Showing posts with label 5 bintang. Show all posts
Showing posts with label 5 bintang. Show all posts

Monday, April 1, 2013

Harry Potter & The Prisoner of Azkaban


 Data Buku :
Judul : Harry Potter and The Prisoner of Azkaban
Penulis : J.K. Rowling
Penerbit : Bloomsburry Publishing
Bahasa : Inggris
Tahun Terbit : 2000
Format : Hardcover
Rating : 5 out of 5 stars

Yay...Hotter Potter udah masuk bulan ke-3 dan artinya udah 3 buku Harry Potter yang saya re-read. Gak nyangka, dari sekian challenge yang saya ikuti, saya malah paling committed sama Hotter Potter ini :)).
But I can't help it. Soalnya cerita Harry Potter makin ke belakang makin seru dan bikin nagih X).
Oiya, sebelum lanjut, saya kasi warning dulu ya kalo review ini bakal penuh SPOILER. 

Harry Potter menjalani tahun ke-3 yang sibuk di Hogwarts. You know, mata pelajaran yang makin banyak dan berat, jadwal latihan Quidditch yang makin ketat (apalagi ditambah ambisi kapten tim untuk memenangkan Quidditch Cup berhubung ini tahun terakhir sang kapten), belum lagi ulah kedua sahabatnya Ron dan Hermione yang sepertinya susah banget berdamai. Dan perselisihan mereka makin sengit sejak kucing peliharaan Hermione selalu mengincar tikus peliharaan Ron.
Jadi ketika Harry tahu tentang narapidana yang kabur dari Azkaban, awalnya dia gak peduli. Ya, Sirius Black (si napi) memang membunuh banyak muggle dan ya, karenanya keamanan di Hogwarts musti diperketat. Tapi itu bukanlah fokus utama Harry.

Sampai kemudian dia menemukan hubungan masa lalu antara Sirius Black dan kedua orang tua Harry serta peran Sirius pada malam yang mengubah hidupnya 13 tahun lalu.
Wajar kalo Harry merasa marah dan dikhianati sehubungan dengan Sirius Black ini.
Tapi ternyata, bukan hanya itu rahasia yang tidak diketahui Harry. Kenyataan tentang malam bersejarah itu sungguh jauh di luar perkiraan Harry.
It's not Rowling if she doesn't have some twists up her sleeve. And what a twist it was.
Bravo Rowling!
“But you know, happiness can be found even in the darkest of times, if one only remembers to turn on the light." -Albus Dumbledore-
Setelah kelar baca ulang buku ini, maka bisa saya katakan tanpa ragu bahwa Harry Potter & Prisoner of Azkaban (POA) akan selalu menjadi buku terfavorit saya dari seri Harry Potter ini.

Di buku ini, Harry & the gank sudah cukup dewasa, konfliknya juga makin berat, persahabatan mereka (untuk pertama kalinya) teruji dengan perselisihan. Tapi toh mereka belum sedewasa itu hingga konfliknya bisa jadi terlalu berat, masih terasa hawa innocence khas kanak-kanak di buku ini. Oh I love this "i'm-not-a-kid-not-yet-an-adult" phase.

Dan ada Quidditch Cup!
Oh...I'm so excited. Quidditch di tahun ketiga ini paling seru dan menegangkan karena yah...kita bisa lihat Harry dan team Gryffindor masuk ke babakl final (akhirnya!). Dan pertandingan finalnya itu seru banget. Saya ingat, pertama kali baca adegan itu, saya gak bisa berhenti. Saya bahkan ikut menandak-nandak saking excited-nya. Dan kemarin, excitement yang sama kembali saya rasakan. Yep, adegannya masih seseru itu ternyata.

Lalu ini satu-satunya buku dimana pelajaran Defense of Dark Art mendapat guru yang "beres" (yaaa kalo werewolf bisa dianggap beres sih). Dan guru yang "beres" ini membuat saya lebih paham dunia Harry Potter. Saya jadi tahu dengan makhluk semacam Grindylow, Red Caps, Kappa, dll.

Dan 2 makhluk favorit saya :
1. Dementor, yang bisa menghisap seluruh kebahagiaan manusia di sekitarnya dan bahkan memberi dampak buruk kepada beberapa orang tertentu.
But what's interesting about dementor is the patronus charm (a charm to banish dementor). I like JKR's idea about this whole dementor thing.
See...actually we're all have our own dementor, something or someone that could depress us and suck our happiness away. BUT...dementor can be fought. As long as you keep that happy memory and positive attitude inside you, then for sure you could beat that dementor.

2. Boggart. Ini satu lagi makhluk paling menarik dari dunia Harry Potter. Saya selalu penasaran, kira-kira apa bentuk boggart saya ya? Dulu saya pikir badut ato cicak. Tapi sekarang?
Hmm...saya sangat yakin, boggart saya bukan itu.
But what's more intriguing about boggart is how to finish it. Lupin said the thing that really finishes a boggart is laughter. So...according to Rowling, the way to conquer your fear is by laughing about that,  no matter how scare you actually are, just stay calm and don't forget to find the funny side of that.
That's a cool philosophy, Ms. Rowling. Gotta keep that in mind. 
(PS : Bye the way, since my (maybe) greatest fear now is death, could I say that I laugh in the face of death?)

Tapi yang paling saya suka dari buku ini adalah mixed emotions yang saya rasakan sewaktu membacanya. Bermula dari suasana lazy-summer sewaktu Harry bersantai di Diagon Alley, lalu penasaran tentang apa itu dementor dan kenapa Harry punya reaksi yang ekstrim, ikut merasakan serunya kelas Defense of Dark Art di bawah asuhan Lupin, ikut ngerasa "gak-nyangka" waktu tahu tentang kasus Sirius 13 tahun yang lalu, ketegangan di final Quidditch, kembali bengong waktu tahu fakta sebenarnya dan hubungan Sirius dan James-Lily Potter, ikut merasakan antusiasme Harry waktu dia berpikir akhirnya bisa keluar dari rumah Dursley dan...kecewa ketika ternyata takdir berkata lain.
What a rollercoaster reading experience it was :).

Biar gitu, saya punya kebingungan tersendiri pada buku ini, terutama sih dengan keberadaan time turner dan marauder's map itu.
Jadi pertanyaan ini bermula dari kalimat berikut :

"The important thing is, I was watching it carefully this evening, because I had an idea that you, Ron, and Hermione might try and sneak out of the castle to visit Hagrid before his hippogriff was executed."  - Remus Lupin-

 Hmm...jadi kalo Lupin memang memperhatikan Marauder's Map dengan seksama, kenapa dia gak nyadar kalo ada 2 Harry dan Hermione waktu adegan "pembantaian" Hippogriff itu?
Pertanyaan yang sama juga bisa diajukan ke Snape waktu dia melihat ke Marauder's Map. Okelah...mungkin Snape memang gak mengamati peta dengan seksama, jadi dia gak ngeh dengn dobel Harry & Hermione, tapi kenapa dia gak ngeh dengan keberadaan Peter Pettigrew? Mereka semua di ruangan yang sama kan?
Ah..again, one of my unanswered questions.

Tapi tetap saja, saya beranggapan JKR memang jenius dengan seri Harry Potter ini. This is just one of those series you can't put down until you've read the last line and then you're anxious to pick up the next in the series. And this third book made that anxious feeling grew even more.

PS : Oya...jadi ingat kalo saya juga masih gak nangkap waktu Dumbledore bilang gini : "the time may come when you will be very glad you saved Pettigrew’s life". When? Kapan ya Harry pernah mensyukuri fakta itu? Dan kapan Voldemort pernah terganggu dengan fakta bahwa seorang pembantunya berhutang kepada Harry?
Hmm....sepertinya saya harus memperhatikan buku-buku berikutnya lebih seksama.

Thursday, February 7, 2013

Pushing The Limits

Judul : Pushing The Limits
Penulis : Katie McGarry
Penerbit : Harlequin Teen
Tahun Terbit 2012
Format : Ebook

 Sometimes it takes only one night to turn your life upside down...

Echo Emerson tampak memiliki segalanya : cantik, cerdas, bakat besar di bidang melukis, termasuk geng siswa populer dan berpacaran dengan seorang bintang basket di SMU mereka.
Namun dalam satu malam semuanya berbalik 180 derajat.
Echo tak ingat apa yang terjadi pada malam menentukan itu. Yang pasti dia terbangun di rumah sakit dengan luka besar di lengannya serta informasi bahwa sang ibu kandunglah pelakunya. Ketika dia kembali ke sekolah, sudah beredar gosip bahwa dia mencoba bunuh diri dan berakibat pada pengucilan Echo. Saat ini yang Echo inginkan hanyalah kembali hidup normal dan itu hanya bisa didapat bila dia bisa mendapatkan memorinya lagi.

Dalam satu malam juga hidup Noah Hutchins berubah drastis.
Tadinya dia adalah bintang basket dengan prestasi akademis bagus dan keluarga harmonis. Namun kebakaran menewaskan kedua orang tuanya dan membuat Noah serta kedua adiknya harus ditempatkan dalam rumah asuh. Karena suatu insiden, Noah ditempatkan di rumah asuh yang berbeda dengan kedua adiknya, hak berkunjung pun dibatasi. Saat ini yang diinginkan Noah hanyalah segera lulus dan mendapatkan hak asuh kedua adiknya.

Berkat campur tangan Mrs. Collins (school conseulor), mereka berdua dipertemukan. Echo perlu uang untuk memperbaiki mobil Aires. Noah butuh bimbingan supaya dia lulus tepat waktu.
Dan dua individu yang terkucil ini menemukan kesamaan di diri satu sama lain. Mereka pun berjanji untuk saling membantu menipu Mrs. Collins demi mencapai "tujuan" mereka.
Akankah rencana  itu berhasil?

Saya membaca buku ini tanpa ekspektasi apa-apa. Yap, saya tahu ratingnya tinggi di Goodreads. Tapi somehow, sinopsis dan covernya tidak membuat saya tertarik.
Ternyata saya sangat menikmati bacaan saya kali ini. And here's why :

1. The Story

Yang saya suka adalah, saya ngerasa bisa "percaya" sama cerita ini. Konflik batin yang dihadapi Echo dan Noah untuk menemukan kembali sedikit dunia lama mereka bisa saya pahami.

Emang sih, agak ngeselin liat betapa pengennya Echo diterima lagi oleh geng popularnya. Padahal dia tahu kalo sebagian besar teman itu meninggalkannya saat dia jatuh. Kok ya masih aja dia mo berusaha untuk masuk kembali ke lingkungan populer itu? Kalo saya sih bakal ngambil sikap : "This is me. Take it or leave it."
Lalu saya teringat kayak gimana situasinya di SMU dulu, gimana pentingnya acceptance di pergaulan. Masa sekolah saya tergolong cukup normal, jadi saya kurang paham perasaan Echo. Tapi saya bisa kebayang gimana gak enaknya dikucilkan. Dan karenanya saya bisa ngerti usaha dia untuk diterima kembali.

Dan Noah...wow...saya malah lebih bisa "relate" dengan inner conflictnya.

See...satu hal dari Echo adalah : at least people in her life still there after "that" incident. Yep things had changed, but no one's dead in her case. And for me, as long as the people still alive then there would always a chance to make things right again. No matter how small that chance is, but it still exists somehow.
"They’d never know that they lost the two most amazing people on the face of the planet. They’d never know how the loss had torn me up every single day of my life."
-
Noah Hutchins-
But Noah is a whole different case.
After that day, he practically lost everything : his parents, his stable life, his future.
Dan yang paling menyakitkan bagi Noah adalah kenangan.
Kenangan akan masa indah yg sudah lewat dan gak bakal bisa kembali. Kenangan akan orang menakjubkan yang sayangnya gak akan dikenal oleh orang banyak. Dan yang paling pahit bagi Noah adalah kedua adiknya tidak mengingat orang tua mereka.

Boy, I know that feeling very well.
My younget brother still a little kid when dad had passed away. And I really want him to know more about this greatest person on earth which is our dad.
Saya ngerti banget kenapa Noah selalu bercerita tentang orang tuanya pada kedua adiknya. Alasan yang sama yang bikin Noah pengen banget tinggal bareng adiknya seperti dulu. Supaya ada perasaan semuanya masih tetap sama dan bahwa orang tua mereka akan selalu "diingat".

Saya gak bilang itu pilihan yang bijaksana. Tapi saya ngerti godaan untuk memaksakan "memori tentang orang tersayang" ke orang lain. So I could relate to Noah well.

2. Gaya Penulisan
Well...sebenernya sih ada sedikit masalah dengan gaya penulisan McGary yang suka repetitif itu. Misalnya tentang deskripsi fisik dan karakter Echo & Noah yang itu-itu aja dan diulang melulu (_ _").
Tapi untungnya, di Pushing The Limits McGary bercerita dengan gaya POV 1 dari sisi Noah dan Echo bergantian. Dengan begini, saya lebih bisa mengerti perasaan dan pikiran Noah dan Echo.

3. Karakternya

Saya suka cara penulis membuat karakter dua tokoh utamanya. There are so many layers inside of them.
“Are you ready to take the ACT on Saturday?" my father asked.
Did chickens enjoy being put on trucks labeled KFC? "Sure.”
- Echo Emerson-
Pada awalnya, Echo terlihat sebagai gadis cerdas nan sinis sementara Noah...yah...tipikal remaja tukang madat nan playboy. In some ways, they're unpleasant to be with :).

Tapi saat cerita berlanjut, kita dibawa untuk membuka lapisan lebih dalam dari Echo dan Noah. Ternyata, mereka hanyalah dua manusia pahit yang pernah punya masa depan cerah dan saat ini selalu menyesali semua yang telah hilang. Bisa dipahami kalo mereka jadi pahit ketika semua itu terenggut paksa.
“The worst type of crying wasn't the kind everyone could see--the wailing on street corners, the tearing at clothes. No, the worst kind happened when your soul wept and no matter what you did, there was no way to comfort it. A section withered and became a scar on the part of your soul that survived. For people like me and Echo, our souls contained more scar tissue than life.”
-Noah Hutchins-
Tepat seperti itulah mereka. Dua orang yang menangis dalam diam, namun terluka paling dalam. Dan McGary mampu menyampaikan kesedihan Echo dan Noah dengan sangat baik hingga saya turut merasakan those silent tears.

Namun bukan hanya 2 karakter utama saja yang menarik.
Saya juga suka dengan Mrs. Collins, counselor mereka. Berkat Mrs. Collins lah Echo dan Noah berani belajar untuk percaya lagi. Senang mengetahui ada sosok dewasa yg membimbing mereka.

Lalu ibu tiri Echo.
See...selama ini kita mengenal sang ibu tiri hanya via narasi Echo, so naturally kita pun sepaham dengan Echo. Belakangan saya sadar betapa salahnya membuat asumsi tanpa melihat dari sisi lain :D.
“I wrote about the person I love most, my older brother, Noah. We don't live together so I wrote what I imagine he does when we're not together."
"And what is that?" prodded the stout man.
"He's a superhero who saves people in danger, because he saved me and my brother from dying in a fire a couple of years ago. Noah is better than Batman."
-Jacob Hutchins on his winning speech-
Dan kedua adik Noah, terutama Jacob. They both stole my heart. Kedua adiknya inilah yang mencegah Noah dari kehancuran total.
Saya terharu sewaktu melihat betapa Jacob masih begitu percaya dan sayang sama Noah bahkan setelah semua yang terjadi. We all need at least someone who would trust us 100%, no matter what had happened. Glad for Noah because he has that.

4. Character Development

Ini juga satu aspek yang bikin buku ini "juara" buat saya. Karena Echo dan Noah yang ada di awal buku sungguh berbeda dengan yang di akhir.

Echo dan Noah berkembang di sepanjang buku ini, tapi perkembangan itu tidak terjadi secara instan. Gak ada satu peristiwa drastis yang memaksa mereka untuk langsung "berubah". Sebaliknya, McGary memintal adegan demi adegan, merangkai kata demi kata sehingga character development-nya Echo dan Noah terasa believable dan gak maksa.
"We all started off this way—small little bundles of joy. Me, Aires, Noah, Lila, Isaiah and even Beth. At some point, someone held and loved us, but somewhere along the way, it all got screwed up."
-Echo Emerson-
Kalimat itu emang gak begitu berkesan dibanding kutipan lain dari buku ini, tapi kalimat itu yang bikin saya ngeh betapa jauh seorang Echo berubah. Betapa Echo kini belajar melihat hal dari perspektif berbeda.
“Why is it when people are proud of me that my life sucks?” - Noah Hutchins-
“Because growing up means making tough choices, and doing the right thing doesn’t necessarily mean doing the thing that feels good.” -Mrs. Collins-
Saya gak mau bahas banyak tentang character development Noah di sini. Tapi kutipan itu semestinya cukuplah memberi tahu perubahan Noah.

5. Endingnya
“It doesn't get better," I said. "The pain. The wounds scab over and you don't always feel like a knife is slashing through you. But when you least expect it, the pain flashes to remind you you'll never be the same.”
-Noah Hutchins-
Satu bintang lagi untuk ending buku ini. Endingnya tipe kesukaan saya.
Not the kind of ending that full of sweet stuff, sunshine and roses. It's the kind of ending which told us that there are still lots of hard work ahead for Echo & Noah in terms of working through issues. But you could be sure that they would overcome whatever happens together. And that is enough :).

Kalo ada kekurangan buku ini, itu adalah rasa asing saya dengan konsep instalove-nya Echo dan Noah.
Dari sejak bertemu, langsung ada ketertarikan antara Echo dan Noah yang terus bertumbuh hingga akhir buku. Sebut itu semau anda : love at first sight, special sparks, chemistry, apapun itu. Pokoknya, saya sangsi dengan hal semacam itu. Tapi mungkin itu hanya saya sih.

Dan...sebenarnya saya heran. Sewaktu Echo dikira terluka karena mencoba bunuh diri, kenapa dia malah dikucilkan oleh teman-temannya ya? Kenapa gak ada yang simpati? What kind of cynical society we've build now? But put it aside...
Pushing The Limit tells us about many things. It's about how important it is to accept your self first before you could seek for society acceptance. It's also about learning to see each problem from different side of view.
And mainly : it's about keeping forward. No matter how bad your life is now, how deep in shit you are, just keep forward, keep moving. Because something better might come along later.

It's the kind of book that gave me heart wrenching feeling in some places, made me shed both happy and sad tears at several points in the story, but it was all worth it in the end. I finished this book smiling peacefully and hugging my ereader in bliss.

Five shiny stars for this book.

Wednesday, January 30, 2013

Caldas

Data Buku :
Judul : Caldas
Judul Inggris: The Story of A Shipwrecked Sailor
Penulis: Gabriel Garcia Marquez
Penerjemah: Rizadini
Penerbit: Pustaka Sastra LKis Yogyakarta xvi + 124 hlm
Rating : 5 out of 5 stars

Jujur, saya merasa terintimidasi menulis review ini >.<
Gimana nggak, rekan saya Bang Helvry sudah membuat review yang sangat komprehensif untuk buku ini (sila baca review dia di sini). Saking komplitnya review beliau, saya gak tahu mo nulis apa lagi. Rasanya cuma kepengen nulis gini : "Untuk review yang mumpuni, sila baca review ini" sambil memberi tautan ke blog bang Helvry. Boleh gitu aja gak sih? X) #DikeplakBebi

Okeh..yuk kita mulai review ini...

Di bulan Maret 1958, seorang pelaut ditemukan terdampar di sekitar pesisir Mulatos, Kolombia.
Belakangan diketahui pelaut yang bernama Luis Alejandro Velasco itu adalah awak dari kapal Caldas, sebuah kapal perusak milik Kolombia.
Sekitar sepuluh hari yang lalu,  Caldas dihantam ombak besar yang menyebabkan beberapa awaknya terlempar ke laut. Sudah dilakukan pencarian untuk menemukan kru Caldas yang hilang, namun tak membawa hasil.

Karenanya, Luis Alejandro Velasco pun disambut bak pahlawan. Semua mengelu-elukan kemampuannya bertahan hidup selama 10 hari di lautan hanya dengan air laut, beberapa kartu nama, sebuah jam tangan, dan sebuah kunci. Dan biar saya tekankan : tanpa makanan! (Well...itu kalo burung camar mentah gak dianggap makanan).
Dengan segera, Velasco menangguk popularitas. Dia muncul di tv nasional untuk bercerita tentang petualangannya, dikontrak sebagai bintang iklan mulai dari iklan jam tangan hingga sepatu.

Adalah kejutan bagi pihak surat kabar El Espectador ketika suatu hari Velasco muncul di kantor mereka dan menawarkan untuk menceritakan kisah sebenarnya. Pada awalnya pihak redaksi tak tertarik. Sudah satu bulan berlalu sejak perisitiwa menghebohkan itu, sudah banyak pula kisahnya beredar. Untuk apa mereka menyiarkan berita usang?
Tapi direktur El Espectador punya pendapat lain. Dia yakin ada hal-hal yang belum terungkap dari kisah-kisah yang sudah beredar tentang Velasco. Maka ditugaskanlah Gabriel Garcia Marquez (yang waktu itu masih jurnalis muda) untuk menuliskan petualangan Velasco.

Saya sudah penasaran dengan buku ini sejak membaca review Bang Helvry itu (saya emang suka kisah non fiksi macam gini sih). Rasa penasaran itu semakin bertambah waktu baca bab "Pengantar Penulis Kisah di Balik Cerita" dan Garcia Marquez menulis begini :
"Kami tidak menyadari bahwa ketika kami mencoba menggali petualangan itu menit demi menit, penyelidikan kami yang mendalam dan terus menerus itu justru membawa kami pada petualangan baru yang menimbulkan kegemparan sehingga si pelaut harus melepaskan gelar kehormatan yang dianugerahkan kepadanya, dan aku nyaris dikuliti hidup-hidup."
Wow...apa yang terjadi? Kenapa Velasco dan Marquez sampai harus mengalami kejadian seperti itu? Seamis apakah misteri yang tersembunyi di balik tenggelamnya awak Caldas?
Dan rasa penasaran ini mencapai puncak ketika di halaman berikutnya Marquez menuliskan ini :
"Kekagetanku yang kedua, dan yang lebih mengekutkan, ketika aku meminta Luis Alejandro Velasco menggambarkan badai yang menyebabkan malapetaka itu. Menyadari bahwa pernyataannya sangat berharga, ia menjawab sambil tersenyum, "Tidak ada badai,kok." "
Happpaaahhhhh? O__o
Gak ada badai? Kalo nggak ada badai, gimana bisa kapal besar dan stabil seperti Caldas sampai mengalami guncangan sebesar itu?
Maka dengan penuh semangat saya meneruskan baca buku ini.
Dan...

Well....sebelum lanjut, sebaiknya saya kasi tahu kalo Marquez sebenarnya sudah menjawab kedua pertanyaan itu di bab Pengantar Penulis. Tapi dengan ngototnya saya masih berharap akan ada cerita lebih lanjut mengenai skandal di balik tenggelamnya kapal ini.

Ternyata, harapan saya gak terpenuhi X).
Fokus cerita di buku ini hanyalah kisah Velasco bertahan hidup selama 10 hari dan benar-benar hanya itu. Jangan mengharap ada yang bisa dijadikan renungan spiritual ala Life Of Pi ato kisah dramatis dengan bola voli seperti di Cast Away.
Yang ada di buku ini adalah perasaan Velasco menghadapi hari-hari panjang membosankan, strateginya agar tidak sampai mati kehausan (minum air laut terlalu banyak bisa berbahaya) dan mati kelaparan, triknya bertahan agar tak diserang hiu serta harapan dan putus asa yang menderanya silih berganti.

Mungkin terdengar membosankan, tapi begitulah realita. Saya bisa membayangkan, kalo suatu saat saya terlunta di laut (amit-amit!) seperti Velasco, saya juga gak bakal ribet berkontemplasi memikirkan hikmah musibah ini apalagi  ampe kepikiran bersahabat sama bola voli. Yang akan  ada di pikiran saya hanyalah gimana caranya bisa survive. Dan bila semua usaha survive saya gagal, yaaa...pasrah pada nasib, persis seperti yang dilakukan Velasco. Karenanya, walopun buku ini terasa kurang dramatis dibanding buku sejenis, bagi saya buku inilah yang akan lebih berguna bila anda harus terombang-ambing seperti Velasco. Seenggaknya, trik Velasco di buku ini bisa anda coba terapkan.

Saya juga mesti berkomentar tentang gaya penulisan Marquez. Woah....gaya penulisannya indah sekali. Bayangin aja, petualangan yang (kalo disadari) sebenarnya membosankan itu bisa ditulis dengan asyik dan seru sehingga saya gak merasa bosan sama sekali. Malah saya terus penasaran membaca hingga lembar terakhir. Penulisan Marquez begitu jelas dan deskriptiv hingga saya ikut merasakan terlunta di laut bersama Velasco, bisa merasakan hawa panas dan bau garam laut serta berbagi keputusasaan dengannya.

Seandainya bukan Marquez yang menuliskan kisah ini, saya gak yakin saya bisa cepat menyelesaikan buku ini. Kalo seperti inilah cara Marquez menulis, maka saya jadi penasaran baca buku-buku beliau yang lain. Kudos juga harus disertakan kepada penerjemah buku ini. You did a great job in translating this book.

Oya ada satu kalimat yang "kena" banget buat saya di buku ini. Hasil dari perenungan dan puncak keputus asaan Valdez, dan itu adalah kalimat di halaman 87 ini :
"...sembari merasa putus asa dan marah pada kenyataan bahwa mati ternyata lebih sukar dibandingkan terus bertahan hidup."
Yep...indeed.
Sepanjang masa tugas saya, entah berapa kali saya ketemu pasien yang sakit begitu lama dan parah hingga mereka berpikir ingin mati saja. (Bahkan saya pernah bertemu pasien kanker yang menolak minum pain killer. Soalnya dia berpikir dengan membuat dirinya kesakitan, dewa maut akan lebih cepat datang). Tapi pada akhirnya mereka masih bertahan untuk waktu yang cukup lama.
Apa karena umur mereka panjang? Iya sih #lah X)
Tapi juga karena manusia itu punya naluri dasar untuk mempertahankan hidup. Dan naluri itu akan bertambah kuat, saat ajal terasa mendekat.

Itu sebabnya, terkadang pasien yang kondisinya kritis, sempat menunjukkan perbaikan walau sekejap. Di ICU, sudah sering saya lihat pasien yang koma tiba-tiba tensinya naik atau heart rate-nya meningkat, sebelum kemudian menurun secara perlahan dan akhirnya meninggal. I think that's their last attempt on struggling for their life though they did it unconciously.

Lalu bagaimana dengan mereka yang secara sadar mengakhiri hidup mereka? Saya sih meragukan mereka memilip opsi bunuh diri itu secara "sadar".
Tahukah berapa jumlah kasus percobaan bunuh diri? Menurut American Foundation for Suicide Prevention, di US pada tahun 2010 hampir satu juta orang yang mencoba bunuh diri, sementara yang "sukses" dan dinyatakan mati karena bunuh diri "hanya" sekitar 38 ribu kasus atau 3,8%.
Bisa menebak alasannya?
Karena (menurut para survivor), di momen hidup (yang semestinya) terakhir itu, mereka merasa gentar dan insting alami untuk mempertahankan diri pun muncul. Maka secara refleks, mereka akan berusaha menghentikan tindakan apapun yang mereka lakukan untuk memutus nyawa.
And that's why, drinking poison for a full bottle or cutting wrist and let the body runs out of blood could only happen in the movie or to those with severe mental problem.

The world is a mixed of paradox, isn't it?
There I was reading a true story about a man stranded for 10 days in the sea and fighting so hard for his own life, then I read about this suicide statistic report.
And I wonder, for these 3,8% who succesfully committed suicide, while they were in the process of killing themselves, did that instinct of surviving ever kick in even for just one second? While they were falling down after they jumped off the high building, did they ever try to grasp for something? And for those who shot themselves with firearm, were their hand shaking when they're about to pull the trigger?
Well I hope the answer is no.
Because it's so teriffying to fight for something that you know would be gone from you in the end since it was already too late.
For those 3,8%, I hope they could spend the final seconds of their life in peace from knowing that finally they've got what they were desperately seeking for : death.
Don't you think so?

===================================================

Seperti yang udah diceritakan di sini, buku ini adalah pemberian dari Santa BBI melalui program Secret Santa. Saya dapat 2 buku sebenarnya : Caldas yang ini dan The New Life-nya Orhan Pamuk.
Dan seperti yang udah saya ceritakan juga, saya sempat bingung nentuin siapa santa saya. Soalnya sang santa yang baik kasi riddlenya kayak gini :
"Aku berfoto dengan salah satu buku dlm paket ini.
Happy reading and blogging
Your Santa,"
Dan setau saya ada 2 orang member BBI yang pernah berfoto dengan buku hadiah dari Santa.

Bang Helvry dengan Caldas
Teh Indri dgn New Life
Saya udah kepikir lempar koin aja daripada ribet X).
Tapi gak percuma dong saya jadi Sherlockian dan Conan-ers (istilah apa ini?). Kalo ada satu hal yang saya pelajari dari mereka berdua, itu adalah untuk memperhatikan detail sekecil apa pun.
Jadi saya pun memerhatikan baik-baik kertas yang dipake untuk menulis riddle. Ternyata kertas ini dari buku notes, semacam notes yang sering dihadiahkan sebagai bonus suatu produk. Dan di bagian atas kertas itu, ada tulisan terembos kayak gini :
Johan Yan - Poor Is Sin
dan di bagian bawah kertas tertulis gini :
Total Quality - Johan Yan

Hoh? Apa itu Poor Is Sin? Siapa itu Johan Yan?
Setelah googling, ternyata itu judul buku rohani yang ditulis oleh Johan Yan toh. Melihat profil kedua "tersangka" sih, sepertinya lebih cocok ditebak kalo Bang Helvry Sinaga-lah Santa saya. Bener gak nih, Bang Helvry?
Kalo bener, nanya dong : "Sebelumnya ngeh nggak kalo Teh Indri pernah berfoto dengan buku Pamuk? Dan pemilihan kertas buat nulis riddle itu sengaja ato nggak?"

Makasi ya buat bukunya, Bang Helvry (pede kalo Santa-nya Bang Helvry). Terutama buat Caldas ini. Soalnya aku pernah nyari sendiri buku ini dan gak nemu. I know it's hard to find. Ato jangan-jangan malah ini diambil dari koleksimu? Woaa....makasi banget kalo iya *GR tak terkira* :)).
Lalu semoga review ini "cukup" untukmu. Saya masih ingat soalnya reply-anmu atas komenku di review Caldas-mu, dan honestly itu bikin saya tertantang sekaligus terbeban buat mereview. Huahahaha.... X)
Yah kalo ada kesalahan mohon dimaafkan karena kesempurnaan hanyalah milik Tuhan semata dan kesalahan adalah sepenuhnya milik saya. #eaaaa #MendadakSyariah 
Makasi juga buat Oky dan Ndari yang udah bikin event seru kayak gini.

Untuk melihat tebakan riddle peserta Secret Santa lainnya, go to here : Kumpulan Sinopsis Untukmu

Friday, January 25, 2013

Harry Potter & The Philosopher's Stone


Data Buku
Judul : Harry Potter & The Philosopher's Stone
Penulis : JK Rowling
Penerbit :  Bloomsburry Publishing
Bahasa : Inggris
ISBN : 9780747532743
Rating : 5 out of 5 stars

Wow...nggak kerasa sudah 15 tahun sejak saya kenalan sama Harry Potter dan terpesona pada dunia buatan Madame Rowling ini. Saya tahu kalo saya mestinya bikin review, tapi sebelum itu, rasanya pengen nostalgia saat pertama kenalan sama bocah dengan luka berbentuk petir ini.

Saya pertama ketemu Harry Potter di Bras Basah, sekitar akhir 1997. Saat itu saya sedang asyik memilih-milih buku bekas ketika shopkeeper-nya menawari saya buku ini. Dia berpromosi kalo ini buku bagus banget dan sayang banget kalo ampe gak saya beli. Dia juga bilang kalo Harry Potter ini lagi happening banget di Inggris sana.

Waktu itu saya kenal internet cuma sebatas email dan chatting doang, gak pernah browsing. Saya pun bukan tipe yang langganan majalah ato koran, jadi saya benar-benar gak tahu kalo ada buku berjudul Harry Potter yang lagi booming. Saya malah curiga kalo buku ini adalah buku jelek yang gak laku. Ya logikanya aja, kalo emang tuh buku buagus banget kok udah ada yang jual second-nya di Bras Basah? Dan kalo emang laris buanget, kenapa juga si shopkeeper maksa-maksa saya buat beli? Tebakan saya sih ini buku gak laku dan si shopkeeper mo nepu saya (Oh...how stupid I was).
Akhirnya buku Harry Potter 1 itu saya beli juga karena sang shopkeeper menjamin saya boleh tukar dengan buku lain kalo nggak puas. Dan begitulah awalnya saya kenal sama Harry Potter.

Rasanya saya gak perlu menulis sinopsis buku ini ato bahkan memberi tahu buku ini termasuk dalam genre apa. I mean, seriously? Sudah 15 tahun lebih sejak demam Harry Potter melanda dunia, it's been all over the news. Kalo bahkan ampe detik ini Anda nggak tahu garis besar cerita Harry Potter, berarti Anda emang gak berminat sama buku ini. Then why bothers now? ;)
Jadi lebih baik saya membahas apa yang saya rasakan sewaktu membaca kembali buku ini setelah 15 tahun berlalu.

Yang pertama saya rasa sih "aura"nya yang beda. Sewaktu pertama baca Harry Potter dulu, teman-teman saya gak ada yang ngeh sama buku ini (yah sebenernya ampe sekarang temen saya yang baca buku ini juga sedikit sih :| ). Jadi saya heboh sendiri, bahas buku ini sendirian (dan dapat tatapan loe-ngomong-apa-sih dari teman-teman) bahkan fangirling pun sendirian #kasian. Sekarang ini, berkat GR dan BBI, saya jadi kenal banyak orang yang juga ngefans sama Harry Potter bahkan ampe baca bareng. Jelas vibe-nya beda banget. Dan itu menyenangkan. Horeeeee....saya masuk golongan mainstream #hehe.

Yang kedua, saya mengubah pandangan saya tentang Harry di buku pertama. Awal baca dulu, saya beranggapan Harry ini kepo banget. "Kenapa sih pusing banget sama kemungkinan Sorcerer Stone dicuri sama Voldemort? Kenapa gak kirim Hedwig aja ke Dumbledore sih buat warning?"-- itu adalah pertanyaan saya dulu.
Sekarang saya ngerti kenapa.
Seperti yang dibilang Harry, Dumbledore tahu bahwa Harry butuh untuk mencoba melawan karena pertarungan dengan Voldemort itu personal untuk Harry. Gimana pun, Voldemort lah yang membunuh orangtua Harry. Dan Harry sadar kalo Voldemort bisa kembali menyerang dia.

Tapi terutama, karena Harry sadar bahwa kembalinya Voldemort dapat membuat dia kehilangan dunia sihir.
He was nothing in the muggle world. Gak puna siapa pun dan apa pun. Lalu dia menemukan semuanya di dunia sihir : sahabat, kebahagiaan dan terutama : penerimaan. Penerimaan yang tak pernah dia dapatkan sebelumnya. Gak heran kalo Harry berkeras mempertahankannya. I'd do the same if I were him. I'd fight the nastiest wizard if I have to in order not to let something most precious being taken from me. So I could understand Harry's determination to fight Voldemort even when he's still a kid.

Ketiga, ternyata saya sudah suka Ron dari buku ke 1 X).
Jangan salah, dari trio itu Ron memang favorit saya kok. Saya suka Ron karena kalimatnya yang witty dan rada sarkastis, belum lagi sindirannya yang tajam. Tapi kualitas itu baru keliatan di buku kedua (ato malah ketiga?). Yang pasti bukan di buku pertama.
Dulu saya gak ngerti apa yang bikin saya bersimpati sama Ron sejak awal. Sekarang saya tahu. Karena Ron orang pertama yang "menerima" Harry. Dia gak meremehkan Harry seperti yang dilakukan Malfoy, tapi dia juga gak memujanya secara berlebihan. Dia menganggap Harry sama normalnya dengan dia, and that's enough.

Keempat, saya makin kagum dengan persahabatan Ron dan Hermione. They're true bestfriends.
Tanpa ragu Ron dan Hermione menemani Harry untuk melawan Voldemort walopun mereka tahu resikonya. I mean, saya ngerti kesetiaan Ron dan Hermione pada Harry di buku ke-7. They've come a long way. Tapi di buku 1? Saat mereka baru kenal 1 tahun kurang serta belum ngeh seberapa parah kondisinya kalo Voldemort kembali berkuasa? That's great.
“It takes a great deal of bravery to stand up to our enemies, but just as much to stand up to our friends.”
-Albus Dumbledore-
Kelima, perubahan karakter Neville kerasa banget ya. Neville yang penakut dan gak berani membela dirinya sungguh berbeda dengan Neville di buku ke-7. I forgot how awkward, clumsy and shy Neville was. But let's talk about him on the later book.

Keenam,  wow...penerjemah Harry Potter ini keren sekali ya.
Saya sudah pernah sih baca versi Inggris dan terjemahan buku ini (untuk reread yang ini, saya baca versi Inggrisnya lagi), dan dari dulu memang saya tahu penerjemahnya emang canggih. Tapi baru sekarang saya benar-benar ngeh..
Mirror of Erised diterjemahkan Cermin Tarsah. Erised yang merupakan anagram dari desire,  diterjemahkan jadi tarsah yang anagram dari hasrat. Wow! Dan setelah saya googling, saya dapat info kalo sebenarnya ide Tarsah ini baru kepikir belakangan, menjelang bukunya turun cetak. Karena sang penerjemah berkeras mesti ada padanan yang tepat untuk "erised". Dan iya, beliau emang bener karena erised dan tarsah adalah padanan yang cocok.

Ketujuh, hmm....saya tetap gak ngerti kenapa Professor Quirrell gak bisa menyentuh Harry hanya di bagian akhir buku ini? Waktu awal cerita, Harry bertemu Prof. Quirrell di Diagon Alley dan saat itu mereka sudah berjabat tangan. Kok saat itu tangan si Quirrell gak melepuh ya? Padahal sudah jelas kalo Voldemort telah "nebeng" di tubuh Quirrell saat itu.

Kedelapan, saya makin kagum deh sama JK Rowling.
Oke...saya tahu kalo JKR emang banyak menggunakan bantuan mitos, legenda ato apalah itu dalam ceritanya. So it's not really original. Tapi toh emang gak ada formula yang benar-benar baru. Yang penting sih gimana Rowling bisa meramu bahan yang ada. And she's really good at it.

Tapi yang sebenarnya keren dari Rowling adalah : dia benar-benar paham karakter pembacanya.
I guess in some points of our life, even if it's just for one time, we ever felt like Harry, who's a misfit and wishing to go to some place new where we could start everything from the scratch or becoming a different people. But not everyone could do that. Apparently Harry is one of those lucky people.
Reading Harry's journey gave me happiness. Happiness that comes from knowing that at least there's one person in this world who could fulfill his dreams.  It also gave me some hopes that in the end everything will be fine for me too. If this boy whose life was much more miserable than me finally found what he always wanted, how could I not? :)

Dan Rowling juga dengan cerdasnya memilih setting di Inggris, suatu tempat yang masih bisa terjangkau dan karenanya masih terasa "dekat". Bukannya tempat jauh antah berantah seperti di Middle Earth sana, atau dunia magic namun tak terjangkau seperti Abarat. Terlibatnya kaum manusia non sihir (aka muggle) juga tempat-tempat di Inggris seperti stasiun King's Cross membuat cerita ini makin terasa dekat di hati, membuat kita (oke...sebenernya sih saya) berani berharap bahwa suatu saat nanti saya juga bisa dapat..ehem...surat saya sendiri.
Seorang teman saya bahkan sampe mencoba menekan pilar di tempat yang semestinya jadi peron 9 3/4 waktu dia lagi ada di King's Cross dan waktu salah seorang petugas di sana melihat kelakuan teman saya, si petugas bilang : "You're not the first person who tried looking for that platform."
Bhahak....ternyata banyak yang bermimpi ke Hogwarts eh? ;)

Dan alasan kenapa saya kasih 5 bintang walopun saya mengakui kalo cerita di buku ini masih kalah spekta dibanding buku-buku berikutnya?
Karena ini adalah buku pertama. The one that started it all. Buku ini juga yang bikin saya kenal dan jadi langganan (sampe sekarang) sama sebuah toko di Bras Basah itu. It's always nice to find a new friend because of one certain book.

Lastly, just wanna say this :  for you all who feel like you don't fit in, who wished for a magical school, or secret garden or magical cupboard that could open secret passage to magical land and still secretly keeping those wish alive :  keep on wishing. Keep on hoping. Who knows, maybe your "letter" is on its way now :)

PS : Review ini diikutkan untuk event Hotter Potter, Books In English Reading Challenge dan FYE Children Lit Fun Months 1 untuk kategori Award Winner. Beberapa award yang dimenangkan buku ini bisa dilihat di link berikut.

Umur yang cocok untuk membaca buku ini adalah 12 tahun ke atas.

Saturday, January 12, 2013

Where The Sidewalk Ends

Judul : Where The Sidewalk Ends
Penulis : Shel Silverstein
Penerbit : Harper Collins Children Books
Tahun Terbit : 2002 (Pertama terbit tahun 1974)
Bahasa : Inggris
Format : Hardcover
Rating : 5 out of 5 stars

Dr. Seuss dan Shel Silverstein akan selalu menjadi 2 penulis anak favorit saya. Tapi kalo hanya boleh milih satu di antara mereka, dengan pasti saya akan memilih : Shel Silverstein.Saya juga gak ngerti kenapa nama beliau kurang femes (at least kalah femes dibanding Dr. Seuss #AgakSalahSihBandinginnya). Saya juga gak ngerti kenapa buku-bukunya sempat di-ban dulu. Apa yang salah sih? I mean, saya sudah jatuh cinta sama Silverstein sejak pertama saya dihadiahkan bukunya oleh Ayah waktu SD dulu. Kalimat-kalimatnya simpel, tapi poetic. Ilustrasinya pun gak ribet, bersih dan enak dipandang. Jadi kenapa karya-karyanya (dulu) dilarang beredar bahkan sampe dibakar?

Dari hasil googling, saya dapat info kalo alasan banned-nya, indeed, stupid dan gak adil.
Ada yang bilang alasan beberapa perpustakaan sekolah keberatan bukanlah karena bukunya, namun karena Shel Silverstein sendiri. Profesi lain beliau yang adalah kartunis Playboy membuat beberapa pihak berpendapat dia gak pantas menulis cerita anak. Saya gak ngerti, apa yang salah dengan itu? Gak bolehkah seorang penulis cerita anak juga menjadi kartunis majalah dewasa?
Dengan logika yang sama, JK Rowling juga gak boleh dong menulis novel genre dewasa seperti The Casual Vacancy? Bersyukurlah Rowling tidak berkarir di jamannya Silverstein. (eh tapi dipikir-pikir Harry Potter juga sempat di-banned yaa. Engg...) :s

Alasan kedua lebih gak adil lagi. Beberapa beranggapan wajah Silverstein terlalu seram sebagai pengarang buku anak. Karena itu, semestinya wajah dia gak boleh ada di back cover buku.
Eng....
Emang sih dia terlihat seperti tokoh antagonis, tapi sejak kapan kita boleh judge people based on their looks? Dan masak iya pelajaran kayak gitu yang mo diajarin ke anak-anak?

Dua alasan di atas memang bukan alasan resmi. Itu hanya argumen dari beberapa orang aja. Alasan resmi yang dikeluarkan untuk melarang buku Silverstein sendiri ada beberapa. Khusus untuk Where The Sidewalk Ends, alasannya adalah : "promotes drug use, the occult, suicide, death, violence, disrespect for truth, disrespect for authority, and rebellion against parents."
Dan sekali lagi saya heran. Drug use? Occult? Violence? Disrespect? Rebellion? Yang mana sih?

Ternyata, puisi Dreadfull inilah yang dikritik karena dianggap mengandung death dan violence.
Someone ate the baby,
It’s rather sad to say.
Someone ate the baby
So she won’t be out to play.
We’ll never hear her whiney cry
Or have to feel if she is dry.
We’ll never hear her asking “Why?”
Someone ate the baby.
Someone ate the baby.
It’s absolutely clear
Someone ate the baby
‘Cause the baby isn’t here.
We’ll give away her toys and clothes.
We’ll never have to wipe her nose.
Dad says, “That’s the way it goes.”
Someone ate the baby.
Someone ate the baby.
What a frightful thing to eat!
Someone ate the baby
Though she wasn’t very sweet.
It was a heartless thing to do.
The policemen haven’t got a clue.
I simply can’t imagine who
Would go and (burp) eat the baby.
Death? Iya memang. Violence? Nanti dulu.
Gak benar-benar ada tindakan ate-the-baby di puisi itu kok. Sepertinya yang terjadi adalah entah si bayi hilang diculik ato meninggal. Pemikiran si bayi dimakan hanyalah pemikiran anak kecil yang lugu.
Kematian? Mungkin dirasa terlalu dini bagi seorang anak kecil untuk mengenal kedua hal tersebut. Tapi kematian adalah bagian dunia kita. Selama kita hidup, entah berapa kali kita akan bertemu dengannya. Asal dibimbing, gak ada salahnya anak kecil mengenal ugly truth itu sejak dini.

Atau puisi ini yang dimaksud dengan rebellion against parents?

source
Ah tapi kan Sarah Cynthia Silvia Stout mendapat ganjarannya di akhir. Toh Silverstein sudah berpesan jangan lupa buang sampah.

Puisi pembuka buku ini sebenarnya sudah menunjukkan siapa yang "cocok" membaca buku ini.
INVITATION
If you are a dreamer, come in.
If you are a dreamer, a wisher, a liar,
A hope-er, a pray-er, a magic bean buyer…
If you’re a pretender, come sit by my fire
For we have some flax-golden tales to spin.
Come in!
Come in!
See? Hanya para pemimpi, pengharap, pembohong, pendoa, pembeli kacang ajaib dan penipu yang diundang membaca buku ini. In short, tipe orang-orang yang menikmati sesuatu yang gak biasa dan tidak mengartikan segala yang tertulis secara harfiah.

Ah kalo mo dibahas satu-satu, rasanya saya bakal selalu nemu alasan untuk membela Silverstein X).
Makanya, sebaiknya anda baca sendiri buku ini dan sila tentukan pendapat anda sendiri.
Buat saya sih, syukurlah buku ini sudah gak di-banned lagi.
Kenapa?
Karena kalo buku ini di-banned, maka generasi jaman sekarang gak kenal puisi-puisi dengan witty humour ala Silverstein.
Seperti puisi "Early Bird" ini :
Oh, if you’re a bird, be an early bird
And catch the worm for your breakfast plate.
If you’re a bird, be an early early bird-
But if you’re a worm, sleep late.
Ato puisi yang witty tapi juga sedikit dark seperti puisi Magical Eraser ini :
She wouldn’t believe
This pencil has
A magical eraser.
She said I was a silly moo,
She said I was a liar too,
She dared me prove that it was true,
And so what could I do-
I erased her!
Tapi favorit saya dari buku ini adalah Hug O' War yang mengajak anak-anak untuk bermain hug o' war instead of tug o'war dan secara gak langsung mengarah ke...world peace (?)
I will not play at tug o’ war.
I’d rather play at hug o’ war,
Where everyone hugs
Instead of tugs,
Where everyone giggles
And rolls on the rug.
Where everyone kisses.
And everyone grins.
And everyone cuddles.

And everyone wins.
Dan Ourchestra yang mengajarkan bahwa kebahagiaan itu bisa didapat dari hal-hal sederhana dan bahkan dari diri kita.
So you haven’t got a drum, just beat your belly.
So I haven’t got a horn-I’ll play my nose.
So we haven’t any cymbals-
We’ll just slap our hands together.
And though there may be orchestras
That sound a little better
With their fancy shiny instruments
That cost an awful lot-
Hey, we’re making music twice as good
By playing what we’ve got!
Lalu yang paling favorit dan paling keren buat saya adalah Listen To The Musn'ts.
Listen to the MUSTN’TS, child.
Listen to the DON’TS
Listen to the SHOULDN’TS
The IMPOSSIBLES, the WON’TS
Listen to the NEVER HAVES
Then listen close to me-
Anything can happen, child,
ANYTHING can be.
Karena di puisi ini, Silverstein memberi tahu bahwa semestinya kita memang patuh pada hal-hal yang musn't, don't dan shouldn't. Semestinya, tapi toh tak selalu harus seperti itu. Since anything really can happen then it's okay to have different opinion though because there are more options than just two polar opposites. So just keep doing what you think is right and care little about the musn'ts.

So how? Menarik kan rangkaian kata milik Silverstein? Dan bisa terasa kan in-depth-meaning dari puisi-puisinya?
Itu satu hal yang paling saya suka dari Silverstein, kemampuannya menyamarkan hal yang "dalam" menjadi ringan dan mudah dicerna. Pertama kali baca karya Silverstein sewaktu masih anak-anak dulu, saya tertawa pada kelucuannya yang bizarre. Tapi membacanya sekarang ini, membuat saya merenungkan makna tersembunyi dalam karya Silverstein.
Bagi saya, itulah hebatnya beliau, mampu membuat sebuah karya yang bisa dinikmati sewaktu kita masih kanak-kanak bahkan hingga kita dewasa.

Kalo ditanya rentang usia berapa yang cocok membaca buku ini, saya bilang sih bisa untuk anak semua umur yang sudah bisa membaca. Tapi untuk bisa menangkap pesan-pesan Silverstein ato paling tidak mengapresiasi kelucuannya, maka saya menyarankan buku ini dibaca anak-anak berumur 8 tahun ke atas.


Postingan ini diikutkan dalam Fun Year Event with Children Literature untuk Fun Months 1. Buku ini masuk dalam kategori Award Winner.
Sejumlah award yang pernah dimenangkan buku ini :
- New York Times Outstanding Book Award (1974)
- Michigan Young Readers' Award (1981)
- George C. Stone Center for Children's Books Recognition of Merit Award (1984)
- Golden Archer Award for Intermediate (1996)

Tuesday, December 4, 2012

Weird Things Customers Say In Bookstores

Judul : Weird Things Customers Say In Bookstores
Penulis : Jen Campbell
Tahun Terbit : 2012
Bahasa : Inggris
Format : ebook
Rating : 5 of 5 stars

Muahahaha....Finished this in just one sitting, and I had a really good time of laughing my ass off.

One of the perks of having a job that requires you meeting lots of people is you'll realize there's many different people out there. There are hilarious people, weird, funny, funnily weird, nice, etc.

From this book, now I know there is customer...


- that's naive and funny:

CUSTOMER (holding up a Jamie Oliver cookbook) : Would you mind if I photocopied this recipe?
BOOKSELLER : Yes, I would.

- that likes Shakespeare though he/she has no idea who he is :

CUSTOMER: Excuse me, do you have any signed copies of Shakespeare plays?
BOOKSELLER : Er . . . do you mean signed by the people who performed the play?
CUSTOMER : No, I mean signed by William Shakespeare.
BOOKSELLER : . . .

- that truly believe in superstitious :

BOOKSELLER: OK, so with postage that brings your total to £13.05. One second and I’ll get the card machine.
CUSTOMER : No. No, absolutely not. I demand that you charge me £12.99. I wil not pay for anything that starts with thirteen. You’re trying to give me bad luck. Now, change it, or I will go to a bookshop which doesn’t want me to fall down a hole and die. OK?

- that's so into Dark Arts 'till he/she's gonna look for the street that-doesn't-exist

CUSTOMER: Do you have any books on the dark arts?
BOOKSELLER : . . . No.
CUSTOMER : Do you have any idea where I could find some?
BOOKSELLER : Why don’t you try Knockturn Alley?
CUSTOMER : Where’s that?
BOOKSELLER : Oh, the centre of London.
CUSTOMER : Thanks, I’ll keep my eyes peeled for it.

- that wanna try to cook sperm

CUSTOMER : Hi, do you have that sperm cookbook?
BOOKSELLER : No, we don’t.
CUSTOMER : That’s a shame; I really wanted to try it. Have you tried it?
BOOKSELLER : I have not.
(PS : Dear Customer, if you find one later, would you please lend me the book? Just wanna see it)

- that's thinking there's no harm in trying

CUSTOMER : Do you have security cameras in here?
BOOKSELLER : Yes.
CUSTOMER : Oh. (customer slides a book out from inside his jacket and places it back on the shelf)

-that's taking the saying if-there's-no-rattan-roots-can- be-used (is there a saying like this in english?) too far

CUSTOMER : Do you have a copy of Jane Eyre?
BOOKSELLER : Actualy, I just sold that this morning, sorry!
CUSTOMER : Oh. Have you read it?
BOOKSELLER : Yes, it’s one of my favourite books.
CUSTOMER : Oh, great (sits down beside bookseller). Could you tell me all about it? I have to write an essay on it by tomorrow.

- that for some unknown reason wanna read a book typed by monkeys

CUSTOMER : You know how they say that if you gave a thousand monkeys typewriters, then they’d eventually churn out really good writing?
BOOKSELLER : . . . yes.
CUSTOMER : Well, do you have any books by those monkeys?
BOOKSELLER : . . .

- that also an author who just wanna sell his book

MAN : Hi, I’ve just self-published my art book. My friends tell me that I’m set to be the new Van Gogh. How many copies of my book would you like to pre-order?
BOOKSELLER : You know, Van Gogh was never appreciated in his lifetime.
MAN : . . .

- that wishes Robin Hood isn't a thief

CUSTOMER : Do you have any Robin Hood stories where he doesn’t steal from the rich? My husband’s called Robin and I’d like to buy him a copy for his birthday, but he’s a banker, so ...

- that's imaginative

CUSTOMER : Doesn’t it bother you, being surrounded by books all day? I think I’d be paranoid they were all going to jump off the shelves and kill me.
BOOKSELLER : . . .

- that really loves his wife and just wanna give her best birthday present ever

CUSTOMER : Do you have any books signed by Margaret Atwood?
BOOKSELLER : We have many Margaret Atwood books, but I’m afraid we don’t have any signed by Margaret Atwood, no.
CUSTOMER : I’m looking for a birthday present of my wife. I know she’d really love a signed copy. You couldn’t fake a signature could you?

- that love his/her daughter

CUSTOMER : You know that film : Coraline?
BOOKSELLER : Yes, indeed.
CUSTOMER : My daughter loves it. Are they going to make it into a book?

- that's asking what seems like the most-difficult-question ever

CUSTOMER (holding up a copy of Ulysses) : Why is this book so long? Isn’t it supposed to be set in one day only? How can this many pages of things happen to one person in one day? I mean, I get up, have breakfast, go to work, come home... sometimes I might go out for a drink, and that’s it! And, I mean, that doesn’t fill a book, does it?

- that loves a book based on actor who plays the movie adaptation

WOMAN : Hi, where are your copies of Breaking Dawn? I can’t see any on the shelf.
BOOKSELLER : Sorry, I think we’ve sold out of the Twilight books; we’re waiting on more.
WOMAN : What?
BOOKSELLER : We should have some more in tomorrow.
WOMAN : But I need a copy now. I finished the third one last night.
BOOKSELLER : I’m sorry, I can’t help you.
WOMAN : No, you don’t understand, I’ve taken the whole day off work to read it.
BOOKSELLER : Erm . . .
WOMAN : I NEED TO KNOW WHAT HAPPENS! NOW!
BOOKSELLER : Erm . . .
WOMAN : Can you call your wholesaler and see if they can deliver this afternoon?
BOOKSELLER : They only—
WOMAN : And then I can wait here for them.
BOOKSELLER : I’m sorry, they only deliver in the morning.
WOMAN : BUT WHAT AM I SUPPOSED TO DO NOW?
BOOKSELLER : . . . we have many other books.WOMAN (sniffs) : Do any of those have Robert Pattinson in them?

- that's realistic

CUSTOMER : These books are really stupid, aren’t they?
BOOKSELLER : Which ones?
CUSTOMER : You know, the ones where animals like cats and mice are best friends.
BOOKSELLER : I suppose they’re not very realistic, but then that’s fiction.
CUSTOMER : They’re more than unrealistic; they’re really stupid.
BOOKSELLER : Well, writers use that kind of thing to teach kids about accepting people different to themselves, you know?
CUSTOMER : Yeah, well, books shouldn’t pretend that different people get on like that and that everything is ‘la de da’ and wonderful, should they? Kids should learn that life’s a bitch, and the sooner the better.

- that's creative

BOOKSELLER : Can I help at all?
CUSTOMER : Yes, where’s your fiction section?
BOOKSELLER : It starts over on the far wall . Are you looking for anything in particular?
CUSTOMER : Yes, any books by Stefan Browning.
BOOKSELLER : I’m not familiar with him, what kind of books has he written?
CUSTOMER : I don’t know if he’s written any. You see, my name’s Stefan Browning, and I always like to go into bookshops to see if anyone with my name has written a book.
BOOKSELLER : . . . right.
CUSTOMER : Because then I can buy it, you see, and carry it around with me and tell everyone that I’ve had a novel published. Then everyone will think I’m really cool, don’t you think?
BOOKSELLER: . . .

- that's reeeaaallllyyy really creative

CUSTOMER : It’s amazing, isn’t it, how little we really know about writers’ lives? Especially the old ones.
BOOKSELLER : I guess the lives of writers have changed a lot.
CUSTOMER : Yes. And don’t forget about those women who used to write under male names.
BOOKSELLER : Yes, like George Eliot.
CUSTOMER : I always thought Charles Dickens was probably a woman.
BOOKSELLER : . . . I’m pretty sure Charles Dickens was a man.
CUSTOMER : But who’s to say?
BOOKSELLER : Well, he was pretty prominent in society; lots of people saw him.
CUSTOMER : But maybe that was all a show – maybe that was her brother, whilst Charlene was at home, writing.
BOOKSELLER : . . .

- that thinks Bronte has some future prediction about vampire

CUSTOMER : Do you have a copy of Bella Swan’s favourite book? You know, from Twilight?
(Bookseller sighs and pulls a copy of Wuthering Heights off the shelf)
CUSTOMER : Do you have the one with the cover that looks like Twilight?
BOOKSELLER : No. This is an antiquarian bookshop, so this is an old edition of the book.
CUSTOMER : But it’s still the one with that girl Cathy and the dangerous guy, right?
BOOKSELLER : Yes, it’s still the story by Emily Bronte.
CUSTOMER : Right. Do you think they’ll make it into a film?
BOOKSELLER : They’ve made several films of it. The one where Ralph Fiennes plays Heathcliff is very good.
CUSTOMER : What? Voldemort plays Heathcliff?
BOOKSELLER : Well. . .
CUSTOMER : But that’s Edward’s role.
BOOKSELLER : Wuthering Heights was written well before both Harry Potter and Twilight.
CUSTOMER : Yeah, but Voldemort killed Cedric, who’s played by Robert Pattinson, and now Voldemort’s playing Edward’s role in Wuthering Heights, because Edward’s character is Heathcliff. I think that Emily Bronte’s trying to say something about vampires.
BOOKSELLER : . . . that’s £8.
CUSTOMER : For what?
BOOKSELLER : For the book.
CUSTOMER : Oh, no, it’s OK, I’m going to go and try and find the Voldemort DVD version.

Oke...the list could go on and on and on..I could quote them all and put it here just to show you which one I think was funny (all of them are!). In fact, I think I just quoted almost half of the book X)

But...though I laughed hard while I was reading it, I can't help feeling a bit sad too. Neil Gaiman said this on the book cover : "So Funny, So Sad". And yeah, he's right.

I'm sad cause I realize there are many people out there who completely clueless about books.

And for that, I think the world (lebay dikit) has to thank Meyer.
Because of Twilight, many teenagers now curious about Wuthering Heights and some even go the extent of reading it.
Also thanks to Meyers for choosing Rob Pattinson and Taylor Lautner to star in the movie. Many people out there who knew nothing about Twilight Saga at first, fell in love with the actors then proceed to read the whole series.

I know I loathe Twilight Saga so much (especially the last book :D), but I have to give Meyer credit for her influence to the reading world.

So this salute goes to you Meyer and all the authors that manage to get their books made into movie and, in the end, gained more people that become interested with their books and reading world in general. (yep...I'm also talking to you : Rowling, Neil Gaiman, EL James, Suzanne Collins, etc).

And I give credit too for the producers & their crews who made film based on books and cleverly choose actors that succeed in selling the movie and increase the awareness for the books. That means you: the LOTR movie teams, the Harry Potter movie teams, Twilight Saga movie teams, The Narnia movie teams, etc (lupa ah sapa aja. #jyiaahh)

Thank you, guys. Thank you :D


Oh before I ended this rambling, just wanna give you one of my favourite quote from this book, one of the funniest but also the saddest :

CUSTOMER: Which was the first Harry Potter book?
BOOKSELLER: The Philosopher’s Stone.
CUSTOMER: And the second?
BOOKSELLER: The Chamber of Secrets.
CUSTOMER: I’l take The Chamber of Secrets. I don’t want The Philosopher’s Stone.
BOOKSELLER: Have you already read that one?
CUSTOMER: No, but with series of books I always find they take a while to really get going. I don’t want to waste my time with the useless introductory stuff at the beginning.
BOOKSELLER: The story in Harry Potter actually starts right away. Personally, I do recommend that you start with the first book – and it’s very good.
CUSTOMER: Are you working on commission?
BOOKSELLER: No.
CUSTOMER: Right. How many books are there in total?
BOOKSELLER: Seven.
CUSTOMER: Exactly. I’m not going to waste my money on the first book when there are so many others to buy. I’l take the second one.
BOOKSELLER: . . . If you’re sure.
(One week later, the customer returns)
BOOKSELLER: Hi, did you want to buy a copy of The Prisoner of Azkaban?
CUSTOMER: What’s that?
BOOKSELLER: It’s the book after The Chamber of Secrets.
CUSTOMER: Oh, no, definitely not. I found that book far too confusing. I ask you, how on earth are children supposed to understand it if I can’t? I mean, who the heck is that Voldemort guy anyway? No. I’m not going to bother with the rest.
BOOKSELLER: . . .

PS : Euh...baru nyadar, ini repiu kenapa endingnya jadi lebay ya? Padahal niatnya bikin repiu becanda (_ _")

Sunday, December 18, 2011

Chronicles Of Ancient Darkness : Ghost Hunter

source:kutukutubuku,com
ISBN13 : 9786028590235
Penulis : Michelle Paver
Penerbit : Matahati
Tanggal terbit : April 2011
Jumlah Halaman : 350
Jenis Cover : Soft Cover
Kategori : Fantasi
Text Bahasa : Indonesia




Ghost Hunter merupakan buku ke-6 dari serial Chronicle Of Ancient Darkness karangan Michelle Paver. Serial ini dimulai dengan buku pertama yaitu Wolf Brother, dilanjutkan dengan Spirit Walker, lalu Soul Eater ke Outcast, diteruskan oleh Oathbreaker dan ditutup dengan Ghost Hunter.

Melalui serial ini, Paver membawa kita ke 6000 tahun lalu di masa jaman batu. Kala itu dunia masih berupa satu daratan besar, manusia hidup dalam klan, membuat peralatan dari batu dan tulang serta percaya pada kekuatan dewa dan roh-roh pelindung alam. Satu diantara klan-klan itu adalah klan Serigala. Klan yang terkenal dengan kemisteriusannya namun kini telah punah. Ya...1 klan itu telah lenyap kecuali Torak dan ayahnya.

Buku pertama (Wolf Brother) dibuka dengan pertarungan Torak dan ayahnya (Fa) melawan setan berwujud beruang. Sebelum meninggal, Fa berpesan agar Torak mencari gunung Roh Dunia (yang ada dalam legenda) untuk mengalahkan beruang setan tersebut. Dalam perjalanannya, Torak bersahabat dengan seekor serigala yang juga sebatang kara. Satu keistimewaan Torak dan Serigala adalah mereka bisa berkomunikasi dan saling mengerti perasaan satu sama lain.
Garis takdir juga membawa Torak berkenalan dengan klan Gagak dan menjalin persahabatan dengan Fin Kedinn, kepala suku klan Gagak dan Renn, keponakan Fin Kedinn. Dari klan Gagak-lah Torak mengetahui situasi dunia saat itu setelah selama ini hidup tersembunyi bersama Fa.

Kala itu, dunia dikuasai oleh para Pemangsa Arwah yang merupakan sekelompok dukun klan yang tergoda pada kekuasaan dan menggunakan kekuatan mereka untuk kejahatan. Beruang setan pun merupakan salah satu perbuatan mereka. Karenanya, ketika misi Torak untuk membasmi beruang telah usai, dia memulai misi lain yaitu : mencari dan memusnahkan para Pemangsa Arwah.

Nanti, pada buku-buku berikutnya, juga akan terungkap lebih banyak tentang latar belakang Torak, Fa, Fin Kedinn, Renn, para Pemangsa Arwah juga alasan kenapa Fa menyembunyikan Torak selama 12 tahun pertama kehidupannya. Ada banyak twist dan kejutan yang diberikan Paver sepanjang serial ini. Kejutan yang tak terduga dan tak disangka(ya namanya juga kejutan sih..hehehe xp), dan membuat cerita ini makin seru dan bikin penasaran.

Dan jangan melupakan tokoh-tokoh yang hanya muncul selintas di awal seri ini. Karena, sama seperti di Harry Potter, tokoh yang hanya muncul sekilas dan gak penting di buku pertama, ternyata jadi tokoh kunci nantinya. Membuat Anda akan penasaran untuk rerun buku pertama, demi menyegarkan ingatan akan si tokoh-yang-munculnya-sekilas itu.

Lalu bagaimana dengan buku ke-6 sekaligus pamungkas dalam serial ini?

Pada buku ke-6, Torak sudah berumur 18 tahun. Sudah banyak pengkhianatan dan kesedihan yang dia alami. Hubungannya dengan Renn dan Serigala pun sudah mengalami banyak pasang surut hingga menjadi seintens sekarang. Dan sudah 4 Pemangsa Arwah yang dikalahkannya. Kini Torak harus berhadapan dengan Eostra, Pemangsa Arwah yang terakhir dan terkuat.

Serigala juga sudah dewasa dan membentuk kawanan sendiri dengan pasangannya (Bulu Gelap). Namun Eostra menghancurkan keluarga Serigala dan menculik 1 anaknya. Hal yang memaksa Torak untuk segera mencari Eostra. Renn, yang mendapat penglihatan tentang kematian Torak, memutuskan untuk menemani perjalanan Torak walau pun harus meninggalkan klan dan tugasnya sebagai calon dukun klan Gagak.

Bagaimanakah akhir serial ini? Akankah Torak menemui ajalnya sesuai dengan ramalan Renn? Lalu Serigala, bisakah dia membangun kawanannya lagi? Dan yang terpenting, benarkah Eostra adalah Pemangsa Arwah terakhir?
Ah tentu saja itu adalah hal yang harus Anda temukan sendiri ;D.

source : here
Saya pertama kali membaca serial ini di tahun 2006 ketika Matahati menerbitkan buku pertamanya (Wolf's Brother) dan telah jatuh cinta sejak saat itu.
Saya suka dengan kepiawaian Paver menciptakan setting 6000 tahun lalu yang terasa sangat realistis. Saya juga suka dengan ketilitian Paver menggambarkan detil-detil cara hidup Torak dan rekan-rekannya di masa itu. Saya juga suka pada konsistennya Paver menjaga plot cerita tetap menegangkan hingga akhir. Dia bisa menyampaikan dengan baik aura "dark" dan mistis di masa itu kepada saya yang hidup di jaman modern ini.

Namun yang paling saya suka adalah cara Paver menceritakan kisah ini dari sudut pandang Torak, Renn dan Serigala. Terutama dari sudut pandang Serigala.
Paver mengajak kita menyelami jalan pikiran Serigala. Dia membuat kita memahami keputusan Serigala sewaktu meninggalkan Torak untuk bergabung dengan kawanannya, juga turut bersedih ketika Serigala harus kehilangan seluruh keluarganya.
Ah...Paver benar-benar berhasil menyampaikan perasaan Serigala kepada para pembacanya.

Tambahan satu point plus di Ghost Hunter yang menjadikan buku ke-6 ini sebagai favorit saya, yaitu : endingnya.
Saya suka pada cara Paver menutup serial ini. Ending yang jelas, tidak menggantung, namun masih memberi saya ruang untuk mengkhayalkan sendiri kelanjutan kisahnya. Syukurlah gak ada bab "epilog" yang biasa ada di akhir sebuah saga dan selalu saya anggap menyebalkan karena membatasi imajinasi.

Menyangkut terjemahan; karena penasaran, saya juga membaca serial ini dalam bahasa aslinya (ps : saya selalu melakukan ini pada novel-novel terjemahan yang saya sukai).
Dan saya berkesimpulan, Matahati really did a great job on translating this story.
Setting yang mencekam, ketakutan dan kemarahan Torak, kecemasan Renn serta keluguan Serigala yang tergambar di bahasa aslinya, tergambar dengan baik juga di terjemahan versi Matahati.
Saya bahkan lebih menyukai beberapa kata dalam versi terjemahan, seperti "tall tailles" (panggilan Serigala untuk Torak) yang diterjemahkan menjadi tinggi takberekor atau "Darkfur" yang diterjemahkan menjadi Bulu Gelap.
source: amazon.co.uk

Mengenai covernya, uhm...masih bingung nih :D. Saya sih lebih suka cover warna ungu seperti aslinya, tapi saya gak suka dengan cave painting yang ada di cover ini.
Sedangkan untuk cover versi Matahati, saya kurang suka warna hijaunya, tapi saya suka melihat lukisan burung hantu yang tercetak besar dan tampak mengintimidasi itu. Cocok dengan image Eostra yang memang mengintimidasi sebagai dukun klan burung hantu. Seandainya saja Matahati bisa memadukan kedua versi cover ini, pasti akan lebih bagus. (Yeah...you wish, Wi. Hehehe... ;p)

Secara keseluruhan, saya memberi rating 5 bintang untuk serial Chronicles of Ancient Darkness. Kepiawaian Paver dalam merangkai plot yang rapi hingga akhir cerita jelas merupakan sebuah nilai plus. 
Lalu penggambaran setting yang detail serta pemahaman yang sangat baik tentang Serigala menunjukkan bahwa Paver melakukan riset dengan (sangat) serius untuk novelnya ini. Dan sebuah karya yang dikerjakan dengan serius, sangat layak dihargai nilai sempurna. :)

Sudah banyak terbitan Matahati yang bagus sepanjang 2011 ini, sudah banyak pula yang saya baca. Tapi bagi saya, Ghost Hunter ini tetap yang terbaik karena telah menjawab rasa penasaran saya selama 5 tahun belakangan :D.

Sunday, November 27, 2011

Nasional.Is.Me

Data Buku:
Judul: Nasional.Is.Me
Penulis: Pandji Pragiwaksono
Penerbit: Bentang Pustaka
Penyunting: Ikhdah Henny
Pemeriksa Aksara: Nunung
Tebal: xiv + 330 hlm
Harga: Rp54.000
Rilis: Juli 2011 (Cet. I)
ISBN: 9786028811538
 


Selain untuk tugas sekolah/kampus dulu, saya hanya 1x pernah mereview buku non fiksi. Bukannya gak suka sama buku kayak begini, tapi masalahnya saya memang gak tau bagaimana membuat review yang benar untuk kategori non fiksi.
Namun ada sesuatu di buku ini yang menggerakkan saya untuk mencoba membuat review. Sesuatu yang akan saya sebutkan di akhir postingan ini.

Saya selalu berpendapat semua rakyat Indonesia cinta kok kepada tanah air-nya ini. Sayang, kebobrokan dan beratnya hidup yang dijalani di negeri tercinta ini membuat  sebagian besar dari mereka menjadi pahit dan pesimis pada negeri ini. Saking banyaknya yang pesimis, bila masih ada yang optimis dengan negara ini justru dianggap anomali dan diajukan pertanyaan seperti : "Apa sih yang bikin loe masih optimis sama negara ini?"

Buku ini adalah jawaban seorang Pandji terhadap pertanyaan tersebut.
Menurut Pandji, semua tindakan atau keputusan yang kita pilih berdasar pada wawasan kita. We are what we know. Dan seandainya mereka yang pesimis itu tahu tentang Indonesia seperti yang diketahui Pandji, maka mereka tentu akan sama optimisnya dengan dia. Pandji menulis buku ini dengan harapan bahwa lebih banyak lagi orang yang tahu tentang Indonesia. Karena buku ini memang untuk Indonesia.
"Cinta adalah hal terakhir yang mutlak kita bisa berikan kepada anak kita, ketika kita tidak bisa, tidak kuasa memberikan apa pun lagi"
(hal 151)
Wawasan tentu saja didapat dari pengalaman dan pembelajaran.
Untuk itulah pada bab "Dari Sabang Sampai Merauke", Pandji berbagi wawasannya tentang Indonesia. Dia berpendapat : tidak boleh kita membenci sesuatu yang tidak kita pahami. Tapi lucunya, kebanyakan dari mereka yang pesimis tentang Indonesia malah belum pernah melihat Indonesia secara luas. Kebanyakan mereka hanya pernah ke sekitaran pulau Jawa atau paling jauhnya: Bali. Satu kalimat Pandji yang sangat mengena :"Bagaimana mereka bisa bilang benci Indonesia kalau yang mereka tahu tentang Indonesia hanyalah dari apa yang mereka baca di media dan tonton di TV." (hal 88)
Melalui bab ini Pandji menunjukkan dengan nyata bahwa Indonesia bukan hanya Jakarta, bukan juga hanya Jawa dan Bali. Bahwa seluruh daerah di Indonesia bisa kita banggakan sama besarnya seperti kita membanggakan Bali.

Bab ini adalah favorit saya.
Saya juga cinta dan bangga banget sama negara ini. Dan saya selalu ingin membagi sisi lain Indonesia kepada banyak orang. Karenanya senang sekali melihat seorang dengan pengaruh besar seperti Pandji (follower twitternya lumayan banyak lho) melakukan sesuatu yang belum mampu saya lakukan. Mudah-mudahan saja, sehabis membaca buku ini makin banyak rakyat Indonesia yang lebih tertarik menjelajahi negaranya ketimbang menghabiskan uang untuk berburu diskon di negara tetangga.
Dan bab ini juga semakin memantapkan niat saya untuk melihat Indonesia secara langsung dari ujung ke ujung. So far sih baru sampai Maluku. Doakan semoga bisa sampai Papua ya \(^o^)/
"Dengan segala potensi yang dimiliki bangsa ini, siapa yang tidak optimis dengan Indonesia? Wong orang luar negeri saja optimis kok dengan Indonesia."
(hal 204)
Pada bab "Dari Sebuah Krisis Sampai Pada Perasaan Optimis" Pandji menyinggung tentang ekonomi Indonesia. Bab ini berangkat dari sebuah pertanyaan yang juga dipertanyakan banyak orang :"Apa yang salah dengan perekonomian Indonesia?" Untuk menjawab pertanyaan ini, Pandji menghadirkan para pakar di bidang ekonomi, yang memberi tahu letak kekurangan sekaligus kekuatan ekonomi Indonesia. Suatu bahasan yang menarik dan mudah dicerna.

Bagian terpenting dari buku ini mungkin ada di bab "Dari Sebuah Keyakinan Sampai Sebuah Keraguan". Pada bab ini, Pandji mengungkapkan sejarah kelam Indonesia dan bagaimana sebuah fakta dipuntir demi keuntungan golongan tertentu. Juga kebusukan - kebusukan terpendam negara ini yang tak disadari oleh banyak orang.
Mengapa Pandji mengungkit ini? Karena dia ingin memberi kesempatan pada pembacanya untuk ragu. Keraguan akan membuat seseorang mempertanyakan keyakinannya. Orang yang kembali dari keraguannya akan memiliki keyakinan yang lebih kuat. Dan karenanya mereka akan memiliki cinta yang lebih penuh serta tekad yang lebih kuat untuk berjuang.
"Setelah apa yang Anda tahu akan Indonesia. Baik dan buruknya. Kini waktunya Anda untuk pertanyakan kepada diri Anda sendiri. Apakah saya (masih) mencintai Indonesia?"
(Hal 287)
Sebuah cinta tentu tak akan berarti tanpa tindakan untuk membuktikannya.
Actions speak louder than words rite? ;)
Begitu pula dengan rasa cinta terhadap Indonesia. Karena cinta, kita pasti ingin melihat Indonesia menjadi bangsa yang hebat. Pandji memberikan 3 hal yang bisa kita lakukan untuk membantu Indonesia. Salah satunya adalah berkarya untuk masa depan bangsa. Berkarya dan menciptakan perubahan.
Bagaimana caranya?
Masing-masing pasti punya cara sendiri yang sesuai dengan kemampuan. Pandji memilih berkarya melalui hiphop, C3, program Satu Tiang Satu Tahun dan Donor Tetap. Mungkin ada yang menganggapnya pamer karena menuliskan kegiatannya secara blak-blakan di buku.
Tapi bagi saya sih enggak. Bagi saya, alasan Pandji menulisnya karena berharap ada yang terinspirasi dengan gerakannya dan mau melakukan hal yang serupa. Atau bisa juga sebagai tantangan terselubung. Dia seakan bilang: "Ini yang udah gw lakukan untuk Indonesia. Gimana dengan loe?"
"Mengubah hari ini, bisa jadi sudah terlambat. Pertanyaannya, maukah Anda jadi orang yang mengubah masa depan? Maukah?"
(Hal 327)
Membaca buku ini rasanya seperti makan gado-gado. Campur aduk tapi enak. Ada perasaan bangga, senang, terharu dan bersemangat. Serta perasaan untuk menularkan virus buku ini pada orang lain. (^_^)

Sekarang saya mau bahas alasan saya me-review buku ini.
Jadi gini...
Buku ini bermula dari sebuah e-book yang diposting di sini (Silakan download. Legal kok). E-book ini ternyata mendapat respon luas dan diunduh hampir 13.000 kali. Setelahnya, mulai banyak yang meminta agar buku ini hadir dalam bentuk fisik. Bagi Pandji, mencetak buku ini dalam bentuk fisik saja tidaklah cukup. Dia ingin agar buku ini bisa sampai kepada mereka yang tidak punya akses terhadap internet. Sayangnya, mereka yang tidak melek internet biasanya juga kurang maju di sisi ekonomi.

Adalah Bentang Pustaka dan Putera Sampoerna Foundation yang membantu Pandji mewujudkan keinginannya melalui program "Beli Satu Sumbang Satu". Maksudnya, setiap satu orang yang membeli buku Nasional.Is.Me maka dia telah menyumbangkan satu buku ini kepada saudara kita di pelosok sana yang haus informasi namun kekurangan akses.

Menurut saya, program ini bagus banget. Hanya dengan 1 buku ini, kita sudah bisa melaksanakan pesan yang tersirat di buku ini yaitu : menjadi agen perubahan untuk Indonesia. Hanya dengan 1 cara yang simple dan menyenangkan yaitu beli buku :).
Karenanya, saya tergerak membuat review ini. Semoga saja akan ada yang tertarik membeli bukunya pasca membaca review ini. Yah semoga... (iya...emang ngarep kok :D)

Saya suka cover-nya. Warna merah dengan tulisan berwarna putih. Indonesia banget. Cocok banget dengan judulnya. (^_^) Dan saya juga suka font pada cover-nya. Font apa sih itu? *wondering*
Tentang rating, melihat isinya saya mau kasi 4 bintang.
Tapi saya terkesan dengan program "Beli Satu Sumbang Satu"-nya dan memutuskan untuk memberi 5 bintang. Karena kita bisa saja menemukan buku-buku inspiratif lainnya, tapi tak banyak buku yang bisa membuat kita turut menjadi agen perubahan. Dan buku yang seunik ini layak diganjar nilai sempurna kan? :)
Makanya...beli dong buku ini :D
"Bukan kebetulan elo lahir pada zaman ketika Indonesia sedang seperti sekarang ini, dan bukan kebetulan juga elo membaca tulisan ini..."
(Hal 330)
Source : Here
Sekilas Tentang Penulis :
Pandji Pragiwaksono is now a husband, a father, a rapper, a stand up comedian, a political tv host, a book writer, an entrepreneur in basketball clothing and comics. He's everything he dreamed of.
(source : here)


PS : Review ini diikutsertakan dalam kontes “2011 End of Year Book Contest” yang diadakan oleh Okeyzz.
Buku ini memenuhi persyaratan nomor 5 kontes tersebut yaitu cover buku yang ada unsur warna merahnya.