Showing posts with label KidsLiterature. Show all posts
Showing posts with label KidsLiterature. Show all posts

Saturday, January 12, 2013

Where The Sidewalk Ends

Judul : Where The Sidewalk Ends
Penulis : Shel Silverstein
Penerbit : Harper Collins Children Books
Tahun Terbit : 2002 (Pertama terbit tahun 1974)
Bahasa : Inggris
Format : Hardcover
Rating : 5 out of 5 stars

Dr. Seuss dan Shel Silverstein akan selalu menjadi 2 penulis anak favorit saya. Tapi kalo hanya boleh milih satu di antara mereka, dengan pasti saya akan memilih : Shel Silverstein.Saya juga gak ngerti kenapa nama beliau kurang femes (at least kalah femes dibanding Dr. Seuss #AgakSalahSihBandinginnya). Saya juga gak ngerti kenapa buku-bukunya sempat di-ban dulu. Apa yang salah sih? I mean, saya sudah jatuh cinta sama Silverstein sejak pertama saya dihadiahkan bukunya oleh Ayah waktu SD dulu. Kalimat-kalimatnya simpel, tapi poetic. Ilustrasinya pun gak ribet, bersih dan enak dipandang. Jadi kenapa karya-karyanya (dulu) dilarang beredar bahkan sampe dibakar?

Dari hasil googling, saya dapat info kalo alasan banned-nya, indeed, stupid dan gak adil.
Ada yang bilang alasan beberapa perpustakaan sekolah keberatan bukanlah karena bukunya, namun karena Shel Silverstein sendiri. Profesi lain beliau yang adalah kartunis Playboy membuat beberapa pihak berpendapat dia gak pantas menulis cerita anak. Saya gak ngerti, apa yang salah dengan itu? Gak bolehkah seorang penulis cerita anak juga menjadi kartunis majalah dewasa?
Dengan logika yang sama, JK Rowling juga gak boleh dong menulis novel genre dewasa seperti The Casual Vacancy? Bersyukurlah Rowling tidak berkarir di jamannya Silverstein. (eh tapi dipikir-pikir Harry Potter juga sempat di-banned yaa. Engg...) :s

Alasan kedua lebih gak adil lagi. Beberapa beranggapan wajah Silverstein terlalu seram sebagai pengarang buku anak. Karena itu, semestinya wajah dia gak boleh ada di back cover buku.
Eng....
Emang sih dia terlihat seperti tokoh antagonis, tapi sejak kapan kita boleh judge people based on their looks? Dan masak iya pelajaran kayak gitu yang mo diajarin ke anak-anak?

Dua alasan di atas memang bukan alasan resmi. Itu hanya argumen dari beberapa orang aja. Alasan resmi yang dikeluarkan untuk melarang buku Silverstein sendiri ada beberapa. Khusus untuk Where The Sidewalk Ends, alasannya adalah : "promotes drug use, the occult, suicide, death, violence, disrespect for truth, disrespect for authority, and rebellion against parents."
Dan sekali lagi saya heran. Drug use? Occult? Violence? Disrespect? Rebellion? Yang mana sih?

Ternyata, puisi Dreadfull inilah yang dikritik karena dianggap mengandung death dan violence.
Someone ate the baby,
It’s rather sad to say.
Someone ate the baby
So she won’t be out to play.
We’ll never hear her whiney cry
Or have to feel if she is dry.
We’ll never hear her asking “Why?”
Someone ate the baby.
Someone ate the baby.
It’s absolutely clear
Someone ate the baby
‘Cause the baby isn’t here.
We’ll give away her toys and clothes.
We’ll never have to wipe her nose.
Dad says, “That’s the way it goes.”
Someone ate the baby.
Someone ate the baby.
What a frightful thing to eat!
Someone ate the baby
Though she wasn’t very sweet.
It was a heartless thing to do.
The policemen haven’t got a clue.
I simply can’t imagine who
Would go and (burp) eat the baby.
Death? Iya memang. Violence? Nanti dulu.
Gak benar-benar ada tindakan ate-the-baby di puisi itu kok. Sepertinya yang terjadi adalah entah si bayi hilang diculik ato meninggal. Pemikiran si bayi dimakan hanyalah pemikiran anak kecil yang lugu.
Kematian? Mungkin dirasa terlalu dini bagi seorang anak kecil untuk mengenal kedua hal tersebut. Tapi kematian adalah bagian dunia kita. Selama kita hidup, entah berapa kali kita akan bertemu dengannya. Asal dibimbing, gak ada salahnya anak kecil mengenal ugly truth itu sejak dini.

Atau puisi ini yang dimaksud dengan rebellion against parents?

source
Ah tapi kan Sarah Cynthia Silvia Stout mendapat ganjarannya di akhir. Toh Silverstein sudah berpesan jangan lupa buang sampah.

Puisi pembuka buku ini sebenarnya sudah menunjukkan siapa yang "cocok" membaca buku ini.
INVITATION
If you are a dreamer, come in.
If you are a dreamer, a wisher, a liar,
A hope-er, a pray-er, a magic bean buyer…
If you’re a pretender, come sit by my fire
For we have some flax-golden tales to spin.
Come in!
Come in!
See? Hanya para pemimpi, pengharap, pembohong, pendoa, pembeli kacang ajaib dan penipu yang diundang membaca buku ini. In short, tipe orang-orang yang menikmati sesuatu yang gak biasa dan tidak mengartikan segala yang tertulis secara harfiah.

Ah kalo mo dibahas satu-satu, rasanya saya bakal selalu nemu alasan untuk membela Silverstein X).
Makanya, sebaiknya anda baca sendiri buku ini dan sila tentukan pendapat anda sendiri.
Buat saya sih, syukurlah buku ini sudah gak di-banned lagi.
Kenapa?
Karena kalo buku ini di-banned, maka generasi jaman sekarang gak kenal puisi-puisi dengan witty humour ala Silverstein.
Seperti puisi "Early Bird" ini :
Oh, if you’re a bird, be an early bird
And catch the worm for your breakfast plate.
If you’re a bird, be an early early bird-
But if you’re a worm, sleep late.
Ato puisi yang witty tapi juga sedikit dark seperti puisi Magical Eraser ini :
She wouldn’t believe
This pencil has
A magical eraser.
She said I was a silly moo,
She said I was a liar too,
She dared me prove that it was true,
And so what could I do-
I erased her!
Tapi favorit saya dari buku ini adalah Hug O' War yang mengajak anak-anak untuk bermain hug o' war instead of tug o'war dan secara gak langsung mengarah ke...world peace (?)
I will not play at tug o’ war.
I’d rather play at hug o’ war,
Where everyone hugs
Instead of tugs,
Where everyone giggles
And rolls on the rug.
Where everyone kisses.
And everyone grins.
And everyone cuddles.

And everyone wins.
Dan Ourchestra yang mengajarkan bahwa kebahagiaan itu bisa didapat dari hal-hal sederhana dan bahkan dari diri kita.
So you haven’t got a drum, just beat your belly.
So I haven’t got a horn-I’ll play my nose.
So we haven’t any cymbals-
We’ll just slap our hands together.
And though there may be orchestras
That sound a little better
With their fancy shiny instruments
That cost an awful lot-
Hey, we’re making music twice as good
By playing what we’ve got!
Lalu yang paling favorit dan paling keren buat saya adalah Listen To The Musn'ts.
Listen to the MUSTN’TS, child.
Listen to the DON’TS
Listen to the SHOULDN’TS
The IMPOSSIBLES, the WON’TS
Listen to the NEVER HAVES
Then listen close to me-
Anything can happen, child,
ANYTHING can be.
Karena di puisi ini, Silverstein memberi tahu bahwa semestinya kita memang patuh pada hal-hal yang musn't, don't dan shouldn't. Semestinya, tapi toh tak selalu harus seperti itu. Since anything really can happen then it's okay to have different opinion though because there are more options than just two polar opposites. So just keep doing what you think is right and care little about the musn'ts.

So how? Menarik kan rangkaian kata milik Silverstein? Dan bisa terasa kan in-depth-meaning dari puisi-puisinya?
Itu satu hal yang paling saya suka dari Silverstein, kemampuannya menyamarkan hal yang "dalam" menjadi ringan dan mudah dicerna. Pertama kali baca karya Silverstein sewaktu masih anak-anak dulu, saya tertawa pada kelucuannya yang bizarre. Tapi membacanya sekarang ini, membuat saya merenungkan makna tersembunyi dalam karya Silverstein.
Bagi saya, itulah hebatnya beliau, mampu membuat sebuah karya yang bisa dinikmati sewaktu kita masih kanak-kanak bahkan hingga kita dewasa.

Kalo ditanya rentang usia berapa yang cocok membaca buku ini, saya bilang sih bisa untuk anak semua umur yang sudah bisa membaca. Tapi untuk bisa menangkap pesan-pesan Silverstein ato paling tidak mengapresiasi kelucuannya, maka saya menyarankan buku ini dibaca anak-anak berumur 8 tahun ke atas.


Postingan ini diikutkan dalam Fun Year Event with Children Literature untuk Fun Months 1. Buku ini masuk dalam kategori Award Winner.
Sejumlah award yang pernah dimenangkan buku ini :
- New York Times Outstanding Book Award (1974)
- Michigan Young Readers' Award (1981)
- George C. Stone Center for Children's Books Recognition of Merit Award (1984)
- Golden Archer Award for Intermediate (1996)

Sunday, August 19, 2012

The Missing Piece

Data Buku :
Judul : The Missing Piece
Penulis : Shel Silverstein
Hardcover, 112 pages
Published : April 14th 1976 by HarperCollins
ISBN : 0060256710  
ISBN13: 9780060256715

Warning : Contain Huge Spoiler

Sebelumnya maaf ya, review ini emang kudu spoiler. Karena saya gak menemukan cara untuk bercerita tentang buku ini tanpa memberi spoiler. Dan berhubung buku ini emang ceritanya dikit, maka yah...bercerita sedikit tentang buku ini pun sudah jadi spoiler.

Saya ini penggemar berat buku anak, jauh sebelum saya suka genre lain. Terutama children books yang ditulis dengan unik dan witty.
Buku anak yang saya maksud di sini tuh bukan yang karangan Enid Blyton ato Astrid Lindgren ato Roald Dahl (walau pun saya juga suka karya mereka sih). Tapi lebih ke buku anak yang buat anak TK - kelas 1 SD. Jadi emang tipe novel grafis.
Dan yang paling saya suka adalah buku anak yang ditulis dengan unik dan witty.

Dari semua penulis buku semacam itu, Shel Silverstein adalah favorit saya (yaaa selain Dr. Seuss sih). Kata-katanya indah, puitis tapi gampang dicerna, artworknya simpel dan gak ngeribetin. Lalu makna dibalik ceritanya itu bagus-bagus.

Nah salah satu karya dia yang paling saya suka itu duologi Missing Piece ini.

Buku pertama yang judulnya "The Missing Piece" menceritakan tentang sebuah lingkaran yang kehilangan satu "piece" dari dirinya. Kehilangan satu "piece" aja ternyata berpengaruh, karena dia gak bisa menggelinding dengan lancar. Maka dimulailah perjalanan sang lingkaran untuk menemukan bagian yang hilang.

Perjalanan itu gak mudah. Dia bertemu dengan "piece" yang kekecilan, berikutnya malah yang kebesaran. Pernah juga dia bertemu dengan "piece" yang pas, tapi karena gak dipegang dengan kuat eh terlepas lah "piece" itu. Dan si lingkaran pun terus mencari. Sambil mencari, dia menikmati petualangannya; bermain dengan lebah, becanda dengan bunga, bernyanyi, sampai ngerasain jatuh ke lubang.

Hingga suatu hari, dia bertemu dengan "missing piece"nya.
Awalnya si lingkaran bahagia, dia merasa hidupnya utuh. Tapi belakangan dia sadar, karena bisa menggelinding dengan lebih cepat, dia gak punya waktu untuk menikmati alam sekitarnya. Dia juga gak bisa bernyanyi karena mulutnya ketutupan si "missing piece" ini.

Jadi akhirnya dia memutuskan untuk melepaskan satu "piece" itu dan kembali menikmati dunianya.

Ketika pertama membaca buku ini, saya sempat gak puas.
Jiwa idealis saya protes : "Ih...kan dia udah dapat yang dia cari. Kok masih gak puas aja?"
Apalagi kalo mau dipikirkan, si lingkaran itu bisa dianalogikan dalam hidup. Kita merasa hidup ini kurang lengkap, makanya kita mencari "missing piece" kita, our "significant other".
Tapi ternyata, setelah ketemu, malah merasa seperti kehilangan kebebasan. Apa penulisnya mau mengajarkan bahwa lebih baik hidup sendiri tanpa orang lain?
Nilai macam apa yang mau diajarkan ke anak-anak?

Tapi ternyata kalo anak membaca buku itu memang sebaiknya didampingi orang tua ya. Karena membacanya sekarang, saat saya sudah mengerti, saya mendapat persepsi yang beda. >.<
Buku ini memang bercerita tentang hubungan manusia.
Contohnya waktu lingkaran menemukan "piece" yang cocok, tapi karena gak dipegang erat, "piece" itu pun terlepas. Kadang kita juga gitu kan? Kita menemukan orang yang (mestinya) cocok, tapi karena gak kita jaga ya lepas gitu aja.
Lalu saat lingkaran menemukan "piece" yang cocok, dia malah merasa jadi terlalu terikat, kehilangan identitas, dan terbebani. 
Menurut saya, Silverstein ingin memberi tahu bahwa terkadang hubungan yang kita pikir akan sempurna, tidak selalu berjalan sesuai perkiraan. Dan mungkin, kebahagiaan justru terletak dalam perjalanan kita mencari si "The One" itu.

Dan endingnya?
I love the ending.
Menurut saya, keputusan si lingkaran untuk melepas si "piece" dan kembali menikmati harinya seperti semula, itu sangat tepat.
Kalau sesuatu yang kita khayalkan ternyata tidak sesempurna impian, maka jangan takut untuk melepasnya. Lebih baik hidup dalam kebahagiaan walau pun tidak sempurna, daripada berkeras mempertahankan khayalan semu padahal tertekan.
Endingnya juga realistis menurut saya.
Banyak orang yang mengejar impiannya dengan menggebu-gebu, tapi pada akhirnya menyerah. Entah karena dia sudah mencoba terlalu sering dan selalu gagal ato karena putus asa.

But you know what's the best part of this book in my opinion?
It's because Silverstein used an open ending. He didn't write what the circle were thinking. He only drew what the circle did (letting go the piece and back to chasing butterfly). He let the readers interprete its gesture. He let us decide whether the circle really gave the piece up or it just put the piece there for a while and later gonna take it back.
Me, in my opinion, I choose to believe that the circle didn't give up his dream. It only paused it for a while to have fun. :)

Such an inspiring book. I give it 4,5 stars. Why 4,5 instead of 5 stars?
Because it's hard for kids to understand it.

Btw sayangnya saya gak nemu downloadan buku ini (padahal dulu ada lho, saya sempat punya versi downloadnya di laptop lama).
Tapi saya nemu link youtube-nya. Dan disitu pun udah lengkap.
Saya benar-benar menyarankan untuk nonton youtube-nya. Apalagi background song-nya itu Kiss The Rain dari Yiruma (pianis favorit saya). Lagu itu pas banget menggambarkan perjalanan si lingkaran.
Mungkin aja anda gak suka bukunya, tapi saya yakin deh anda bakal suka lagunya :)

So...go watch it



Ato kalo mo nonton langsung di youtube, bisa : click here

Sunday, March 25, 2012

The Wind In The Willows

Data Buku :
Judul Terjemahan: Embusan Angin Di Pohon Dedalu
Penulis: Kenneth Grahame
Penerjemah: Rini Nurul Badariah
Penerbit: Mahda Books
Terbit: April 2010
Tebal: 134 hlm

Buku ini mengisahkan persahabatan empat hewan yang bermukim di sekitar tepi sungai. Persahabatan antara Molly - si tikus tanah yang pemalu namun haus akan petualangan, Ratty - si tikus air ramah yang sangat mencintai rumahnya, Katak yang ceroboh dan suka membanggakan diri serta Luak yang senang menyendiri dan bijaksana.

Kisah dimulai di suatu pagi musim semi saat Molly sedang membersihkan rumahnya. Tiba-tiba ada hasrat kuat memanggil untuk pergi ke Dunia Atas. Secara impulsif, Molly mengikuti dorongan hasratnya. Di atas, dia terkesima dengan keindahan padang bunga. Dan lebih terkesima lagi sewaktu menemukan Sungai. Saat itulah dia berkenalan dengan Ratty, si tikus air.

Mengetahui kawan barunya belum pernah menyusuri sungai, Ratty pun mengajak Molly untuk naik perahunya. Dalam perjalanan itu, Molly berkenalan dengan Tuan Berang-berang dan Katak serta melihat sekilas Tuan Luak. Pesiar di Tepi Sungai ini akhirnya berkembang menjadi ajakan menginap di tempat Ratty.

Setelah beberapa bulan menginap di rumah Ratty, Molly pun berkenalan dengan Tuan Katak. Di kalangan teman-temannya, Katak dikenal punya banyak kegemaran namun mudah bosan dan gampang  beralih ke hal baru. Misalnya di suatu hari dia tergila-gila dengan perahu layar, besoknya dia beralih ke rumah tongkang, lalu rumah perahu kemudian perahu balap. Saat Molly berkenalan dengan Katak, kebetulan Katak sedang gemar dengan kereta gipsi. Namun hobi ini pun dengan cepat teralihkan ke mobil.

Kegilaan Katak pada mobil sudah mencapai tahap berlebihan, hingga membuatnya mendapat beberapa kecelakaan. Hal ini menjadi keprihatinan Molly dan Ratty hingga membuat mereka menceritakan perihal kegemaran baru Katak ini kepada Luak saat mereka kebetulan berkunjung ke rumahnya.
Luak yang juga prihatin mengajak kedua kawannya untuk menyadarkan Katak saat musim semi tiba nanti (btw ada yang sadarkah, dengan kalimat Luak ini artinya Molly sudah hampir 1 tahun tinggal bersama Ratty? Karena cerita ini dimulai saat musim semi)

Dan tibalah musim semi...

Luak, Ratty dan Molly mengurung Katak dalam kamarnya dan bergiliran menjaga. Namun berkat kecerdikannya, Katak berhasil kabur dari penjagaan Ratty. Di pelariannya, Katak mencuri mobil yang membuatnya tertangkap polisi dan dihukum 20 tahun penjara.
Jerakah Katak?
Oho...Jelas tidak! Berkat muslihatnya, lagi-lagi Katak berhasil kabur dari penjara dan kembali memulai petualangan gila-gilaannya.

Tinggallah ketiga sahabatnya yang berusaha mencari cara untuk menyadarkan Katak dan membuatnya menjadi Katak yang bijaksana.
"Lagi pula, yang membuat liburan jadi menyenangkan bukanlah banyak beristirahat, melainkan melihat makhluk-makhluk lain sibuk bekerja."
-Molly-
Sebagai fabel, cerita ini tergolong ringan, namun ada hal-hal yang bisa saya petik. Pertama tentang persahabatan ke-4 tokohnya yang tulus dan saling mendukung walau pun sudah dikecewakan. Susah menemukan sahabat sejati seperti itu di jaman sekarang.

Saya juga belajar dari keramahan Ratty pada orang asing. Di dunia yang penuh orang jahat ini, kita (eh saya sih) cenderung berprasangka pada orang asing yang saya temui di jalan. Padahal kalo saja saya mau lebih membuka diri dan ramah pada orang asing seperti Ratty, mana tahu saya akan menemukan sahabat sejati seperti Molly.

Bahkan dari Katak pun saya belajar untuk bertindak dengan lebih hati-hati dan tidak menurutkan nafsu, walau pun juga jangan menolak hasrat berpetualang yang ada dalam diri.

Dan saya merasa menemukan diri saya pada sosok Molly.
Bukan soal pemalunya karena saya gak sepemalu dan serendah hati dia. Tapi pada perasaan Molly yang setelah bertualang pun, ternyata masih merindukan rumah. Saya juga begitu. Sejauh-jauhnya saya pergi, pada akhirnya saya juga kangen sama rumah. Dan sama seperti Molly, senang rasanya mengetahui saya selalu punya tempat untuk pulang.

"Ia tidak ingin mengabaikan kehidupan barunya. Dunia di atas sana terlalu menarik. Tempat itu memanggil-manggil ke dalam dirinya. Namun sungguh melegakan karena dia punya tempat untuk pulang, rumahnya sendiri, hal-hal yang pasti membuatnya merasa diterima. Sungai adalah tempat bertualang. Di sini adalah rumahnya." (hlm 57)

Buku yang saya baca ini adalah versi terjemahan Mahda Books. Covernya bagus banget, ilustrasi di dalamnya juga cantik dan sesuai dengan penggambaran Mr. Grahame tentang keadaan Tepi Sungai. Saya seakan bisa merasakan kedamaian sungai dan keramahan penghuninya melalui ilustrasi di buku tersebut.

Sayang, saya merasa ada yang aneh dengan versi terjemahan ini. Rasanya seakan ada missing parts dalam buku ini. Seperti sewaktu Katak melarikan diri, tak ada penjelasan lebih lanjut tentang keadaan ketiga kawannya yang ditinggalkan. Juga sewaktu Katak ditangkap Polisi, tak ada penjelasan bagaimana Katak bisa sampai ditangkap polisi. Yang saya tahu, setelah Katak mencuri mobil, tiba-tiba saja dia sudah diadili.

Saya sempat terpikir apakah terjemahan ini abridged version?
Hasil googling membuat saya berpikir ini bukan abridged version. Karena menurut penjelasan Mbah Wiki, pada abridged version biasanya ada 3 bab yang dihilangkan. Ketiga bab itu adalah :
1. Saat Molly tiba-tiba homesick dan ingin kembali ke rumahnya walau hanya semalam
2. Saat Ratty merasa resah dan kemudian bertemu dengan Tikus Kapal. Si Tikus Kapal menyarankan Ratty untuk bertualang. Dan Ratty yang tipe orang "rumahan" langsung dipenuhi hasrat untuk berpetualang. Untunglah Molly yang mengenalnya dengan baik berhasil mencegah niat Ratty.
3. Saat Ratty dan Molly mencari anak pak berang-berang yang hilang dan secara tak sengaja mereka bertemu Dewa Pan.
Ketiga bab ini memang tak berhubungan dengan plot utama, seolah hanya bab tambahan. Karena itu pada abridged version, ketiga bab ini biasanya dihilangkan.
Versi Mahda memuat ketiga bab ini, karena itu saya berkesimpulan ini bukan abridged version.

Mesti begitu saya tetap penasaran dan membaca ulang versi aslinya (baca online di Goodreads).
Hasilnya?
Memang ada bagian yang dipotong. Mestinya ada cerita yang lebih panjang pada bagian-bagian yang saya anggap janggal tadi.
Dan ada juga adegan-adegan tambahan lain yang tidak ada di buku terjemahan dan tidak saya antisipasi sebelumnya.

Kenapa sampai terjadi hal seperti ini?
Entah...saya juga gak ngerti.
Yang saya tahu, saya kecewa dengan adanya pemotongan ini dan memutuskan mengurangi bintang versi terjemahan. Walau pun saya harus memberi selamat untuk penerjemahannya yang bagus. Hasil dari membandingkan versi asli dan terjemahan, saya berkesimpulan versi Mahda mampu menerjemahkan dengan baik keindahan kalimat-kalimat Kenneth Grahame

So...4 bintang untuk versi original, dan 3,5 bintang untuk versi terjemahan.

Tambahan :

Secara kebetulan, channel Fox Movies Premium menayangan The Wind In The Willows di bulan Maret ini.
Versi yang ditayangkan adalah versi tahun 1996 yang ini.
Seperti yang dilihat, semua tokoh hewannya diperankan oleh manusia, tapi hebatnya mereka bisa berakting persis seperti Tikus Tanah, Tikus Air, Luak dan Katak.
Terutama Katak! Miriiip banget dengan Katak beneran.

Dari segi cerita sih agak beda. Contohnya awal Molly keluar ke dunia atas itu bukan karena ada panggilan. Tapi karena rumahnya tergusur. Usut punya usut, Katak (sebagai pemilik lahan Molly) yang menjual lahan itu sebagai uang pembeli kereta gipsi. Masih ada perbedaan-perbedaan lain yang dibuat dengan tujuan lebih dramatis tapi secara keseluruhan saya sih puas menonton adaptasi The Wind In The Willows yang ini.

Oya...review ini diposting dalam rangka baca bareng Bulan Maret bersama BBI dan komunitas @bacaklasik. Sekaligus memperingati ulang tahun pengarangnya, Kenneth Grahame

Favourite Part from The Book :
“It's a goodly life that you lead, friends; no doubt the best in the world, if only you are strong enough to lead it!' 

'Yes, it's the life, the only life, to live,' responded the Water Rat dreamily, and without his usual whole-hearted conviction. 


'I did not exactly say that,' the stranger replied cautiously, 'but no doubt it's the best. I've tried it, and I know. And because I've tried it - six months of it - and know it's the best, here I am, footsore and hungry, tramping away from it, tramping southward, following the old call, back to the old life, the life which is mine and which will not let me go.” 

(page 93)