Saturday, September 1, 2012

Kitchen

Judul asli :  キッチン Kicchin
Penulis : Banana Yoshimoto
Tahun Terbit : 2009
ISBN13 : 9789799101730
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Rating : 4 out of 5 stars


Kitchen bercerita dari sudut pandang Mikage yang baru saja kehilangan neneknya.

"Aku tak bisa tidur di tempat lain selain dapur."

Mikage Sakurai sebatang kara sejak neneknya meningal. dapur menjadi satu-satunya tempat dimana ia dikelilingi panci bekas pakai dan sisa ceceran sayur, serta ditemani sepetak langit malam berbintang di jendela.
Namun dapur keluarga Tanabe yang membuatnya jatuh cinta. Di sana selama satu musim panas ia bergulat dengan acar, udon, soba, dan tempura. Di sana pula ia temukan apa yang tak pernah dimilikinya: keluarga, bersama Yuichi Tanabe yang dingin dan Eriko Tanabe yang mempesona--perempuan transeksual yang sejatinya ayah kandung Yuichi.
Ketika Eriko meninggal, Mikage dan Yuichi menjauh dan saling terasing dalam kesedihan. Apa yang harus mereka lakukan untuk bangkit dari dukacita dan menyadari ada cinta di antara mereka?

"Sejujurnya aku ingin sekali berhenti berjalan, berhenti melanjutkan hidup. Walaupun esok, lusa, dan minggu depan pasti akan datang, tak pernah kukira hidup ini ternyata begitu berat."
-Mikage Sakurai-

Kekuatan Kitchen menurut saya terletak di karakter tokoh-tokohnya yang bisa menarik simpati.
Mikage adalah sosok yang selalu berusaha optimis walau sebenarnya dia melewati waktu yang sulit. Mikage berusaha mengatasi kehilangannya dengan memfokuskan diri pada hal kecil sementara berusaha mencari jawaban atas unanswered questions-nya. Pertanyaan seperti "Kenapa semua orang yang dekat dengannya meninggal? Bagaimana dia bertahan bila sendirian??.

Yuichi adalah sosok pendiam, yang jarang mengungkapkan perasaannya. Menarik mengikuti perkembangan chemistry Mikage dan Yuichi yang awalnya awkward hingga menjadi dekat. Dan Mikage lah satu-satunya orang yang mengerti perasaan tak terkatakan Yuichi.

Lalu ada Eriko, sosok waria sekaligus satu-satunya sosok orang tua yang dimiliki Yuichi dan Mikage. Buat saya, Eriko lah sosok yang paling menarik. Dia terlihat ceria, tapi mungkin dia-lah yang mempunyai luka terdalam. Karena pasti luka sebesar itu yang membuat seseorang mau berganti identitasnya.

"Untung dan sial adalah hal biasa, tapi mempercayakan diri kepada peruntungan semacam itu adalah sikap manja."
-Mikage Sakurai-

Oya...saya membaca buku ini sebagai bagian dari proyek baca bareng BBI. Temanya adalah '1001 books you have to read before die'. Dan dari 1001 buku itu, saya memilih Kitchen dengan alasan simpel bahwa saya suka judulnya.

Ketika sedang terluka atau sakit hati, tiap orang mempunyai terapi sendiri untuk menyembuhkannya.
Ada orang yang ketika dirundung masalah akan menenggelamkan diri dalan minuman beralkohol. Ada yang memilih menutup diri dari dunia dan menangis. Beberapa memilih pergi travelling. Dan beberapa memilih shopping atau berpesta.

Terapi saya adalah makanan
Saya memilih berpaling kepada makanan yang membuat saya nyaman (my comfort food).
Ketika ayah meninggal 8 tahun yang lalu, saya menenggelamkan diri di dapur, sibuk memasak makanan favorit beliau. Saat saya menyantap makanan favorit itulah, saatnya saya grieving dan mengenang beliau. Melalui cara itu, saya memulihkan diri. Ketika seorang yang sangat saya sayangi pergi tiga tahun lalu, dapur kembali menjadi tempat pelarian saya.

Terkadang, ada beberapa hal yang tak bisa kita kontrol dalam hidup ini. Kita tak bisa mengontrol siapa yang masuk dalam hidup pun tak mampu mencegah mereka meninggalkan kita. Kita juga terkadang harus rela kehilangan jejak dari orang yang kita pedulikan.
Di dapur, hal seperti itu tak akan terjadi. Kita selalu tahu dimana letak panci A, wajan B atau sodet C. Kita juga yang berkuasa menentukan perangkat mana yang menghuni dapur kita dan mana yang sudah bisa dipensiunkan.

"Bagaimanapun, aku ingin terus merasa bahwa suatu saat aku pasti akan mati. Jika tidak demikian, aku tidak merasa hidup. Karena itulah aku menjalani kehidupan seperti ini."
-Mikage Sakurai-

Dalam hidup, kadang kita tak tahu apa yang salah, dimana semua bermula, dan bagaimana memperbaiki masalah tersebut.
Saat memasak, kalo ada rasa masakan yang gak beres, kita tahu apa yang salah dan bagaimana memperbaikinya. Tambah garam, kecilkan suhu api, atau buang lagi saja dan masak ulang yang baru X), semuanya terserah kita.

Fakta itulah yang saya suka dari dapur dan kegiatan memasaknya. Karena untuk sesaat itu, saya memegang kontrol penuh dalam hidup saya. Walau hanya diwujudkan dengan keadaan sesimpel memasak.

Ketika pertama tahu bahwa Mikage punya ketertarikan khusus pada dapur, saya kira dia akan memiliki alasan yang kurang lebih sama dengan saya (haisss....GR pisan). Ternyata saya salah. Mikage punya alasannya sendiri.
Apa alasan Mikage?
Well...itu sesuatu yang harus anda ketahui dengan baca sendiri.

"Sekarang aku bisa dengan mudah mengucapkannya; dunia ini ada bukan hanya untukku. Karena itu, rasio pertemuan dengan kejadian-kejadian buruk tetap tidak berubah. Bukan aku yang memutuskan. Jadi, sebaiknya tetaplah bersikap ceria."
-Eriko Tanabe-

Kitchen sebenarnya terdiri dari 2 cerita.
Cerita kedua berjudul Moonlight Shadow yang juga membahas tentang kehilangan and how to cope with that.
Yah menurut saya sih Moonlight Shadow sama bagusnya dengan Kitchen, walau saya masih lebih suka Kitchen karena merasa akrab dengan tokoh Mikage (haiss...personal sekali alasanmu, wi).

Mengenai terjemahannya, uhm...ada banyak sekali kata-kata yang puitis dalam bahasa jepang, yang akan sulit diterjemahkan dalam bahasa inggris atau pun Indonesia. Karena itu bahasa terjemahan di buku ini memang terasa kurang "halus".

Juga ada beberapa 'frasa' yang terlewatkan. Misalnya saja tentang bulan. Di awal cerita, saat Mikage menuju rumah Yuichi untuk tinggal bersama, dia melihat ada bulan baru. Di pertengahan cerita, ada bulan separuh. Dan saat mendekati akhir, Mikage menyadari bahwa bulan sudah hampir penuh.
Perubahan fase bulan ini secara tak langsung menggambarkan perubahan fase Mikage juga.
Tapi dalam versi terjemahan, bagian tentang bulan ini hanya sebagai latar. Sementara versi asli, bagian ini ditulis dengan puitis (eh puitis versi saya sih) sehingga kita sadar bahwa bulan bukan hanya penghias cerita.

"Semakin aku dewasa, akan semakin banyak peristiwa terjadi. Aku akan terjerembab lagi dan lagi. Berkali - kali aku akan menderita, berkali - kali pula aku akan bangkit. Aku tidak akan akan kalah. Aku tidak akan menyerah."
-Mikage Sakurai-

Aduh...susah menjelaskannya. Tapi menurut saya, versi terjemahan bahasa Indonesia ini pun sudah cukup baik. Yoshimoto wrote it in a beautifully sad and sadly beautifull way and I think the translator succeeded to give the same aura. So it should be enough.

Mengenai apakah buku ini layak masuk list 1001 buku yang harus dibaca sebelum meninggal, hmmm...saya gak tahu deh >.< . Maksud saya, iya sih bukunya bagus banget. Favorit saya malah. Tapi apa bener buku ini harus dibaca sebelum meninggal?
Mungkin iya. Supaya kita punya gambaran bagaimana kira-kira menghadapi hidup saat orang terdekat harus 'pergi'. Karena hidup sejatinya adalah serangkaian pertemuan dan perpisahan bukan? :)

11 comments:

  1. seperti biasa, reviewnya menarik. Judulnya simpel dan pinjammmmmm wi :))

    ReplyDelete
  2. buku yg tidak biasa :) kerren dah ripiuw-nya

    ReplyDelete
  3. Nice review mba, aku jadi pengen baca juga. Masukin wishlist dulu aah

    ReplyDelete
  4. Karena untuk sesaat itu, saya memegang kontrol penuh dalam hidup saya. Walau hanya diwujudkan dengan keadaan sesimpel memasak.

    aah siapa bilang memasak itu simpel, saya sendiri tidak bisa-bisa :D
    tapi bener kok, memasak itu memang suatu sarana tersendiri untuk penghiburan, saya sendiri masih terkenang kuat ketika memasak dengan ibunda terkasih, banyak cerita-cerita keluar di dapur :)
    nice review mbak dewi :)

    ReplyDelete
  5. wah 4 bintang, kirain bakal anjlok :)

    ReplyDelete
  6. @ Peri Hutan : siippp. Mo pinjem apa lagi, lis?

    @Jamal, Oky, Desty : ayo dibacaa. Seriusan bagus kok. Udah diobral 10rb pula.

    @mas Helvry : eng....masaknya yg simpel2 aja sih,mas. kayak telur ceplok gitu *menunduk malu*. Tapi iya, memasak bersama ibu juga biasanya jadi saat curhat saya.

    @Tezar : eh kok bs mikir bakal anjlok ratingnya?

    ReplyDelete
  7. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  8. lho salah pencet dah...
    kitchen ini buku 1001 ya, udah aku masukkin wishlist. translatenya gimana?
    reviewnya bagus mbak :thumbup

    ReplyDelete
  9. @dewisidik : Kalo menurut list 1001 di listnya mas Dani Noviandi sih, masuk ke 1001 books. Translate nya lumayan kok menurutku. Kalo yg buta bahasa jepang sih mikirnya oke2 aja. Temenku yg lulusan sastra jepang sih sewot sama terjemahannya :))

    ReplyDelete
  10. nulis barengnya kan udah lewattt >,<

    ada namakuh disebut2 :O

    nemu buku ini di salah satu penjuall dengan harga 10rb, tapi ya masa mau beli buku ini doang tanpa yang laen, malah jadi 15rb dong tar harganya, walaupun yang dagang di klender, tapi tetep aja butuh ongkir, COD kan jauuuh >,<


    *gak nyambung ama review*

    *cepet2 kabur*

    ReplyDelete