Thursday, April 26, 2012
Winner Of BBI 1st Giveaway Hop
Banyak....banyak....terima kasih buat semua yang udah ikutan giveaway saya.
Terima kasih juga untuk ketiga host (Okeyzz, Fanda A dan Maya) yang udah punya ide untuk bikin giveaway yang seru ini.
Menurut Rafflecopter, pemenang untuk 1 novel Partikel adalah : Wenny (selamat yaaa).
Dan untuk komentar, well...pilihan saya jatuh pada peserta bernama : Jun. Not the best comment, but somehow his comment moved me to give 1 copy of Partikel to him. So...selamat ya, Jun. Dan berhubung Partikel-nya gak baru (tapi kondisinya terawat baik kok) kamu berhak memilih 1 lagi novel lokal (dgn harga maksimal IDR 70rb).
Selamat buat yang menang.
Ditunggu info tentang alamat pengirimannya dalam 3 hari ini. Otherwise, saya akan milih pemenang lain.
Sampai jumpa di giveaway berikutnya yaa (doakan saja mudah-mudahan segera)
Friday, April 20, 2012
Takdir Elir
Judul : Takdir Elir
Penulis : Hans J. Gumulia
Penata letak : Mulyono
Pem. Aksara : Reyner Nabeel
Proofread : Bonmedo Tambunan, Dina Begum, Adit H. Pratama
Pencpt. hikayat : Ami Raditya
PR : Truly Rudiono
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Pertama kali membaca kata yang tertera di sampul buku ini (Vandaria Saga), saya langsung ngerasa salah buku. "Hah? Vandaria tuh apaan?" pikir saya.
Membaca perkenalan para tokoh dan bab pertama, saya makin mikir kalo saya salah buku. Lah wong saya blank banget dengan istilah dan tata cara dunia Vandaria. Misalnya : frameless itu apa sih? Ordo Vhranas itu apa? Kalo semua penghuni Vandaria memuja Vanadis, kenapa musti ada pembagian ordo segala?
Huaa....saya makin bingung.
But the show must go on. Sekali buku terbuka, pantang berhenti tengah jalan (pret!). Dan saya pun melanjutkan petualangan saya bersama Rozmerga yang gagah berani.
Dari sekilas pandang, saya sempat berpikir kalau Vandaria ini semacam RPG (dan kayaknya sih emang iya). Soalnya perkenalan tokoh di halaman awal itu sampai mencantumkan ukuran fisik segala dan biasanya ini hobi di RPG (teori seenaknya XD)
Adalah seorang pendeta tinggi di Ordo Vrhanas yang mendapat wangsit untuk mengirimkan salah satu frameless juniornya ke Benua Elir. Saat itu, perang hampir pecah di sana karena pertikaian 2 kerajaan besar di benua Elir. Berbekal surat dari pendeta tinggi dan ditemani serombongan ksatria suci, Rozmerga pun melipir ke Benua Elir #heyitsryhme #rhymendasmu X)
Scene lalu berpindah ke Liarra, seorang frameless hutan dari marga suci entah-apa-namanya yang berdomisili di Benua Elir. Rupanya klan Liarra ini memiliki senjata suci nan sakti bernama busur Valuminnaire. Dan berhubung Benua Elir sedang dalam masa kritis, para tetua mendapat wangsit bahwa sudah saatnya busur itu dilepas untuk memilih tuannya. Dan (as we can guest) Liarra lah yang dipilih oleh sang busur.
And...Poof!!!
Begitu Liarra bersentuhan dengan busur Valuminnaire, detik itu juga dia teleport ke Gurun Pasir Tak Bernama dan bertemu Sigmar, seorang pengembara setengah frameless yang sedang dalam misi untuk mencari sebuah kuil yang hilang.
Berhubung Liarra yakin takdirlah yang membuatnya bertemu Sigmar, maka dia yakin adalah takdirnya juga untuk ikut mencari kuil tersebut. Perjalanan mereka gak mudah, sampai ketemu Gorken segala dan akhirnya para Gorken malah jadi pengikut setia Liarra. Oh...apakah Gorken itu? Entah...semacam monster sih. Mungkin sejenis dengan Golem ato Orc kali ya.
Lalu cerita balik ke Rozmerga yang baru sampai di Elir, tepatnya di wilayah kerajaan Serenade. Dalam perjalanannya mencapai ibu kota, dia sempat nyasar, diserang segerombolan perampok, akhirnya terselamatkan dan dapat tumpangan di rumah warga hingga akhirnya dapat tumpangan kendaraan juga ke ibukota.
Buat saya sih bab ini aneh. Gak jelas tujuannya apa secara gak berpengaruh juga ke cerita. Dan aneh juga karena kok Rozmerga dan rombongannya bisa segampang itu kejebak bandit kampung? Apa si pengarang bermaksud menunjukkan betapa juniornya Rozmerga ini?
Setelahnya cerita kembali ke Liarra dan Sigmar yang sudah berhasil menemukan kuil itu dan juga pisau belati kuno. Setelahnya Sigmar dan Liarra menyadari kalau kedua senjata mereka bersinar. Mereka mencoba menyentuhkan kedua senjata dan mendapat suatu visi. Dalam visi tersebut terlihat 5 Pahlawan Legendaris Elir melawan Gottfried Serenade, musuh terkuat dalam sejarah Elir. Pertanyaannya, apakah hubungan visi tersebut dengan kondisi Elir yang kritis saat ini? Dan apa pula peran mereka dalam konflik ini?
Karena walaupun ditulis dengan multiple POV, tapi gaya berceritanya nggak bikin bingung kok.
Memang sih ada beberapa hal yang aneh dan lucu seperti Sigmar yang membacakan petunjuk cara menghadapi Gorken ke Liarra tepat saat mereka akan diserang Gorken. Atau saat Rozmerga dan rombongannya gak tahan menghadapi penginapan yang jorok. Juga saat Rozmerga begitu naifnya sampai gak nyadar dia ditipu padahal pembaca awam seperti saya aja bisa nyadar.
Lucu memang, tapi saya pikir biarlah. Toh ukuran saya memberi rating adalah seberapa menikmatinya saya membaca buku tersebut. Dan harus saya akui, membaca Takdir Elir ini enak banget. Bahasanya (walopun kadang-kadang cheesy terutama di bagian percakapan) mengalir banget. Tanpa disadari udah selesai 1 bab aja dan penasaran untuk lanjut bab berikutnya.
Mengenai hal-hal yang belum jelas di buku ini, seperti kegunaan bab waktu Rozmerga diserang (lupa bab berapa) juga apa sebenarnya penyebab konflik di Elir, saya sih berharap akan ada penjelasannya di buku kedua.
Oya...saya juga suka twist di akhir cerita, tentang mereka (saya sengaja gak bilang siapa "mereka" itu) yang terlempar ke masa lalu. Wow...I didn't see that coming.
Tapi di sisi lain, saya juga heran sendiri. Kan mereka sudah dapat visi tentang masa lalu, kok gak ngeh kalo mereka melihat diri sendiri di visi itu?
Ah time paradox dan time travel selalu jadi konsep yang membingungkan untuk saya. Mudah-mudahan sih akan ada penjelasan yang logis di buku berikutnya.
Empat bintang saya berikan untuk buku ini. Kenapa gak 5 bintag?
Karena dipotong satu bintang karena hal yang "lucu" dan aneh di atas. Dan tadinya saya mau potong setengah bintang lagi karena saya gak suka covernya. Tapi akhirnya batal, karena saya suka ilustrasi-ilustrasi cantik dalam buku ini.
Oh bye the way, ampe akhir saya masih belum tahu frameless itu apa. Tapi pada akhirnya saya gak peduli karena saya toh tetap menikmati buku ini. Yep...this book was that good :)
Penulis : Hans J. Gumulia
Penata letak : Mulyono
Pem. Aksara : Reyner Nabeel
Proofread : Bonmedo Tambunan, Dina Begum, Adit H. Pratama
Pencpt. hikayat : Ami Raditya
PR : Truly Rudiono
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Pertama kali membaca kata yang tertera di sampul buku ini (Vandaria Saga), saya langsung ngerasa salah buku. "Hah? Vandaria tuh apaan?" pikir saya.
Membaca perkenalan para tokoh dan bab pertama, saya makin mikir kalo saya salah buku. Lah wong saya blank banget dengan istilah dan tata cara dunia Vandaria. Misalnya : frameless itu apa sih? Ordo Vhranas itu apa? Kalo semua penghuni Vandaria memuja Vanadis, kenapa musti ada pembagian ordo segala?
Huaa....saya makin bingung.
But the show must go on. Sekali buku terbuka, pantang berhenti tengah jalan (pret!). Dan saya pun melanjutkan petualangan saya bersama Rozmerga yang gagah berani.
Dari sekilas pandang, saya sempat berpikir kalau Vandaria ini semacam RPG (dan kayaknya sih emang iya). Soalnya perkenalan tokoh di halaman awal itu sampai mencantumkan ukuran fisik segala dan biasanya ini hobi di RPG (teori seenaknya XD)
Adalah seorang pendeta tinggi di Ordo Vrhanas yang mendapat wangsit untuk mengirimkan salah satu frameless juniornya ke Benua Elir. Saat itu, perang hampir pecah di sana karena pertikaian 2 kerajaan besar di benua Elir. Berbekal surat dari pendeta tinggi dan ditemani serombongan ksatria suci, Rozmerga pun melipir ke Benua Elir #heyitsryhme #rhymendasmu X)
Scene lalu berpindah ke Liarra, seorang frameless hutan dari marga suci entah-apa-namanya yang berdomisili di Benua Elir. Rupanya klan Liarra ini memiliki senjata suci nan sakti bernama busur Valuminnaire. Dan berhubung Benua Elir sedang dalam masa kritis, para tetua mendapat wangsit bahwa sudah saatnya busur itu dilepas untuk memilih tuannya. Dan (as we can guest) Liarra lah yang dipilih oleh sang busur.
And...Poof!!!
Begitu Liarra bersentuhan dengan busur Valuminnaire, detik itu juga dia teleport ke Gurun Pasir Tak Bernama dan bertemu Sigmar, seorang pengembara setengah frameless yang sedang dalam misi untuk mencari sebuah kuil yang hilang.
Berhubung Liarra yakin takdirlah yang membuatnya bertemu Sigmar, maka dia yakin adalah takdirnya juga untuk ikut mencari kuil tersebut. Perjalanan mereka gak mudah, sampai ketemu Gorken segala dan akhirnya para Gorken malah jadi pengikut setia Liarra. Oh...apakah Gorken itu? Entah...semacam monster sih. Mungkin sejenis dengan Golem ato Orc kali ya.
Lalu cerita balik ke Rozmerga yang baru sampai di Elir, tepatnya di wilayah kerajaan Serenade. Dalam perjalanannya mencapai ibu kota, dia sempat nyasar, diserang segerombolan perampok, akhirnya terselamatkan dan dapat tumpangan di rumah warga hingga akhirnya dapat tumpangan kendaraan juga ke ibukota.
Buat saya sih bab ini aneh. Gak jelas tujuannya apa secara gak berpengaruh juga ke cerita. Dan aneh juga karena kok Rozmerga dan rombongannya bisa segampang itu kejebak bandit kampung? Apa si pengarang bermaksud menunjukkan betapa juniornya Rozmerga ini?
Setelahnya cerita kembali ke Liarra dan Sigmar yang sudah berhasil menemukan kuil itu dan juga pisau belati kuno. Setelahnya Sigmar dan Liarra menyadari kalau kedua senjata mereka bersinar. Mereka mencoba menyentuhkan kedua senjata dan mendapat suatu visi. Dalam visi tersebut terlihat 5 Pahlawan Legendaris Elir melawan Gottfried Serenade, musuh terkuat dalam sejarah Elir. Pertanyaannya, apakah hubungan visi tersebut dengan kondisi Elir yang kritis saat ini? Dan apa pula peran mereka dalam konflik ini?
"Ingatlah wahai putri Vanadis, bahwa di jalan segelap apa pun, selalu saja ada secercah cahaya yang akan melindungimu..."Bingung dengan sinopsis di atas? Nggak perlu...
Karena walaupun ditulis dengan multiple POV, tapi gaya berceritanya nggak bikin bingung kok.
Memang sih ada beberapa hal yang aneh dan lucu seperti Sigmar yang membacakan petunjuk cara menghadapi Gorken ke Liarra tepat saat mereka akan diserang Gorken. Atau saat Rozmerga dan rombongannya gak tahan menghadapi penginapan yang jorok. Juga saat Rozmerga begitu naifnya sampai gak nyadar dia ditipu padahal pembaca awam seperti saya aja bisa nyadar.
Lucu memang, tapi saya pikir biarlah. Toh ukuran saya memberi rating adalah seberapa menikmatinya saya membaca buku tersebut. Dan harus saya akui, membaca Takdir Elir ini enak banget. Bahasanya (walopun kadang-kadang cheesy terutama di bagian percakapan) mengalir banget. Tanpa disadari udah selesai 1 bab aja dan penasaran untuk lanjut bab berikutnya.
Mengenai hal-hal yang belum jelas di buku ini, seperti kegunaan bab waktu Rozmerga diserang (lupa bab berapa) juga apa sebenarnya penyebab konflik di Elir, saya sih berharap akan ada penjelasannya di buku kedua.
Oya...saya juga suka twist di akhir cerita, tentang mereka (saya sengaja gak bilang siapa "mereka" itu) yang terlempar ke masa lalu. Wow...I didn't see that coming.
Tapi di sisi lain, saya juga heran sendiri. Kan mereka sudah dapat visi tentang masa lalu, kok gak ngeh kalo mereka melihat diri sendiri di visi itu?
Ah time paradox dan time travel selalu jadi konsep yang membingungkan untuk saya. Mudah-mudahan sih akan ada penjelasan yang logis di buku berikutnya.
Empat bintang saya berikan untuk buku ini. Kenapa gak 5 bintag?
Karena dipotong satu bintang karena hal yang "lucu" dan aneh di atas. Dan tadinya saya mau potong setengah bintang lagi karena saya gak suka covernya. Tapi akhirnya batal, karena saya suka ilustrasi-ilustrasi cantik dalam buku ini.
Oh bye the way, ampe akhir saya masih belum tahu frameless itu apa. Tapi pada akhirnya saya gak peduli karena saya toh tetap menikmati buku ini. Yep...this book was that good :)
Thursday, April 12, 2012
BBI 1st Giveaway Hop
Komunitas BBI (Blogger Buku Indonesia) adalah suatu komunitas yang mendedikasikan blog mereka untuk dunia perbukuan. Isi blog bisa macam-macam seperti resensi buku, bahkan sampai cover buku.
Tanggal 13 april 2012 adalah ulang tahun pertama BBI. Dan untuk merayakannya, maka BBI mengadakan "Giveaway Hop".
Giveaway hop adalah beberapa blogger yang mengadakan giveaway dengan tema yang sama secara serentak, masing-masing memposting di blognya sendiri. Dalam giveaway hop biasanya ada host (penyelenggara).
Dan untuk Giveaway Hop kali ini host-nya adalah Fanda's Historical Fiction punya Mbak Fanda, Kumpulan Sinopsis dari Okeyzz kepunyaan Oky dan Dear Readers milik Maya.
Lebih lengkap tentang "BBI 1st Giveaway Hop" bisa dibaca di sini
Saya, melalui blog Through Tinted Glass, juga ingin meramaikan acara ultah pertama BBI. Yeaayy.... *tebar confetti*.
Hadiah dari Giveaway ini adalah 2 novel Partikel oleh Dee Lestari.
Ketentuannya adalah : "1 novel akan dipilih oleh Rafflecopter dan 1 lagi akan dilihat dari komentar yang diberikan."
Namun mohon maaf, salah 1 novelnya (kemungkinan) bukan novel baru. Bila anda mendapat yang gak baru, sebagai kompensasi, saya akan berikan hadiah tambahan berupa 1 novel karya penulis lokal juga. Novel tambahannya boleh pilih sendiri dengan syarat bisa saya dapatkan (tersedia di toko buku ato online shop) dan tidak melebihi IDR 70.000,- (tidak termasuk ongkos kirim)
Sinopsis :
Di pinggir Kota Bogor, dekat sebuah kampung bernama Batu Luhur, seorang anak bernama Zarah, dan adiknya, Hara, dibesarkan secara tidak konvensional oleh ayahnya, dosen sekaligus ahli mikologi bernama Firas. Cara Firas mendidik anak-anaknya mengundang pertentangan dari keluarganya sendiri.
Di balik itu semua, masih tersimpan berlapis misteri, di antaranya hubungan khusus Firas dan sebuah tempat angker yang ditakuti warga kampung. Tragedi demi tragedi yang menimpa keluarganya akhirnya membawa Zarah ke sebuah pelarian sekaligus pencarian panjang.
Di konservasi orang utan Tanjung Puting, Zarah menemukan keluarga baru dan kedekatannya kembali dengan alam. Namun, bakat fotografinya membawa Zarah lebih jauh dari yang ia duga.
Di London, tempat Zarah akhirnya bermarkas, ia menemukan segalanya. Cinta, persahabatan, pengkhianatan. Termasuk petunjuk penting yang membawa titik terang bagi pencariannya.
Sementara itu, di Kota Bandung, Elektra dan Bodhi akhirnya bertemu. Secara bersamaan, keduanya mulai mengingat siapa diri mereka sesungguhnya.
1) Entry yang harus diisi adalah "Sebutkan Data Dirimu" berisi data diri kamu yang dapat dihubungi bila menang : +2 poin
2) Leave a blog post comment : +2 poin. Keunikan/kekreatifan komentar juga menjadi dasar penilaian.
3) Follow blog ini via Google Friend Connect atau email : +3 poin
4) Tweet tentang Giveaway ini di Twitter kamu +3 poin (bisa dilakukan setiap hari)
Semakin banyak entry yang dimasukkan setiap hari, semakin besar poin yang akan didapatkan, dan semakin besar peluang kamu untuk mendapatkan buku "Partikel" gratis! :)
Bagi yang tertarik, segera masukkan entry! Good Luck!
a Rafflecopter giveaway Ayooo..kunjungi juga Giveaway dari peserta BBI lain disini : Edited on 26/4/2012: Terima kasih buat semua yang udah ikutan giveaway. Sekarang giveaway ini udah ditutup. :)
Wednesday, March 28, 2012
Delirium
Judul: Delirium
Penulis: Lauren Oliver
Penerjemah: Vici Alfanani Purnomo
Penyunting: Prisca Primasari
Penerbit: Mizan Fantasi
Tahun: 2012
Hlm: 518
ISBN: 9789794336465
“The most dangerous sicknesses are those that make us believe we are well
- Proverb 42, The Book of Shhh”
Saya pernah membaca tentang kehidupan masyarakat Korea Utara yang sangat tertutup itu. Di sana, penggunaan listrik diatur, jam malam diberlakukan, pekerjaan ditentukan negara, bahkan hiburan pun dibatasi.
Akses internet? Informasi ke dunia luar? Hanya mimpi.
Meski begitu, masyarakat Korea Utara percaya (tepatnya terdoktrin) bahwa hidup mereka adalah hidup yg terbaik. Bahwa kehidupan di luar negara mereka adalah hidup yang menyedihkan dan susah. Karenanya mereka sangat berterima kasih dan memuja presiden mereka (kala itu) Kim Jong Il.
Saya jadi terpikir, apa jadinya kalau suatu saat warga KorUt berkesempatan ke dunia luar dan menyadari bahwa hidup bebas di negara lain lebih menyenangkan dari negara mereka? Dan menyadari bahwa sistem komunis yang dianut negara mereka bukanlah sistem yang terbaik dan nilai-nilai yang diajarkan kemungkinan bohong belaka. Apakah mereka akan merasa terkhianati atau dibohongi?
Mungkinkah perasaan mereka sama dengan perasaan Lena Haloway saat pertama kali melihat Alam Liar?
Awalnya Lena bersemangat menanti gilirannya disembuhkan. Dia ngeri membayangkan hidup di bawah langit yang sama dengan virus cinta tanpa proteksi apapun dalam tubuhnya. Tapi semuanya berubah saat dia berkenalan dengan Alex Sheathes. Lena menyadari dia terindeksi Amor Deliria Nervosa namun tak mampu mematikan perasaannya.
Alex memperkenalkannya pada dunia yang baru dan terasa seperti roller coaster. Alex juga menunjukkan pada Lena seperti apa rupa Alam Liar dan bagaimana rasanya bebas dari pengawasan pemerintah. Dan segera, Lena bisa melihat kekurangan yang ada di dunianya.
Betul...dunia tanpa cinta adalah dunia tanpa kesedihan. Tak ada rasa galau, kecewa atau pun patah hati, namun juga tak ada kebahagiaan dan tawa gembira. Dunia yang datar dan menyedihkan. Dan akhirnya Lena menyadari kebenaran kalimat ini : "You can't be happy unless you're unhappy sometimes".
Sungguh jauh dengan promosi pemerintah yang mendoktrin hidup jauh lebih baik tanpa cinta.
Dari Alex juga lah Lena mengetahui kenyataan di balik pemusnahan besar 43 tahun lalu dan membuat dia sadar seberapa besar kebohongan yang diciptakan pemerintahnya demi membasmi virus cinta.
Dia ingin memberontak dan melawan sistem. Dia ingin hidup bebas dan bahagia bersama Alex. Tapi apa yang bisa dia lakukan, seorang gadis yang biasa-biasa saja, melawan sebuah sistem yang sudah berlangsung puluhan tahun?
Tapi bersabarlah melewatkan 3 bab awal, dan saya yakin Anda akan menikmati buku ini seperti yang saya alami. Tentunya hal ini sangat terbantu dengan karakter Alex yang bikin penasaran sekaligus klepek-klepek serta chemistry Alex dan Lena yang alami.
Juga side story yang mengharukan tentang cinta ibu Lena ke anak-anaknya. Bagian itu terasa mengharukan karena menunjukkan besarnya cinta sang ibu dan usahanya untuk menunjukkan pada putrinya kalau mereka dicintai walaupun harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi.
Yap perincian di atas itu memang membuat novel ini terasa lambat, namun toh saya menyadari bahwa hal ini memang perlu.
Untuk terjemahan, di bab awal memang kaku. Tapi makin ke belakang makin luwes kok. Dan setelah mengintip versi aslinya, saya malah jadi salut. Bayangin aja, kitab yang berisi panduan untuk hidup sehat, selamat dan tenteram atau disingkat "Psst" ternyata dalam versi aslinya berjudul "Shhh" (singkatan dari The Safety, Health, and Happiness Handbook). Woww...dari "Ssh" ke "Psst". Bisa pas gitu diubah namun gak mengubah arti judul kitab tersebut. Kereeennn! Sayangnya, diksi-diksi indah khas Lauren Oliver pun turut berubah. Yah...itu resiko sebuah buku terjemahan sih ya. Toh Mizan sudah berusaha maksimal untuk memberi terjemahan semirip mungkin.
Yang juga menarik adalah misteri-misteri seputar latar belakang Alex dan Lena yang diungkap secara perlahan oleh Lauren Oliver. Dan bikin geregetan karena sampai akhir masih ada misteri yang dirahasiakan (disimpan untuk buku kedua mungkin).
Lalu hal apa sih yang membuat Cinta dianggap sebagai penyakit mematikan? Cuma karena Cinta dianggap penyebab perang? Bagaimana dengan keserakahan dan ambisi? Apa itu juga penyebabnya karena cinta?
Hmm...saya berharap hal-hal ini akan lebih dibahas di buku kedua.
Dan sementara itu, 3,5 bintang untuk Delirium. Setengah bintang dikurangi karena cover versi Mizan tuh 'nggak banget, kalah jauh dibanding cover aslinya. 1 bintang lagi dikurangi untuk terjemahan yang kaku di awal.
“I know that life isn't life if you just float through it. I know that the whole point- the only point- is to find the things that matter and hold onto them and fight for them and refuse to let them go.”
Penulis: Lauren Oliver
Penerjemah: Vici Alfanani Purnomo
Penyunting: Prisca Primasari
Penerbit: Mizan Fantasi
Tahun: 2012
Hlm: 518
ISBN: 9789794336465
“The most dangerous sicknesses are those that make us believe we are well
- Proverb 42, The Book of Shhh”
Saya pernah membaca tentang kehidupan masyarakat Korea Utara yang sangat tertutup itu. Di sana, penggunaan listrik diatur, jam malam diberlakukan, pekerjaan ditentukan negara, bahkan hiburan pun dibatasi.
Akses internet? Informasi ke dunia luar? Hanya mimpi.
Meski begitu, masyarakat Korea Utara percaya (tepatnya terdoktrin) bahwa hidup mereka adalah hidup yg terbaik. Bahwa kehidupan di luar negara mereka adalah hidup yang menyedihkan dan susah. Karenanya mereka sangat berterima kasih dan memuja presiden mereka (kala itu) Kim Jong Il.
Saya jadi terpikir, apa jadinya kalau suatu saat warga KorUt berkesempatan ke dunia luar dan menyadari bahwa hidup bebas di negara lain lebih menyenangkan dari negara mereka? Dan menyadari bahwa sistem komunis yang dianut negara mereka bukanlah sistem yang terbaik dan nilai-nilai yang diajarkan kemungkinan bohong belaka. Apakah mereka akan merasa terkhianati atau dibohongi?
Mungkinkah perasaan mereka sama dengan perasaan Lena Haloway saat pertama kali melihat Alam Liar?
“I am no one special. I am just a single girl. I am five feet two inches tall and I am in-between in every way. But I have a secret.”Lena tinggal di Portland (USA) di suatu masa ketika Cinta dianggap penyakit menular mematikan dengan nama lain Amor Deliria Nervosa. Dipercaya Cinta sebagai penyebab perang, kebencian dan nafsu buruk. Untungnya, 43 tahun yang lalu ditemukan penawar untuk virus Cinta ini. Di masa lalu, warga negara yang telah berumur 18 tahun diwajibkan untuk mengikuti prosedur penyembuhan. Dan mereka yang menolak, diasingkan keluar dan hidup di Alam Liar (jadi ceritanya di seluruh negeri dibangun tembok pembatas untuk memisahkan daerah yang sudah disterilkan dari virus cinta).
Awalnya Lena bersemangat menanti gilirannya disembuhkan. Dia ngeri membayangkan hidup di bawah langit yang sama dengan virus cinta tanpa proteksi apapun dalam tubuhnya. Tapi semuanya berubah saat dia berkenalan dengan Alex Sheathes. Lena menyadari dia terindeksi Amor Deliria Nervosa namun tak mampu mematikan perasaannya.
Alex memperkenalkannya pada dunia yang baru dan terasa seperti roller coaster. Alex juga menunjukkan pada Lena seperti apa rupa Alam Liar dan bagaimana rasanya bebas dari pengawasan pemerintah. Dan segera, Lena bisa melihat kekurangan yang ada di dunianya.
Betul...dunia tanpa cinta adalah dunia tanpa kesedihan. Tak ada rasa galau, kecewa atau pun patah hati, namun juga tak ada kebahagiaan dan tawa gembira. Dunia yang datar dan menyedihkan. Dan akhirnya Lena menyadari kebenaran kalimat ini : "You can't be happy unless you're unhappy sometimes".
Sungguh jauh dengan promosi pemerintah yang mendoktrin hidup jauh lebih baik tanpa cinta.
Dari Alex juga lah Lena mengetahui kenyataan di balik pemusnahan besar 43 tahun lalu dan membuat dia sadar seberapa besar kebohongan yang diciptakan pemerintahnya demi membasmi virus cinta.
Dia ingin memberontak dan melawan sistem. Dia ingin hidup bebas dan bahagia bersama Alex. Tapi apa yang bisa dia lakukan, seorang gadis yang biasa-biasa saja, melawan sebuah sistem yang sudah berlangsung puluhan tahun?
“...You can build walls all the way to the sky and I will find a way to fly above them. You can try to pin me down with a hundred thousand arms, but I will find a way to resist...”Walau pun sudah lama tertarik dengan buku ini, namun saya membutuhkan waktu 5 hari untuk menyelesaikann. Salahkan openingnya yang lamban, salahkan juga terjemahan di bab awal yang kurang mengalir. Juga salahkan suasana musim panas di buku ini, yang saking terasa-nya membuat saya ikutan merasa gerah dan jadi malas melanjutkan baca (halaaahhhh....diri sendiri yang males malah nyalahin yang lain :D).
Tapi bersabarlah melewatkan 3 bab awal, dan saya yakin Anda akan menikmati buku ini seperti yang saya alami. Tentunya hal ini sangat terbantu dengan karakter Alex yang bikin penasaran sekaligus klepek-klepek serta chemistry Alex dan Lena yang alami.
Juga side story yang mengharukan tentang cinta ibu Lena ke anak-anaknya. Bagian itu terasa mengharukan karena menunjukkan besarnya cinta sang ibu dan usahanya untuk menunjukkan pada putrinya kalau mereka dicintai walaupun harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi.
"...And there are many of us out there, more than you think. People who refuse to stop believing. People who refuse to come to earth. People who love in a world without walls, people who love into hate, into refusal, against hope,and without fear..."Namun yang paling menarik adalah gambaran rinci mengenai gejala Amor Deliria Nervosa lengkap dengan prosedur penyembuhannya, suasana dan pola hidup masyarakat di jaman Lena, serta kerja sistem negara untuk memastikan semua warga aman dari virus cinta tersebut.
Yap perincian di atas itu memang membuat novel ini terasa lambat, namun toh saya menyadari bahwa hal ini memang perlu.
Untuk terjemahan, di bab awal memang kaku. Tapi makin ke belakang makin luwes kok. Dan setelah mengintip versi aslinya, saya malah jadi salut. Bayangin aja, kitab yang berisi panduan untuk hidup sehat, selamat dan tenteram atau disingkat "Psst" ternyata dalam versi aslinya berjudul "Shhh" (singkatan dari The Safety, Health, and Happiness Handbook). Woww...dari "Ssh" ke "Psst". Bisa pas gitu diubah namun gak mengubah arti judul kitab tersebut. Kereeennn! Sayangnya, diksi-diksi indah khas Lauren Oliver pun turut berubah. Yah...itu resiko sebuah buku terjemahan sih ya. Toh Mizan sudah berusaha maksimal untuk memberi terjemahan semirip mungkin.
Yang juga menarik adalah misteri-misteri seputar latar belakang Alex dan Lena yang diungkap secara perlahan oleh Lauren Oliver. Dan bikin geregetan karena sampai akhir masih ada misteri yang dirahasiakan (disimpan untuk buku kedua mungkin).
“...I love you. Remember. They cannot take it.”Sayangnya, masih ada beberapa hal yang menjadi tanda tanya saya. Misalnya saja : apakah Cinta hanya dianggap berbahaya di USA saja atau juga di negara lain? Kalo hanya di USA, kenapa warga Alam Liar gak mencoba cari suaka ke negara tetangga seperti Meksiko atau Kanada misalnya?
Lalu hal apa sih yang membuat Cinta dianggap sebagai penyakit mematikan? Cuma karena Cinta dianggap penyebab perang? Bagaimana dengan keserakahan dan ambisi? Apa itu juga penyebabnya karena cinta?
Hmm...saya berharap hal-hal ini akan lebih dibahas di buku kedua.
Dan sementara itu, 3,5 bintang untuk Delirium. Setengah bintang dikurangi karena cover versi Mizan tuh 'nggak banget, kalah jauh dibanding cover aslinya. 1 bintang lagi dikurangi untuk terjemahan yang kaku di awal.
“I know that life isn't life if you just float through it. I know that the whole point- the only point- is to find the things that matter and hold onto them and fight for them and refuse to let them go.”
Sunday, March 25, 2012
The Wind In The Willows
Data Buku :
Judul Terjemahan: Embusan Angin Di Pohon Dedalu
Penulis: Kenneth Grahame
Penerjemah: Rini Nurul Badariah
Penerbit: Mahda Books
Terbit: April 2010
Tebal: 134 hlm
Buku ini mengisahkan persahabatan empat hewan yang bermukim di sekitar tepi sungai. Persahabatan antara Molly - si tikus tanah yang pemalu namun haus akan petualangan, Ratty - si tikus air ramah yang sangat mencintai rumahnya, Katak yang ceroboh dan suka membanggakan diri serta Luak yang senang menyendiri dan bijaksana.
Kisah dimulai di suatu pagi musim semi saat Molly sedang membersihkan rumahnya. Tiba-tiba ada hasrat kuat memanggil untuk pergi ke Dunia Atas. Secara impulsif, Molly mengikuti dorongan hasratnya. Di atas, dia terkesima dengan keindahan padang bunga. Dan lebih terkesima lagi sewaktu menemukan Sungai. Saat itulah dia berkenalan dengan Ratty, si tikus air.
Mengetahui kawan barunya belum pernah menyusuri sungai, Ratty pun mengajak Molly untuk naik perahunya. Dalam perjalanan itu, Molly berkenalan dengan Tuan Berang-berang dan Katak serta melihat sekilas Tuan Luak. Pesiar di Tepi Sungai ini akhirnya berkembang menjadi ajakan menginap di tempat Ratty.
Setelah beberapa bulan menginap di rumah Ratty, Molly pun berkenalan dengan Tuan Katak. Di kalangan teman-temannya, Katak dikenal punya banyak kegemaran namun mudah bosan dan gampang beralih ke hal baru. Misalnya di suatu hari dia tergila-gila dengan perahu layar, besoknya dia beralih ke rumah tongkang, lalu rumah perahu kemudian perahu balap. Saat Molly berkenalan dengan Katak, kebetulan Katak sedang gemar dengan kereta gipsi. Namun hobi ini pun dengan cepat teralihkan ke mobil.
Kegilaan Katak pada mobil sudah mencapai tahap berlebihan, hingga membuatnya mendapat beberapa kecelakaan. Hal ini menjadi keprihatinan Molly dan Ratty hingga membuat mereka menceritakan perihal kegemaran baru Katak ini kepada Luak saat mereka kebetulan berkunjung ke rumahnya.
Luak yang juga prihatin mengajak kedua kawannya untuk menyadarkan Katak saat musim semi tiba nanti (btw ada yang sadarkah, dengan kalimat Luak ini artinya Molly sudah hampir 1 tahun tinggal bersama Ratty? Karena cerita ini dimulai saat musim semi)
Dan tibalah musim semi...
Luak, Ratty dan Molly mengurung Katak dalam kamarnya dan bergiliran menjaga. Namun berkat kecerdikannya, Katak berhasil kabur dari penjagaan Ratty. Di pelariannya, Katak mencuri mobil yang membuatnya tertangkap polisi dan dihukum 20 tahun penjara.
Jerakah Katak?
Oho...Jelas tidak! Berkat muslihatnya, lagi-lagi Katak berhasil kabur dari penjara dan kembali memulai petualangan gila-gilaannya.
Tinggallah ketiga sahabatnya yang berusaha mencari cara untuk menyadarkan Katak dan membuatnya menjadi Katak yang bijaksana.
Saya juga belajar dari keramahan Ratty pada orang asing. Di dunia yang penuh orang jahat ini, kita (eh saya sih) cenderung berprasangka pada orang asing yang saya temui di jalan. Padahal kalo saja saya mau lebih membuka diri dan ramah pada orang asing seperti Ratty, mana tahu saya akan menemukan sahabat sejati seperti Molly.
Bahkan dari Katak pun saya belajar untuk bertindak dengan lebih hati-hati dan tidak menurutkan nafsu, walau pun juga jangan menolak hasrat berpetualang yang ada dalam diri.
Dan saya merasa menemukan diri saya pada sosok Molly.
Bukan soal pemalunya karena saya gak sepemalu dan serendah hati dia. Tapi pada perasaan Molly yang setelah bertualang pun, ternyata masih merindukan rumah. Saya juga begitu. Sejauh-jauhnya saya pergi, pada akhirnya saya juga kangen sama rumah. Dan sama seperti Molly, senang rasanya mengetahui saya selalu punya tempat untuk pulang.
Buku yang saya baca ini adalah versi terjemahan Mahda Books. Covernya bagus banget, ilustrasi di dalamnya juga cantik dan sesuai dengan penggambaran Mr. Grahame tentang keadaan Tepi Sungai. Saya seakan bisa merasakan kedamaian sungai dan keramahan penghuninya melalui ilustrasi di buku tersebut.
Sayang, saya merasa ada yang aneh dengan versi terjemahan ini. Rasanya seakan ada missing parts dalam buku ini. Seperti sewaktu Katak melarikan diri, tak ada penjelasan lebih lanjut tentang keadaan ketiga kawannya yang ditinggalkan. Juga sewaktu Katak ditangkap Polisi, tak ada penjelasan bagaimana Katak bisa sampai ditangkap polisi. Yang saya tahu, setelah Katak mencuri mobil, tiba-tiba saja dia sudah diadili.
Saya sempat terpikir apakah terjemahan ini abridged version?
Hasil googling membuat saya berpikir ini bukan abridged version. Karena menurut penjelasan Mbah Wiki, pada abridged version biasanya ada 3 bab yang dihilangkan. Ketiga bab itu adalah :
1. Saat Molly tiba-tiba homesick dan ingin kembali ke rumahnya walau hanya semalam
2. Saat Ratty merasa resah dan kemudian bertemu dengan Tikus Kapal. Si Tikus Kapal menyarankan Ratty untuk bertualang. Dan Ratty yang tipe orang "rumahan" langsung dipenuhi hasrat untuk berpetualang. Untunglah Molly yang mengenalnya dengan baik berhasil mencegah niat Ratty.
3. Saat Ratty dan Molly mencari anak pak berang-berang yang hilang dan secara tak sengaja mereka bertemu Dewa Pan.
Ketiga bab ini memang tak berhubungan dengan plot utama, seolah hanya bab tambahan. Karena itu pada abridged version, ketiga bab ini biasanya dihilangkan.
Versi Mahda memuat ketiga bab ini, karena itu saya berkesimpulan ini bukan abridged version.
Mesti begitu saya tetap penasaran dan membaca ulang versi aslinya (baca online di Goodreads).
Hasilnya?
Memang ada bagian yang dipotong. Mestinya ada cerita yang lebih panjang pada bagian-bagian yang saya anggap janggal tadi.
Dan ada juga adegan-adegan tambahan lain yang tidak ada di buku terjemahan dan tidak saya antisipasi sebelumnya.
Kenapa sampai terjadi hal seperti ini?
Entah...saya juga gak ngerti.
Yang saya tahu, saya kecewa dengan adanya pemotongan ini dan memutuskan mengurangi bintang versi terjemahan. Walau pun saya harus memberi selamat untuk penerjemahannya yang bagus. Hasil dari membandingkan versi asli dan terjemahan, saya berkesimpulan versi Mahda mampu menerjemahkan dengan baik keindahan kalimat-kalimat Kenneth Grahame
So...4 bintang untuk versi original, dan 3,5 bintang untuk versi terjemahan.
Tambahan :

Secara kebetulan, channel Fox Movies Premium menayangan The Wind In The Willows di bulan Maret ini.
Versi yang ditayangkan adalah versi tahun 1996 yang ini.
Seperti yang dilihat, semua tokoh hewannya diperankan oleh manusia, tapi hebatnya mereka bisa berakting persis seperti Tikus Tanah, Tikus Air, Luak dan Katak.
Terutama Katak! Miriiip banget dengan Katak beneran.
Dari segi cerita sih agak beda. Contohnya awal Molly keluar ke dunia atas itu bukan karena ada panggilan. Tapi karena rumahnya tergusur. Usut punya usut, Katak (sebagai pemilik lahan Molly) yang menjual lahan itu sebagai uang pembeli kereta gipsi. Masih ada perbedaan-perbedaan lain yang dibuat dengan tujuan lebih dramatis tapi secara keseluruhan saya sih puas menonton adaptasi The Wind In The Willows yang ini.
Oya...review ini diposting dalam rangka baca bareng Bulan Maret bersama BBI dan komunitas @bacaklasik. Sekaligus memperingati ulang tahun pengarangnya, Kenneth Grahame
Favourite Part from The Book :
“It's a goodly life that you lead, friends; no doubt the best in the world, if only you are strong enough to lead it!'
'Yes, it's the life, the only life, to live,' responded the Water Rat dreamily, and without his usual whole-hearted conviction.
'I did not exactly say that,' the stranger replied cautiously, 'but no doubt it's the best. I've tried it, and I know. And because I've tried it - six months of it - and know it's the best, here I am, footsore and hungry, tramping away from it, tramping southward, following the old call, back to the old life, the life which is mine and which will not let me go.”
(page 93)
Judul Terjemahan: Embusan Angin Di Pohon Dedalu
Penulis: Kenneth Grahame
Penerjemah: Rini Nurul Badariah
Penerbit: Mahda Books
Terbit: April 2010
Tebal: 134 hlm
Buku ini mengisahkan persahabatan empat hewan yang bermukim di sekitar tepi sungai. Persahabatan antara Molly - si tikus tanah yang pemalu namun haus akan petualangan, Ratty - si tikus air ramah yang sangat mencintai rumahnya, Katak yang ceroboh dan suka membanggakan diri serta Luak yang senang menyendiri dan bijaksana.
Kisah dimulai di suatu pagi musim semi saat Molly sedang membersihkan rumahnya. Tiba-tiba ada hasrat kuat memanggil untuk pergi ke Dunia Atas. Secara impulsif, Molly mengikuti dorongan hasratnya. Di atas, dia terkesima dengan keindahan padang bunga. Dan lebih terkesima lagi sewaktu menemukan Sungai. Saat itulah dia berkenalan dengan Ratty, si tikus air.
Mengetahui kawan barunya belum pernah menyusuri sungai, Ratty pun mengajak Molly untuk naik perahunya. Dalam perjalanan itu, Molly berkenalan dengan Tuan Berang-berang dan Katak serta melihat sekilas Tuan Luak. Pesiar di Tepi Sungai ini akhirnya berkembang menjadi ajakan menginap di tempat Ratty.
Setelah beberapa bulan menginap di rumah Ratty, Molly pun berkenalan dengan Tuan Katak. Di kalangan teman-temannya, Katak dikenal punya banyak kegemaran namun mudah bosan dan gampang beralih ke hal baru. Misalnya di suatu hari dia tergila-gila dengan perahu layar, besoknya dia beralih ke rumah tongkang, lalu rumah perahu kemudian perahu balap. Saat Molly berkenalan dengan Katak, kebetulan Katak sedang gemar dengan kereta gipsi. Namun hobi ini pun dengan cepat teralihkan ke mobil.
Kegilaan Katak pada mobil sudah mencapai tahap berlebihan, hingga membuatnya mendapat beberapa kecelakaan. Hal ini menjadi keprihatinan Molly dan Ratty hingga membuat mereka menceritakan perihal kegemaran baru Katak ini kepada Luak saat mereka kebetulan berkunjung ke rumahnya.
Luak yang juga prihatin mengajak kedua kawannya untuk menyadarkan Katak saat musim semi tiba nanti (btw ada yang sadarkah, dengan kalimat Luak ini artinya Molly sudah hampir 1 tahun tinggal bersama Ratty? Karena cerita ini dimulai saat musim semi)
Dan tibalah musim semi...
Luak, Ratty dan Molly mengurung Katak dalam kamarnya dan bergiliran menjaga. Namun berkat kecerdikannya, Katak berhasil kabur dari penjagaan Ratty. Di pelariannya, Katak mencuri mobil yang membuatnya tertangkap polisi dan dihukum 20 tahun penjara.
Jerakah Katak?
Oho...Jelas tidak! Berkat muslihatnya, lagi-lagi Katak berhasil kabur dari penjara dan kembali memulai petualangan gila-gilaannya.
Tinggallah ketiga sahabatnya yang berusaha mencari cara untuk menyadarkan Katak dan membuatnya menjadi Katak yang bijaksana.
"Lagi pula, yang membuat liburan jadi menyenangkan bukanlah banyak beristirahat, melainkan melihat makhluk-makhluk lain sibuk bekerja."Sebagai fabel, cerita ini tergolong ringan, namun ada hal-hal yang bisa saya petik. Pertama tentang persahabatan ke-4 tokohnya yang tulus dan saling mendukung walau pun sudah dikecewakan. Susah menemukan sahabat sejati seperti itu di jaman sekarang.
-Molly-
Saya juga belajar dari keramahan Ratty pada orang asing. Di dunia yang penuh orang jahat ini, kita (eh saya sih) cenderung berprasangka pada orang asing yang saya temui di jalan. Padahal kalo saja saya mau lebih membuka diri dan ramah pada orang asing seperti Ratty, mana tahu saya akan menemukan sahabat sejati seperti Molly.
Bahkan dari Katak pun saya belajar untuk bertindak dengan lebih hati-hati dan tidak menurutkan nafsu, walau pun juga jangan menolak hasrat berpetualang yang ada dalam diri.
Dan saya merasa menemukan diri saya pada sosok Molly.
Bukan soal pemalunya karena saya gak sepemalu dan serendah hati dia. Tapi pada perasaan Molly yang setelah bertualang pun, ternyata masih merindukan rumah. Saya juga begitu. Sejauh-jauhnya saya pergi, pada akhirnya saya juga kangen sama rumah. Dan sama seperti Molly, senang rasanya mengetahui saya selalu punya tempat untuk pulang.
"Ia tidak ingin mengabaikan kehidupan barunya. Dunia di atas sana terlalu menarik. Tempat itu memanggil-manggil ke dalam dirinya. Namun sungguh melegakan karena dia punya tempat untuk pulang, rumahnya sendiri, hal-hal yang pasti membuatnya merasa diterima. Sungai adalah tempat bertualang. Di sini adalah rumahnya." (hlm 57)
Buku yang saya baca ini adalah versi terjemahan Mahda Books. Covernya bagus banget, ilustrasi di dalamnya juga cantik dan sesuai dengan penggambaran Mr. Grahame tentang keadaan Tepi Sungai. Saya seakan bisa merasakan kedamaian sungai dan keramahan penghuninya melalui ilustrasi di buku tersebut.
Sayang, saya merasa ada yang aneh dengan versi terjemahan ini. Rasanya seakan ada missing parts dalam buku ini. Seperti sewaktu Katak melarikan diri, tak ada penjelasan lebih lanjut tentang keadaan ketiga kawannya yang ditinggalkan. Juga sewaktu Katak ditangkap Polisi, tak ada penjelasan bagaimana Katak bisa sampai ditangkap polisi. Yang saya tahu, setelah Katak mencuri mobil, tiba-tiba saja dia sudah diadili.
Saya sempat terpikir apakah terjemahan ini abridged version?
Hasil googling membuat saya berpikir ini bukan abridged version. Karena menurut penjelasan Mbah Wiki, pada abridged version biasanya ada 3 bab yang dihilangkan. Ketiga bab itu adalah :
1. Saat Molly tiba-tiba homesick dan ingin kembali ke rumahnya walau hanya semalam
2. Saat Ratty merasa resah dan kemudian bertemu dengan Tikus Kapal. Si Tikus Kapal menyarankan Ratty untuk bertualang. Dan Ratty yang tipe orang "rumahan" langsung dipenuhi hasrat untuk berpetualang. Untunglah Molly yang mengenalnya dengan baik berhasil mencegah niat Ratty.
3. Saat Ratty dan Molly mencari anak pak berang-berang yang hilang dan secara tak sengaja mereka bertemu Dewa Pan.
Ketiga bab ini memang tak berhubungan dengan plot utama, seolah hanya bab tambahan. Karena itu pada abridged version, ketiga bab ini biasanya dihilangkan.
Versi Mahda memuat ketiga bab ini, karena itu saya berkesimpulan ini bukan abridged version.
Mesti begitu saya tetap penasaran dan membaca ulang versi aslinya (baca online di Goodreads).
Hasilnya?
Memang ada bagian yang dipotong. Mestinya ada cerita yang lebih panjang pada bagian-bagian yang saya anggap janggal tadi.
Dan ada juga adegan-adegan tambahan lain yang tidak ada di buku terjemahan dan tidak saya antisipasi sebelumnya.
Kenapa sampai terjadi hal seperti ini?
Entah...saya juga gak ngerti.
Yang saya tahu, saya kecewa dengan adanya pemotongan ini dan memutuskan mengurangi bintang versi terjemahan. Walau pun saya harus memberi selamat untuk penerjemahannya yang bagus. Hasil dari membandingkan versi asli dan terjemahan, saya berkesimpulan versi Mahda mampu menerjemahkan dengan baik keindahan kalimat-kalimat Kenneth Grahame
So...4 bintang untuk versi original, dan 3,5 bintang untuk versi terjemahan.
Tambahan :
Secara kebetulan, channel Fox Movies Premium menayangan The Wind In The Willows di bulan Maret ini.
Versi yang ditayangkan adalah versi tahun 1996 yang ini.
Seperti yang dilihat, semua tokoh hewannya diperankan oleh manusia, tapi hebatnya mereka bisa berakting persis seperti Tikus Tanah, Tikus Air, Luak dan Katak.
Terutama Katak! Miriiip banget dengan Katak beneran.
Dari segi cerita sih agak beda. Contohnya awal Molly keluar ke dunia atas itu bukan karena ada panggilan. Tapi karena rumahnya tergusur. Usut punya usut, Katak (sebagai pemilik lahan Molly) yang menjual lahan itu sebagai uang pembeli kereta gipsi. Masih ada perbedaan-perbedaan lain yang dibuat dengan tujuan lebih dramatis tapi secara keseluruhan saya sih puas menonton adaptasi The Wind In The Willows yang ini.
Oya...review ini diposting dalam rangka baca bareng Bulan Maret bersama BBI dan komunitas @bacaklasik. Sekaligus memperingati ulang tahun pengarangnya, Kenneth Grahame
Favourite Part from The Book :
“It's a goodly life that you lead, friends; no doubt the best in the world, if only you are strong enough to lead it!'
'Yes, it's the life, the only life, to live,' responded the Water Rat dreamily, and without his usual whole-hearted conviction.
'I did not exactly say that,' the stranger replied cautiously, 'but no doubt it's the best. I've tried it, and I know. And because I've tried it - six months of it - and know it's the best, here I am, footsore and hungry, tramping away from it, tramping southward, following the old call, back to the old life, the life which is mine and which will not let me go.”
(page 93)
Saturday, February 25, 2012
Bordir
Data Buku :
Judul Asli : Embroideries
Pengarang : Marjane Satrapi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 9792220070
Halaman : 138
Paperback
Terbit : Maret 2006
Di novel grafisnya ini, Marjane memfokuskan cerita pada neneknya dan kebiasaan beliau kumpul minum samovar (teh) di sore hari dengan teman-temannya sambil (apalagi kalau bukan) bergosip, baik gosip tentang diri sendiri atau pun orang lain.
Para wanita ini menceritakan pengalaman mereka (dan orang-orang yang mereka kenal) secara gamblang dan lucu. Dan topiknya pastilah tentang hal paling seru untuk diperbincangkan : pria dan sex!
Yap...pria dengan segala plus dan minusnya serta tradisi-tradisi Iran menyangkut perjodohan dan hal-hal konyol yang bisa terjadi karenanya.
Ada cerita tentang seorang wanita yang takut ketahuan calon suaminya kalo dia sudah nggak perawan lagi, dan untuk mengelabuinya dia membekali diri dengan silet di malam pertamanya. Niat awal sih untuk bikin luka sedikit di pahanya, tapi dia salah menggores dan malah kena ke private part suami barunya (ouch!).
Ada juga cerita lain tentang teman si nenek yang dijodohkan sewaktu berumur 13 tahun dengan pria berumur 69 tahun dan betapa dia sangat membenci suaminya sehingga dia berdoa siang malam semoga suaminya segera berpulang ke Tuhan YME. Bayangkan kebahagiaannya ketika doanya terkabul dan dia merasa memiliki dunia :))
Dan cerita yang paling lucu buat saya jelas cerita yang menyangkut teh dan sesuatu yang putih-putih. Gak seru kalo diceritain. Lebih asyik dibaca sendiri bagian yang ini.
Ada juga perdebatan kecil tentang keuntungan menjadi simpanan vs menjadi istri dan pentingnya sebuah keperawanan ato enggak. Dan hal ini membawa kita pada judul buku ini yaitu Bordir. Ternyata Bordir itu bukan membahas kain bordiran atau semacamnya toh. Tapi membahas tentang kegiatan bordir yang lain, yang melibatkan salah satu bagian tubuh wanita yang terkoyak. (PS : Nyambung gak? Hah...Enggak??? Oh well...sudahlah. Baca aja sendiri).
Membaca buku ini rasanya jadi orang ke-11 yang turut hadir dalam acara minum teh sore nenek Satrapi dan rekan-rekannya. Bacalah buku ini disertai segelas teh juga dan niscaya Anda akan merasa seperti ada dalam buku tersebut.
Swear, ini buku menarik banget. Lucu, witty humour (my favourite kind of humour), blak-blakan dan cepat pula dibaca. Gambarnya juga menarik dan bersih (dalam artian gak penuh dengan detail rumit). Dan sebenarnya saya pengen banget kasih lebih dari 3 bintang.
Sayangnya gak bisa, karena satu sebab remeh yaitu : Saya gak suka duduk ngumpul minum teh sambil ngegosipin orang yang saya gak kenal. Kalo saya punya waktu untuk minum teh di sore hari, percayalah teh itu akan saya habiskan sambil membaca buku, bukannya sambil ngalor ngidul gak jelas kayak gini.
Jangan salah, saya suka kok dengar cerita atau curhatan orang. But please, bukan tentang orang yang saya gak kenal. Dan please juga deh, jangan bahas aib orang dong.
So...though I enjoyed my tea time with The Satrapis, but I'm not sure I wannna do it again some other time.
Judul Asli : Embroideries
Pengarang : Marjane Satrapi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 9792220070
Halaman : 138
Paperback
Terbit : Maret 2006
Di novel grafisnya ini, Marjane memfokuskan cerita pada neneknya dan kebiasaan beliau kumpul minum samovar (teh) di sore hari dengan teman-temannya sambil (apalagi kalau bukan) bergosip, baik gosip tentang diri sendiri atau pun orang lain.
Para wanita ini menceritakan pengalaman mereka (dan orang-orang yang mereka kenal) secara gamblang dan lucu. Dan topiknya pastilah tentang hal paling seru untuk diperbincangkan : pria dan sex!
Yap...pria dengan segala plus dan minusnya serta tradisi-tradisi Iran menyangkut perjodohan dan hal-hal konyol yang bisa terjadi karenanya.
Ada cerita tentang seorang wanita yang takut ketahuan calon suaminya kalo dia sudah nggak perawan lagi, dan untuk mengelabuinya dia membekali diri dengan silet di malam pertamanya. Niat awal sih untuk bikin luka sedikit di pahanya, tapi dia salah menggores dan malah kena ke private part suami barunya (ouch!).
Ada juga cerita lain tentang teman si nenek yang dijodohkan sewaktu berumur 13 tahun dengan pria berumur 69 tahun dan betapa dia sangat membenci suaminya sehingga dia berdoa siang malam semoga suaminya segera berpulang ke Tuhan YME. Bayangkan kebahagiaannya ketika doanya terkabul dan dia merasa memiliki dunia :))
Dan cerita yang paling lucu buat saya jelas cerita yang menyangkut teh dan sesuatu yang putih-putih. Gak seru kalo diceritain. Lebih asyik dibaca sendiri bagian yang ini.
Ada juga perdebatan kecil tentang keuntungan menjadi simpanan vs menjadi istri dan pentingnya sebuah keperawanan ato enggak. Dan hal ini membawa kita pada judul buku ini yaitu Bordir. Ternyata Bordir itu bukan membahas kain bordiran atau semacamnya toh. Tapi membahas tentang kegiatan bordir yang lain, yang melibatkan salah satu bagian tubuh wanita yang terkoyak. (PS : Nyambung gak? Hah...Enggak??? Oh well...sudahlah. Baca aja sendiri).
Membaca buku ini rasanya jadi orang ke-11 yang turut hadir dalam acara minum teh sore nenek Satrapi dan rekan-rekannya. Bacalah buku ini disertai segelas teh juga dan niscaya Anda akan merasa seperti ada dalam buku tersebut.
Swear, ini buku menarik banget. Lucu, witty humour (my favourite kind of humour), blak-blakan dan cepat pula dibaca. Gambarnya juga menarik dan bersih (dalam artian gak penuh dengan detail rumit). Dan sebenarnya saya pengen banget kasih lebih dari 3 bintang.
Sayangnya gak bisa, karena satu sebab remeh yaitu : Saya gak suka duduk ngumpul minum teh sambil ngegosipin orang yang saya gak kenal. Kalo saya punya waktu untuk minum teh di sore hari, percayalah teh itu akan saya habiskan sambil membaca buku, bukannya sambil ngalor ngidul gak jelas kayak gini.
Jangan salah, saya suka kok dengar cerita atau curhatan orang. But please, bukan tentang orang yang saya gak kenal. Dan please juga deh, jangan bahas aib orang dong.
So...though I enjoyed my tea time with The Satrapis, but I'm not sure I wannna do it again some other time.
The Vow
Data Film
Director: Michael Sucsy
Writers: Jason Katims, Abby Kohn, Stuart Sender, Marc Silverstein
Stars: Rachel McAdams, Channing Tatum and Sam Neill
Genres: Drama | Romance
Motion Picture Rating (MPAA) : Rated PG-13
Language: English
Release Date: 16 February 2012 (Indonesia)
Filming Locations: Chicago, Illinois, USA
Paige bukan hanya melupakan perseteruan dengan keluarganya selama 5 tahun terakhir dan perubahan karirnya dari seorang calon pengacara menjadi pemahat. Yang lebih parah, dia melupakan segala hal tentang Leo mulai dari pertemuan, pacaran hingga pernikahan mereka. Dan yang bikin makin pedih buat Leo, karena ingatan Paige justru terhenti di masa ketika Paige masih bertunangan dengan Jeremy (Scott Speedman).
Segala cara dilakukan Leo, mulai dari membawa Paige ke tempat pertama kali mereka bertemu, mengingatkan Paige pada segala kebiasaan dan janji-janji mereka hingga berdamai dengan keluarga Paige walau pun sadar kalau keluarga gadis tersebut tidak menyukainya.
Dengan alasan itulah, Leo pun memutuskan keluar dari hidup Paige.
Apa keadaan membaik untuk Paige?
Ternyata tidak juga.
Paige menemukan rahasia besar yang dipendam orang tuanya sekaligus alasan dia meninggalkan keluarganya 5 tahun lalu.
And then she start questioning her memories, whether the ones she still remembers are the truth or not. She also realizes that her lost memories are part of her life too therefore she can't deny its existencies. That's why Paige's trying to regain her lost memories for the past 5 years or at least to start her life again right where she left off, including things regarding with Leo, her vow to him and their love.
Endingnya juga sudah terprediksi. Kalau pernah baca novel Harlequin jadul karangan Rebecca Winters yang berjudul Undercover Baby, nah you pretty much got the idea about The Vow's ending.
Malah khusus untuk film ini, saya kurang puas dengan endingnya atau lebih tepatnya dengan set up ending-nya. Terasa agak diburu-buru aja dari sejak Paige menemukan rekaman pernikahannya dengan Leo. Coba adegan penutupnya ditambah 5-10 menit lagi, pasti lebih berkesan.
Tapi saya suka chemistry Chaning Tatum dan McAdams, somehow bisa dipercaya kok kalo mereka memang couple. Dan anehnya saya jadi suka lho sama 2 aktor/aktris ini. Padahal sebelumnya, saya bukan fans mereka dan gak pernah tertarik nontonin film-film mereka.
Saya juga suka dengan latar belakang kota Chicago di musim saljunya yang cantik banget. Dan suka banget dengan music scoring dan soundtrack filmnya yang bagus dan kena banget.
So...to summarize, ini memang film yang cocok banget ditonton untuk Valentine. dengan sesama teman cewek (please jangan bawa cowok, kasihan mereka. Kecuali kalo cowok yang mau dibawa itu penggemar Rachel McAdams). Good movie though not great, but at least give you a good feeling when watch it. And also entertaining for both eyes and ears. Not my most favourite chick flick but definitely worth to see.
Rating tiga bintang untuk storyline, tapi naik jadi 3,5 bintang karena setting dan soundtracknya yang keren.
Sewaktu googling tentang pasangan Carpenter, saya ketemu link ini. Di situ diceritakan perekat bagi pasangan ini (setelah kecelakaan tragis itu) adalah kepercayaan mereka pada Tuhan dan sumpah setia yang mereka ucapkan satu sama lain.
Sumpah setia itu lah yang bikin saya penasaran.
Sumpah yang diucapkan Leo dan Paige versi The Vow sih manis dan romantis, tapi kira-kira seperti apa ya sumpah yang diucapkan pasangan Carpenter? Sehebat atau setulus apakah perasaan mereka ketika bersumpah hingga mampu bertahan melawan segala badai?
Apalagi...Leo dan Paige sih punya 4 tahun pernikahan bahagia sebelumnya. Wajar kalo Leo enggan melepas masa-masa itu. Tapi Kim dan Krickitt Carpenter hanya bersama selama 18 bulan sebelum Krickitt mengalami amnesia.
Saya menduga 18 bulan itu pastilah 18 bulan yang paling membahagiakan dalam hidup Kim hingga dia tak rela melepasnya.
Benarkah demikian?
Entahlah...saya musti membaca sendiri bukunya.
Ah saya benar-benar penasaran sama buku ini. Sebelnya saya sudah mencari ke beberapa toko buku import di Jakarta dan gak ketemu juga. Satu-satunya cara pesan lewat Amazon, which I don't want.
Mudah-mudahan saya sempat ke Bras Basah bulan depan dan ketemu buku ini di sana. Wish me luck yaaaa \(^__^)/
Paige : "I vow to help you love life, to always hold you with tenderness, and to have the patience that love demands. To speak when words are needed, and to share the silence when they're not. To agree or to disagree on red velvet cake, and to live within the warmth of your heart and always call it home."
Leo : "I vow to love you. And no matter what challenges might carry us apart, we will always find a way back to each other. I vow to fiercely love you in all your forms now and forever. I promise to never forget that this is a once in a lifetime love."
Director: Michael Sucsy
Writers: Jason Katims, Abby Kohn, Stuart Sender, Marc Silverstein
Stars: Rachel McAdams, Channing Tatum and Sam Neill
Genres: Drama | Romance
Motion Picture Rating (MPAA) : Rated PG-13
Language: English
Release Date: 16 February 2012 (Indonesia)
Filming Locations: Chicago, Illinois, USA
"Life's all about moments of impact, and how they change our lives forever. But what if one day you could no longer remember any of them?"Itu pertanyaan yang harus dijawab pasangan Paige (Rachel McAdams) dan Leo (Channing Tatum) setelah dihadapkan pada suatu kecelakaan fatal yang merenggut ingatan Paige.
(Leo)
Paige bukan hanya melupakan perseteruan dengan keluarganya selama 5 tahun terakhir dan perubahan karirnya dari seorang calon pengacara menjadi pemahat. Yang lebih parah, dia melupakan segala hal tentang Leo mulai dari pertemuan, pacaran hingga pernikahan mereka. Dan yang bikin makin pedih buat Leo, karena ingatan Paige justru terhenti di masa ketika Paige masih bertunangan dengan Jeremy (Scott Speedman).
“Everything that I fell in love with is still there." "I need to make my wife fall in love with me again"Begitulah keyakinan Leo. Sumpah sucinya kepada Paige di hadapan Tuhan sewaktu pernikahan mereka dan keyakinan bahwa Paige yang dicintainya masih ada dalam diri gadis itu membuat Leo bertekad untuk membuat istrinya jatuh cinta sekali lagi dengannya.
-Leo-
Segala cara dilakukan Leo, mulai dari membawa Paige ke tempat pertama kali mereka bertemu, mengingatkan Paige pada segala kebiasaan dan janji-janji mereka hingga berdamai dengan keluarga Paige walau pun sadar kalau keluarga gadis tersebut tidak menyukainya.
“How do you look at the woman you love, and tell yourself that it's time to walk away?"Namun sampai kapan Leo mampu bertahan dalam suasana seperti ini? Apalagi keluarga Paige tidak merestui hubungan mereka dan malah berusaha mendekatkan Paige dan Jeremy. Di lain sisi ada Jeremy yang masih berharap pada Paige. And on top of that, fakta bahwa saat Paige terbangun, dia kembali ke fase saat dia (merasa) masih mencintai Jeremy. Leo sadar bagaimana perasaan Paige yang sebenarnya ke Jeremy. "I know you love him cause that's the way you used to look at me," kata Leo. Dia juga sadar bahwa sementara dia terus mencintai Paige, namun bagi Paige dia hanyalah orang asing. Dan karenanya, Paige berhak memulai hidup baru dengan cerita yang juga baru.
-Leo-
Dengan alasan itulah, Leo pun memutuskan keluar dari hidup Paige.
Apa keadaan membaik untuk Paige?
Ternyata tidak juga.
Paige menemukan rahasia besar yang dipendam orang tuanya sekaligus alasan dia meninggalkan keluarganya 5 tahun lalu.
And then she start questioning her memories, whether the ones she still remembers are the truth or not. She also realizes that her lost memories are part of her life too therefore she can't deny its existencies. That's why Paige's trying to regain her lost memories for the past 5 years or at least to start her life again right where she left off, including things regarding with Leo, her vow to him and their love.
“You can’t remember how we fell in love. You get to experience it all over again.”Ide cerita The Vow sebenarnya biasa saja, cenderung pasaran malah. Cerita orang amnesia bukan pertama kali ini ada. Dan malah, menyangkut amnesia, saya masih lebih suka 50 First Dates dibandingkan film ini (Iyaaa...saya sadar kok kalo saya gak adil membandingkan kedua film ini). Dialognya pun standar, dalam arti bukan yang baguuusss banget sampai patut dikenang tapi juga gak over cheesy.
-Leo-
Endingnya juga sudah terprediksi. Kalau pernah baca novel Harlequin jadul karangan Rebecca Winters yang berjudul Undercover Baby, nah you pretty much got the idea about The Vow's ending.
Malah khusus untuk film ini, saya kurang puas dengan endingnya atau lebih tepatnya dengan set up ending-nya. Terasa agak diburu-buru aja dari sejak Paige menemukan rekaman pernikahannya dengan Leo. Coba adegan penutupnya ditambah 5-10 menit lagi, pasti lebih berkesan.
Tapi saya suka chemistry Chaning Tatum dan McAdams, somehow bisa dipercaya kok kalo mereka memang couple. Dan anehnya saya jadi suka lho sama 2 aktor/aktris ini. Padahal sebelumnya, saya bukan fans mereka dan gak pernah tertarik nontonin film-film mereka.
Saya juga suka dengan latar belakang kota Chicago di musim saljunya yang cantik banget. Dan suka banget dengan music scoring dan soundtrack filmnya yang bagus dan kena banget.
So...to summarize, ini memang film yang cocok banget ditonton untuk Valentine. dengan sesama teman cewek (please jangan bawa cowok, kasihan mereka. Kecuali kalo cowok yang mau dibawa itu penggemar Rachel McAdams). Good movie though not great, but at least give you a good feeling when watch it. And also entertaining for both eyes and ears. Not my most favourite chick flick but definitely worth to see.
Rating tiga bintang untuk storyline, tapi naik jadi 3,5 bintang karena setting dan soundtracknya yang keren.
“At a low point in my life, I didn’t think this marriage was going to work. I didn’t have the faith that we were going to make it. At the same time, I wasn’t going to leave her in the state she was in; I was vowing to stay with her.”Nah yang sebenarnya membuat saya tergerak menulis review adalah ketika saya tahu film ini terinspirasi dari kisah nyata pasangan Kim dan Krickitt Carpenter yang dituangkan dalam buku berjudul The Vow.
-Kim Carpenter-
Sewaktu googling tentang pasangan Carpenter, saya ketemu link ini. Di situ diceritakan perekat bagi pasangan ini (setelah kecelakaan tragis itu) adalah kepercayaan mereka pada Tuhan dan sumpah setia yang mereka ucapkan satu sama lain.
Sumpah setia itu lah yang bikin saya penasaran.
Sumpah yang diucapkan Leo dan Paige versi The Vow sih manis dan romantis, tapi kira-kira seperti apa ya sumpah yang diucapkan pasangan Carpenter? Sehebat atau setulus apakah perasaan mereka ketika bersumpah hingga mampu bertahan melawan segala badai?
Apalagi...Leo dan Paige sih punya 4 tahun pernikahan bahagia sebelumnya. Wajar kalo Leo enggan melepas masa-masa itu. Tapi Kim dan Krickitt Carpenter hanya bersama selama 18 bulan sebelum Krickitt mengalami amnesia.
Saya menduga 18 bulan itu pastilah 18 bulan yang paling membahagiakan dalam hidup Kim hingga dia tak rela melepasnya.
Benarkah demikian?
Entahlah...saya musti membaca sendiri bukunya.
Ah saya benar-benar penasaran sama buku ini. Sebelnya saya sudah mencari ke beberapa toko buku import di Jakarta dan gak ketemu juga. Satu-satunya cara pesan lewat Amazon, which I don't want.
Mudah-mudahan saya sempat ke Bras Basah bulan depan dan ketemu buku ini di sana. Wish me luck yaaaa \(^__^)/
The Vow :
Leo : "I vow to love you. And no matter what challenges might carry us apart, we will always find a way back to each other. I vow to fiercely love you in all your forms now and forever. I promise to never forget that this is a once in a lifetime love."
Subscribe to:
Posts (Atom)

