Showing posts with label non review. Show all posts
Showing posts with label non review. Show all posts

Thursday, April 4, 2013

Berburu Buku di Delhi

Sebagai penimbun pecinta buku, saya selalu menyempatkan diri untuk singgah ke toko buku dan beli minimal satu buku dari setiap kota/negara yang baru saya kunjungi.
Tapi waktu saya membuat rencana liburan ke India, dengan semangat saya langsung siapin 1 koper kosong khusus buat nampung buku. Oohh...I know for sure that the voracious reader in me that always get itchy would get a big nice scratch in India.

India emang terkenal dengan buku-buku murahnya, terutama textbook kuliah (apalagi textbook kedokteran). Jaman kuliah dulu, sebagai mahasiswa pecinta barang murah kualitas bagus bilang aja mahasiswa ngepas, textbook terbitan India jelas jadi incaran. Kualitasnya sama dengan textbook terbitan Jerman ato US, dengan harga setengahnya. Siapa yang gak ngiler coba? Dan sejak itu, saya penasaran pengen buktiin semurah apa sih harga buku di sana.

Makanya ketika tahu bakal ke Delhi yang adalah salah satu pusat buku di India, dengan semangat saya pun langsung cari info. Ada banyak toko buku dan beberapa book market di Delhi sebenarnya. Tapi karena keterbatasan waktu, saya cuma sempat singgah ke tiga tempat ini :


1. Darya Ganj

source
Darya Ganj adalah sebuah jalan/daerah yang terletak di kawasan Old Delhi. Di sini ada book market yang sudah berjalan selama +/- 300 tahun. Khas dari Darya Ganj adalah pasar buku ini hanya beroperasi tiap hari Minggu. Kalo kamu datamg di hari lain, dipastikan gak akan nemu satu penjual buku pun.

Semua penjual akan menjajakan bukunya di trotoar, dan bisa kita liat sepanjang jalan kenangan yang panjang itu ada puluhan ratusan jutaan buku terhampar di tepi jalan. Saya sempat euphoria dan lupa diri waktu pertama datang ke sini. "Buku! Buku!! BUKU!!!" jeritan batin saya lengkap dengan liur yang menetes (okay...ini jorok) X).

Lalu dengan semangat, saya pun mulai jabanin satu demi satu penjual bukunya. Sayang, antusiasme saya short-lived. Kenapa?
Jadi gini, sebelumnya saya sudah tahu kalo di Darya Ganj itu kebanyakan jual buku bekas. Dan saya gak masalah dengan itu. Malah saya excited banget karena dari info, harga buku second-nya rata-rata seperempat harga buku baru. Huaaa....asik banget!

Tapi ternyata, bukan cuma buku second yang ada di sini. Banyak buku bajakan, bahkan ada yang jual secondnya bajakan. Untunglah kemampuan pembajak di India belum secanggih di Indo, jadi lumayan gampang bedain mana bajakan, mana asli.

Dan kamu mesti pinter liat buku second juga. Banyak yang kondisinya gak bagus seperti halaman yang hilang, sobek ato cover yang terkoyak. Dan terutama, janganlah puas di penjual pertama yang kamu temui. Coba liat penjual lain. Karena bisa aja kamu nemu si A jual buku second dengan harga yang sama dengan si B yang jual buku baru.

Lalu, sebagian besar penjual buku di sana seenaknya campurin buku kuliah dengan novel fiksi. Yah rata-rata penjual mau bantuin kamu cari buku inceran sih, masalahnya customer kan bukan cuma kamu. Jadi bersiaplah untuk ubek-ubek sendirian.
Berhubung itu daerah terbuka, jadi hawanya sungguh PANAS. Dan percayalah, diterjang matahari nan garang di India sambil ubek-ubek nyari buku, belum lagi kadang musti rebutan dengan customer lain ditambah perang tawar harga sama penjualnya, bukanlah kombinasi yang nyaman untuk belanja.

source
Emang saya yang salah sih. Mestinya saya datang sekitar jam 8 pagi waktu pasar-nya baru mulai beroperasi, pembeli belum banyak dan penjual masih asik untuk diajak adu tawar harga. Instead, saya malah datang jam 1 siang, saat matahari lagi kambuh jiwa eksibisionisnya dan mood penjual udah drop.
Jadi yah, kalo kamu mau ke Darya Ganj,  please datanglah sepagi mungkin. Dan siapkan air mineral sebotol serta mental baja untuk nawar. Hati-hati, berhubung kamu turis harganya bisa naik menggila. Memang sih, harga yang mereka kasi masih lebih murah daripada harga pasaran dan sebagai orang Indo, saya udah girang aja dapat harga murah gitu. Tapi teteeepp, kudu nawar lagi.

Contohnya nih, waktu saya mau beli seri A Song of Ice & Fire. Harga resmi per bukunya 400 Rs (1 Rs = 200 IDR), saya dikasi harga 250 Rs (50rb). Saya girang dong. Di Jakarta mana dapat harga segitu untuk buku import ASOIF? Tapi temen saya yang orang India itu langsung bantu nawar dan akhirnya saya dikasi harga 100 Rs (20 IDR) per buku. However, saya gak beli banyak buku di sini. Cuma beli ASOIF dan dua buku terbitan BBC tentang sejarah kaum Sikh.

Oya, satu tips tambahan, kalo mau ke Darya Ganj jangan bawa apa-apa selain hp, dompet dan botol aqua. Kalo bisa malah cukup bawa duit aja, dompetnya ditinggal. Buat cewe : jangan bawa handbag deh, selain ribet juga rawan copet. Kecuali punya teman ato pendamping yang bisa disuruh jagain tas sementara kamu asik bongkar buku. Karena itu pula saya gak bisa foto sendiri situasi di sana dan akhirnya dibantu Om Google :'( .  Kalo mau baca-baca lagi tentang Darya Ganj, bisa coba ke link ini dan link ini atau link ini.

2. Nai Sarak Road

source

Hampir mirip dengan Darya Ganj, di sini juga sebuah jalan yang kiri kanannya penuh toko buku. Bedanya Nai Sarak buka di hari kerja (tutup di hari minggu karena para penjualnya ngampar di Darya Ganj) dan buku tidak dijajakan di trotoar, tapi dalam toko atau kios.
So yah...relatif lebih nyaman lah.

Dari info sih, Nai Sarak ini lebih dikenal sebagai pusatnya buku kuliah. Kalo kamu desperate nyari textbook, cobalah tengok Nai Sarak. Besar kemungkinan kamu bakal nemu textbook yang dimaksud di sana.
Dan waktu ke sana juga saya perhatiin sepanjang jalan kebanyakan sih toko yang jual buku kuliah. Malah ada toko yang spesifik menegaskan jual buku kuliah akunting atau hukum atau kedokteran. Tapi masih ada kok toko yang spesialis jual children book, second book bahkan ada juga toko yang jual semua jenis buku.
Lumayan gampang menentukan toko mana yang sesuai dengan kebutuhanmu di Nai Sarak, karena setiap toko punya papan nama yang merinci jenis buku yang dijual, dari etalasenya juga udah kelihatan.

source
Oya, Nai Sarak itu gang kecil yang menghubungkan 2 jalan besar di Delhi. Untuk ke sana, gak bisa naik mobil. Jadi siap aja naik becak ya. Jangan kepikir jalan kaki deh untuk menyusuri sepanjang Nai Sarak. Kenapa? Soalnya saya yakin kamu bakal kalap belanja dan nantinya repot bawa belanjaanmu. Kalo ada becak kan enak. Dan kalo kamu mau jalan kaki menyusuri Nai Sarak, si becaknya bisa ngikutin. Kalo mau murah sih, sewa aja becaknya untuk 3-4 jam gitu, lebih murah dan praktis (kayaknya ini saran yang gak penting ya? XD)

Anyhoo...berhubung auranya di sini mirip kayak Darya Ganj, jadi same rules applied.
You know : datang pagi sebelum ramai supaya enak nawar buku-nya, waspada copet jadi bawa barang seringkas mungkin, hati-hati sama buku palsu. Dan perhatiin juga, jangan sampe kamu beli buku palsu dengan harga baru.

Oya soal buku palsu ini, saya heran. Jadi saya perhatiin, kalo customernya orang India, si penjual jujur kasi harga buku palsu (paling mahal 100 Rs, setebal apapun itu), tapi kalo ke saya (turis) kok dikasi harga buku baru resmi ya? Jadi dia ngarepin saya tertipu beli buku bajakan dengan harga resmi. Emang dia kira saya gak bisa bedain mana buku palsu dan asli apa?
Hih! Sorry! Sebagai orang Indo, saya lebih terlatih bedain barang piracy dan genuine daripada situ. Huh! (eh mestinya gak usah bangga ya? XD).

So balik ke toko bukunya. Setelah singgah di beberapa toko (dan ilfil karena ditawarin buku palsu) juga liat-liat buku second, saya pun memilih belanja di Sagar Book Depot. Soalnya saya liat di situ lengkap : dari buku second sampe baru ada, semua bukunya asli dan shopkeepernya sangat membantu (penting banget ini!).
Dan di sinilah, saya menggila belanjanya (_ _"). Apa aja yang saya beli? Sila cek foto ini :


Untuk semua buku itu, saya habis sekitar 3000an Rs. Tentu itu setelah nawar lagi, kalo gak nawar entah deh habis berapa. Sebagai ilustrasi, ini saya tunjukkin ya :

1. Harry Potter boxset itu harga resminya 3300 Rs (sekitar 660 IDR). Saya dikasi diskon 30% jadi 2300 Rs (460 IDR) dan masih ditawar lagi jadi 1500 Rs.
2. Midnights Children itu mestinya 400 Rs, dikasi harga 300 Rs, harga akhir jadi 200 Rs
3. Fifty shades of grey boxset juga dari 1200 Rs jadi 700 Rs
4. Anna Karenina & Godfather yang tadinya 350 Rs jadi sekitar 175 Rs.
Yah saya masih bisa terus kasi list harga buku, tapi kamu sudah dapat gambarannya kan? Cobalah mulai tawar diskon 50%. Dan makin banyak beli, tentu diskonnya makin besar.

3. Jain Book Depot

source
Toko buku yang terletak di Connaught Place ini salah satu toko buku milik pemerintah. Artinya semua buku yang ada di sini dijamin asli tapi juga harga pas tanpa diskon :D. Suasananya nyaman (mirip suasana di Toga Mas ato Gramedia), shopkeepernya sangat membantu dan pilihan bukunya luas. Kalo kamu cuma mau beli 3-4 buku sih (apalagi kalo yang diincer buku baru), mendingan ke Jain saja soalnya mudah dijangkau aksesnya. Agak repot ya jauh-jauh ke Nai Sarak cuma buat beli sedikit buku, soalnya besaran diskon di Nai Sarak kan tergantung belanjaanmu.

Jain Book ini sebenarnya nama salah satu penerbit lokal di India dan toko di Connaught Place ini salah satu outlet mereka. Biar gitu, yang dijual gak hanya buku-buku terbitan Jain kok. Dan toko ini punya gudang besar entah di mana. So kalo gak nemu buku yang kamu cari, tanya aja ke shopkeepernya. Mereka mau kok cariin ke gudangnya, biarpun kamu cuma nyari 1 buku aja.

Di Jain ini juga saya jadi ngeh kalo ternyata ada beberapa buku yang diterbitkan khusus untuk dijual di India dan harganya bisa lebih murah. Jadi gini, beberapa publisher internasional seperti Penguin, Random House dan Harper Books punya pabrik sendiri di India. Lalu tiga publisher itu mencetak buku yang khusus dijual di India dan buku yang untuk kualitas export (kertas putih). Nah buku yang khusus dijual di India ini lebih murah daripada yang export.

Sebagai contoh, The Book Thief-nya Markus Zusak dijual 2 versi di Jain Books ini. Ada versi terbitan Random House untuk export dengan harga 350 Rs (70 IDR) dan khusus untuk India yang harganya 200 Rs (40 IDR) saja.
Gimana taunya mana yang dipasarkan khusus India dan mana yang buat eksport? Gampang sih. Liat aja di backcover bukunya. Kalo khusus India, biasanya ditulis : "For sale in Indian subcontinent only". Ato kadang ditulis : "For sale in Indian, Pakistan, Nepal only". Untuk info lebih jauh tentang Jain, bisa dicek di web mereka.

Saya gak beli banyak buku di Jain, soalnya tujuan awal ke sini cuma cari textbook kuliah titipan adik saya. Itu pun cuma sekadar mampir sebelum ke bandara. Tapi tetap ya, kalo gak bawa pulang 1-2 buku rasanya ada yang kurang. Jadi saya beli 3 buku ini di Jain :


4. Sebenarnya selain tiga tempat di atas, masih banyaaakkk toko buku di Delhi. Dan banyak juga yang menjajakan bukunya di trotoar.
Nah sehubungan dengan itu, saya mo bilang aja kalo di seberangnya Jain Book Depot itu kan ada perempatan. Belok kanan dari perempatan itu, kamu bisa nemu penjual buku di trotoar ini (sayang saya gak sempat foto karena buru-buru). Saya liat sih koleksinya lumayan lengkap, bukunya asli (seenggaknya yang saya lihat) dan harganya diskon 10% dari harga di Jain. Malah kalo mau tawar, penjualnya bisa kasi diskon 25%-30%. So kalo kamu lagi ada di sekitar Connaught Place dan mau singgah beli buku, saran saya sih tengok ke penjual ini deh sebelum ke Jain Book Depot.

Yah hanya segitu sajalah book trip saya di Delhi. Sayang sih, saya cuma 2 hari di sana, jadi gak sempat datangin berbagai book store di Delhi. Kalo diliat dari list yang di link ini sih, sepertinya saya butuh waktu 1 minggu di Delhi, khusus buat trip ke book store-nya aja ^__^
(Dan saya juga butuh bagasi 50 kg dan cash yang buanyaakkk. Bikin ngiler semua sih) X).
Dan memang ya, India itu surganya book lover. Lucky them for that part. :)

Thursday, January 31, 2013

Pengakuan SANG Secret Santa

source
*berhubung nyebut diri sendiri, boleh ya narsis dikit pake "sang"* #DikitDariManeWi?

Event tahunan BBI yaitu Secret Santa sudah akan berakhir (saya pernah menyinggung event ini di sini dan sini). Setelah kemarin rame dengan tebakan para X tentang siapa Santa-nya, maka kali ini giliran Santa lah yang membuka identitasnya. Oya buka identitas tuh bukan maksudnya pamer-pamer KTP lho yaaa #CumaLoeDoangYangMikirGituSihWi  (maap...ini emang garing).

Nah karena si X saya juga udah bisa nebak siapa santa-nya, jadi gak perlulah saya nulis namanya di sini. Ini kan waktunya saya untuk narsis, bukan dia. Hohohoho....... #DikepretSiX

Mending saya pamer riddle saya yang oh-sungguh-kacrut itu. Ini dia :
Who am I?
Reading is my passion but not so much with writing
I love books that most people think are a trash
but
Trash books that most people loved
I have profession that considered one of the oldest profession yet it never seems out of date
White coats and long nite shifts are part of my world.
Can You Guess Who I Am?
Muahaha....riddle itu sungguh penuh kode dari awal.
Reading is my passion but not so much with writing itu sebenarnya berawal dari sebuah keriaan di Goodreads. Waktu itu ada fans seorang penulis yang bete karena buku kesukaannya saya kasi review negatif. Dan karena ditantang nulis buku juga, maka terlontarlah pengakuan kalo saya emang suka baca, tapi gak doyan nulis, let alone nulis novel. Berhubung saya tahu si X mengikuti keriaan tersebut, saya kira dia akan ngeh dengan kalimat itu. *emang GR sekali ya saya* X)
 Kalo kalimat-kalimat berikutnya sih emang pasti ketebak ya. Yang demen sama buku "trash" sih (rasanya) cuma saya dan yah...profesi saya kan emang profesi tertua (bukaannn profesi saya itu bukan courtesan :p) *sapa juga yang mo nebak itu* >.<

Tapi....
Itu bukan satu-satunya riddle yang saya kirim dong. Hohoho.....
Saya mana puas sih kalo gak memanfaatkan momen apapun buat ngoceh dan narsis #plak. Jadi dengan isengnya, saya kirim satu riddle lagi ke si X. Dan inilah riddlenya :
Dear Angela,
Gemana...gemana? Surprise...surprise? Pasti iya kaaaaannnnn???
Hohoho...Santa-mu ini emang demen bikin orang terkejut ampe terjengkang. Hohohoho.....
#ditendangampesemeru

Jadi gini alasan kenapa buku ini terpisah nyampenya dari buku lain.

Pada suatu hari di bulan Desember, Santa (yang waktu itu masih jadi manusia biasa dan belum jadi Santa) lagi asik ngemil cilok di pohon (Santa juga gak ngerti kenapa ampe bisa ngemil cilok di pohon? Kenapa gak di mall aja? Ato lebih bagus lagi, di pangkuan cowok ganteng seperti David Gandhy? Entahlah...MIsteri Ilahi memang).

Anyhoo...saat Santa udah ngabisin cilok 1 lusin dan bersiap melahap cireng 1 piring, tau-tau di langit lewat kereta kuda yang ditarik 7 ekor rusa (terdengar oxymoron gak sih kereta itu?) dan ada seorang kakek tua bullet berjanggut di atas kereta sambil ketawa-ketawa hohoho...
Jelas Santa girang banget liat ada orang yang ketawa siang-siang sambil terbang pula. Horeee...Santa gak absurd sendirian.

Maka dengan semangat, Santa pun manggil-manggil si kakek tua itu. "Hoooyyyy...engkooongg...hari cerah gini mo kemane? Mending makan cireng sini ame aye," teriak Santa dengan semangat sambil melambaikan sepiring cireng yang baru matang dan masih mengebul hangat.

Si kakek melirik ke arah Santa dan bertanya....
Lho? Cuma segitu aja?
Yee...pastinya enggak doonngg. Mana narsisnya kalo cuma segitu? :p.

Tapi untuk tahu kelanjutannya, anda-anda dipersilakan untuk membaca di blognya X saya, yaitu di sini.

Dan yep benar, X saya adalah Angela Noviana, pemilik blog Harlequin Romance Reviews.
Glad to have you as my X, phie. Saya beruntung dapat X yang tahan menerima kenarsisan dan ocehan saya yang idih banget itu. :))
Jadi makasi yaaaa sudah menjadi X-ku. :D



 

Thursday, January 24, 2013

New Authors Reading Challenge




Iyak....seakan belum ngerasa cukup dengan reading challenge tahun ini, saya pun mendaftarkan diri dalam challenge Ren dari Ren's Little Corner ini.

Syarat challenge ini gak ribet kok. Peserta cuma diharuskan membaca minimal 12 buku dari penulis yang karyanya belum pernah dibaca sebelumnya.
Dan kebetulan challenge ini pas dengan resolusi saya tahun ini yaitu : mengurangi timbunan ebook. Soalnya di koleksi ebook saya emang banyak buku karya penulis-penulis yang tulisannya emang belum pernah saya baca. Level yang saya pilih adalah Middle (12-20 buku), mudah-mudahan bisa naik lagi.

Untuk bulan Januari saya udah baca 3 buku dari penulis yang "baru" buat saya :
1. Natasha Anders - The Unwanted Wife
2. Charles Sheehan Miles - Just Remember To Breathe (review menyusul)
3. Kathy McGarry - Pushing The Limits (review menyusul)

Tertarik ikutan challenge Ren ini? Silakan langsung klik button di atas untuk baca keterangan lengkapnya.

Sunday, January 6, 2013

2013 Reading Challenge

Sebenarnya saya orang yang paling males ngikutin challenge baca soalnya saya tahu diri kalo saya moody-an. Tapi beberapa challenge yang digagas rekan saya terlalu menggoda untuk dicuekkin. Dan akhirnya saya pun nekat daftar. Mudah-mudahan sih saya konsisten ya.

Untuk 2013 ini, challenge yang sedang dan akan saya ikuti adalah :

1. Let's Read Plays (LRP)


Event ini digagas oleh Mbak Fanda dari Fanda Classiclit yang mengajak pesertanya untuk membaca minimal 1 plays setiap bulannya. Event ini telah dimulai sejak November 2012 kemarin. Untuk bulan November, saya telah membaca Macbeth dan sudah sukses membuat reviewnya pula. Di bulan Desember, saya juga sukses membaca Merchant of Venice, sayang masih gagal membuat reviewnya >.<. Kelemahan saya emang itu. Kalo gak ada ilham, susah bener bikin review. Mas Ilhaaammmm, kamu kenapa gak datang-datang sih? Jangan sok lama deh. Situ kan bukan jodoh yang emang demennya lama dan ditunggu! #eh
Anyway...anda tertarik mengetahui lebih lanjut tentang event LRP? Silakan klik gmbar button-nya yang cuantik itu.

2. Hotter Potter


Event ini dihost oleh Melissa dari SurgaBukuku. Sesuai judulnya, event ini mengajak pesertanya baca bareng ketujuh buku Harry Potter dari bulan Januari ampe Juli. Sebagai orang yang merasa fans berat Severus Snape, jelas saya merasa wajib ikutan event ini. Tertarik mengikuti? Monggo klik button di atas dan berkunjung ke blog Melissa.

3. Fun Year With Children's Literature


Sebagai penggemar berat child lit, jelas saya merasa wajib ikutan event milik Bzee dari blog Bacaan Bzee ini. Awal baca jadwal bacanya, saya langsung mikir : "Ah gampaaaangggg. Saya punya banyak buku anak yang fits the theme. Baca ulang juga bisaaa. Toh belum saya review ini. Lagian buku anak mah cepet dibaca."
Sayang saya lupa kalo saya tuh paling lamaaaa dalam hal mereview. Jadi, walo saya udah sukses menyelesaikan bacaan anak saya di bulan Januari ini, tapi masih belum mulai mereview sedikit pun :(.
Anyhoo, kalo mau tau tentang event ini, sila klik button-nya ya.

4. 2003 Read-A-Long With Children Literature


Nah kalo event milik mbak Maria dari Little Alice's Garden ini merupakan kerja sama dengan event milik Bzee. Bedanya di event yang ini ada panduan buku yang harus dibaca di bulan-bulan tertentu. Untuk lebih jelasnya, sila klik button winnie the pooh di atas.

5. 2013 Yoshikawa Reading Challenge


Ide awal baca bareng ini digagas oleh mas Tezar dari  blog Mari Membaca.
Simple kok, peserta cuma diwajibkan membaca minimal 1 buku karya Eiji Yoshikawa dalam 1 tahun. Gak ada batasan tiap bulan harus sampe bab berapa ato review apa.
Sebagai penggema berat Taiko dan udah lama kepengen baca ulang buku itu, dengan semangat saya ikutan.
Sayang, ampe sekarang saya baru kelarin 2 bab buku Taiko. Saya pending dulu karena ngejar target baca yang lain. Mudah-mudahan bisa segera catch up dengan Taiko ya.
Kalo mau ikutan even ini, silakan klik button di atas.

Selain challenge di atas, saya juga ikutan Goodreads Reading Challenge dan menargetkan baca 30 buku tahun ini. Sedikit memang, dan jauuhhh sekali dari target baca saya tahun lalu (90 buku). Tapi saya meniatkan supaya ke-30 buku itu bisa saya review. Semoga sukses ya.

Saturday, January 5, 2013

A Humble Application Letter To Professor Dumbledore


The Big Durian, 2013

Kepada : Professor Dumbledore
(Order of Merlin, First Class, Grand Sorc., Chf. Warlock, Supreme Mugwump, International Confed. of Wizards)

di
Hogwarts School of Witchcraft and Wizardry

Dear Professor,
Rekan saya Melisa dari blog SurgaBukuku mengadakan meme bulan Januari untuk acara Hotter Potter dengan tema berandai-andai tentang menjadi guru di Hogwarts. (Oh...kalo Anda belum tahu apa itu Hotter Potter, anda bisa membaca penjelasannya di sini).

Tentu saya tertarik untuk menjawab meme Melissa, lalu saya teringat, kenapa tidak menjawab meme ini dan sekalian melaksanakan niat saya yang sudah lama tertunda? (Iya, niat yang saya maksud itu adalah mengirimkan surat lamaran kerja kepada Anda).

Oh...sebelum saya maju lebih jauh, lebih baik saya memberi tahu dulu bahwa tema meme bulan Januari adalah menjawab pertanyaan ini :
"Jika kamu menjadi salah satu guru di Hogwarts, kamu ingin menjadi siapa? Alasannya?"
Professor, bila pertanyaannya tepat seperti di atas, maka jawaban saya adalah : tidak ada.
Beneran Prof, sumpah demi semua kuping Gargoyle, di dunia mana pun saya ditaro (dunia muggle, dunia Harry Potter, Narnia, Abarat. LOTR, you name it lah), saya selalu pengen tetap jadi diri saya, jadi seorang asdewi. Saya gak pengen menjadi salah satu guru di Hogwarts walo pun Anda dan Professor McGonnagal sangatlah keren dan cetar membahana. #MaafAlaynyaKumat.

Tapi kalo pertanyaannya diganti dengan : "Jika kamu bisa mengisi posisi guru di Hogwarts, kamu ingin mengisi posisi guru di mata pelajaran apa? Alasannya?", naahh saya bisa jawab dengan pasti.
Dan tanpa diragukan lagi, tentu saja saya ingin mengisi posisi beliau.

source
Yak, Anda benar. Beliau adalah Professor Cuthbert Binss, guru  History of Magic di Hogwarts.
Alasan utamanya sih simpel : Karena saya sukaaaaaaa banget sama sejarah.

Okeh...penjelasannya bakal rada panjang, Prof. Tarik nafas panjang dulu ya sebelum baca. *Jangan lupa dikeluarin.*
Jadi gini, semua yang kenal saya cukup lama pasti tahu kesukaan saya pada sejarah. Saking sukanya, sedari kecil saya bercita-cita jadi arkeolog dan pemakai-jas-putih (seperti kerjaan saya sekarang). Tentu, waktu kecil saya berpikir saya akan sanggup menjadi keduanya sekaligus.
Sayang, realita mengajarkan bahwa otak saya tidaklah secanggih itu hingga sanggup menjalani dua profesi yang bertolak belakang secara bersamaan. X) (Etapi tenang aja, Prof. Saya yakin saya kompeten mengajar murid Hogwarts).
Dan sampai lulus SMU, saya masih gak bisa memilih mana  profesi yang lebih saya inginkan. Keduanya sudah diimpikan sejak kecil, keduanya adalah mata pelajaran favorit di sekolah. How could I choose?

Lalu otak saya mencetuskan ide asal : "coba aja daftar dan usaha masuk ke dua fakultas itu dan liat diterima di mana" (yep...memang secuek itu dulu saya menentukan masa depan, Prof).
Maka saya pun mencoba keduanya : Ujian dari negara untuk fakultas pemakai-jas-putih dan bikin semacam paper yang dikirim ke M. University di US sana untuk jurusan arkeologinya.
Yah...melihat profesi saya, jelas sudah saya diterima di jurusan yang mana.
Meski begitu, kecintaan saya pada sejarah tidak pernah benar-benar padam. Dan karena itulah, saya pengen jadi guru sejarah seperti Professor Binns.

Alasan lain kenapa saya ingin mengisi posisi Professor Binns adalah karena saya gemas dengan cara mengajar beliau yang dataaaarrrrr hingga pelajaran yang semestinya paling menarik ini jadi pelajaran paling membosankan.
Sebenarnya, Prof, Ayah itu berperan besar akan kesukaan saya pada sejarah.
Seperti layaknya orang tua jaman dulu, Ayah saya juga suka menceritakan dongeng-sebelum-tidur pada anak-anaknya.
Bedanya dengan orang tua lain yang bercerita tentang si Kancil ato Bawang Merah & Bawang Putih, Ayah saya suka bercerita tentang sejarah. Mulai dari perang lokal seperti Perang Diponegoro dan Perang Padri, hingga ke level internasional seperti revolusi di Perancis dan Rusia.

Dan cara bercerita Ayah itu seru buanget. Ayah bakal bercerita sambil berlakon dan mengubah-ubah nada suaranya. Sebentar dia menjadi Pangeran Diponegoro, sebentar kemudian dia jadi pihak Belanda, lalu jadi pengikut sang Pangeran, macam-macam lah. Kadang Ibu juga turut berperan dalam lakon cerita Ayah, turut memainkan salah satu karakter. Yang namanya sejarah perjuangan, pastilah panjang untuk dikisahkan. Maka, bila orang tua lain menyelesaikan satu cerita dongeng dalam satu malam, Ayah bisa menyelesaikan satu ceritanya dalam beberapa hari, bahkan pernah hampir satu bulan.
Tapi saya menikmati setiap saat dari proses bercerita Ayah yang panjang itu. Gak pernah sekali pun kami bosan dengan cerita Ayah. Dari situ lah saya mengambil kesimpulan kalau Sejarah bisa jadi pelajaran yang seru.

source
Nah Professor Dumbledore, sekarang kita masuk ke alasan saya mengajukan lamaran kerja ini kepada anda (maaf ya kalo preludenya kepanjangan).
Jadi gini, kalo saya keterima kerja di Hogwarts, mestinya Madam JK Rowling akan memberi saya bakat sihir juga toh? (saya yakin begitu).
Nah dengan kemampuan sihir, saya bisa menciptakan sesuatu yang lebih seru dari lakon. Dengan sihir, saya bisa menampilkan secara visual adegan sejarah yang akan diajarkan. Saya bisa menggunakan media lukisan yang bergerak misalnya. Dan lukisan ini akan menggambarkan adegan-adegan yang saya jelaskan pada murid-murid.
Lalu untuk menambah seru, beri efek ilusi seperti 4D. Misalnya saat membahas tentang Goblin Rebellions yang katanya "bloody & vicious", ada efek darah muncrat yang ampe kena ke beberapa siswa (tenang Prof, kita bisa pake semacam sari Murtlap yang dikasi bubuk wantek merah), suara jeritan dan lengkingan para korban, angin yang bertiup, kelelawar yang beterbangan #KayaknyaSalahScene.
Yaa...pokoknya semacam itu lah. Paham dong ya, Prof?

Dan untuk memastikan pelajaran yang saya berikan "nempel" di ingatan mereka, saya sih gak bakal kasi mereka tugas bikin essai panjang.
Nope.
Tugas yang akan saya berikan adalah : membuat sebuah plays/drama singkat #eaaa #UjungUjungnyaLakonJuga.
 Jadi saya akan menyuruh para siswa mementaskan lakon yang berupa reka ulang salah satu peristiwa bersejarah yang dimaksud. Kelas bisa dibagi menjadi beberapa kelompok ato proyek yang dikerjakan 1 kelas (tergantung sebesar apa peristiwa sejarahnya). Dan mereka lah yang merancang semua unsur lakonnya, mulai dari dialog, penataan setting hingga pemilihan aktor yang cocok dan kostum yang sesuai.
Dengan cara ini, mereka akan mengingat nama tokoh-tokoh yang terlibat termasuk ucapan para tokoh tersebut.

Tentu saja, akan ada hadiah untuk siswa/kelompok dengan penampilan terbaik.
Dua belas kantong kacang segala rasa Bertie Botts & Dua belas kotak Coklat Kodok mungkin? Apa? Kurang seru?
Gimana dengan sebotol besar Butterbeer kualitas terbaik? Ow...gak suka Butterbeer?
Oke...kalo ijin khusus bermain seharian di Hogsmeade gimana? Ato sebotol kecil ramuan Felix Felicis?
Aaaahhh....tampak menarik bukan?

Jadi gimana, Prof? Setuju kalo pelajaran Sejarah Sihir juga bisa menyenangkan? Minimal lebih menyenangkan daripada kelas Professor Binns?
Ya, saya yakin Anda sependapat.
Jadi Professor Dumbledore, mana burung hantu yang semestinya dikirimkan ke saya? Apa mungkin dia nyasar?
Anda gak salah menulis alamat saya kan, Prof? Biar saya tuliskan lagi di sini, jadi anda bisa check ulang :
"In the city where hope grows beautifully,
on the street where jasmine blooms prettily,
the place where Alfa & Bravo meet every 7 am/pm
and together they sing do-mi-do-do'-do"
There you go, Professor Dumbledore. Your owl would find me easily now.
I'll wait patiently.
Dan sambil menunggu, saya akan mulai merancang ide-ide berikutnya untuk membuat kelas Sejarah Sihir menjadi seru. Let's make a revolution on History of Magic class. BOOYAHH!!!

Hormat Saya,

signature

(soon-to-be) Professor asdewi
(soon to be) Teacher of History of Magic class
at Hogwarts School of Witchcraft and Wizardry



PS 1 : Oya Prof, sekadar menghilangkan praduga apa pun, saya tidak berniat mengusir posisi Professor Binss, apalagi sampai berharap beliau dipecat. Jangan ya, Prof. Tapi saya berharap, mungkin kami bisa berbagi kelas? Seperti yang dilakukan oleh Professor Trelawney dan Bane?

PS 2 : Uhm....sebenarnya sih gak penting ada PS 2 ini, tapi rasanya tanggung kalo cuma satu. Anu Prof, kapan-kapan boleh pinjem Pensieves-nya? Ada beberapa memory yang perlu dibuang nih, Prof. Seperti memori tentang sebuah kota berkabut dan seorang bermata bulat dengan sen...Ups...kok malah jadi curhat? Hehehe....Maap, Prof. Jadi boleh pinjam Pensievesnya? Saya yakin boleh ya. #lho

PS 3 : Okay... I should stop making this PS. Have a great day, Prof.