokoh dan bab pertama, saya makin mikir kalo saya salah buku. Lah wong saya blank banget dengan istilah dan tata cara dunia Vandaria. Misalnya : frameless itu apa sih? Ordo Vhranas itu apa? Kalo semua penghuni Vandaria memuja Vanadis, kenapa musti ada pembagian ordo segala?

Huaa....saya makin bingung.
But the show must go on. Sekali buku terbuka, pantang berhenti tengah jalan (pret!). Dan saya pun melanjutkan petualangan saya bersama Rozmerga yang gagah berani.

Dari sekilas pandang, saya sempat berpikir kalau Vandaria ini semacam RPG (dan kayaknya sih emang iya). Soalnya perkenalan tokoh di halaman awal itu sampai mencantumkan ukuran fisik segala dan biasanya ini hobi di RPG (teori seenaknya XD)


Adalah seorang pendeta tinggi di Ordo Vrhanas yang mendapat wangsit untuk mengirimkan salah satu frameless juniornya ke Benua Elir. Saat itu, perang hampir pecah di sana karena pertikaian 2 kerajaan besar di benua Elir. Berbekal surat dari pendeta tinggi dan ditemani serombongan ksatria suci, Rozmerga pun melipir ke Benua Elir #heyitsryhme #rhymendasmu X)

Scene lalu berpindah ke Liarra, seorang frameless hutan dari marga suci entah-apa-namanya yang berdomisili di Benua Elir. Rupanya klan Liarra ini memiliki senjata suci nan sakti bernama busur Valuminnaire. Dan berhubung Benua Elir sedang dalam masa kritis, para tetua mendapat wangsit bahwa sudah saatnya busur itu dilepas untuk memilih tuannya. Dan (as we can guest) Liarra lah yang dipilih oleh sang busur.

And...Poof!!!
Begitu Liarra bersentuhan dengan busur Valuminnaire, detik itu juga dia teleport ke Gurun Pasir Tak Bernama dan bertemu Sigmar, seorang pengembara setengah frameless yang sedang dalam misi untuk mencari sebuah kuil yang hilang.

Berhubung Liarra yakin takdirlah yang membuatnya bertemu Sigmar, maka dia yakin adalah takdirnya juga untuk ikut mencari kuil tersebut. Perjalanan mereka gak mudah, sampai ketemu Gorken segala dan akhirnya para Gorken malah jadi pengikut setia Liarra. Oh...apakah Gorken itu? Entah...semacam monster sih. Mungkin sejenis dengan Golem ato Orc kali ya.

Lalu cerita balik ke Rozmerga yang baru sampai di Elir, tepatnya di wilayah kerajaan Serenade. Dalam perjalanannya mencapai ibu kota, dia sempat nyasar, diserang segerombolan perampok, akhirnya terselamatkan dan dapat tumpangan di rumah warga hingga akhirnya dapat tumpangan kendaraan juga ke ibukota.
Buat saya sih bab ini aneh. Gak jelas tujuannya apa secara gak berpengaruh juga ke cerita. Dan aneh juga karena kok Rozmerga dan rombongannya bisa segampang itu kejebak bandit kampung? Apa si pengarang bermaksud menunjukkan betapa juniornya Rozmerga ini?

Setelahnya cerita kembali ke Liarra dan Sigmar yang sudah berhasil menemukan kuil itu dan juga pisau belati kuno. Setelahnya Sigmar dan Liarra menyadari kalau kedua senjata mereka bersinar. Mereka mencoba menyentuhkan kedua senjata dan mendapat suatu visi. Dalam visi tersebut terlihat 5 Pahlawan Legendaris Elir melawan Gottfried Serenade, musuh terkuat dalam sejarah Elir. Pertanyaannya, apakah hubungan visi tersebut dengan kondisi Elir yang kritis saat ini? Dan apa pula peran mereka dalam konflik ini?

 "Ingatlah wahai putri Vanadis, bahwa di jalan segelap apa pun, selalu saja ada secercah cahaya yang akan melindungimu..."
Bingung dengan sinopsis di atas? Nggak perlu...

Karena walaupun ditulis dengan multiple POV, tapi gaya berceritanya nggak bikin bingung kok.
Memang sih ada beberapa hal yang aneh dan lucu seperti Sigmar yang membacakan petunjuk cara menghadapi Gorken ke Liarra tepat saat mereka akan diserang Gorken. Atau saat Rozmerga dan rombongannya gak tahan menghadapi penginapan yang jorok. Juga saat Rozmerga begitu naifnya sampai gak nyadar dia ditipu padahal pembaca awam seperti saya aja bisa nyadar.

Lucu memang, tapi saya pikir biarlah. Toh ukuran saya memberi rating adalah seberapa menikmatinya saya membaca buku tersebut. Dan harus saya akui, membaca Takdir Elir ini enak banget. Bahasanya (walopun kadang-kadang cheesy terutama di bagian percakapan) mengalir banget. Tanpa disadari udah selesai 1 bab aja dan penasaran untuk lanjut bab berikutnya.

Mengenai hal-hal yang belum jelas di buku ini, seperti kegunaan bab waktu Rozmerga diserang (lupa bab berapa) juga apa sebenarnya penyebab konflik di Elir, saya sih berharap akan ada penjelasannya di buku kedua.

Oya...saya juga suka twist di akhir cerita, tentang mereka (saya sengaja gak bilang siapa "mereka" itu) yang terlempar ke masa lalu. Wow...I didn't see that coming. 

Tapi di sisi lain, saya juga heran sendiri. Kan mereka sudah dapat visi tentang masa lalu, kok gak ngeh kalo mereka melihat diri sendiri di visi itu?
Ah time paradox dan time travel selalu jadi konsep yang membingungkan untuk saya. Mudah-mudahan sih akan ada penjelasan yang logis di buku berikutnya.

Empat bintang saya berikan untuk buku ini. Kenapa gak 5 bintag?

Karena dipotong satu bintang karena hal yang "lucu" dan aneh di atas. Dan tadinya saya mau potong setengah bintang lagi karena saya gak suka covernya. Tapi akhirnya batal, karena saya suka ilustrasi-ilustrasi cantik dalam buku ini.

Oh bye the way, ampe akhir saya masih belum tahu frameless itu apa. Tapi pada akhirnya saya gak peduli karena saya toh tetap menikmati buku ini. Yep...this book was that good :)

Friday, February 24, 2012

Anak Tanah Air

Data Buku :
Pengarang : Ajip Rosidi
ISBN 13 : 9789794193440
Penerbit : Pustaka Jaya
Tahun : 2008 (edisi kedua)

Saya dibesarkan dengan pemahaman PKI itu kejam. Lihat saja kelakuan mereka pada 7 pahlawan revolusi. Lihat saja bekas kekejaman mereka di Lubang Buaya. Tak banyak cerita yang saya ketahui tentang PKI selain prinsip "Sama Rata Sama Rasa"nya itu.

Karenanya saya tertarik membaca novel ini, yang menyinggung tentang partai yang pernah berjaya di dunia politik Indonesia tersebut.

Adalah Ardi yang dibesarkan di komunitas yang kental suasana Islamnya. Namun bahkan sejak kecil pun Ardi sudah melihat kejanggalan yang tak disetujuinya. Seperti bahwa Allah itu wujud, tapi seperti apa wujud Allah? Kenapa tak ada orang yang bisa menjawabnya?
Lalu guru mengajinya, Haji Raup, mengapa tiap lebaran mendapat sumbangan zakat yang paling besar? Bukankah dia seorang haji, hidup berkecukupan, kenapa pula masih harus disumbang? Dan uang sumbangan itu dipakai Pak Haji untuk membeli tanah pula. Kenapa Tuhan membiarkan ketakadilan seperti ini? Apa benar Tuhan itu ada?
Pemikiran seperti ini membuat Ardi kecil yang kritis mulai meragukan keberadaan-NYA.

Sewaktu SMU (atau Taman Siswa menurut novel ini), Ardi pindah ke ibu kota. Di tengah kesemrawutan situasi politik, Ardi menjalin persahabatan akrab dengan seniman-seniman di Taman Madya (setingkat universitas). Ardi menemukan passion-nya adalah melukis. Namun dia juga berhadapam dengan kenyataan, seniman itu hidupnya susah. Lihat saja Afandi yang sampai harus hidup menumpang. Belum lagi kenyataan bahwa tak semua orang menghargai bakatnya.

Di saat itu, Ardi bertemu dengan Lekra, organisasi seniman golongan komunis, yang justru sangat menghargai bakatnya bahkan bersedia menyelenggarakan pameran tunggal. Sedari awal, para sahabat sudah memperingatkan Ardi bahwa tak ada yang gratis di dunia ini. Apalagi Lekra sudah terkenal dengan sifatnya yang pamrih.

Ardi tak mengindahkan nasihat sahabat-sahabatnya dan tetap bersikeras mengikuti organisasi tersebut. Selain karena organisasi itu memberinya hidup yang lebih baik dan pekerjaan tetap, juga karena dia merasa ideologinya sepaham dengan organisasi tersebut.

Untuk sesaat, pilihan Ardi tampak benar walau pun dia mesti kehilangan rekan dan sahabatnya. Lekra (dengan dukungan PKI) berubah menjadi partai dengan kekuatan politik yang besar saat itu. Bahkan Presiden Sukarno pun mengandalkan partai tersebut.
Namun roda revolusi mulai bergulir. Masyarakat dan militer tak tinggal diam pada komunis yang menguasai negeri. Dan saat paham komunis diberantas dari negeri ini, bagaimanakah nasib Ardi?
"Keindahan itu tidak hanya terdapat pada hal-hal yang bagus saja. Tidak hanya terdapat pada hal yang menyenangkan saja. Keindahan itu terdapat pula pada hal sehari-hari yang biasanya tidak dianggap indah. Keindahan itu terdapat dalam kejujuran."
-Ardi-
Saat membaca beberapa halaman awal buku ini, saya langsung bersyukur gaya bahasa yang digunakan adalah gaya bahasa 70an walau pun buku ini bersetting tahun 1960an. Seandainya penulis menggunakan gaya bahasa 60an, kayaknya saya bakal butuh waktu lebih lama untuk menyelesaikan :D

Berhubung saya bakal banyak membahas sisi menarik buku ini, maka biarlah saya katakan sekarang tentang rating.
Saya kasih rating 4 bintang saja, dikurangi 1 bintang karena bab-bab awal yang sungguh bertele-tele. Ajip Rosidi berlama-lama dengan masa lalu dan latar belakang Ardi juga masa-masa bersekolah Ardi di Taman Siswa yang sebenarnya bukan konflik utama.

Nah yang saya anggap menarik dari buku ini adalah gaya penceritaan yang terbagi dalam 3 bagian.
Bagian pertama saat Ardi datang ke Jakarta hingga akhir masa sekolahnya diceritakan dengan sudut pandang orang ketiga. Bagian kedua dimulai saat Ardi merintis karir sebagai pelukis hingga bergabungnya dia ke organisasi kiri, diceritakan dengan sudut pandang Ardi.
Namun bagian ketiga lah yang paling menarik. Bagian ketiga merupakan curahan hati Hasan (rekan seniman dan sahabat Ardi sejak sekolah) terhadap situasi politik Indonesia saat itu.

Setelah kita diberi tahu mengenai sisi positif Lekra (dan PKI) dari kacamata Ardi di buku kedua, maka catatan Hasan memberi kesan sebaliknya.
Hasan bercerita bagaimana kebebasan seni dan berpendapat sangat dikekang saat itu. Semua yang mengancam keberlangsungan paham komunis dianggap sebagai pemberontakan. Pada catatannya, Hasan mencurahkan kegelisahan dan idealismenya untuk tidak terikat pada organisasi mana pun karena berpendapat seni haruslah bebas.
Bab ketiga juga memberitahukan nasib para pendukung Lekra (dan PKI) juga Ardi secara tersirat. Dan ini yang menarik, karena nasib Ardi tak pernah jelas dan membuat saya penasaran.

Tapi yang jauh lebih menarik buat saya, di luar segala cerita buku ini, adalah penggambaran situasi jaman dulu.
Ternyata Jakarta itu sudah semrawut sejak dulu, dan ternyata mental bangsa ini yang mau gampangnya saja (seperti keberadaan calo di terminal atau stasiun) juga merupakan penyakit kronis.

Situasi pemilu jaman dulu dan sekarang pun sama, contohnya : di waktu dulu para partai saling menjatuhkan lawan politiknya dengan segala cara termasuk fitnah. Sounds familiar, isn't it? ;)
Dari segi seni pun tak berubah. Simak keluhan seniman-seniman dahulu tentang bangsa kita yang belum bisa menghargai seni teater secara khusus dan seni lain secara umum. Contohnya dari penonton yang masih merokok atau ngobrol bahkan berteriak-teriak saat pertunjukan sedang berlangsung. Betapa masih relevannya keluhan tersebut dengan suasana sekarang.

Simak pula pendapat Hasan tentang kelemahan pimpinan Presiden Sukarno kala itu dan betapa miripnya dengan situasi kepemimpinan di Indonesia belakang ini :
"Dia tak mau mengakui kenyataan yang berkembang di depan matanya. Dia tetap tak mau menerima tuntutan masyarakat yang meminta keadilan. Dia tetap ingin hidup dalam mimpi-mimpinya yang penuh gemerlapan, tanpa menyadari realitas yang ada. Dia ingin membuat Indonesia menjadi bangsa yang besar, yang dimalui bangsa-bangsa lain, tetapi yang ditumbuhkannya adalah manusia-manusia kerdil yang hanya boleh membebek kepadanya saja."
(Note : Dia mengacu kepada Presiden Sukarno. Tapi boleh coba ganti dengan nama Presiden mana pun dan hasilnya kurang lebih sama)

Buat saya ini menyedihkan. Karena bahkan 40 tahun setelah peristiwa di buku ini pun, (mental) bangsa ini belum banyak berubah dan kita belum banyak belajar.
Dan pertanyaan Hasan tentang Indonesia yang tertulis di akhir buku ini pun :
--"Dapatkah negaraku mencapai keadaan demikian? Keadaan yang disebut murah sandang murah pangan, aman tentram kerta raharja, gemah ripah loh jinawi."--
terasa sebagai satu pertanyaan yang absurd.

Buku ini merupakan pemberian dari Oky Septya karena saya menang lomba review nya yang diadakan tahun lalu. Seharusnya review ini tayang tanggal 10 februari kemarin, tapi malah mulur jauh banget. Maaf ya, ki >.<

Monday, January 2, 2012

My Stupid Boss 4 : Trust No One, Suspect Everyone!

Penulis : chaos@work
Penyunting : tka
Desain sampul : Ellina Wu
Published : November 2011
Penerbit : Gradien Mediatama
ISBN 13 : 9786022080336
edition language : Indonesian


Awalnya ke Gramedia tuh gak ada niat beli nih buku, soalnya masih banyak buku lain yg mo dibeli, makanya cuma ngerencanain beli 1 buku personal literature yaitu Manusia Setengah Salmon-nya Raditya Dika.
Bukannya gak berencana beli nih buku. Udah dimasukkin dalam planning kok, but not now. Dalam pikiran saya : buku ke-4 ini pasti lucu, tapi lucunya sama aja kyk buku2 sebelumnya. Sementara Manusia Setengah Salmon itu kan (katanya) hadir dalam format lucu-galau.

Tapi...berhubung penasaran juga sama buku ke-4 ini, saya ambillah 1 sample yang udah kebuka plastiknya. Baca halaman awal sampai ke bab preambule, langsung nyengir lebar di Gramedia, menahan diri untuk gak ngakak lepas. This is what I need right now. Saya perlu tertawa dan saya yakin buku ini bisa bikin saya ketawa. Dan akhirnya, tanpa berpikir lagi, saya bawa buku ini ke kasir.

Dan, saya pun nangkring di kedai kopi ditemani segelas tall frappuccino sambil bersyukur bahwa bos saya bukanlah bos terbangke sedunia :))

Hmm...apa lagi yang perlu dikatakan tentang buku ini? Sudah 4 buku, pembacanya juga pasti sudah tahu banget kelakuan bossman yang aneh-tapi-nyata itu.

Tapi sekedar info aja buat yang belum tahu... Buku ini adalah kumpulan curhat seorang Amoy Kerani (sekretaris) terhadap boss-nya yang di buku ke-4 ini dapat julukan kesayangan : Velociraptor. Yah nama si bos banyak sih. Ada kloningan lele, rantang, iguanadon, badak dan favorit saya : Sangkutan Sarung. Sudahlah, bisa penuh ini 1 postingan cuma bahas nama panggilan si bos aja =D. Pokoknya semua julukan sudah disematkan pada si bossman, kecuali nama aslinya aja (^o^)

Yup...sama seperti di buku-buku sebelumnya, bu Kerani masih merahasiakan identitas aslinya dan masih menggunakan nama pena chaos@work. Identitas bossman juga masih dirahasiakan, walau kali ini ibu Kerani kasi bocoran inisial nama Bossman.
Yang bisa pembaca ketahui hanyalah ibu Kerani adalah seorang Indonesia yang terdampar di Kuala Lumpur demi mengikuti sang suami yang ditugaskan disana. Nun di KL, ibu Kerani bekerja di pabrik/bengkel milik Bossman, pengusaha tajir dari Indonesia yang menikah dengan seorang wanita (tajir juga) asal Malaysia.

Dan jelassss...kelakuan Bossman ini gak ada normal-normalnya. Kalo normal mah gak bakal jadi 4 buku bukan? ;)
Sebenarnya kelakuan si Bossman itu sungguh amat sangat menyebalkan. Tapi ibu Kerani mampu meramunya jadi lucu dan mengubah image si Bossman yang menyebalkan jadi menggemaskan.

Contohnya waktu Kerani bercerita tentang prinsip sang Bossman yang berbunyi : "TRUST NO ONE, SUSPECT EVERYONE" itu. Ini penggalan kisahnya :
Kalo gue lagi kasih laporan pemakaian petty cash, gak peduli seberapa pun dia kasih duit, bisa makan waktu berjam-jam. Mo kasih duit 2000 ringgit kek, 20 ringgit kek, sama aja nyebelinnya.
Bossman : Ini apaan?
Gue : Itu bayar tol.
Bossman : Loh, ngapain bayar tol?
Gue : Itu kan ke Port Klang waktu urus tax
Bossman : Memangnya ada tol di sana?
Gue : Ya ada lah, Pak!
Bossman : Bentar, bentar...saya cek dulu di internet...duh ini kenapa sih mouse-nya kok macet ya...bentar,bentar...bener gak ya di Port Klang ada tol...
Sampai di situ, rasanya nyebelin bukan? Semacam pengen geplak pak boss yang curigation-nya kelewatan ituh :D.
Tapi Kerani mengubahnya jadi lucu dengan tambahan :
Si Velo itu sendiri udah ratusan kali ke Port Klang. Dia tau banget di sana ada tol sampek 3 kali pintu tol!!!! Masih kagak percaya juga. Kali ini gue rasanya bener-bener puanasssss banget, hiiihhh...gue sumpahin kutuan tu bulu ketek dia!!
Ya begitulah...
Yang tadinya mo gregetan ama si Bossman, malah berbalik jadi gemes karena gaya bercerita Kerani itu. Tebakan saya, aslinya mbak chaos@work ini memang orang yang selalu berusaha bersikap positif ya.

Dari segi teknik penulisan sih, tetap sama kayak dulu. Persis kayak gaya nulis curhatan di blog yang gak ada pakemnya. Ditulis dengan gaya khas ibu Kerani sehingga rasanya dia langsunglah yang bercerita. Segala teknik nulis, diksi, bahasa baku dan sebangsanya...silakan ke laut aja (^__^). Tapi saya suka lho, menyegarkan dan menunjukkan kemampuan ngoceh ibu Kerani yang sebenarnya.

Di buku ke-4 ini juga ada info menarik, ibu Kerani bilang kalo dia sedang mengerjakan 1 proyek menulis lagi yang gak ada hubungannya dengan Bossman.
Nah yang bikin saya penasaran : apakah di buku barunya ini, beliau masih akan menggunakan pengaruh chaos@work ato ganti dengan identitas lain?

Maksud saya dengan ganti identitas lain tuh seperti yang rencananya akan dilakukan JK Rowling. Jadi JKR pernah bilang setelah Harry Potter selesai, dia mau mengeluarkan novel fantasi lagi tapi gak bakal pake nama JKR. Dia mau pake nama lain dan rencananya sih fans gak akan dikasi tahu nama barunya. Bahkan segala keperluan promo buku dan semuanya pun gak akan memunculkan sosok dia. Soalnya dia gak mau karya terbarunya dibandingkan dengan Harry Potter.

atau...

Apakah ibu Kerani bakal masih pake pengaruh nama chaos@work? Jadi maksudnya, beliau bakal muncul pake nama lain sih, tapi semua orang juga tahu kalo itu adalah alter name-nya chaos@work. Yah...seperti Nora Roberts dan JD Robb-lah.

Tapi yang mana pun yang dipilih sama ibu Kerani, saya sih mendukung aja dan mendoakan semoga beliau sukses terus dengan karier dan hidupnya.
Soalnya semua seri My Stupid Boss-nya sudah bikin saya ngakak. Terutama buku ke-4 ini, yang menemani saya di hari pertama 2012 dan membuat saya melupakan kebetean sehari sebelumnya.

Dan semoga awal tahun yang diisi tawa menjadi pertanda bahwa setahun ini juga akan penuh tawa bagi saya. Amin :)


(PS : Oh..and thanks to you for that laughter, mba Kerani)

Friday, December 16, 2011

Kedai 1001 Mimpi


Penulis: Valiant Budi
Penerbit: Gagasmedia
ISBN :  9789797804978
Tgl Penerbitan : 2011-05-11
Halaman : 456
Ukuran : 130x200x0 mm


Selamat datang di negeri 1001 dongeng. Berharaplah ini memang sekedar dongeng.
@Vabyo
Nun jauh di Bandung sana, hiduplah seorang pria bernama Valiant Budi Yogi aka Vabyo. Sama seperti jutaan orang lain, Vabyo juga punya mimpi tinggal di luar negeri. Bedanya negara impian Vabyo bukanlah yang favorit semacam Eropa ato Amerika. Vabyo justru bermimpi tinggal di kawasan Timur Tengah ato Afrika.
Demi mengejar mimpi ini, Vabyo rela meninggalkan karirnya di Indonesia untuk menjadi barista di Dammam, sebuah kota di Kingdom of Saudi Arabia (KSA).

Namun kenyataan memang jarang yang seindah mimpi.
Pertama, tentu saja Vabyo harus bergulat dengan cuaca yang panasnya di luar perkiraan (nyampe 56 derajat celcius, bo!). Cuaca panas ini otomatis berdampak pada air yang juga panas, menyebabkan insiden dubur lecet (baca aja sendiri untuk lengkapnya ya).

Kedua, Vabyo mesti berdamai dengan shift kerja gila-gilaan dan setiap shift diisi dengan kerjaan yang naujubile capeknyaaa. Ternyata menjadi barista itu bukan hanya duduk-duduk manis menunggu customer dan membuatkan kopi ketika ada yang mengorder. Ternyata menjadi barista itu sebuah pekerjaan yang melibatkan terbuangnya tenaga, hati dan juga nurani. Terkesan lebay? Gak kok. Baca aja buku ini dan Anda akan mengerti maksud saya.

Tapi yang menurut saya paling berat di antara semuanya adalah, Vabyo harus bisa bertahan menghadapi kelakuan warga Dammam yang "ajaib". Mulai dari rekan kerja hingga orang asing yang ditemui di jalan.
Simak pengalaman Vabyo waktu sakit dan berobat ke dokter yang aneh tapi nyata. Atau waktu dia dikejar-kejar segerombolan pria Arab untuk di..ehm..."lecehkan". Juga kekekiannya menghadapi pelanggan-pelanggan ajaib yang arogan, sok tahu, linglung, bahkan haram. Hah? Haram? Yup...beneran haram. Makanya baca sendiri dong bukunya ;)
"Kita ini konon pahlawan devisa. Tapi kalau mati ya sudah-dianggap binatang saja."
-Yuti-
Buku ini juga mengungkap fakta-fakta "unik" tentang negara itu. Seperti hak dan kebebasan wanita yang sangat dibatasi (nyetir mobil aja gak boleh lho), kode-kode kencan yang dilancarkan para baba, saudi champagne yang dari namanya saja jelas-jelas beralkohol tapi masih masuk kategori halal, serta yang paling menarik tentang kedekatan hubungan antar para baba di KSA dan daerah Cipanas di Puncak. Hayoo...ada yang tahu?;)

Namun Kedai 1001 Mimpi tidak melulu bercerita tentang Vabyo. Ikuti perjalanan Yuti sang TKI yang sukses mengubah nasib dari yang tadinya mengepel lantai kini menyisir lantai mall berbusana Prada. Simak kisah Mas Blitar, sang supir asli (well...jelaslah) Blitar yang merangkap sebagai pemuas nafsu majikan-majikannya. Juga Bambang, seorang gay yang merasa ketemu dunianya di Dammam. Dan jangan lupakan Eldo, si floor supervisor di sebuah hotel yang merangkap sebagai penari tiang. Baca dan tersenyum kecutlah bersama mereka.
Dan buku ini juga tidak hanya mengungkap sisi buruk KSA. Ada sisi baik dan kebaikan warganya yang juga diceritakan Vabyo. Namun demi untuk mencegah spoiler, saya biarkan anda menemukannya sendiri di buku.
“Tapi satu pelajaran yang gue dapet. Kita bisa mencari iman di mana saja, termasuk di negara yang sering ‘dibilang kafir’ sekalipun.”
Saya sudah mengikuti perjalanan @Vabyo di KSA sejak dia rajin memposting serial tweetnya dengan tagar "Arabian Underkampret" (yang lalu diubah jadi Arabian Undercover. Sayangnya saya sudah nyaman dengan istilah Underkampret. Hehehe :p). Rutinitas pagi saya kala itu membaca timeline @Vabyo sepanjang jalan menuju kantor.
Sayang, sekembalinya ke tanah air, @Vabyo semakin jarang membagi cerita Arabian Underkampret-nya. Awalnya saya berpikir mungkin dikarenakan kesibukannya mengurus Warung Ngebul.
Tapi ternyata, @Vabyo bilang di twitter bahwa pengalaman-pengalaman Arabia Underkampret-nya akan dibukukan, makanya gak bisa dishare lewat twitter lagi. Horeeee....\(^o^)/

Karenanya gak heran waktu buku ini di-launching, saya dengan bersemangat langsung membeli.
Dari segi fisik, saya suka sama sampulnya yang lucu dan "kena" banget dengan isi buku. Ilustrasi secangkir kopi yang ada di tiap akhir bab juga mampu membuat saya mendadak ngidam kopi. Ada beberapa typo namun bagi saya sih bisa dimaafkan.
"Saya datang buat mempertebal iman, bukan jadi dalang setan."
-Mas Blitar-
Mengenai isi buku, sebenarnya kebanyakan cerita mirip dengan yang dulu pernah di-tweetkan @Vabyo. Jadi yah sebagian besar ceritanya sudah saya baca. Tapi saya tetap senang kok. Karena akhirnya saya punya memento untuk serial twit Arabian Underkampret-nya Vabyo itu. Lumayanlah sebagai salah satu referensi saya tentang KSA (psstt...diam-diam saya sama kayak Vabyo yang punya ketertarikan khusus pada Timur Tengah dan Afrika).

Kalo ada yang pernah membaca 2 buku Vabyo sebelumnya, pasti heran dengan gaya bahasanya yang lain banget di Kedai 1001 Mimpi. Tapi gaya bahasa Vabyo tetap enak dibaca. Dan jangan khawatir, walau pun buku ini sebenarnya beraroma susah, namun Vabyo membalutnya dengan gaya komedi. Dia seolah ingin mengajak kita menertawakan hidup sepahit apapun itu, karena memang "Ada Lelucon Di Setiap Duka".
Kamu tidak perhatikan, banyak orang MATI karena terlalu BANYAK TAU?!
-sebuah comment di sebuah blog-
Dari info yang saya baca di timeline @Vabyolous (fanbasenya Vabyo di twitter) ternyata drama bukan hanya terjadi di dalam buku ini. Ada banyak kisah di balik layar penerbitan Kedai 1001 Mimpi. Vabyo mendapatkan banyak ancaman dan beberapa kali dicegat orang-orang asing, bahkan sampai terjadi pemukulan. Pelakunya jelas mereka yang berpikiran sempit dan menganggap Vabyo mencemarkan Islam dengan mengungkap fakta-fakta tentang KSA. Padahal Vabyo hanya ingin membuka mata kita tentang fakta yang sebenarnya sudah diketahui banyak orang namun sering dilupakan yaitu : Arab memang negara Islam tapi Islam bukanlah Arab.

Rating 4 bintang saya berikan untuk Vabyo dan segala pengalaman uniknya di Dammam sana.
Kenapa gak 5 bintang? Karena saya menangkap ada beberapa kekurangan. Ada hal-hal yang gak tuntas diceritakan Vabyo seperti alasan kearoganan customer dari Riyadh atau apakah Vabyo pada akhirnya mengiyakan tawaran Eldo. Jadi rasanya seolah-olah Vabyo "lost track" di tengah-tengah menulis dan pindah ke topik lain.
Walau begitu saya sangat salut pada keberanian Vabyo untuk mengungkap fakta kelam KSA walau pun mendapat ancaman. Maju terus dalam mengungkap fakta, bro. Semoga makin sukses dan tetap baik-baik saja ya.

Quote of the book :
"Di negara miskin saya itu, saya lebih banyak tersenyum. Tak terbeli dengan ribuan riyal. Lagi pula, semua kebusukan negara saya, Indonesia, ada di negara lain, kok. Tapi keindahan Indonesia belum tentu dimiliki negara lain."
-Vabyo-

Sunday, October 30, 2011

Setelah Dia Pergi

Judul Asli : Where She Went
Pengarang : Gayle Forman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Alih bahasa : Poppy D. Chusfani
Editor : Dini Pandia
Publish : 27 Oktober 2011
ISBN / EAN : 9789792276503 / 9789792276503
240 hlm; 20 cm

Buku ini merupakan lanjutan If I Stay yang juga karangan Gayle Forman. Jadi...kalau anda memang belum membaca If I Stay, please jangan baca review ini. Karena, tanpa bisa dihindari, review ini akan memberi spoiler pada ending If I Stay dan akan mengurangi keasyikan membaca If I Stay nantinya.

"She kissed me good-bye. She told me that she loved me more than life itself. Then she stepped through security. She never came back."
-Adam Wilde-
Cerita dimulai tiga tahun sejak kecelakaan tragis yang merenggut keluarga Mia. Dan tiga tahun juga sejak Mia keluar dari kehidupan Adam.
 Dalam tiga tahun ini, Mia berjuang menyembuhkan luka fisik dan jiwa yang dialaminya karena kecelakaan. Sekarang, dia adalah cellist muda berbakat dari Juilliard yang akan memulai karier profesionalnya.

Dalam tiga tahun ini juga, Adam berusaha keras melupakan Mia. Sekarang ini, Adam sudah menjadi bintang rock terkenal, diganjar berbagai platinum dan award, pengidap anxiety disorder dan berubah jadi sosok yang pahit. Adam sadar dia berjalan menuju kehancuran walau tak tahu bagaimana menghentikan dirinya.

Suatu hari yang panas di New York, takdir mempertemukan mereka lagi. Tersedia waktu 24 jam untuk bersama sebelum masing - masing pergi ke benua yang berbeda. Maka Mia mengajak Adam untuk menjelajahi kota yang sekarang menjadi rumahnya sambil mengunjungi masa lalu, untuk membuat sebuah 'closure' atau penutup pada hubungan mereka yang mengambang. Dan juga untuk menjawab pertanyaan terbesar Adam selama 3 tahun ini :  "KENAPA??!!" Kenapa Mia pergi dan kenapa dia melakukan ini pada Adam? 
"Someone wake me when it's over. When the evening silence softens golden. Just lay me on a bed of clover. Oh I need help with this burden." 
Collateral Damage - Hush
Where She Went (WSW) adalah cerita-nya Adam. Sebagai narator tunggal, Adam bercerita tentang hidupnya, kariernya yang meroket, kehampaan dan kepedihannya juga kenangan hidupnya dengan dan tanpa Mia. Sama dengan If I Stay, novel ini juga bercerita dengan gaya flashback, dari masa kini-ke masa lalu-dan kembali ke masa kini.

Saya pernah bilang yang saya suka dari If I Stay adalah karakter Mia dan Adam yang realistis. Di buku ini, sisi realistis itu masih terjaga, walau tentu saja mereka sudah berubah.
Mia jelas berubah. Gak ada yang bisa tetap sama setelah melewati peristiwa tragis itu. Perubahan Mia lebih menarik dibaca langsung di bukunya, karena itu gak saya spoil disini ^-^

Adam...yah dia jelas berubah juga. Sayang perubahannya ke arah yang lebih buruk. Tapi disinilah hebatnya Forman, walau tak setuju dengan perubahan Adam, namun saya bisa mengerti. Forman bisa meyakinkan saya bahwa perubahan Adam wajar saja. Dia membuat Adam jadi karakter yang emo tapi gak menye dan mellow. Sehingga bukannya kesal sama Adam (saya suka kesal sama tokoh cowok yang terlalu emo), saya malah bersimpati.

Sejujurnya, saya terharu pada Adam.
Waktu baca If I Stay, karena membaca hanya dari sisi Mia, saya gak memahami seberapa dalamnya perasaan Adam ke Mia. Saya pikir jenis cinta mereka hanyalah cinta monyet masa remaja.

Ternyata saya salah.
Lewat cerita Adam, saya tahu bahwa sejak awal dia sudah serius dengan Mia. Bagi Adam, ini adalah cinta yang nyata, dan karenanya, saya bisa paham mengapa dia hancur ketika Mia pergi. Saya ikut merasakan kegeraman dan rasa penasaran Adam terhadap Mia.

Saya ikut bersedih untuk Adam ketika mengetahui alasan di balik kepergian Mia. Tapi akhirnya, sama seperti Adam, saya bisa menerima alasan Mia dan setuju ketika Adam mengikhlaskan apa pun keputusan Mia, termasuk melepaskannya bila perlu.
"Hate me. Devastate me. Annihilate me. Re-create me. Re-create me. Won't you, won't you won't you re-create me."
 -Collateral Damage-
Yang juga saya suka di WSW ini adalah chemistry Mia dan Adam yang makin bagus. Seperti yang saya bilang, Adam sudah berubah. Tapi saya bisa melihat kembalinya Adam yang dulu setelah dia bertemu Mia lagi. Hanya Mia yang bisa mengeluarkan sisi terbaik Adam. And for me, that's sweet :)

Oh and I love the ending too.
Nope, I won't spoil it here. I'd just say that Forman tied the ending with a red ribbon but not too tight :)
"Are you happy in your misery? Resting peaceful in desolation? It's the final tie that binds us. The sole source of my consolation"
Collateral Damage - Blue
Buat saya, kekurangan di seri ke-2 ini adalah musik.
Musik sangat berperan bagi hubungan Mia dan Adam. Musik-lah alasan perkenalan sekaligus penghias kebersamaan mereka. Musik-lah yang membantu Mia dalam pemulihan pasca kecelakaan. Musik juga yang menjadi pelarian Adam setelah ditinggal Mia. Dan pada akhirnya, musik yang mempertemukan mereka lagi.

Dengan peran sebesar itu, mestinya musik menjadi nafas di buku ini. Tapi somehow, entah kenapa, musik tidak mempunyai kesan yang kuat bagi pembaca. Minimal tidak sekuat buku pertamanya.

Tapi biar begitu, sepanjang membaca buku ini, ada 2 lagu yang bermain di benak saya. Yang pertama adalah Waiting For The End-nya Linkin Park. Yang kedua, sejak Adam bertransformasi setelah bertemu Mia, lagu yang terngiang adalah The Only Exception-nya Paramore.
"First you inspect me. Then you dissect me. Then you reject me. I wait for the day that you'll resurrect me"
Collateral Damage - Animate
Cover versi GPU menggambarkan sisi belakang sebuah gitar yang disandarkan pada pintu usang bercat hijau. Dari cover-nya, saya mendapat 'feel' suasana musim panas, seseorang yang jenuh atau lelah dengan kehidupannya dan ingin berbalik dari dunia. Cover yang cantik dan sangat menggambarkan isi buku ini. Cover designer-nya memang favorit saya : Marcel A.W.
Dan jelas menang jauh dibanding cover aslinya.

Untuk terjemahan, hmm...entah lah ya. Saya terharu sih waktu baca. Tapi gak sampai nangis juga. Beda banget dengan review-review di goodreads yang bilang ini "tearjerker book".
Ada apa? Salah penerjemahan kah?
Tapi penerjemahnya sama kok dengan di If I Stay. Dan beliau itu salah 1 penerjemah favorit saya.

Karena penasaran, saya membaca versi US-nya. Dan ternyata...mata saya berkaca - kaca. Saya memang lebih merasa terharu tapi tetap aja gak sampai menangis.

Berarti gak ada yang salah dengan terjemahan GPU. Memang begitu lah cara Forman menulis WSW, berjiwa namun kurang emosional. Seenggaknya gak seemosional If I Stay klo menurut saya. Fyuh...thanks, GPU. U still do not fail me :).

And then...
Menurut saya Where She Went sangat layak dibaca. Untuk menjawab rasa penasaran akan If I Stay, untuk melihat kelanjutan kisah Adam dan Mia. Dan terutama untuk belajar dari mereka tentang mengatasi kehilangan.

Empat bintang untuk Where She Went baik versi terjemahan mau pun versi US.

PS : Saya sih berharap GPU akan tetap menerbitkan karya-karya Forman yang lainnya. ^_^

Quote of the book :
"But I'd do it again. I know that know. I'd make that promise a thousand times over and lose her a thousand times over to have heard her play last night or to see her in the morning sunlight. Or even without that. Just to know that she's somewhere out there. Alive."
-Adam Wilde-