Wednesday, March 28, 2012

Delirium

Judul: Delirium
Penulis: Lauren Oliver
Penerjemah: Vici Alfanani Purnomo
Penyunting: Prisca Primasari
Penerbit: Mizan Fantasi
Tahun: 2012
Hlm: 518
ISBN: 9789794336465

The most dangerous sicknesses are those that make us believe we are well
- Proverb 42, The Book of Shhh

Saya pernah membaca tentang kehidupan masyarakat Korea Utara yang sangat tertutup itu. Di sana, penggunaan listrik diatur, jam malam diberlakukan, pekerjaan ditentukan negara, bahkan hiburan pun dibatasi.
Akses internet? Informasi ke dunia luar? Hanya mimpi.
Meski begitu, masyarakat Korea Utara percaya (tepatnya terdoktrin) bahwa hidup mereka adalah hidup yg terbaik. Bahwa kehidupan di luar negara mereka adalah hidup yang menyedihkan dan  susah. Karenanya mereka sangat berterima kasih dan memuja presiden mereka (kala itu) Kim Jong Il.

Saya jadi terpikir, apa jadinya kalau suatu saat warga KorUt berkesempatan ke dunia luar dan menyadari bahwa hidup bebas di negara lain lebih menyenangkan dari negara mereka? Dan menyadari bahwa sistem komunis yang dianut negara mereka bukanlah sistem yang terbaik dan nilai-nilai yang diajarkan kemungkinan bohong belaka. Apakah mereka akan merasa terkhianati atau dibohongi?

Mungkinkah perasaan mereka sama dengan perasaan Lena Haloway saat pertama kali melihat Alam Liar?
I am no one special. I am just a single girl. I am five feet two inches tall and I am in-between in every way. But I have a secret.
Lena tinggal di Portland (USA) di suatu masa ketika Cinta dianggap penyakit menular mematikan dengan nama lain Amor Deliria Nervosa. Dipercaya Cinta sebagai penyebab perang, kebencian dan nafsu buruk. Untungnya, 43 tahun yang lalu ditemukan penawar untuk virus Cinta ini. Di masa lalu, warga negara yang telah berumur 18 tahun diwajibkan untuk mengikuti prosedur penyembuhan. Dan mereka yang menolak, diasingkan keluar dan hidup di Alam Liar (jadi ceritanya di seluruh negeri dibangun tembok pembatas untuk memisahkan daerah yang sudah disterilkan dari virus cinta).

Awalnya Lena bersemangat menanti gilirannya disembuhkan. Dia ngeri membayangkan hidup di bawah langit yang sama dengan virus cinta tanpa proteksi apapun dalam tubuhnya. Tapi semuanya berubah saat dia berkenalan dengan Alex Sheathes. Lena menyadari dia terindeksi  Amor Deliria Nervosa namun tak mampu mematikan perasaannya.

Alex memperkenalkannya pada dunia yang baru dan terasa seperti roller coaster. Alex juga menunjukkan pada Lena seperti apa rupa Alam Liar dan bagaimana rasanya bebas dari pengawasan pemerintah. Dan segera, Lena bisa melihat kekurangan yang ada di dunianya.

Betul...dunia tanpa cinta adalah dunia tanpa kesedihan. Tak ada rasa galau, kecewa atau pun patah hati, namun juga tak ada kebahagiaan dan tawa gembira. Dunia yang datar dan menyedihkan. Dan akhirnya Lena menyadari kebenaran kalimat ini : "You can't be happy unless you're unhappy sometimes".
Sungguh jauh dengan promosi pemerintah yang mendoktrin hidup jauh lebih baik tanpa cinta.
Dari Alex juga lah Lena mengetahui kenyataan di balik pemusnahan besar 43 tahun lalu dan membuat dia sadar seberapa besar kebohongan yang diciptakan pemerintahnya demi membasmi virus cinta.

Dia ingin memberontak dan melawan sistem. Dia ingin hidup bebas dan bahagia bersama Alex. Tapi apa yang bisa dia lakukan, seorang gadis yang biasa-biasa saja, melawan sebuah sistem yang sudah berlangsung puluhan tahun?
...You can build walls all the way to the sky and I will find a way to fly above them. You can try to pin me down with a hundred thousand arms, but I will find a way to resist...”
Walau pun sudah lama tertarik dengan buku ini, namun saya membutuhkan waktu 5 hari untuk menyelesaikann. Salahkan openingnya yang lamban, salahkan juga terjemahan di bab awal yang kurang mengalir. Juga salahkan suasana musim panas di buku ini, yang saking terasa-nya membuat saya ikutan merasa gerah dan jadi malas melanjutkan baca (halaaahhhh....diri sendiri yang males malah nyalahin yang lain :D).

Tapi bersabarlah melewatkan 3 bab awal, dan saya yakin Anda akan menikmati buku ini seperti yang saya alami. Tentunya hal ini sangat terbantu dengan karakter Alex yang bikin penasaran sekaligus klepek-klepek serta chemistry Alex dan Lena yang alami.
Juga side story yang mengharukan tentang cinta ibu Lena ke anak-anaknya. Bagian itu terasa mengharukan karena menunjukkan besarnya cinta sang ibu dan usahanya untuk menunjukkan pada putrinya kalau mereka dicintai walaupun harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi.
"...And there are many of us out there, more than you think. People who refuse to stop believing. People who refuse to come to earth. People who love in a world without walls, people who love into hate, into refusal, against hope,and without fear..."
Namun yang paling menarik adalah gambaran rinci mengenai gejala Amor Deliria Nervosa lengkap dengan prosedur penyembuhannya, suasana dan pola hidup masyarakat di jaman Lena, serta kerja sistem negara untuk memastikan semua warga aman dari virus cinta tersebut.
Yap perincian di atas itu memang membuat novel ini terasa lambat, namun toh saya menyadari bahwa hal ini memang perlu.

Untuk terjemahan, di bab awal memang kaku. Tapi makin ke belakang makin luwes kok. Dan setelah mengintip versi aslinya, saya malah jadi salut. Bayangin aja, kitab yang berisi panduan untuk hidup sehat, selamat dan tenteram atau disingkat "Psst" ternyata dalam versi aslinya berjudul "Shhh" (singkatan dari The Safety, Health, and Happiness Handbook). Woww...dari "Ssh" ke "Psst". Bisa pas gitu diubah namun gak mengubah arti judul kitab tersebut. Kereeennn! Sayangnya, diksi-diksi indah khas Lauren Oliver pun turut berubah. Yah...itu resiko sebuah buku terjemahan sih ya. Toh Mizan sudah berusaha maksimal untuk memberi terjemahan semirip mungkin.

Yang juga menarik adalah misteri-misteri seputar latar belakang Alex dan Lena yang diungkap secara perlahan oleh Lauren Oliver. Dan bikin geregetan karena sampai akhir masih ada misteri yang dirahasiakan (disimpan untuk buku kedua mungkin).
“...I love you. Remember. They cannot take it.
Sayangnya, masih ada beberapa hal yang menjadi tanda tanya saya. Misalnya saja : apakah Cinta hanya dianggap berbahaya di USA saja atau juga di negara lain? Kalo hanya di USA, kenapa warga Alam Liar gak mencoba cari suaka ke negara tetangga seperti Meksiko atau Kanada misalnya?
Lalu hal apa sih yang membuat Cinta dianggap sebagai penyakit mematikan? Cuma karena Cinta dianggap penyebab perang? Bagaimana dengan keserakahan dan ambisi? Apa itu juga penyebabnya karena cinta?

Hmm...saya berharap hal-hal ini akan lebih dibahas di buku kedua.

Dan sementara itu, 3,5 bintang untuk Delirium. Setengah bintang dikurangi karena cover versi Mizan tuh 'nggak banget, kalah jauh dibanding cover aslinya. 1 bintang lagi dikurangi untuk terjemahan yang kaku di awal.

“I know that life isn't life if you just float through it. I know that the whole point- the only point- is to find the things that matter and hold onto them and fight for them and refuse to let them go.” 

Sunday, March 25, 2012

The Wind In The Willows

Data Buku :
Judul Terjemahan: Embusan Angin Di Pohon Dedalu
Penulis: Kenneth Grahame
Penerjemah: Rini Nurul Badariah
Penerbit: Mahda Books
Terbit: April 2010
Tebal: 134 hlm

Buku ini mengisahkan persahabatan empat hewan yang bermukim di sekitar tepi sungai. Persahabatan antara Molly - si tikus tanah yang pemalu namun haus akan petualangan, Ratty - si tikus air ramah yang sangat mencintai rumahnya, Katak yang ceroboh dan suka membanggakan diri serta Luak yang senang menyendiri dan bijaksana.

Kisah dimulai di suatu pagi musim semi saat Molly sedang membersihkan rumahnya. Tiba-tiba ada hasrat kuat memanggil untuk pergi ke Dunia Atas. Secara impulsif, Molly mengikuti dorongan hasratnya. Di atas, dia terkesima dengan keindahan padang bunga. Dan lebih terkesima lagi sewaktu menemukan Sungai. Saat itulah dia berkenalan dengan Ratty, si tikus air.

Mengetahui kawan barunya belum pernah menyusuri sungai, Ratty pun mengajak Molly untuk naik perahunya. Dalam perjalanan itu, Molly berkenalan dengan Tuan Berang-berang dan Katak serta melihat sekilas Tuan Luak. Pesiar di Tepi Sungai ini akhirnya berkembang menjadi ajakan menginap di tempat Ratty.

Setelah beberapa bulan menginap di rumah Ratty, Molly pun berkenalan dengan Tuan Katak. Di kalangan teman-temannya, Katak dikenal punya banyak kegemaran namun mudah bosan dan gampang  beralih ke hal baru. Misalnya di suatu hari dia tergila-gila dengan perahu layar, besoknya dia beralih ke rumah tongkang, lalu rumah perahu kemudian perahu balap. Saat Molly berkenalan dengan Katak, kebetulan Katak sedang gemar dengan kereta gipsi. Namun hobi ini pun dengan cepat teralihkan ke mobil.

Kegilaan Katak pada mobil sudah mencapai tahap berlebihan, hingga membuatnya mendapat beberapa kecelakaan. Hal ini menjadi keprihatinan Molly dan Ratty hingga membuat mereka menceritakan perihal kegemaran baru Katak ini kepada Luak saat mereka kebetulan berkunjung ke rumahnya.
Luak yang juga prihatin mengajak kedua kawannya untuk menyadarkan Katak saat musim semi tiba nanti (btw ada yang sadarkah, dengan kalimat Luak ini artinya Molly sudah hampir 1 tahun tinggal bersama Ratty? Karena cerita ini dimulai saat musim semi)

Dan tibalah musim semi...

Luak, Ratty dan Molly mengurung Katak dalam kamarnya dan bergiliran menjaga. Namun berkat kecerdikannya, Katak berhasil kabur dari penjagaan Ratty. Di pelariannya, Katak mencuri mobil yang membuatnya tertangkap polisi dan dihukum 20 tahun penjara.
Jerakah Katak?
Oho...Jelas tidak! Berkat muslihatnya, lagi-lagi Katak berhasil kabur dari penjara dan kembali memulai petualangan gila-gilaannya.

Tinggallah ketiga sahabatnya yang berusaha mencari cara untuk menyadarkan Katak dan membuatnya menjadi Katak yang bijaksana.
"Lagi pula, yang membuat liburan jadi menyenangkan bukanlah banyak beristirahat, melainkan melihat makhluk-makhluk lain sibuk bekerja."
-Molly-
Sebagai fabel, cerita ini tergolong ringan, namun ada hal-hal yang bisa saya petik. Pertama tentang persahabatan ke-4 tokohnya yang tulus dan saling mendukung walau pun sudah dikecewakan. Susah menemukan sahabat sejati seperti itu di jaman sekarang.

Saya juga belajar dari keramahan Ratty pada orang asing. Di dunia yang penuh orang jahat ini, kita (eh saya sih) cenderung berprasangka pada orang asing yang saya temui di jalan. Padahal kalo saja saya mau lebih membuka diri dan ramah pada orang asing seperti Ratty, mana tahu saya akan menemukan sahabat sejati seperti Molly.

Bahkan dari Katak pun saya belajar untuk bertindak dengan lebih hati-hati dan tidak menurutkan nafsu, walau pun juga jangan menolak hasrat berpetualang yang ada dalam diri.

Dan saya merasa menemukan diri saya pada sosok Molly.
Bukan soal pemalunya karena saya gak sepemalu dan serendah hati dia. Tapi pada perasaan Molly yang setelah bertualang pun, ternyata masih merindukan rumah. Saya juga begitu. Sejauh-jauhnya saya pergi, pada akhirnya saya juga kangen sama rumah. Dan sama seperti Molly, senang rasanya mengetahui saya selalu punya tempat untuk pulang.

"Ia tidak ingin mengabaikan kehidupan barunya. Dunia di atas sana terlalu menarik. Tempat itu memanggil-manggil ke dalam dirinya. Namun sungguh melegakan karena dia punya tempat untuk pulang, rumahnya sendiri, hal-hal yang pasti membuatnya merasa diterima. Sungai adalah tempat bertualang. Di sini adalah rumahnya." (hlm 57)

Buku yang saya baca ini adalah versi terjemahan Mahda Books. Covernya bagus banget, ilustrasi di dalamnya juga cantik dan sesuai dengan penggambaran Mr. Grahame tentang keadaan Tepi Sungai. Saya seakan bisa merasakan kedamaian sungai dan keramahan penghuninya melalui ilustrasi di buku tersebut.

Sayang, saya merasa ada yang aneh dengan versi terjemahan ini. Rasanya seakan ada missing parts dalam buku ini. Seperti sewaktu Katak melarikan diri, tak ada penjelasan lebih lanjut tentang keadaan ketiga kawannya yang ditinggalkan. Juga sewaktu Katak ditangkap Polisi, tak ada penjelasan bagaimana Katak bisa sampai ditangkap polisi. Yang saya tahu, setelah Katak mencuri mobil, tiba-tiba saja dia sudah diadili.

Saya sempat terpikir apakah terjemahan ini abridged version?
Hasil googling membuat saya berpikir ini bukan abridged version. Karena menurut penjelasan Mbah Wiki, pada abridged version biasanya ada 3 bab yang dihilangkan. Ketiga bab itu adalah :
1. Saat Molly tiba-tiba homesick dan ingin kembali ke rumahnya walau hanya semalam
2. Saat Ratty merasa resah dan kemudian bertemu dengan Tikus Kapal. Si Tikus Kapal menyarankan Ratty untuk bertualang. Dan Ratty yang tipe orang "rumahan" langsung dipenuhi hasrat untuk berpetualang. Untunglah Molly yang mengenalnya dengan baik berhasil mencegah niat Ratty.
3. Saat Ratty dan Molly mencari anak pak berang-berang yang hilang dan secara tak sengaja mereka bertemu Dewa Pan.
Ketiga bab ini memang tak berhubungan dengan plot utama, seolah hanya bab tambahan. Karena itu pada abridged version, ketiga bab ini biasanya dihilangkan.
Versi Mahda memuat ketiga bab ini, karena itu saya berkesimpulan ini bukan abridged version.

Mesti begitu saya tetap penasaran dan membaca ulang versi aslinya (baca online di Goodreads).
Hasilnya?
Memang ada bagian yang dipotong. Mestinya ada cerita yang lebih panjang pada bagian-bagian yang saya anggap janggal tadi.
Dan ada juga adegan-adegan tambahan lain yang tidak ada di buku terjemahan dan tidak saya antisipasi sebelumnya.

Kenapa sampai terjadi hal seperti ini?
Entah...saya juga gak ngerti.
Yang saya tahu, saya kecewa dengan adanya pemotongan ini dan memutuskan mengurangi bintang versi terjemahan. Walau pun saya harus memberi selamat untuk penerjemahannya yang bagus. Hasil dari membandingkan versi asli dan terjemahan, saya berkesimpulan versi Mahda mampu menerjemahkan dengan baik keindahan kalimat-kalimat Kenneth Grahame

So...4 bintang untuk versi original, dan 3,5 bintang untuk versi terjemahan.

Tambahan :

Secara kebetulan, channel Fox Movies Premium menayangan The Wind In The Willows di bulan Maret ini.
Versi yang ditayangkan adalah versi tahun 1996 yang ini.
Seperti yang dilihat, semua tokoh hewannya diperankan oleh manusia, tapi hebatnya mereka bisa berakting persis seperti Tikus Tanah, Tikus Air, Luak dan Katak.
Terutama Katak! Miriiip banget dengan Katak beneran.

Dari segi cerita sih agak beda. Contohnya awal Molly keluar ke dunia atas itu bukan karena ada panggilan. Tapi karena rumahnya tergusur. Usut punya usut, Katak (sebagai pemilik lahan Molly) yang menjual lahan itu sebagai uang pembeli kereta gipsi. Masih ada perbedaan-perbedaan lain yang dibuat dengan tujuan lebih dramatis tapi secara keseluruhan saya sih puas menonton adaptasi The Wind In The Willows yang ini.

Oya...review ini diposting dalam rangka baca bareng Bulan Maret bersama BBI dan komunitas @bacaklasik. Sekaligus memperingati ulang tahun pengarangnya, Kenneth Grahame

Favourite Part from The Book :
“It's a goodly life that you lead, friends; no doubt the best in the world, if only you are strong enough to lead it!' 

'Yes, it's the life, the only life, to live,' responded the Water Rat dreamily, and without his usual whole-hearted conviction. 


'I did not exactly say that,' the stranger replied cautiously, 'but no doubt it's the best. I've tried it, and I know. And because I've tried it - six months of it - and know it's the best, here I am, footsore and hungry, tramping away from it, tramping southward, following the old call, back to the old life, the life which is mine and which will not let me go.” 

(page 93) 

Saturday, February 25, 2012

Bordir

Data Buku :

Judul Asli : Embroideries
Pengarang : Marjane Satrapi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 9792220070
Halaman : 138
Paperback
Terbit : Maret 2006

Di novel grafisnya ini, Marjane memfokuskan cerita pada neneknya dan kebiasaan beliau kumpul minum samovar (teh) di sore hari dengan teman-temannya sambil (apalagi kalau bukan) bergosip, baik gosip tentang diri sendiri atau pun orang lain.

Para wanita ini menceritakan pengalaman mereka (dan orang-orang yang mereka kenal) secara gamblang dan lucu. Dan topiknya pastilah tentang hal paling seru untuk diperbincangkan : pria dan sex!
Yap...pria dengan segala plus dan minusnya serta tradisi-tradisi Iran menyangkut perjodohan dan hal-hal konyol yang bisa terjadi karenanya.

Ada cerita tentang seorang wanita yang takut ketahuan calon suaminya kalo dia sudah nggak perawan lagi, dan untuk mengelabuinya dia membekali diri dengan silet di malam pertamanya. Niat awal sih untuk bikin luka sedikit di pahanya, tapi dia salah menggores dan malah kena ke private part suami barunya (ouch!).

Ada juga cerita lain tentang teman si nenek yang dijodohkan sewaktu berumur 13 tahun dengan pria berumur 69 tahun dan betapa dia sangat membenci suaminya sehingga dia berdoa siang malam semoga suaminya segera berpulang ke Tuhan YME. Bayangkan kebahagiaannya ketika doanya terkabul dan dia merasa memiliki dunia :))

Dan cerita yang paling lucu buat saya jelas cerita yang menyangkut teh dan sesuatu yang putih-putih. Gak seru kalo diceritain. Lebih asyik dibaca sendiri bagian yang ini.

Ada juga perdebatan kecil tentang keuntungan menjadi simpanan vs menjadi istri dan pentingnya sebuah keperawanan ato enggak. Dan hal ini membawa kita pada judul buku ini yaitu Bordir. Ternyata Bordir itu bukan membahas kain bordiran atau semacamnya toh. Tapi membahas tentang kegiatan bordir yang lain, yang melibatkan salah satu bagian tubuh wanita yang terkoyak. (PS : Nyambung gak? Hah...Enggak??? Oh well...sudahlah. Baca aja sendiri).

Membaca buku ini rasanya jadi orang ke-11 yang turut hadir dalam acara minum teh sore nenek Satrapi dan rekan-rekannya. Bacalah buku ini disertai segelas teh juga dan niscaya Anda akan merasa seperti ada dalam buku tersebut.

Swear, ini buku menarik banget. Lucu, witty humour (my favourite kind of humour), blak-blakan dan cepat pula dibaca. Gambarnya juga menarik dan bersih (dalam artian gak penuh dengan detail rumit). Dan sebenarnya saya pengen banget kasih lebih dari 3 bintang.

Sayangnya gak bisa, karena satu sebab remeh yaitu : Saya gak suka duduk ngumpul minum teh sambil ngegosipin orang yang saya gak kenal. Kalo saya punya waktu untuk minum teh di sore hari, percayalah teh itu akan saya habiskan sambil membaca buku, bukannya sambil ngalor ngidul gak jelas kayak gini.
Jangan salah, saya suka kok dengar cerita atau curhatan orang. But please, bukan tentang orang yang saya gak kenal. Dan please juga deh, jangan bahas aib orang dong.

So...though I enjoyed my tea time with The Satrapis, but I'm not sure I wannna do it again some other time.

The Vow

Data Film
Director: Michael Sucsy
Writers: Jason Katims, Abby Kohn, Stuart Sender, Marc Silverstein
Stars: Rachel McAdams, Channing Tatum and Sam Neill
Genres: Drama | Romance
Motion Picture Rating (MPAA) : Rated PG-13
Language: English
Release Date: 16 February 2012 (Indonesia)
Filming Locations: Chicago, Illinois, USA

"Life's all about moments of impact, and how they change our lives forever. But what if one day you could no longer remember any of them?"
 (Leo)
Itu pertanyaan yang harus dijawab pasangan Paige (Rachel McAdams) dan Leo (Channing Tatum) setelah dihadapkan pada suatu  kecelakaan fatal yang merenggut ingatan Paige.

Paige bukan hanya melupakan perseteruan dengan keluarganya selama 5 tahun terakhir dan perubahan karirnya dari seorang calon pengacara menjadi pemahat. Yang lebih parah, dia melupakan segala hal tentang Leo mulai dari pertemuan, pacaran hingga pernikahan mereka. Dan yang bikin makin pedih buat Leo, karena ingatan Paige justru terhenti di masa ketika Paige masih bertunangan dengan Jeremy (Scott Speedman).
“Everything that I fell in love with is still there." "I need to make my wife fall in love with me again"
-Leo-
Begitulah keyakinan Leo. Sumpah sucinya kepada Paige di hadapan Tuhan sewaktu pernikahan mereka dan keyakinan bahwa Paige yang dicintainya masih ada dalam diri gadis itu membuat Leo bertekad untuk membuat istrinya jatuh cinta sekali lagi dengannya.
Segala cara dilakukan Leo, mulai dari membawa Paige ke tempat pertama kali mereka bertemu, mengingatkan Paige pada segala kebiasaan dan janji-janji mereka hingga berdamai dengan keluarga Paige walau pun sadar kalau keluarga gadis tersebut tidak menyukainya.
“How do you look at the woman you love, and tell yourself that it's time to walk away?"
-Leo-
Namun sampai kapan Leo mampu bertahan dalam suasana seperti ini? Apalagi keluarga Paige tidak merestui hubungan mereka dan malah berusaha mendekatkan Paige dan Jeremy. Di lain sisi ada Jeremy yang masih berharap pada Paige. And on top of that, fakta bahwa saat Paige terbangun, dia kembali ke fase saat dia (merasa) masih mencintai Jeremy. Leo sadar bagaimana perasaan Paige yang sebenarnya ke Jeremy. "I know you love him cause that's the way you used to look at me," kata Leo. Dia juga sadar bahwa sementara dia terus mencintai Paige, namun bagi Paige dia hanyalah orang asing. Dan karenanya, Paige berhak memulai hidup baru dengan cerita yang juga baru.
Dengan alasan itulah, Leo pun memutuskan keluar dari hidup Paige.

Apa keadaan membaik untuk Paige?
Ternyata tidak juga.
Paige menemukan rahasia besar yang dipendam orang tuanya sekaligus alasan dia meninggalkan keluarganya 5 tahun lalu.
And then she start questioning her memories, whether the ones she still remembers are the truth or not. She also realizes that her lost memories are part of her life too therefore she can't deny its existencies. That's why Paige's trying to regain her lost memories for the past 5 years or at least to start her life again right where she left off, including things regarding with Leo, her vow to him and their love.
“You can’t remember how we fell in love. You get to experience it all over again.”
-Leo-
Ide cerita The Vow sebenarnya biasa saja, cenderung pasaran malah. Cerita orang amnesia bukan pertama kali ini ada. Dan malah, menyangkut amnesia, saya masih lebih suka 50 First Dates dibandingkan film ini (Iyaaa...saya sadar kok kalo saya gak adil membandingkan kedua film ini). Dialognya pun standar, dalam arti bukan yang baguuusss banget sampai patut dikenang tapi juga gak over cheesy.

Endingnya juga sudah terprediksi. Kalau pernah baca novel Harlequin jadul karangan Rebecca Winters yang berjudul Undercover Baby, nah you pretty much got the idea about The Vow's ending.
Malah khusus untuk film ini, saya kurang puas dengan endingnya atau lebih tepatnya dengan set up ending-nya. Terasa agak diburu-buru aja dari sejak Paige menemukan rekaman pernikahannya dengan Leo. Coba adegan penutupnya ditambah 5-10 menit lagi, pasti lebih berkesan.

Tapi saya suka chemistry Chaning Tatum dan McAdams, somehow bisa dipercaya kok kalo mereka memang couple. Dan anehnya saya jadi suka lho sama 2 aktor/aktris ini. Padahal sebelumnya, saya bukan fans mereka dan gak pernah tertarik nontonin film-film mereka.
Saya juga suka dengan latar belakang kota Chicago di musim saljunya yang cantik banget. Dan suka banget dengan music scoring dan soundtrack filmnya yang bagus dan kena banget.

So...to summarize, ini memang film yang cocok banget ditonton untuk Valentine. dengan sesama teman cewek (please jangan bawa cowok, kasihan mereka. Kecuali kalo cowok yang mau dibawa itu penggemar Rachel McAdams). Good movie though not great, but at least give you a good feeling when watch it. And also entertaining for both eyes and ears. Not my most favourite chick flick but definitely worth to see.

Rating tiga bintang untuk storyline, tapi naik jadi 3,5 bintang karena setting dan soundtracknya yang keren.
“At a low point in my life, I didn’t think this marriage was going to work. I didn’t have the faith that we were going to make it. At the same time, I wasn’t going to leave her in the state she was in; I was vowing to stay with her.”
-Kim Carpenter-
Nah yang sebenarnya membuat saya tergerak menulis review adalah ketika saya tahu film ini terinspirasi dari kisah nyata pasangan Kim dan Krickitt Carpenter yang dituangkan dalam buku berjudul The Vow.
Sewaktu googling tentang pasangan Carpenter, saya ketemu link ini. Di situ diceritakan perekat bagi pasangan ini (setelah kecelakaan tragis itu) adalah kepercayaan mereka pada Tuhan dan sumpah setia yang mereka ucapkan satu sama lain.

Sumpah setia itu lah yang bikin saya penasaran.
Sumpah yang diucapkan Leo dan Paige versi The Vow sih manis dan romantis, tapi kira-kira seperti apa ya sumpah yang diucapkan pasangan Carpenter? Sehebat atau setulus apakah perasaan mereka ketika bersumpah hingga mampu bertahan melawan segala badai?

Apalagi...Leo dan Paige sih punya 4 tahun pernikahan bahagia sebelumnya. Wajar kalo Leo enggan melepas masa-masa itu. Tapi Kim dan Krickitt Carpenter hanya bersama selama 18 bulan sebelum Krickitt mengalami amnesia.
Saya menduga 18 bulan itu pastilah 18 bulan yang paling membahagiakan dalam hidup Kim hingga dia tak rela melepasnya.
Benarkah demikian?
Entahlah...saya musti membaca sendiri bukunya.

Ah saya benar-benar penasaran sama buku ini. Sebelnya saya sudah mencari ke beberapa toko buku import di Jakarta dan gak ketemu juga. Satu-satunya cara pesan lewat Amazon, which I don't want.

Mudah-mudahan saya sempat ke Bras Basah bulan depan dan ketemu buku ini di sana. Wish me luck yaaaa \(^__^)/

The Vow :

Paige : "I vow to help you love life, to always hold you with tenderness, and to have the patience that love demands. To speak when words are needed, and to share the silence when they're not. To agree or to disagree on red velvet cake, and to live within the warmth of your heart and always call it home."

Leo : "I vow to love you. And no matter what challenges might carry us apart, we will always find a way back to each other. I vow to fiercely love you in all your forms now and forever. I promise to never forget that this is a once in a lifetime love."

Friday, February 24, 2012

Anak Tanah Air

Data Buku :
Pengarang : Ajip Rosidi
ISBN 13 : 9789794193440
Penerbit : Pustaka Jaya
Tahun : 2008 (edisi kedua)

Saya dibesarkan dengan pemahaman PKI itu kejam. Lihat saja kelakuan mereka pada 7 pahlawan revolusi. Lihat saja bekas kekejaman mereka di Lubang Buaya. Tak banyak cerita yang saya ketahui tentang PKI selain prinsip "Sama Rata Sama Rasa"nya itu.

Karenanya saya tertarik membaca novel ini, yang menyinggung tentang partai yang pernah berjaya di dunia politik Indonesia tersebut.

Adalah Ardi yang dibesarkan di komunitas yang kental suasana Islamnya. Namun bahkan sejak kecil pun Ardi sudah melihat kejanggalan yang tak disetujuinya. Seperti bahwa Allah itu wujud, tapi seperti apa wujud Allah? Kenapa tak ada orang yang bisa menjawabnya?
Lalu guru mengajinya, Haji Raup, mengapa tiap lebaran mendapat sumbangan zakat yang paling besar? Bukankah dia seorang haji, hidup berkecukupan, kenapa pula masih harus disumbang? Dan uang sumbangan itu dipakai Pak Haji untuk membeli tanah pula. Kenapa Tuhan membiarkan ketakadilan seperti ini? Apa benar Tuhan itu ada?
Pemikiran seperti ini membuat Ardi kecil yang kritis mulai meragukan keberadaan-NYA.

Sewaktu SMU (atau Taman Siswa menurut novel ini), Ardi pindah ke ibu kota. Di tengah kesemrawutan situasi politik, Ardi menjalin persahabatan akrab dengan seniman-seniman di Taman Madya (setingkat universitas). Ardi menemukan passion-nya adalah melukis. Namun dia juga berhadapam dengan kenyataan, seniman itu hidupnya susah. Lihat saja Afandi yang sampai harus hidup menumpang. Belum lagi kenyataan bahwa tak semua orang menghargai bakatnya.

Di saat itu, Ardi bertemu dengan Lekra, organisasi seniman golongan komunis, yang justru sangat menghargai bakatnya bahkan bersedia menyelenggarakan pameran tunggal. Sedari awal, para sahabat sudah memperingatkan Ardi bahwa tak ada yang gratis di dunia ini. Apalagi Lekra sudah terkenal dengan sifatnya yang pamrih.

Ardi tak mengindahkan nasihat sahabat-sahabatnya dan tetap bersikeras mengikuti organisasi tersebut. Selain karena organisasi itu memberinya hidup yang lebih baik dan pekerjaan tetap, juga karena dia merasa ideologinya sepaham dengan organisasi tersebut.

Untuk sesaat, pilihan Ardi tampak benar walau pun dia mesti kehilangan rekan dan sahabatnya. Lekra (dengan dukungan PKI) berubah menjadi partai dengan kekuatan politik yang besar saat itu. Bahkan Presiden Sukarno pun mengandalkan partai tersebut.
Namun roda revolusi mulai bergulir. Masyarakat dan militer tak tinggal diam pada komunis yang menguasai negeri. Dan saat paham komunis diberantas dari negeri ini, bagaimanakah nasib Ardi?
"Keindahan itu tidak hanya terdapat pada hal-hal yang bagus saja. Tidak hanya terdapat pada hal yang menyenangkan saja. Keindahan itu terdapat pula pada hal sehari-hari yang biasanya tidak dianggap indah. Keindahan itu terdapat dalam kejujuran."
-Ardi-
Saat membaca beberapa halaman awal buku ini, saya langsung bersyukur gaya bahasa yang digunakan adalah gaya bahasa 70an walau pun buku ini bersetting tahun 1960an. Seandainya penulis menggunakan gaya bahasa 60an, kayaknya saya bakal butuh waktu lebih lama untuk menyelesaikan :D

Berhubung saya bakal banyak membahas sisi menarik buku ini, maka biarlah saya katakan sekarang tentang rating.
Saya kasih rating 4 bintang saja, dikurangi 1 bintang karena bab-bab awal yang sungguh bertele-tele. Ajip Rosidi berlama-lama dengan masa lalu dan latar belakang Ardi juga masa-masa bersekolah Ardi di Taman Siswa yang sebenarnya bukan konflik utama.

Nah yang saya anggap menarik dari buku ini adalah gaya penceritaan yang terbagi dalam 3 bagian.
Bagian pertama saat Ardi datang ke Jakarta hingga akhir masa sekolahnya diceritakan dengan sudut pandang orang ketiga. Bagian kedua dimulai saat Ardi merintis karir sebagai pelukis hingga bergabungnya dia ke organisasi kiri, diceritakan dengan sudut pandang Ardi.
Namun bagian ketiga lah yang paling menarik. Bagian ketiga merupakan curahan hati Hasan (rekan seniman dan sahabat Ardi sejak sekolah) terhadap situasi politik Indonesia saat itu.

Setelah kita diberi tahu mengenai sisi positif Lekra (dan PKI) dari kacamata Ardi di buku kedua, maka catatan Hasan memberi kesan sebaliknya.
Hasan bercerita bagaimana kebebasan seni dan berpendapat sangat dikekang saat itu. Semua yang mengancam keberlangsungan paham komunis dianggap sebagai pemberontakan. Pada catatannya, Hasan mencurahkan kegelisahan dan idealismenya untuk tidak terikat pada organisasi mana pun karena berpendapat seni haruslah bebas.
Bab ketiga juga memberitahukan nasib para pendukung Lekra (dan PKI) juga Ardi secara tersirat. Dan ini yang menarik, karena nasib Ardi tak pernah jelas dan membuat saya penasaran.

Tapi yang jauh lebih menarik buat saya, di luar segala cerita buku ini, adalah penggambaran situasi jaman dulu.
Ternyata Jakarta itu sudah semrawut sejak dulu, dan ternyata mental bangsa ini yang mau gampangnya saja (seperti keberadaan calo di terminal atau stasiun) juga merupakan penyakit kronis.

Situasi pemilu jaman dulu dan sekarang pun sama, contohnya : di waktu dulu para partai saling menjatuhkan lawan politiknya dengan segala cara termasuk fitnah. Sounds familiar, isn't it? ;)
Dari segi seni pun tak berubah. Simak keluhan seniman-seniman dahulu tentang bangsa kita yang belum bisa menghargai seni teater secara khusus dan seni lain secara umum. Contohnya dari penonton yang masih merokok atau ngobrol bahkan berteriak-teriak saat pertunjukan sedang berlangsung. Betapa masih relevannya keluhan tersebut dengan suasana sekarang.

Simak pula pendapat Hasan tentang kelemahan pimpinan Presiden Sukarno kala itu dan betapa miripnya dengan situasi kepemimpinan di Indonesia belakang ini :
"Dia tak mau mengakui kenyataan yang berkembang di depan matanya. Dia tetap tak mau menerima tuntutan masyarakat yang meminta keadilan. Dia tetap ingin hidup dalam mimpi-mimpinya yang penuh gemerlapan, tanpa menyadari realitas yang ada. Dia ingin membuat Indonesia menjadi bangsa yang besar, yang dimalui bangsa-bangsa lain, tetapi yang ditumbuhkannya adalah manusia-manusia kerdil yang hanya boleh membebek kepadanya saja."
(Note : Dia mengacu kepada Presiden Sukarno. Tapi boleh coba ganti dengan nama Presiden mana pun dan hasilnya kurang lebih sama)

Buat saya ini menyedihkan. Karena bahkan 40 tahun setelah peristiwa di buku ini pun, (mental) bangsa ini belum banyak berubah dan kita belum banyak belajar.
Dan pertanyaan Hasan tentang Indonesia yang tertulis di akhir buku ini pun :
--"Dapatkah negaraku mencapai keadaan demikian? Keadaan yang disebut murah sandang murah pangan, aman tentram kerta raharja, gemah ripah loh jinawi."--
terasa sebagai satu pertanyaan yang absurd.

Buku ini merupakan pemberian dari Oky Septya karena saya menang lomba review nya yang diadakan tahun lalu. Seharusnya review ini tayang tanggal 10 februari kemarin, tapi malah mulur jauh banget. Maaf ya, ki >.<

Books In English Reading Challenge

Huaahh....saking padatnya agenda bulan ini, saya belum membuat satu review pun.
Haduh...mesti belajar manajemen waktu dengan lebih baik nih.

Walau begitu, saya memberanikan diri untuk mengikuti sebuah challenge lagi, yaitu Books in English yang dimotori oleh surgabukuku kepunyaan @melmarian. Aturannya simple saja, hanya membaca minimal sebuah buku berbahasa inggris setiap bulannya.


Saya sih belum punya rencana akan membaca apa dalam 10 bulan ke depan. Tapi beberapa judul yang masuk dalam list to-read saya adalah :
- Ringolevio : A Life Played For Keeps (biografi tentang Emmet Grogan)
- Spirit House by Mark Dapin (drama keluarga sih, tapi ratingnya di Goodreads bagus bikin saya penasaran)
- Katherine the Queen: The Remarkable Life of Katherine Parr by Linda Porter  (biografi tentang Ratu Katherine). Rencananya novel ini juga mau saya ikutkan dalam baca bareng BBI untuk bulan Maret dengan tema wanita. (PS : iyaaaa....saya sadar kalo saya ambisius)
- What Katy Did At School & What Kathy Did Next (classic children story from Susan Coolidge)
- The Magic Faraway Tree by Enid Blython

Yah mudah-mudahan bisa tercapai rencana saya membaca buku-buku ini.

Monday, January 30, 2012

Godaan Di Senja Hari

Judul asli : Tempt Me At Twilight
ISBN/EAN : 9789792260403 / 9789792260403
Author : Lisa Kleypas
Publisher : Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Publish : 03 Agustus 2010
Pages : 424
Dimension (mm) : 140 x 210

Ini buku kiriman Secret Santa-ku, Mbak Desty Nugrainy. Pertama buka bungkusannya langsung cengar-cengir karena mikir : "Yeeaayyy...historical romance-Lisa Kleypas-Hathaways-Belum punya."
Tapi di sisi lain juga mikir : "Eng...ini buku ke-3 kan? Susah nih ngereview buku ke-3." *elusJidat*
Yup...kelemahan saya emang ngereview buku berseri. Saya lebih suka membacanya ampe habis dan memposting reviewnya sekaligus (itu pun kalo gak keburu males bikin :D). Jadi...kiriman dari Secret Santa-ku ini jadi semacam tantangan tersendiri. Makasih, Secret Santa ^__^

Seperti yang saya bilang di atas, Godaan Di Senja Hari ini adalah buku ke-3 dari serial Hathaways yang bercerita tentang liku percintaan Hathaway bersaudara. Keluarga Hathaway dikenal sebagai keluarga bangsawan yang eksentrik. Mereka tidak terlalu patuh pada aturan aristokrat dan wanita-wanitanya dikenal pintar yang mana suatu kekurangan lumayan fatal (di jaman itu, pria kurang suka wanita pintar sebagai istri, takut memberontak mungkin). Hal inilah yang membuat wanita Hathaway (walaupun punya maskawin yang besar) rada sulit laku di bursa perjodohan.

"Peluangnya memperoleh pernikahan yang pantas akan lenyap--hanya karena musang."

Dan dengan kalimat itu, dimulailah kisah tentang Poppy, putri ketiga keluarga Hathaway.
Poppy sangat mencintai keluarganya yang unik, namun dia terus memimpikan hidup yang normal, damai (ato singkatnya: hidup yang boring) dan menikah dengan pemuda dari keluarga terhormat. Impian itu terancam hancur bila surat cinta dari Michael Bayning (kekasih rahasianya) tersebar kemana-mana. Sialnya, saat ini surat itu sedang dipegang Dodger, musang peliharaan adiknya. Dan sudah jelas, Dodger tak mengerti tingginya level kerahasiaan surat itu.

Pengejaran itu membawanya berkenalan dengan Harry Rutledge. Perkenalan yang menjungkirbalikkan semua rencana Poppy.
Sejak awal bertemu, Harry sudah tertarik kepada Poppy dan bertekad memilikinya walau pun harus melakukan segala cara. Dengan cara licik, Harry berhasil memisahkan Poppy dan Michael. Dan lewat suatu insiden, Harry berhasil menyudutkan Poppy hingga gadis itu terpaksa menikah dengannya.

Namun, tak ada rahasia yang tak terungkap.
Di hari pernikahan mereka, Michael datang dan mengungkapkan segala kecurangan Harry. Walau marah, Poppy memilih tetap menjalankan rencana menikah dengan Harry, basically choosing the lesser of two evils. Dan dimulailah pernikahan yang aneh itu. Pernikahan yang memaksa mereka berdua untuk membuka diri dan hati serta belajar memaafkan.
"Aku tidak akan pernah menyesalinya. Karena jika aku tidak melakukannya, kau miliknya sekarang. Padahal dia hanya menginginkanmu jika itu mudah baginya. Tapi aku menginginkanmu dengan cara apa pun yang aku bisa. Aku menginginkanmu karena tidak ada orang lain yang seperti dirimu, dan aku tidak pernah ingin memulai hari tanpa melihatmu."
-Harry Rutledge-
I love this book.
Suka sama karakter Harry yang tegas, dewasa, tahu apa yang dia mau walopun di dalamnya selalu ada sosok bocah kesepian. Yang paling saya suka adalah : Harry gak munafik. Dari sejak awal pun dia udah ngaku kalo dia memang bukan orang yang baik dan karenanya tak bisa diharapkan menjadi "saint". Soal mengubah seorang villain jadi hero dan membuat pembaca jadi bersimpati pada sang "hero" memang Kleypas jagonya.

Suka juga sama karakter Poppy yang rasional dan berkepala dingin. Semarah apapun Poppy, dia bisa mempertimbangkan sisi positif dan negatif suatu masalah. Dari semua karakter heroine-nya Kleypas, Poppy masuk dalam daftar favorit saya. Kekurangan Poppy itu di sifatnya yang terlalu baik, bahkan kepada mantan pacarnya dan kadang rada naif.

Suka juga sama karakter-karakter pendukung yaitu anggota keluarga Hathaway lainnya. Suka sama kekompakan dan kasih sayang yang kental antara mereka. Suka dengan rahasia Catherine yang semakin terungkap. Dan yang paling saya suka, disini kita bisa melihat chemistry Leo dan Catherine yang semakin terbentuk. Prekuel yang bagus untuk buku berikutnya (Married By Morning) yang menceritakan Leo-Cath.

Suka sama endingnya yang (walaupun) tertutup, tapi bikin penasaran untuk baca buku lanjutannya.

Untuk versi Indonesia ini, saya juga suka covernya yang menggambarkan suasana senja dan bangunan besar yang saya anggap sebagai hotel Rutledge. Suka warna covernya yang bernuansa pink-ungu itu. Cantik banget :D

Yang saya kurang suka adalah proses menuju endingnya. Somehow, rasanya agak terburu-buru. Setelah santai dan ringan di awal, pas mendekati konflik akhir kok jadi makin cepat ya? Penyelesaiannya pun terasa agak diburu-buru. Tapi sungguh, itu kekurangan yang kecil dibanding nilai keseluruhan cerita ini.
"Kau tahu apa itu roda penyeimbang? Ada satu roda seperti itu di setiap jam dinding atau jam tangan. Roda itu berputar maju dan mundur tanpa berhenti. Itu yang menghasilkan suara berdetik, yang membuat jarum jam bergerak maju menandai menit. Tanpa roda itu, jam itu tidak akan bekerja. Kaulah roda penyeimbangku,Poppy."
-Harry Rutledge-
Saya sudah baca kelima serial dalam versi ebook-nya, tapi baca versi terjemahan ini bikin saya penasaran untuk membaca dan mengoleksi lima seri terjemahannya (Hehehe...mbak Desti menambah target buku yang harus saya beli di 2012 ini :D).

Karenanya saya kasi 3,5 bintang untuk Godaan Di Senja Hari versi GPU ini. Tiga bintang untuk ceritanya dan setengah bintang lagi untuk cover dan terjemahannya yang bagus banget itu. Kenapa ceritanya cuma 3 bintang? Karena yah...gak sreg sama konfliknya yang kurang tajam dan penyelesaiannya yang rada terburu-buru.

Quote of the book:
 
Poppy Hathaway : “Aku tidak akan pernah lupa kau merampas pria yang kucintai dan menempatkan dirimu di tempatnya. Aku tidak yakin bisa memaafkanmu sampai kapan pun. Satu-satunya yang kuyakini adalah aku tidak akan pernah mencintaimu. Apa kau masih ingin menikah denganku?”
Harry Rutledge : "Ya. Aku tidak pernah ingin dicintai. Tuhan pun tahu tidak seorang pun pernah mencintaiku."